Medan, muisumut.or.id – Rabu, 22 April 2026 – Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Prof. Dr. Arifinsyah, M.Ag, menegaskan pentingnya peran perempuan dalam membentuk generasi berkualitas di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi saat ini.
Hal tersebut disampaikannya dalam rangka refleksi Hari Ibu, yang menurutnya menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran perempuan, khususnya sebagai ibu, dalam membangun fondasi keluarga dan masyarakat yang kokoh.
Menurut Prof. Arifinsyah, kemajuan teknologi di satu sisi memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia, namun di sisi lain juga membawa tantangan serius yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan keluarga dan masyarakat apabila tidak disikapi dengan bijak.
“Karena itu, penting untuk melahirkan perempuan cerdas, agar mampu menciptakan generasi yang berkualitas di masa depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kecerdasan perempuan tidak hanya diukur dari aspek intelektual, tetapi juga harus mencakup kecerdasan spiritual dan emosional. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter generasi yang unggul.
Pertama, kecerdasan spiritual. Perempuan yang memiliki kecerdasan spiritual akan menjadi teladan (uswah hasanah) dalam kehidupan, baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun dengan sesama manusia (hablum minannas). Sosok ibu dengan kecerdasan spiritual dinilai mampu menanamkan nilai-nilai akhlak mulia kepada anak-anaknya serta membentengi keluarga dari pengaruh negatif informasi dan teknologi.
Kedua, kecerdasan emosional. Perempuan, khususnya sebagai ibu, dituntut mampu mengendalikan emosi dan amarah. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai ketakwaan, di antaranya kemampuan menahan amarah (kazhiminal ghaizh). Menurutnya, ketidakmampuan mengelola emosi dapat berdampak pada lahirnya generasi yang keras dan kurang memiliki empati sosial.
“Sebaliknya, ibu yang cerdas secara emosional akan melahirkan generasi yang santun, bijak, dan mampu menghargai perbedaan,” jelasnya.
Ketiga, kecerdasan intelektual. Prof. Arifinsyah menekankan bahwa perempuan juga harus memiliki wawasan keilmuan yang luas, baik dalam aspek keislaman maupun kebangsaan. Dengan demikian, seorang ibu dapat menjadi motivator, pendidik, sekaligus teladan bagi anak-anaknya dalam menempuh pendidikan dan kehidupan.
“Perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang tidak hanya kuat secara iman, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa generasi berkualitas tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang dalam lingkungan keluarga yang sehat dan berpendidikan. Oleh karena itu, keluarga menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi Qur’ani yang mampu menghadapi tantangan zaman.
Dalam paparannya, Prof. Arifinsyah juga menyoroti lima ancaman besar yang dihadapi umat saat ini, yakni hedonisme, individualisme, materialisme, fanatisme, dan pragmatisme. Kelima hal tersebut dinilai dapat merusak karakter generasi jika tidak diantisipasi dengan baik melalui pendidikan keluarga.
“Jika tidak dibekali dengan keimanan dan keilmuan, generasi akan kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah di tengah derasnya arus informasi digital,” tegasnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa penguatan peran perempuan sebagai ibu yang cerdas menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang unggul, berakhlak, serta mampu menjaga nilai-nilai keislaman di tengah tantangan global.
Dengan demikian, perempuan cerdas tidak hanya menjadi pilar keluarga, tetapi juga penentu arah masa depan peradaban umat.





