Wednesday, August 12, 2026
spot_img

MUI Sumut dan AIDA Perkuat Kolaborasi Cegah Terorisme melalui Halaqah Alim Ulama

Medan, muisumut.or.id. — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menegaskan pentingnya kolaborasi lintas elemen masyarakat dalam mencegah terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, dalam kegiatan Halaqah Alim Ulama bertema “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibrah” yang digelar bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA).

Dalam sambutannya, Maratua menyampaikan apresiasi kepada AIDA atas kepercayaan dan kesempatan membangun kolaborasi bersama MUI Sumatera Utara. Menurutnya, hubungan AIDA dengan sejumlah tokoh di Sumatera Utara sebenarnya telah terjalin sejak beberapa tahun sebelumnya melalui berbagai kegiatan yang melibatkan tokoh agama dan insan media.

Ia menyebut, pada 2016 AIDA pernah menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Medan bekerja sama dengan Pusat Layanan Psikologi UIN Sumatera Utara. Kegiatan tersebut melibatkan aktivis dakwah Al-Washliyah serta menghadirkan penyintas dan mantan pelaku terorisme.

Setahun kemudian, pada 2017, AIDA kembali melakukan kegiatan di Medan melalui Short Course Jurnalistik Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme. Dalam kegiatan tersebut, para jurnalis mendapat perspektif langsung dari penyintas Bom JW Marriott 2003 dan Bom Kuningan 2004.

“Hubungan antara AIDA dengan orang-orang yang berada di lingkungan MUI Sumatera Utara sebenarnya sudah terbangun sejak lama. Memang, pada waktu itu belum berbentuk kerja sama kelembagaan antara AIDA dan MUI Sumatera Utara. Namun komunikasi, silaturahmi dan kerja bersama sudah pernah dilakukan,” ujar Maratua.

Menurutnya, kegiatan Halaqah Alim Ulama menjadi momentum untuk meningkatkan hubungan tersebut ke dalam bentuk kolaborasi kelembagaan. Ia berharap kerja sama MUI Sumut dan AIDA tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat berlanjut dalam berbagai program yang memberikan kontribusi bagi penguatan perdamaian dan ketahanan masyarakat.

MUI Tegaskan Terorisme Bukan Bagian dari Ajaran Islam

Maratua menegaskan bahwa persoalan terorisme tidak dapat dilihat semata-mata dari perspektif keamanan. Menurutnya, persoalan tersebut juga berkaitan dengan pemahaman keagamaan, pendidikan, lingkungan sosial, keluarga, media, serta aspek kemanusiaan.

Dalam konteks keagamaan, MUI telah mengambil sikap melalui Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2004 tentang Terorisme. Fatwa tersebut menegaskan keharaman tindakan teror serta memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara terorisme dan jihad.

“Jangan sampai ada orang yang melakukan kekerasan kemudian mengatasnamakan jihad. Jangan sampai ada tindakan membunuh orang yang tidak berdosa kemudian diberi label perjuangan agama,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa tugas MUI tidak berhenti pada penerbitan fatwa, tetapi juga mencakup pembinaan dan edukasi umat. Pemahaman keagamaan yang benar, utuh, dan moderat perlu terus disampaikan melalui masjid, pesantren, majelis taklim, perguruan tinggi, serta berbagai ruang kehidupan masyarakat.

Menurutnya, penguatan pemahaman keagamaan menjadi salah satu langkah penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh narasi kebencian, takfir, intoleransi, maupun kekerasan.

Belajar dari Pengalaman Sumatera Utara

Ketua Umum MUI Sumut tersebut juga mengingatkan bahwa Sumatera Utara memiliki pengalaman terkait aksi terorisme. Ia menyebut serangan terhadap anggota kepolisian di Markas Polda Sumatera Utara pada 25 Juni 2017 yang menyebabkan Aiptu Martua Sigalingging meninggal dunia.

Kemudian, pada Maret 2019, masyarakat kembali dikejutkan dengan peristiwa terorisme di Sibolga. Sementara pada 13 November 2019 terjadi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan yang mengakibatkan enam orang mengalami luka.

Pengalaman tersebut, menurut Maratua, menjadi pelajaran bahwa upaya pencegahan terorisme tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah, aparat keamanan, atau satu lembaga tertentu.

“Keberhasilan mencegah terorisme adalah keberhasilan kita bersama. Dan keberhasilan itu harus terus kita rawat bersama,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa terciptanya kondisi masyarakat yang relatif kondusif merupakan hasil kontribusi berbagai pihak, mulai dari pemerintah dan BNPT, aparat keamanan, MUI dan ulama, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, keluarga, media, hingga organisasi masyarakat sipil seperti AIDA.

Pendekatan Ibrah sebagai Upaya Membangun Perdamaian

Maratua menilai pendekatan yang dilakukan AIDA memiliki posisi strategis karena menghadirkan pengalaman korban maupun mantan pelaku terorisme dalam proses membangun kesadaran masyarakat.

Menurutnya, perspektif korban penting untuk menunjukkan bahwa dampak terorisme tidak berhenti ketika sebuah serangan berakhir. Dampaknya dapat berlangsung panjang, baik secara fisik, psikologis, ekonomi, sosial, maupun terhadap kehidupan keluarga korban.

Di sisi lain, pengalaman mantan pelaku memberikan pembelajaran mengenai bagaimana seseorang dapat terpengaruh pemikiran ekstrem hingga akhirnya menyadari kekeliruannya dan kembali kepada jalan perdamaian.

“Kita tidak hanya belajar dari buku. Kita juga belajar dari pengalaman manusia. Kita belajar dari korban, kita belajar dari mantan pelaku, kita belajar dari akademisi, kita belajar dari ulama dan kita belajar dari pengalaman masyarakat,” jelasnya.

Menurut Maratua, pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Halaqah Alim Ulama, yakni “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibrah”. Ibrah tidak hanya dimaknai sebagai mengambil pelajaran dari suatu peristiwa, tetapi juga menjadikannya sebagai dasar untuk memperkuat kesadaran, memperbaiki sikap, dan membangun kehidupan yang lebih damai.

Perdamaian Merupakan Tanggung Jawab Bersama

Mengakhiri sambutannya, Maratua berharap Halaqah Alim Ulama tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan kesadaran dan langkah bersama dalam menjaga perdamaian.

MUI Sumut, kata dia, akan terus menjalankan perannya sebagai khadimul ummah dan mitra pemerintah melalui fatwa, pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta penguatan ukhuwah.

Ia juga berharap kolaborasi dengan AIDA dapat terus dikembangkan dengan menghadirkan perspektif korban, mantan pelaku, dan pendekatan kemanusiaan dalam membangun perdamaian.

“Perdamaian tidak lahir dari satu lembaga. Perdamaian lahir dari kerja bersama,” pungkasnya.

Melalui Halaqah Alim Ulama tersebut, MUI Sumatera Utara dan AIDA mendorong penguatan ukhuwah, ketahanan masyarakat, serta pencegahan berkembangnya kekerasan atas nama agama. Upaya tersebut diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga Sumatera Utara sebagai daerah yang damai, rukun, dan mampu melindungi generasi muda dari paham kekerasan dan ekstremisme.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,400SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles