Saturday, July 18, 2026
spot_img
Home Blog Page 46

“Muzakarah MUI Sumut: Zamakhsyari Bin Hasballah Thaib, Ph.D. Tekankan Ramadan sebagai Momentum Peningkatan dan Pengamalan Al-Qur’an”

Medan, muisumut.or.id | 16 Maret 2025 – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menggelar Muzakarah Ramadan 1446 H dengan tema “Ramadan Bulan Peningkatan dan Pengamalan Al-Qur’an” pada 16 Ramadan 1446 H / 16 Maret 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali dan memperkuat pemahaman umat Islam terhadap keterkaitan Ramadan dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang harus diamalkan dalam setiap aspek kehidupan.

Al-Qur’an dan Ramadan: Keterikatan yang Erat

Dalam muzakarah ini, Zamakhsyari Bin Hasballah Thaib, Ph.D., sebagai pemateri utama, menegaskan bahwa Ramadan disebut sebagai Syahrul Qur’an karena pada bulan ini Al-Qur’an diturunkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (QS. Al-Baqarah: 185).

Beliau menjelaskan bahwa selama Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an melalui membaca, memahami, mentadaburi, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bentuk Interaksi Manusia dengan Al-Qur’an

Dalam muzakarah ini, dijelaskan berbagai bentuk interaksi manusia dengan Al-Qur’an yang seharusnya lebih ditingkatkan selama Ramadan, di antaranya:

Membaca dan Menghafal – Memperbanyak tilawah dan menghafalkan Al-Qur’an, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengulang bacaan Al-Qur’an bersama Jibril setiap Ramadan.
Mentadabburi – Merenungi makna ayat-ayat Al-Qur’an dan mengambil pelajaran darinya.
Mengamalkan dalam Kehidupan – Mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam akhlak, keluarga, pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Ditegaskan juga bahwa membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan memiliki keutamaan luar biasa, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Peringatan Terhadap Hajrul Qur’an (Meninggalkan Al-Qur’an)

Salah satu pembahasan utama dalam muzakarah ini adalah fenomena Hajrul Qur’an atau meninggalkan Al-Qur’an, yang telah Rasulullah ﷺ keluhkan kepada Allah:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.'” (QS. Al-Furqan: 30)

Terdapat beberapa bentuk hajrul Qur’an, di antaranya:

❌ Tidak membaca atau mendengarkan Al-Qur’an.
❌ Tidak memahami atau mentadabburi maknanya.
❌ Tidak mengamalkannya dalam kehidupan.
❌ Tidak menjadikannya sebagai sumber hukum dan solusi dalam berbagai aspek kehidupan.

Ramadan sebagai Waktu Tepat untuk Mengamalkan Al-Qur’an

Muzakarah ini menekankan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup. Al-Qur’an harus menjadi cahaya yang menuntun umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam akhlak, keluarga, pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Kesimpulan dan Ajakan

Muzakarah Ramadan ini mengajak seluruh umat Islam untuk:

Memperbanyak membaca dan memahami Al-Qur’an di bulan Ramadan.
Mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber hukum dan petunjuk hidup.

Diharapkan dengan muzakarah ini, Ramadan tidak hanya menjadi momen ibadah ritual, tetapi juga momentum transformasi spiritual dan sosial berbasis nilai-nilai Al-Qur’an.

“Mari jadikan Ramadan sebagai bulan peningkatan dan pengamalan Al-Qur’an untuk membangun peradaban Islam yang lebih baik.”

Kegiatan muzakarah ini juga bisa diikuti secara lengkap dengan mengikuti channel youtube MUI Sumatera Utara klik disini

Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara Kembali Terima Kunjungan Konjen Singapura DR. Edmund Chia

Medan, muisumut.or.id, Medan,   Konsul Jenderal Singapura Medan DR. Edmund Chia dan stafnya Vincent Lorintus kembali berkunjung ke Kantor Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Kamis (13/3/2025)
Kehadiran Konsul Singapura ini diterima langsung oleh Ketua Umum MUI-SU Buya DR. H. Maratua Simanjuntak didampingi Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, KH Akhyar Nasution, Sekretaris Bidang Ukhuwah Drs. H.T. Darmansyah, MA dan Kepala Tata Usaha MUI-SU Muhammad Puadi Harahap, SH., M.Pd

Dalam bertemuan yang penuh keakraban terlihat Bahasa Indonesia Konsul Jenderal telah mengalami perkembangan yang begitu pesat dibandingkan dua tahun yang lalu.

Dalam sambutannya Konjend menjelaskan bahwa Singapore mempunyai kepentingan politik yang cukup besar dengan Indonesia. Di samping sebagai negara sahabat, bagi Singapore Indonesia juga adalah negara besar yang akan berperan penting di kawasan Asia Tenggara.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit Ketua Umum MUI-SU dan Konjend juga membicarakan tentang penetapan awal Ramadhan dan 1 Syawal
Menurut buya Ketua Umum MUI-SU sejak empat tahun ini, Indonesia mulai menggunakan kriteria baru penentuan awal bulan Hijriyah. Kriteria itu mengacu hasil kesepakatan Menteri Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada 2021.

Selama ini, kriteria hilal (bulan) awal Hijriyah adalah ketinggian 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam. MABIMS bersepakat untuk mengubah kriteria tersebut menjadi ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan surat bersama ad referendum pada 2021 terkait penggunaan kriteria baru MABIMS di Indonesia mulai 2022.

“Kriteria MABIMS Baru ini merupakan hasil Muzakarah Rukyah dan Takwim Islam MABIMS pada tahun 2016 di Malaysia yang diperkuat oleh Seminar Internasional Fiqh Falak di Jakarta yang menghasilkan Rekomendasi Jakarta tahun 2017. Oleh karena itu, Kementerian Agama menetapkan untuk menggunakan kriteria baru yang disepakati oleh negara-negara anggota MABIMS dan keadaan puasa di Medan dan Singapore.

Di sela-sela pembicaan Ketum MUI-SU dan Konjen juga membahas tentang dampak buruk korupsi terhadap negara.
Termasuk hukuman mati bagi pelaku korupsi besar.

Pada akhir acara Konjen Singapura menyerahkan secara simbolik 90 paket hadiah untuk pengurus MUI-SU dan bantuan bagi kaum dhuafa. Acara yang berlangsung sekitar satu jam dengan penuh keakraban ditutup dengan bertukar cenderamata dan sesi foto bersama.

Kontributor: KH Akhyar Nasution

Perkuat Gerakan Wakaf, P2WP MUI Sumut Akan Melebur ke Lembaga Wakaf MUI

0

Medan, muisumut.or.id | 12 Maret 2025 – Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Sumatera Utara terus memperkuat gerakan wakaf produktif melalui rangkaian safari di lima kabupaten/kota. Pada kesempatan keempat ini, sosialisasi digelar di Aula Kantor MUI Kota Medan, dihadiri para pengurus MUI Medan serta para Ketua MUI Kecamatan se-Kota Medan.

Acara yang berlangsung dari pukul 17.00 WIB hingga berbuka puasa bersama ini menghadirkan Direktur P2WP, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum., Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat, Prof. Dr. Saparuddin Siregar, serta tim P2WP, yaitu Rustam, MA., Fahri Roja Sitepu, dan Ari Syahputra. Hadir pula Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan, Drs. Burhanuddin Damanik, Ketua Komisi Fatwa, Dr. Amar Adly, Lc., MA., serta sekitar 50 pengurus MUI lainnya.

P2WP Bersiap Melebur ke Lembaga Wakaf MUI

Dalam pemaparannya, Dr. Akmaluddin Syahputra menjelaskan bahwa saat ini MUI mengembangkan empat model wakaf, yaitu Cash Waqf Linked Deposit (CWLD), Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS), Reksadana Syariah Berbasis Wakaf, dan Wakaf Produktif dalam bentuk perkebunan, properti, dan retail. Ia menyoroti pentingnya literasi wakaf di masyarakat, mengingat pengalaman MUI Sumut dalam mengembangkan bisnis perkebunan sawit pada 2013 belum berjalan optimal karena kurangnya pemahaman terkait wakaf produktif.

Namun, lanjutnya, MUI Sumut kembali merintis gerakan wakaf pada 2017 dalam bentuk retail, yang hingga kini telah mengelola aset sebesar Rp600 juta. “Saatnya kita mengembangkan gerakan ini secara lebih strategis dan masif. Oleh karena itu, kita akan memperkuat sinergi dengan MUI Pusat dan meleburkan P2WP menjadi Lembaga Wakaf MUI, yang nantinya akan diketuai oleh Prof. Dr. Saparuddin Siregar,” ujar Akmaluddin.

Membangun Gerakan Wakaf yang Lebih Besar

Akmaluddin menekankan bahwa peleburan ini merupakan langkah besar dalam membangun gerakan wakaf nasional yang lebih terorganisir dan berkelanjutan. Dengan menyatu ke dalam Lembaga Wakaf MUI, gerakan wakaf produktif di Sumatera Utara dapat lebih berkembang dengan dukungan yang lebih luas, baik dari pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat.

Safari Gerakan Wakaf Produktif ini telah sukses digelar di Kabupaten Serdang Bedagai, Binjai, dan Pematangsiantar. Kota Medan menjadi lokasi keempat sebelum akhirnya safari ini akan ditutup di Kabupaten Karo pada 17 Maret mendatang.

Melalui langkah strategis ini, P2WP MUI Sumut berharap semakin banyak umat Islam yang terlibat dalam gerakan wakaf produktif, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas bagi pembangunan ekonomi umat dan kesejahteraan masyarakat.

Direktur P2WP Dr. Akmaluddin Syahputra Sampaikan Tausiyah di Masjid Al-Amin dalam Rangkaian Safari Ramadan 1446 H

0

Pematangsiantar, muisumut.or.id | 11 Maret 2025 – Dalam rangkaian Safari Ramadan 1446 H, Direktur Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum., menyampaikan tausiyah di Masjid Al-Amin, Kota Pematangsiantar. Kegiatan ini turut didampingi oleh Tim P2WP yang terdiri dari Rustam, M.A., Fahri Roza Sitepu, M.H., Ari Syahputra, dan Syahrul. Hadir pula Tim Safari Ramadan Kota Pematangsiantar, termasuk Sekretaris Umum MUI Kota Pematangsiantar, H. Ahmad Ridwansyah Putra, serta unsur Dewan Pimpinan lainnya.

Rasulullah: Teladan dalam Kedermawanan

Dalam tausiyahnya, Dr. Akmaluddin Syahputra menekankan bahwa Rasulullah ﷺ adalah sosok yang sangat pemurah, terutama di bulan Ramadan. Ia mengajak jamaah untuk senantiasa berinfak dan bersedekah, meskipun dalam kondisi sulit.

“Teruslah menjadi pemurah, teruslah berinfak dan bersedekah, sebagaimana yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. InsyaAllah, Allah akan menggantinya dengan rezeki yang lebih baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Akmaluddin menjelaskan bahwa jika seseorang yang telah meninggal dihidupkan kembali, ibadah yang pertama kali ingin mereka lakukan bukanlah shalat, puasa, atau haji, tetapi sedekah.

“Sedekah adalah ibadah yang istimewa, karena dengan bersedekah, kita sedang meniru salah satu sifat Allah, yaitu Maha Pemurah. Kita juga sedang meneladani Rasulullah ﷺ yang terkenal dengan kedermawanannya,” jelasnya.

Kasih Sayang Allah: Kunci Masuk Surga

Dalam tausiyahnya, Dr. Akmaluddin juga menekankan bahwa kasih sayang Allah-lah yang akan memasukkan seseorang ke dalam surga, bukan semata-mata amal ibadahnya. Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ:

“Sayangilah makhluk Allah yang ada di bumi, maka Allah yang di langit akan menyayangimu.” (HR. Tirmidzi)

Menurutnya, ketika seseorang bersedekah, ia sedang menanam benih kasih sayang di dunia, yang kelak akan berbuah di akhirat.

“Bukankah kita masuk surga karena kasih sayang Allah? Maka, mari kita perbanyak sedekah, karena dengan bersedekah, kita mendekatkan diri kepada kasih sayang-Nya,” tuturnya.

Acara tausiyah ini diakhri dengan memberikan bingkisan kepada BKM Masjid dan mendapat sambutan hangat dari jamaah Masjid Al-Amin. Safari Ramadan P2WP MUI Sumut di Kota Pematangsiantar diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk semakin aktif dalam gerakan wakaf produktif dan memperkuat semangat berbagi selama bulan suci Ramadan.

Safari Ramadan P2WP MUI Sumut di Siantar: Komitmen Menjadi Kota Wakaf Produktif

0

Pematangsiantar, muisumut.or.id | 11 Maret 2025 – Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara kembali menggelar Safari Ramadan 1446 H dengan fokus pada penguatan gerakan wakaf produktif. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor MUI Kota Pematangsiantar dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Ketua Umum MUI Kota Pematangsiantar, Drs. H.M. Ali Lubis, Sekretaris Umum H. Ahmad Ridwansyah Putra, serta unsur Dewan Pimpinan dan Ketua MUI Kecamatan se-Pematangsiantar. Turut hadir Deputi Gubernur Bank Indonesia Pematangsiantar, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag), perwakilan Badan Wakaf Indonesia, serta ormas Islam lainnya.

Mendorong Kemandirian Ekonomi Umat Melalui Wakaf Produktif

Pematangsiantar menjadi kota ketiga dari lima kota yang dikunjungi dalam Safari Ramadan P2WP MUI Sumut tahun ini. Kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus forum strategis untuk membahas peran wakaf produktif dalam membangun kemandirian ekonomi umat.

Direktur P2WP MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum. didampingi Tim P2WP Rsutam MA, Fahri Roja, Ari Syahputra serta Syahrul, Akmal menegaskan bahwa wakaf produktif bukan hanya ibadah, tetapi juga solusi ekonomi bagi umat.

“Wakaf bukan hanya sekadar ibadah, tetapi juga solusi ekonomi bagi umat. Dengan pengelolaan yang profesional, wakaf dapat menjadi sumber daya ekonomi yang mampu mendukung berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan UMKM,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa gerakan wakaf produktif harus didukung dengan regulasi yang kuat serta sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan sektor keuangan syariah.

Dukungan dari Berbagai Pihak

Dalam sesi sambutan, Muqarabin, Deputi Direktur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, menyampaikan apresiasi terhadap peran aktif MUI dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait ekonomi syariah dan wakaf produktif.

“Kami dari BI menyambut baik kegiatan ini dan siap mendukung MUI dalam mendorong wakaf produktif. Kami juga akan berkolaborasi untuk mereplikasi serta memodifikasi konsep ini agar lebih optimal dalam penerapannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pematangsiantar, Al Ahyu, M.A., menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung gerakan wakaf produktif.

“Kami siap berkolaborasi untuk menjadikan Kota Pematangsiantar sebagai kota wakaf yang berkembang dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” ujar Al Ahyu.

Diskusi dalam forum ini mengungkap beberapa tantangan utama dalam pengembangan wakaf produktif di Kota Pematangsiantar, antara lain kurangnya literasi masyarakat tentang wakaf produktif, isu trust (kepercayaan), serta pentingnya tata kelola yang transparan dan profesional.

MUI Pematangsiantar Siap Bentuk Lembaga Wakaf

Sebagai langkah konkret, Ketua Umum MUI Kota Pematangsiantar, Muhammad Ali Lubis, menyatakan kesiapan MUI untuk membentuk Lembaga Wakaf guna mendukung pengelolaan wakaf yang lebih produktif dan terstruktur.

“Kami akan segera membentuk lembaga khusus untuk wakaf produktif agar dapat dikelola secara lebih baik dan memberikan manfaat nyata bagi umat,” tegasnya.

Safari Ramadan ini diharapkan dapat menjadi momentum dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya wakaf produktif sebagai instrumen penguatan ekonomi umat. Dengan kolaborasi yang erat antara MUI, pemerintah, perbankan syariah, serta masyarakat, Kota Pematangsiantar diharapkan dapat menjadi salah satu model kota wakaf produktif di Sumatera Utara.

Safari Ramadan P2WP MUI Sumut di Binjai: Membangun Kemandirian Ekonomi Umat Melalui Wakaf Produktif

0

Binjai, muisumut.or.id | 9 Maret 2025 – Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara terus menggencarkan gerakan wakaf produktif dalam rangkaian Safari Ramadan 1446 H. Setelah sukses di Kabupaten Serdang Bedagai, hari ini 9 Maret 2025 kegiatan serupa digelar di halaman kantor MUI Kota Binjai.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga forum strategis untuk membahas wakaf produktif sebagai solusi membangun kemandirian ekonomi umat. Hadir sebagai narasumber Direktur P2WP MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum., didampingi tim P2WP, yakni Rustam, M.A., Ari Syahputra, Fahri Roja Sitepu, M.HI., dan Syahrul, S.Pd.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 100 orang termasuk  Wali Kota Binjai, Drs. H. Amir Hamzah, M.AP.; Wakil Wali Kota Binjai, Hasanul Jihadi, S.H., S.Sos., M.Kn.; Ketua Umum MUI Binjai, Prof. Dr. H. M. Jamil, M.A.; serta Sekretaris Umum MUI Binjai, Dr. H. Ahmad Khairul Badri, M.Pd.I.,

Tiga Tantangan Wakaf Produktif

Dalam pemaparannya, Dr. Akmaluddin Syahputra menyoroti tiga tantangan utama dalam pengembangan wakaf produktif yang masih dihadapi masyarakat saat ini:

  1. Kurangnya Literasi Wakaf

    “Tahun 2013, MUI Sumut sudah meluncurkan gerakan wakaf kebun sawit, tetapi karena literasi masyarakat tentang wakaf produktif belum kuat, program ini belum berhasil optimal,” jelasnya.
    Banyak masyarakat yang masih menganggap wakaf sebatas tanah atau bangunan untuk masjid dan madrasah, padahal wakaf produktif dan wakaf uang bisa menjadi instrumen ekonomi yang berkelanjutan.

  2. Minimnya Kolaborasi dan Sinergi
    Program wakaf sering berjalan secara parsial dan kurang terkoordinasi. Oleh karena itu, diperlukan Pembentukan Lembaga Wakaf MUI yang terstruktur dari pusat hingga daerah serta sinergi dengan lembaga keuangan syariah, pengusaha muslim, Bank Indonesia, dan BAZNAS.

  3. Kurangnya Profesionalisme dalam Pengelolaan Wakaf
    Banyak nazhir (pengelola wakaf) belum memiliki kapasitas yang memadai dalam mengelola aset wakaf secara produktif. Oleh karena itu, P2WP MUI Sumut mendorong pelatihan dan sertifikasi nazhir untuk memastikan wakaf dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Komitmen Pemerintah dan MUI Binjai

Ketua Umum MUI Binjai, Prof. Dr. H. M. Jamil, M.A., menyambut baik inisiatif ini dan menegaskan bahwa MUI Binjai akan segera menindaklanjuti pembentukan Lembaga Wakaf Kota Binjai. Hal ini mendapat dukungan dari Sekretaris Umum MUI Binjai, Dr. H. Ahmad Khairul Badri, M.Pd.I., yang menegaskan pentingnya langkah konkret dalam mewujudkan wakaf produktif sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat.

Sementara itu, Wali Kota Binjai, Drs. H. Amir Hamzah, M.AP., menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh inisiatif ini.

“Pemerintah Kota Binjai siap mendukung kegiatan ini karena wakaf produktif merupakan salah satu solusi strategis dalam meningkatkan kesejahteraan umat dan membangun ekonomi syariah yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan adanya sinergi antara MUI, pemerintah, dan dunia usaha, diharapkan gerakan wakaf produktif dapat semakin berkembang di Kota Binjai dan menjadi katalisator kemandirian ekonomi umat di Sumatera Utara.

MUI Sumut di Masjid Al-Fatih Binjai: Infak untuk Palestina, Bukti Kepedulian Umat

0

Binjai, muisumut.or.id | 9 Maret 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengajak umat Islam untuk terus menunjukkan kepedulian terhadap Palestina melalui infak dan sedekah. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum., yang juga Direktur Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Sumut, dalam rangkaian Safari Ramadan yang digelar di Masjid Al-Fatih, Binjai.

Dalam tausiyahnya, Dr. Akmaluddin menekankan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan hanya soal politik, tetapi juga bukti kepedulian dan solidaritas kemanusiaan yang diajarkan Islam.

“Saudara kita di Palestina sangat membutuhkan bantuan. Berapa pun yang kita infakkan, akan menentukan posisi kita: apakah kita benar-benar bersama mereka atau tidak. Ini adalah ujian kepedulian kita sebagai umat Islam,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa infak dan wakaf bukan hanya untuk membantu sesama, tetapi juga merupakan investasi akhirat. Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana sedekah dan wakaf menjadi instrumen kebaikan yang terus mengalirkan manfaat.

“Jika anak Adam wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,” ujar Dr. Akmaluddin mengutip hadis Nabi SAW.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan Ramadan sebagai momentum meningkatkan sedekah dan wakaf. Ia mencontohkan bagaimana Wakaf Kebun Umar di Khaibar dan Wakaf Sumur Utsman terus memberikan manfaat bagi umat Islam hingga saat ini, termasuk dalam bentuk Hotel Utsman di Madinah.

“Masjid Al-Fatih yang kita tempati ini pun berdiri berkat wakaf. Ini membuktikan bahwa wakaf adalah solusi untuk membangun kemandirian umat secara berkelanjutan,” tambahnya.

Safari Ramadan MUI Sumut di Masjid Al-Fatih Binjai ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat solidaritas dengan sesama, baik melalui infak untuk Palestina maupun dengan berwakaf untuk membangun kemandirian ekonomi umat.

MUI Sumut Berduka, Ketua Umum MUI Tapanuli Selatan KH Ahmad Gozali Siregar Berpulang

Tapanuli Selatan, muisumut.or.id | Ahad, 9 Maret 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berduka atas wafatnya Ketua Umum MUI Tapanuli Selatan, Buya KH Ahmad Gozali Siregar. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 8 Maret 2025, dan disemayamkan di Pesantren Jabalul Madaniah, Sijunjungkang, Tapanuli Selatan, Ahad, 9 Maret 2025.

Prosesi pemberangkatan jenazah dihadiri oleh para ulama, pimpinan pondok pesantren, santri, serta masyarakat yang datang memberikan penghormatan terakhir. Mewakili Ketua Umum MUI Sumut, hadir Ketua Bidang Ukhuwah MUI Sumut, Drs. H. Hatta Siregar, M.Si., didampingi KTU Sekretariat MUI Sumut, Mhd Fuadi Harahap, S.H., M.Pd.

MUI Sumut: Kehilangan Besar bagi Umat

Dalam sambutannya, Drs. H. Hatta Siregar, M.Si., menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas kepergian almarhum.

“Buya KH Ahmad Gozali Siregar adalah seorang ulama kharismatik yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk dakwah dan pembinaan umat. Beliau telah meninggalkan jejak perjuangan yang luar biasa, baik melalui MUI Tapanuli Selatan maupun Pesantren Jabalul Madaniah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, dan perjuangannya dapat kita lanjutkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa MUI Sumut kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, yang selama ini konsisten dalam membina umat, memperjuangkan nilai-nilai Islam, serta memperkokoh persatuan ulama di Sumatera Utara.

“MUI Sumut turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kami berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini,” tambahnya.

Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Selatan Sampaikan Belasungkawa

Turut hadir dalam prosesi, Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, dan Wakil Bupati, Dr. Ja’far Syahbuddin Ritonga, yang juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya almarhum.

Dr. Ja’far Syahbuddin Ritonga, yang memiliki kedekatan khusus dengan MUI Sumut, karena sebelumnya menjabat sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut, menyampaikan rasa kehilangan mendalam.

Dimakamkan dengan Penuh Penghormatan

Seusai prosesi pelepasan, jenazah almarhum dimakamkan dengan penuh penghormatan di lingkungan pesantren yang telah beliau besarkan. Kepergian Buya KH Ahmad Gozali Siregar menjadi kehilangan besar bagi umat Islam di Tapanuli Selatan, khususnya bagi para santri dan masyarakat yang selama ini mendapat bimbingannya.

MUI Sumut berharap nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan oleh almarhum dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya, sehingga Islam tetap menjadi sumber kekuatan dalam membangun peradaban umat.

MUI Sumut Gelar Muzakarah Ekonomi dan Pinbas Weekend Market: Strategi Membangun Daya Saing Entrepreneur Muslim

Medan, muisumut.or.id |Ahad, 9 Maret 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melalui BIdang/Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan  Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (Pinbas) MUI Sumut sukses menggelar Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis serta Pinbas Weekend Market pada Ahad, 9 Maret 2025.

Rangkaian acara ini mencakup tiga agenda utama:

  1. Sekolah Bisnis (08.30 – 12.30 WIB) di Ruang Rapat LPPOM MUI Sumut, terbatas untuk 25 entrepreneur.
  2. Bazar UMKM Mitra dan Binaan Pinbas MUI Sumut (10.00 – 18.00 WIB) di Halaman MUI Sumut.
  3. Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis (14.00 – 17.00 WIB) di Ruang Rapat Utama MUI Sumut.

Sekolah Bisnis: Meningkatkan Kapasitas Entrepreneur Muslim

Pada sesi Sekolah Bisnis, hadir sebagai narasumber:

  • Dr. Fikri (JNE), membahas strategi penguatan jaringan bisnis berbasis logistik dan distribusi.
  • Cahyo Pramono, MBA (Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut), mengupas strategi praktis dalam membangun bisnis yang kompetitif di era digital.

Program ini bertujuan untuk membangun mata rantai bisnis berbasis syariah dengan meningkatkan daya saing entrepreneur Muslim agar lebih tangguh dalam menghadapi persaingan global.

Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis: Membangun Ekosistem Bisnis Syariah

Acara pembukaan Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis secara resmi dibuka oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak. Dalam sambutannya, Maratua menegaskan kembali dua peran utama MUI, yaitu sebagai mitra pemerintah dan pemelihara umat melalui tausiyah dan fatwa.

“MUI adalah tenda besar umat Islam. Peran kita tidak hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam bidang ekonomi. MUI dan pemerintah melakukan pekerjaan yang sama dalam membangun kesejahteraan umat, termasuk dalam penguatan ekonomi berbasis syariah,” ujar Maratua.

Diskusi dalam Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh, di antaranya:

  1. Prof. Dr. Saparudin Siregar (Ketua Bidang Ekonomi MUI Sumut) – Membangun Mata Rantai Peningkatan Daya Saing Entrepreneur Muslim.
  2. Dr. Fikri (Pimpinan JNE) – Peluang Kemitraan Bisnis Distribusi dan Logistik.
  3. Dr. Dedi Masri  Success Story Profesional dan Pengusaha Muslim.

Putrama Al Khari, selaku Ketua Panitia, menyoroti pentingnya strategi dan komunikasi dengan pemerintah untuk memperkuat ekosistem bisnis Muslim.

“Kita sudah sangat terpinggirkan. Kita harus fokus dan berstrategi. Bisnis berbasis syariah harus mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Kita melihat peluang besar untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi yang kuat. Di Sumatera Utara, kita melihat bagaimana konglomerat lokal mengalami kemunduran, seperti runtuhnya Garuda Plaza. Namun, ada contoh sukses seperti Toko Aceh yang mampu bersaing dengan Indomaret dan jaringan ritel besar lainnya. Artinya, kita bisa membangun sistem bisnis berbasis syariah yang kuat jika bersatu,” ujar Putrama.

Ceramah Menjelang Berbuka Puasa Ramadhan 1446 H: Menjadi Pribadi Bertaqwa Melalui Puasa

Medan, muisumut.or.id – 8 Maret 2025 – Dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah, Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI SU) menyelenggarakan ceramah menjelang berbuka puasa yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA, Ketua Bidang Pendidikan, Pemuda, dan Kaderisasi MUI SU sekaligus Direktur PTKU MUI SU. Ceramah yang berlangsung pada Sabtu, 8 Ramadhan 1446 H, mengangkat tema “Bagaimana Menjadi Pribadi Yang Bertaqwa Dengan Berpuasa?”

Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution membuka ceramah dengan mengutip ayat Al-Qur’an dari Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan bahwa tujuan akhir dari puasa adalah untuk mencapai derajat takwa. “Awal dari Ramadhan adalah iman, dan sasaran akhirnya adalah takwa. Allah SWT mewajibkan puasa agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa,” jelasnya.

Beliau menjelaskan bahwa takwa dalam istilah agama adalah kesiapan untuk melaksanakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. “Puasa Ramadhan adalah rangkaian perintah dan larangan. Kita diperintahkan untuk berpuasa dan dilarang melakukan hal-hal yang membatalkan puasa,” tambahnya.

Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution menekankan pentingnya memahami perbedaan antara saum dan siam. “Saum adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, sedangkan siam adalah menahan diri dari segala yang dilarang oleh agama, termasuk yang membatalkan pahala puasa,” ujarnya.

Beliau mengingatkan bahwa puasa yang ideal adalah puasa yang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan dan perbuatan yang dapat merusak pahala puasa. “Kita harus menjauhi perkataan jorok, caci maki, iri, dan dengki. Dengan demikian, kita dapat mencapai derajat takwa yang dijanjikan Allah SWT,” tegasnya.

Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution menutup ceramah dengan mengajak umat Islam untuk memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. “Orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar dari setiap masalah di dunia dan balasan surga di akhirat. Mari kita laksanakan puasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya agar kita dapat meraih gelar takwa,” tutupnya.

Ceramah ini diharapkan dapat memberikan pencerahan dan motivasi bagi umat Islam untuk lebih serius dalam menjalankan ibadah puasa, sehingga dapat menjadi pribadi yang bertakwa dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.