Sunday, March 1, 2026
spot_img

Muzakarah Khusus Ramadan 1447 H Bahas Puasa dan Kesehatan dalam Perspektif Kedokteran

Medan, muisumut.or.id | Ahad, 1 Maret 2026 — Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara menggelar Muzakarah Khusus Ramadan 1447 H dengan tema “Puasa dan Kesehatan dalam Perspektif Ilmu Kedokteran” di Aula Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Kamis (1/3/2026), mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Muzakarah ini menghadirkan Dr. dr. H. Delyuzar, M.Ked(PA), Sp.PA, Subsp.URL(K), anggota Komisi Fatwa MUI Sumut sekaligus ahli Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan RS Prof. Chairuddin P. Lubis, sebagai pemateri utama.

Dalam pemaparannya, Dr. Delyuzar menjelaskan bahwa puasa Ramadan tidak hanya merupakan ibadah yang berdimensi spiritual, tetapi juga memberikan dampak fisiologis yang signifikan terhadap kesehatan tubuh. Secara medis, puasa memicu adaptasi metabolisme energi, di mana tubuh beralih dari penggunaan glukosa menuju pemanfaatan lemak melalui proses lipolisis dan ketogenesis.

Ia menegaskan bahwa mekanisme tersebut berperan penting dalam pengendalian berat badan, penurunan lemak visceral, serta peningkatan sensitivitas insulin. Kondisi ini berkontribusi dalam pencegahan berbagai penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan sindrom metabolik.

Lebih lanjut dijelaskan, puasa juga mengaktifkan proses autofagi, yakni mekanisme pembersihan dan regenerasi sel secara alami. Autofagi berperan dalam membuang sel-sel yang rusak, menekan peradangan kronik, serta memberikan perlindungan terhadap penyakit degeneratif, termasuk penyakit kardiovaskular dan gangguan neurodegeneratif.

Dari sisi kesehatan jantung dan pembuluh darah, puasa dinilai memberikan efek kardioprotektif melalui penurunan tekanan darah, penurunan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida, serta peningkatan kolesterol baik (HDL). Perubahan ini berkontribusi dalam menurunkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan aterosklerosis.

Pada aspek sistem endokrin dan metabolik, puasa membantu menstabilkan hormon insulin dan glukagon, meningkatkan hormon pertumbuhan, serta mengatur hormon pengendali nafsu makan seperti leptin dan ghrelin. Adaptasi hormonal tersebut mendorong tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama dan berdampak positif terhadap kesehatan metabolik.

Puasa juga memberikan manfaat bagi sistem pencernaan dengan memberikan waktu istirahat fisiologis bagi lambung dan usus, memperbaiki motilitas usus, menyeimbangkan mikrobiota, serta membantu fungsi detoksifikasi hati dan optimalisasi kerja pankreas.

Selain manfaat fisik, muzakarah ini menyoroti dampak positif puasa terhadap kesehatan mental. Puasa membantu menstabilkan hormon stres, meningkatkan neurotransmiter yang berperan dalam suasana hati, memperbaiki kualitas tidur, serta memperkuat pengendalian diri dan ketahanan mental.

Namun demikian, Dr. Delyuzar menekankan bahwa puasa tidak dianjurkan bagi kelompok berisiko tinggi, seperti penderita diabetes tidak terkontrol, gagal ginjal kronik stadium lanjut, penyakit jantung berat, serta ibu hamil dengan risiko tinggi. Pada kondisi tersebut, konsultasi medis menjadi keharusan dan keselamatan jiwa harus diutamakan sesuai prinsip medis primum non nocere.

Melalui muzakarah ini, MUI Sumut menegaskan pentingnya sinergi antara ulama dan tenaga medis dalam memberikan edukasi puasa sehat kepada masyarakat, sehingga ibadah puasa dapat dijalankan secara aman, bernilai ibadah, dan membawa kemaslahatan bagi umat.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles