muisumut.or.id., 6 Juni 2026., Salah seorang pemikir Islam kontemporer, Malik Bennabi yang lahir di kota Konstantin, Aljazair, (1905-1973 M) yang juga merupakan salah satu pemikir yang sangat menonjol di dunia Islam, bahkan dikatakan jika dikaitkan dengan konsep sejarah dan peradaban, ia dapat ditempatkan sebagai pemikir Muslim terpenting setelah Ibn Khaldun (1332-1406).
Dalam pandangn Malik Bennabi, sebuah peradaban bukan sekedar kemajuan ekomomi, politik, dan teknologi. Peradaban adalah produk unsur-unsur dinamik, integral, dan kongkrit. Di antara unsur-unsur yang paling krusial adalah moral atau agama. Kemunduran dalam skala nilai atau moral akan menghadapkan suatu masyarakat pada berbagai masalah dan bahkan probolem berskala luas.
Menurut Malik Bennabi ada tiga unsur penting sebuah peradaban, yaitu: insan (manusia), turab (tanah), dan waqt (waktu).

Dalam teorinya, Bennabi menempatkan manusia pada posisi sentral. Manusia adalah ‘alat utama masyarakat, jika ia bergerak, masyarakat dan sejarah juga bergerak; sebalinya jika ia berhenti, masyarakat dan sejarah juga berhenti’.
Tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam dalam hal ini adalah bagaimana melahirkan manusia manusia yang mampu memanfaatkan tanah, waktu, dan kreativitas mereka sendiri untuk mencapai apa yang menjadi tujuan mereka, tentunya tujuan besar dalam sejarah peradaban mereka.
Dalam rangka menyambut tahun baru 1448 H/2026 M., kita kelihatannya mesti kembali berfikir, merekonstruksi pemikiran kita, bagaimana cara efektif untk dapat melahirkan manusia manusia yang bisa memanfaatkan secara maksimal ketiga unsur yang beliau sebutkan di atas, sekaligus menguatkan nilai/agama dalam seluruh dimensi kehidupan umat dalam bergerak membangun peradaban besar.
Prof. Dr. HM. Jamil., MA.
Wakil Ketua Umum MUI Sumatera Utara





