Wednesday, September 16, 2026
spot_img

Workshop KBC di Pesantren Darul Qur’an Perkenalkan Lima Cinta dan Pendekatan Pembelajaran ARKA MEDAN — Workshop KBC (Kurikulum Berbasis Cinta) diselenggarakan di Pesantren Darul Qur’an dengan diikuti sekitar 100 guru pesantren. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ketua Bidang Pendidikan dan Pesantren, Prof. Hasan Bakti Nasution, MA, dan Sekretaris Bidang, Dr. H. Najamuddin, M.Ag. Workshop tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas para pendidik dalam memahami sekaligus menerapkan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam proses pembelajaran di lingkungan pesantren. Dalam workshop diperkenalkan konsep Lima Cinta yang menjadi fondasi utama KBC, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta alam, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air. Kelima nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi diarahkan untuk menjadi bagian dari sikap, perilaku, dan budaya pendidikan yang diterapkan oleh para pendidik maupun santri dan santriwati dalam kehidupan sehari-hari. Melalui KBC, pendidikan tidak semata-mata diarahkan pada pencapaian aspek pengetahuan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai kehidupan. Guru diharapkan mampu menghadirkan suasana pembelajaran yang menumbuhkan rasa cinta, kepedulian, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama serta lingkungan. Dalam workshop tersebut juga diperkenalkan pendekatan pembelajaran ARKA, yakni Aktivitas, Refleksi, Konsep, dan Aksi. Pendekatan ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Tahap Aktivitas mendorong peserta didik untuk mengalami dan melakukan sesuatu secara langsung. Pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan Refleksi, sehingga peserta didik dapat memahami makna dari apa yang telah dialaminya. Selanjutnya, pengalaman dan refleksi diarahkan untuk membangun Konsep yang lebih sistematis. Tahap terakhir adalah Aksi, yakni mendorong peserta didik untuk menerapkan nilai dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan nyata. Dengan pendekatan ARKA, nilai-nilai Lima Cinta diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi di dalam kelas, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. KBC juga menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari keteladanan pendidik. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga menjadi figur yang menghadirkan dan mempraktikkan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, cinta kepada Allah dan Rasul diharapkan melahirkan sikap religius; cinta ilmu menumbuhkan semangat belajar dan tradisi keilmuan; cinta alam membangun kepedulian terhadap lingkungan; cinta diri dan sesama menumbuhkan sikap saling menghargai dan peduli; sedangkan cinta tanah air membentuk kesadaran kebangsaan dan tanggung jawab sebagai warga negara. Keikutsertaan sekitar 100 guru pesantren dalam workshop ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat implementasi KBC di lingkungan pendidikan pesantren. Para pendidik diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai Lima Cinta dan pendekatan ARKA ke dalam kegiatan pembelajaran maupun kehidupan keseharian santri dan santriwati. Melalui implementasi KBC secara konsisten, pesantren diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat, berakhlak, mencintai ilmu, peduli terhadap sesama dan lingkungan, serta memiliki kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.

MEDAN, muisumut.or.id.  3 Agustus  2026  — Workshop KBC (Kurikulum Berbasis Cinta) diselenggarakan di Pesantren Darul Qur’an dengan diikuti sekitar 100 guru pesantren. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ketua Bidang Pendidikan dan Pesantren, Prof. Hasan Bakti Nasution, MA, dan Sekretaris Bidang, Dr. H. Najamuddin, M.Ag.
Workshop tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas para pendidik dalam memahami sekaligus menerapkan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam proses pembelajaran di lingkungan pesantren.
Dalam workshop diperkenalkan konsep Lima Cinta yang menjadi fondasi utama KBC, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta alam, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air.
Kelima nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi diarahkan untuk menjadi bagian dari sikap, perilaku, dan budaya pendidikan yang diterapkan oleh para pendidik maupun santri dan santriwati dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui KBC, pendidikan tidak semata-mata diarahkan pada pencapaian aspek pengetahuan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai kehidupan. Guru diharapkan mampu menghadirkan suasana pembelajaran yang menumbuhkan rasa cinta, kepedulian, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama serta lingkungan.
Dalam workshop tersebut juga diperkenalkan pendekatan pembelajaran ARKA, yakni Aktivitas, Refleksi, Konsep, dan Aksi. Pendekatan ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran.
Tahap Aktivitas mendorong peserta didik untuk mengalami dan melakukan sesuatu secara langsung. Pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan Refleksi, sehingga peserta didik dapat memahami makna dari apa yang telah dialaminya.
Selanjutnya, pengalaman dan refleksi diarahkan untuk membangun Konsep yang lebih sistematis. Tahap terakhir adalah Aksi, yakni mendorong peserta didik untuk menerapkan nilai dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan nyata.
Dengan pendekatan ARKA, nilai-nilai Lima Cinta diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi di dalam kelas, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.
KBC juga menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari keteladanan pendidik. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga menjadi figur yang menghadirkan dan mempraktikkan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, cinta kepada Allah dan Rasul diharapkan melahirkan sikap religius; cinta ilmu menumbuhkan semangat belajar dan tradisi keilmuan; cinta alam membangun kepedulian terhadap lingkungan; cinta diri dan sesama menumbuhkan sikap saling menghargai dan peduli; sedangkan cinta tanah air membentuk kesadaran kebangsaan dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Keikutsertaan sekitar 100 guru pesantren dalam workshop ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat implementasi KBC di lingkungan pendidikan pesantren. Para pendidik diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai Lima Cinta dan pendekatan ARKA ke dalam kegiatan pembelajaran maupun kehidupan keseharian santri dan santriwati.
Melalui implementasi KBC secara konsisten, pesantren diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat, berakhlak, mencintai ilmu, peduli terhadap sesama dan lingkungan, serta memiliki kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,400SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles