Monday, March 23, 2026
spot_img

Anak yang Masih Tergadai Ingin Menjadi Ulama

Fahrul Azmi Siregar, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Tebing Tinggi.

 

Fahrul Azmi Siregar memiliki panggilan kecil yang bernama Ami dan sekarang orang-orang memanggil dengan panggilan Fahrul. Merupakan anak dari pasangan Almarhum Adlin Siregar dan Murniati. Lahir di kota lemang yaitu kota Tebing Tinggi pada tanggal 2 Januari 1999 yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara memiliki wajah yang muda seperti keturunan Arab pada umumnya. bukan hanya memiliki wajah yang tampan tapi juga memiliki beberapa prestasi di bidang quran seperti di bidang murottal sampai dengan hifdzil Quran.
Menjadi seorang profesor adalah impian sejak kecil dan menjadi seorang ustadz adalah keinginan seorang Ibu. Pesan ibu yang selalu diingat adalah betul-betulah dalam belajar, sesulit apapun keadaanmu jangan pernah meninggalkan shalat berjama’ah, jika nanti engkau menjadi orang yang sukses di kemudian hari jangan lupa untuk mengaqiqahkan dirimu karena sesungguhnya engkau masih tergadai, Ibu tak sanggup membeli satu ekor kambing sebagai rasa syukur atas kelahiranmu.
Keinginan menjadi orang yang sukses sangatlah besar memiliki pendidikan yang tinggi, sekaligus menjadi seorang ulama di tebing tinggi, sampai keluar Negeri, tujuannya hanya untuk mengangkat derajat keluarga, minimal dapat menghapuskan nama keluarga dari orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah.
Masa pendidikanku dimulai dari tingkat SD, MTS, MAN. Pada usia memasuki umur 22 tahun telah menyelesaikan hafalan 30 juz di salah satu Pesantren Ma’had Abu Ubaidah yang berada di kota Medan dengan jalur beasiswa, tanpa mengeluarkan uang apapun. Uang tidak menjadi penghalang terbesar bagi saya untuk meraih cita-cita. Kareana pepatah mengatakan dimana ada kemauan distu ada jalan. Setelah selesai menyelesaikan hafalan maka saya melanjutkan pendidikan S1 untuk menyempurnakan keilmuan di bidang Agama.
Masuk dan belajar ke Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Sumatera Utara menjadi tujuan yang tepat untuk mewujudkan cita-citaku sebagai seorang Ulama. Bagi calon mahsiswa yang dinyatakan lulus akan diberikan full beasiswa mulai dari asrama diberikan makan, fasilitas yang lengkap dan tenaga pengajar yang luar biasa yang memiliki besic keilmuan masing-masing, 85% terdiri dari profesor dan doktor, hanya 15% saja yang berstatus S2 itupun dari lulusan Timur Tengah.
Pendaftaran dibuka pada tanggal 6 juni 2021 dengan peserta dari berbagai Kabupaten di seluruh Sumatera Utara. Ujian terdiri dari kemampuan membaca kitab turast (kitab kuning atau arab), hafalan qur’an, ilmu wawasan keagamaan dan kebangsaan sampai dengan interview. Semua ujian dilalui sampai akhirnya lulus sebagai mahasiswa Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Sumatera Utara yang merupakan salah satu utusan yang mewakili kota Tebing Tinggi.
Masa muda telah habis di lingkungan pesantren, 2 tahun 6 bulan menghafal Alquran dan 3 tiga tahun untuk mempelajari ilmu Agama seperti ilmu shorof tafsir hadits dan fiqih di Pendidikan Tinggi Kader Ulama. Rasa sedih senang saya dapat menikmati itu semua dan itu bukan merupakan hal yang harus disesalin, karena kata imam asy-syafi’i.” jika masa mudamu tidak engkau habiskan untuk belajar menuntut Ilmu” maka bertakbirlah empat kali untuk dirimu (sebagai jenazah) untuk kematianmu. Saya terun menukuni Ilmu Agama sampai-sampai Orang-orang bertanya mengapa engkau terlalu berlebihan untuk mempelajari Ilmu Agama, maka saya memberikan jawaban “bukan aku yang berlebihan tentang Agama tapi engkaulah yang terlalu cinta dengan dunia.
Dalam masa pendidikan memang akan melahirkan rasa bosan dan lelah dalam proses belajar dan menghafal. Ada dua alarm yang menjadi motivasi untuk tetap semangat sampai sekarangi, pertama kutipan dari Buya Hamka “salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh orang yang pemalas yang mendahulukan istirahat sebelum lelah” dan alaram kedua yang dapat menumbuhkan semangat yang hilang ketika aku dalam belajar adalah orang tua, keringat orang tuaku menunggu keberhasilanku.
Pada akhirnya usaha itu tidak menghianati hasil di umur 23 tahun Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk belajar di tiga Negara di Asia tenggara yaitu Malaysia Singapura dan Thailand. Pelajaran terbesar yang didapat di Negara Malaysia adalah pendidikan anak-anak di Negara Malaysia sudah mengharuskan mereka untuk mengetahui dan menguasai bahasa Inggris sedangkan kita di Negara Indonesia jauh tertinggal, anak-anak Islam tidak menguasai bahasa asing sehingga beasiswa yang diberikan oleh pemerintah hanya bisa didapatkan oleh orang-orang non muslim yang mereka sudah menguasai bahasa Inggris seja kkecil, terutama orang-orang cina. Anak-anak non muslim mereka telah mampu belajar dan bersaing di luar Negri dengan beberapa beasiswa yang diberikan yang mereka dapatin, sedangkan anak-anak kita masih tertinggal dengan doktrinan, tak perlu untuk menguasai bahasa kafir.
Pada tanggal 21 Februari 2024 Allah memberikan kesempatan untuk belajar menambah wawasan kebangsaan ke Negara Singapura, Negara yang dijuluki kota 1001 larangan, Negara yang kecil tapi sudah menjadi negara yang maju memiliki peraturan dan sistem yang baik, tapi uniknya tidak ada bedanya dengan sistem ajaran Islam yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad saw, tapi sayangnya kita orang muslim meninggalkan ajaran itu sendiri, Guru saya seorang Profesor di Sumatera Utara Prof Hasan Bakti Nasution pernah berkata ternyata umat Islam mundur karena meninggalkan agamanya dan orang barat maju karena meninggalkan agamanya, yang pada akhirnya ini menjadi salah satu semangat baru untuk menjadi seorang Ulama yang memiliki wawasan yang luas bertujuan membangun peradaban, agar Negara Indonesia tidak tergadai oleh Negara-Negara asing terkhusus di kota yang dijuluki dengan kota lemang, kota kelahiranku yaitu kota Tebing Tinggi.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,300SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles