Sunday, May 17, 2026
spot_img

Tasawuf Haji

muisumut.or.id., Ibadah dalam syariat Islam tidak hanya terfokus pada aspek fikih, namun juga berkaitan dengan tasawuf bahkan tauhid dan sejarah. Lebih khusus ibadah haji, ia mencakup hukum fikih, tauhid, sejarah dan nilai-nilai akhlak atau tasawuf.

Ibadah haji mencakup rukun, wajib dan sunnah haji yang harus dikerjakan. Ada juga makruh dan yang membatalkan haji, tentu ini harus dijauhi dan ditinggalkan. Semua ini mengandung nilai-nilai tasawuf yang sarat dengan hikmah.

Diantara nilai-nilai tasawuf dalam pelaksanaan ibadah haji:
1. Keluar Rumah
Disaat calon haji keluar dari rumahnya hendaklah ia mengeluarkan dirinya dari “rumah” keduniaan. Ia harus meninggalkan aktifitas yang bertentangan dengan syariat, meninggalkan segala bentuk dosa dan maksiat. Mengeluarkan diri dari belenggu syahwat duniawi menuju semangat ibadah ukhrawi.
2. Mandi Sunnah Ihram
Mandi sunnah ihram dengan air yang bersih mengandung nilai tasawuf bahwa orang yang haji harus membersihkan diri dari kotoran dan najis batin seperti sombong, riya, ujub, suuzhan, kufur nikmat dan lain-lain.
Orang yang akan berangkat haji akan memasuki kota suci maka ia harus mensucikan batinnya dari sifat-sifat tercela, tidak layak orang yang kotor batinnya datang dan berada d kota suci dan mulia.
3. Memakai Kain Ihram
Kain ihram adalah simbol kain kafan, sama-sama warna putih, tidak berjahit, terbatas jumlahnya dan sederhana bahannya.
Kain ihram menjadi bukti bahwa manusia tidak membawa harta bendanya ke kubur, yang dia bawak hanya amal shaleh, tidak ada yang lain.
Orang yang berihram harus menyelimuti badannya dengan taubat, istiqamah, syukur, sabar, khauf (rasa takut) terhadap siksa Allah Swt., raja’ (mengharap) rahmat dan kasih sayang Allah Swt., tawadhu’, musyahadah (menyaksikan) kudrah dan iradah Allah Swt. pada semua kejadian, muraqabah (menyakini selalu dalam pengawasan Allah Swt.) dan lain-lain.
4. Membaca Talbiyah
Membaca talbiyah adalah upaya meyadarkan diri bahwa dahulu kala kita sudah menyahuti seruan Nabi Ibrahim as., atas perintah Allah Swt. Seruan yang setiap tahun akan disahuti oleh orang yang berangkat haji, baik dengan berkenderaan atau berjalan kaki, bukan saja dari tempat yang dekat akan tetapi juga dari tempat yang jauh (fajjin ‘amiq).
Talbiyah hakikatnya memenuhi panggilan Allah Swt. untuk datang menjadi tamu-Nya, melaksanakan ibadah haji. Panggilan ini wajib disahuti dengan biaya yang halal, jika tidak maka ia ibarat tamu yang tidak diundang. Bukan tamu yang mendapat jamuan ampunan, rahmat, pahala dan kemuliaan dari Allah Swt., tetapi celaan dan kehinaan dari Malaikat penjaga kota Makkah. Sebenarnya orang yang haji dengan harta syubhat atau haram mereka ditolak untuk datang ke kota suci, karena orang yang menggunakan harta haram tidak layak masuk ke tanah suci.
5. Wukuf
Wukuf adalah berhentinya jamaah haji di padang arafah. Ini mengisyaratkan bahwa pada hari kiamat nanti manusia akan “diwukuf”kan di padang mahsyar. Menurut riwayat padang arafah itu bagian dari padang mahsyar nanti.
Hamba harus mewukufkan (menghentikan) nafsunya dari syahwat duniawi, menahan keinginan diri untuk mendapatkan ridha ilahi.
6. Mabit
Mabit artinya bermalam. Bermalam di Muzdalifah dan Mina pada tanggal 10 sampai 12 Duzlhijjah, merupakan wajib haji.
Kegiatan ini mengisyaratkan bahwa manusia akan bermalam di dalam kubur dan tidak ada yang setia menemaninya, bukan anak atau keluarga akan tetapi amalan shalihah yang dikerjakan selama hidup di dunia.
7. Melontar Jumrah
Melontar jumrah adalah simbol perlawanan kepada iblis, sebagaimana dahulu Nabi Ismail as., Siti Hajar dan Nabi Ismail as. melemparnya karena ia ingin menanamkan keraguan atas perintah zat yang Maha Benar, yakni Allah Swt.
Orang yang haji harus melontarkan dari panca indranya segala perbuatan yang dilarang Allah Swt. dan membuang jauh-jauh keraguan atas keberan segala perintah-Nya.
Dari dunia sampai hari kiamat musuh muslim adalah iblis, ia wajib menangkal segala tipu muslihatnya dengan memohonan bantuan kepada Allah Swt.
8. Tawaf
Tawaf atau mengelilingi Ka’bah memberi isyarat akan kehidupan manusia, bahwa memulai tawaf dari hajarul aswad dan akan berakhir juga di hajarul aswad. Demikian juga hidup manusia, dia berasal dari pencipta dan pemilik hajarul aswad dan pasti akan kembali kepada-Nya.
Tawaf menggambarkan perputaran kehidupan manusia dari alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat. Dalam setiap alam yang dilewati manusia semua tidak lepas dari ilmu, iradah dan kuasa serta pengawasan Allah Swt.
9. Sai
Sai adalah simbol usaha manusia dalam mendapatkan keinginannya. Usaha untuk bahagia di dunia terlebih lagi nanti di akhirat, dengan harapan bahwa Allah Swt. akan memberikan bimbingan dan petunjuk sehingga berada di jalan yang lurus.
Orang yang menuju akhirat tidak boleh malas dalam beribadah, ia harus melangkah, lari-lari kecil bahkan berlari menuju bukit shafa (kebersihan) hati dan keikhlasan dalam beramal shaleh.
10. Tahallul
Tahallul adalah mencukur sebagian atau semua rambut di kepala. Ini sebagai pengingat bahwa kepala orang yang haji harus bersih dari pikiran buruk sangka, pendapat yang keliru serta bersih dari keraguan dalam mengamalkan syariat Islam.
Tahallul sebagai rangkaian akhir dalam pelaksanaan ibadah haji, sebagai bukti bahwa orang yang haji akan menundukkan kepalanya dan seluru anggota tubuhnya untuk menegakkan Islam dalam kehidupannya.

Jarwal Makkah Almukarramah, Ahad 17 Mei 2026 M/30 Dzulqa’dah 1447 H

Dr. H. Muhammad Tohir Ritonga, Lc. MA (Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia Sumut Kloter 15 KNO/Dekan FAI Univa Medan/Sekretaris MUI Sumut/Anggota Dewan Fatwa Alwashliyah/Alumni PP. Nurul Falah Tj. Marulak)

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,300SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles