Medan, muisumut,or.id, Jumat, 16 Oktober 2026 M / 4 Jumadil Awwal 1448 H
Tempat: Masjid-masjid se-Kota Medan dan se-Provinsi Sumatera Utara
Sumber pokok: Hadis No. 119 Riyadh ash-Shalihin (HR. Muslim no. 553 dari Abu Dzar) oleh Prof. Dr. Nawir Yuslem, MA
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma‘asyiral muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, di mana pun kita berada: di rumah, di jalan, di pasar, di kantor, di sawah dan ladang, maupun di masjid. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang kasih sayangnya kepada umat tidak pernah melupakan perkara sekecil apa pun.
Jamaah sekalian, kita berkumpul di rumah Allah ini bersama kaum muslimin di Kota Medan dan di seluruh penjuru Sumatera Utara — dari pesisir timur hingga pantai barat, dari dataran tinggi Karo, Toba, dan Tapanuli hingga Nias dan pulau-pulau di sekitarnya. Negeri kita kaya akan keragaman suku, bahasa, dan budaya, tetapi kita dipersatukan oleh iman dan oleh ruang hidup yang kita jalani bersama setiap hari: jalan kampung dan jalan kota, jalan lintas antardaerah, gang-gang sempit, pasar, sungai, dan halaman masjid.
Untuk kehidupan bersama itulah Rasulullah ﷺ mewariskan sebuah hadis pendek yang sangat dekat dengan keseharian kita. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ أَعْمَالُ أُمَّتِي حَسَنُهَا وَسَيِّئُهَا، فَوَجَدْتُ فِي مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الْأَذَى يُمَاطُ عَنِ الطَّرِيقِ، وَوَجَدْتُ فِي مَسَاوِئِ أَعْمَالِهَا النُّخَاعَةَ تَكُونُ فِي الْمَسْجِدِ لَا تُدْفَنُ
“Diperlihatkan kepadaku amal-amal umatku, yang baik maupun yang buruk. Maka aku dapati di antara amal-amal baiknya adalah gangguan yang disingkirkan dari jalan, dan aku dapati di antara amal-amal buruknya adalah dahak yang ada di masjid lalu tidak dipendam (dibersihkan).” (HR. Muslim no. 553)
Dari hadis yang singkat ini, izinkan khatib menyampaikan tiga pelajaran yang patut kita renungkan bersama.
Pelajaran pertama: tidak ada amal yang kecil di sisi Allah
Dari sekian banyak amal umatnya, yang disebut Nabi ﷺ justru sesuatu yang tampak remeh: menyingkirkan duri, batu, atau ranting dari jalan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa al-adza adalah segala sesuatu yang mengganggu orang yang lewat, dan menyingkirkan segala yang mengganggu termasuk amal yang baik. Bahkan Nabi ﷺ menyebutnya sebagai cabang iman dan sedekah, dan beliau mengabarkan seorang lelaki yang diampuni Allah hanya karena menyingkirkan dahan berduri dari jalan (HR. al-Bukhari dan Muslim). Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. az-Zalzalah: 7–8)
Jamaah yang dimuliakan Allah, “jalan” kita hari ini adalah jalan raya dan jalan lintas antarkota, gang di kampung, trotoar, parit dan saluran air, pasar tradisional, terminal, serta halaman masjid. Maka imathat al-adza bisa berupa menyingkirkan batu atau kayu dari badan jalan, menandai atau menutup lubang yang membahayakan pengendara, membersihkan parit yang tersumbat agar tidak menyebabkan banjir, tidak memarkir kendaraan atau berjualan hingga menutup jalan orang lain, serta memberi jalan kepada ambulans dan mobil pemadam kebakaran.
Lebih dari itu, gangguan tidak selalu berupa benda. Ugal-ugalan di jalan, kebisingan yang mengusik tetangga, kata-kata kasar, dan kabar bohong yang disebarkan di media sosial adalah “duri-duri” yang melukai hati sesama. Orang yang dengan sabar menunjukkan arah kepada yang tersesat, yang menolong pengendara yang kendaraannya mogok, yang menyapa tetangganya dengan senyum, dan yang menahan jarinya dari menyebarkan berita yang belum jelas — sesungguhnya ia sedang menyingkirkan gangguan dari jalan saudaranya. Amal ini mungkin tidak dilihat orang, tetapi insya Allah tercatat di sisi Allah.
Pelajaran kedua: keburukan bisa lahir dari pembiaran
Perhatikanlah redaksi hadis ini, jamaah sekalian. Kebaikan disebut dalam bentuk tindakan: menyingkirkan. Sedangkan keburukan disebut dalam bentuk pembiaran: dahak yang tidak dibersihkan. Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj menjelaskan bahwa celaan dalam hadis ini tidak hanya ditujukan kepada orang yang membuang dahak, tetapi juga kepada setiap orang yang melihatnya lalu membiarkannya.
Inilah pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat. Pembiaran kecil dapat berakibat besar. Sampah yang dibuang ke parit dan sungai lalu dibiarkan dapat menjadi sebab banjir yang merendam rumah-rumah kita. Lubang jalan yang dibiarkan dapat merenggut nyawa pengendara. Api dari pembakaran sampah dan lahan yang dibiarkan menyala dapat berubah menjadi kebakaran yang asapnya menyesakkan dada jutaan orang. Kesalahan dan penyimpangan yang didiamkan karena sungkan dapat tumbuh menjadi kerusakan yang lebih besar.
Maka budaya saling mengingatkan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sejatinya adalah pengamalan hadis ini.
Kalimat “itu bukan urusan saya” atau “nanti petugas lain yang membereskan” tidak dikenal dalam akhlak seorang muslim. Siapa yang melihat gangguan dan mampu menyingkirkannya, ia ikut memikul tanggung jawabnya.
Pelajaran ketiga: menjaga kebersihan masjid dan memuliakan para perawatnya
Nabi ﷺ secara khusus menyebut dahak di masjid. Beliau bersabda:
الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ، وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا
“Meludah di masjid adalah kesalahan, dan penebusnya adalah memendamnya (membersihkannya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Masjid adalah rumah Allah dan pusat kehidupan umat. Ia disinggahi warga sekitar, para musafir yang sedang dalam perjalanan, pedagang, pelajar, dan orang-orang yang datang membawa doa dan harapan. Di antara jamaah mungkin ada yang sedang batuk atau sakit, terlebih di tengah kabut asap seperti sekarang, ketika banyak orang mengalami gangguan pernapasan. Ilmu kesehatan mengajarkan bahwa dahak dan percikan batuk dapat menjadi perantara penularan penyakit seperti tuberkulosis. Maka adab yang diajarkan Nabi ﷺ menemukan maknanya yang sangat nyata: tidak membuang dahak sembarangan, menutup mulut ketika batuk, memakai masker bila sakit, membuang tisu bekas di tempat sampah tertutup, serta menjaga kebersihan tempat wudhu dan toilet masjid, yang sering menjadi tempat pertama yang disinggahi para musafir.
Rasulullah ﷺ pernah melihat dahak di dinding kiblat masjid, lalu beliau sendiri bangkit dan menggosoknya dengan tangan beliau (HR. al-Bukhari). Beliau juga pernah menanyakan seorang perempuan yang biasa membersihkan masjid. Ketika diberitahu bahwa ia telah wafat dan dimakamkan malam hari, beliau meminta ditunjukkan kuburnya lalu menshalatinya (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Lihatlah, jamaah sekalian: pemimpin tertinggi umat tidak segan membersihkan sendiri, dan beliau begitu memuliakan petugas kebersihan yang mungkin tidak dikenal orang. Maka di masjid-masjid dan di lingkungan kita, marilah kita memuliakan para marbot dan nazir masjid, petugas kebersihan dan penyapu jalan, pengangkut sampah, petugas pemadam kebakaran, dan para relawan. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari menyingkirkan gangguan dari jalan kita. Ucapan terima kasih, sapaan yang hangat, dan perhatian terhadap kesejahteraan mereka adalah bagian dari meneladani Nabi ﷺ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah, Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. al-Ahzab: 58)
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kehadirannya membawa keselamatan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Semoga ketika amal-amal kita diperlihatkan, kita termasuk dalam golongan mahasin al-a‘mal, bukan masawi’ al-a‘mal.
Pesan penting: kabut asap dan pembelajaran jarak jauh bagi anak-anak kita
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, hari-hari ini ada satu “gangguan” yang tidak tergeletak di jalan, melainkan memenuhi udara yang kita hirup: kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Utara. Asap ini adalah al-adza yang paling luas jangkauannya, karena ia masuk ke paru-paru setiap orang tanpa memilih: bayi, anak-anak, orang tua, dan orang yang sedang sakit.
Menindaklanjuti Instruksi Gubernur Sumatera Utara, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara melalui Surat Edaran Nomor 400.3/106/DISDIK/X/2026 tertanggal 15 Oktober 2026, yang ditujukan kepada dinas pendidikan kabupaten/kota se-Sumatera Utara, telah menetapkan bahwa mulai hari ini, 16 sampai dengan 21 Oktober 2026, seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB sederajat melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Di Kota Medan, ketentuan ini ditegaskan pula oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan melalui Surat Edaran Nomor 000/9789 pada tanggal yang sama, untuk sekolah negeri maupun swasta. Anak-anak kita belajar dari rumah masing-masing melalui platform digital atau media komunikasi yang ditentukan oleh sekolah. Kebijakan ini diambil untuk melindungi kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.
Banyak di antara jamaah adalah ayah dan ibu. Surat edaran tersebut secara khusus meminta orang tua dan wali murid untuk mengawasi dan memastikan anak-anak mengikuti PJJ, tetap berada di dalam rumah selama jam belajar, dan membatasi aktivitas di luar rumah. Maka janganlah PJJ ini dianggap sebagai hari libur, dan janganlah anak-anak dibiarkan bermain di luar di tengah udara yang tidak sehat. Sekali lagi, keburukan bisa lahir dari pembiaran. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Menjaga anak dari asap adalah bentuk nyata imathat al-adza pada hari ini. Syariat kita menegaskan sebuah kaidah agung yang bersumber dari sabda Nabi ﷺ:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Karena itu, mematuhi ketentuan ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan bagian dari hifzh an-nafs, menjaga jiwa, yang menjadi salah satu tujuan pokok syariat. Dan bagi siapa pun yang dengan sengaja membakar hutan dan lahan, hendaklah ia takut kepada Allah, sebab asap yang ditimbulkannya menyakiti jutaan orang yang tidak bersalah.
Kepada para guru di antara jamaah, surat edaran mengingatkan agar materi pelajaran tetap tersampaikan secara proporsional dan tidak memberatkan peserta didik; adapun ketentuan kehadiran pendidik dan tenaga kependidikan hendaknya mengikuti arahan dinas masing-masing. Kepada para tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit, kabut asap dapat menambah jumlah pasien dengan keluhan pernapasan, terutama anak-anak, lanjut usia, dan penderita asma atau penyakit paru; semoga Allah memberi kekuatan dalam melayani mereka. Dan bagi kita semua, jagalah diri dan keluarga: kenakan masker ketika berada di luar ruangan, kurangi aktivitas di luar, perbanyak minum air putih, dan segera periksakan diri bila mengalami sesak napas.
Pelaksanaan PJJ ini akan dievaluasi secara berkala dengan memperhatikan kualitas udara dan petunjuk pihak berwenang; informasi mengenai perpanjangan atau kembalinya pembelajaran tatap muka akan disampaikan kemudian. Maka ikutilah informasi resmi dari sekolah dan pemerintah, dan janganlah mudah mempercayai kabar yang belum jelas sumbernya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Sebagai penutup, marilah kita bawa pulang tiga hal sederhana dari khutbah ini.
Pertama, jangan meremehkan kebaikan kecil: singkirkan yang menghalangi, bersihkan yang tumpah, dan tunjukkan jalan kepada yang bingung.
Kedua, jangan membiarkan keburukan kecil: ingatkan, laporkan, dan perbaiki, karena satu pembiaran dapat berujung pada banjir, kecelakaan, atau kebakaran yang merugikan banyak orang.
Ketiga, jagalah kebersihan masjid kita dan muliakanlah orang-orang yang merawatnya. Semoga Allah menerima seluruh amal kita sebagai ibadah, mengangkat kabut asap dari negeri kita, dan memberikan kesembuhan kepada saudara-saudara kita yang sedang sakit.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا. اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ
Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan; tiada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan sakit. Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan seluruh kaum muslimin, khususnya saudara-saudara kami yang sedang dirawat dan yang terganggu kesehatannya akibat kabut asap.
Ya Allah, berilah kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan kepada para ulama dan umara, para pendidik dan peserta didik, para dokter dan tenaga kesehatan, serta seluruh pelayan masyarakat di Kota Medan dan di seluruh Sumatera Utara. Jadikanlah pengabdian mereka sebagai amal saleh yang memberatkan timbangan kebaikan. Lapangkanlah rezeki para petani, nelayan, pedagang, dan buruh, mudahkanlah urusan kami, dan cukupkanlah keperluan kami semua.
Ya Allah, jadikanlah negeri kami, Sumatera Utara dan Indonesia, negeri yang aman, sehat, dan diberkahi.
Ya Allah, angkatlah kabut asap dari negeri kami, padamkanlah api yang membakar hutan dan lahan kami, dan turunkanlah hujan yang membawa rahmat. Lindungilah anak-anak kami, para orang tua, orang-orang yang sakit, dan para lanjut usia dari bahaya udara yang tercemar, dan mudahkanlah anak-anak kami dalam menuntut ilmu dari rumah mereka.
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ





