Saturday, April 18, 2026
spot_img
Home Blog Page 16

Dr. H. Maratua Simanjuntak Tegaskan Pentingnya Solidalitas Ormas Islam dalam Pertemuan Silaturrahim Ulama dan Tokoh Muslim Sumut

0

muisumut.or.id., Medan, 31 Oktober 2025 – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menyampaikan sambutan dalam  Pertemuan Silaturrahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim yang berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2025. Acara ini dihadiri oleh Dewan Pertimbangan MUI Sumut, Dewan Pimpinan MUI Sumut, pengurus MUI Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara, tokoh ormas Islam, serta berbagai cendekiawan Muslim.

Dalam sambutannya, Dr. H. Maratua Simanjuntak menekankan tiga tujuan utama pertemuan ini. Pertama, berdialog dan bersinergi. Ia menyampaikan bahwa pertemuan ini menjadi momentum bagi seluruh peserta untuk saling bertukar pikiran dan memperkuat koordinasi dalam berbagai program keagamaan dan sosial di Sumatera Utara.

Kedua, menjalin silaturrahim untuk memastikan eksistensi dan persatuan umat. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Silaturrahim adalah sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu, kami mendorong seluruh tokoh dan ketua ormas untuk berbicara dengan tujuan menyatukan,” ujarnya.

Dr. H. Maratua Simanjuntak juga menyinggung beberapa permasalahan yang belum terselesaikan, seperti kasus perkawinan lebih dari emoat meskipun telah difatwakan “Kampung Kasih Sayang” pada tahun 2022. Ia menyebutkan juga  masih ada praktik perkawinan yang tidak dicatat secara resmi, ini menjadi tantangan kita bersama. “

Ketiga, Ketua Umum MUI Sumut menekankan pentingnya solidalitas dari tingkat bawah, terutama dari ormas-ormas Islam. Ia menyatakan bahwa kekuatan bersatu yang nyata tidak bisa hanya datang dari pimpinan pusat, melainkan dari kolaborasi aktif ormas di daerah. “Mari kita bersatu. Banyak kegiatan produktif yang bisa kita lakukan bersama. Kekuatan ormas seperti Muhammadiyah, Al Washliyah, NU, dan lainnya, jika bersatu, tentu akan semakin besar,” tegasnya.

Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim MUI Sumut 2025 Perkuat Soliditas Umat Membangun Peradaban Islam

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mengusung tema “Memperkuat Soliditas Umat untuk Membangun Peradaban Islam yang Maju dan Berkah .”

Dihadiri Ulama dan Tokoh dari Seluruh Sumatera Utara

Pertemuan tersebut diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri atas Dewan Pertimbangan dan Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara, Ketua dan Sekretaris Komisi serta Lembaga, pimpinan MUI kabupaten/kota se-Sumatera Utara, pimpinan pesantren, pimpinan ormas Islam tingkat provinsi, serta para ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai daerah.
Suasana silaturahim terasa hangat dan penuh keakraban, menandakan kuatnya semangat kebersamaan dalam membangun umat di Sumatera Utara.

Dalam sesi laporan, Ketua Panitia Drs. Muhammad Hatta Siregar, M.Si menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda penting dalam memperkuat peran MUI sebagai wadah pemersatu umat Islam di Sumatera Utara.

Kegiatan ini dihadiri oleh para pimpinan MUI kabupaten/kota, komisi dan lembaga, pimpinan pesantren, ormas Islam, serta para ulama dan cendekiawan. Ada tujuh pimpinan ormas Islam dan Ketua DPRD Sumatera Utara yang akan menjadi narasumber pada sesi strategis malam ini,” ujar Hatta.

Sesi Diskusi Strategis Bersama Tujuh Pimpinan Ormas

  1. Emi Ariyanti Sitorus, SH., M.Kn, Ketua DPRD Sumatera Utara, dengan tema “Gagasan dan Aksi Strategis dalam Membangun Solidaritas Umat Islam melalui Pemberdayaan Perempuan dan Partisipasinya dalam Pembangunan.”

  2. Dr. H. Marahalim Harahap, M.Hum, Ketua PW NU Sumatera Utara, membahas “Sinergi Organisasi dan Kelembagaan Umat Islam.”

  3. Prof. Dr. Hasyimsyah Nasution, MA, Ketua PW Muhammadiyah Sumatera Utara, dengan topik “Pendidikan dan Ekonomi Umat.”

  4. Dr. H. Dedy Iskandar Batu Bara, M.Si, Ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara, membawakan tema “Penguatan Keluarga dan Masyarakat Islam.”

  5. H. Muhammad Nuh, MsP, Ketua PW PERSIS Sumut
  6. Dr. H. Hasnan Syarif Pangabean, M.Pd, Ketua PW Mathlaul Anwar
  7. Dr. H. M. Hasby Assiddiqi, MM, Ketua PW Al Ittihadiyah

Kuliah Subuh dan Rekomendasi Umat

Memasuki hari kedua, Sabtu (1/11), kegiatan akan diawali dengan salat Subuh berjamaah dan kuliah Subuh di Masjid Grand Inna Hotel Medan. Kuliah Subuh diisi dengan tausiyah yang menekankan pentingnya menjaga persatuan umat dan memperkuat peran ulama dalam membimbing generasi muda.

Kegiatan insyaAllah resmi ditutup pada siang hari dengan pembacaan kesimpulan dan rekomendasi hasil pertemuan, serta doa bersama memohon keberkahan dan kekuatan bagi umat Islam Sumatera Utara dalam menjalankan amanah dakwah.

Membangun Sinergi dan Aksi Nyata

Melalui kegiatan ini, MUI Sumatera Utara berharap lahir sinergi nyata antara ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat dalam membangun umat yang tangguh dan berkeadaban.

Silaturahim ini bukan sekadar seremonial, tetapi momentum memperkuat langkah bersama dalam membangun umat Islam Sumatera Utara yang solid, produktif, dan berdaya saing,” tutup Drs. Muhammad Hatta Siregar.

MUI Sumut Berduka: KH. Khaidir Wahab, Lc., M.A. Wafat dalam Usia 69 Tahun

muisumut.or.id., Medan, 30 November 2025, — Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Duka mendalam menyelimuti keluarga besar MUI Sumatera Utara. Telah berpulang ke rahmatullah ulama kharismatik dan pendidik teladan di PTKU MUI Sumut, KH. Khaidir Wahab, Lc., M.A., pada pukul 22.15 WIB, dalam usia 69 tahun.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Kasih No. 3, Delitua, dan dishalatkan di Masjid Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan, Kamis (30/10/2025) ba’da zuhur. Ribuan pelayat — terdiri dari para ulama, tokoh masyarakat, civitas akademika, mahasiswa, dan masyarakat umum — memadati masjid dan halaman untuk memberikan penghormatan terakhir. Suasana penuh haru menyelimuti prosesi shalat jenazah yang diikuti lebih dari 1000 jamaah.

Direktur PTKU MUI Sumut, Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA, hadir langsung di rumah duka menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya sosok ulama yang 21 tahun mengabdikan ilmunya di PTKU MUI Sumut tersebut.

PTKU kehilangan salah satu aset terbaiknya. Beliau bukan sekadar pengajar, tapi juga pembimbing spiritual yang telah mencetak banyak kader ulama dengan kesabaran, ketulusan, dan keluasan ilmu. Insya Allah, amal jariyah beliau terus mengalir melalui para muridnya,” ungkap Prof. Hasan

Turut hadir Ketua Umum MUI Sumatera Utara,  Dr. H. Maratua Simanjuntak., yang menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas wafatnya salah satu ulama pengasuh PTKU yang telah berkontribusi besar dalam pembinaan kader ulama di Sumatera Utara. “Almarhum KH. Khaidir Wahab adalah sosok alim yang ikhlas mengajar dan membimbing tanpa pamrih. Beliau meninggalkan warisan ilmu yang akan terus hidup dalam diri murid-muridnya dan masyarakat,” ujar Buya Maratua

Selama 21 tahun mengabdi di PTKU MUI Sumut, almarhum dikenal luas karena kedalaman ilmunya dan keteladanannya dalam mendidik. Di antara kitab yang beliau ajarkan secara rutin antara lain:

  1. Al-Hikam

  2. Syarah Ibnu Aqil (Nahwu)

  3. Tuhfah al-Murid

  4. Balaqah al-Wadihah

Selain dikenal sebagai pendidik dan ulama ilmu alat, KH. Khaidir Wahab juga dikenal sebagai ayah dari anak-anak yang berprestasi di bidang keislaman. beberapa  putranya telah menjadi ulama Al-Qur’an, qari, sekaligus hafiz, meneruskan jejak perjuangan sang ayah dalam dakwah dan pengajaran Al-Qur’an.

Semoga almarhum KH. Khaidir Wahab, Lc., M.A. diterima segala amal ibadahnya, diampuni dosa-dosanya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Husnul khatimah, yaa Rabb. Aamiin.

MUI Sumatera Utara Gelar Muzakarah Komisi Fatwa: Jual Beli Mushaf Al-Qur’an

0

muisumut.or.id., Medan, 26 Oktober 2025,  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menggelar Muzakarah Komisi Fatwa dengan fokus pembahasan hukum jual beli Mushaf Al-Qur’an dan Al-Qur’an terjemahan. Kegiatan ini menghadirkan M. Amar Adly sebagai narasumber.

Dalam muzakarah, dibahas beberapa masalah utama, yaitu:

  1. Jual beli Mushaf Al-Qur’an kepada muslim dan non-muslim.

  2. Jual beli Mushaf Al-Qur’an beserta terjemahannya kepada muslim dan non-muslim.

Perbedaan Pendapat Ulama
MUI Sumut menyoroti perbedaan pendapat ulama terkait hukum jual beli Mushaf Al-Qur’an kepada muslim

  • Tidak diperbolehkan (haram): Pendapat ini diambil dari mazhab Hanbali. Menurut mereka, jual beli Mushaf dianggap penghinaan terhadap Al-Qur’an dan transaksinya tidak sah. Dalilnya antara lain dari Ibnu Umar: “Aku berharap aku bisa menyaksikan tangan-tangan yang dipotong karena memperjualbelikan mushaf Al-Qur’an.”

  • Sah tetapi makruh: Pendapat Syafi’iyyah dan sebagian Imam Ahmad menyatakan jual beli sah secara hukum, namun makruh. Dalilnya termasuk riwayat bahwa sahabat Nabi SAW tidak menyukai jual beli Mushaf.

  • Sah dan tidak makruh: Pendapat Malikiyyah, sebagian Syafi’iyyah, dan sebagian Imam Ahmad menyatakan jual beli Mushaf sah dan diperbolehkan. Dalilnya mencakup praktik pada zaman Utsman bin Affan dan Abdullah bin Abbas, serta ayat Al-Qur’an yang membolehkan jual beli secara umum

Pendapat Rajih
Mayoritas ulama memperbolehkan jual beli Mushaf dengan pertimbangan:

  • Memudahkan umat memiliki Al-Qur’an.

  • Yang dijual adalah fisik Mushaf (kertas, jilid, tinta), bukan ayat-ayat Allah.

  • Memberikan manfaat nyata dalam pendidikan Al-Qur’an.

  • Pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin yang melarang jual beli Mushaf dapat menghalangi orang memanfaatkan Al-Qur’an.

Jual Beli Mushaf kepada Non-Muslim
Mayoritas ulama melarang penjualan Mushaf kepada non-Muslim, dengan dalil menjaga kehormatan Al-Qur’an, misalnya QS. Al-Waqi’ah: “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang yang suci.” Hadis dari Ibnu Umar juga menegaskan larangan membawa Al-Qur’an ke wilayah musuh.

  • Mazhab Syafi’i mengharamkan penjualan, dan jika terjadi, kepemilikan non-Muslim harus segera dihapus.

  • Mazhab Hanafi membolehkan tetapi makruh jika dikhawatirkan terjadi penghinaan.

  • Sebagian ulama kontemporer membolehkan jika tidak ada risiko penghinaan dan non-Muslim menghormatinya.

Jual Beli atau Pemberian Terjemahan Al-Qur’an
Mayoritas ulama memperbolehkan jual beli Al-Qur’an terjemahan kepada muslim maupun non-Muslim. Terjemahan dianggap sebagai tafsir, bukan Al-Qur’an itu sendiri, sehingga hukum jual belinya berbeda. Pemberian terjemahan kepada non-Muslim diperbolehkan jika bertujuan dakwah dan memastikan penghormatan terhadap Al-Qur’an.

Muzakarah ini menegaskan pentingnya menjaga kehormatan Mushaf Al-Qur’an sekaligus memfasilitasi akses umat dalam memperoleh Al-Qur’an dan pemahaman terhadapnya.

Wallahu a’lam bissawab

Safari Dakwah MUI Sumatera Utara di Mesjid Agung Hati Nurani Siatas Barita

muisumut.or.id, Tapanuli Utara — Ahad Shubuh, 26 Oktober 2025, Tim Safari Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara wilayah Tapanuli Utara melaksanakan silaturrahim dengan masyarakat dan jamaah di Mesjid Agung Hati Nurani, Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara.

Kegiatan ini menghadirkan Fadlan Khoiri, M.Ag., anggota Komisi Dakwah MUI Sumatera Utara, sebagai narasumber tausiah. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya memperdalam ilmu terkait bacaan Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Fatihah yang menjadi salah satu rukun dalam shalat.

Fadlan Khoiri mengingatkan bahwa sering terjadi kekeliruan dalam membaca Al-Fatihah, terutama dalam membedakan huruf-huruf hijaiyah yang mirip dan hampir serupa dalam pelafazannya. “Oleh karena itu, memperdalam ilmu tajwid sangat penting agar bacaan kita dalam shalat menjadi sempurna sesuai kaidah qiraat,” ujarnya.

Acara kemudian ditutup oleh Buya Dr. H. Sugeng Wanto, Sekretaris Bidang Dakwah MUI Sumatera Utara, yang kembali menegaskan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Beliau menyinggung karya Syeikh M. Al-Ghazali dalam Kaifa Nata’ammal al-Quran, yang menjelaskan bahwa salah satu faktor ketertinggalan umat Islam saat ini adalah semakin jauhnya umat dari kitab sucinya.

Safari Dakwah MUI Sumatera Utara di Tapanuli Utara ini diharapkan membawa keberkahan dan kemuliaan bagi seluruh peserta.

Muzakarah Fatwa MUI Sumut Bahas Tauhid Uluhiyah, Rububiyah, dan Asma’ wa Sifat

0

Medan, 26 Oktober 2025 – muisumut.or.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Muzakarah Fatwa pada Ahad, 26 Oktober 2025 di Aula MUI Sumut. Kegiatan ini menghadirkan Dr. H. Muhammad Nasir, Lc., M.A., Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut, sebagai narasumber dengan pembahasan tema “Tauhid Uluhiyah, Rububiyah, dan Asma’ wa Sifat.”

Dalam pemaparannya, Dr. Nasir menjelaskan bahwa tauhid secara bahasa berasal dari kata wahhada–yuwahhidu–tauhidan, yang berarti menjadikan sesuatu menjadi satu. Secara istilah, tauhid berarti mengesakan Allah dalam segala hal yang menjadi kekhususan-Nya, baik dalam Rububiyah, Uluhiyah, maupun Asma’ wa Sifat.

Ia menjelaskan, Tauhid Rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah satu-satunya yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh alam semesta. Tauhid Uluhiyah berarti mengesakan Allah dalam ibadah, yakni semua bentuk penghambaan hanya ditujukan kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. Sedangkan Tauhid Asma’ wa Sifat adalah keyakinan terhadap kesempurnaan nama dan sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis.

Dr. Nasir juga menegaskan pentingnya memahami ketiga aspek tauhid ini secara utuh agar tidak muncul kesalahpahaman dalam akidah. Ia menjelaskan bahwa Allah berbeda dari makhluk dalam segala hal, sebagaimana ditegaskan dalam sifat mukhalafah lil hawadits, yakni Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.

Dalam penjelasannya, Dr. Nasir memaparkan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga bagian seperti yang dikenal sekarang berawal dari pemikiran Ibnu Taimiyah, yaitu Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ wa Sifat. Namun, ia menilai pembagian ini tidak dikenal pada masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Menurutnya, dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, tauhid secara umum terbagi menjadi tiga pokok besar: Ilahiyyat (sifat-sifat Allah), Nubuwwat (kenabian), dan Ghaybiyyat (hal-hal gaib).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah, Rububiyah dan Uluhiyah tidak dapat dipisahkan karena keduanya merupakan satu kesatuan dalam pengesaan Allah. Pemisahan konsep ini justru dapat menimbulkan kekeliruan teologis dan membuka ruang bagi penafsiran yang salah terhadap praktik keagamaan tertentu, seperti tawassul dan istighatsah, yang sebenarnya tidak keluar dari prinsip tauhid.

Menutup kajiannya, Dr. Nasir mengingatkan bahwa tauhid tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga harus tercermin dalam keikhlasan dan penghambaan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Safari Dakwah MUI Sumut Titik Keempat: Buya Dr. Sugeng Wanto Ajak Jamaah Mesjid Syuhada Tarutung Kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah

muisumut.or.id., Tarutung, 25 Oktober 2025 — Rangkaian Safari Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara berlanjut ke titik keempat yang berlangsung di Mesjid Syuhada, Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, pada Sabtu malam (25/10/2025). Kegiatan yang dilaksanakan bakda salat Isya ini berlangsung penuh semangat dan kekhidmatan, dihadiri oleh jamaah serta para pengurus MUI dari berbagai tingkatan.

Hadir dalam kesempatan tersebut Sekretaris Umum MUI Taput, Bendahara Umum, Ketua Komisi Pendidikan, Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK), serta Ketua Pengadilan Agama Kota Tarutung. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Al-Ustadz Fadlan Khairi, anggota Komisi Dakwah MUI Sumatera Utara, dilanjutkan dengan sambutan dari pihak BKM Mesjid Syuhada yang juga mewakili MUI Kabupaten Tapanuli Utara.

Puncak kegiatan diisi dengan taushiah oleh Buya Dr. H. Sugeng Wanto, S.Ag., M.Ag., Sekretaris Bidang Dakwah MUI Sumatera Utara, yang mengangkat tema “Limaza Ta’akhkharal Muslimun, Wa Limaza Taqaddama Ghairuhum?” (Mengapa Umat Islam Tertinggal, dan Mengapa Umat Lain Maju?).

Dalam ceramahnya, Buya Sugeng menguraikan tiga faktor utama yang menyebabkan kemunduran umat Islam.

Pertama, karena umat Islam jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kedua, karena umat Islam terpecah belah dan mudah diadu domba. Dan ketiga, karena fanatisme buta atau ta’ashub,” jelasnya.

Beliau menegaskan bahwa kebangkitan umat hanya dapat terwujud bila kembali berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, memperkuat ukhuwah Islamiyah sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hujurat ayat 10, serta menjadi ummatan wasatha — umat yang moderat, adil, dan seimbang.

Umat Islam harus menguatkan persaudaraan dan menjauhi sikap berlebihan. Kekuatan Islam terletak pada kesatuan, bukan perpecahan,” tegas Buya Sugeng.

Di penghujung kegiatan, suasana keakraban semakin terasa saat BKM Mesjid Syuhada mengundang tim Safari Dakwah dan jamaah untuk “ngopi bareng” di kantin masjid yang telah berdiri sejak empat tahun lalu. Kantin tersebut menjadi tempat hangat untuk bersilaturahmi sambil menanti waktu salat berjemaah.

Safari Dakwah MUI Sumatera Utara di Mesjid Syuhada Tarutung menjadi momentum berharga dalam memperkuat semangat ukhuwah dan membumikan dakwah Islam yang sejuk, moderat, dan penuh persaudaraan.

Safari Dakwah MUI Sumut di Titik Ketiga: Menguatkan Iman dan Taqwa di Komplek Kodim Tarutung

muisumut.or.id., Tarutung, 25 Oktober 2025 — Rangkaian Safari Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara berlanjut ke titik ketiga, bertempat di Masjid Al Ikhlash, Komplek Perumahan Kodim Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Suasana penuh kehangatan dan antusiasme tampak dari jamaah yang sebagian besar merupakan keluarga besar TNI Kodim Tarutung, yang menyambut kedatangan tim Safari Dakwah dengan penuh suka cita.

Kegiatan diawali dengan salat Maghrib berjemaah yang diikuti oleh warga komplek, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al Ikhlash. Acara berlanjut dengan tausiyah utama yang disampaikan oleh Ustadz Untung Auliya Syafri Sitorus, S.Ag., anggota Komisi Dakwah MUI Sumatera Utara.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Untung Sitorus mengajak jamaah untuk mentadabburi firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Beliau menegaskan bahwa bekal terbaik untuk menghadapi masa depan, baik di dunia maupun akhirat, adalah ketaqwaan kepada Allah SWT. Menukil nasihat Ali bin Abi Thalib RA, Ustadz Untung menjelaskan empat ciri utama orang bertakwa:

  1. Al-Khaufu minal-Jalil, yakni rasa takut kepada Allah yang Maha Agung;

  2. Al-‘Amalu bi At-Tanzil, beramal sesuai dengan wahyu Allah (Al-Qur’an);

  3. Ar-Ridha bil-Qalil, merasa cukup dan ridha atas pemberian Allah; dan

  4. Al-Isti’dadu li Yaumir-Rahil, selalu mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapi kematian.

Pada poin ketiga, Ustadz Untung menekankan pentingnya bersyukur atas rezeki, sekecil apa pun bentuknya.

Rezeki sudah tertakar dan tidak akan tertukar,” ujarnya. “Kucing hidup di darat, tapi makanannya ikan di laut. Walaupun tidak bisa berenang, ia tetap mendapat jatah rezekinya, meski hanya kepala atau tulang ikan. Maka jadilah pribadi yang ridha dan pandai bersyukur atas takdir Allah.

Alumni UIN Sumatera Utara itu menambahkan bahwa syukur merupakan kunci keberkahan hidup, sedangkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat adalah amal saleh yang berkualitas. Ia kemudian menutup tausiyah dengan pembacaan Surah Al-Mulk ayat 2:

“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”

Kegiatan Safari Dakwah diakhiri dengan sambutan dan arahan dari Buya Dr. H. Sugeng Wanto, S.Ag., M.Ag., selaku Sekretaris Bidang Dakwah MUI Sumatera Utara. Dalam arahannya, Buya Sugeng menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah dan penguatan iman serta taqwa di tengah kehidupan masyarakat, khususnya bagi keluarga besar TNI yang memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan bangsa.

MUI hadir untuk memperkuat sinergi dakwah dan membangun semangat persaudaraan di semua lapisan masyarakat,” ujarnya menutup kegiatan.

Safari Dakwah MUI Sumut di Masjid Al Ikhlash menjadi momentum berharga dalam mempererat hubungan antara ulama dan umat, sekaligus menghidupkan semangat keagamaan di lingkungan prajurit dan keluarga besar TNI di Kodim Tarutung

Tim Safari Dakwah MUI Sumut Silaturahim ke MIS Ibnu Sina Pangururan: Tanamkan Semangat Ilmu dan Hafalan Al-Qur’an pada Generasi Muda

muisumut.or.id., Samosir, 25 Oktober 2025 — Dalam rangkaian kegiatan Safari Dakwah di Kabupaten Samosir, Tim Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara melakukan silaturahim ke Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Ibnu Sina Pangururan, Sabtu (25/10/2025). Kunjungan ini menjadi momen penuh makna dalam upaya membina dan memotivasi generasi muda agar tumbuh menjadi insan berilmu dan berakhlak Qurani.

Dalam kesempatan tersebut, anggota Tim Safari Dakwah MUI Sumut, Dr. H. M. Tohir Ritonga, Lc., M.A., CWC, berinteraksi langsung dengan para siswa dan siswi MIS Ibnu Sina. Ia memberikan motivasi agar anak-anak mencintai ilmu dan terus menjaga hafalan Al-Qur’an sejak dini. “Anak-anak hari ini adalah generasi masa depan. Kecintaan mereka kepada ilmu dan Al-Qur’an akan menentukan arah bangsa ini ke depan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Selain memberikan tausiyah dan nasihat keagamaan, Dr. Tohir Ritonga juga turut mengevaluasi hafalan surah-surah pendek para siswa, serta memberikan arahan tentang cara menjaga hafalan dengan baik dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut bahwa hafalan Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan mengingat ayat, melainkan bentuk kedekatan hati dengan Allah SWT.

Kegiatan berlangsung dengan suasana hangat dan penuh antusiasme. Para guru dan siswa merasa bangga mendapat kunjungan dari para dai dan ulama MUI Sumut. Tim Safari Dakwah juga memberikan dorongan moral kepada para pendidik agar terus menanamkan nilai-nilai keislaman dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian Safari Dakwah MUI Sumut 2025 yang dilaksanakan di berbagai wilayah, termasuk daerah dengan komunitas Muslim minoritas seperti Samosir. Program ini bertujuan memperkuat ukhuwah Islamiyah, memperluas jangkauan dakwah, dan menumbuhkan semangat belajar agama di kalangan generasi muda.

Dengan semangat silaturahim dan dakwah yang sejuk, MUI Sumut berharap kunjungan ini dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan Islam di daerah lain untuk terus menanamkan nilai-nilai keimanan, ilmu, dan amal saleh kepada peserta didik.

MUI Sumatera Utara Jalin Sinergi Dakwah dengan Pengadilan Agama Kota Tarutung

muisumut.or.id., Tarutung, 25 Oktober 2025, — Dalam rangkaian Safari Dakwah di wilayah Tapanuli Utara, Sabtu (25/10/2025), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara melakukan koordinasi dan memperkuat sinergisitas dakwah dengan Pengadilan Agama (PA) Kota Tarutung. Pertemuan berlangsung penuh keakraban antara Tim Safari Dakwah MUI Sumut yang dipimpin oleh Sekretaris Bidang Dakwah, Buya Dr. H. Sugeng Wanto, S.Ag., M.Ag, dengan Ketua PA Kota Tarutung, Dr. Handika Fuji Sunu, S.HI., M.H.

Dalam pertemuan tersebut, Dr. Handika Fuji Sunu memaparkan kondisi umat Islam di Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan (Humbahas), yang termasuk dalam wilayah kerja PA Kota Tarutung. Ia menekankan pentingnya memaksimalkan seluruh potensi umat untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta membangun semangat kebersamaan dalam menjalankan dakwah.

Sinergisitas dakwah perlu terus dijaga agar umat Islam dapat saling menguatkan dan memahami satu sama lain. Mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin hanya bisa dicapai dengan kebersamaan dan saling pengertian,” ujar Dr. Handika Fuji Sunu.

Buya Dr. Sugeng Wanto menyambut baik pandangan tersebut. Menurutnya, lembaga seperti Pengadilan Agama memiliki peran strategis tidak hanya dalam bidang hukum keluarga Islam, tetapi juga dalam membina umat melalui keteladanan, edukasi, dan pembinaan moral.

Kami melihat PA Kota Tarutung memiliki posisi penting dalam memperkuat dakwah di wilayahnya. Semoga sinergi ini dapat terus terjalin untuk membina akidah dan ukhuwah umat Islam di Tapanuli Utara dan sekitarnya,” ungkap Buya Sugeng.

Melalui koordinasi ini, MUI Sumatera Utara berharap kehadiran Safari Dakwah tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi spirit dakwah kolaboratif dalam memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan semangat Islam yang penuh rahmat di tengah masyarakat.