muisumut.or.id., 20 April , 2026, Angka dapat membuat kita kagum, misalnya tim olah raga yang kita favoritkan menang dengan skore sangat baik, namun sebaliknya dapat membuat kita harus waspada, contoh, karena hasil Medical Check Up asam urat kita melebihi ambang batas. Lantas ada apa dengan angka?.
Kini ekonomi global sedang lesu karena kondisi geopolitik yang sangat tidak menentu, ter-fragmentasi, dan penuh konflik. Eskalasi ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan ekonomi dunia, menyebabkan lonjakan harga energi, inflasi yang persisten (kondisi di mana laju kenaikan harga cenderung bertahan lama atau sangat lambat untuk kembali ke tingkat normal setelah terjadi gangguan ekonomi) memaksa kita harus survive serta adanya disrupsi (gangguan/kekacauan) rantai pasok global. Kelesuan ekonomi yang dirasakan saat ini merupakan “babak lanjutan” atau dampak jangka panjang dari pandemi wabah Novel Corona Virus/Covid-19. Tentu semua hal ini terkait dengan angka.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 282 dan ayat 283 memberikan panduan yang sangat jelas mengenai pentingnya pencatatan dalam transaksi mu’amalah, terutama hutang-piutang atau transaksi tidak tunai. Dan Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 11, 12, dan 176 secara eksplisit jelas mengatur pembagian warisan (faraid). Transparansi dan akuntabilitas mutlak diperlukan agar para publik dapat mempercayai, memahami kondisi, berpartisipasi aktif, serta menilai objektivitas dan efektivitas pengelolaan dana atau menilai kinerja maupun kebijakan publik berdasarkan laporan keuangan suatu perkumpulan atau apapun bentuk dan namanya, selanjutnya disebut Perkumpulan. Semua ini terkait tentu terkait dengan angka. Batasan, tulisan berikut ini tidak membahas fiqih mu’amalah, faraidh dan atau akutansi laporan keuangan, berikut penjelasan judul diatas.
“ANGKA BERMAKNA CERITA” dan “NILAI BERMAKNA PERILAKU” adalah landasan penerapan Good Governance (tata kelola) dan Good Management (tata laksana) dalam sebuah perkumpulan. Keduanya mengubah data mentah dan prinsip teoritis menjadi budaya kerja nyata yang berdampak. Simak berikut penjabaran konsep tersebut:
ANGKA BERMAKNA CERITA (DATA DRIVEN NARRATIVE)
Angka dalam tata kelola bukan sekadar catatan akuntansi, melainkan indikator kinerja utama (Key Performance Indicator, KPI) yang menceritakan kondisi kesehatan Perkumpulan, kepatuhan, dan keberlanjutan.
Laporan Keuangan yang Transparan
Angka saldo kas bukan sekadar jumlah uang, melainkan bercerita tentang disiplin anggaran, efisiensi operasional, atau tanda adanya risiko keuangan. Untuk ini pilihah insan yang berkatakter:
Memiliki integritas, sifat dan perilaku, yang baik dalam kehidupan sehari-hari berkarekter AMIIN READ (AManah, Ikhlas, INtegritas, REsponsif & ADaptif);
Mempunyai wawasan luas, pengetahuan serta pergaulan yang baik, pola fikir (mind set) SoKo (Solutif dan Kolaboratif);
HATI, Harmonis, Aktif, Tertib, Inovatif
Kompetensi ASK ERA (Attitude, Skill, Knowledge, Experience, Responsibility & Accountability) serta
Tingkat Partisipasi Anggota
Persentase kehadiran dalam Rapat Perkumpulan mencerminkan tingkat keterikatan (engagement) dan kepercayaan insan fungsionaris terhadap kepengurusan. Relasi antara tingkat partisipasi insan perkumpulan dan angka bermakna cerita, adalah hubungan sebab-akibat yang erat. Partisipasi insan fungsionaris secara langsung memengaruhi indikator-indikator keberhasilan yang dapat diukur (angka bermakna), yang pada akhirnya menceritakan kinerja Perkumpulan tersebut.
Rasio Kepatuhan (Compliance)
Angka pemenuhan SOP, misal: 96% SOP terdokumentasi, menceritakan seberapa serius Perkumpulan menerapkan tata kelola yang baik Good Corporate Governance, GCG dan memitigasi risiko. Relasi antara Rasio Kepatuhan dengan Angka Bermakna Cerita adalah metode untuk mengubah metrik kepatuhan kuantitatif menjadi narasi yang menjelaskan kinerja, budaya, dan efisiensi Perkumpulan. Rasio ini memberikan konteks cerita di balik angka.
Indikator Dampak
Angka jumlah program yang terlaksana menceritakan keberhasilan Perkumpulan mencapai tujuannya. Sebaik apapun sistim dan prosedur yang dibuat, namun semua tergantung pada the man behind the gun dan good will. Relasi antara Indikator Dampak dan Angka Bermakna Cerita adalah hubungan simbiosis di mana data kuantitatif diubah menjadi narasi yang kontekstual, menarik, dan mudah dipahami untuk menunjukkan perubahan nyata.
Jadi, Angka adalah bukti yang mengubah asumsi menjadi fakta strategis, membantu insan fungsionaris mengambil keputusan berdasarkan data, bukan intuisi (speak by fact not by fell).
NILAI BERMAKNA PERILAKU (VALUES BASED BEHAVIOR)
Nilai-nilai (core values) Perkumpulan tidak memiliki arti jika hanya menjadi pajangan. Nilai harus diturunkan menjadi kode etik dan pedoman perilaku nyata sehari-hari dalam tata laksana Perkumpulan
Integritas
Nilai ini diterjemahkan menjadi perilaku jujur dalam pengelolaan keuangan, tidak gratifikasi, dan transparan dalam pengadaan barang/jasa. Relasi antara integritas dengan nilai bermakna perilaku adalah keselarasan utuh antara apa yang diyakini (nilai/prinsip moral) dengan tindakan nyata (perilaku) dalam kehidupan sehari-hari. Integritas berperan sebagai fondasi yang mengubah nilai-nilai luhur menjadi perilaku konsisten, jujur, dan bertanggung jawab, bahkan dalam situasi sulit.
Perilaku
Selalu berlaku jujur dan membiasakan diri dengan data yang valid serta memberi informasi yang dapat dipercaya, ini adalah nilai moral. Mari kita “Membiasakan yang Benar bukan Membenarkan yang Biasa”. “Kebiasaan itu belum tentu Benar tetapi Kebenaran itu harus dibiasakan”. Relasi antara Perilaku/Kebiasaan dan Nilai Bermakna Perilaku adalah hubungan struktural yang mendalam, di mana perilaku berulang (kebiasaan) bukan sekadar tindakan otomatis, melainkan ekspresi dari nilai-nilai inti yang dianut seseorang. Kebiasaan yang berlandaskan nilai (misalnya: kejujuran, disiplin, kesehatan) akan lebih mudah dipertahankan dibandingkan kebiasaan yang didasarkan pada motivasi eksternal atau paksaan.
Akuntabilitas
Nilai ini diwujudkan melalui perilaku insan fungsionaris yang siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan dan tindakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Relasi antara akuntabilitas dan nilai bermakna perilaku adalah hubungan sebab-akibat yang mendalam, di mana akuntabilitas bertindak sebagai kerangka kerja dasar (framework) yang membentuk perilaku individu atau perkumpulan agar sesuai dengan standar moral, etika, dan hasil yang diharapkan.
Kewajaran/Keadilan (Fairness)
Nilai ini melahirkan perilaku perlakuan yang sama kepada seluruh insan fungsionaris, kesetaraan hak, dan transparansi informasi. Relasi antara kewajaran/keadilan dengan nilai bermakna perilaku adalah hubungan dasar moral dan fondasi perilaku insan fungsionaris yang seimbang, manusiawi, dan etis dalam interaksi perkumpulan. Keadilan bertindak sebagai tolok ukur (standar) yang membentuk perilaku agar bernilai positif dan berdampak baik (makna) bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kolaborasi/Kerjasama:
Diterjemahkan menjadi budaya berbagi pengetahuan baik pengetahuan implisit (tacit knowledge) maupun pengetahuan eksplisit (explicit knowledge) dan komunikasi terbuka antar insan fungsionaris dan stakeholder terkait. Contoh Prolog, Jika Ketua bertanya apakah program pembelajaran sudah dijalankan? Tentu dijawab sudah, apa yang dilakukan? Jawabannya, kami sudah melakukan pelatihan bagai mana melakukan bla .. bla dan pengendalian bla .. bla. Apa lagi?, kami juga melakukan sosialisasi bla .. bla. Yang lain? Sosialisai aturan dan peraturan. Dari jawaban-jawaban tersebut kesimpulannya adalah mengajar materi teknis operasional, ini merupakan mandatory, dilakukan kepada teman ataupun yunior, ini perlu dan penting dijaga kesinambungannya. Namun yang tak kalah pentingnya adalah kita sebagai pemangku jabatan harus dapat mendorong maju sisi lain yakni kemampuan manajerial (non teknis). Yang dimaksud kemampuan manajerial ini adalah kemampuan mengeksekusi program kerja, kemampuan memimpin kelompok, kemampuan berkomunikasi yang baik dan lain-lain yang pada penerapannya akan saling mendukung dengan kemampuan teknik. Kita diskusi soal apa saja yang dikerjakan, bagaimana mengatasi kendala kerja saat ini dan lain-lain. Model mengajar seperti inilah yang maksudkan sebagai mengajar membangun kemampuan dalam keseimbangan teknis dan manajerial. Dalam konteks menghadapi tantangan ke depan, kita para pemangku jabatan harus mempunyai keseimbangan kemampuan dan siap menjadi pemimpin. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat menciptakan sebanyak mungkin pemimpin baru.
Jadi, Nilai membentuk budaya Perkumpulan. Jika nilai dihayati, perilaku insan fungsionaris akan konsisten, etis, dan mendukung tujuan bersama, menciptakan lingkungan yang kondusif.
BUDAYA BERMAKNA PERILAKU
Budaya Perkumpulan adalah sistem nilai, kepercayaan, dan norma bersama yang mengarahkan perilaku insan fungsionarisnya dalam bertindak dan berinteraksi. Ia berfungsi sebagai pedoman operasional yang membentuk bagaimana insan fungsionaris bekerja, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Budaya yang kuat memotivasi, meningkatkan kinerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Budaya Perkumpulan didasarkan pada dua filosofi dasar dan ini diwujudkan dalam delapan dimensi perilaku.
DUA FILOSOFI
Kalimat berikut merupakan kutipan dari bahasa Jepang
Operasi tanpa pengalaman adalah hampa dan operasi tanpa teori adalah buta
経験なき操業は空虚であり、理論なき操業は盲目である。
Keiken naki sōgyō wa kūkyo de ari, riron naki sōgyō wa mōmoku de aru.
Operasi harus bernilai 100, nilai 99 sama dengan nol
操業は100点満点でなければならない。99点は0点と同じだ。
Sōgyō wa hyakuten manten de nakereba naranai. Kyūjūkyū-ten wa zeroten to onaji da.
Kalimat ini sering dikutip dalam konteks manajemen mutu, di mana 99% dianggap sama saja dengan 0% karena tidak mencapai kesempurnaan 100%. Kedua filosofi ini merupakan filosofi kerja dan manajemen kualitas atau prinsip Kaizen yang menekankan pada kesempurnaan.
DELAPAN DIMENSI PERILAKU
Integritas
Berpikir benar, jujur, dapat dipercaya dan profesional.
Sikap melayani
Berupaya memenuhi komitmen dengan kualitas pelayanan yang terbaik kepada stakeholder.
Komunikasi
Melakukan komunikasi yang terbuka, efektif dan bertanggung jawab serta sesuai etika.
Kerjasama
Melakukan kerjasama yang harmonis dan efektif untuk mencapai tujuan bersama dengan mengutamakan kepentingan Perkumpulan.
Tanggung jawab
Bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas dan kewajiban hingga tuntas, tepat waktu untuk mencapai hasil terbaik bagi Perkumpulan.
Peduli biaya dan kualitas
Melaksanakan kegiatan dengan mengutamakan efektifitas biaya untuk mencapai kualitas yang terbaik.
Adaptif
Menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahaan, menyumbangkan gagasan dan menjadi agen perubahan.
Keseimbangan tugas dan sosial
Menyeimbangkan usaha mencapai hasil kerja yang maksimal dengan terciptanya suasana kerja sama.
HUBUNGAN DALAM TATA KELOLA PERKUMPULAN
Dalam konteks perkumpulan, kedua hal ini saling melengkapi:
Angka memantau apa yang terjadi (kinerja/hasil).
Nilai mengarahkan bagaimana hal itu terjadi (proses/perilaku).
Penerapan kombinasi keduanya akan menghasilkan tata kelola yang sehat, profesional, dan berkelanjutan (Continue, Continual).
KESIMPULAN
Andaikan kita mumpuni dalam teori, tetapi saat dihadapkan dengan praktek tentu kita tidak ingin gagal.
Ilmu tanpa teori adalah buta, dan pengetahuan tanpa pengalaman adalah hampa. Kutipan Filsuf Immanuel Kant yang menekankan keseimbangan antara teori dan praktik. Dalam bahasa Jepang, ungkapan ini diterjemahkan sebagai
“Riron naki gakumon wa moumoku de ari, keiken naki chishiki wa kūkyo de aru.”
(理論なき学問は盲目であり、経験なき知識は空虚である。
Jika kita ingin dinasehati, begitu dinasehati kita tidak perlu memberi argumen.
Bila kita merasa rendah dan saat direndahkan kita tidak harus reaktif.
Bukan masalah “Bisa atau Tidak Bisa”, yg penting adalah ”Mau atau Tidak Mau Melakukan” Dalam bahasa Jepang: Dekiru ka Dekinai ka de wa naku. Yaru ka Yaranai ka.
できるかできないかではなく、やるかやらないか。
H. Kawai, mantan ekspatriat di PLTA Asahan-II
Ungkapan bijak berikut dapat menjadi pendorong agar kita dapat memberi kontribusi terbaik baik bagi Perkumpulan maupun Masyarakat. Man Jadda Wa Jada, Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Where there is a will there is a way. Man Shabara Zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Kombinasi sungguh-sungguh dan sabar adalah keberhasilan. Kombinasi Man Jadda Wa Jada dan Man Shabara Zhafira adalah kesuksesan
Wallâhu a’lamu bish-shawâb. Jika dalam tulisan ini ada yang benar, itu semata karena karunia Allah. Dan jika ada kekeliruan, itu karena kekurangan penulis.
Semoga bermanfa’at
Sekian dan Syukran.
Oleh: Sudirman Chan.
Jum’at, 17 April 2026
29 Syawal 1447H
Anggota Komisi Keuangan MUI Sumut
Masa Khidmat 2025~2030





