muisumut.or.id. Medan- Ustaz Dr. H. Ardiansyah Lc. MA menjelaskan bahwa, penyimpangan ajaran Islam dan penyimpangan pemikiran saat ini sudah sangat mengkhawatirkan kita bersama mengingat keberadaannya sudah terjadi di dalam kehidupan umat.
Tentunya kondisi tidak baik itu menjadi tantangan bagi kita bersama di MUI. Apalagi puncak dari tugas utama dari Majelis Ulama Indonesia adalah sebagai penjaga umat atau himayatul ummah dari segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam sesuai Alquran dan Sunnah, selain tugas pokok sebagai pelayan umat (khodimul ummah) serta mitra pemerintah (shodiqul hukumah)
Demikian disampaikan Ustaz Dr. H. Ardiansyah dalam tausiahnya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan Dewan Pimpinan MUI Sumut, Sabtu (7/10).
“Di sinilah salah satu peran sentral kita di MUI,” kata Ardiansyah.
Pada peringatan Maulid Nabi yang dihadiri Pj Gubernur Sumatera Utara H Hasanudin itu, Doktor Ilmu Hadis Universitas Madinah ini mengungkapkan salah satu penyimpangan pemikiran yang sangat parah bahkan telah disampaikan melalui tulisan adalah ketika ada yang berpendapat bahwa, Nabi Muhammad adalah Allah.
“Saya sendiri pun pasti tidak akan mampu menjawabnya kalau sampai ada yang menyampaikan pemikirannya secara tertulis bahwa Muhammad itu Allah. Sebab itu jelas sangat salah,” tegas Ardiansyah.
Ustaz Ardiansyah menyampaikan, tugas untuk meluruskan pemikiran yang sangat menyimpang itu menjadi tanggung jawab ulama dan cendikiawan Islam untuk selalu menjaga umat. Dan sesungguhnya pula ini menjadi salah satu misi utama MUI yang ternyata senyawa dengan visi dakwah Rasulullah SAW yang dilaksanakan selama lebih kurang 23 tahun.
Dia menjelaskan, berdasarkan sejarah kita mengetahui hampir separuh dari masa dakwah Nabi Muhammad tersebut hanya untuk menegakkan kalimah Laa Ila ha Illallahu Tiada Tuhan Selain Allah atau hanya men-Esakan Allah dan tidak ada yang berhak disembah di alam semesta kecuali Allah.
“Tidak ada satupun jawaban yang bisa disampaikan untuk menyamakan tempat Allah yang Maha Tinggi kepada mahluk, karena itu mustahil,” kata dia.
Selain itu, ungkapnya Rasul itu dilahirkan layaknya manusia biasa, dan begitu juga Nabi Muhammad juga dilahirkan dan disusui oleh beberapa ibu susu atau sama halnya dengan yang dialami seluruh manusia di di bumi ini ketika dilahirkan yakni menyusui.
Sehingga sangat jelas membuktikan bahwa tahapan itu membuktikan Rasul adalah manusia bukan kelompok malaikat atau jin. Karenanya sangat mustahil kalau menempatkan maqom Nabi Muhammad adalah Allah.
Kita ketahui bahwa Nabi Muhammad itu adalah manusia yang dilahirkan. Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al Kahfi 110 yang menjelaskan, Katakanlah (wahai Nabi), bahwasanya aku adalah manusia seperti kalian, dan bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan yang Satu. Kemudian sesuai penjelasan Kitab Al Barjanzi karangan dari Syaikh Ja’far al-Barzanji bahwa, ketika beliau dilahirkan tidak ada satu tetes darah pun yang keluar ketika Rasul lahir.
Lalu pada malam dan subuh ketika Rasul lahir, seakan akan suasana sudah sangat terang laksana di siang hari, padahal sesungguhnya masih subuh. Kemudian pada waktu bersamaan dengan kelahiran Nabi Muhammad, di antaranya api yang disembah orang Majusi yang tidak pernah padam selama seribu tahun saat Rasulullah lahir menjadi padam. Kala itu, semua orang bersatu baik yang lemah maupun kuat berupaya untuk menghidupkan kembali api tersebut. Namun, usaha mereka gagal dan api tidak kembali hidup.Tidak hanya api orang Majusi, Danau Sawa di Irak juga menjadi kering ketika Rasulullah lahir. Tadinya, danau tersebut menjadi tempat persembahan dewa.
Ditegaskan, kendati kemuliaan dan keutamaan yang dimiliki Rasul pastilah tidak sama dengan kita manusia biasa mengingat Muhammad adalah khataman Nabiyyin. Namun harus tetap kita ingat bahwa mustahil maqam atau tempatnya sama dengan Allah yang Maha Mencipta.
Dalam tausiahnya Ustaz Ardiansyah juga mengungkapkan kisah ketika Rasul wafat dan ternyata baru hari ketiga beliau dikebumikan. Hal ini terjadi, karena ketika itu terjadi kegoncangan yang sangat luar biasa dahsyat di kalangan sahabat dan ketika itu Abu Bakar Siddiq tidak berada di Madinah, sedangkan Rasul wafat di pangkuan istrinya Aisyah RA.
Suasana mencekam menyelimuti kediaman Rasul, bahkan Umar Bin Khattab telah mencabut pedangnya seraya mengancam akan memenggal kepala siapa saja yang menyampaikan Rasul telah wafat. Dan baru dapat ditenangkan setelah Abu Bakar menyampaikan pidato, “Siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya dia telah mati. Sedangkan barang siapa yang menyembah Allah maka Dia tidak akan pernah mati,”.
Bahkan ketika itu Umar langsung berdiri seraya berteriak menolak ucapan Abu Bakar seraya mengeluarkan pedang dan berkata, akan memerangi siapa saja yang mengatakan Muhammad sudah wafat. Lalu Abu Bakar turun dari mimbar dan memeluk Umar lalu membacakan firman Allah Surah Ali Imran yang menegaskan: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
Setelah itu Umar pun barulah merasa tenang dan memasukkan kembali pedangnya sambil membenarkan apa yang baru dikatakan Abu Bakar tentang kematian Nabi Muhammad.
Dari rangkaian kisah ini semua makin menegaskan kepada kita semua bahwa Nabi Muhammad itu hanya manusia biasa yang dipilih Allah untuk menjadi Rasul membawa ajaran Islam kepada seluruh alam. Jadi dalam kondisi apapun, maka sesungguhnya Rasulullah tidak boleh disembah.
Menutup tausiahnya Ustaz Dr H. Ardiansyah mengajak kepada segenap pengurus MUI Sumut untuk istikamah menegakkan kalimah tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah. (S. Ramadhan)






