Tuesday, March 3, 2026
spot_img
Home Blog Page 12

Dr. H. Arso, S.H., M.Ag: Bangun Silaturrahim Berbasis Masjid untuk Meraih Rahmat Allah

muisumut.or.id., Balige, 25 Oktober 2025 — Dalam rangkaian Safari Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara yang berlangsung di Balige, Kabupaten Toba, pada 24–26 Oktober 2025, Dr. H. Arso, S.H., M.Ag menyerukan pentingnya membangun dan memperkuat silaturrahim berbasis masjid dan mushalla sebagai jalan untuk menggapai rahmat Allah SWT.

Dalam tausiyahnya, Dr. Arso menegaskan bahwa silaturrahim bukan hanya pertemuan sosial atau tradisi belaka, melainkan sarana spiritual yang memiliki dimensi ilahiah. “Kita sering bertemu dan bersilaturrahim dalam gaya hidup modern, namun belum memaksimalkan agar silaturrahim membawa turunnya rahmat Allah,” ujarnya.

Beliau mengingatkan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada rahmat Allah SWT. “Kita hidup di bumi yang Allah hamparkan, menghirup udara yang Allah sediakan, menikmati lautan yang memberi kehidupan, serta menyaksikan pergantian siang dan malam — semua itu merupakan manifestasi dari rahmat Allah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Arso memaparkan lima golongan yang dijanjikan akan mendapatkan rahmat Allah SWT. Pertama, sebagaimana disebut dalam Surah At-Taubah ayat 71, yaitu golongan orang-orang beriman, yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, mereka yang hidup saling kasih sayang dan memelihara hubungan baik antar sesama. Ketiga, mereka yang bersikap sabar dan bertawakkal kepada Allah. Keempat, mereka yang senantiasa membaca Al-Qur’an dan memperhatikan maknanya. Dan kelima, mereka yang tekun berdoa, berzikir, serta memohon ampunan dan rahmat Allah SWT.

Sebaliknya, beliau juga mengingatkan tentang golongan yang dapat mengundang murka Allah SWT, yakni mereka yang saling bermusuhan, menyuruh kepada kemungkaran, menyia-nyiakan salat, enggan membayar zakat, serta mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.

Menurut Dr. Arso, masjid dan mushalla seharusnya menjadi pusat peradaban dan poros silaturrahim umat. Di tempat itu umat Islam memperkuat ukhuwah, menumbuhkan kasih sayang, dan menegakkan nilai-nilai ketaatan. “Apabila masjid menjadi tempat bersemainya silaturrahim, maka rahmat Allah akan turun dan menyelimuti kehidupan umat,” tegasnya.

Safari Dakwah MUI Sumut di Balige menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan ulama dan umat serta memperkuat dakwah Islam di wilayah minoritas Muslim. Melalui kegiatan ini, MUI Sumut berharap nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dapat tumbuh dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

MUI Sumut Gelar Safari Dakwah 2025: Meneguhkan Aqidah dan Membina Umat di Daerah Minoritas

0

muisumut.or.id. 25 Oktober 2025, Medan — Dalam upaya memperkuat syiar Islam dan memperkokoh aqidah umat di wilayah-wilayah minoritas, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara kembali melaksanakan program Safari Dakwah 2025. Kegiatan ini akan digelar pada 24–26 Oktober 2025 di empat kabupaten, yakni Siantar, Toba, Samosir, dan Tapanuli Utara.

Program Safari Dakwah menjadi bentuk nyata peran MUI sebagai Khadimul Ummah (pelayan umat), yang bertugas menjaga, membimbing, dan membina masyarakat agar tetap teguh dalam aqidah dan ibadah. Melalui kegiatan ini, MUI Sumut berkomitmen menghadirkan para dai untuk memberikan pencerahan dan pembinaan langsung kepada masyarakat di daerah yang masih sangat membutuhkan pendampingan keagamaan.

Ketua Panitia Safari Dakwah, Dr. Ardiansyah, Lc., MA, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab MUI untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin hingga ke pelosok daerah.

Kami menemukan masih banyak masyarakat muslim di daerah-daerah minoritas yang memiliki semangat beragama, tetapi belum mendapatkan pembinaan yang memadai. Ada yang sudah lama muslim, namun belum memahami dasar-dasar ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, atau pelaksanaan fardhu kifayah,” ungkap Dr. Ardiansyah

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa Safari Dakwah ini tidak sekadar agenda seremonial, melainkan program pembinaan yang dilakukan secara intensif. Para dai yang ditugaskan akan menginap dan berinteraksi langsung dengan masyarakat selama beberapa hari untuk memberikan pelatihan praktis keagamaan.

Kita ingin memastikan umat Islam di sana memiliki kemampuan untuk melaksanakan ajaran agamanya dengan baik dan benar. Pembinaan akan difokuskan pada penguatan aqidah, pemahaman ibadah, kemampuan khutbah, dan juga penyelenggaraan fardhu kifayah. Bahkan, kita ingin setiap peserta bisa memperbaiki bacaan Al-Fatihah mereka dengan benar,” tambahnya.

Selain pembinaan keagamaan, Safari Dakwah juga menjadi ajang mempererat silaturrahim antara MUI Sumut dan umat di berbagai daerah. MUI berharap kegiatan ini dapat memperkuat semangat ukhuwah Islamiyah serta menumbuhkan kembali semangat dakwah di daerah-daerah yang medannya sulit dan jarang tersentuh kegiatan keagamaan.

Melalui Safari Dakwah ini, MUI hadir tidak hanya untuk berdakwah, tapi juga untuk mendengarkan, memahami, dan membantu umat. Ini adalah bagian dari pengabdian kita bersama untuk menjaga umat agar tetap kokoh dalam aqidah dan istiqamah dalam beribadah,” ujar Dr. Ardiansyah tutupnya

Dengan terselenggaranya Safari Dakwah 2025, MUI Sumatera Utara berharap lahir umat Islam yang kuat dalam aqidah, benar dalam ibadah, serta berakhlak mulia, sehingga mampu menjadi contoh kebaikan di tengah masyarakat multikultural Sumatera Utara.

MUI Sumatera Utara Hadiri Safari Kebangsaan Polda Sumut: Perkuat Sinergi Polri dan Ulama untuk Negeri Aman dan Damai

0

Medan, muisumut.or.id, 23 Oktober 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menghadiri kegiatan Safari Kebangsaan Polda Sumatera Utara yang digelar di Masjid Al-Hidayah, Polda Sumut, Kamis (23/10). Kehadiran MUI Sumut diwakili oleh Dr. H. Sugeng Wanto, S.Ag., M.Ag, Sekretaris Bidang Dakwah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Polda Sumut dalam memperkuat hubungan baik antara Polri dan seluruh elemen masyarakat, termasuk ulama, ormas, dan tokoh-tokoh keagamaan. Safari Kebangsaan mengangkat tema “Polri untuk Negeri”, dengan semangat mempererat persatuan dan membangun kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Dalam sambutan yang disampaikan melalui Wakapolda Sumut, Kapolda Sumatera Utara menegaskan bahwa Polri adalah pengayom masyarakat serta garda terdepan dalam menjaga ketertiban dan keamanan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan dan kepercayaan masyarakat agar tugas-tugas Polri dapat berjalan dengan optimal.

“Polri tidak dapat bekerja sendiri. Kami membutuhkan kepercayaan, doa, dan dukungan masyarakat agar Indonesia tetap aman, damai, dan sejahtera,” ujar Wakapolda dalam pesannya.

Mewakili Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Sugeng Wanto menyampaikan apresiasi atas inisiatif Polda Sumut yang terus membangun jembatan komunikasi dengan para ulama dan masyarakat. Ia menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan menjaga keharmonisan sosial di tengah tantangan zaman.

“Kami dari MUI Sumut sangat mendukung upaya Polri dalam mempererat sinergi dengan ulama dan masyarakat. Inilah bentuk nyata kebersamaan untuk menjaga negeri agar tetap damai dan berkeadaban,” ujarnya usai kegiatan.

Sebagai pesan universal yang mengiringi kegiatan tersebut, seluruh pihak diajak untuk terus berkolaborasi dalam menjaga keutuhan bangsa.

“Mari sama-sama kita jaga bangsa Indonesia agar menjadi negeri yang aman, damai, dan sejahtera. Aamiin ya Allah,” demikian pesan penutup yang menjadi seruan kebersamaan pada kegiatan tersebut.

Ketua Bidang Fatwa MUI Sumut Ustadz Sanusi Luqman Lc, M.A : “Sembelihan Halal Bukan Sekadar Pisau Tajam, Tapi Niat dan Adab Syariat”

0

Medan, muisumut.or.id, Rabu 22 Oktober 2025 – “Pisau boleh tajam, tapi tanpa basmalah, sembelihan itu tidak halal. Yang menghalalkan bukan pisau, melainkan nama Allah.”

Kalimat tegas itu disampaikan oleh Drs. H. Ahmad Sanusi Luqman, Lc., M.A., Ketua Bidang Fatwa MUI Provinsi Sumatera Utara, saat membawakan makalah berjudul “Penyembelihan Hewan Secara Syar’iy” pada Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) yang diselenggarakan oleh LPPOM MUI Sumatera Utara, Kamis (23/11/2023) di Aula LPPOM MUI Sumut.

Dalam penyampaiannya, Ustadz Sanusi Luqman menegaskan bahwa penyembelihan secara syar’iy bukan hanya urusan teknis pemotongan hewan, melainkan manifestasi dari ketaatan spiritual dan adab Islam yang mencerminkan kesucian hati seorang Muslim.

 “Setiap juru sembelih harus memahami bahwa tugasnya bukan hanya memastikan daging halal secara fisik, tetapi juga menjaga kesucian ibadah dalam setiap tetes darah yang mengalir,” ujarnya.

Beliau menjelaskan, penyembelihan yang benar harus memenuhi rukun dan syarat syariat, seperti membaca basmalah, menggunakan pisau yang tajam, menghadap kiblat, serta memperlakukan hewan dengan kasih sayang.

 “Adab dalam menyembelih adalah cerminan akhlak. Rasulullah SAW melarang mengasah pisau di hadapan hewan atau membuatnya stres. Islam memuliakan bahkan saat hewan itu akan disembelih,” tambahnya.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa mengkonsumsi makanan halal, termasuk daging yang disembelih secara syar’iy, berpengaruh besar terhadap kesehatan jasmani dan rohani.

 “Makanan halal menumbuhkan ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan kekhusyukan ibadah. Sebaliknya, yang haram bisa mengeraskan hati dan menjauhkan dari keberkahan,” tuturnya.

Melalui pelatihan ini, LPPOM MUI Sumut berupaya membentuk juru sembelih halal yang profesional, berkompeten, dan beriman, sekaligus memperkuat ekosistem halal di Sumatera Utara.

 “Penyembelihan halal bukan sekadar keterampilan, tapi ibadah. Ia menjadi bukti nyata ketaatan seorang Muslim kepada Allah,” pungkas Ustadz Sanusi Luqman menutup pemaparannya.

Prof. Basyaruddin: “Juru Sembelih Halal Bukan Sekadar Tukang Potong, Tapi Penegak Syariat dan Penentu Keberkahan Umat”

0

Medan, muisumut.or.id, Rabu 22 Oktober 2025 – Dalam dunia industri pangan modern, juru sembelih halal (Juleha) memiliki posisi yang tak sekadar teknis, melainkan spiritual dan strategis bagi keberlanjutan ekosistem halal nasional. Hal ini ditegaskan oleh Prof. Dr. H. Basyaruddin, M.S., Direktur LPPOM MUI Sumatera Utara sekaligus Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), dalam materinya bertajuk “Peran, Prospek, dan Kompetensi Juru Sembelih Halal (Juleha) dalam Produksi Pangan Daging Halal”, yang disampaikan pada Pelatihan Juru Sembelih Halal LPPOM MUI Sumut, Selasa (22/10/2025) di Medan.

Dalam paparannya, Prof. Basyaruddin menekankan bahwa keberadaan juru sembelih halal merupakan garda depan dalam menjaga kesucian pangan umat Islam. Ia menegaskan bahwa daging halal tidak hanya bergantung pada jenis hewan, tetapi juga pada kompetensi dan keimanan penyembelihnya.

“Juleha bukan hanya pekerja, tapi penegak syariat. Jika penyembelihnya tidak memenuhi syariat, maka hewan halal pun bisa menjadi haram. Sebaliknya, jika Juleha menjalankan syariat dengan benar, maka penyembelihan itu menjadi ibadah dan sumber keberkahan,” ujar Prof. Basyaruddin.

Beliau menjelaskan, seorang Juleha dituntut memiliki pemahaman syariat Islam yang mendalam, keterampilan teknis yang profesional, dan sertifikasi resmi sesuai standar HAS 23000 dan SKKNI. Selain itu, Juleha harus memahami prosedur penyembelihan yang higienis dan beretika, serta memastikan kesejahteraan hewan sebelum, selama, dan setelah proses penyembelihan.

Menurutnya, kompetensi seorang Juleha meliputi kemampuan memahami hukum halal-haram, menjaga kebersihan dan sanitasi, serta memastikan setiap tahapan proses — mulai dari pemingsanan hingga pelabelan produk — sesuai dengan syariat Islam dan regulasi nasional.

“Proses penyembelihan bukan sekadar memotong hewan, tapi juga proses ibadah. Di situlah nilai luhur Islam dalam menghormati makhluk hidup dan menjaga kesucian makanan umat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Basyaruddin menguraikan sejumlah aktivitas kritis dalam prosedur penyembelihan halal, seperti pemeriksaan pra-penyembelihan, validasi pemingsanan (stunning), pemotongan tiga saluran utama (trakea, esofagus, dan pembuluh darah utama), serta pengawasan ketat agar tidak terjadi kontaminasi silang antara produk halal dan non-halal.

Beliau juga menekankan pentingnya fasilitas Rumah Potong Hewan (RPH) yang memenuhi standar halal, mulai dari lokasi yang bebas najis hingga penggunaan peralatan tajam yang sesuai syariat. Setiap produk daging halal, lanjutnya, wajib memiliki identitas yang jelas mengenai asal RPH, nama penyembelih, dan masa berlaku sertifikat halalnya.

“Juleha adalah bagian dari rantai nilai industri halal nasional. Tanpa mereka, kehalalan produk daging tidak dapat dijamin sepenuhnya. Maka kompetensi, integritas, dan ketakwaan menjadi syarat mutlak,” tegasnya.

Prof. Basyaruddin menutup materinya dengan ajakan agar seluruh pelaku industri daging  dari pemotongan hingga distribusi  membumikan halal dalam praktik usaha dan kehidupan sehari-hari, karena keberkahan rezeki berawal dari makanan yang halal dan thayyib.

“Sukses usaha dan berkah rezekinya hanya akan datang bila halal menjadi ruh dalam setiap aktivitas. Mari membumikan halal dalam industri!” pungkasnya.

LPPOM MUI Sumut Gelar Pelatihan Juru Sembelih Halal, Tekankan Nilai Ibadah dan Profesionalisme

0

Medan, muisumut.or.id Rabu 22 Oktober – Lembaga Pemeriksa Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) di Aula LPPOM MUI Sumut, Medan. Kegiatan ini diikuti oleh 17 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara serta 1 peserta dari Provinsi Aceh.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Umum MUI Sumatera Utara yang diwakili oleh Wakil Ketua Umum, Dr. H. Ardiansyah, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa persoalan kehalalan merupakan hal yang sangat penting dan mendasar dalam ajaran Islam.

“Alam ini diciptakan Allah untuk dimanfaatkan manusia, namun Islam mengajarkan tata cara pemanfaatan yang baik dan benar, termasuk dalam hal penyembelihan hewan,” ujar Dr. Ardiansyah.

Beliau menambahkan bahwa Islam tidak hanya mengatur cara penyembelihan, tetapi juga menekankan aspek kebersihan, kesucian, dan etika dalam setiap prosesnya. Menurutnya, profesi juru sembelih halal bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi juga wujud penghormatan terhadap makhluk hidup serta ibadah yang bernilai spiritual tinggi.

“Ketika seseorang menyembelih dengan benar sesuai syariat, ia bukan hanya menunaikan tugas profesinya, tetapi juga menjalankan ibadah dan memuliakan hewan yang disembelih,” tambahnya.

Dr. Ardiansyah juga menyoroti masih minimnya jumlah juru sembelih halal yang memiliki sertifikat kompetensi resmi, padahal kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang ini terus meningkat seiring dengan perkembangan industri halal di Indonesia.

“Masih sedikit masyarakat yang memiliki sertifikasi juru sembelih halal. Ke depan, tantangan di lapangan akan semakin kompleks, dan ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk MUI Sumatera Utara untuk terus menyiapkan SDM yang kompeten,” jelasnya.

Pelatihan ini akan diisi oleh sejumlah narasumber, yaitu:

Prof. Dr. H. Basyaruddin, M.S., Direktur LPPOM MUI Sumatera Utara

Drs. Sanusi Luqman, Lc., M.A., Ketua Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara

Dr. Irwansyah, M.Hi., Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan LPPOM MUI Sumut dalam mendukung penguatan ekosistem halal, sekaligus memastikan setiap proses penyembelihan di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya berjalan sesuai dengan kaidah syariat Islam dan standar halal nasional.

MUI SU Gelar Acara Sederhana “International Day for the Eradication of Poverty” ( Hari Internasional Pemberantasan Kemiskinan) di DAS Deli

muisumut.or.id, Medan, 1i7 Oktober 2026, Bid/Kom Sosben MUI SU menggelar kegiatan mandiri Dakwah di DAS Deli kepada 50 warga Dhuafa , Fuqara’ /Masakin Binaan Sosben MUI SU dari enam titik rawan banjir DAS Deli dan Babura yaitu Gg Pasir Jalan S. Parman, gg Lembah/gg Kesatria Jln brigjen Katamso, Jln Badur, Kampung kubur dan , Kebun Bunga . Kegiatan dilaksanakan pada hari Jum’at, 17 Oktober 2025 pukul 14.00 bertempat di Jalan Palang Merah Gg Jembatan

Alhamdulillah acara sederhana ini menjadi bermartabat manfaatnya karena BAZNAS Provinsi Sumatera Utara yang diketuai oleh Prof. Dr. H.Mohammad Hatta memberi bantuan 50 pack Beras dan dan 5 pack Daging Dam Haji thn 2025 yang disembelih di Saudi Arabia dengan bentuk kemasan siap saji.

Baznas Provsu yang diwakili Bapak Safril Hasibuan menyampaikan dalam sambutannya bahwa Ketua BAZNAS Provsu tidak bisa hadir karena ada acara yang sama seperti ini memberi bantuan kepada Muallaf di Kabupaten Karo. Pak Safril menyampaikan semoga bantuan bermanfaat bagi penerima sambil juga mejelaskan tata cara menyajikan daging siap saji.

Laila Rohani Ketua Bidang Sosben MUI SU mengimbau sahabat Sosben untuk menyumbang memberi makan para Dhu’afa . Alhamdulillah dapat mengadakan 65 pack nasi / snack dan oleh oleh biskuit untuk dibawa pulang kepada keluarga ke rumah masing – masing. Laila mengucapkan terimakasih kepada sahabat Sosben, semoga apa yang menjadi niat sedekah tersebut dapat dikabulkan Allah.

“Kegiatan ini tidaklah mampu spontan memberantas kemiskinan”, Kata Nani Ayum Panggabean Sekretaris Bidang Sosben tetapi Kaidah Fiqh menyatakan “Ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu” adalah kaidah berarti “apa yang tidak bisa dicapai keseluruhannya, tidak boleh ditinggalkan seluruhnya”. Setidaknya prinsip semangat peduli kemiskinan itu jangan sampai ditinggalkan, walaupun keseluruhan pengentasan kemiskinan itu harus dilaksanakan dengan tindakan kolektif

Dakwah singkat disampaikan Nani Ayum Panggabean dan Heri Syahputra yg pada dasarnya dihimbau untuk meningkatkan sikap syukur sabar. Sahabat Sosben yang hadir adalah Sakdiyah Rahman dan Afni, sementara yang lain ada tugas kedinasan dan ada berada di luar kota.

Sedekah memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai salah satu bentuk kepedulian sosial dan ibadah yang dianjurkan oleh Allah SWT. Sedekah bukan hanya sekadar memberi, tetapi juga merupakan cara untuk membersihkan harta, menumbuhkan empati, dan memperkuat keimanan seseorang. Terlebih, memberikan sedekah kepada fakir miskin adalah tindakan mulia yang dapat membawa berkah dan kemuliaan bagi pemberi maupun penerima. In syaa Allah Hidup Berkah di Dunia dan Bahagia di Akhirat.

Pinbas Expo dan Sosialisasi Produk Halal MUI Sumut 2025 Berlangsung Sukses

0

Medan, muisumut.or.id – 16 Oktober 2025 – Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara sukses menggelar Pinbas Expo dan Sosialisasi Produk Halal di Aula MUI Sumut, Kamis (16/10). Kegiatan yang mengusung tema “Produk Halal Menyala, UMKM Sejahtera” ini berlangsung meriah dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, pelaku UMKM, serta pengurus MUI dari berbagai daerah di Sumatera Utara.

Turut hadir dalam acara ini antara lain Ketua Umum MUI Sumut Dr. Maratua Simanjuntak, M.A., Bupati Langkat H. Syah Afandin, S.H., Wali Kota Medan yang diwakili Staf Ahli Dr. Adlan, M.A., Prof. Dr. Muhammad Hatta (Ketua Baznas Sumut), Prof. Dr. Basaruddin (Ketua LPPOM MUI Sumut), Prof. Dr. Saparuddin Siregar, M.A. (Ketua Bidang Ekonomi MUI Sumut), Dr. Jakfar Syahbudin Ritonga, D.Bd (Wakil Bupati Tapanuli Selatan), serta Hendra Cipta, S.E., M.M. (Anggota DPRD Sumut sekaligus Ketua Sarekat Islam).

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa oleh Kiai Ali Suman Daulay, dan pengantar protokol oleh Arif Margolang (UMSU). Dalam sambutannya, Ketua Panitia sekaligus Ketua PINBAS MUI Sumut Drs. Putrama Alkhairi, CWC, menegaskan bahwa penguatan ekosistem halal menjadi kunci bagi kebangkitan ekonomi umat dan kesejahteraan pelaku UMKM di daerah.

Wali Kota Medan yang diwakili Dr. Adlan, M.A. menyampaikan keynote speech tentang peran pemerintah dalam mendukung produk halal dan pengembangan sektor UMKM. Sementara itu, Ketua Umum MUI Sumatera Utara Dr. Maratua Simanjuntak, M.A. dalam arahannya menekankan pentingnya sinergi antara MUI, pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan masyarakat dalam memperkuat ekonomi berbasis syariah. Beliau sekaligus secara resmi membuka kegiatan Pinbas Expo dan Sosialisasi Produk Halal 2025.

Momentum penting acara ini adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara MUI Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Langkat tentang Pemberdayaan Ekonomi Umat di Kabupaten Langkat, yang turut disaksikan langsung oleh Bupati Langkat H. Syah Afandin, S.H.

Sesi Seminar dan Diskusi

Kegiatan berlanjut dengan tiga sesi seminar yang menghadirkan narasumber dari kalangan pemerintahan, akademisi, dan lembaga ekonomi Islam:

Sesi I (10.00 – 12.20 WIB)

Dr. Jakfar Syahbudin Ritonga, D.Bd., Wakil Bupati Tapanuli Selatan: “Peran Strategis Pemerintah Daerah dalam Pengembangan UMKM.”

Hendra Cipta, S.E., M.M., Anggota DPRD Sumut & Ketua Sarekat Islam: “Regulasi, Peluang, dan Tantangan UMKM di Sumatera Utara.”

Sesi II (13.30 – 15.30 WIB)

Prof. Dr. Muhammad Hatta, Ketua Baznas Sumut: “Sukses Story Program Baznas dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat.”

Prof. Dr. Basaruddin, Ketua LPPOM MUI Sumut: “Proses Sertifikasi Halal dan Tantangannya.”

Sesi III (16.00 – 17.30 WIB)

Pimpinan Bank Danamon Syariah Sumut: “Pembiayaan Syariah bagi UMKM.”

Prof. Dr. Saparuddin Siregar, M.A., Ketua Bidang Ekonomi MUI Sumut: “Peran UPZ dan Wakaf Produktif dalam Penguatan Ekonomi Umat.”

Peserta dan Rekomendasi

Kegiatan ini diikuti oleh pengurus PINBAS MUI Sumut dan 50 UMKM binaan dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara. Dalam forum tersebut, para peserta menyepakati pentingnya pembentukan pusat pemasaran produk halal, bahkan diusulkan pengembangan pasar tradisional syariah sebagai wadah penguatan ekonomi umat di Sumatera Utara.

Acara ditutup dengan pernyataan penutup oleh Drs. Putrama Alkhairi, CWC, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak atas dukungan dan partisipasi aktifnya. Ia menegaskan komitmen PINBAS MUI Sumut untuk terus berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi syariah di daerah.

Bidang/Komisi Dakwah MUI Sumut Seminarkan Hasil Penelitian Peta Dakwah Daerah Perbatasan

muisumut.or.id., Medan, 14 Oktober 2026, Bidang/Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara  mengadakan Focus Group Discussion (FGD) terkait persiapan untuk Penelitian Maping/ Peta Dakwah di daerah perbatasan Provinsi Sumatera Utara. Adapun daerah yang dipilih ada dua kabupaten, Pertama : Kabupaten Labuhan Batu Selatan tepatnya di kecamatan Torgamba yang berbatasan dengan Kabupaten Rokan hilir provinsi Riau, penelitian ini telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 11 Agustus 2025. Dan Kedua : Kabupaten Langkat tepatnya di kecamatan besitang yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh. Penelitian tersebut juga telah dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 23 Agustus 2025.

Setelah melaksanakan penelitian di kedua daerah tersebut, Bidang/Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara melaksanakan Seminar Hasil penelitian pada hari Senin, 13 Oktober 2025 di Kantor Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Jl Sutomo Medan. Turut hadir dalam Kegiatan Seminar Hasil Penelitian ini Ketua Bidang Dakwah MUI Sumatera Utara Prof Dr. H. Mohammad Hatta, Sekertaris Bidang Dakwah MUI Sumatera Utara Dr. H Sugeng Wanto, M.Ag, Ketua Komisi Dakwah Prof. Dr. Abdullah M.Si dan beberapa anggota Bidang/komisi dakwah yang lain.

Ketua Bidang Dakwah MUI Sumatera Utara Prof Dr. H. Mohammad Hatta dalam sambutannya mengatakan bahwa, Hasil dari penelitian ini akan dijadikan buku ke-5 hasil karya Bidang/komisi Dakwah MUI Sumatera Utara, mengingat ini adalah penelitian ke-5 sekaligus terakhir pada priode kepengurusan MUI Sumatera Utara 2020-2025. Beliau melanjutkan bahwa hasil dari penelitian ini harus bisa jadi terobosan bagi MUI Sumatera Utara untuk memberikan solusi-solusi terkait Problematika dan Dinamika Dakwah terkhusus di daerah Perbatasan Provinsi Sumatera Utara.

Sekertaris Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara Dr. H Sugeng Wanto, M.Ag menyampaikan dalam paparannya bahwa dakwah di daerah perbatasan memiliki urgensi yang sangat tinggi. Selain sebagai sarana penyebaran ajaran Islam, dakwah di wilayah ini juga berperan penting dalam menjaga identitas keislaman dan kebangsaan masyarakat. Daerah perbatasan seperti Kecamatan Torgamba merupakan titik temu berbagai arus budaya, migrasi, dan ideologi, sehingga menjadi medan dakwah yang penuh tantangan.

Meskipun demikian, dalam penelitian ini juga ditemukan adanya potensi besar dalam pengembangan dakwah di wilayah tersebut. Salah satunya adalah keberadaan Persatuan Mubaligh Torgamba (PMT), sebuah lembaga lokal yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pembinaan keagamaan masyarakat, termasuk para muallaf. PMT dinilai menjadi garda terdepan dalam menjaga aqidah umat Islam di daerah perbatasan.

Ketua Komisi Dakwah Prof. Dr. Abdulllah, M.Si juga menyampaikan bahwa dakwah di perbatasan tidak hanya sekedar menyampaikan ajaran secara normatif, tetapi juga harus menghadirkan Islam yang solutif, moderat, dan mampu menjawab problematika masyarakat setempat, tekhusus di Kecamatan Besitang Kabupaten langkat yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh. Adapun beberapa berbagai tantangan dakwah di daerah Perbatasan antara lain keterbatasan sarana dan prasarana, minimnya sumber daya dai’ah (SDD), ketergantungan pada pejabat atau penguasa lokal, serta kurangnya koordinasi antar lembaga dakwah. Selain itu, masyarakat juga masih memiliki keterbatasan dalam memahami persoalan khilafiyah dan rentan terhadap pengaruh aliran-aliran baru yang berkembang.

kontributor: Sugeng Wanto

MUI Sumut Soroti Tantangan Remaja di Era Modern Melalui Kajian Rutin

Medan, muisumut.or.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melalui Bidang Perempuan Remaja dan Keluarga menggelar Kajian Rutin Remaja pada Jumat, 11 Oktober 2025 (19 Rabi’ al-Akhir 1447 H). Kajian yang mengangkat tema “Remaja dan Tantangan Zaman” ini menghadirkan Dr. H. Ardiansyah, MA, Wakil Ketua Umum MUI Sumut yang juga merupakan dosen UIN Sumatera Utara.
Dalam paparannya, Dr. Ardiansyah menekankan pentingnya peran remaja sebagai pemimpin masa depan dengan mengutip ungkapan Arab, “Remaja hari ini, pemimpin masa depan” (syabab alyaum rijal al-ghad). Ia menjelaskan bahwa fase perkembangan remaja menuju kematangan emosi dan intelektual terbagi dalam empat tahap: murahiqah (10-15 tahun), fata (15-18 tahun), syabab (18-25 tahun), dan rijal (25-40 tahun).
Potret Buram Kenakalan Remaja
MUI Sumut mencatat berbagai fenomena negatif yang melanda generasi muda saat ini, termasuk tawuran pelajar, pornografi, tindakan kriminal, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas. Namun, Dr. Ardiansyah mempertanyakan apakah adil hanya menyalahkan remaja tanpa melihat peran orangtua yang lalai dalam mengawasi dan mendidik anak.
“Akankah remaja selalu disalahkan? Bagaimana dengan orangtua yang lalai mengawasi dan mendidik anaknya?” ujar Waketum MUI Sumut ini.
Tantangan Era Modern
Kajian ini mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi keluarga Muslim modern, antara lain pengaruh film dan gaya hidup artis, tren fashion yang tidak sesuai syariat, gaya hidup kebarat-baratan termasuk minuman keras dan narkoba, serta maraknya perilaku seks bebas, LGBT, prostitusi, dan kehamilan di luar nikah.
Permasalahan diperparah dengan minimnya pengetahuan agama orangtua, kesibukan bekerja, serta pengaruh negatif lingkungan dan media massa. MUI Sumut juga menyoroti permasalahan internal umat Islam seperti kemiskinan, merosotnya moral, dan budaya korupsi yang kian mengakar.
Strategi Pembinaan Remaja
Dr. Ardiansyah menawarkan sejumlah strategi pembinaan remaja Generasi Z dan Alfa, di antaranya mengembalikan remaja ke masjid sebagai pusat aktivitas, memurnikan pendidikan Islam dari paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme, serta membekali generasi muda dengan keahlian bahasa asing dan kewirausahaan.
Ia juga menekankan pentingnya validasi sosial dengan menciptakan budaya malu, memberikan teladan kebaikan, mendengarkan pendapat remaja, dan memberikan apresiasi atas kebiasaan baik mereka.
Tujuh Kunci Keberhasilan Keluarga
Dalam kajian tersebut, MUI Sumut merumuskan tujuh kunci utama keberhasilan keluarga: menjaga shalat lima waktu, menjauhkan diri dari larangan Allah, patuh kepada orangtua, doa orangtua, berakhlakul karimah, istiqamah dan jujur, serta tekun menuntut ilmu.
Sebagai solusi, MUI Sumut merekomendasikan metode Qur’ani dalam mendidik anak melalui nasihat, dialog, dan kisah-kisah inspiratif, disertai penanaman nilai agama sejak dini, pemberian rezeki halal, doa ikhlas orangtua, dan kasih sayang keluarga.
Dr. Ardiansyah menutup kajian dengan mengingatkan bahwa akhlak mulia adalah inti pendidikan Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Muslim).