Sunday, February 1, 2026
spot_img

Seminar dan Kuliah Umum Waqf Goes to Campus ; Wakaf UIN Sumatera Utara Berbenah untuk Perbaiki Peringkat IWN

muisumut.or.id, Direktur P2WP MUI Sumatera Utara, Akmaluddin Syahputra menyampaikan harapannya agar Wakaf UIN Sumatera Utara dapat menjadi garda terdepan dalam berbenah dan memperbaiki peringkat Indeks Wakaf Nasional (IWN) 2022, dimana Provinsi Sumatera Utara berada pada urutan terakhir, Hal ini disampaikan pada Seminar dan Kuliah Umum Waqf Goes to Campus di Aula UIN Sumut Jalan Williem Iskandar, Selasa (16/5)

Rektor UIN SU Prof Nurhayati melalui Wakil Rektor IV Dr Maraimbang Daulay, MA menyampaikan, Mahasiswa UIN SU yang sekitar 30 ribu orang siap menjadi duta wakaf Sumut yang ikut menyosialisasikan ke masyarakat pentingnya menggelorakan semangat dan menggerakkan wakaf di Sumut.

Seminar dan kuliah umum tersebut menampilkan dua narasumber yang kompeten yakni Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia, Dr. Yuli Yasin, LC, MA yang membawakan tema “Perkembangan Wakaf di Indonesia dan Luar Negeri” dan Prof. Dr. Achyar Zein, MA dengan tema “Penghimpunan, Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf melalui Kampus”

Sebelum acara seminar dan kuliah umum dilaksanakan penadatanganan MoU antara UINSU dan BWI.

Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA yang menjadi keynote speaker pada acara tersebut menyampaikan bahwa Saat ini penting untuk meningkatkan literasi dan pemahaman tentang perwakafan agar meningkatkan pula kesadaran berwakaf di tengah masyarakat sehingga mampu semakin luas untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

“Perlu meningkatkan literasi pemahaman perwakafan dan meningkatkan kesadaran berwakaf bagi umat. Terima kasih kepada Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) yang berkenan menjadi bagian dari gerakan ini. Sosialisasi di kampus-kampus untuk mengajak kampus menjadi bagian dari ekosistem perwakafan nasional. Karena SDM yang paling bagus itu adanya di kampus, yang nanti kita harapkan sebagai duta-duta wakaf,” jelas Prof Nuh.

Elemen mahasiswa, menurutnya, menjadi penting karena terbentuk di kampus, belajar dan dididik sehingga nanti setelah tamat mengabdi di tengah masyarakat dalam banyak ruang. Sistem yang dijalankan kampus ini kelak menjadi bekal generasi memimpin bangsa dan sebagai pengambil keputusan pada 2045. Dalam konsep wakaf ini, Prof Nuh menjelaskan tentang suatu hadis di mana rasul mengangkat anak yang ayahnya mati berperang dan ibunya menikah lagi sehingga anak tersebut tampak murung dan sedih.

“Rasul mendatangi anak yang termenung, padahal teman-temannya sedang bergembira dengan pakaian baru. Rasul bertanya, maukah engkau aku menjadi pengganti bapakmu, Aisyah sebagai pengganti ibumu, Fatimah sebagai saudaramu dan seterusnya. Hingga anak yang sedih itu menjadi senang dan bahagia, telah diberi pakaian baru dan diberi makan, konsep inilah yang dibutuhkan saat ini di negara ini,” urai Prof Nuh.

Memberikan kemudahan dan kebahagiaan bagi orang lain yang memerlukan inilah yang menjadi landasan dalam konsep wakaf yang dinilai sebagai solusi konkret yang dibutuhkan saat ini dalam rangka meraih kesejahteraan. Karena wakaf akan bermuara dan melekan pada peningkatan kesejahteraan umat. Namun, belum semua tertarik dengan perwakafan. “Wakaf pasti terkait dengan kesejahteraan, terkait dengan dakwah Islam dan martabat manusia serta terkait dengan masa depan. Kami sampaikan terima kasih kepada UIN SU yang turut ikut menggerakkan perwakafan,” tukasnya.

Ia mengharapkan, UIN SU Medan menjadi kampus yang terus bertingkat kualitasnya. Tumbuh dengan pendekatan pemikiran lintas generasi dan harus punya aset lintas generasi. Dengan konsep wakaf dan menyediakan dana abadi secara sadar dan sengaja yang bisa dikembangkan dalam upaya mencapai kesejahteraan. “Kita harus kembali menghidupkan kembali aset-aset yang dulu telah terbukti jaya. Harus punya dana abadi melalui wakaf,” tandasnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,200SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles