muisumut.or.id, Medan, 1 Muharram 1447 H, 27 Juni 2025, Peringatan 1 Muharram sebagai tahun baru Islam bukan hanya momentum seremonial, tetapi seharusnya menjadi titik tolak perubahan menuju perbaikan diri dan masyarakat.
Menurutnya, Muharram di Sumatera Utara mencerminkan perpaduan yang menarik antara tradisi, ekspresi budaya, dan semangat religius. Peringatannya semakin semarak, baik di kota maupun di desa, dengan berbagai bentuk kegiatan seperti zikir akbar, santunan anak yatim, jalan sehat, perlombaan, tausiyah, hingga kegiatan sosial yang menyasar masyarakat kurang mampu.
“Ini menandakan bahwa umat Islam di Sumut punya kesadaran kolektif yang kuat terhadap pentingnya nilai hijrah. Tapi kita juga harus jujur melihat: apakah semangat itu sudah benar-benar mengubah kehidupan kita sehari-hari?” ujar Dr. Maratua.
Tradisi yang Dinamis dan Inklusif
Ia mengapresiasi bagaimana masyarakat dan lembaga Islam di Sumut berinovasi dalam merayakan Muharram. Tradisi lokal seperti berbagi bubur Asyura atau zikir keliling kampung tetap lestari, namun juga dihidupkan kembali dengan pendekatan yang lebih inklusif dan digital. Generasi muda melalui media sosial mempopulerkan konten bertema hijrah, menggalang donasi, hingga membagikan pesan moral secara kreatif.
“Perubahan cara memperingati Muharram menunjukkan bahwa tradisi kita tidak beku, tetapi mampu beradaptasi dengan zaman,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa perayaan jangan sampai berhenti pada euforia seremonial. Makna spiritual dan nilai-nilai perubahan dari hijrah Nabi Muhammad SAW harus menjadi fokus utama.
Semangat Hijrah: Dari Seruan Menuju Aksi
Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi transformasi nilai dan akhlak. Muharram seharusnya menjadi momentum untuk muhasabah, memperbaiki diri, memperkuat iman, serta membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab.
“Kita semua ingin perubahan. Tapi hijrah yang sesungguhnya adalah komitmen jangka panjang. Ia butuh perencanaan, konsistensi, dan ekosistem yang mendukung,” terang Dr. Maratua.
Di Sumut, kegiatan sosial seperti santunan anak yatim dan bantuan untuk dhuafa saat Muharram semakin massif. Ini menunjukkan adanya kepedulian sosial yang tumbuh. Namun, tantangannya adalah memastikan semangat ini tidak hanya terjadi setahun sekali, melainkan menjadi bagian dari budaya hidup umat.
Tantangan: Antara Harapan dan Realitas
Dr. Maratua mengungkapkan beberapa kendala yang sering dihadapi dalam mewujudkan semangat hijrah dalam kehidupan nyata. Pertama, hijrah sering difokuskan pada perubahan spiritual individual, padahal perubahan struktural masyarakat juga dibutuhkan. Kedua, semangat hijrah kerap tergerus oleh gaya hidup konsumtif dan seremonial belaka.
“Banyak yang punya niat baik, misalnya ingin lebih sabar, lebih rajin ibadah, tapi kemudian gagal di tengah jalan karena godaan kebiasaan lama atau kurangnya dukungan lingkungan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya membangun komunitas pendukung. Masjid, majelis taklim, dan lembaga dakwah harus menjadi ruang yang mendorong dan memfasilitasi proses hijrah masyarakat, bukan hanya tempat perayaan.
Menguatkan Nilai-Nilai Hijrah Sepanjang Tahun
Menurutnya, kunci keberhasilan hijrah adalah pada pemaknaan ulang yang mendalam, bukan sekadar slogan tahunan. Ia menyarankan agar umat Islam membuat rencana perubahan kecil namun terukur sepanjang tahun, bukan resolusi besar yang mudah terlupakan.
“Hijrah itu proses panjang, bukan tujuan yang bisa dicapai dalam sebulan. Kita harus terbiasa mengevaluasi diri secara rutin, tidak menunggu Muharram berikutnya,” tegasnya.
Di Sumatera Utara sendiri, MUI terus mendorong penguatan nilai-nilai hijrah melalui berbagai program keumatan seperti pendidikan kader ulama, pelatihan dakwah, pemberdayaan ekonomi umat, hingga penguatan kelembagaan masjid.
Muharram Adalah Awal, Bukan Puncak
Dr. Maratua mengajak seluruh umat Islam di Sumatera Utara menjadikan Muharram sebagai awal, bukan puncak dari perjalanan perubahan. Tradisi perayaan boleh beragam, tetapi esensi hijrah harus tetap satu: menjadi pribadi dan masyarakat yang lebih bertakwa, berakhlak mulia, dan peduli terhadap sesama.
“Hijrah bukan hanya ke masjid, bukan hanya mengganti pakaian, tapi mengubah cara berpikir, cara bersikap, dan cara memperlakukan orang lain. Ini perjuangan yang tidak ada garis finisnya,” pungkasnya.






