Sunday, February 1, 2026
spot_img

SHALAWAT WAHIDIYAH DALAM PERSPEKTIF SUNNAH

Oleh  : H. Musaddad Lubis[1]

Pendahuluan.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallah adalah nabi penutup dari seluruh nabi dan rasul yang pernah diutus Allah ke permukaan bumi ini. Sebagai nabi dan rasul Allah, Muhammad Saw sangat dicintai oleh umatnya yang setia kepadanya hingga hari kemudian. Sosok Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terukir dalam hati sanubari umatnya sehingga senantiasa dijadikan sebagai tauladan dalam kehidupan umatnya sepanjang masa. Tiada putusnya umatnya menyebut namanya baik dalam ungkapan sehari-hari dalam pergaulan, acara serimonal maupun dalam ritual ibadah, bahkan penyebutan namanya menjadi tolok ukur sah tidaknya suatu ibadah yang dilaksanakan. Misalnya dalam ucapan azan dan iqamat, nama Muhammad Saw disebutkan dan demikian juga dalam bacaan tahiyyat dalam shalat, nama Muhammad juga disebutkan.

Shalawat sebagai salah satu bentuk ritual kegamaan dalam Islam selain memiliki dasar dan landasan yang kuat dari sumbernya kemudian difahami sebagai ungkapan tanda kesetiaan kepada nabi Muhammad Saw dan dalam kesatuan ungkapan dan kalimatnya walaupun dalam kalimat yang tidak panjang diajarkan oleh nabi dan terlihat jelas dalam berbagai kitab hadis. Akan tetapi karena begitu pendeknya kalimat shalawat itu maka para ulama memperpanjang kalimatnya sehingga lebih menarik lagi dan bahkan dibuat dalam bentuk syi’ir bergaya pantun. Tujuannya tidak lain agar bernuansa seni dan enak didengar karena dilantunkan dengan berlagu dan bersajak. Isinya tidak lain hanya mengungkapkan rasa cinta umat kepada nabinya.

  1. Bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw.
  2. Pengertian Shalawat.

Dalam Kamus al-Munawwir, shalawat terambil dari kata صلى  mengandung arti دعا  berdo’a atau berarti shalat. Sedangkan kata  صلى الله على النبي artinya ; Moga-moga Allah memberikan berkah kepada Nabi Muhammad Saw.

  • Dasar Hukum Bershalawat.

Dalam Alquran terdapat beberpa ayat yang menyuruh bershalawat, di anataranya dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 :  Artinya : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

 Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti berkah dan  rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ‘ala Muhammad. Dengan mengucapkan Perkataan seperti:Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai Nabi.

Kemudian dalam Surat al-Ahzab ayat 43- 44 :Artinya : . Dialah yang Tuhan yang  rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya Ialah: Salam, dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.

Dalam hadis-hadis Nabi terdapat banyak teks yang menganjurkan bershalawat, diantaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim terdapat dalam kitab Bulug al-Maram karya Ibnu Hajar ‘Asqallani halaman 288 :

و عن ابى هريرة رض قال : قال رسـول الله ص م : ما قعد قوم مقعدا لـم يذكروا الله فيه ولـم يصلوا على النبي صلى الله عليه و سلم الا كان عليهم حسرة يوم القيامة . رواه الترمذى

Artinya : Tiadalah duduk suatu kaum di dalam satu majelis tidak menyebut nama Allah di dalamnya dan tidak pula menyebutkan shalawat atas nabi saw melainkan mereka dalam keadaan merugi (penyesalan) di hari kiamat. (H. R. Tirmizi). 

 Ayat dan hadis di atas menjelaskan betapa bershalawat itu menjadi penting karena terkait dengan ibadah ritual di dalam Islam, sebagaimana kalimat yang harus diucapkan di dalam shalat, dalam azan iqamat, dan sangat dianjurkan mengucapkannya di dalam majelis orang Islam. Bahkan ayat di atas menunjukkan bahwa bershalawat itu dilakukan secara istimrarberkelanjutan artinya menjadi kebiasaan sehari-hari. Dengan demikian maka hukum bershalawat itu wajib ketika dalam shalat, dalam khutbah, dalam azan dan iqamat dan sunnat ketika di luar shalat. 

Adapun tujuan bershalawat kepada nabi adalah sebagai ibadah yang apabila dilakukan akan dinilai sebagai amal kebajikan dan bahkan merugi sekali orang yang tidak bershalawat kepada nabi sekaligus akan berkurang timbangan amal seseorang. Bahkan orang yang bershalawat dipandang memiliki kelebihan dan manfaat sebagaimana dijelaskan oleh Imam Muhammad bin Ali al-Syaukani dalam kitabnya Tuhfah al-Dzakirin dan Imam Nawawi dalam kita Al-Adzkar Nawawi, sebagai berikut :

  1. Orang yang utama di hari akhirat, sebagaimana sabda nabi Saw :

اولى النـاس بى يوم القيامة اكثرهم علي صلاة (رواه ابو داود و الترمذى و ابن حبان)

Artinya : Manusia yang paling utama bersama saya di hari kiamat ialah mereka yang paling banyak mengucapkan shalawat. (H.R. Abu Dawud, Timizi dan Ibn Majah).

  • Sebagai pembuka jalan diterimanya do’a seorang hamba Alah Swt, sebagaimana hadis nabi yang berasal dari ‘Ali :

كل دعاء محجوب حتى يصلى على محمد و على ال محمد ز (رواه الديلمى) .

Artinya : Semua do’a akan tertutup sampai dibacakan shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya. (H.R. Dailami).

  • Sebagai pengampun dosa dan tercapainya cita-cita, sebagaimana sabda Nabi Saw :

عن ابي بن كعب قال : قال رسول الله ص م : قيل يا رسول الله جعلت لك صلاتى كلها قال : اذا تكفى همك و يغفر ذنبك . (رواه النسائى و ابن حبان) .

Artinya : Dari Ubay bin Ka’ab Ra. Rasulullah Saw ditanya, Ya Rasulullah Saw aku menjadikan seluruh shalawatku untukmu, maka jawab nabi : Kalau begitu tercapai cita-citamu dan dan diampunkan dosamu. (H.R. Imam Nasai, Ibn Hibban dan Thabrani).

  • Waktu dan Tempat Bershalawat.

Pada dasarnya bershalawat boleh saja dilakukan disetiap waktu dan ditempat mana saja yang layak yang tidak mengurangi kehormatan bershalawat, lebih-lebih dilakukan pada hari jum’at dan ditempat yang suci. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :

اكثروا من الصلاة علي يوم الجمعة فان صلاتكم معروضة علي (رواه ابو داود و ابن حبان) .

Artinya : Perbanyak kamulah bershalawat kepadaku pada hari Jum’at, maka sesungguhnya shalawat kamu tertuju kepadaku. (H.R Abu Dawud dan Ibn Hibban). 

Maka salah seorang sahabat bertanya kepada nabi bagaimana kami bershalawat pada hal nabi suatu waktu sudah wafat, maka jawab nabi, sesungguhnya Allah mengharamkan tanah memakan jasad para nabi. Maka jelaskan bahwa para nabi tetap hidup dalam kuburnya (menurut cara allah menghidupkannya). (al-Syaukani, Tukhfah: 42-3) 

  • Teks Shalawat.

Banyak teks shalawat yang ditemukan di kalangan masyarakat luas, namun oleh Imam Ibn Kasir dalam kitab Tafsirnya mengatakan bahwa teks shalawat yang dilafaskan oleh Rasulullah ialah sebagai berikut :

الهـم صـل علـى محمد و علـى ال محمد كما صليت على ابراهيم و على ال ابرايم انك حميد مجيد و بارك على محمد و على ال محمد كما باركت على ابراهيم و على ال ابراهيم انك حميد محيد

Artinya : Ya Allah, berikanlah haturkanlah keejahteraan  kepada nabi Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berikan kepada nabi Ibrahim dan keluarganya, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi nabi Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau maha Terpuji dan maha Mulia.

Mengubah teks shalawat dilakukan oleh para ulama yang memiliki semangat seni dan menambah teks dalam bentuk yang berbeda-beda namun subtansi shalawat itu tetap sama yaitu memohon kesejahteraan dan keberkahan buat nabi Muhammad Saw. Memperindah shalawat dengan menggubah dan mengindahkannya diperbolehkan sebagaimana dalam atsar sahabat Ibn Mas’ud Ra :

عـن عبد الله بن مسعود قال اذا صليتم على رسول الله صلى الله عليه و سلم  فاحسنوا الصلاة عليه …(رواه ابن ماجه

Artinya : Dari Ibn Mas’ud Ra, ia berkata apabila kamu bershalawat kepada Rasulullah Saw maka perindahlah shalawat kamu kepadanya. (R. Ibn Majah).

  • Macam-macam Shalawat.

Karena adanya peluang kebolehan menggubah teks shalawat dalam bentuk yang bermacam-macam, maka para ulama dan ahlinya membuat teks shalawat bermacam-macam dalam bentuk prosa, sajak dan sya’ir. Oleh karena itu maka bermacam-macamlah bentuknya dan namanya, diantaranya : 

  1. Shalawat munjiyat
  2. Shalawat nariyah
  3. Shalawat nawawiyah
  4. Shalawat badriyah, dsb.
  5. Shalawat Wahidiyah (akan dibahas berikut ini).
  6. Shalawat Wahidiyah dalam Pandangan Sunnah.

Belakangan ini muncul persoalan baru di kalangan umat Islam di daerah Tebing Tinggi dimana sebagian masyarakat akan membuat suatu kegiatan akbar shalawat wahidiyah di lapangan terbuka. Oleh karena kelompok warga masyarakat ini masih asing dikalangan pemuka agama termasuk ulama sekitar, maka DP MUI Tebing Tinggi membuat surat kepada DP MUI-SU untuk meminta penjelasan siapa dan bagaimana sebenarnya Shalawat Wahidiyah itu dalam pandangan MUI-SU. Setelah melakukan tela’ahan atas dokumen yang ada diperolehlah beberapa catatan penting untuk mengenali Shalawata Wahidiyah ini. Maka muzakarah kali ini  yang mengambil topik sebagaimana di atas adalah bagian dari  pemberian informasi sekilas apa dan siapa sebenarnya Shalawat Wahidiyah tersebut.

  1. Nama dan Pendiri Shalawat Wahidiyah.

Shalawat Wahidiyah adalah shalawat yang dita’lif oleh Hadlratul Mukarrom Mbah KH. Abdul Majid Ma’ruf Qs wa Ra tahun 1959 setelah mendapat rukyah shalihah yang isinya mengangkat akhlak, iman umat masyarakat kembali kepada jaran Rasulullah Saw.

Shalawat Wahidiyah adalah seluruh rangkaian doa-doa shalawat yang tertulis dalam lembaran Shalawat Wahidiyah, segala kandungan yang terdapat didalamnya dan cara pengamalannya termasuk bacaan surat al-Fatihah.

Shalawat Wahidiyah adalah rangkaian redaksi shalawat Nabi Saw yang oleh Allah dikaruniai berbagai faedah berupa kejernihan hati dan ketenteraman jiwa, meningkatkan daya ingat sadar / ma’rifat kepada Allah dan rasulnya

Shalawat Wahidiyah mempunyai kandungan makna berupa suatu sistem bimbingan praktis untuk meraih Iman, Islam dan Ihsan yang kemudian disebut Ajaran Wahidiyah.

Shalawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah telah diijazahkan secara mutlak oleh Muallifnya yaitu Hadlratul Mukarram Mbah KH. Abdul Majid Ma’ruf Qs wa Ra Pengasuh Podok Pesantren Kedunglo Kelurahan Bandar Lor Kecamatan Mojoroto’ Kediri, Jawa Timur

Shalawat Wahidiyah mulai disiarkan pada awal tahun 1963 M. (Buku Materi Up Grading Da’i Wahidiyah).

  •  Wahidiyah Sebagai Shalawat dan Ajaran.
  • Wahidiyah Sebagai Shalawat.

Pengikut Wahidiyah memandang bahwa Shalawat Wahidiyah sebagai tharekat lebih-lebih jika bershalawat dengan disertai adab yang tepat, menghormat yang semestinya serta mahabbah kepada Rasulullah Saw merupakan bagian penting dalam tharekat untuk mendekat kepada Allah yang telah disusun oleh para Ghauts pada setiap zaman. 

 Cara pengamalan shalawat dilkukan leat Mujahadah dengan hal-hal sebagai berikut :

  1. Boleh diamalkan oleh siapa saja laki-laki, perempuan, tua, muda dan bangsa manapun
  2. Diamalkan selama 40 hari bagi pangamal baru, setiap hari bagi menjelang Mujahadah Kubro. Nabi juga berada di Gua Hiro kadang-kadang sampai 40 hari.
  3. Boleh diamalkan sendirian tapi berjama’ah atau satu keluarga lebih baik.
  4. Bagi yang berhalangan datang bulan hanya dibaca “Fafirru ilallah”
  5. Bagi yang belum biasa membaca teks shalawat cukup dibaca “Ya sayyidi ya Rasulalloh”
  6. Jika tidak mampu membaca sama sekali maka boleh diam saja 30 menit cukup konsentrasi diri kepada Allah, ta’zhim memuliakan Allah 
  7. Wahidiyah Sebagai Ajaran.

Wahidiyah sebagai ajaran difahami sebagai “membebaskan jiwa manusia dari belenggu kemusyrikan , merupakan perjuangan nabi yang paling pertama sekaligus paling utama dilakukan, Yang kemudian seterusnya oleh waliullah yang berpangkat Ghauts Ra pada setiap zaman. Syirik difahami sebagai faham bahwa makhluk dengan dirinya sendiri dapat mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudratan baik untuk dirinya maupu untuk orang lain. (Buku Ajaran Wahidiyah, BAB III, Bhs 1, Hlm. 1). Wahidiyah, bukanlah suatu aliran baru dalam Islam, melainkan berupa kesadaran mukmin dalam ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya iman yang terbebas dari kemusyrikan. Kata Wahidiyah terambil dari kata Asmau al-Husna yang artinya Zat Yang Maha Satu. Untuk tidak menyekutukan Allah perlu sarananya berupa :

a). Menerapkan ajaran LILLAH dan BILLAH sepenuh hati dan secara dzauqiyah

b). Melalui makhluk (termasuk diri dan amal bati)

c). Memamhami bahwa diri dan makhluk lain tidak memberi manfaat dan mudharat tanpa selain izin dan kuasa Allah

d. Memahamai bahwa apa saja kenikmatan yang diterima atau yang diberikan datangnya bukan dari makhluk melainkan dari Allah. Sedangkan makhluk termasuk Rasulullah Saw dan Ghauts Hadza Zaman hanya sebagai pintu atau sarana. (Ibid, Hlm. 4)

3.  Peran Ghauts Hadza Zaman.

Dalan pandangan ajaran Wahidiyah, ada sosok yang mempunyai peranan penting dalam membimbing ruhani setiap manusia itulah Gahutsyang hadir silih berganti setiap zaman. Ghauts yang artinya penolong, adalah figur senteral dan tauladan dalam menjalankan tuntunan Islam secara syari’at dan hakikat serta lahiriyah dan batiniyah. Ghauts atau disebut juga Quthb al-Wujud, karena ia adalah pusat segala wujud ruhaniyah. Ia merupakan satu-satunya wakil Rasulullah Saw dalam mengemban tugas khalifah dalam alam fana ini serta sebagai tempat tajalli-Nya yang sempurna, karenanya ia juga disebut oleh kaum sufi dengan Abdul Warits. Ghauts ini jika sudah berlalu disebut Ghauts fi zamanihidan yang ada sekarang disebut Ghauts Hadza Zaman. Memahami siapa Ghauts Ra hanya dapat dicapai melalui metode hidayah Allahdengan melaksanakan mujahadah. Tidak ada jalan yang paling tepat dan cepat mencapai hidayah Allah dan keterbebasan dari syirik dan memperoleh kebersihan jiwa kecuali dengan bimbingan rasulullah atau al-Ghauts pada zamannya. Seseorang akan meningalkan alam ini mati dalam keadaan berdosa besar (syirik), jika selama hidupnya tidak pernah mendapatkan bimbingan kesempurnaan iman dari Syekh Kamil Mukammil. Tanpa melalui bimbingannya, seseorang akan memiliki pemahaman iman yang terbalik, syirik dianggap bertauhid dan bertauhid dianggap perbuatan syirik. (Ibid, Bab III, Ghautsiyah,  hlm. 2) 

  • Peran Hadlratul Mukarrom Mbah Abdul Madjid Ma’ruf Qs wa Ra. Abdul Madjid Ma’ruf dipandang sebagai sosok yang tergolong mujaddid memiliki 3 quthb kelebihan, sebagai quthb ilmiseperti al-Ghazali, quthb ahwalseperti Abu Yazid al-Busthami dan quthb maqamatseperti Abdul Qadir Jilani. Maka ia disebut sebagai mujtahid fi al-tashawwuf wa al-thariqoh.

Abdul Madjid sebagai pendiri Salawat Wahidiyah memiliki ajaran pokok :

  1. Ajaran shalawat yang disusunnya beberapa tahapan
  2. Ajaran Mujahadah yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat melaksanakan ajaran Wahidiyah dalam segala tindakandan perbuatan yang berhubungan langsung dengan Allah Swt wa Rasululah Saw dan masyarakat dijiwai dengan LILLAH BILLAH, LIRRASUL BIRRASUL, LILGHAUTS BILGHAUTS dengn menerapkan juga YUKTI KULLA DZI HAQQIN HAQQOHU, memenuhi segala macam kewajiban tanpa menuntut hak, dengan prinsip TAQDIMUL AHAMM FAL AHAMM TSUMMA ANFA’ FAL ANFA’.
  3. Ajaran “menangis” yaitu merupakan gejala psikologis yang didorong oleh berbagai sebab diantaranya karena banyaknya dosa yang menyelimuti diri manusia dan ingin pengampunan dari Allah Swt didasari atas syawuq dan mahabbahkepada Allah.
  4. Ajaran “Nida 4 Penjuru”. Yaitu  do’a khusus dengan ketentuan sbb :
  5. Berdo’a menghadap 4 arah; barat, utara, timur dan selatan dengan membaca “Fafirru ilallah”sebanyak 3 kali, memanggil masyarakat agar sadar kepada Allah dan Rasulnya.
  6. Nida 4 penjuru dianjurkan untuk dilaksanakan sebelum acara shalawat Wahidiyah selesai
  7. Tujuan Nida 4 penjuru agar manusia di empat penjuru mengabdi kepada Allah.

Cara pelaksanaannya dengan posisi berdiri kearah barat dengan membaca al-Fatihah 1 kali, fafirru ilallah 1 kali dan waqul jaal haqqu dst 1 kali, kemudian berpindah arah sampai kembali ke semula. Kemudian ditutup dengan do’a. 

  1. Analisis Ajaran Shalawat Wahidiyah.
  2. Shalawat Wahidiyah sebagai shalawat dan ajaran sangat membenci syirik meskipun syirik yang mereka maksudkan itu adalah pengurangan bobot Allah sebagai pengatur alam termasuk manusia.
  3. Konsep dan ajaran Shalawat Wahidiyah sesungguhnya diformat oleh Mbah Madjid Ma’ruf, ditashhih dan ditahqiqnya dengan landasan ayat hadis dan pendapat ulama khususnya ulama tasawuf, sehingga seakan kebenarannya tidak diragukan lagi.
  4. Ghauts Hadza Zaman dimaksudkan ialah pemimpin sebagai penerus perjuangan Rasul dan unggulan para aulia diantaranya Hadlratul Mukarrom Mbah KH Abdul Majid Ma’ruf Qs wa Ra
  5. Shalawat Wahidiyah diposisikan sebagai thariqat yang mempunyai ketentuan dan ajaran tersendiri.
  6. Keputusan Fatwa MUI Kabupaten Tasikmalaya dengan nomor : 45/Kep./MUI-TSM/V/2007, menyatakan bahwa Sebagaian Ajaran Wahidiyah Di Desa Purwarahayu Kecamatan Taraju dinyatakan Sesat dan Menyesatkan.

Demikianlah sekilas uraian tentang Shalawat Wahidiyah yang dapat disajikan dalam forum muzakarah ini semoga ada manfaatnya .Wallohu a’lamu bishshawab.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles