Medan, muisumut.or.id., 12 September 2026 — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Prof. Dr. H. M. Jamil, MA, menegaskan bahwa pengembangan metode pembelajaran tidak boleh berhenti pada peningkatan kemampuan intelektual semata, tetapi harus bermuara pada lahirnya pendidik dan generasi yang berilmu, berkarakter, serta memiliki kedekatan spiritual dengan Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Prof. M. Jamil saat memberikan sambutan sekaligus membuka Workshop Deep Learning yang diselenggarakan Bidang dan Komisi Pendidikan MUI Sumatera Utara bekerja sama dengan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Aula FAI UMSU.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Prof. Hasan Bakti Nasution dan Ustadz Dr. Nizamuddin, bersama unsur pimpinan FAI UMSU serta jajaran Bidang dan Komisi Pendidikan MUI Sumatera Utara.
Dalam sambutannya, Prof. M. Jamil mengangkat konsep arrāsikhūna fil-’ilm, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Ali ’Imran ayat 7. Menurutnya, pendidikan yang ideal harus melahirkan manusia yang memiliki kedalaman dan keteguhan ilmu, bukan sekadar menguasai informasi atau kemampuan teknis.
Prof. M. Jamil menjelaskan bahwa untuk menjadi pribadi yang kokoh dalam ilmu, diperlukan karakter pembelajar yang kuat. Proses tersebut mencakup ketekunan dalam belajar, kesungguhan melakukan penelitian, keterbukaan terhadap diskusi dan pertukaran gagasan, serta keberanian untuk terus mengembangkan dan menguji pengetahuan.
“Menjadi orang yang arrāsikhūna fil-’ilm itu membutuhkan proses. Harus tekun belajar, meneliti, berdiskusi, terbuka terhadap berbagai pandangan, kemudian ilmu itu dikoneksikan secara vertikal kepada Allah SWT,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan vertikal dengan Allah SWT menjadi unsur penting yang membedakan antara kecerdasan intelektual semata dengan ilmu yang melahirkan karakter. Penguasaan ilmu harus berjalan beriringan dengan kesadaran spiritual sehingga seorang guru maupun dosen tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga integritas moral.
“Dari proses itu diharapkan lahir manusia, guru, dan dosen yang berkarakter. Jadi, pendidikan tidak hanya menghasilkan orang pintar, tetapi menghasilkan manusia yang memiliki ilmu sekaligus karakter,” tegasnya.
Integrasi Zikir dan Fikir
Lebih jauh, Prof. M. Jamil menyebut konsep ulul albab sebagai salah satu karakter penting yang harus dibangun dalam dunia pendidikan. Menurutnya, ulul albab merupakan sosok yang mampu mengintegrasikan zikir dan fikir—mengembangkan kemampuan berpikir secara mendalam sekaligus menjaga keterhubungan hati dan kesadaran kepada Allah SWT.
Ia menilai, paradigma pendidikan semacam ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran modern, termasuk dalam penerapan konsep deep learning. Pembelajaran mendalam seharusnya tidak hanya mendorong peserta didik untuk mengetahui dan memahami, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, reflektif, kreatif, dan bertanggung jawab.
“Karakter ulul albab itu terpadu antara zikir dan fikir. Fikirnya berkembang, tetapi zikirnya juga kuat. Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin kuat pula kesadarannya kepada Allah SWT,” ungkapnya.
Prof. M. Jamil juga menekankan pentingnya keterbukaan intelektual bagi para pendidik dan insan akademik. Menurutnya, tradisi keilmuan tidak akan berkembang apabila seseorang menutup diri terhadap perbedaan pandangan dan gagasan baru.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Az-Zumar ayat 18:
“Alladzīna yastami’ūnal-qaula fayattabi’ūna ahsanah.”
Ayat tersebut, menurut Prof. M. Jamil, mengajarkan sikap ilmiah berupa kesediaan mendengarkan berbagai pandangan dan kemudian memilih serta mengikuti yang terbaik.
“Seorang yang berilmu harus terbuka. Yastami’ūnal-qaula fayattabi’ūna ahsanah—mendengarkan berbagai pendapat, kemudian mengikuti yang terbaik. Ini merupakan karakter penting bagi seorang guru, dosen, dan insan akademik,” katanya.
Deep Learning dan Tantangan Pendidikan
Prof. M. Jamil berharap Workshop Deep Learning yang digelar MUI Sumatera Utara bersama FAI UMSU tidak sekadar menjadi forum peningkatan kompetensi teknis dalam pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat paradigma pendidikan yang memadukan ilmu, karakter, spiritualitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat menuntut guru dan dosen untuk terus belajar dan melakukan pembaruan. Namun, kemajuan tersebut harus tetap dibingkai dengan nilai-nilai moral dan spiritual.
Karena itu, ia mendorong para pendidik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, membangun budaya penelitian, memperkuat tradisi diskusi, dan senantiasa menghubungkan pengembangan ilmu dengan tanggung jawab kepada Allah SWT dan masyarakat.
Kolaborasi MUI Sumatera Utara dengan FAI UMSU melalui workshop tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi lembaga keulamaan dan perguruan tinggi dalam menghadirkan model pendidikan yang mampu menjawab tuntutan zaman sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Islam.
Melalui pendekatan tersebut, deep learning tidak hanya dimaknai sebagai pembelajaran yang mendalam secara intelektual, tetapi juga sebagai proses membentuk manusia berilmu, berkarakter, terbuka, kritis, serta memiliki keseimbangan antara zikir dan fikir.





