Saturday, April 18, 2026
spot_img
Home Blog Page 21

Ketua Umum MUI Sumut Tekankan Peran Alumni PTKU sebagai Ulama, Pengamal, dan Pembela Agama

0

Medan, muisumut.or.id, Ahad 21 September 2025 – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, Dr. Maratua Simajuntak, memberikan sambutan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan pembukaan kajian rutin keluarga alumni PTKU MUI Sumut, Ahad (21/9/2025) di Aula MUI Sumut.

Dalam arahannya, Dr. Maratua menekankan pentingnya alumni PTKU untuk menjaga jati diri sebagai ulama sekaligus tampil sebagai pengamal dan pembela agama. Ia berpesan agar kader-kader ulama senantiasa hadir di tengah masyarakat, aktif dalam kegiatan masjid, dan tidak menjauh dari tradisi keilmuan Islam.

“Kalau alumni PTKU, harus tampak identitasnya sebagai ulama. Mulailah dari hal sederhana, seperti selalu hadir di masjid, aktif dalam pengajian, meski hanya sebagai jamaah. Dari situlah masyarakat akan mengenal dan menaruh hormat,” ujarnya.

Dr. Maratua juga menekankan pentingnya tertib diri, tertib ibadah, tertib waktu, dan tertib administrasi sebagai bekal kader ulama. Menurutnya, ulama bukan hanya dinilai dari ilmu yang dimiliki, tetapi juga dari sikap, kebiasaan, serta kedisiplinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Jangan takut jika perjuangan tidak selalu diiringi materi. Ulama sejati adalah mereka yang ikhlas mengamalkan ilmunya. Alumni PTKU harus siap tampil bukan hanya sebagai ahli agama, tetapi juga pengamal agama, dan terutama pembela agama di tengah tantangan zaman,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa alumni harus membiasakan diri menulis dan mempersiapkan materi dakwah dengan baik agar tidak mengulang isi ceramah secara monoton. Hal itu, menurutnya, menjadi bagian dari tanggung jawab intelektual ulama.

Menutup sambutannya, Dr. Maratua mengapresiasi langkah PTKU MUI Sumut yang menggagas kajian rutin alumni. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah silaturahmi, penguatan dakwah, sekaligus ruang kaderisasi ulama yang konsisten melahirkan tokoh-tokoh Islam yang berintegritas di Sumatera Utara.

Prof. Basyaruddin: Islam Rahmatan lil ‘Alamin Harus Diamalkan, Bukan Sekadar Dipahami

0

Medan, muisumut.or.id, Ahad 21 September 2025 – Prof. Dr. Basyaruddin, M.S., menyampaikan tausiyah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus pembukaan kajian rutin alumni PTKU MUI Sumut, Ahad (21/9/2025) di Aula MUI Sumatera Utara.

Dalam ceramahnya, Prof. Basyaruddin menegaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Rahmat tersebut, katanya, bukan hanya untuk umat Islam, melainkan juga bagi non-Muslim dan seluruh makhluk di muka bumi.

“Untuk orang beriman, rahmat itu berupa hidayah, ampunan, dan ketenangan. Sementara bagi orang kafir, rahmat itu berupa penundaan azab serta kesempatan untuk bertobat. Bahkan bagi alam semesta, rahmat itu hadir dalam bentuk keteraturan dan keseimbangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti sejarah kejayaan Islam pada abad pertengahan. Saat itu, umat Islam mampu menggabungkan kedalaman agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, kemunduran terjadi ketika ulama kehilangan semangat, umat jauh dari pemahaman agama, dan ilmuwan terjebak sekularisme.

“Islam akan membawa umatnya pada kemenangan jika benar-benar diamalkan. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menjaga semangat itu agar tidak luntur,” ujarnya.

Prof. Basyaruddin juga menekankan pentingnya menjaga akhlak, baik kepada Allah, kepada diri sendiri, maupun kepada sesama manusia. Menurutnya, lemahnya akhlak dapat mendatangkan azab, sebagaimana banyak dicontohkan dalam Al-Qur’an.

“Jangan hanya membaca Al-Qur’an, tapi tidak mengamalkan. Akhlak adalah kunci utama. Tanpa akhlak, ilmu tidak bernilai dan amal pun kehilangan maknanya,” tegasnya.

Di akhir tausiyah, ia mengapresiasi langkah alumni PTKU MUI Sumut yang mengadakan kajian rutin sebagai wadah untuk memperkuat keilmuan dan pengabdian. “Semoga kegiatan ini terus berlanjut, melahirkan ulama-ulama muda yang berwawasan luas, berakhlak mulia, dan membawa rahmat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Direktur PTKU MUI Sumut Dorong Alumni Terus Berkarya Lewat Kajian Rutin

0

Medan, muisumut.or.id, Ahad 21 September 2025 – Direktur Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, Prof. Dr. Hasan Bakti Nasution, M.A., memberikan sambutan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus pembukaan maulid keluarga alumni PTKU, Ahad (21/9/2025) di Aula MUI Sumatera Utara.

Dalam kapasitasnya sebagai Dewan Pembina KAMI PTKU MUI Sumut, Prof. Hasan menyampaikan apresiasi atas semangat para alumni yang hadir. Kehadiran utusan dari berbagai daerah, termasuk Kabupaten Karo, menurutnya menunjukkan bahwa semangat silaturahmi dan dakwah tetap hidup di tengah para kader.

“Kegiatan ini bukan hanya peringatan seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat peran alumni dalam dakwah dan keilmuan. Kajian rutin ini menjadi wadah penting bagi alumni untuk terus berkontribusi, memperdalam wawasan, dan menyiapkan diri sebagai kader-kader ulama masa depan,” ujarnya.

Prof. Hasan juga menyoroti kekhasan peringatan Maulid di Indonesia yang sarat dengan nuansa kebersamaan. Berbeda dengan tradisi di beberapa negara lain yang lebih menonjolkan hiburan, di Indonesia Maulid menjadi ajang memperkuat ukhuwah, pengajian, dan silaturahmi.

“Jangan sampai kegiatan seperti Maulid ini redup. Justru ia harus dihidupkan dengan penuh semangat dan kreativitas. Kajian yang berkesinambungan akan melahirkan alumni yang bukan hanya ahli agama, tetapi juga siap menjadi bagian dari pengurus MUI di masa depan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa alumni PTKU memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kesinambungan dakwah. Melalui kajian rutin, diharapkan terbentuk jaringan intelektual dan spiritual yang mampu merespons tantangan zaman dengan bijaksana.

Menutup sambutannya, Prof. Hasan secara resmi membuka kajian rutin KAMI PTKU MUI Sumut. Ia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dengan dukungan penuh dari seluruh pihak, sehingga alumni tidak hanya berhenti pada gelar akademik, tetapi mampu menjadi motor penggerak dakwah Islam yang membawa maslahat bagi masyarakat.

Alumni PTKU MUI Sumut Gelar Peringatan Maulid Nabi dan Pembukaan Kajian Rutin

0

Medan muisumut.or.id 21 September 2025 – Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kader Ulama Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KAMI PTKU MUI SU) menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus membuka program kajian rutin, Ahad (21/9/2025) di Aula MUI Sumatera Utara.

Acara dibuka dengan sambutan Ketua Alumni PTKU, Muhammad Puadi Harahap, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan yang dihadiri langsung Ketua Umum MUI Sumut beserta jajaran pengurus, pimpinan komisi, dan para alumni lintas angkatan.

“Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus wadah penguatan peran alumni sebagai ahli agama, pengamal agama, dan pembela agama. Kajian rutin ini nantinya akan berbentuk muzakarah dengan rujukan utama kitab turats, serta diisi pencerahan dari para alumni senior,” ujar Puadi.

Peringatan Maulid Nabi dan kajian rutin ini menghadirkan dua penceramah, yakni Prof. Dr. Ir. H. Basyaruddin, MS., Direktur LPPOM MUI Sumut, serta Hakkul Yakin Siregar, Lc., M.Ag., alumni PTKU angkatan IV yang baru menyelesaikan studi magisternya.

Puadi juga menyampaikan terima kasih kepada panitia yang diketuai Ustaz Muhairi, serta para donatur yang mendukung terselenggaranya kegiatan. Ia menegaskan bahwa kegiatan alumni PTKU selama ini berjalan secara swadaya dengan semangat kebersamaan.

“Alhamdulillah, kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik berkat partisipasi alumni dan dukungan dari berbagai pihak. Semoga kegiatan ini bermanfaat, menjadi amal jariyah, dan terus didukung oleh MUI Sumatera Utara,” tutupnya.

Selain peringatan Maulid Nabi dan pembukaan kajian, alumni PTKU juga tengah terlibat dalam program pengabdian masyarakat di daerah minoritas, seperti di Kecamatan Kutalimbaru dan Sei Bingai. Program tersebut menugaskan para alumni menjadi dai selama beberapa hari untuk mendampingi umat di wilayah tersebut.

Demonstrasi dalam Timbangan Syariat: Boleh atau Terlarang? Oleh Rezkia Zahara Lubis, Alumni PTKUP MUISU

0

Demonstrasi (muzhaharah atau ihtijaj) merupakan fenomena sosial yang kerap muncul dalam kehidupan modern sebagai sarana masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, atau ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah dan pihak berwenang. Dalam konteks demokrasi, demo sering dianggap sebagai wujud kebebasan berpendapat. Namun, bagaimana Islam memandang aksi demonstrasi ini? Apakah ia selaras dengan nilai-nilai syariat, atau justru menyalahi prinsip-prinsip hukum Islam?

Sebagian pandangan ulama kontemporer menilai bahwa demonstrasi diperbolehkan selama dilakukan dengan syarat-syarat tertentu, yaitu damai, tidak menimbulkan kerusakan, dan bertujuan menegakkan kebenaran. Seperti pandangan dari Yusuf al-Qaradawi yang berpendapat bahwa demonstrasi adalah salah satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar di zaman modern. Selama tidak menimbulkan kekerasan, maka ia termasuk sarana yang sah untuk menyampaikan kebenaran. Kemudian, Syaikh Abdul Karim Zaidan juga menjelaskan bahwa menyuarakan pendapat di muka umum melalui demonstrasi tidak bertentangan dengan syariat, selama tidak melanggar prinsip Islam, seperti mencaci, merusak, atau menumpahkan darah. Serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga pada beberapa fatwanya menyebutkan bahwa demonstrasi dibolehkan selama dilakukan secara damai, tertib, dan tidak melanggar hukum.

Selain itu, ada sebagian pandangan ulama lain yang menolak demonstrasi dengan alasan bahwa ia termasuk perbuatan yang menyerupai tradisi Barat dan lebih banyak menimbulkan mudarat dibanding manfaat. Pandangan dari Syaikh Ibn Utsaimin menilai bahwa demonstrasi bukan metode yang diajarkan Islam. Menurutnya, nasihat kepada pemimpin sebaiknya dilakukan dengan cara tertutup, bukan melalui aksi massa yang dapat menimbulkan fitnah dan kerusuhan. Kemudian, Lajnah Daimah Arab Saudi juga mengeluarkan fatwa bahwa demonstrasi tidak dibolehkan karena membuka pintu kerusakan, mengganggu ketertiban umum, serta berpotensi menimbulkan kekerasan. Serta, sebagian ulama salafi menekankan bahwa jalan syar’i dalam menasihati penguasa adalah dengan al-nashihah fi sirri (menasihati secara pribadi), bukan dengan demonstrasi yang dianggap bentuk pembangkangan.

Selanjutnya pandangan moderat atau ada juga ulama yang mengambil posisi tengah. Mereka tidak menolak sepenuhnya, namun memberikan batasan ketat. Bahwa demonstrasi boleh dilakukan hanya jika benar-benar menjadi sarana terakhir, setelah jalan musyawarah dan dialog tidak lagi efektif. Harus dipastikan tidak menimbulkan kerusakan, pertumpahan darah, atau tindakan anarkis. Harus diarahkan untuk tujuan maslahat umat, bukan sekadar kepentingan kelompok atau politik praktis.

Opini tentang Demo dalam Perspektif Islam

  1. Demo sebagai ekspresi aspirasi

Dalam konteks modern, demonstrasi dipandang sebagai sarana menyampaikan pendapat, kritik, atau tuntutan kepada pemerintah maupun pihak tertentu. Dalam Islam, menyampaikan kebenaran dan amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban. Jika jalur formal tidak memberi ruang, maka demo bisa dilihat sebagai salah satu bentuk perjuangan menegakkan keadilan.

Islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan, kebenaran, dan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Ayat ini menegaskan bahwa menyampaikan kebenaran adalah kewajiban. Oleh karena itu, demonstrasi dapat dipandang sebagai salah satu sarana amar ma’ruf nahi munkar dalam konteks modern, selama tetap dalam koridor syariat.

  1. Demo sebagai potensi fitnah

Islam juga menekankan maslahat dan mudharat. Jika demonstrasi dilakukan dengan cara anarkis, merusak fasilitas umum, mengganggu ketertiban, atau menimbulkan pertumpahan darah, maka hal itu termasuk dalam kategori haram karena menimbulkan kerusakan (fasad fil ardh).

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)

Dari sini, jelas bahwa aksi demonstrasi yang menjurus kepada anarki, perusakan, dan pertumpahan darah tidak dibenarkan dalam Islam. Maka, posisi Islam terhadap demo bersifat kondisional: boleh (mubah) jika membawa maslahat, dan haram jika menimbulkan mudharat.

Etika Demo dalam Hukum Islam

Agar demonstrasi tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka ada sejumlah etika yang perlu dijaga:

  1. Niat yang Lurus dengan aksi yang dilakukan bukan demi kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi untuk menegakkan keadilan dan memperjuangkan kemaslahatan umat.
  2. Damai dan Santun. Demonstrasi harus berlangsung tertib, tanpa kekerasan, tanpa perusakan, dan tetap menghormati pihak lain. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  3. Tidak Merugikan Masyarakat, karena Islam menekankan pentingnya menjaga hak orang lain. Oleh sebab itu, demo tidak boleh menghalangi aktivitas masyarakat secara berlebihan atau menimbulkan kerugian publik.
  4. Menghindari Provokasi dan Fitnah dengan aksi yang harus berlandaskan fakta maupun benar, bukan hoaks, fitnah, atau ujaran kebencian yang dapat memecah belah umat.
  5. Mengutamakan Maslahat, jik ada jalur lain yang lebih efektif, Islam mendorong untuk mengutamakan cara tersebut. Demonstrasi seharusnya menjadi jalan terakhir setelah upaya dialog atau musyawarah tidak membuahkan hasil.

Dalam hukum Islam, demonstrasi pada dasarnya diperbolehkan (mubah) sebagai sarana menyampaikan aspirasi dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Akan tetapi, kebolehannya sangat bergantung pada niat dan cara pelaksanaannya. Demonstrasi yang dilakukan dengan cara damai, santun, dan menjaga maslahat dapat bernilai ibadah. Sebaliknya, jika menimbulkan kerusakan, kekacauan, dan fitnah, maka hukumnya berubah menjadi haram.

Doa Berlindung dari Pemimpin yang tidak menyayangi rakyatnya. (Du’a for Protection from Oppresive Leaders)

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَ

ا Allāhumma lā tajʿal muṣībatanā fī dīninā, wa lā tajʿali-d-dunyā akbara hamminā, wa lā mablagha ʿilminā, wa lā tusalliṭ ʿalaynā mal-lā yarḥamunā.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah pada kami menimpa agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, jangan juga sebagai tujuan utama dari ilmu kami. Janganlah Engkau kuasakan (menjadi pemimpin) atas kami orang yang tidak menyayangi kami (orang kafir, munafik, fasik dan zalim, pen.).

O Allah, let not our afflictions be in our religion. Do not make the world our biggest concern or the full extent of our knowledge, and do not give power over us to anyone who will not have mercy on us.

(Disarikan dari doa dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidhi no. 3502)

 

 

Medics Worldwide Kunjungi MUI Sumut: Bangun Fasilitas Kesehatan di Gaza, MUI Salurkan Donasi Rp50 Juta

0

muisumut.or.id, Medan, 16 September 2025, Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara menerima kunjungan dari organisasi kemanusiaan internasional Medics Worldwide pada Selasa, 16 September 2025. Organisasi yang berbasis di Turki ini dikenal aktif dalam misi kesehatan dan bantuan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik, termasuk Gaza.

Delegasi Medics Worldwide terdiri dari dua dokter berkebangsaan Palestina, yaitu Dr. Amr Ayman dan Dr. Jehad Zidan didampingi penterjemah Ust H Ghufron Munajad, Rinaldi Tambunan dan Aan Saputra.
Dr Amr dan Dr Jehan serta rombongan diterima langsung oleh Ketua Umum MUI Sumatera Utara Buya DR. H. Maratua Simanjuntak, Wakil Ketua Umum MUI SU DR. H Arso, SH.,M.AG., DR.H. Ardiansyah, Lc.,MA, Sekretaris Umum Prof. DR. H. Asmuni , MA Bendahara Umum Drs. H Sotar Nasution M.HB, Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat Prof DR H Saparuddin Siregar, SE., Ak. CA., MAg dan Ketua Bidang HLNKI KH Akhyar Nasution

Dalam sambutannya, ketua umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara Buya Maratua menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut dan menyambut baik rencana pembangunan kembali rumah sakit di Gaza dan pembangunan fasilitas kesehatan di Palestina.
Beliau juga menjelaskan tugas utama MUI sebagai mitra pemerintah dan penjaga umat. Dalam sambutannya Ketua Umum MUI SU menjelaskan bahwa sebelumnya MUI SU sudah empat kali menerima delegasi Palestina dan sudah tujuh kali menyalurkan donasi secara bertahap ke Palestina baik secara langsung atau melalui BAZNAS. Total donasi untuk Palestina yang dimotori oleh KH Akhyar Nasution sudah disalurkan Rp. 4.869.690.000 ( empat milyar, delapan ratus enam puluh sembilan puluh juta enam ratus sembilan puluh ribu rupiah)

Pada sambutannya DR Amr Ayman menyampaikan:
“Pertemuan ini menjadi langkah awal silaturahmi, dan insya Allah akan dilanjutkan dengan kerja sama penghimpunan dana bantuan kemanusiaan, khususnya di bidang kesehatan, bagi saudara-saudara kita di Gaza, Palestina,” ungkapnya.

Sedangkan DR Jehad Jidan menjelaskan:
Medics World Wide dikenal aktif dalam berbagai program kemanusiaan, termasuk rekonstruksi fasilitas kesehatan di wilayah konflik, termasuk Gaza. Di antara program unggulannya
1. Operasi Bedah Darurat untuk korban luka
2. ⁠Rehabilitasi fisik untuk korban genosida
3. ⁠Kampanye layanan medis gratis
4. ⁠TIM MEDIS /KLINIK MEDICS
5. ⁠Penyediaan Paket Kesehatan
6. ⁠Perabot dan alat-alat medis untuk rumah sakit Al-Shifa
7. ⁠Pengadaan Sistem Uninterruptible Power Supply pada saat mati lampu
8. ⁠Sistem tenaga surya untuk sakit bantuan publik
9. ⁠Generator listrik
10. ⁠Program Pelatihan untuk Pertolongan Pertama

Pertemuan silaturahmi dan diskusi yang berlangsung lebih dari satu jam diakhiri dengan pemberian cendramata dan donasi langsung sebesar Rp. 50 juta, disaksikan oleh pengurus MUI Provinsi Sumatera Utara ditutup dengan foto bersama

Kontributor KH Akhyar Nasution

MUI Sumatera Utara Gelar Pembinaan Muallaf di Deli Serdang

0

muisumut.or.id., Medan, September 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara akan melaksanakan kegiatan Pembinaan Muallaf di Daerah Minoritas Muslim pada 15–25 September 2025 di Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang.

Kegiatan ini dipusatkan di lima desa, yakni Kuala Lau Bicik, Pasar IX, Kutalimbaru, Suka Rande, dan Suka Makmur, dengan berbagai rangkaian pembinaan yang dilaksanakan di masjid-masjid setempat.

Kegiatan dipimpin langsung oleh Prof. Dr. H. Asmuni, MA selaku Ketua Panitia Pelaksana, dengan Dr. Irwansyah, M.H.I sebagai Sekretaris. Melalui kepemimpinan keduanya, pembinaan ini diharapkan dapat memperkuat akidah dan pemahaman Islam para muallaf serta meningkatkan peran sosial mereka di tengah masyarakat.

Sejumlah da’i akan diturunkan untuk memberikan bimbingan, di antaranya Aminul Shaleh, Limardo Damanik, Parhan S.HI, M. Azam Al Hafiz, M. Najani Dalimunthe, Habib Abdillah, Hijri Iqbal, Muhammad Vudi, dan Waspada Maulana, S.Pd. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari tim pendamping lapangan yang terdiri dari akademisi dan tokoh dakwah.

MUI Provinsi Sumatera Utara berharap program ini tidak hanya menjadi sarana penguatan iman, tetapi juga mempererat silaturahmi antara muallaf dengan masyarakat sekitar sehingga tercipta kehidupan yang harmonis di daerah minoritas muslim.

Safari Dakwah Alumni PTKU MUI Sumut Angkatan 5 Bersama MADIS Sambangi Tapanuli Utara, Sibolga, dan Langga Payung

0

muisumut.or.id. Medan, 12 September 2025, Sumatera Utara – Alumni Pendidikan Kader Ulama (PTKU) MUI Sumatera Utara angkatan 5 yang tergabung dalam Majelis Darul Ihsan (MADIS) menggelar safari dakwah ke tiga daerah di Sumatera Utara, yakni Tapanuli Utara, Sibolga, dan Langga Payung. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai 9 hingga 11 September 2025.

Rangkaian safari dakwah diisi dengan tabligh akbar, kajian subuh, serta penyerahan bantuan Al-Qur’an, buku Islami, dan perlengkapan ibadah yang berasal dari para donatur. Bantuan ini disalurkan langsung kepada masyarakat setempat sebagai wujud kepedulian dan dukungan terhadap penguatan syiar Islam di daerah.

Disambut Hangat di Pangaribuan

Hari pertama safari, 9 September 2025, berlangsung di Desa Pancur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara. Kedatangan rombongan dai disambut hangat pengurus masjid dan warga. Acara tabligh berjalan khidmat dan penuh antusias. Masyarakat berharap kegiatan pembinaan serupa dapat diadakan secara rutin, mengingat posisi mereka sebagai komunitas muslim minoritas.

Tabligh dan Kajian di Sibolga

Safari dakwah berlanjut ke Kota Sibolga pada 10 September 2025. Di sana, para dai mengisi tabligh di Masjid Al Falah dan melanjutkan dengan kajian subuh di Masjid Al Jihad. Kehadiran mereka disambut hangat masyarakat yang merasa terbantu dengan siraman rohani tersebut.

Puncak di Langga Payung

Safari ditutup pada 11 September 2025 melalui Tablig Akbar bertema Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Langga Payung. Masyarakat setempat turut memeriahkan acara dengan bergotong royong memasak serta menampilkan pentas seni Islami. Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan menjadi penutup rangkaian safari dakwah.

Dai yang Terlibat

Safari dakwah ini diikuti oleh para alumni PTKU MUI Sumut angkatan 5 sekaligus penggerak MADIS, yakni:

Ustaz Irvan Mangunsong, M.Pd.

Ustaz Saddan Yasir, S.Pd.

Ustaz Mahmud Jailani Dalimunthe, M.Th.I. – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Sumatera Utara

Ustaz Muhammad Ridho, S.Pd.I. – Konsultan Tahfiz Al-Qur’an di Kota Medan

Kehadiran mereka sekaligus memperkuat kiprah MADIS (Majelis Darul Ihsan) sebagai wadah kader ulama muda yang aktif membina umat hingga ke pelosok daerah.

Peran Donatur

Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari para donatur yang menyalurkan bantuan berupa Al-Qur’an dan perlengkapan ibadah. Kontribusi tersebut diharapkan menjadi amal jariyah sekaligus memperkuat semangat masyarakat dalam mendalami dan mengamalkan Al-Qur’an.

(SY)

MUI SU Gelar Sosialisasi dan Implementasi Relawan Sosial dan Kebencanaan Kepada Pengurus Sosben MUI SU dan MUI Kab/Kota Se Sumatera Utara

muisumut.orid. Medan, 14 September 2025, Relawan bekerja, bertindak atas sukarela tanpa paksaan, dan tanpa mengharapkan imbalan finansial atau keuntungan materi. Mereka menyumbangkan waktu, tenaga, dan kemampuan mereka untuk membantu orang lain, kelompok, atau organisasi, dengan tujuan memberikan manfaat bagi kepentingan umum atas dasar ikhlas semata mata karena Allah.

Memotivasi Etos Kerja Relawan Islami ini , MUI SU menggelar kegiatan Sosialisasi dan Implementasi Relawan Sosial dan Kebencanaan Kepada Pengurus Sosben MUI SU dan MUI Kab/Kota Se Sumatera Utara pada hari Sabtu – Ahad tanggal 13-14 14 September 2025 di Hotel Grand Darussalam Medan. Penyelenggara kegiatan ini dipercayakan kepada Pengurus Bidang dan Komisi Sosial Bencana yang menjadi Ketua Panitia Laila Rohani dan Sekretarisnya Nani Ayum Panggabean.

Ketua Umum MUI SU Bapak Dr. H. Maratua Simanjuntak menyampaikan arahan pada pembukaan bahwa “Bencana alam sudah jelas terpampang nyata dihadapan kita. Sementara bencana Moral seperti KDRT, lemah akhlak , begal, narkoba, lalainya orang tua dalam pendidikan agama kepada anaknya sehingga anaknya tidak mengerti sholat dan lain sebagainya. Tugas mulia Sosben daerah untuk menyampaikan dakwah ini .

Etos Kerja Islami Bagi Relawan Sosial dan Kebencananaan, Prof Dr. H.Asmuni,MA Sekum MUI SU  sebagai narasumber menyampaikan dalam paparannya bahwa Kriteria Etos Kerja Islami itu adalah niat ikhlas, pekerjaan harus diniatkan ibadah, bekerja dengan amanah, jujur, bertanggung jawab demi kemashlahatan umat.

Adapun materi tentang sosial disampaikan narasumber Sri Dewi Natadinigrat,SE,MM,MSi tentang Pemberdayaan Inklusif Bagi Disabilitas dan Lansia Dalam Peningkatan Kualitas Hidup .Beliau menyampaikan bahwa penyandang disabilitas dan lansia diperkuat fungsi sosialnya secara mandiri dan dengan cara normal, diikutkan dalam program pembangunan inklusif, diberdayakan sesuai minat dan kemampuan yang dimilikinya dan ditingkatkan kesejahteraanya.

Materi kebencanaan lebih fokus pada masalah banjir disampaikan oleh Manutur Parulian Naibaho, S.Sos,SH,MSi Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sumatera Utara menyampaikan Kesiapsiagaan menghadapi banjir seperti naik ke tempat lebih tinggi, ajari anggota keluarga penyelamatan dini, rencanakan kebutuhan pokok , antisipasi sengatan listrik, menyelamatkan barang berharga dan dokumen di tempat aman.

Ada hal menarik setiap sesi jadwal kegiatan ada pemberian Gipt Mumtaz kepada peserta aktif bertanya, menjawab dan sempurna dalam praktik berupa tas ransel, buku, payung , selimut, handuk puch serba guna, dll hal ini menambah kegiatan semakin semarak.

Kegiatan pentutup peserta Sosben MUI SU, Kabupaten Kota dan juga ada dua Pengurus Warga DAS binaan Sosben MUI SU lokasi sungai Babura melakukan praktik lapangan dengan mengenderai truk serba guna BPBD PROVSU supaya peserta merasakan sensasi kebencanaan. Praktik lapangan tentang Kesiapsiagaan Mengatasi Banjir ini dilaksanakan di Taman Cadika Medan Johor dibawah bimbingan Instruktur Satgas Kesiapsiagaan Bencana BPBD Provsu dengan menaiki perahu karet BPBD.

PTKU MUI Sumut Gelar Program Bina Muallaf di Deli Serdang dan Langkat

0

Medan muisumut.or.id 13 September 2025 – Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melaksanakan program pengabdian masyarakat melalui Program Bina Muallaf yang berlangsung di dua kabupaten, yakni Deli Serdang dan Langkat. Program ini menempatkan para da’i secara intensif di tengah masyarakat minoritas Muslim untuk memberikan pendampingan langsung.

Tahap pertama berlangsung di Kabupaten Deli Serdang pada 15–25 September 2025, dengan lokasi pembinaan di enam masjid Kecamatan Kutalimbaru. Selanjutnya, tahap kedua dijadwalkan pada 25 September–5 Oktober 2025 di Kabupaten Langkat, tepatnya di Kecamatan Sei Bingai. Setiap tahap melibatkan 12 mahasiswa dan 2 alumni PTKU, sehingga total 14 da’i diterjunkan di lapangan.

Pembinaan Intensif Berbeda dari Safari Dakwah

Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simajuntak, menegaskan bahwa program ini berbeda dari safari dakwah yang biasanya bersifat seremonial.

“Safari dakwah biasanya dilakukan dengan mengumpulkan masyarakat lalu muballigh kembali pulang. Namun, melalui Bina Muallaf, 14 da’i ditempatkan khusus untuk tinggal di lokasi, membina para muallaf secara intensif. Mereka akan dibimbing mulai dari shalat, fikih ibadah, khutbah, hingga pembiasaan keagamaan lainnya,” jelasnya.

Ada Pre-Test dan Post-Test

Sekretaris Umum MUI Sumut, Prof. Asmuni, menambahkan bahwa program ini tidak hanya fokus pada bimbingan, tetapi juga evaluasi.

“Sebelum dimulai, dilakukan pre-test untuk mendata kemampuan awal muallaf dalam membaca Al-Qur’an maupun shalat. Setelah pembinaan 10 hari selesai, akan ada post-test untuk mengukur sejauh mana peningkatan pemahaman dan keterampilan mereka,” ungkapnya.

Target Pembinaan: Dari Shalat hingga Fardu Kifayah

Sekretaris Panitia, Dr. Irwansyah, memaparkan bahwa program ini memiliki target praktis yang harus tercapai.

“Di lapangan, masih banyak muallaf yang belum bisa membaca Al-Qur’an, shalatnya belum sempurna, bahkan kesulitan mencari khatib. Target kita, setelah 10 hari pembinaan sudah ada kader yang mampu menjadi khatib, mengajar mengaji, hingga menyelenggarakan fardu kifayah. Untuk itu para da’i dibekali dengan kurikulum praktis agar benar-benar siap menghadapi tantangan di lapangan,” terangnya.

Ia menambahkan, melalui pembinaan ini diharapkan para muallaf mampu melaksanakan ibadah keseharian dengan benar, termasuk bersuci dari hadas kecil dan besar, melaksanakan shalat sesuai tuntunan syariat, serta menguasai tata cara fardu kifayah seperti memandikan, mengkafani, dan menshalatkan jenazah.

Komitmen MUI Mengawal Akidah

Program Bina Muallaf ini berangkat dari pemikiran bahwa di daerah minoritas, para muallaf rentan kembali pada agama sebelumnya jika tidak mendapatkan pendampingan intensif. Sebagai khadimul ummah, MUI merasa bertanggung jawab menjaga akidah dan memberikan bimbingan berkelanjutan bagi para muallaf.

Selain menjadi wujud kepedulian terhadap umat, kegiatan ini juga menjadi sarana pengabdian mahasiswa PTKU untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh serta mempersiapkan diri sebagai kader ulama yang siap terjun ke masyarakat.

MUI Sumatera Utara berharap, program ini dapat memperkuat iman para muallaf, membekali mereka dengan keterampilan keagamaan, dan sekaligus melahirkan kader lokal yang mampu menjadi penggerak dakwah di daerahnya.