muisumut,or.id, Makkah, 18 Mei 2026, Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat membutuhkan kekuatan fisik. Mulai dari keluar rumah sampai kembali lagi ke tanah air. Tenaga manusia akan terwujud jika badannya sehat, karena jika sakit maka badan manusia tidak berdaya lagi.
Islam adalah agama yang menganjurkan pemeluknya untuk menjaga kesehatan, karena itu Islam melarang mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat merusak kesehatan, baik kerusakannya secara langsung atau bertahap.
Dalam ayat Alquran digambarkan bagaimana kuatnya fisik Nabi Yusuf as. yang _qawiyyun amin_ dan Nabi Musa as. yang tenaganya sebanding dengan sepuluh laki-laki. Dalam Hadis dijelaskan bahwa Mukmin yang kuat lebih Allah Swt. cintai daripada mukmin yang lemah. Termasuklah di dalamnya masalah fisik.

Berangkat dari rumah menuju Baitullah, jika dari Indonesia memakan waktu ± 8 jam di dalam pesawat terbang. Hal ini membutuhkan tenaga, kesehatan dan ketahanan fisik, karena ada jamaah yang wafat ketika masih dalam pesawat. Kejadian ini tentu terkait dengan kesehatan fisik meski tidak menyampingkan takdir Allah Swt.
Sesampainya di Makkah di dalam Masjid Alharam jamaah haji akan melaksanakan rukun haji, yakni thawaf sebanyak 7 puturan. Jarak 1 putaran di lantai dasar sekitar 145 – 200 meter, total untuk 7 putaran adalah sekitar 1 hingga 1,5 km. Jika thawafnya dilantai 1 dan 2 tentu lebih jauh lagi jaraknya. Belum lagi jika ramai dan sampai berdesakan. Orang yang bisa thawaf dengan berjalan kaki berarti sehat, karena jika tidak maka dia tidak akan mampu menumpuh jarak yang tidak dekat itu.
Disamping thawaf rukun haji yang mesti dilaksanakan semua orang yang haji, ia juga sesuai dengan menjaga kesehatan, karena berjalan dengan kaki diantara adalah cara untuk menjaga kesehatan jantung dan anggota badan lainnya.
Dianjurkan bagi kita minimal 30 menit berjalan kaki atau bersepeda setiap hari.
Betapa kuatnya Siti Hajar saat berlari-lari dari bukit Shafa menuju bukit Marwah. Jarak antara bukit Shafa dan Marwah untuk sekali jalan adalah sekitar 450 meter. Karena ibadah Sa’i dilakukan sebanyak 7 putaran bolak-balik, total jarak yang ditempuh jamaah adalah sekitar 3,15 km.
Dimasa itu sangat berbeda sekali dengan kondisi Shafa dan Marwah sekarang ini, yang lantainya sudah dikeramik, dilengkapi dengan full AC dan sudah diatapi dengan baik. Dahulu bukit Shafa dan Marwah jalannya terjal, penuh dengan batu-batuan yang masih asli bentuknya dan tersengat panas matahari.
Orang yang akan haji harus sehat dan kuat serta berusaha menjaga kesehatan, sehingga dapat sempurna dalam pelaksanaan sai dengat sempurna.
Wukuf di arafan adalah puncak ibadah haji.
Jarak dari Makkah ke Padang Arafah adalah sekitar 25 km. Perjalanan ini umumnya ditempuh dalam waktu 30 menit hingga beberapa jam, sangat bergantung pada kepadatan lalu lintas dan transportasi yang digunakan selama musim haji.
Dalam bus sebagai alat trasfortasi tentu diperlukan kesehatan, karena banyaknya manusia menumpuk di satu tempat yang terbatas akan menyebabkan bercampurnya aroma dan udara yang beragam. Jika kondisi tubuh tidak kuat makan akan tertular batuk, pilek dan penyakit lainnya.
Sewaktu wukuf di Padang Arafah jamaah haji akan menetap disana selama 2 hari 1 malam, di dalam tenda yang penuh manusia. Cuaca panas, perkiraan 45⁰c, toilet terbatas dan sumber makanan juga tidak seperti d Makkah karena tidak ada penghuni yang menetap.
Kekebatan tubuh jamaah haji harus mampu menyesuaikan dengan iklim yang cukup panas, udara yang mungkin bercampur debu padangpasir dan tubuh yang bisa saja belum tersentuh air untuk mandi. Maka seyogianya jamaah haji menyiapkan fisik dengan usaha selalu mengkonsumsi air putih, makan buah segar dan istirahat jika lelah.
Dari Padang Arafah menuju Musdalifah berjarak sekitar 9 km. Jarak yang tidak dekat. Ini ditempuh di malam hari setelah azan Maghrib pada tanggal 10 Dzul Hijjah. Bagi jamaah haji yang uzur maka akan disafari wukufkan atau tanazul, yakni dari Arafah mereka langsung dibawak ke Jumrah Aqabah untuk melontar lalu menuju Makkah, tidak bermalam d Mina. Namun bagi yang sehat wajib bermalam di Muzdalifah sampai lewat tengah malam. Menyikapi ini, jamaah haji harus lebih menjaga kondisi fisik dengan petunjuk dokter dan tim kesehatan yang sudah ditugaskan.
Selama di Mina akan bermalam, 2 malam, jika memilih nafar awal dan 3 malam jika memilih nafar tsani.
Jarak berjalan kaki dari tenda di Mina menuju Jamarat (tempat melempar Jumrah) berkisar antara 3 – 5 km. untuk sekali jalan. Jika perjalanan dilakukan pulang-pergi (PP), total jarak yang ditempuh jamaah mencapai 6 – 10 km. Ini dilakulan sesuai nafar yang dipilih.
Adapun jarak antara Mina ke Makkah sekitar 6 – 8 km.
Jarak tempuh ini sangat memerlukan semangat yang kuat, badan yang sehat, motivasi ibadah dengan ikhlas dan harapan yang bulat untuk mendapatkan ampunan Allah Swt.
Secara hukum fikih Islam usaha untuk mendapatkan kesehatan bisa dilakukan dengan cara:
1. Berdoa kepada Allah Swt.
2. Menjaga wudhu’.
3. Senantiasa membasuh tangan.
4. Kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya.
5. Istinja’ dengan cara yang benar.
6. Banyak minum air putih.
7. Istirahat yang cukup.
8. Makan ketika sudah lapar dan menyudahi sebelum kenyang.
9. Tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum.
10. Tidur miring sebelah kanan.
11. Memakai masker (jika tidak sedang ihram).
12. Mengikuti arahan dokter dan tenaga kesehatan.
Semoga jamaah haji dapat mabrur, yang balasannya surga dan ridha Allah Swt. Amin.
Jarwal Makkah Almukarramah, Senin 18 Mei 2026 M/1 Dzul Hijjah 1447 H
Dr. H. Muhammad Tohir Ritonga, Lc. MA (Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia Sumut Kloter 15 KNO/Dekan FAI Univa Medan/Sekretaris MUI Sumut/Anggota Dewan Fatwa Alwashliyah/Alumni PP. Nurul Falah Tj. Marulak)





