Medan, muisumut.or.id. 19 September 2026 — Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara kembali menggelar pengajian rutin bulanan, Sabtu (19/9/2026), bertepatan dengan 7 Rabiul Akhir 1448 H. Pengajian yang dilaksanakan setiap Sabtu ketiga setiap bulan ini dihadiri sekitar 150 ibu-ibu majelis taklim se-Kota Medan.
Pada pengajian kali ini, KPRK MUI Sumut menghadirkan Dr. H. Muhammad Tohir Ritonga, Lc., M.A. sebagai penceramah dengan mengangkat tema “Hikmah di Balik Musibah”. Pengajian dipandu oleh Ketua Komisi KPRK MUI Sumut, Dr. Faridah, M.Hum.
Dalam tausiyahnya, Dr. Muhammad Tohir Ritonga mengawali pembahasan dengan menjelaskan pengertian musibah serta menegaskan bahwa musibah merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari.

“Semua manusia pasti pernah mengalami musibah, baik orang saleh maupun orang yang melakukan kesalahan. Bahkan para nabi juga tidak luput dari musibah, mulai dari Nabi Adam ‘alaihissalam hingga Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.
Menurutnya, musibah yang menimpa seseorang tidak selalu berarti bahwa orang tersebut sedang jauh dari Allah SWT. Sebaliknya, semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, tidak tertutup kemungkinan semakin berat pula ujian yang dihadapinya.
Ia mengingatkan bahwa seluruh musibah yang terjadi berada dalam ketetapan Allah SWT dan telah tertulis di Lauhul Mahfuz. Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak menghadapi musibah dengan keputusasaan, melainkan dengan kesabaran dan keimanan.
Musibah Menjadi Penghapus Dosa
Dr. Tohir juga menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa berbagai kesulitan yang menimpa seorang Muslim dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa.
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu,” ujarnya.
Karena itu, lanjutnya, musibah hendaknya tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang menyakitkan, tetapi juga sebagai bagian dari proses pendidikan spiritual bagi seorang Muslim.
Menurutnya, kesabaran yang sebenarnya justru terlihat pada saat awal seseorang menerima musibah. Reaksi pertama ketika musibah datang menjadi bagian penting dalam mengukur kesabaran seseorang.
“Kesabaran yang utama adalah ketika seseorang pertama kali mendapatkan musibah. Bagaimana reaksinya saat pertama kali musibah itu datang, di situlah terlihat kesabaran yang sebenarnya,” ungkapnya.
Ikhtiar, Doa dan Tawakal
Meskipun musibah merupakan bagian dari takdir Allah SWT, Dr. Tohir menegaskan bahwa takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.
Seorang Muslim tetap harus berusaha semaksimal mungkin, kemudian berdoa dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
“Dalam menghadapi persoalan kehidupan ada tiga hal yang harus berjalan beriringan, yaitu ikhtiar, doa dan tawakal,” katanya.
Ia juga mengingatkan prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim, yakni bersyukur ketika memperoleh nikmat dan bersabar ketika mendapatkan musibah.
Musibah, menurutnya, bukan alasan untuk berputus asa. Justru musibah seyogianya menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, Allah dapat menjadikan sebuah musibah sebagai sarana untuk meningkatkan derajat seorang hamba.
Mengandung Nilai Pendidikan dan Spiritual
Lebih lanjut, Dr. Tohir menjelaskan bahwa di balik musibah terdapat berbagai nilai pendidikan yang dapat membentuk kepribadian seorang Muslim. Di antaranya adalah kesabaran, peningkatan keimanan, tawakal, empati kepada sesama, serta ketahanan mental dan spiritual.
Adapun sejumlah hikmah yang dapat dipetik dari musibah antara lain menjadi sarana penghapus dosa, meningkatkan kesabaran, membentuk pribadi yang lebih kuat, menyadarkan manusia akan keterbatasan dirinya, meningkatkan rasa syukur, membuat seseorang lebih tahan menghadapi penderitaan, menumbuhkan kepedulian dan semangat saling membantu, memperbanyak doa, serta meningkatkan ketergantungan kepada Allah SWT.
“Musibah juga mengajarkan manusia bahwa kemampuan dirinya terbatas. Pada akhirnya manusia menyadari bahwa ia membutuhkan pertolongan Allah SWT,” jelasnya.
Dalam menghadapi musibah, ia mengingatkan pentingnya memperbanyak doa. Di antaranya membaca:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”
Selain itu, seorang Muslim juga dianjurkan memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna.”
Momentum Meningkatkan Keimanan
Pada bagian akhir tausiyahnya, Dr. Tohir menegaskan bahwa musibah merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Namun, musibah tidak selayaknya hanya dipandang sebagai sesuatu yang buruk, karena di dalamnya terdapat nilai pendidikan dan spiritual yang dapat meningkatkan kualitas diri seorang Muslim.
Ia kembali mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa kesabaran yang paling utama terlihat ketika seseorang pertama kali menghadapi musibah. Kesedihan merupakan sesuatu yang manusiawi, tetapi jangan sampai diekspresikan dengan cara yang bertentangan dengan syariat.
“Seseorang yang mendapatkan musibah bukan berarti Allah sedang menghukumnya. Namun demikian, musibah tetap perlu menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri,” tuturnya.
Melalui pengajian rutin tersebut, KPRK MUI Sumatera Utara terus berupaya memberikan penguatan keagamaan kepada kaum perempuan, khususnya para ibu majelis taklim, agar memiliki ketahanan spiritual dan mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan landasan iman.





