Sunday, June 7, 2026
spot_img

Hijrah adalah Transformasi Total: Pengorbanan Jiwa, Raga, dan Harta Demi Meraih Ridha Allah SWT

muisumut.or.id, Medan, 7 Juni 2026 – Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Ardiansyah, Lc., M.A., menegaskan bahwa makna hijrah dalam Islam tidak dapat dipahami hanya sebatas perubahan penampilan atau perpindahan dari satu sistem ke sistem lainnya. Hijrah sejati merupakan proses transformasi total yang menuntut komitmen, perjuangan, serta pengorbanan nyata demi meraih keridaan Allah SWT.

Hal tersebut disampaikannya dalam pengajian yang diselenggarakan oleh Bidang Seni Budaya MUI Sumatera Utara bekerja sama dengan Majelis Dzikir Az-Zikra di Masjid Agung Medan, Ahad (7/6/2026).

Dalam ceramahnya, Prof. Ardiansyah menjelaskan bahwa pemahaman hijrah yang berkembang di tengah masyarakat sering kali terbatas pada perubahan-perubahan lahiriah, seperti mulai mengenakan jilbab, memelihara jenggot, atau beralih dari lembaga keuangan konvensional ke lembaga keuangan syariah. Padahal, menurutnya, hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat memiliki dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam.

“Hijrah bukan sekadar perubahan simbolik atau formalitas keagamaan. Hijrah adalah proses transformasi total yang menuntut pengerahan seluruh kemampuan manusia, baik jiwa, raga, maupun harta benda, demi mencapai keridaan Allah SWT,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa sejarah hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dipenuhi dengan kisah-kisah pengorbanan luar biasa yang dilakukan para sahabat. Mereka rela meninggalkan kampung halaman, keluarga, kedudukan sosial, bahkan seluruh harta benda demi mempertahankan akidah dan menegakkan agama Allah.

Prof. Ardiansyah mencontohkan keberanian Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang rela mempertaruhkan nyawanya dengan tidur di tempat Rasulullah SAW ketika rumah beliau dikepung oleh para pemuda Quraisy yang berencana membunuh Nabi Muhammad SAW. Dengan mengenakan selimut Rasulullah, Ali mengambil risiko besar demi keselamatan Sang Nabi.

Demikian pula dengan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq yang setia mendampingi Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah. Saat bersembunyi di Gua Tsur, Abu Bakar rela menahan rasa sakit akibat gigitan hewan berbisa demi memastikan Rasulullah dapat beristirahat dengan aman.

Selain itu, banyak sahabat lainnya yang harus meninggalkan seluruh kekayaan dan harta benda mereka di Makkah. Tidak sedikit pula yang terpaksa berpisah dengan pasangan hidup maupun anak-anak mereka demi dapat berhijrah dan bergabung bersama Rasulullah SAW di Madinah.

“Pengorbanan para sahabat bukan hanya pada aspek materi, tetapi juga menyangkut perasaan, keluarga, dan keselamatan jiwa. Semua itu mereka lakukan demi mempertahankan keimanan dan memperoleh keridaan Allah SWT,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Ardiansyah juga menyoroti peran besar kaum Anshar, penduduk Madinah, yang menunjukkan solidaritas dan ukhuwah Islamiyah yang luar biasa. Mereka menyambut kaum Muhajirin dengan penuh kasih sayang, membuka rumah-rumah mereka, berbagi makanan, serta membantu memenuhi kebutuhan saudara-saudara seiman yang datang dari Makkah tanpa membawa harta benda.

Menurutnya, semangat persaudaraan dan pengorbanan yang ditunjukkan kaum Muhajirin dan Anshar merupakan teladan yang sangat relevan untuk dihidupkan kembali pada masa kini.

“Kisah keteguhan, perjuangan, dan pengorbanan para sahabat dalam peristiwa hijrah hendaknya menjadi inspirasi dan motivasi besar bagi umat Islam abad ini untuk terus berjuang, berkorban, dan bekerja demi kejayaan Islam serta kemaslahatan umat,” katanya.

Pengajian yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB tersebut diawali dengan pelaksanaan Shalat Tasbih dan zikir bersama yang diikuti jamaah dengan penuh khidmat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Bidang Seni Budaya MUI Sumatera Utara, Hj. Wan Khairunnisah, Sekretaris Bidang Nani Ayum Panggabean, serta Nuraini Simangunsong. Hadir pula para pengurus dan jamaah Majelis Dzikir Az-Zikra yang selama ini aktif membina kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan itu, Pembina Majelis Dzikir Az-Zikra menyampaikan apresiasinya atas sinergi yang terjalin antara Majelis Dzikir Az-Zikra dengan Bidang Seni Budaya MUI Sumatera Utara.

“Kolaborasi Majelis Dzikir Az-Zikra dengan Bidang Seni Budaya MUI Sumatera Utara bukan hanya berlangsung pada tahun 2026 ini saja, tetapi akan terus berlanjut hingga akhir hayat,” ungkapnya.

Ia berharap semangat kebersamaan dalam dakwah, zikir, dan penguatan nilai-nilai keislaman tersebut dapat terus terjaga dan menjadi amal saleh yang bernilai pahala di sisi Allah SWT.

“Semangat berbuat kebaikan ini semoga menjadi pahala dan bekal bagi kita semua menuju kampung akhirat,” tutupnya.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,300SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles