Thursday, March 5, 2026
spot_img
Home Blog Page 45

Infokom MUI Sumut Kunjungi Makam Ulama Syekh Mukmin Azis Pulungan yang Berusia Sekitar 200 Tahun

0

Padang Lawas, nuisumut,or.id., 22 November 2024 – Dalam rangkaian kegiatan liputan daerah khazanah Keislaman, Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melaksanakan ziarah ke makam ulama besar Syekh H. Mukmin Azis Pulungan yang terletak di area pemakaman umum belakang Pesantren Al Hakimiyah, Desa Paringgonan, Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas.

Ziarah ini dilakukan setelah mengunjungi makam Sultan Hamid (Jiret Martuah), meskipun telah melewati waktu senja dan dilaksanakan setelah matahari terbenam. Dalam suasana penuh khidmat, rombongan Infokom MUI Sumut melanjutkan perjalanan menuju makam Syekh Mukmin sebagai bentuk menggali dan mengkonfirmasi data serta penghormatan atas jasa besar beliau dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Rombongan turut didampingi oleh Ustadz Drs. Rohyan, M.Pd., tokoh agama setempat, yang memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah perjuangan Syekh Mukmin. Dikenal sebagai ulama yang melanglang buana menuntut ilmu hingga ke Malaysia dan Makkah, Syekh Mukmin memperdalam ilmu agama selama lima tahun di tanah suci. Dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya, ia terus memperkaya ilmunya dari berbagai ulama. Setibanya di Paringgonan, Syekh Mukmin berjuang memurnikan akidah masyarakat dari pengaruh animisme yang saat itu masih kuat.

Menurut Ustadz Rohyan, M.Pd., dedikasi Syekh Mukmin dalam berdakwah tidak hanya membuahkan pengajaran agama yang kokoh tetapi juga melahirkan generasi penerus yang melanjutkan misi keagamaannya. “Beliau adalah figur yang menanamkan pondasi keislaman di tengah tantangan besar. Peninggalannya masih dirasakan hingga kini melalui pengajian dan pendidikan yang dilanjutkan oleh keturunannya,” ujarnya.

Ketua Infokom MUI Sumut menegaskan pentingnya mengenang jasa ulama seperti Syekh Mukmin Azis Pulungan sebagai inspirasi generasi muda. “Syekh Mukmin adalah teladan dalam menuntut ilmu dan keberanian berdakwah. Kita belajar dari kegigihan dan keikhlasannya dalam menyebarkan Islam,” tuturnya.

Ziarah ini diakhiri dengan doa bersama, memohon agar semangat dakwah Syekh Mukmin tetap hidup dan terus menginspirasi umat Islam di Padang Lawas. Makam beliau yang telah berusia sekitar 200 tahun ini menjadi saksi perjuangan dakwah dan dedikasi yang tak lekang oleh waktu.

Tim Infokom MUI Sumut Berziarah ke Makam Khalifah Lobe Jabal di Padang Lawas Utara

Padang Lawas Utara, muisumut.or.id., Sabtu, 23 November 2024 – Tim Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melakukan ziarah ke makam Khalifah Lobe Jabal di Desa Purbasinomba, Kabupaten Padang Lawas Utara. Ziarah ini dipimpin oleh Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, dan didampingi oleh Rustam, MA, Ari Syahputra, serta Muhammad Mulyo Ponconiti. Tim Infokom juga disertai oleh Muhammad Ali Harahap, M.Pd., dari MUI Kabupaten Padang Lawas Utara, yang turut mendampingi dalam kegiatan ini.

Makam Lobe Jabal terletak di ujung Desa Purbasinomba, dengan jarak tempuh sekitar 1 kilometer dari Gunungtua, ibukota Kabupaten Padang Lawas Utara. Untuk mencapai lokasi makam, pengunjung harus menyeberangi Sungai Batang Pane dan melewati sawah selama sekitar 1 kilometer. Makam tersebut berada di samping pohon aloban, dengan ukuran makam sekitar 3 meter persegi (2 x 3 meter).

Sejarah Lobe Jabal, meskipun tidak banyak diketahui oleh orang luar, menjadi bahan perbincangan yang menarik di kalangan warga setempat. Sosok Lobe Jabal dikenal karena memiliki kelebihan yang luar biasa, yang jarang dimiliki oleh orang lain. Muhammad Ali Harahap mengungkapkan bahwa Lobe Jabal dikenal memiliki kemampuan istimewa, seperti menyeberangi sungai tanpa basah, serta bisa bergerak lebih cepat daripada kendaraan. Pada suatu kejadian, meskipun tidak dapat menaiki mobil karena penuh, Lobe Jabal tetap sampai ke pasar hanya dengan berjalan kaki, lebih cepat daripada kendaraan yang ditujunya.

Lobe Jabal meninggal pada tahun 1955 setelah menderita sakit tanpa pernah mengeluh. Meskipun kelebihan yang dimilikinya, ia tetap menjadi manusia biasa yang harus menghadapi sakit. Kepergiannya di malam Sabtu tersebut dihadiri oleh banyak orang dari berbagai desa.

Kisah keajaiban terus berlanjut setelah kematiannya. Saat makamnya digali, para penggali tercium bau harum yang sangat mirip minyak kasturi. Tanah di sekitar makam pun diambil dan ditemukan masih berbau wangi. Keajaiban lainnya terjadi setelah makam Lobe Jabal dikebumikan, di mana makam tersebut bersinar terang pada malam hari, seakan disinari lampu. Cahaya tersebut bertahan selama 30 malam berturut-turut.

Hingga saat ini, makam Lobe Jabal terus dikunjungi oleh banyak orang yang datang untuk berziarah dan mendoakan berkah. Tim Infokom MUI Sumut, bersama dengan MUI Kabupaten Padang Lawas Utara, mengadakan doa bersama di makam tersebut sebagai bagian dari kegiatan ziarah ini.

Ziarah ini mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga dan menghormati sejarah serta kepercayaan lokal yang diwariskan oleh para leluhur. Semoga kehadiran tim dan doa bersama ini membawa berkah bagi semua pihak yang terlibat.

Tim Infokom MUI Sumut Kunjungi Pesantren Mukhtariyah Sungaidua, Padang Lawas Utara

Padang Lawas Utara, muisumut.or.id., Sabtu, 23 November 2024 – Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI Sumatera Utara yang dipimpin oleh Ketua Bidang Infokom, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, mengunjungi Pesantren Al Mukhtariyah Sungaidua di Desa Portibi Jae, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara. Pesantren ini memiliki sejarah panjang, berdiri sejak tahun 1932, dan menjadi salah satu pesantren tertua di kawasan tersebut.

Rombongan Tim Infokom disambut langsung oleh pimpinan pesantren, Drs. H. MH. Syahrizal El Mukhtary, M.A., di kantor Yayasan Mukhtariyah. Dalam pertemuan tersebut, Tim Infokom mendalami sejarah perjuangan pendiri pesantren, Tuan Mukhtar, yang menjadi pelopor pendidikan Islam dengan sistem modern di masanya.

Perjalanan Inspiratif Tuan Mukhtar

Tuan Mukhtar, pendiri pesantren, dikenal sebagai ulama yang penuh perjuangan. Di usia 13 tahun, ia merantau ke Makkah melalui jalur Malaysia dan menempuh perjalanan selama 12 tahun. Dalam perjalanannya, ia singgah di beberapa negara seperti Malaysia, Patani, India, dan Pakistan untuk menimba ilmu sebelum akhirnya tiba di Makkah. Selama 5 tahun di Makkah, ia mendalami ilmu agama dan mempersiapkan diri untuk kembali ke tanah air.

Sekembalinya ke Indonesia pada usia sekitar 30 tahun, Tuan Mukhtar membawa semangat perubahan. Ia membawa berbagai barang unik, termasuk dua buah pistol yang disembunyikan di dalam buku dan tas, serta timbangan emas, yang kala itu menjadi hal langka di daerahnya. Pada tahun 1932, ia berhasil mengumpulkan masyarakat untuk mendirikan pesantren dengan sistem pendidikan modern.

Pesantren Pertama dengan Sistem Kelas

Pesantren yang awalnya bernama Pondok Sungaidua ini dibangun di tepi Sungai Batang Pane. Nama tersebut dipilih untuk menghindari kecurigaan penjajah Belanda terhadap aktivitas keagamaan. Filosofisnya, “Sungaidua” diartikan sebagai dunia dan akhirat.

Pesantren ini menjadi pelopor sistem pendidikan berbasis kelas dengan fasilitas seperti bangku, papan tulis, dan metode pembelajaran yang Tuan Mukhtar adopsi dari kunjungannya ke Maroko. Pondok untuk santri perempuan dibangun dua lantai berbahan kayu dengan atap lalang, sementara santri laki-laki tinggal di pondok-pondok kecil.

Namun, lokasi awal pesantren harus dipindahkan akibat banjir besar yang dikenal dengan sebutan aek lapoo. Hingga kini, pesantren terus berkembang dan tetap menjadi mercusuar pendidikan Islam di Padang Lawas Utara.

Dedikasi di Bidang Dakwah

Tuan Mukhtar juga dikenal sebagai sosok yang tekun menulis. Ia pernah menyalin Al-Qur’an dengan tangannya sendiri menggunakan khat Rifa’ah. Sayangnya, karya monumental tersebut hilang setelah  dipamerkan dalam festival Al-Qur’an di Jakarta.

Harapan Tim Infokom

Dalam kunjungan ini, Dr. Akmaluddin Syahputra mengapresiasi kiprah Pesantren Al Mukhtariyah yang memiliki sejarah luar biasa dalam pendidikan dan dakwah Islam. “Pesantren ini bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga simbol perjuangan dan pembaruan pendidikan Islam di tanah air. Semoga pesantren ini terus berkembang sebagai pusat pendidikan dan pencerahan umat,” ujar Dr. Akmaluddin.

Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi antara Tim Infokom MUI Sumut dan pesantren untuk memperluas dakwah Islam melalui platform digital dan media lainnya.

 

4o

 

 

Ketua Bidang Infokom MUI Sumut Apresiasi Studio Podcast MUI Palas

Padang Lawas, muisumur.or.id., Jumat, 22 November 2024 – Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, melakukan kunjungan ke studio Podcast MUI Padang Lawas yang berlokasi di Kantor MUI Palas, Kompleks Masjid Agung Al Munawarah.

Dalam kunjungan tersebut, Dr. Akmaluddin didampingi oleh Ketua Bidang Infokom MUI Padang Lawas, Ustaz Kali Junjung Hasibuan, M.Sy. Dr. Akmaluddin berkesempatan mencoba fasilitas studio podcast dan menyampaikan arahan strategis terkait penguatan peran MUI di era digital.

“Tujuan utama kunjungan kami ke MUI daerah adalah untuk memperkuat peran MUI dalam memberikan pencerahan kepada umat. Di era digital ini, dunia seakan berada di genggaman, sehingga konten yang baik dan penuh nilai amar makruf harus terus dipublikasikan agar umat tetap tercerahkan,” ujar Dr. Akmaluddin.

Dalam arahannya, Dr. Akmaluddin menegaskan pentingnya komitmen MUI daerah untuk memanfaatkan berbagai platform digital, seperti situs web resmi dan media sosial, termasuk YouTube, Facebook, dan Instagram, sebagai sarana dakwah. Ia juga mendorong sinergi yang lebih erat antara Infokom MUI Sumut dan MUI daerah.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Akmaluddin memberikan apresiasi tinggi kepada MUI Padang Lawas, khususnya Bidang Infokom, atas dedikasi mereka dalam mempublikasikan berita dan tausiyah melalui kanal YouTube MUI PALAS TV. “Ini adalah bukti nyata kerja maksimal dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat luas, ujarnya.

“Peran infokom di MUI sangat strategis karena darinyalah pemerintah dan umat mengetahui bahwa MUI bekerja untuk umat. Jika sebelumnya banyak kegiatan keumatan yang dilaksanakan tapi tidak terdokumeentasi dengan baik, maka diharapkan setiap kegiatan bisa di publikasi dan terdomunetasi dengan baik” tambahnya

Kunjungan ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas MUI daerah dalam menyebarluaskan informasi Islami di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat peran MUI sebagai garda terdepan dalam membimbing umat di era digital.

P2WP MUI Sumut Dorong Optimalisasi Wakaf untuk Pengembangan Ekonomi Umat di Padang Lawas

Padang Lawas, muisumutr.or.id., 22 November 2024 – Dalam diskusi yang berlangsung bersama jajaran MUI Padang Lawas, Kepala Bidang Infokom sekaligus Direktur Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Sumatera Utara, Dr. Akmaluddin Syahputra, menekankan pentingnya pengembangan aset wakaf produktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi umat. Ia menyebutkan bahwa daerah Subuhuan, yang dikenal sebagai kawasan perkebunan sawit, memiliki potensi besar untuk dikelola sebagai lahan wakaf produktif.

“Melalui diskusi tadi malam, saya melihat ini adalah momentum yang tepat. Andaikan MUI dapat memiliki kebun di Padang Lawas, hal ini akan menjadi peluang strategis untuk mendukung ekonomi umat di masa depan,” ujar Dr. Akmaluddin.

Gagasan Lama yang Perlu Diwujudkan
Ketua MUI Padang Lawas, H. Ismail Nasution, Lc., M.Th., mengungkapkan bahwa gagasan ini sebenarnya pernah dirintis oleh Prof. Hasan Bakti, mantan Sekretaris Umum MUI Sumut. Pada masanya, beliau sempat menghubungi MUI Padang Lawas untuk mencari lahan seluas 40 hektar yang dapat dijadikan aset wakaf. Namun, rencana tersebut belum terwujud karena sejumlah kendala.

“Semoga kali ini rencana ini dapat terealisasi. Dengan adanya kebun wakaf, kita dapat menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi umat, terutama di Padang Lawas,” ungkap H. Ismail.

Dukungan untuk Ekonomi Berbasis Wakaf
Sebagai bagian dari upaya P2WP, inisiatif ini sejalan dengan visi MUI untuk mengembangkan ekonomi berbasis wakaf produktif. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat, tetapi juga memastikan keberlanjutan program-program sosial dan keagamaan.

Dengan potensi lahan dan sumber daya yang ada di Padang Lawas, pengelolaan wakaf produktif diharapkan dapat menjadi model yang sukses dan menginspirasi daerah lain di Sumatera Utara. Kolaborasi antara MUI provinsi dan daerah, serta dukungan dari berbagai pihak, diharapkan dapat membawa cita-cita ini menjadi kenyataan.

Kunjungan Infokom MUI Sumut ke Makam Sultan Hamid, Penyebar Islam di Hulu Barumun

0

Padang Lawas,  muisumut.or.id., 22 November 2024 – Tim Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (Infokom MUI) Sumatera Utara melakukan kunjungan ke makam Sultan Hamid Al-Muktadir di Desa Pagaran Bira, Kecamatan Sosopan, Padang Lawas. Makam yang sudah menjadi cagar budaya yang dikenal dengan Jiret Mertuah (ada yang mengatakan Jiret Bertuah) Makam ini dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Sultan Hamid, seorang tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Padang Lawas.

Situs makam keramat Jiret Mertuah disebut dengan nama Pageran Bira. Lokasinya di Desa Pageran Bira Jae, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas. Untuk menuju situs Pageran Bira Tim Infokom didampingi MUI kab Padang Lawas dan Ustaz Drs. Royhan.

Memasuki Pageran Bira Jae kita akan terlebih dulu bertemu dengan Masjid Nurul Imam yang diyakini  sebagai peninggalan sejarah dari Sultan Hamid Al Muktadir. Di Masjid Nurul Imam Tim Infokom menyempatkan menikmati  air yang sangat jernih dan dingin. Air yang berasal dari Bukit Barisan itu digunakan  untuk wudhu.

Selain itu tampak juga beduk masjid yang berusia ratusan tahun masih utuh. Tiang masjid masih kokoh. Bagian interiornya pun masih original belum pernah diubah.

Dari Desa Pageran Bira Jae, perjalanan dilanjutkan ke makan keramat Jiret Mertuah melewati jalan setapak sekira 200 meter.

Ustaz Royhan mengajak beberapa tokoh masyarakat untuk bersama ke makam dan berdoa yang di pimpin Ketua Bidang Infokom, Dr.Akmaludddin Syahputra

 

Sultan Hamid dan Perjuangan Islam di Padang Lawas

Ustadz Drs. Rohyan, M.Pd., yang turut mendampingi kunjungan, menjelaskan bahwa Sultan Hamid merupakan tokoh yang gigih dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Sultan Hamid adalah bagian dari Kesultanan Aru Barumun, yang terus berdakwah meski menghadapi tantangan besar.

“Kesultanan Aru Barumun pernah diserang oleh Kesultanan Selat Malaka, yang menyebabkan benteng dan armada lautnya hancur. Sultan Hamid akhirnya menjauhkan diri ke hulu Sungai Barumun. Dan naik ke sebelah kanan sungai Barumun dan menetap di pagaran bira.

Makam Sultan Hamid

Makam Sultan Hamid terletak di kawasan perbukitan Bukit Barisan, sekitar satu kilometer dari hulu Sungai Barumun. Ustadz Rohyan menyebutkan bahwa makam ini merupakan saksi sejarah perjuangan dakwah Islam di wilayah Padang Lawas.

“Makam ini adalah bagian dari sejarah Islam di Padang Lawas. Keberadaannya menjadi pengingat perjuangan Sultan Hamid dalam menyebarkan Islam, bahkan di tengah keterbatasan,” jelasnya.

Di area makam, terdapat dua pusara yang diyakini sebagai makam Sultan Hamid dan istrinya. Lokasi ini telah menjadi tempat ziarah.

Harapan untuk Pelestarian Sejarah

Ustadz Rohyan berharap kunjungan Infokom MUI Sumut ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap situs-situs sejarah Islam di Padang Lawas. Menurutnya, pelestarian makam Sultan Hamid dan peninggalan sejarah lainnya sangat penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap warisan Islam di daerah ini.

“Kami berharap situs ini terus dirawat, bukan hanya sebagai bukti sejarah, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dakwah Islam yang patut diteruskan oleh generasi mendatang,” tutup Ustadz Rohyan.

Masjid Raya Miftahul Jannah: Jejak Sejarah, Warisan Wakaf, dan Makam di Dalamnya

Padang Lawas, Sumatera Utara, muisumut.or.id., – Masjid Raya Miftahul Jannah di Pasar Sibuhuan, Padang Lawas, bukan hanya menjadi tempat ibadah umat Muslim, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang unik. Berdiri sejak tahun 1937, masjid ini memiliki ciri khas yang jarang ditemukan di tempat lain: makam pewakif dan keluarganya yang berada di dalam area masjid, mengingatkan pada keberadaan makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah.

Sejarah Berdirinya Masjid

Masjid ini awalnya berukuran 20×20 meter dengan bangunan berbahan kayu dan atap seng. Tanahnya diwakafkan oleh Hj. Aminah Harahap, seorang dermawan sekaligus pendidik perempuan pada masanya. Hj. Aminah tidak hanya mewakafkan tanah untuk masjid, tetapi juga untuk sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya di Sibuhuan.

Pada masa hidupnya, Hj. Aminah aktif mengelola majlis taklim dan sekolah untuk perempuan di dekat masjid. Ia mendirikan Musholla An-Nisa (sekarang bernama mushalla Aminah) sebagai tempat perempuan belajar agama. Selain itu ia juga membangun pondok pondok kecil untuk wanita jompo. Keberadaannya memberikan dampak besar pada perkembangan pendidikan dan agama Islam di Sibuhuan.

Makam di Dalam Masjid

Ketika Hj. Aminah wafat, ia dimakamkan di tanah miliknya dekat masjid bersama satu saudara dan satu cucunya. ini dilaksanakan karena sebelum wafat ia berwasiat ungtuk dimakamkan ditanah tersebut yang dulu perbah ditanam pohon kurma.

Namun, seiring perkembangan waktu, masjid mengalami perluasan. Dalam proses tersebut, makam Hj. Aminah  yang awalnya di luar masjid menjadi bagian dari dalam masjid karena tanah makamnya tidak diwakafkan. Demi menghormati jasa besar Hj. Aminah sebagai pewakif, makam tersebut dibiarkan tetap pada tempatnya. Pada tahun 1990, menara masjid dibangun atas inisiatif masyarakat, melengkapi kemegahan masjid yang menjadi pusat ibadah di wilayah tersebut.

Prasasti Makam Wakaf

Pada masa kepemimpinan Ketua MUI Sumatera Utara, Mahmud Aziz Siregar (1995-2005), dibuat sebuah prasasti khusus untuk makam wakaf di dalam Masjid Raya Miftahul Jannah. Prasasti ini menjadi pengingat akan pentingnya kontribusi Hj. Aminah Harahap dalam pembangunan masjid dan kemajuan masyarakat Muslim di Sibuhuan.

Warisan untuk Generasi Masa Depan

Masjid yang kini telah berusia lebih dari 100 tahun ini menjadi simbol kebesaran Islam di Padang Lawas. Mimbar yang dipakai untuk khutbah Jumat  menjadi saksi sejarah panjang perjuangan umat. Masjid Raya Miftahul Jannah tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan sosial yang memancarkan nilai-nilai wakaf untuk kesejahteraan umat.

Dengan keberadaan makam di dalamnya, masjid ini mengingatkan umat Muslim akan pentingnya menghormati para pewakif yang telah berjasa. Kini, Masjid Raya Miftahul Jannah menjadi salah satu ikon sejarah di Padang Lawas, sekaligus inspirasi bagi pengelolaan wakaf dan masjid lainnya di Indonesia.

Tim Infokom MUI Sumut Dorong Optimalisasi Digitalisasi Teknologi Informasi di Daerah

Padang Lawas, muisumut.or.id., 22 November 2024 – Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemajuan teknologi informasi di daerah. Langkah strategis ini diwujudkan melalui kunjungan kerja ke Padang Lawas dan Padang Lawas Utara Liputan Majalah edisi ke VIII sekaligus membahas implementasi digitalisasi di lingkungan MUI daerah.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Bidang Infokom MUI Sumatera Utara.
Dr. Akmaluddin menyampaikan apresiasi terhadap sinergi yang telah terjalin antara MUI pusat dan daerah dalam upaya penguatan teknologi informasi. Ia menegaskan bahwa optimalisasi digitalisasi di MUI daerah menjadi salah satu agenda prioritas untuk menghadapi tantangan zaman.

“Ide ini kami angkat sebagai tindak lanjut dari kegiatan Infokom MUI Pusat yang telah diselenggarakan beberapa waktu lalu. Digitalisasi ini penting untuk meningkatkan kinerja organisasi dan memberikan pelayanan yang lebih maksimal kepada masyarakat,” ujar Dr. Akmaluddin.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya alokasi anggaran yang memadai dalam mendukung implementasi teknologi informasi di MUI daerah. Hal ini menjadi bagian dari rencana strategis untuk memperkuat jaringan informasi dan komunikasi antara MUI di tingkat pusat dan daerah.

Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan MUI daerah dapat lebih responsif terhadap kebutuhan umat, baik dalam penyebaran informasi keislaman maupun penguatan peran organisasi dalam masyarakat.

Kunjungan ini juga menjadi momentum untuk menjalin koordinasi lebih erat dengan pengurus MUI setempat, guna memastikan bahwa langkah-langkah digitalisasi yang direncanakan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Pasca Kunjungan MUI Sumut ke Uzbekistan, Pmerintah Uzbekistan Melalui Duta Besarnya Tawarkan Kerjasama Sister City dan Pameran Budaya serta Sufi

Medan, muisumut.or.id., 22 November 2024, Pasca Kunjungan Muhibbah Ilmiah Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera ke Uzbekistan, juru bicara Kedutaan Uzbekistan di Jakarta didampingi oleh owner PT Fayyash Abdi Umat Travel, KH Abdul Jabar Muhammad, menawarkan kerjasama Sister City dan Pameran
Internasional Budaya dan Sufi di Kota Medan.

Melalui sambungan teleponnya kepada KH Akhyar Nasution, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional juru bicara Kedutaan Besar Republik Uzbekistan mengatakan jika hal ini disetujui oleh pemerintah daerah Provinsi Sumatera Utara atau Kota Medan mereka akan segera datang ke Kota Medan untuk membuat Nota Kesepahaman.
Hal ini telah disampaikan oleh KH Akhyar kepada Bapak H Isma Doni Syahputra agar beliau berkenan menyampaikan kepada pemerintah daerah.

Delegasi Kedutaan Besar Republik Uzbekistan insyaa Allah akan datang di pertengahan Bulan Desember 2024 dan Bazar insya Allah akan dilaksanakan di Bulan Februari 2025.
Melalui saluran telepon juru bicara Kedutaan Uzbekistan sangat mengapresiasi Kunjungan Ilmiah Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Buya DR. H Maratua Simanjuntak

Sister City adalah sebuah konsep di mana dua daerah atau kota yang secara geografis, administratif, dan politik berbeda, berpasangan untuk menjalin hubungan sosial antarmasyarakat dan budaya.

Kerjasama Kota Kembar (Sister City) merupakan peluang emas di era otonomi daerah guna memajukan pembangunan di daerah.
Sister City juga merupakan kerjasama antar suatu daerah di dalam negeri dengan mitranya yang berkedudukan sama di luar negeri dengan tujuan menjalin kontak sosial antarmasyarakat dan hubungan budaya.

Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk menyamakan persepsi dan menyelaraskan peraturan pelaksanaan kerjasama Sister City yang berkelanjutan, dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasinya, serta dalam rangka pelaksanaan pilot project kegiatan Sister City yang berkelanjutan antara Kota Medan dengan Kota Gwangju, di Korea.

“Hal itu untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan sinergi (dalam membangun daerah),” ujar Akhyar

Hal tersebut telah diamanatkan dalam pasal 195 UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang pedoman pelaksanaannya telah ditetapkan dalam berbagai regulasi antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah; Permendagri Nomor 69 tahun 2007 tentang Kerjasama Pembangunan Perkotaan; Permendagri Nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Daerah dengan Pihak Luar Negeri; Permendagri Nomor 22 tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Kerjasama Antardaerah; dan Permendagri Nomor 23 tahun 2009 tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan Kerjasama Daerah.

Dengan adanya kebijakan-kebijakan tersebut pemerintah daerah diharapkan mampu melaksanakan pembangunan di daerahnya melalui upaya kerjasama Sister City.

“(Melalui kerjasama Sister City), diharapkan pemerintah daerah dapat memacu kreativitas dan inovasi dalam pelaksanaan pembangunan di daerahnya,” jelas KH Akhyar Nasution.    (Akhy)

Tim Infokom MUI Sumut menilik Khazanah Islam di Palas, Paluta, dan Karo

Medan, muisumut.or.id., 22 November 2024 – Tim Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara akan melaksanakan liputan khusus  beberapa wilayah di Sumatera Utara pada 21-25 November 2024. Liputan ini bertujuan mendokumentasikan khazanah  Islam di Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan Kabupaten Karo.

Ketua Tim, Dr. Akmaluddin Syahputra, M. Hum., menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari peran MUI Sumatera Utara untuk mendampingi dan menguatkan MUI  di daerah. “Kami ingin menggali dan mendokumentasikan  khasasanah keislaman di daerah, diantaranya bangunan masjid bersejarah, makam ulama, lembaga Pendidikan, tradisi keIslaman atau tradisi yang dimodifikasi,” ungkapnya.

Lokasi dan Metode Liputan

Kordinator Liputan Rustam mengatakan bahwa ada beberapa rencana lokasi yang akan menjadi objek misalnya Pesantren Darul Azis, Masjid Syaikh H. Abdul Mannan Hasibuan, Pesantren Al-Mukhtariyyah, Kec. Portibi di Palas dan Paluta.  Sedangkan di Kabupaten Karo akan mengunjungi Masjid Lama dan Makam Tengku Lau Bahun, serta komunitas muslim di sana.

“lokasi yang di datangi tentu masih mungkin berganti sesuai dengan kondisi lapangan, kami akan mengunjungi MUI daerah setempat untuk itu” ujarnya

“Tim juga akan mengadakan wawancara dengan tokoh masyarakat Muslim, pemuka agama, serta pejabat setempat. Selain itu, kegiatan masyarakat Muslim, seperti aktivitas keagamaan dan sosial, akan didokumentasikan melalui foto, video, dan artikel yang nantinya dipublikasikan di berbagai media cetak dan digital milik MUI Sumatera Utara.” sambungnya

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Infokom MUI Sumut yang terdiri dari: Dr. Akmaluddin Syahputra, M. Hum. sebagai Penangggung jawab. Rustam, MA – (Koordinator) Ari Syahputra, serta Muhammad Mulyo Ponconiti, S. Pd.

Liputan dimulai dari Kabupaten Padang Lawas pada 21 November, dilanjutkan ke Padang Lawas Utara pada 23 November, dan diakhiri di Kabupaten Karo pada 24–25 November 2024.

Hasil liputan akan dipublikasikan melalui:

  • Website resmi dan media sosial MUI Sumatera Utara.
  • Majalah cetak MUI Sumut.
  • Video dokumentasi yang akan diproduksi sebagai materi promosi kerukunan antarumat beragama.

Dr. Akmaluddin menambahkan, “Kami berharap liputan ini tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga mampu menampilkan khazanah keislaman di daerah  di Sumatera Utara.”