Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA. (Syahrin_hrp@yahoo.com)
Disampaikan pada Muzakarah Ramadhan Majelis Ulama Indonesia Prov. Saumatera Utara Tgl. 9 Mei 2019 di Medan-Sumatera Utara
Rahîm (al-rahîm) dalam bahasa Arab digunakan untuk mengartikan jenis kelembutan yang merangsang dorongan dalam diri seseorang untuk mengasihi dan menyayangi orang lain.[1] Rahim merupakan salah satu asmâ’/sifat Allah yang digandengkan dengan al-rahmân, al-Rahmân dan al-Rahîm.[2]Al-Rahîm, demikian juga al-rahmân, merupakan sifat Allah yang paling menonjol. Dia selalu mengedepankan sifat ini dari sifat lain dalam memilih, menetapkan, dan memperioritaskan semua perkara. Bahkan seperti disebut Khomaeni, sifat al-rahmân dan al-rahîm, Pengasih dan Penyang, menunjukkan sifat kesempurnaan Allah. Sedangkan sifat-sifat lain tunduk pada sifat-sifat itu.[1]
Ketika menjelaskan hubungan sifat al-Rahmân dan al-Rahîm, Abû al-Qâsim al-Husain bin Muhammad meyetir hadîs Rasulullah yang menceritakan bahwa ketika Allah menciptakan ‘al-rahmân’, Allah berkata kepadanya: “Aku ‘al-Rahmân’ dan engkau adalah ‘al-rahîm’. Aku ambil namamu dari nama-Ku. Siapa yang menghubungkanmu akan Ku-hubungkan dan siapa yang memutuskanmu akan Aku putuskan.[2]
Ketika menjelaskan pengetahuannya tentang yang ghaib dan yang nyata, Allah mengiringi informasi itu dengan sifat kasih sayang. Firman Allah:
هُوَ اللهُ الَّذِى لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الَّرحْمَنُ الرَّحِيْمُ
Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q. S. 59/al-Hasyr: 22).
Selain itu, kenyataan bahwa surah- surah al-Qur’ân yang dimulai dengan kalimat kasih sayang itu (bismillâhirrahmânirrahîm), merupakan isyarat bahwa apa pun yang dijelaskan, didiskusikan, dikerjkan, dan diperintahkan serta dilarang oleh kitab suci ini senantiasa didasarkan pada kasih sayang universal.
Dari pengertian itu dapat diketahui bahwa al-rahîm adalah rasa sayang Allah dalam bentuk menciptakan, memelihara, dan membuat yang terbaik serta yang sempurna pada alam semesta serta yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan diakhirat. Dengan demikian lawan dari al-rahîm adalah kebencian dengan segala bentuknya.
Kemudian sifat al-rahîm itu ditransmisikan kepada manusia. Artinya, manusia yang penyayang. Sebagaimana digambarkan dalam hadîs qudsi berikut:
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ اِرْحَمُوا مَنْ فِى الْاَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
Orang yang berkasih sayang akan disayangi Yang Maha Penyayang, karena itu sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang Di langit akan menyayangimu. [HR. Bukhari].
Rahîm dapat dilihat dari dua dimensi. Dimensi pertama adalah kedudukan si pemilik rahîm. Allah Swt., berada dalam posisi pencipta (rabb) dan yang disembah (ilâh).
Induk Kitab suci (Ummu al-Qur’ân) mengedepankan dua julukan Tuhan yang terkait dengan sifat rahîm itu. Pertama, Rabb al-‘âlamîn (raja segala sesuatu). Kedua, mâliki yawmiddîn (Pemimpin Hari Keagamaan). Sifat-sifat tersebut adalah sifat pemimpin. Sangat sulit membayangkannya diterapkan dari posisi yang lebih rendah, bahkan yang sejajar. Dengan demikian transmisi atau menghubungkan rahîm itu dapat digambarkan sebagai berikut:
Transmisi/Silaturrahîm
Dimensi kedua adalah penerapannya. al-Rahîm itu diterapkan Allah dalam berbagai bentuk: (1) Kasih sayang-Nya yang bersifat menyeluruh (universal) dan adil, menyantuni seluruh makhluk-Nya. Meskipun manusia diutamakan tetapi Allah tidak berlaku curang. Santunan-Nya selalu terealisasi bagi seluruh makhluk-Nya.
(2). Sebagai konsekuensi dari sifat rahmân dan rahîm itu maka Allah tidak semena-mena menerapkan hukuman dan azab kepada hamba-Nya yang melakukan kesalahan, melainkan disiapkan media pintu ma’af bagi mereka yang memanfaatkan taubat.
(3). Sifat rahmân dan rahîm itu direalisasikan dengan menjamin kemutlakan berlakunya setiap keputusan, dan pasti sampai kepada objeknya. Tidak ada yang dapat melakukan usaha-usaha inkonstitusional untuk menutupi sagala macam kesalahan, kecurangan, dan penyimpangan yang dilakukannya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sifat rahîm itu adalah kekuatan dan keunggulan, yang menjadikan orang yang memilikinya menjadi umat dan komunitas yang memiliki kekuatan dalam mempengaruhi jalannya peradaban umat manusia.
Kekuatan itu akan mengalami peningkatan berpuluh kali lipat bila orang yang beriman mengubungkan sifat rahîm yang ada pada diri mereka. Itulah yang secara teknis diistilahkan dengan silaturrahîm, yang dalam tulisan ini dipandang sebagai kekuatan umat.
Mengenai hal ini sangat menarik komentar Hudgson. Menurutnya: Umat Islam sejatinya memiliki visi memimpin perkembangan dunia. Hal tersebut menurutnya karena adanya penegasan al-Qur’ân bahwa umat Islam adalah manusia terbaik yang dilahirkan ke tengah-tengah manusia dengan tugas memerintah yang baik dan mencegah yang buruk, dan beriman kepada Allah.[1]
Kasih Sayang Dunia
Kasih saying sangat diperlukan dalam memimpin dunia serta mengarahkannya kepada peradaban yang lebih baik. Sedemikian pentingnya kasih sayang itu hingga Devisi Kesehatan Badan Dunia, PBB, mensyaratkan kasih sayang yang besar bagi seorang penduduk bumi yang memiliki jiwa yang sehat.
Sebagai pemangku sifat rahîm tersebut, manusia dibekali Allah dengan potensi daya saing yang memungkinkannya untuk mempengaruhi perkembangan peradaban manusia. Diantaranya. Pertama, Allah memberi predikat kepada mereka sebagai khaira ummah, sebagaimana firmann-Nya:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dihadirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [QS. 3/Ali ‘Imrân: 110].
Kedua, Manusia sebagai komunitas strategis yang inklusif, karena mereka harus menjadi saksi bagi umat manusia seluruhnya [QS. 2/al-Baqarah: 143] dan akan bertanggung jawab bagi kemakmuran bumi dan perkembangan peradaban [QS. 11/Hud: 61].
Berdasarkan posisi strategis itu maka potensi ketiga adalah visi kesatuan umat, yaitu pandangan yang bersifat universal dan mondial tentang kesatuan umat manusia [QS. 2/al-Baqarah: 213].
Ketiga potensi ini melengkapi prasyarat bagi orang yang beriman untuk mengembangkan dan menghubungkan kasih saying (silaturrahîm) bagi seluruh alam dari ufuk keistimewaannya sebagai manusia terbaik (khaira ummah).
Dalam mewujudkan kasih sayang dunia itu orang yang beriman menggunakan tiga strategi. Pertama, memperkuat daerah pertahanan. Silaturrahîm umat harus dapat memperkuat wilayah pertahanan mereka. Sejalan dengan itu tidak akan ada pertemanan atau garis perjuangan yang memperlemah umat, apa pun bentuknya.
Kedua, strategi penegasan visi keumatan. Dalam hal ini garis perjuangan adalah mempertegas kasih sayang sesama umat (ruhamâ’ baynahun) [QS. 48/al-Fath: 29], dan menarik garis lurus pertemanan dengan komunitas lain harus dalam rangka penguatan kesadaran akan pentingnya peran Tuhan dalam kehidupan (asyiddâ’ alâ al-kuffâr).
Dengan begitu maka tidak akan ada garis perjuangan dengan makhluk mana pun yang memiliki visi tak bertuhan (atheis) apalagi anti Tuhan (antitheis).
Sampai disini klier bahwa kasih sayang atau hubungan kasih saying (silaturrahîm) kaum beriman adalah memperkuat ketuhanan. Silaturrahîm tersebut dapat dirumuskan dalam diagram sederhana berikut:
Silaturrahîm Produktif
Setiap persaudaran dan kasih sayang (silaturrahîm) dalam Islam harus dapat memeperindah dunia melalui keindahan jiwa mereka. Sebab tujuan tertinggi kehidupan manusia adalah memperindah jiwa sebagai persembahan paling berharga seorang hamba pada Tuhannya.[1] Pada saat yang sama persaudaraan dan kasih sayang (silaturrahîm) dalam Islam harus produktif. Sebab tidak ada ajaran Islam yang nirvalue, kosong nilai, melainkan mempunyai nilai yang yang tidak hanya bersifat duniawi melainkan menembus batas dunia, ke alam baka.
Dengan demikian, syari’at Islam mengisyaratkan bahwa kepada setiap orang akan dihadapkan suatu pertanyaan: “siapa saja sahabatmu (teman bersekutu atau berkoalisimu)?, (man ikhwanuka). Kegagalan dalam menjawab pertanyaan ini sekaligus menjadi legalitas bagi munkar dan nakir untuk menyiksanya.
Paling tidak ada tiga produk dari pertemanan dan silaturrahîm yang direkomendasikan oleh Islam. Pertama, silaturrahîm harus memperkuat dan mendorong percepatan pemberdayaan umat.
Kasih sayang harus memberdayakan. Sebab kasih, sebagai mana diajarkan Allah dan ditauladankan Rasulullah adalah untuk memperkuat umat, bukan sebaliknya, memperlemah perjuangan umat. Hal itu karena Rasulullah dalam hadis autentik mengatakan bahwa umat yang kuat jauh lebih baik. [HR. Bukhari].
Kedua, Silatutrrahîm harus dapat meningkatkan martabat dan keselamatan umat. Untuk itu tidak diperkenankan pertemanan jika akhirnya memperkuat kesyirikan, memperkuat posisi orang yang mensyirikkan Allah Swt. Bahkan kewarisan pun menjadi terhalang karena kesyirikan.
Ketiga, silaturrahîm harus lebih memberikan keleluasaan kepada umat untuk menerapkan ajaran al-Qur’ân dalam kehidupan. Sebab kasih sayang Allah pada manusia ditandai dengan diturunkannya al-Qur’ân. اَلرَّحْمَنُ عَلَّمَ الْقُرْاَن .[QS. al-Rahmân: 1-2].
Dengan demikian pertemanan dan kasih sayang yang pada gilirannya mempersulit umat untuk menerapkan kehidupan yang qur’âni adalah suatu pertemanan, persekutuan, atau kualisi yang meneyesatkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram berikut:
Penutup
Dari kajian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kasih sayang adalaha sifat Allah yang dilimparkan kepada Rasulullah, dan kemudian dilimpahkan kepada amanusia dalam bentuk ajaran silaturrahîm.
Kasih sayang yang diajarkan Islam bersifat universal dan mondial. Oleh karenanya kasih sayang umat adalah untuk seluruh alam karena kehadiran umat adalah untuk mendatangkan manfaat dan kebaikan serta kemajuan bagi alam semesta.
Pada akhirnya kasih sayang dan silaturrahîm Islam menekankan suatu nilai bahwa hubungan pertemanan dan kasih sayang harus bertujuan menegakkan nilai-nilai kehidupan yang berketuhanan (rabbâni), karena semua pertemanan dan kasih sayang harus dipertenggungjawabkan di hadapan pengadilan yang tanpa kecurangan. Wa Allâhu A’lamu bi al-Shawâb.
[1] Abul Kalam Azad, The Tarjumân Ak-Qur’ân, Vol. 1, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1996), hlm. 47.
[2] Meski berasal dari akar kata yang sama, al-rahmân dan al-rahîm, namun kedua istilah ini mengandung arti dua aspek yang berbeda. Al-rahmân berarti zat yang memiliki rahmat. Sedang al-rahîm berarti zat yang tidak saja memiliki rahmat melainkan juga memberikan perwujudan kekal atasnya dan merupakan sumber kebaikan alam semesta setiap saat. Lihat, Ibid.
[3] Khomaeni, Islam and Rovolution: Writing, Spech, and Lecture Ayatullah Ruhullah Khomaeni, (Mizan Press, Berkely, 1981).
[4] Ibid
[5] G.S. Hudgson, The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization, Vol. III, (Chocago: The University of Chicago Press, 1974), hlm. 71.
[6] Sayyed Hossein Nasr, The Heart of Islam, (2002).






