Friday, April 17, 2026
spot_img

Juru Sembelih Halal: Penjaga Amanah di Balik Sepotong Daging

muisumut.or.id.,  15  April 2026,  Di meja makan kita, sepotong daging tersaji dalam berbagai olahan yang menggugah selera. Namun, jarang kita menyadari bahwa di balik hidangan tersebut terdapat satu profesi penting yang menentukan halal tidaknya makanan yang kita konsumsi, yaitu Juru Sembelih Halal (JULEHA). Ia bukan sekadar pekerja teknis, melainkan penjaga amanah syariat sekaligus penjamin mutu pangan bagi umat.

Dalam ajaran Islam, persoalan halal tidak berhenti pada jenis hewan yang dikonsumsi, tetapi juga pada cara memperolehnya. Al-Qur’an menegaskan:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Dan janganlah kamu memakan (daging) yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya…”
(QS. Al-An‘ām: 121)

Ayat ini menunjukkan bahwa penyembelihan bukan sekadar proses fisik, tetapi juga ibadah yang mensyaratkan kesadaran spiritual. Di sinilah peran JULEHA menjadi sangat penting dan menentukan.

Lebih dari Sekadar Memotong
Banyak orang mengira penyembelihan hanyalah perkara memotong leher hewan. Padahal, dalam syariat Islam terdapat ketentuan yang jelas: penyembelih harus menyebut nama Allah, menggunakan alat yang tajam, serta memutus saluran napas, saluran makanan, dan pembuluh darah utama dengan cepat dan tepat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa penyembelihan harus dilakukan dengan ihsan—yakni secara profesional, manusiawi, dan tidak menyiksa hewan. Artinya, seorang JULEHA tidak hanya dituntut memahami fiqh penyembelihan, tetapi juga memiliki keterampilan teknis serta etika kerja yang tinggi.

Titik Kritis dalam Industri Halal
Di era modern, ketika industri pangan berkembang pesat, posisi JULEHA semakin strategis. Ia menjadi titik kritis halal (halal critical point) dalam rantai produksi daging. Satu kesalahan kecil dalam proses penyembelihan dapat berdampak besar: produk menjadi tidak halal, bahkan haram untuk dikonsumsi.

Karena itu, sistem jaminan halal nasional melibatkan berbagai lembaga seperti BPJPH dan LPPOM MUI untuk memastikan standar halal terpenuhi. Dalam sistem tersebut, seorang JULEHA harus memiliki sertifikasi, mengikuti pelatihan, serta bekerja sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Hikmah di Balik Syariat
Mengapa Islam mengatur penyembelihan secara begitu rinci? Ternyata, di baliknya terdapat berbagai hikmah yang mendalam.

Pertama, hikmah spiritual. Penyebutan nama Allah ketika menyembelih mengingatkan manusia bahwa kehidupan berasal dari-Nya dan setiap tindakan manusia harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya.

Kedua, hikmah kesehatan. Penyembelihan yang benar memungkinkan darah keluar secara maksimal dari tubuh hewan, sehingga dapat mengurangi potensi bakteri dan racun. Hal ini menjadikan daging lebih higienis dan aman untuk dikonsumsi.

Ketiga, hikmah kesejahteraan hewan. Islam mengajarkan agar hewan tidak disiksa. Bahkan menajamkan pisau di depan hewan pun dilarang karena dapat menimbulkan stres. Prinsip ini sejalan dengan konsep modern mengenai animal welfare.

Keempat, hikmah ekonomi. Kepercayaan terhadap produk halal membuka peluang besar di pasar global. Saat ini, industri halal menjadi salah satu sektor ekonomi yang tumbuh paling cepat di dunia.

Profesi yang Sering Terlupakan
Ironisnya, di tengah pentingnya peran tersebut, profesi JULEHA sering kali kurang mendapat perhatian. Padahal, merekalah penjaga garis depan halal dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.

Mereka bekerja di rumah potong hewan, pasar tradisional, hingga industri pangan skala besar—sering tanpa sorotan, namun memikul tanggung jawab yang sangat besar. Di tangan merekalah kehalalan pangan jutaan umat ditentukan.

Menjaga Halal, Menjaga Peradaban
Dalam perspektif yang lebih luas, keberadaan JULEHA bukan sekadar berkaitan dengan daging halal, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Halal bukan hanya sebuah label, melainkan sebuah sistem yang mencakup dimensi spiritual, kesehatan, etika, dan ekonomi.

Karena itu, sudah saatnya profesi ini mendapat perhatian yang lebih serius—melalui pelatihan, sertifikasi, serta penghargaan yang layak. Sebab dari tangan seorang JULEHA, lahir bukan hanya makanan yang halal, tetapi juga keberkahan bagi kehidupan umat.

Prof. Dr. Ir. H. Basyaruddin, MS
Ketua Bidang Halal MUI Sumatera Utara
Direktur LPPOM MUI Sumut

Related Articles

Stay Connected

4,203FansLike
3,912FollowersFollow
12,300SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles