Tuesday, March 3, 2026
spot_img
Home Blog Page 13

MUI Sumut Paparkan Peluang Studi ke Maroko dan Madinah

muisumut.or.id. Medan, 11 Oktober 2025, Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara (MUI-SU) perkuat motivasi Gen Z melanjutkan pendidikan di luar negeri, khususnya di negara Timur Tengah yakni Maroko dan Madinah. Hal ini terurai dengan lugas pada kegiatan Seminar Studi Luar Negeri (Maroko dan Madinah) HLNKI MUI SU yang diselenggarakan di Aula Lantai 2 MUI SU pada hari Sabtu, 11 Oktober 2025.

Seminar yang diikuti oleh 200 peserta ini menghadirkan Duta Besar RI untuk Maroko dan Mauritania 2019-2025 Bapak H. Hasrul Azwar, MM dan Akademisi lulusan Maroko dan Madinah sekaligus Wakil Ketua MUI Sumatera Utara Al Ustadz Dr. H. Amar Adly, Lc.MA. Peserta sangat antusias untuk mendapatkan wawasan dan motivasi dari para narasumber, sejak pukul 8 pagi siswa dan santri yang mewakili beberapa lembaga pendidikan di Sumatera Utara seperti MAN 2 Medan, Yayasan Bina Santri, Al Azhar Assyarif, Taman Pendidikan Islam, Islamic Center, Darul Quran dan MAN 1 Medan  sudah terlihat memadati pintu masuk Gedung MUI Sumatera Utara di Jalan Sutomo Ujung/ Jalan Ulama No. 1 Medan.

Acara dibuka pukul 9.15 WIB yang diawali dengan lantunan ayat suci Al Qur’an, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan laporan panitia yang disampaikan oleh Ketua Bidang HLNKI MUI SU K.H. Akhyar Nasution, Lc.MA. Sebagai puncak acara pembukaan, Dr. H. Maratua Simanjuntak selaku Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara dan Keynote Speaker membuka acara Seminar Studi Luar Negeri HLNKI secara resmi. Buya Maratua mengungkapkan kebanggaannya terhadap kedua narasumber yang diundang dan memotivasi peserta yang sebagian besar berasal dari kelompok usia Gen Z untuk mengambil peluang dan kesempatan yang ada semaksimal mungkin untuk menempuh pendidikan di luar negeri.

Sesi pertama Seminar Luar Negeri dibawakan oleh YM Drs. H. Hasrul Azwar, MM (Duta Besar RI untuk Maroko dan Mauritania 2019-2025). Dipandu oleh moderator Dr. H. Muhammad Irsan Nasution, SE, CA, M.Ak, sesi 1 berjalan dengan penuh semangat lengkap dengan pantun-pantun lugas khas orang Medan. Narasumber yang memiliki pengalaman berkunjung ke banyak negara dalam kapasitas sebagai Diplomat memberikan wawasan inspiratif untuk para peserta. Pak Dubes yang juga seorang alumni UIN SU dan pernah menjadi Manajer PSSI ini sangat mendorong siswa dan santri Indonesia untuk mengambil peluang beasiswa kuliah di Maroko yang saat ini quotanya sudah bertambah menjadi 50 orang per tahunnya.

Sesi kedua dibawakan oleh Dr. H. Amar Adly, Lc.MA seorang akademisi yang sukses menamatkan pendidikannya sejak S1, S2 dan S3 di Madinah dan Maroko. Dipandu oleh moderator H. Nasrullah, Lc.MA, sesi kedua sarat dengan sharing pengalaman dan tips-tips jitu kuliah di Madinah dan Maroko yang dipaparkan narasumber berdasarkan apa yang dialami beliau ketika menjalani pendidikan di kedua tempat istimewa tersebut.

Dalam paparannya, Dr. Amar yang sejak 2019 diamanahkan sebagai salah satu penguji seleksi beasiswa menguraikan syarat-syarat dan kondisi yang harus dipenuhi untuk mendaftar kuliah di Maroko dan Madinah serta apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mengikuti seleksi beasiswa. Peserta pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk bertanya.

Tidak terasa waktu 3 jam terisi dengan benih-benih wawasan dan pengetahuan yang penuh manfaat, seminar ditutup secara resmi oleh Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Sumatera Utara Dr. H. Arso, SH, M.Ag pada pukul 12.15 WIB.

Kontributor : Yulia Indawardhani Lubis, SS, MSP (Anggota Komisi HLNKI MUISU)

Syekh Muhammad Abdul Hay Uwainah dari Al-Azhar Mesir Hadir dalam Seminar Internasional PTKU MUI Sumut

muisumut.or.id., Medan, 11 Oktober 2025 – Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menggelar Seminar Internasional dengan menghadirkan ulama terkemuka dari Universitas Al-Azhar Mesir, Syekh Muhammad Abdul Hay Uwainah. Kehadiran ulama yang dikenal luas karena keluasan ilmunya ini disambut hangat oleh para mahasiswa dan dosen PTKU MUI Sumut.

Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut, Dr. H. M. Nasir Akram, Lc., MA, menjelaskan bahwa kunjungan Syekh Muhammad Abdul Hay Uwainah ke Sumatera Utara merupakan bagian dari rangkaian safari dakwahnya di Indonesia. “Kehadiran beliau diawali dari Aceh, kemudian ke Batubara untuk menghadiri peresmian Pesantren Tahfizh Baitul Quran Azhar di Talawi, yang dipimpin oleh Ustadz M. Abduh, Lc. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan ke Medan,” ungkap Dr. Nasir.

Sebelum mengisi seminar di PTKU, pada malam Jumat (10/10), Syekh Abdul Hay terlebih dahulu memberikan tausiah di hadapan para santri Pesantren Tahfizh Zamzami Medan, yang diasuh langsung oleh Dr. Nasir Akram. Selanjutnya, pada Sabtu pagi, 11 Oktober 2025, beliau menyampaikan kuliah umum di PTKU MUI Sumut dan pada siang harinya mengisi kajian di Kampus Universitas Al-Washliyah (UNIVA) Medan.

Wakil Direktur I PTKU MUI Sumut, Dr. H. M. Tohir Ritonga, Lc., MA, menyampaikan bahwa kehadiran Syekh dari Al-Azhar ini menjadi momen penting bagi mahasiswa kader ulama. “Ini adalah upaya memberikan pencerahan dan perluasan wawasan kepada mahasiswa angkatan VIII PTKU agar lebih mendalam dalam memahami kitab-kitab turats serta memiliki keluasan pandangan dalam khazanah keilmuan Islam. Mereka adalah calon-calon ulama masa depan yang diharapkan mampu meneruskan estafet keulamaan di Indonesia,” ujarnya.

Dalam seminar tersebut, Syekh Abdul Hay Uwainah membahas tentang keutamaan menuntut ilmu, biografi Imam Syafi’i, serta keagungan mazhab Syafi’i. Beliau juga menyampaikan kisah-kisah inspiratif yang menggugah semangat mahasiswa dalam menuntut ilmu agama.

“Beliau sangat senang bisa bersilaturahim dengan mahasiswa kader ulama. Bahkan beliau berharap di kesempatan lain dapat kembali berkunjung ke Sumatera Utara,” tutur Dr. Nasir.

Menariknya, seluruh penyampaian materi dilakukan penuh dalam bahasa Arab tanpa penerjemah. Hal ini dimungkinkan karena mahasiswa PTKU MUI Sumut telah terbiasa menggunakan dua bahasa asing, Arab dan Inggris, dalam kegiatan akademik sehari-hari.

Kegiatan ini semakin meneguhkan komitmen PTKU MUI Sumut untuk menghadirkan ulama-ulama internasional sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas intelektual, spiritual, dan linguistik para kader ulama, demi melahirkan generasi ulama berwawasan global dan berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam.

Ketua Umum MUI Sumut Takziah atas Wafatnya Sekretaris Umum MUI Deli Serdang, H. Waluyo

muisumut.or.id., Medan, 4 Oktober 2025 – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak beserta istri, bertakziah ke kediaman almarhum H. Waluyo, Sekretaris Umum MUI Kabupaten Deli Serdang, pada Sabtu pagi (4/10/2025).

Kedatangan Dr. Maratua Simanjuntak sebagai bentuk duka cita dan penghormatan atas wafatnya almarhum yang dikenal berdedikasi dalam pengabdian kepada umat dan organisasi MUI. Di hadapan keluarga, beliau menyampaikan belasungkawa seraya mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa almarhum, melapangkan kuburnya, serta menerima segala amal ibadahnya. Kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kesabaran dan ketabahan,” ujar Buya Dr. Maratua.

Almarhum H. Waluyo menghembuskan napas terakhir pada Jumat (3/10/2025) sekitar pukul 15.15 WIB di RS Amri Tambunan diusia 71 tahun. Jenazah kemudian dimakamkan pada Sabtu (4/10/2025) di pemakaman Desa Pasar Miring, Kecamatan Pagar Merbau, Deli Serdang.

Almarhum dikenal sebagai sosok yang ramah, rendah hati, serta aktif dalam berbagai kegiatan MUI di tingkat daerah. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar MUI Sumatera Utara, khususnya MUI Kabupaten Deli Serdang.

Semoga doa dan kehadiran para sahabat, kolega, serta tokoh masyarakat dapat menjadi penguat bagi keluarga yang ditinggalkan.

Ketua MUI Sumut Berikan Sambutan atas Terbitnya Buku Autobiografi Ketua Bidang Ukhuwah, Drs. H. Muhammad Hatta Siregar

0

muisumut.or.id., Medan, 3 Oktober 2025,  – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, memberikan sambutan pada acara syukuran terbitnya buku autobiografi Ketua Bidang Ukhuwah MUI Sumut, Drs. H. Muhammad Hatta Siregar, SH, M.Si. Buku tersebut berjudul “Perjalanan Hidup Anak Desa Gunung Intan” dan ditulis langsung oleh Hatta Siregar di usianya yang ke-67 tahun.

Dalam sambutannya, Dr. Maratua Simanjuntak menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap karya tersebut. Menurutnya, autobiografi ini bukan sekadar catatan perjalanan hidup, melainkan potret sejarah pribadi yang sarat dengan nilai perjuangan dan teladan moral. “Buku ini sangat tepat ditulis, karena dapat menjadi inspirasi sekaligus cerminan nilai-nilai kebaikan yang bisa diserap dan diwariskan bagi generasi mendatang,” ungkapnya.

Drs. H. Muhammad Hatta Siregar, yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Utara, menuturkan bahwa penulisan autobiografi ini dilakukan semata-mata untuk mengambil ibrah (pelajaran) dan inspirasi dari perjalanan hidupnya. Selain itu, ia berharap karyanya dapat menjadi warisan berharga bagi anak cucu. “Saya menuliskan ini agar perjalanan hidup di dunia dapat menjadi pelajaran, serta meninggalkan jejak moral untuk keluarga dan masyarakat luas,” ujarnya.

Buku setebal 291 halaman tersebut memuat berbagai bab penting, antara lain jejak masa kecil di kampung halaman Gunung Intan, perjuangan di Kota Medan, kiprah dalam organisasi dan kegiatan ilmiah, hingga kesan sahabat dan keluarga terhadap sosok Hatta Siregar.

Sebagai sahabat sekaligus sesama pengurus MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak berharap autobiografi ini dapat dibaca secara luas dan memberikan nilai tambah bagi siapa saja yang menginginkan teladan hidup, khususnya dalam hal keikhlasan, perjuangan, dan pengabdian kepada umat.

MUI Sumut Hadiri Syiar Akbar Penutupan Maulid Nabi 1447 H di Medan

muisumut.or.id, Medan, 2 Oktober 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menghadiri sekaligus memberikan kata sambutan pada acara Syiar Akbar Penutupan Rangkaian Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Darusshofa Medan. Acara monumental ini dilaksanakan di Gedung dan Halaman Astaka GOR Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara, Jalan Pancing, Medan, Kamis (2/10/2025).

MUI Sumut diwakili oleh Ketua Bidang Ukhuwah, Drs. H. Muhammad Hatta Siregar, SH, M.Si, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya rangkaian syiar Maulid yang berlangsung 40 malam berturut-turut.

Tradisi syiar seperti ini merupakan wujud cinta umat kepada Rasulullah SAW sekaligus sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah. Kita berharap kegiatan ini dapat terus dilestarikan dan memberikan pencerahan bagi generasi muda agar senantiasa meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW,” ujar H. Muhammad Hatta Siregar.

Tausiah dari Ulama dan Habib

Syiar Akbar ini menghadirkan sejumlah ulama dan habaib terkemuka, antara lain:

  1. Habib Ubaidillah Alhabsy dari Surabaya,

  2. Tuan Guru Babussalam, Dr. H. Dzikmal Fuad, MA,

  3. Pimpinan Majelis Taklim Darusshofa Medan, H. Mufty Ahmad Nasihin.

Ketiga tokoh ini menyampaikan tausiah seputar keteladanan Rasulullah SAW, pentingnya menjaga persatuan umat, serta semangat menebar rahmat dalam kehidupan bermasyarakat.

Antusiasme Jamaah

Acara penutupan syiar akbar ini dihadiri lebih dari 10.000 jamaah dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara. Kehadiran ribuan umat ini menunjukkan kecintaan yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus semangat menjaga tradisi syiar Islam di Sumut.

Dengan suksesnya penyelenggaraan 40 malam berturut-turut, Majelis Taklim Darusshofa Medan dinilai berhasil menggerakkan semangat ukhuwah, dakwah, dan cinta Rasul di tengah masyarakat Sumatera Utara.

MUI Sumut Berduka, Dr. H. Lukmanul Hakim Berpulang: Sosok Penggerak Ekonomi Syariah dan Wakaf Produktif

0

muisumut.or.id, Jakarta, 30 September 2025 —
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmatullah Dr. H. Lukmanul Hakim, M.Si, Ketua MUI Bidang Ekonomi MUI Pusat dan Direktur LPPOM MUI, pada Selasa (30/9/2025). Almarhum juga dikenal sebagai Ketua Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (LW-MUI), yang selama hidupnya mendedikasikan diri untuk membangun ekonomi syariah dan mengembangkan gerakan wakaf nasional.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara turut menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. “Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan karya beliau, mengampuni dosa-dosanya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin,” demikian doa dan ungkapan duka dari jajaran MUI Sumut.

Sosok Inspiratif

Almarhum Dr. H. Lukmanul Hakim, M.Si, adalah salah satu putra terbaik MUI yang memberi warna besar dalam perkembangan ekonomi umat. Ia dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan wakaf produktif, dengan gagasan brilian untuk memperluas jaringan Lembaga Wakaf MUI hingga ke seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

Melalui konsep tersebut, sosialisasi wakaf dapat dilakukan secara massif, menyentuh berbagai lapisan masyarakat, dan terintegrasi dengan MUI Pusat yang berstatus resmi sebagai Nazhir Wakaf di Badan Wakaf Indonesia (BWI). Upaya ini sekaligus memperkuat kesatuan dan konsolidasi gerakan wakaf nasional.

Selain itu, almarhum turut mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam penggalangan wakaf. Sistem ini diharapkan dapat menyalurkan wakaf dengan lebih transparan, efisien, dan tepat sasaran untuk membiayai berbagai proyek wakaf di daerah.

Ketua Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Umat MUI Sumut, Prof. Dr. H. Saparuddin Siregar, M.Si., menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam.

“Kepergian Dr. Lukmanul Hakim merupakan kehilangan besar bagi MUI dan umat Islam Indonesia. Beliau adalah sosok visioner yang berhasil menghubungkan wakaf dengan konsep pemberdayaan ekonomi umat secara nyata. Warisan pemikiran beliau, khususnya tentang wakaf produktif berbasis digital, harus terus kita lanjutkan sebagai amal jariyah untuk beliau,” ujar Prof. Saparuddin.

MUI Sumut menegaskan bahwa semangat dan pemikiran almarhum akan menjadi inspirasi dalam menggerakkan ekonomi umat melalui zakat, wakaf, dan keuangan syariah.

Sekretaris MUI Sumut Ikuti Standardisasi Dai di MUI Pusat, Bahas Urgensi Wakaf Uang

0

muisumut.or.id, Jakarta, 29 September 2025 – Sekretaris MUI Sumatera Utara, Dr. H. M. Tohir Ritonga, Lc., MA., CWC., mengikuti kegiatan Standardisasi Dai Angkatan ke-43 yang diselenggarakan MUI Pusat di BSI Tower, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (29/9/2025).

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi, menekankan pentingnya peran dai dalam menyosialisasikan wakaf, khususnya wakaf uang, kepada masyarakat. Menurutnya, wakaf uang memiliki manfaat luar biasa dalam meningkatkan kesejahteraan umat.

Selama ini masyarakat memahami wakaf sebatas tanah untuk masjid, musholla, sekolah, atau kuburan. Padahal, MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang kebolehan wakaf uang sejak 2002. Karena itu, para dai perlu gencar menyampaikan sosialisasi wakaf uang ini,” ujar Kiai Zubaidi.

Ia menambahkan, wakaf uang bersifat inklusif karena tidak dibatasi nominal. Hal ini memungkinkan siapa saja berpartisipasi dalam wakaf. Bahkan, potensi wakaf uang di Indonesia diperkirakan mencapai Rp181 triliun per tahun.

Bayangkan bila dana sebesar itu dikumpulkan, manfaatnya akan luar biasa. Wakaf uang tidak boleh hilang, tidak boleh rusak atau bangkrut, tetapi harus terus ada hingga akhir zaman. Manfaatnya akan terus mengalir bagi umat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Zubaidi menekankan bahwa wakaf uang harus dikembangkan dalam konsep wakaf produktif agar mampu memberikan kemaslahatan yang lebih luas dan berkelanjutan. Untuk itu, para dai juga diminta memahami ekonomi Islam sehingga dapat menyampaikan pesan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dr. Tohir Ritonga, yang juga telah mengantongi sertifikat Nazhir Wakaf Profesional, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan program standardisasi dai ini. Menurutnya, pembekalan tersebut sangat relevan dengan tantangan dakwah masa kini, terutama dalam bidang ekonomi syariah.

Kegiatan ini memberikan wawasan yang sangat penting bagi para dai agar tidak hanya fokus pada aspek ritual keagamaan, tetapi juga mampu mengedukasi umat tentang instrumen ekonomi syariah, khususnya wakaf produktif. Sebagai seorang Nazhir Wakaf Profesional, saya melihat potensi wakaf uang ini luar biasa untuk membangun kemandirian ekonomi umat,” ujar Dr. Tohir.

Ia menambahkan, dengan sinergi antara dai, nazhir, dan lembaga-lembaga keuangan syariah, wakaf uang dapat menjadi pilar strategis dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Kegiatan standardisasi dai ini menjadi salah satu upaya MUI dalam meningkatkan kapasitas dai agar mampu memberikan pencerahan sekaligus penguatan literasi ekonomi syariah, termasuk pemahaman wakaf produktif.

Dr. H. M. Tohir Ritonga Ikuti Standarisasi Da’i MUI Pusat Angkatan ke-43

0

muisumut.or.id., Jakarta, 29 September 2025, – Sekretaris Bidang Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan MUI Sumatera Utara, Dr. H. M. Tohir Ritonga, Lc., M.A., CWC, mengikuti kegiatan Standarisasi Da’i MUI Pusat Angkatan ke-43 yang digelar oleh Komisi Dakwah MUI Pusat, Senin (29/9/2025) bertepatan dengan 7 Rabiul Akhir 1447 H.

Acara yang berlangsung di Lantai 3 Kantor Pusat Bank Syariah Indonesia (BSI) The Tower, Karet Semanggi, Jakarta Selatan, dimulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk para da’i, akademisi, dan praktisi dakwah.

Standarisasi Da’i ini bertujuan untuk meningkatkan sekaligus menguatkan kompetensi para da’i dalam menyampaikan dakwah yang mencerahkan umat, meluruskan paham-paham menyimpang, serta menghadirkan Islam yang wasathiyah dan rahmatan lil alamin.

Dalam pelaksanaannya, para peserta mendapat materi dari sejumlah tokoh nasional, di antaranya:

  • Dr. H. Amrisyah Tambunan, M.A. dengan materi Ke-MUI-an

  • Prof. Dr. Asrorun Niam Soleh dengan materi Proses Lahirnya Fatwa MUI

  • Dr. KH. Arif Fahrudin, M.Ag. dengan materi Islam Kebangsaan

  • KH. M. Cholil Nafis, Lc., M.A., Ph.D. dengan materi Islam Wasathiyah

  • Dr. KH. Ahmad Zubaidi, M.A. dengan materi Etika Dakwah Islam Wasathiyah

Selain itu, sesi khusus juga diisi oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan materi Mengenal Bank Syariah, sebagai upaya memperkuat literasi ekonomi syariah di kalangan da’i.

Acara diakhiri dengan assessment ceramah dan test kompetensi untuk mengukur pemahaman serta kemampuan retorika para peserta dalam berdakwah.

Dr. H. M. Tohir Ritonga menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, standarisasi da’i merupakan langkah penting untuk melahirkan da’i yang profesional, berwawasan luas, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpijak pada prinsip Islam yang moderat.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, MUI Pusat menegaskan komitmennya dalam menghadirkan da’i-da’i berkualitas yang dapat membawa pesan Islam damai, sejuk, dan penuh kasih sayang di tengah masyarakat.

Muzakarah Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara Bahas Fenomena Perceraian di Luar Pengadilan Agama

0

Medan, muisumut.or.id– Minggu 28 September 2025 Muzakarah Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara menyoroti meningkatnya angka perceraian dan talak di luar Pengadilan Agama yang marak terjadi di tengah masyarakat. Dalam forum tersebut, sejumlah narasumber menegaskan pentingnya upaya preventif melalui pembinaan pra-nikah dan pemahaman hak serta kewajiban suami-istri.
Armauli, salah satu narasumber, menekankan bahwa fenomena perceraian, baik melalui talak maupun cerai gugat, semakin tinggi di masyarakat. “Meski talak itu sah, namun ia perbuatan yang dibenci Allah SWT. Karena itu, kita perlu mencarikan solusi agar kasus perceraian tidak terus meningkat. Salah satunya dengan memperkuat bimbingan agama sebelum pernikahan agar pasangan memahami tanggung jawab rumah tangga,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa memperhatikan kesesuaian calon pasangan sebagaimana anjuran agama menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan keluarga.
Sementara itu, Hasan Basri Harahap menjelaskan bahwa perceraian yang dilakukan melalui Pengadilan Agama sesungguhnya ditujukan untuk melindungi hak-hak istri dan anak. “Proses di pengadilan bukan sekadar formalitas, tetapi juga upaya untuk menjaga kepastian hukum sekaligus menekan angka perceraian yang terus meningkat,” jelasnya.
Menutup diskusi, Ketua Bidang Fatwa MUI Sumut, Drs. H. Ahmad Sanusi Luqman, Lc., MA, didampingi Sekretaris Dr. Irwansyah, M.H.I, menegaskan bahwa muzakarah ini bersifat sharing dan diskusi ilmiah kepada masyarakat. Ia mengatakan bahwa pendapat resmi MUI terkait talak ini sudah diputuskan pada Ijtimak Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tahun 2012, MUI telah menetapkan talak yang dijatuhkan suami di luar Pengadilan Agama adalah sah, dengan masa iddah dihitung sejak talak dijatuhkan.
“Namun, demi kemaslahatan dan kepastian hukum, talak di luar pengadilan tetap wajib dilaporkan (ikhbar) ke Pengadilan Agama. Itulah pendapat resmi MUI ,” tegasnya.

Ukhuwah Islamiyah Harus Terhindar dari Distorsi Konsep dan Praktik

0

MEDAN, muisumut.or.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara kembali menegaskan pentingnya revitalisasi ukhuwah Islamiyah dalam Dialog Ormas Islam bertema “Revitalisasi Ukhuwah Islamiyah dalam Menyelesaikan Persoalan Umat” yang digelar pada Sabtu (27/9/2025).

Dalam paparannya “Distorsi Konsepsi dan Praktik Ukhuwah Islamiyah di Tengah Kehidupan Umat: Identifikasi Persoalan dan Solusi”, Jufri menyoroti berbagai hambatan utama yang sering menghalangi terwujudnya ukhuwah secara ideal di tengah masyarakat Muslim.

Hambatan dalam Wujud Ukhuwah
Menurut Jufri, ada sejumlah “batu sandungan” yang mereduksi makna ukhuwah, di antaranya:

Sempitnya cara pandang dalam memahami ukhuwah

Lemahnya keterbukaan dalam bersosialisasi

Kurangnya kesinambungan dalam membangun relasi sosial

Ia menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak boleh berhenti pada slogan atau retorika, melainkan harus diwujudkan melalui harmoni sosial, pola pikir terbuka, dan sikap kreatif-dinamis.

“Ukhuwah yang sejati menuntut kita membangun hubungan baik bukan hanya antar-Muslim, tetapi juga dengan non-Muslim, lintas suku, ras, maupun organisasi. Bahkan sekalipun berbeda, umat harus tetap saling membantu,” tegasnya.

Pentingnya Pendekatan Inklusif
Jufri juga menekankan perlunya paradigma ukhuwah yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan universal, termasuk penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kesetaraan gender. Menurutnya, hal ini sejalan dengan spirit Islam yang menjadikan keadilan dan rahmat sebagai fondasi bersama kehidupan umat manusia.

Dalam argumennya, ia merujuk pada pemikiran sejumlah cendekiawan Muslim kontemporer, seperti Amin Abdullah, M. Quraish Shihab, Alwi Shihab, hingga Abdul Karim Soroush. Perspektif mereka dinilainya relevan untuk memperkuat basis konseptual sekaligus praktik ukhuwah.

Jalan Menuju Revitalisasi
Jufri menegaskan bahwa revitalisasi ukhuwah Islamiyah hanya mungkin diwujudkan melalui keterbukaan berpikir, kesediaan untuk belajar dari realitas sosial, serta konsistensi dalam praktik sehari-hari.

“Distorsi konsep dan praktik ukhuwah hanya bisa diatasi jika kita benar-benar mau membuka diri, berpikir inklusif, dan menempatkan ukhuwah sebagai jalan membangun peradaban bersama,” pungkasnya.