Medan, muisumut.or.id., 17 Januari 2026 — Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga MUI Sumatera Utara menggelar pengajian rutin bagi ibu-ibu, Sabtu (17/1/2026). Pengajian menghadirkan Prof. Dr. H. Muzakkir, MA sebagai penceramah dengan tema “Salat sebagai Mi’raj Menuju Allah SWT.”
Dalam ceramahnya, Prof. Muzakkir menjelaskan bahwa hakikat salat tidak hanya berupa rangkaian gerakan jasmani, tetapi merupakan perjalanan spiritual seorang hamba menuju Allah SWT. Karena itu, pelaksanaan salat semestinya melibatkan seluruh dimensi diri, baik jasmani, jiwa (nafsani), maupun ruh (ruhani).
Menurutnya, ketika salat dilakukan dengan kesadaran yang utuh, hati turut merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Salat dapat menghadirkan rasa rindu kepada Allah, rasa takut untuk melakukan kesalahan, serta rasa malu ketika hendak berbuat kebatilan.
Ia menekankan bahwa umat Nabi Muhammad SAW merupakan umat yang senantiasa menjaga salat. Ruku dan sujud tidak hanya menjadi rangkaian gerakan ibadah, tetapi juga menjadi bentuk penghambaan dalam mencari karunia dan mengharapkan rida Allah SWT.
Dalam kehidupan seorang Muslim, salat semestinya tidak dipandang hanya sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga sebagai kebutuhan spiritual. Salat yang dijaga dengan baik dapat menjadi sumber ketenangan, kerinduan, dan kebahagiaan bagi jiwa.
Prof. Muzakkir menggambarkan salat sebagai bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim, sebagaimana kebutuhan terhadap napas. Konsistensi dalam menjalankan salat dapat menjadi kekuatan spiritual dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan kehidupan.
Selain itu, salat memiliki dimensi pembinaan akhlak. Penghayatan terhadap ibadah diharapkan mampu membangun daya tahan dan daya juang seseorang sekaligus mendorongnya menjauhi berbagai perbuatan keji dan mungkar.
Melalui pengajian rutin tersebut, Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga MUI Sumut terus mendorong penguatan pemahaman keagamaan bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan. Kajian tentang salat diharapkan tidak berhenti pada aspek tata cara pelaksanaannya, tetapi juga mendorong penghayatan terhadap makna dan tujuan spiritual ibadah dalam kehidupan sehari-hari.





