Monday, June 1, 2026
spot_img

HIJRAH: Membangun dan Memajukan Peradaban Islam dengan Kolaborasi

muisumut.or.id.,  1 Juni 2026, Hijrah secara etimologi berarti meninggalkan sesuatu karena ketidaksukaan kepada sesuatu itu, perhatikan surah Almuddatsstir ayat 5 yang memerintahkan agar setiap orang berhijrah (fahjur) dari berhala berhala, tentunya meninggalkan berhala dengan rasa kebencian kepada berhala tersebut. Perhatikan juga hadits Rasulullah saw yang melarang orang untuk meninggalkan/tidak berteguran dengan saudaranya [karena rasa ketidak sukaan] (an yahjura akhahu) saudaranya melebihi tiga hari. (HR. Abu Daud).

Secara terminologi/syar’i, hijrah berarti pindah dari sesuatu yang tidak baik kepada sesuatu yang baik, atau dari sesuatu yang baik kepada sesuatu yang lebih baik. Perhatikan hadis Rasulullah saw; “Seorang muhajir/orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari, Muslim).
Jadi Hijrah bukan saja perpindahan tempat tetapi juga transformasi prilaku setiap orang, yang tidak baik atau kurang baik kepada yang baik, atau dari yang baik kepada sesuatu yang lebih baik.

Ketika Rasulullah saw berhijrah, meninggalkan masyarakat Makkah dengan rasa ketidak sukaan kepada prilaku mereka menyembah berhala, kejahatan sosial dan politik, tetapi beliau saw meninggalkan mereka dengan cara yang baik (Almuzzammil ayat 10), kemudian membangun peradaban Islam.
Dalam membangun dan memajukan peradaban, baginda mengatur strategi dengan kolaborasi yang apik. Kolaborasi yang tidak saja pada dimensi usia dan gender (ada yang tua seperti Abu Bakar dan ada yang muda seperti Ali, ada lelaki dan ada wanita seperti Asma binti Abi Bakr), tetapi juga dimensi keahlian atau kapasitas.

Abu Bakr termasuk hartawan dan dermawan yang menyumbangkan dua ekor unta yang salah satunya untuk tunggangan Nabi dalam peejalanan hijrah tersebut. Kemudian ada Abdullah bin Abi Bakr dengan keahlian dan ditugaskan untuk menghimpun informasi percakapan masyarakat Makkah seputar keberangkatan Nabi dan Abu Bakr yang kemudian informasi yang dikumpulkan itu dilaporkan kepada Nabi saw di tempat persembunyiannya bersama Abu Bakr untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk mengambil langkah dan keputusan selanjutnya.
Kemudian ada Abdullah bin Fuhairah yang keahliannya sebagai pengembala kambing yang ditugasi untuk mengaburkan jejak Rasulullah dan Abu Bakr dengan jejak binatang/kambing gembalaanya, sehingga musuh sulit mendeteksi ke mana arah Rasulullah saw.
Selanjutnya ada Amar bin Uraiqiz seorang non muslim yang memiliki keahlian teritorial yang ditugasi memandu perjalanan hijrah melalui jalur yang tidak biasa, sehingga perjalanan hijrah bisa lebih aman.
Ada Asma binti Abu Bakr yang bertugas menyuplai makanan ke tempat persembunyian, semacam logistik dalam sebuah perjuangan.
Terakhir, ada Ali bin Abi Thalib sang anak muda yang siap menenerima resiko kematian ketika berbaring ditempat berbaringnya Raaulullah saw.

Dari sini jelas terlihat bahwa dalam membangun dan memajukan sebuah peradanan Islam, Rasulullah saw menunjukkan kepada kita agar dilakukan dengan perencanaan yang teliti dan matang, dengan kolaborasi yang memadukan berbagai unsur yang dieperlukan, tentu tidak bisa sendirian, apalagi one man show.
Peradaban Islam perlu dibangun dan dimajukan dengan merekrut dan melibatkan semua dimensi keahlian dan kekuatan. Di abad ini, kolaborasi untuk kemajuan ini perlu kembali digaungkan, khususnya dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1448 H ini.

Oleh: Prof. Dr. HM. Jamil., MA (Waketum MUI SU)

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,300SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles