Thursday, May 14, 2026
spot_img

Ketua Bidang Infokomdigi MUI Sumut Tekankan Pentingnya Kesadaran Digital dalam Komunikasi Keumatan

 

Medan, muisumut.or.id – Kamis 14 Mei 2026 Ketua Bidang Informatika, Komunikasi, dan Digitalisasi Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Dr. H. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, menjadi narasumber dalam kegiatan Dialog Strategis Komunikasi Keumatan di Era Digital dengan tema “Meningkatkan Kesadaran Digital: Bijak Bermedia Sosial dalam Era Informasi” yang berlangsung di Nivia Hotel.

Dalam pemaparannya, Dr. Akmaluddin menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat, termasuk dalam kehidupan keagamaan dan pembinaan umat. Menurutnya, ruang digital kini telah menjadi “mimbar baru” yang sangat memengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat.

“Jika dahulu komunikasi umat berlangsung melalui mimbar masjid, majelis taklim, dan media konvensional, maka hari ini ruang komunikasi terbesar masyarakat berada di media sosial dan platform digital,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menghadirkan peluang besar bagi penguatan dakwah dan pendidikan Islam, namun sekaligus membawa tantangan serius berupa maraknya hoaks, ujaran kebencian, fitnah, polarisasi sosial, pornografi, judi online, hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Karena itu, menurutnya, umat Islam tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi masyarakat digital yang cerdas, bijak, dan berakhlak.

Dalam forum tersebut, Dr. Akmaluddin juga menyoroti pentingnya prinsip tabayyun dalam menerima dan menyebarkan informasi di era digital. Ia mengingatkan bahwa banyak konflik sosial dan perpecahan terjadi akibat penyebaran informasi yang tidak diverifikasi terlebih dahulu.

“Dalam konteks digital hari ini, tabayyun bukan hanya ajaran agama, tetapi kebutuhan sosial dan peradaban,” katanya.

Selain itu, ia menilai media sosial sering kali membuat sebagian masyarakat kehilangan etika dalam berkomunikasi. Padahal, Islam sangat menekankan akhlak dalam berbicara, termasuk di ruang digital.

“Jempol dan tulisan di media sosial memiliki dampak yang sama dengan ucapan lisan. Bahkan jejak digital bisa bertahan sangat lama dan terus tersebar,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahaya konten negatif yang semakin mudah diakses generasi muda, seperti pornografi, judi online, penipuan digital, radikalisme, dan berbagai konten yang merusak moral serta nilai keluarga.

Menurutnya, penguatan literasi digital keumatan menjadi sangat penting agar masyarakat tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya secara benar dan bertanggung jawab.

Dalam kesempatan itu, Dr. Akmaluddin mendorong organisasi keagamaan untuk melakukan transformasi digital melalui penguatan media sosial organisasi, dakwah berbasis konten kreatif, podcast keislaman, video edukasi, digitalisasi fatwa, hingga pemanfaatan AI untuk kepentingan edukasi umat.

“Konten baik yang dikemas menarik akan lebih mudah diterima masyarakat dibandingkan pesan baik yang disampaikan secara monoton,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara ulama, akademisi, pemerintah, organisasi Islam, dan generasi muda dalam membangun ekosistem komunikasi keumatan yang sehat di era digital.

“Kita membutuhkan gerakan bersama agar media sosial tidak menjadi ruang permusuhan, tetapi menjadi ruang dakwah, edukasi, ukhuwah, dan persatuan umat,” pungkasnya.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,400SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles