Monday, June 1, 2026
spot_img

Tim Majalah Media Ulama MUI Sumut Lakukan Liputan Khusus ke Besilam, Diterima Tuan Guru Babussalam Dr. Zikmal Fuad

Langkat, muisumut.or.id.,  1 Juni 2026 – Tim Majalah Media Ulama MUI Sumatera Utara melakukan kunjungan dan liputan khusus ke kawasan bersejarah Babussalam Besilam, Kabupaten Langkat, Senin (1/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, rombongan diterima langsung oleh Tuan Guru Babussalam, Dr. Zikmal Fuad, yang memberikan berbagai penjelasan terkait perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Sumatera dan kawasan Asia Tenggara.

Tim Majalah Media Ulama yang hadir terdiri dari Ketua Bidang Media dan Informasi MUI Sumut Dr. Akmaluddin Syahputra, Pemimpin Redaksi Rustam, M.A., Ali Suman, Fahri Roza Sitepu, M.A., Yogo Pamungkas L. Tobing, M.Kom., dan Ari Syahputra.

Kegiatan liputan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pengumpulan bahan untuk edisi mendatang Majalah Media Ulama. Selain mengunjungi Babussalam Besilam, tim juga melakukan kunjungan ke sejumlah lembaga dan tokoh penting di Kabupaten Langkat, antara lain Pesantren Modern Nuur Ar-Radhiyyah, BKM Masjid Azizi Tanjung Pura, Tengku Arif selaku Sultan Langkat, serta Institut Jam’iyah Mahmudiyah.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, Dr. Zikmal Fuad menjelaskan bahwa Babussalam Besilam selama ini dikenal sebagai salah satu pusat Tarekat Naqsyabandiyah terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, menurutnya, sebagian besar jaringan tarekat di Malaysia memiliki hubungan spiritual dan keilmuan dengan Babussalam.

“Besilam ini disinyalir menjadi salah satu pusat Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. Bahkan sekitar 80 persen jamaah tarekat di Malaysia kiblatnya ke sini,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Tuan Guru Babussalam juga menekankan pentingnya meluruskan pemahaman masyarakat tentang tarekat. Menurutnya, tujuan utama bertarekat adalah untuk mengenal Allah SWT, memperbaiki adab, dan meningkatkan kualitas ibadah, bukan mengejar kemampuan-kemampuan luar biasa yang bersifat mistis.

Ia mengingatkan agar tarekat tidak disalaharahkan kepada pencarian kasyaf, terbukanya hijab, kemampuan meramal, atau berbagai hal yang menjurus kepada praktik perdukunan.

“Tarekat itu seharusnya fokus kepada mengenal Allah dan membangun adab. Jangan disalaharahkan kepada hal-hal yang bersifat mistis seperti kasyaf, terbuka hijab, atau kemampuan meramal,” tegasnya.

Menurut Dr. Zikmal Fuad, pada masa Syekh Abdul Wahab Rokan, para pencari jalan spiritual datang ke Babussalam dengan niat yang tulus untuk memperoleh ridha Allah SWT. Mereka tidak menjadikan karamah, kasyaf, maupun kelebihan-kelebihan lainnya sebagai tujuan utama.

“Dulu orang datang untuk bertarekat semata-mata mencari ridha Allah. Mereka tidak mengharapkan karamah atau kasyaf. Karena keikhlasan itulah terkadang Allah memberikan berbagai kelebihan kepada mereka, tetapi itu bukan tujuan yang dicari,” ungkapnya.

Ia bahkan menceritakan bahwa pada masa lalu terdapat sejumlah pengamal tarekat yang memilih berpindah tempat ketika doa-doanya mulai banyak dikabulkan Allah SWT agar tidak dikenal masyarakat dan terhindar dari pujian manusia.

Sebaliknya, menurutnya, saat ini terdapat kecenderungan sebagian orang memasuki dunia tarekat dengan motivasi yang kurang tepat, yakni mengejar karamah, kasyaf, atau kemampuan tertentu untuk kepentingan pribadi. Hal ini kemudian menimbulkan persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat terhadap ajaran tarekat.

“Saya tidak suka jika ada orang bertarekat kemudian menjadi peramal atau berpraktik seperti dukun. Saya tidak ingin tempat ini menjadi tempat perdukunan dan peramalan,” katanya dengan tegas.

Mengenai sosok pendiri Babussalam, Syekh Abdul Wahab Rokan, Dr. Zikmal Fuad menjelaskan bahwa beliau memang dikenal sebagai ulama besar yang memiliki kemuliaan karena ketekunan ibadah dan kedekatannya kepada Allah SWT. Namun demikian, masyarakat juga perlu memahami bahwa Syekh Abdul Wahab Rokan bukan hanya seorang mursyid tarekat, melainkan juga tokoh yang aktif dalam berbagai bidang kehidupan.

“Beliau memang seorang yang mulia dan dihormati karena ibadahnya. Namun masyarakat juga perlu mengetahui bahwa Syekh Abdul Wahab Rokan memiliki banyak sisi lain. Beliau berkiprah dalam bidang sosial, politik, sastra, dan berbagai aktivitas kemasyarakatan lainnya,” jelasnya.

Setelah sesi wawancara dan diskusi berlangsung, Tim Majalah Media Ulama MUI Sumut dijamu makan siang bersama oleh pihak Babussalam sebagai bentuk penghormatan dan silaturahim.

Pemimpin Redaksi Majalah Media Ulama, Rustam, M.A., menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan Tuan Guru Babussalam dan seluruh pengurus. Menurutnya, kunjungan tersebut menghasilkan banyak informasi berharga mengenai sejarah, perkembangan, dan dinamika Tarekat Naqsyabandiyah yang selama ini berkembang di Sumatera Utara dan Asia Tenggara.

“Berbagai informasi, sejarah, dan pandangan yang disampaikan Tuan Guru Babussalam sangat penting untuk diketahui masyarakat luas. Untuk ulasan yang lebih lengkap dan mendalam, pembaca dapat menyimaknya pada edisi mendatang Majalah Media Ulama,” ujar Rustam.

Liputan khusus ini menjadi bagian dari komitmen Majalah Media Ulama MUI Sumatera Utara untuk mendokumentasikan khazanah keislaman, sejarah ulama, serta perkembangan lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah yang memiliki kontribusi besar bagi umat Islam di Sumatera Utara dan kawasan Nusantara.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,300SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles