muisumut.or.id., Ka’bah adalah pusat peradaban dunia. Tidak hanya yang paling tua sejak dunia ini hadir tetapi Ka’bah juga akan menjadi pusat peradaban sampai dunia ini berakhir.
Sebagai sebuah peradaban, Ka’bah tidak pernah sepi dikelilingi dan dihadapi oleh jutaan bahkan milyaran manusia setiap saat, baik langsung maupun tidak langsung. Peradaban Ka’bah dapat dilihat dari sisi sejarah dimana Ka’bah adalah tempat pertama manusia beribadah menyembah tuhan. Selain itu, bahwa ka’bah tidak pernah sepi dari manusia yang mengelilinginya sambil membaca ritual-ritual dan bacaan tertentu. Lalu mengapa Ka’bah menjadi pusat peradaban manusia?
Paling tidak ada tiga (3) hal yang menjadikan Ka’bah menjadi pusat peradaban dunia:

Pertama, Ka’bah adalah simbol kekuatan rohaniah (quwwah al- rohaniah). Ka’bah sebagai pusat kekuatan rohani telah ada sejak pertama kali bumi ini ada bahkan telah ada dua (2) ribu tahun sebelumnya (Al Azraqi)
Al-Azraqi dalam kitab Akhbar Makkah sebagaimana dikutip oleh Abdul Basit bin Abdurrahman menyebutkan bahwa Ka’bah adalah tempat ibadah pertama yang dibangun dimana malaikat sebagai makhluk yang thawaf. Dalam sejarah disebutkan bahwa makhluk beribadah dengan cara bertawaf telah dilakukan oleh para malaikat. Ritual ini adalah bentuk penyesalan malaikat atas ‘rasa bersalah’ kepada Allah SWT. karena memprotes rencana penciptaan manusia sebagai khalifah di permukaan bumi. Malaikat menanyakan kepada Allah apakah khalifah yang akan dijadikan melakukan pengrusakan di bumi dan melakukan pertumpahan darah? (QS. Al Baqarah: 30). Atas penyesalan itulah malaikat melakukan thawaf di ‘Arsy ‘azhim.
Lalu, Allah menciptakan tempat thawaf di Baitul Ma’mur dan menyuruh malaikat untuk berkeliling atau bertawaf disana. Sejarah berlanjut dengan kesalahan yang dilakukan oleh Nabi Adam AS atas pelanggaran untuk dekat dan memakan buah khuldi (QS.Al Baqarah: 134). Sejak saat itu malaikat pun berhenti thawaf di Baitul Makmur. Adam bertanya kepada Allah, mengapa tidak terdengar lagi suara dzikir dan tasbih di Baitul Makmur? Allah menjawab, itu terjadi karena engkau melakukan pelanggaran. Sebagai media untuk menyesal dan bertaubat kepada Allah, maka Allah menyuruh malaikat membangun Ka’bah di mekkah al-mukarramah.
Hal ini terkonfirmasi dalam Al Quran yang menyebutkan: sesungguhnya rumah ibadah yang pertama dibangun untuk manusia adalah di Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam (QS. Ali Imran: 96). Sampai disini bahwa Ka”bah adalah pusat dari kekuatan rohaniah makhluk yang menyesali dirinya atas perbuatan dosa dan ingin menjadi makhluk yang bersih dan mempunyai kekuatan roh dari Allah SWT.
Kekuatan ruhaniah yang terpenting adalah mental kembali kepada hakikat manusia itu sendiri. Bahwa ritual haji yang dilakukan oleh umat Islam pada hakekatnya adalah kembali ke kampung halaman tempat dimana manusia bertasbih mensucikan Allah dari dosa-dosa yang pernah dilakukan. Betapa ritual haji adalah simbolisasi dan simulasi dari pulang kampungnya manusia untuk bertaubat kepada Allah SWT. Bukankah kain ihram adalah bentuk dari kain kafan yang akan menyelimuti manusia yang telah meninggal dunia? Bukankah hakikat miqat adalah batas antara kehidupan dan kematian manusia? Demikian pula berwukuf dengan pakaian yang sama, putih bersih menutupi badan layaknya seperti kain kafan yang merupakan simulasi dari perjalanan panjang manusia nantinya di Padang Mahsyar?
Lalu, apakah mengingat mati sebuah energi? Bukan sebaliknya, membuat manusia merasa lemah dan tak bersemangat. Mengingat kematian harusnya menjadi energi besar yang tak tertandingi. Bukankah orang yang berjihad fi sabilillah sedang bercita-cita dan menanti kematian, sehingga menghasilkan semangat yang tiada tara. Sampai di sini, memulangkan fitrah manusia ke kampung halamannya (mengingat hakikat hidupnya) merupakan energi yang besar untuk membuat sebuah peradaban.
Oleh karena itulah, para ahli Sufi mengatakan bahwa berthawaf di Ka’bah berarti sedang pulang ke lembaga Adam sebagai manusia pertama.
Maka salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah ketika melihat Ka’bah adalah mengambil energi kemuliaan dan keagungan Ka’bah itu sendiri. Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan keagungan, kehormatan dan wibawa pada bait (Ka’bah). Dan tambahkanlah pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan dan menghormatinya di antara orang-orang yang berhaji atau yang berumrah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan (HR.Al Azraqi).
Kedua, kekuatan ilmu pengetahuan (quwwah al- ilmiyah). Membangun peradaban harus berdasarkan kekuatan ilmu pengetahuan. Peradaban Ka’bah adalah peradaban ilmu. Nabi Muhammad yang lahir dan diangkat menjadi Rasul di Mekkah hakikatnya adalah ilmu yang menerangi manusia ke jalan yang lurus. Al-Quran yang turun pertama kali di Mekkah adalah kitab ilmu yang menjadi petunjuk (hudan) dan penerangan (munir) bagi umat Islam dan manusia secara keseluruhan.
Hal ini berkali kali disebutkan Allah dalam Al-Quran. “Kitab Alquran adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Baqarah: 2). Alquran diturunkan pada bulan Ramadan sebagai petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 185). Secara khusus, Nabi Ibrahim AS. setelah membangun fondasi Ka’bah bersama Ismail AS, mohon kepada Allah agar agar kiranya Allah mengutus rasul yang membacakan ayat-ayat Alquran al-Karim sebagai petunjuk dan hikmah bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 129).
Oleh karena itu, Ka’bah tidak hanya sebagai pusat ibadah namun juga pusat ilmu pengetahuan. Karenanya, pada masa lalu, tradisi orang yang melaksanakan ibadah haji bukan hanya melakukan ritualitas ibadah mahdhah seperti salat zikir istighfar tawafnya tetapi juga menimba ilmu pengetahuan sebagai syarat terbinanya sebuah peradaban.
Ulama ulama terdahulu tidak langsung pulang saat musim haji telah usai, namun dilanjutkan dengan belajar ilmu agama di Masjidil Haram dan sekitarnya. Ibadah haji tidak hanya menghasilkan para hujjaj namun juga para ulama. Mereka menjadi tawasul atau pembawa ajaran-ajaran agama di nusantara sebut saja Misalnya K. H. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan K.H. Hasan Maksum, Syekh Abdul Wahab Rokan dan ribuan ulama-ulama Nusantara lainnya menimba ilmu pengetahuan sebelum dan setelah melaksanakan haji.
Ketiga kekuatan amaliah dan gerakan (quwwah amaliyah wal harakah). Peradaban dibangun dengan kekuatan amaliah dan gerakan secara terus-menerus. Ritual-ritual haji seperti thawaf, sa’i, wukuf dan seterusnya tidak hanya sebagai ibadah mahdhah semata tetapi mempunyai makna yang mendalam terhadap etos kemajuan umat manusia.
Ritual tawaf misalnya merupakan ritual pergerakan manusia yang tanpa henti untuk terus bergerak mengarungi kehidupan. Demikian pula dengan ritual sa’i dimana ritual ini diambil dari sejarah seorang perempuan pasrah secara totalitas kepada Allah SWT yang diiringi dengan usaha yang maksimal untuk mencari air sebagai perlambang sebuah penghidupan. Siti Hajar terus saja berlari dan berlari dari bukit shofa ke bukit marwa kemudian kembali lagi sebanyak tujuh kali. Ritual ini merupakan bentuk dari etos kerja dan etos kemajuan dari seorang manusia yang telah berislam (pasrah kepada Allah semata). Dalam konteks ini pasrah bukan berarti berdiam diri dan hanya mengharap belas kasihan allah tapi kepasrahan harus dalam satu tarikan nafas melakukan sesuatu untuk mencapai apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan kita.
Dalam berbagai literatur juga disebutkan, Mekkah bukan hanya sebagai pusat peribadatan tetapi mekkah sejak dahulu adalah pusat dari perekonomian (center of trade) dan pusat dari pergerakan (center of movement). Karena itu peradaban bisa terbina dan maju jika kekuatan rohaniah kekuatan ilmu di implementasikan dalam gerakan nyata untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dalam kehidupan manusia.
Dalam konteks ke Indonesiaan, ritual haji bukan hanya ritualitas yang dilakukan oleh umat Islam, tetapi haji juga merupakan pertemuan dari orang-orang yang bergerak dan berjuang dalam rangka kemerdekaan. Orang yang berhaji pada zaman penjajahan membawa misi perubahan terutama kemerdekakan bangsa. Spirit itulah yang mereka bawa ke nusantara untuk melawan penjajahan. Maka tidak heran jika pemerintah Belanda takut bahkan membuat kebijakan yang sangat keras dari orang-orang yang berangkat haji agar jangan sampai pan islamisme di Arab dibawa ke nusantara dan menjadi energi pemberontakan yang membuat penjajah terusir dari bumi nusantara
Oleh karena itu hal yang penting dan strategis yang harus dilakukan oleh para hujjaj Indonesia adalah menangkap dan mentransformasi energi energi Ka’bah. Tiga (3) kekuatan yakni kekuatan rohaniah, kekuatan ilmiah dan kekuatan amaliah dan harokah harusnya dapat diserap dari peradaban Ka’bah sebagai energi besar untuk menjadikan peradaban bangsa dan negara Indonesia tercinta.
Tanah Haram, Mekkah, 4 Dzulhijjah 1447 H.
MKR





