muisumut.or.id., 25 Mei 2026, Ada empat pilar yang tidak boleh tidak mesti ada dalam membangun sebuah peradaban yang berkemajuan. Pertama, adalah iman atau tauhid yang esensinya adalah menghadirkan Allah dalam kehidupan setiap individu dalam seluruh aktifitas sehari-hari. Tauhid adalah prinsip paling dasar bagi pembangunan peradaban Islam. Tauhid memberikan identitas tersendiri dan sekaligus sebagai bagian dari peradaban itu sendiri. Dalam bertauhid dengan memurnikan iman seseorang, maka akan melahirkan pengertian-pengertian logis tentang prinsip ketuhanan sebagai implikasi tauhid. Pengertian logis prinsip ketuhanan, yaitu; pertama, Kesatuan Penciptaan (Unity of Creation), Kesatuan Kemanusiaan (Unity of Mankind), Kesatuan Pedoman Hidup (unity of guidance), dan Kesatuan tujuan hidup (unity of the purpose of life). Implementasi tauhid dalam pembangunan peradaban ditafsirkan sebagai jalan menuju pencerahan, pembebasan, dan kesemestaan. Peradaban Islam yang luar biasa.

Kedua adalah kerja kerja-kerja produktif dan terbaik. Perlu diperhatikan bahwa ada 360 kata tentang amal (kerja) dalam berbagai bentuk katanya dalam Alqur’an yang menggambarkan betapa Allah meletakkan konsep amal sedemikian penting, jika bukan maha penting, yang dalam Islam disebut amal shalih. Makanya kita lihat, Allah selalu menggandengkan pondasi tersebut (iman) dengan amal shaleh di dalam kitab Alquran.
Pilar ketiga, adalah ilmu pengetahuan dan teknologi . Untuk membangun kehidupan sosial-ekonomi, politik, hukum, budaya, selain harus didasari oleh Tauhid, maka diperlukan pengetahuan dalam bidang-bidang kehidupan. Menguasai teknologi. Ilmu pengetahuan dan Teknologi akan membawa kemajuan dalam semua bidang kehidupan.
Pilar keempat adalah akhlaq. Di tengah pluralitas budaya, tradisi, dan agama diperlukan apa yang disebut sebagai sebuah sikap etik bersama yang sepenuhnya bertumpu pada penegakan nilai-nilai universal kemanusiaan. Karena itu, dalam membangun masyarakat harmonis, dibutuhkan sikap unity in diversity (kesatuan dalam perbedaan), “sympathy” dan “emphaty” terhadap orang dan kelompok lain yang berbeda (empahty perpetuates the distinction between the object and subject; sikap empati dapat menembus perbedaan yang tajam antara subjek dan objek).
Kebangkitan Islam di abad ke 15 seyogiyanya kembali merenung, memahami, mengelaborasi, menindaklanjuti secara maksimal ke empat pilar tersebtu di atas, dan kita gaungkan kembali di awal tahun baru Hijriyah 1448 ini.
Prof. Dr. HM. Jamil, MA
Wakil Ketua Umum MUI Sumut





