Wednesday, March 4, 2026
spot_img
Home Blog Page 21

MUI Sumut Tegaskan Penolakan terhadap Promosi LGBT di Ruang Publik

muisumut.or.id., Medan, 18  Juli 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menyampaikan keprihatinan atas rencana penyelenggaraan sebuah pertunjukan musik internasional yang menuai kontroversi di tengah masyarakat. Acara yang dijadwalkan digelar di salah satu hotel di Kota Medan itu disebut-sebut menghadirkan unsur promosi terhadap gaya hidup menyimpang seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

MUI Sumut menegaskan bahwa segala bentuk promosi, kampanye, atau sosialisasi yang mendukung penyimpangan orientasi seksual bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam, budaya bangsa, serta norma hukum yang berlaku di Indonesia.
Fatwa MUI No. 57 Tahun 2014 dengan jelas menyatakan bahwa perilaku homoseksual, termasuk lesbian, gay, sodomi, dan pencabulan merupakan bentuk penyimpangan seksual yang diharamkan dan tergolong jarimah (kejahatan). Dalam fatwa tersebut ditegaskan pula bahwa negara dan masyarakat wajib menolak segala bentuk legalisasi dan normalisasi penyimpangan tersebut.

Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA, mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap segala bentuk hiburan yang secara langsung maupun tidak langsung mengandung pesan atau simbol yang mendukung ideologi menyimpang. “Kami menghormati seni dan hiburan yang sehat, tetapi sangat menolak jika dijadikan sebagai medium promosi gaya hidup yang bertentangan dengan akidah dan moralitas bangsa,” tegasnya.

Lebih lanjut, MUI Sumut mengingatkan bahwa penyimpangan seksual seperti LGBT tidak hanya dilarang dalam ajaran agama Islam, tetapi juga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dan nilai-nilai kemanusiaan luhur yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia.

MUI juga meminta kepada pemerintah daerah, pengelola tempat hiburan, dan aparat penegak hukum untuk lebih selektif dan bijak dalam memberikan izin terhadap setiap kegiatan publik, khususnya yang berpotensi menimbulkan keresahan sosial atau bertentangan dengan norma agama dan hukum.
MUI Sumut akan terus mendorong upaya edukasi dan penguatan akhlak masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak terpapar arus budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila,” tutup Dr. Ardiansyah.

Perkuat Ukhuwah Islamiyah MUI Sumut Lakukan Pelatihan dan Pembinaan

Medan, muisumut.or.id 17 Juli 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Pelatihan dan Pembinaan Ukhuwah Islamiyah bagi Pemuda Muslim dengan mengusung tema “Memperkuat Ukhuwah, Membangun Peradaban” di Aula MUI Sumut, Kamis (17/7). Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk mempererat solidaritas pemuda lintas organisasi dan membangun sinergi dalam menghadapi tantangan umat.

Dalam forum tersebut, peserta yang berasal dari berbagai organisasi kepemudaan Islam seperti GP Ansor, Fatayat NU, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), hingga organisasi umum seperti Pemuda Pancasila dan FKPPI Sumut, sepakat melahirkan sejumlah rekomendasi penting sebagai tindak lanjut penguatan ukhuwah Islamiyah di kalangan generasi muda.

Tujuh Rekomendasi Strategis

  1. Pelatihan Berkelanjutan: Diperlukan program pelatihan lanjutan yang lebih intensif dan berkelanjutan untuk memperdalam pemahaman konseptual ukhuwah Islamiyah agar terinternalisasi dan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Jaringan Komunitas Pemuda: Mendorong pembentukan jejaring komunitas pemuda berbasis ukhuwah di berbagai kabupaten/kota sebagai sarana berbagi pengalaman, merancang program bersama, dan memperkuat dukungan moral maupun material antar komunitas.
  3. Pemberdayaan Ekonomi: Mengembangkan program kewirausahaan sosial berbasis ukhuwah untuk meningkatkan kemandirian ekonomi pemuda, sebagai landasan memperkuat persaudaraan dan mengurangi ketergantungan.
  4. Strategi Pencegahan Masalah Sosial: Merancang strategi pencegahan pendangkalan akidah, pemurtadan, narkoba, dan judi online dengan pendekatan riset dan sistem early warning, program intervensi dini, serta pendampingan korban berbasis solidaritas pemuda.
  5. Literasi Digital dan Media Sosial: Menggalakkan literasi digital yang sehat agar pemuda mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk memperkuat ukhuwah dan menangkal konten negatif, hoaks, serta disinformasi yang merusak persatuan umat.
  6. Advokasi dan Mediasi: Mendorong penguatan kemampuan advokasi dan mediasi berbasis ukhuwah untuk menangani konflik internal umat serta memperjuangkan aspirasi umat di tingkat lokal, nasional, hingga global.
  7. Sinergi Lintas Lembaga: Memperkuat kerjasama dan sinergi antara lembaga, organisasi, dan komunitas dalam membangun program ukhuwah Islamiyah yang terintegrasi dan berkelanjutan di Sumatera Utara.

Pesan Ketua Panitia Sekaligus Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Sumatera Utara, Drs. H. M. Hatta Siregar, S.H., M.Si dalam sambutannya menegaskan pentingnya membina ukhuwah di kalangan pemuda, terlebih di tengah maraknya pergeseran nilai sosial saat ini.

“Saya berharap pelatihan ini menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk mempererat persatuan umat. Kerukunan kita saat ini mengalami tantangan, sehingga penting bagi pemuda, baik dari ormas Islam maupun organisasi umum, untuk terus membina ukhuwah yang lebih erat,” ujar Hatta Siregar.

Ia juga menyoroti kehadiran berbagai perwakilan organisasi kepemudaan yang dinilai sebagai representasi keberagaman umat yang siap bersatu dalam semangat ukhuwah Islamiyah.

Penegasan Komitmen Rekomendasi yang dihasilkan dalam pelatihan ini menjadi refleksi komitmen pemuda Sumatera Utara untuk berperan aktif dalam membangun peradaban Islam melalui penguatan ukhuwah, pemberdayaan ekonomi, hingga advokasi sosial di tengah berbagai tantangan zaman.

“Ini adalah langkah awal. Pemuda Islam Sumatera Utara harus terus bersinergi untuk membumikan ukhuwah dalam setiap aspek kehidupan,” tegas Hatta Siregar.

 

MUI Sumut Gelar Pertemuan Jelang Peringatan Milad ke-50 Majelis Ulama Indonesia

muisumut.or.id., Medan, 17 Juli 2025 — Menyambut usia emas Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Pimpinan MUI Provinsi Sumatera Utara menggelar pertemuan khusus bersama para pendiri dan tokoh penting ormas Islam di Aula MUI Sumut, Jalan Majelis Ulama No. 3 / Sutomo Ujung Medan, pada Senin, 21 Juli 2025 M atau bertepatan dengan 25 Muharram 1447 H.

Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 hingga 12.00 WIB tersebut bertujuan untuk membahas persiapan Peringatan Milad ke-50 MUI, sekaligus menjadi ajang silaturrahim dengan para pendiri dan tokoh-tokoh organisasi Islam yang selama ini menjadi mitra strategis MUI Sumut.

Dalam undangan resmi yang ditandatangani oleh Ketua Umum DP MUI Sumut Dr. H. Maratua Simanjuntak dan Sekretaris Umum Prof. Dr. Asmuni, MA, disebutkan bahwa momentum Milad ini tidak hanya menjadi peringatan historis, tetapi juga penguat komitmen MUI dalam melayani umat dan memperkuat peran ulama di tengah dinamika kebangsaan.

Sebagai informasi, Majelis Ulama Indonesia didirikan pada 26 Juli 1975, bertepatan dengan 7 Rajab 1395 Hijriah, hasil musyawarah nasional ulama, zuama dan cendekiawan muslim dari seluruh penjuru tanah air. Musyawarah tersebut melibatkan 26 perwakilan MUI Provinsi, perwakilan dari 10 ormas Islam tingkat pusat seperti NU, Muhammadiyah, Al Washliyah, Perti, Mathlaul Anwar, GUPPI, Syarikat Islam, PTDI, DMI, dan Al Ittihadiyyah, serta perwakilan rohani Islam dari TNI dan POLRI.

Dari pertemuan itulah lahir Piagam Berdirinya MUI, yang menjadi fondasi kuat bagi organisasi untuk menjadi wadah musyawarah dan kebersamaan ulama dalam membina umat dan memperkuat peran Islam dalam kehidupan bangsa.

Kini, menjelang 26 Juli 2025, MUI telah menginjak usia setengah abad, sebuah usia yang menandai kedewasaan dan kematangan dalam peran-peran strategisnya. Oleh karena itu, DP MUI Sumatera Utara menganggap penting untuk menggelar forum koordinasi guna menyukseskan peringatan Milad ke-50 tahun tersebut.

Para tokoh yang diundang dalam pertemuan ini antara lain:

  • Pimpinan Umum MUI Sumut dan Panitia Pelaksana Milad

  • Ketua PW dari ormas-ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Alwashliyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Perti, dan GUPPI

  • Perwakilan rohani Islam dari TNI AD, AL, AU

  • Para tokoh MUI senior seperti Prof. Dr. H.M. Yasir Nasution, MA, Prof. Dr. Haidar Putra Daulay, MA, Dr. Hasan Matsum, MA, dan lainnya.

Selain membahas agenda teknis pelaksanaan Milad, pertemuan ini juga diharapkan menjadi ruang evaluasi serta refleksi terhadap perjalanan MUI Sumut sebagai bagian dari gerakan dakwah, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat Sumatera Utara.

Dewan Pimpinan MUI Sumut berharap agar kehadiran para tokoh pendiri dan pimpinan ormas Islam dapat memperkuat kolaborasi serta memperkaya substansi peringatan Milad ke-50, sehingga menjadi momentum strategis dalam mengokohkan MUI sebagai perekat umat, penjaga akidah, dan mitra pemerintah dalam membangun bangsa.

Kuliah Umum PTKU MUI Sumut: Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, MA Kupas Tantangan Ulama di Era Globalisasi

0

muisumut.or.id – Senin, 14 Juli 2025 / 19 Muharram 1447 H
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara melalui Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) kembali menggelar Kuliah Umum yang kali ini menghadirkan Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, MA sebagai narasumber utama. Kuliah umum bertajuk “Ulama dan Tantangan Globalisasi” ini berlangsung di Aula MUI Sumut dan dihadiri langsung oleh Dr. KH. Arso, Lc, M.Ag selaku Wakil Ketua Umum MUI Sumut sekaligus Wakil Direktur PTKU.

Dalam paparannya, Prof. Hasballah menegaskan bahwa globalisasi telah mempersempit batas antar bangsa melalui perdagangan, investasi, budaya, hingga politik global yang berdampak luas terhadap umat Islam. “Globalisasi bukan hanya fenomena ekonomi, tapi juga budaya, politik, dan agama. Tantangannya adalah bagaimana ulama bisa tetap menjaga identitas umat di tengah arus global,” ujarnya.

Beliau menyoroti bahwa globalisasi memunculkan pertukaran budaya, inovasi teknologi, hingga peluang ekonomi, namun juga membawa dampak negatif seperti mengikis keberagaman budaya, mengancam pemahaman agama yang autentik, serta memicu kesenjangan sosial dan ekonomi.

Tantangan Ulama di Era Globalisasi:

Prof. Hasballah menguraikan sejumlah tantangan konkret yang dihadapi umat Islam di Sumatera Utara dan Indonesia secara umum, di antaranya:

1. Banyaknya organisasi Islam yang seringkali terfragmentasi tanpa kesepakatan substansial.

2. Beberapa Peraturan Daerah di Sumut tidak sejalan dengan Fatwa MUI.

3. Geopolitik yang mempersamakan antara Syiah dengan Israel sebagai kekuatan lawan.

4. Minimnya fatwa MUI yang mencakup aspek ekonomi dan syariah, lebih dominan di ranah fikih dan akidah.

5. Tantangan pragmatisme berorganisasi yang lebih berorientasi pada kepentingan material, khususnya menjelang Pemilu.

6. Krisis identitas umat akibat arus globalisasi.

7. Kebiasaan memperbesar masalah khilafiyah yang tidak relevan dengan kondisi umat saat ini.

8. Munculnya pertentangan baru seperti antara Wahabi dan Syiah, sebagaimana dahulu ilmu kalam lahir akibat pertentangan dengan Kristen.

9. Kemajuan teknologi melahirkan fitnah dan hoaks yang masif.

10. Pentingnya menegaskan identitas keislaman di tengah masyarakat global.

11. Globalisasi seringkali diikuti jika sesuai kepentingan politik atau ekonomi.

12. Toleransi yang kebablasan karena pemerintah menciptakan narasi toleransi yang tidak jelas batasannya.

13. Perebutan pengaruh masjid antar kelompok seperti Jamaah Islamiyah dan Jamaah Tabligh.

Prof. Hasballah juga mengutip pesan Prof. Dhiya Al Hasan yang berpesan, “Jangan tanyakan lagi pada orang bodoh kenapa tidak belajar, tapi tanyakan pada orang alim kenapa malas mengajar.” Ini menjadi pengingat bagi para ulama untuk terus aktif mengajar dan membimbing umat.

Ulama Masa Depan: Ahli dan Multidisipliner

Di akhir paparannya, Prof. Hasballah menekankan bahwa di era globalisasi, ulama yang dibutuhkan adalah yang ahli di bidangnya namun juga memiliki wawasan multidisipliner. Hal ini harus menjadi perhatian utama dalam kurikulum pendidikan ulama agar mereka tidak hanya piawai dalam satu disiplin ilmu, tetapi juga peka terhadap perkembangan zaman.

 

Meriahkan Muharram 1447 H, BAZNAS Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Serahkan Pembinaan untuk Juara Pildacil

muisumut.or.id, Medan – 12 Juli 2025, Dalam rangka memeriahkan Peringatan Muharram 1447 Hijriah, MUI Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan berbagai kegiatan bernuansa islami dan kemasyarakatan. Salah satu kegiatan utama yang sukses digelar adalah gerak jalan sehat yang diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.
Usai kegiatan gerak jalan sehat, panitia bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Sumatera Utara mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Kegiatan ini disambut antusias oleh peserta, tercatat 132 orang memanfaatkan layanan ini sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan dan kesejahteraan umat.

Pelayanan Kesehatan Gratis

Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh tim medis yang terdiri dari: dr. Fitri Hafianty (Dokter Umum), dr. Elman BoyAde Rahayu (Perawat), Putri Lia Darmi (Bidan), Ida Wahyuni (Bidan). Jenis layanan yang diberikan meliputi: Cek tekanan darah (tensi), Cek gula darah, cek asam urat,  Konsultasi kesehatan umum, Pemeriksaan metabolik, Pemberian obat sesuai indikasi medis

Masyarakat khususnya peserta gerak jalan terlihat sangat terbantu dengan layanan ini, terutama para peserta lanjut usia dan ibu rumah tangga,

BAZNAS Serahkan Uang Pembinaan Juara Pildacil

Tak hanya fokus pada bidang kesehatan, BAZNAS Sumut juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan generasi muda Islami. Dalam kesempatan yang sama, BAZNAS menyerahkan uang pembinaan sebesar Rp9.000.000 kepada para juara lomba Pildacil (Pemilihan Dai Cilik) yang  digelar sebagai bagian dari rangkaian acara Muharram.

Ketua BAZNAS Provinsi Sumatera Utara, Prof. Dr. Muhammad Hatta,  menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari bentuk nyata kehadiran BAZNAS di tengah umat, tidak hanya dalam bentuk penyaluran zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pembinaan generasi muda.

Muharram adalah momentum hijrah untuk lebih baik, dan kami ingin berkontribusi nyata dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, cerdas, dan berdaya. Kami berharap pemeriksaan kesehatan ini dan dukungan kepada anak-anak dai cilik menjadi langkah kecil yang berarti besar bagi umat,” ujar Prof. Hatta.

Peringatan Muharram 1447 H tahun ini menjadi lebih bermakna dengan kolaborasi aktif antara MUI Sumut dan BAZNAS, yang tidak hanya menghadirkan semangat religius, tetapi juga memperkuat kepedulian sosial dan kesehatan masyarakat.

UPZ MUI Sumut Hantarkan Dai Binaan ke Masjid Al Azmi Langkat: Warga Sambut Hangat, Masjid Siap Dihidupkan Kembali

0

muisumut.or.id – Ahad, 13 Juli 2025 Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara kembali melaksanakan program dakwah dengan mengantarkan dua dai binaan ke wilayah pelosok Sumatera Utara. Pada Minggu, 13 Juli 2025, UPZ MUI Sumut resmi memberangkatkan Darmansyah Sitompul dan Hanafi Maarif sebagai dai yang akan bertugas di Masjid Al Azmi, Dusun Perteguhan, Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat.

Dalam prosesi pengantaran dai tersebut, turut hadir Dr. M. Thohir Ritonga, Lc., M.A selaku Sekretaris UPZ MUI Sumut, Prof. Dr. Saparuddin Siregar, M.Ag sebagai Bendahara UPZ MUI Sumut, serta Ali Suman Daulay sebagai anggota UPZ.
Kedatangan dai disambut hangat oleh Kepala Dusun dan warga setempat, yang memang menantikan adanya pembinaan keagamaan di kampung mereka.

Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum evaluasi kondisi Masjid Al Azmi, satu-satunya masjid yang ada di Dusun Perteguhan. Namun, masjid ini sudah lama sepi tanpa aktivitas ibadah dan kegiatan keagamaan karena tidak adanya pengelola dan pembimbing tetap.

Prof. Dr. Saparuddin Siregar dalam sambutannya berharap besar kepada kedua dai agar berkomitmen maksimal memakmurkan masjid dan membina masyarakat sekitar.

“Kami berharap para dai mampu menjalankan amanah ini dengan kesungguhan. Daerah seperti ini membutuhkan kesabaran, dedikasi, dan keikhlasan untuk membimbing umat agar masjid kembali hidup dengan kegiatan-kegiatan keagamaan,” pesan Prof. Sapar.

Hal senada disampaikan oleh Dr. Thohir Ritonga, yang menegaskan bahwa peran dai tidak hanya sebatas memberi ceramah, tetapi juga menjadi pencerah dan pendamping umat dalam membangun kualitas kehidupan beragama.

“Tugas utama dai adalah memberikan pencerahan. Bukan sekadar mengajar, tetapi juga membina, merangkul, dan memotivasi masyarakat agar lebih dekat dengan ajaran Islam dan memakmurkan masjid,” ujar Dr. Thohir.

Program pengiriman dai ini merupakan bagian dari strategi UPZ MUI Sumut dalam memberdayakan dana zakat untuk memperkuat dakwah di daerah terpencil, yang selama ini belum mendapatkan perhatian dakwah secara berkelanjutan.

Dengan hadirnya Darmansyah Sitompul dan Hanafi Maarif, masyarakat Desa Telagah diharapkan kembali menjadikan Masjid Al Azmi sebagai pusat ibadah, pendidikan Islam, dan penguatan sosial keagamaan. Warga setempat pun optimis, masjid yang selama ini sepi akan kembali semarak dengan kegiatan yang membina iman dan takwa mereka.

Tiga Dai dan Satu Alumni PTKU MUI Sumut Terima Hadiah Umrah pada Puncak Muharram 1447 H

muisumut.or.id, Medan – 12 Juli 2025, Dalam momentum Puncak Peringatan Muharram 1447 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, berkolaborasi dengan Yayasan Hufaz Centre dan Gadika Mandiri Islam Travel, menyerahkan hadiah umrah kepada  yakni imam masjid, bilal mayit laki-laki, bilal mayit perempuan, dan alumni terbaik Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) MUI Sumut.

Hadiah diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi luar biasa mereka dalam pelayanan umat Islam, khususnya di daerah-daerah marginal, dan dalam profesi yang sering luput dari perhatian.

1. Yahya – Dai Minoritas Muslim di Kabupaten Karo

Yahya, berdomisili di Desa Sugihen, Kecamatan Juhar, Kabupaten Karo, telah berdakwah sejak tahun 2016 di wilayah minoritas Muslim. Ia dikenal sebagai bilal jenazah, guru mengaji, khatib, dan nazir masjid yang mengabdikan dirinya tanpa pamrih. Dengan menetap di rumah nazir masjid, Yahya juga membina kegiatan dakwah di empat desa binaan: Sugihen, Sukababo, Nageri, dan Batu Mamak.

Gaji dari profesinya sebagai guru agama PNS di SD Negeri 040577 Kutagerat pun turut digunakan untuk membiayai kegiatan dakwah, termasuk menyenangkan hati anak-anak dan remaja agar mereka mau belajar agama dan meramaikan masjid.

2. Muhammad Azizi – Imam Masjid dan Pembina Tahfiz di Batubara

Muhammad Azizi, seorang imam masjid asal Desa Pahlawan, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, telah lebih dari 10 tahun mengabdi sebagai imam masjid dan pengajar Al-Qur’an. Ia membina program tahfiz, tilawah, dan pelatihan bilal jenazah. Dahulu, Azizi juga pernah berdakwah di Desa Seberaya, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, dan berhasil mengembalikan puluhan keluarga yang sebelumnya murtad kembali ke Islam.

Meski belum memiliki tempat tinggal sendiri, dan masih menumpang, Azizi tetap istiqamah mengabdi. Ia menempuh pendidikan hingga pascasarjana yang dibiayai oleh jamaah masjid di Medan, dan mengabdikan ilmunya sepenuh hati di daerah-daerah yang membutuhkan.

3. Rismawati MS, S.Ag – Bilal Mayit Perempuan dari Medan

Rismawati MS, S.Ag, warga Jalan Garu III, Kecamatan Medan Amplas, merupakan bilal mayit perempuan yang memulai peran sosialnya sejak 2018. Awalnya ia hanya membantu seorang bilal lansia dalam menyelenggarakan fardhu kifayah di lingkungan sekitar tanpa pamrih, bahkan tanpa tahu bahwa pekerjaan itu mendapatkan honorarium.

Atas usulan warga dan STM, Rismawati diangkat resmi sebagai bilal mayit tahun 2022 dan menerima honor dari Pemerintah Kota Medan sejak 2024. Lulusan Universitas Al-Washliyah (UNIVA) Medan ini tinggal menumpang di rumah mertuanya dan terus mengabdi dengan penuh keikhlasan, meski di tengah keterbatasan ekonomi bersama suami dan dua anaknya.

4. Alfi Syahri Dalimunte, S.Pd – Alumni PTKU MUI Sumut

Alfi Syahri Dalimunte, S.Pd, sebagai salah satu alumni terbaik PTKU MUI Sumut, turut menerima hadiah umrah. Ia menyampaikan rasa syukur mendalam atas penghargaan yang diterimanya. “Saya sangat bersyukur atas pemberian hadiah ini, terutama kepada DP MUI Sumut, Pimpinan Gadika Mandiri Islam Travel, serta seluruh donatur yang telah dengan ikhlas memberikan hadiah yang tak pernah saya bayangkan ini,” ujarnya.

Penghargaan atas Ketulusan Mengabdi

Ketua Umum MUI Sumatera Utara menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk nyata apresiasi kepada mereka yang berjuang di garis depan dakwah Islam dengan keikhlasan, ketekunan, dan kesungguhan, sering kali tanpa sorotan.

“Hadiah umrah ini adalah bentuk penghormatan atas ketulusan mereka, dan motivasi bagi kita semua agar terus mendukung syiar Islam di mana pun berada, termasuk di wilayah minoritas,” ujarnya.

Pemprov Sumut Siap Dukung Pembangunan Gedung LPPOM dan PTKU-P MUI Sumut

muisumut.or.id, Medan – 12 Juli 2025, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyatakan komitmennya untuk mendukung kelanjutan pembangunan Gedung LPPOM dan Pendidikan Tinggi Kader Ulama Perempuan (PTKU-P) MUI Sumatera Utara. Hal ini ditegaskan dalam Puncak Peringatan Muharram 1447 Hijriah yang digelar di pelataran Kantor MUI Sumut, Jalan Majelis Ulama No. 3 Medan.

Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Sumut, Buya Dr. H. Maratua Simanjuntak, MA, kembali menegaskan urgensi penyelesaian pembangunan gedung yang menjadi pusat penguatan layanan keummatan strategis ini. “Kalau tahun lalu kita telah meletakkan batu pertama, maka tahun ini kita berharap gedung tersebut sudah dapat berdiri dan dimanfaatkan,” ujarnya dengan penuh semangat di hadapan para tokoh dan peserta yang hadir.

Gedung yang sedang dibangun ini dirancang sebagai pusat layanan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM MUI Sumut), sekaligus sebagai kampus Pendidikan Tinggi Kader Ulama Perempuan (PTKU-P), dan Laboratorium Astronomi Islam. Pada bagian atas bangunan akan disiapkan sarana rukyatul hilal, yang dapat digunakan untuk penetapan awal bulan Hijriah, Idulfitri, dan Iduladha secara ilmiah dan terpadu oleh tim falakiyah lintas sektoral, termasuk Kanwil Kementerian Agama, Pemprov Sumut, dan unsur organisasi keislaman.

Pernyataan Ketua Umum MUI Sumut ini langsung disambut positif oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, yang dalam hal ini diwakili oleh Drs. H. Basyarin Yunus Tanjung, M.Si, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Gubernur Sumut. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi siap mendukung pembangunan gedung tersebut sebagai bentuk sinergi dan kepedulian terhadap upaya penguatan institusi keagamaan di Sumatera Utara.

Ajakan Keterlibatan Umat dan Dermawan

Selain menyampaikan apresiasi terhadap dukungan pemerintah, Ketua Umum MUI Sumut juga mengimbau kepada para aghniya, donatur, dan para pemangku kepentingan untuk turut serta mendukung proses pembangunan ini melalui kontribusi yang bersifat sukarela dan tidak mengikat.

Sumbangan dapat diberikan dalam bentuk material bangunan seperti semen, pasir, dan batu bata, maupun berupa dana tunai yang dapat disalurkan melalui:

🔹 Rekening Bank Syariah Indonesia (BSI)
Atas nama: Panitia Pembangunan Gedung MUI Sumut
Nomor rekening: 7237 0932 07

Atau dapat langsung diantar ke Bendahara Pembangunan di Gedung LPPOM MUI, Lantai 2, Jalan Majelis Ulama No. 3, Medan.

Pembangunan Gedung LPPOM dan PTKU-P ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat kualitas pelayanan keislaman, pengawasan halal, kaderisasi ulama perempuan, dan pengembangan ilmu falak di Sumatera Utara. MUI Sumut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan proyek ini sebagai amal jariyah kolektif demi kemaslahatan umat yang lebih luas.

Ketua Umum MUI Sumut: Muharram Momentum Hijriyah Sepanjang Tahun, Bukan Sekadar Seremonial

muisumut.or.id., Medan, 16 Muharram 1447 H/ 12 Juli 2025– Puncak peringatan Muharram 1447 Hijriah yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menjadi ruang penting bagi konsolidasi pemikiran dan penguatan arah perjuangan umat. Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Sumut, Buya Dr. H. Maratua Simanjuntak, MA, menekankan bahwa peringatan tahun baru Islam ini tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial semata, tetapi harus menjadi pijakan awal bagi gerakan hijriyah—yakni transformasi nilai secara berkelanjutan sepanjang tahun.

“Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa jumlah bulan itu ada dua belas. Di dalamnya juga ditegaskan bahwa bila umat Islam diperangi, maka wajib membela diri. Saya ingin mengingatkan bahwa peringatan bulan Muharram ini tidak cukup hanya hari ini. Harus menjadi semangat yang menyala sepanjang tahun,” tegasnya.

Buya Maratua juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya kasus pelecehan terhadap umat Islam yang saat ini masuk dalam ranah hukum. Ia menyatakan bahwa dirinya telah menandatangani banyak surat sebagai saksi ahli untuk membela kehormatan umat yang direndahkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Umat Islam ini memiliki kekuatan besar. Hari ini kita mungkin hanya berkumpul seribu orang, tapi mereka adalah simpul-simpul kekuatan: ada pemerintah, anggota DPD, DPR RI, kepolisian, TNI, ormas-ormas Islam, dan elemen muda yang bersemangat memainkan drumband. Ini baru sebagian dari kekuatan kita. Tapi mengapa kita diam ketika Islam dinistakan?” ujarnya dengan nada tegas.

Ia pun menyampaikan apresiasi khusus kepada Komisi Fatwa MUI Sumut dan pihak kepolisian yang menjadi pilar utama dalam menegakkan kehormatan Islam melalui jalur hukum.

Hijriyah sebagai Gerakan Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Buya Maratua juga menyampaikan bahwa kemiskinan dapat membawa kekufuran, dan karena itu penguatan ekonomi umat menjadi bagian penting dari misi hijriyah.

“Saya sering berdiskusi dengan BAZNAS. Kita tidak cukup hanya berpindah secara fisik (hijrah), tapi harus bergerak secara nilai, secara sistem. Hijrah adalah satu hari, tetapi hijriyah adalah proses tanpa batas,” jelasnya.

 

Ketua Umum MUI Sumut juga menegaskan bahwa MUI akan terus mendorong kaderisasi ulama, dimulai dari jenjang usia dini seperti lomba Pildacil, hingga ke jenjang akademik melalui Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU).

Selain itu, MUI juga akan memfokuskan perhatiannya pada kebangkitan ekonomi Islam sebagai bagian dari pilar kekuatan umat yang tak terpisahkan dari nilai hijriyah.

Dalam kesempatan yang sama, Buya Maratua menyampaikan bahwa peringatan Muharram ini adalah bagian dari rangkaian panjang kegiatan MUI Sumut yang telah berjalan sejak akhir tahun lalu. Di antaranya Pidato Akhir Tahun, Zikir Kebangsaan, dan Talbiyah Kebersamaan, yang semuanya merupakan bentuk konsolidasi ruhiyah dan sosial umat Islam di Sumatera Utara.

Menutup sambutannya, Ketua Umum MUI Sumut menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berkontribusi atas kesuksesan peringatan Muharram 1447 Hijriah.

“Semoga apa yang kita mulai hari ini menjadi bagian dari perjalanan hijriyah yang terus berlanjut, tidak hanya dalam hitungan bulan, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan kita sebagai umat,” pungkasnya.

Dialog Publik Umat Islam MUI Sumut: Rumuskan 10 Rekomendasi Strategis Sambut Tahun Baru Islam 1447 H

Medan, muisumut.or.id – Sabtu, 12 Juli 2025 Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan Dialog Publik Umat Islam, Sabtu (12/07/2025) di Medan. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, merefleksikan kondisi umat, sekaligus merumuskan langkah menghadapi tantangan internal dan eksternal umat Islam di era globalisasi.

Dialog publik yang berlangsung dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk perwakilan pemerintah, tokoh agama, akademisi, dan komunitas umat Islam. Prof. Dr. Mustapa Kamal Rokan, MA berperan sebagai moderator yang memandu jalannya diskusi. Dalam dialog tersebut, sejumlah narasumber turut ambil bagian, di antaranya Sugiat Santoso, SE dari DPR RI, Muhammad Nuh, M.SP dari DPD RI, serta Prof. Fachruddin Azmi dari MUI Sumatera Utara. Selain itu, hadir juga Prof. Moch. Hatta dari BAZNAS Sumatera Utara, Dr. dr. Delyuzar dari KAHMI, dan AKBP Aswin Noor, SH, MM yang berasal dari Dit Intelkam Polda Sumut.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi perjalanan umat Islam di tengah arus perubahan zaman, khususnya di tengah gempuran globalisasi, ancaman sekularisme, liberalisme, hingga berbagai problematika sosial seperti narkoba, judi online, serta krisis identitas keislaman.

Hasil dari dialog ini dituangkan dalam 10 Poin Memorandum Rekomendasi sebagai panduan strategis dalam membangun kekuatan umat di berbagai sektor kehidupan.

10 Poin Rekomendasi Dialog Publik MUI Sumut 2025

1. Penguatan Spiritual & Gerakan Anti-Maksiat
Memprioritaskan pembinaan keimanan dan ketakwaan melalui penguatan majelis taklim, pesantren kilat, serta gerakan bersama memberantas korupsi, narkoba, dan judi online.

2. Literasi Agama di Era Digital
Meningkatkan kapasitas generasi muda menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi melalui pendidikan akidah berbasis kekinian, serta kontra-narasi terhadap radikalisme dan liberalisme.

3. Peran Umat dalam Pembangunan
Mendorong keterlibatan umat Islam dalam pembangunan nasional khususnya di bidang pendidikan, penguatan ekonomi syariah, dan pengembangan riset teknologi.

4. Pemberdayaan Ekonomi Umat
Mengoptimalkan peran UMKM dan ekonomi berbasis komunitas syariah sebagai solusi untuk mengatasi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat.

5. Advokasi Kebijakan Publik
Memperkuat peran serta ulama dan cendekiawan Muslim dalam merumuskan dan mengawal kebijakan publik yang berpihak pada umat dan nilai-nilai keislaman.

6. Harmonisasi Sosial Berbasis Nilai Islam
Menyinergikan kesalehan individu dengan tanggung jawab sosial, budaya, dan pelestarian lingkungan hidup.

7. Gerakan Anti-Narkoba & Judi Online
Menggalang kampanye masif di masjid, kampus, sekolah, dan media sosial untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba dan perjudian daring.

8. Reformasi Sistem Pernikahan
Mendorong sinkronisasi antara hukum agama dan negara dengan mewajibkan pencatatan nikah sebagai perlindungan bagi hak-hak perempuan dan anak.

9. Penyatuan Kalender Hijriah
Menguatkan upaya penyatuan kalender hijriah untuk mengurangi perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri demi memperkuat ukhuwah Islamiyah.

10. Hijrah Menuju Peradaban Mulia
Menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai ajakan revolusi mental, intelektual, dan sosial umat menuju peradaban yang bermartabat.

Dialog publik ini menegaskan komitmen kolektif umat Islam Sumatera Utara untuk mewujudkan rekomendasi yang telah disepakati. Implementasi rekomendasi ini akan dikawal secara kolaboratif oleh MUI Sumut bersama elemen umat, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara