Medan, muisumut.or.id. 13 Juni 2026 — Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara kembali menggelar Pengajian Remaja pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Remaja & Kepemimpinan: Belajar dari Sejarah Hijrah Nabawiyah” dengan menghadirkan Ustaz Prof. Dr. H. Ardiansyah, MA sebagai penceramah.
Dalam kajiannya, Prof. Ardiansyah menekankan bahwa remaja merupakan kelompok strategis yang akan menentukan wajah umat dan bangsa di masa mendatang. Karena itu, pembinaan remaja tidak cukup hanya diarahkan pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus membangun ketakwaan, ketaatan kepada Allah SWT, akhlak, kepedulian sosial, serta kemampuan memimpin.
Menurutnya, remaja yang ideal adalah mereka yang mampu menjaga dirinya dengan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Sejarah Islam, kata dia, memberikan banyak contoh generasi muda yang memiliki keteguhan iman sekaligus keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan.
Salah satu teladan yang disampaikan adalah kisah Ashhab al-Kahfi, sekelompok pemuda yang mempertahankan keimanan dengan meninggalkan lingkungan yang mengancam keyakinan mereka. Kisah tersebut menunjukkan bahwa usia muda bukan alasan untuk lemah dalam prinsip, tetapi justru dapat menjadi fase penting dalam membangun keteguhan iman.
Prof. Ardiansyah juga mengangkat keteladanan sejumlah tokoh perempuan dalam sejarah Islam. Aisyah RA, misalnya, dikenal sebagai sosok yang memiliki kecerdasan dan keluasan ilmu sehingga menjadi tempat bertanya para sahabat. Fatimah RA menjadi teladan dalam kesalehan dan kepedulian melalui kegemarannya bersedekah. Sementara Zainab binti Jahsy RA merupakan sosok yang memiliki kedudukan mulia dalam sejarah Islam dan menjadi salah satu istri Rasulullah SAW.
Selain itu, kisah Sumayyah RA, ibunda Ammar bin Yasir, juga menjadi contoh keteguhan iman. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat yang mempertahankan keimanannya meskipun menghadapi penyiksaan berat dan menjadi syahidah pertama dalam Islam.
Membangun Budaya Islami dan Tradisi Kebaikan
Lebih lanjut, Prof. Ardiansyah menegaskan bahwa menciptakan generasi remaja yang mampu menjadi pemimpin dan harapan umat membutuhkan lingkungan pendidikan yang tepat. Remaja harus dibimbing untuk membangun suasana Islami dalam berbagai aspek kehidupannya.
Menurutnya, salah satu langkah penting adalah menciptakan budaya malu dan tradisi kebaikan. Rasa malu dalam perspektif Islam bukanlah kelemahan, tetapi bagian dari akhlak yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan buruk dan menjaga kehormatan diri.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghadirkan keteladanan, bukan sekadar kemarahan dan tekanan. Remaja akan lebih mudah menerima nilai-nilai kebaikan ketika mereka melihat contoh nyata dari orang-orang di sekitarnya.
“Pendidikan remaja tidak cukup dengan marah-marah dan tekanan. Mereka membutuhkan contoh, keteladanan, dialog, serta penghargaan terhadap kebaikan yang mereka lakukan,” demikian salah satu pesan penting yang ditekankan dalam kajian tersebut.
Remaja Harus Didengar dan Dihargai
Dalam membangun kepemimpinan remaja, Prof. Ardiansyah juga menekankan pentingnya mendengar dan menghargai pendapat anak muda. Menurutnya, Rasulullah SAW telah memberikan teladan dalam hal ini.
Dalam berbagai peristiwa sejarah, termasuk strategi menghadapi Perang Uhud dan Perang Khandaq, Rasulullah SAW menunjukkan sikap terbuka terhadap pandangan para sahabat. Hal tersebut menjadi pelajaran bahwa kepemimpinan yang baik tidak berarti selalu mendominasi, tetapi juga mampu mendengar, mempertimbangkan dan menghargai gagasan orang lain.
Karena itu, para remaja perlu diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, mengambil keputusan, serta belajar bertanggung jawab atas pilihan yang mereka ambil.
Selain mendengar, validasi dan apresiasi terhadap kebaikan juga menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter. Kebiasaan sederhana seperti bersikap sopan, mengucapkan salam, menunjukkan empati kepada sesama, peduli terhadap lingkungan, dan membantu orang lain perlu dihargai agar tumbuh menjadi karakter yang melekat dalam diri remaja.
Menyiapkan Pemimpin Umat Masa Depan
Pengajian tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara tiba-tiba ketika seseorang telah dewasa. Kepemimpinan harus dibentuk sejak usia muda melalui pembiasaan, keteladanan, pendidikan, pengalaman, dan lingkungan yang mendukung.
Remaja yang memiliki ketakwaan, ilmu, akhlak, keberanian, kepedulian dan kemampuan menghargai orang lain diharapkan mampu tampil sebagai generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan matang dalam kepemimpinan.
Melalui kegiatan Pengajian Remaja ini, Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga MUI Sumatera Utara menunjukkan komitmennya untuk terus memperkuat pembinaan generasi muda, sehingga lahir remaja yang mampu menjadi generasi beriman, berilmu, berakhlak dan siap memimpin umat di masa depan.





