Wednesday, March 4, 2026
spot_img
Home Blog Page 25

Hari Kedua di Siantar, MUI Sumut Kunjungi Kantor dan Sekolah Al-Washliyah

0

muisumut.or.id-Pematangsiantar, Mengisi agenda hari kedua kunjungan ke Kota Pematangsiantar, Tim Majalah Ulama MUI Sumatera Utara menyambangi Kantor dan lembaga pendidikan Al Jam’iyatul Washliyah (Al-Washliyah), salah satu organisasi keagamaan dan pendidikan yang memiliki akar sejarah panjang di wilayah ini.

Rombongan disambut langsung oleh Ketua Pimpinan Daerah (PD) Al-Washliyah Pematangsiantar, Ishak Hutasuhut, bersama jajaran pengurus. Dalam sambutannya, Ishak menyampaikan apresiasi atas kehadiran MUI Sumut dan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kesinambungan dakwah dan pembinaan umat.

“Al-Washliyah dan MUI adalah mitra dalam membina akidah umat. Kunjungan ini memperkuat ukhuwah kelembagaan demi dakwah yang lebih menyentuh masyarakat,” ujar Ishak.

Pimpinan Redaksi Majalah Ulama, Rustam MA, menyampaikan terima kasih atas sambutan yang diberikan. Ia menilai Al-Washliyah Pematangsiantar merupakan potret organisasi Islam yang aktif dan terus relevan dalam dinamika umat.

Sekretaris Jenderal PD Alwashliyah Pematangsiantar, Yasin, menekankan pentingnya kekompakan gerakan dakwah antarorganisasi Islam. “Sinergi antara MUI dan Al-Washliyah ini harus terus dirawat. Peran organisasi keumatan seperti ini sangat penting dalam menghadirkan Islam yang damai, inklusif, dan membumi,” ujarnya.

Sorotan menarik dalam pertemuan ini datang dari Efendi, Majelis Pendidikan Al-Washliyah Pematangsiantar yang juga merupakan pengurus di Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Daerah MUI Kota Pematangsiantar. Ia mengulas sejarah lahirnya Muslimat Al-Washliyah tertua di Sumatera Utara yang ternyata berawal dari Siantar pada tahun 1935 dengan nama Al-Washliyah Afdeling Siantar.

“Muslimat hadir sebagai respons terhadap ketimpangan ruang gerak perempuan saat itu. Perempuan saat itu tidak diberi ruang berdakwah, bahkan untuk sekadar memakai tudung pun sulit. Mereka kebanyakan bekerja di perkebunan kolonial Belanda dan kerap mendapat perlakuan yang merendahkan,” papar Efendi.

Ia menambahkan, Muslimat Al-Washliyah menjadi pelopor berdirinya Raudhatul Athfal (RA) di Pematangsiantar, sebagai wujud peran aktif perempuan dalam pengembangan pendidikan Islam. Saat ini, Al-Washliyah Siantar mengelola lembaga pendidikan dari jenjang RA, MI, MTs hingga MA—setara dengan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

Kunjungan ini menambah catatan penting bagi Tim Majalah Ulama MUI Sumut mengenai peran strategis lembaga lokal dalam penguatan dakwah dan pendidikan. Al-Washliyah Pematangsiantar tercatat bukan sekadar bagian dari lintasan sejarah, tetapi juga terus bergerak dinamis menghadapi tantangan zaman lewat penguatan kelembagaan dan pendidikan. (Yt)

Mengenang Raja Sang Naualuh: Jejak Islam, Toleransi, dan Perlawanan dari Tanah Siantar

0

muisumut.or.id-Pematangsiantar, Pada hari kedua kunjungan ke Kota Pematangsiantar dalam rangka pengisian rubrik liputan daerah, Tim Media Majalah Ulama MUI Sumatera Utara mengunjungi Tugu Raja Sang Naualuh Damanik, sosok bersejarah yang dikenal sebagai Raja Siantar sekaligus tokoh perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di akhir abad ke-19, Sabtu (14/6/2025).

Didampingi pengurus MUI Pematangsiantar, kunjungan ini juga melibatkan Edy Junihato, Sekretaris Yayasan Raja Sangnaualuh Damanik. Ia menegaskan bahwa tugu tersebut bukan hanya monumen biasa, melainkan bagian dari langkah nyata untuk mendorong pengakuan Raja Sang Naualuh sebagai Pahlawan Nasional.

“Ini bukan sekadar patung. Ini bentuk penghormatan rakyat terhadap pemimpin lokal yang berjasa besar. Saat ini kami sedang mengupayakan proses administratif agar beliau resmi diakui negara sebagai Pahlawan Nasional,” jelas Edy.

Raja Sang Naualuh, yang lahir pada tahun 1871, memimpin Kerajaan Siantar sejak 1888 hingga 1906. Ia menolak pengakuan resmi Belanda melalui surat keputusan No. 25 tanggal 23 Oktober 1889, karena menilai langkah tersebut sebagai siasat kolonial untuk melegalkan penjajahan dan merampas tanah rakyat.

“Ia tetap menjaga kedaulatan kerajaan. Bahkan turun langsung ke desa-desa, menyemangati rakyat agar tidak tunduk pada pengaruh penjajah,” lanjut Edy.

Selain dikenal sebagai pemimpin yang tegas terhadap kolonialisme, Raja Sang Naualuh juga dikenang karena kontribusinya terhadap kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Siantar. Meski beragama Islam, ia dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi toleransi. Di bawah kepemimpinannya, sejumlah rumah ibadah—bukan hanya masjid, tetapi juga dari agama lain—didirikan atau diwakafkan.

“Jejaknya dalam membangun rumah ibadah lintas agama menjadi salah satu dasar kuat toleransi yang dirasakan hingga kini di Kota Pematangsiantar,” ujar Edy.

Selama masa pemerintahannya, Raja Sang Naualuh juga melaksanakan lima program pembangunan strategis: pengembangan pusat latihan pertanian di Kampung Rambung Merah, pembangunan jalan raya untuk perdagangan, pendirian pusat pengajian Islam di Kampung Naga Huta, kampanye kesehatan anak, serta sistem perawatan kuda untuk transportasi dan pertahanan.

Tim Majalah Ulama MUI turut mengunjungi Jerat Partongah Kerajaan Siantar, tempat persemayaman Raja Sang Naualuh Damanik yang terletak di Jalan Pematang, Kota Pematangsiantar. Jerat tersebut dipagari dan dihiasi simbol bulan sabit dan bintang, mencerminkan identitas keislaman sang raja. Kunjungan ini merupakan bagian dari pendokumentasian jejak sejarah Islam dan nilai-nilai kearifan lokal di Sumatera Utara. (Yt)

Masjid Raya Pematangsiantar, Ikon Sejarah yang Tetap Produktif di Usia Lebih dari Satu Abad

0

muisumut.or.id-Pematangsiantar, Tim Majalah Media Ulama MUI Sumut mengunjungi Masjid Raya Pematangsiantar (14/6), masjid tertua dan terbesar di kota itu yang telah berdiri sejak 1911. Di usia 113 tahun, masjid yang berlokasi di Jalan Masjid, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat ini tetap aktif menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan kegiatan ekonomi umat.

Dengan kapasitas 1.100 jamaah dan luas bangunan 400 meter persegi di atas lahan 2.000 meter persegi, Masjid Raya menjadi salah satu ikon sejarah Islam di Sumatera Utara. Dalam catatan sejarah, masjid ini merupakan satu-satunya yang tetap melaksanakan salat Jumat saat penjajahan Jepang, ketika masjid lain memilih berhenti karena tekanan militer.

Ketua Harian Badan Kemakmuran Masjid (BKM), Andi Aziz Rangkuti, menjelaskan bahwa masjid ini awalnya dibangun oleh tiga tokoh agama, yakni Tuan Syah Abdul Jabbar Nasution, dr. Hamzah Harahap, dan Pangulu Hamzah Daulay, di atas tanah hibah Raja Sangnaualuh Damanik. “Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2011, bertepatan dengan usia 100 tahun masjid,” ujarnya.

Masjid Raya memiliki pemasukan rutin sebesar Rp30–40 juta per bulan. Dana tersebut digunakan untuk operasional, termasuk menggaji imam dan lima petugas kebersihan. Selain salat lima waktu yang terbilang ramai, salat subuh di masjid ini pun tidak sepi, dengan jemaah mencapai sedikitnya tiga saf setiap hari. Selain warga sekitar, banyak pekerja turut meramaikan salat berjamaah.

Kegiatan keislaman rutin juga terus berjalan, seperti pengajian ba’da Magrib hingga Isya yang diisi ulama setempat. Masjid Raya juga memiliki beberapa unit usaha. Di antaranya percetakan mini offset yang melayani pesanan kartu nama, undangan, hingga spanduk. Selain itu, ada kolam ikan seluas 400 meter persegi di halaman timur yang berfungsi sebagai tambak sekaligus kolam hias.

Masjid ini pernah menjadi titik awal pemberangkatan haji resmi sejak 1991 bekerja sama dengan Pemko Pematangsiantar. Selain itu, unit jasa masjid turut membantu mengoordinasikan pembayaran rekening listrik, air, dan langganan tabloid Islam untuk jamaah.

Rancang bangun Masjid Raya mengadopsi gaya Masjid Nabawi di Madinah, dengan empat tiang pilar besar, dinding porselen, dan lantai marmer. Meski telah beberapa kali direnovasi, fasad arsitekturnya tetap dijaga agar sesuai dengan semangat awal para pendirinya: sederhana, namun kokoh dalam perjuangan. (Yt)

Aku Cinta Hijrah: Lomba Pildacil Jadi Media Dakwah Anak Sambut Muharram 1447 H

muisumut.or.id., Medan, 14 Juni 2025 – Dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1447 Hijriah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Lomba Pildacil dengan tema “Aku Cinta Hijrah”. Lomba ini ditujukan bagi anak-anak usia 10–13 tahun yang berdomisili di wilayah Sumatera Utara.

Pendaftaran dan seleksi lomba dilakukan secara daring. Para peserta diwajibkan mengirimkan video ceramah singkat berdurasi 5–7 menit melalui Google Drive, dengan ketentuan video harus sesuai tema, memperlihatkan seluruh tubuh peserta (bukan setengah badan), dan disertai data diri berupa Kartu Keluarga (KK). Seluruh video dikirimkan ke panitia paling lambat pada Selasa, 1 Juli 2025, melalui link  https://forms.gle/97tcNTTpjhpMXpT5A

Panitia akan melakukan penilaian video pada Rabu, 2 Juli 2025, dan mengumumkan finalis pada Kamis, 3 Juli 2025. Enam peserta terbaik akan dipilih sebagai finalis, terdiri dari tiga putra dan tiga putri, yang akan tampil secara langsung di acara puncak Muharram 1447 H pada Sabtu, 5 Juli 2025, bertempat di pelataran Kantor MUI Provinsi Sumatera Utara, Jalan Majelis Ulama No. 3, Medan.

Lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sebagai upaya MUI Sumut dalam menanamkan kecintaan generasi muda terhadap bulan Muharram yang penuh makna dan sejarah keislaman dan tentunya semangat hijrah

Pemenang lomba akan mendapatkan trofi dan hadiah berupa uang tunai jutaan rupiah. Finalis dan juara diumumkan secara langsung saat kegiatan puncak Muharram berlangsung.

Untuk informasi lebih lanjut, panitia dapat dihubungi melalui nomor WhatsApp 0812-3470-8457 atau melalui akun media sosial resmi MUI Sumut di Instagram, Facebook, dan website muisumut.or.id.

Hampir Setahun Berlalu, Alhamdulillah Izin Sudah Keluar: Pembangunan Gedung PTKUP dan LPPOM MUI Sumut Segera Dimulai

0

muisumut.or.id., Medan, 14 Juni 2025 – Kabar menggembirakan datang dari Panitia Pembangunan Gedung PTKUP dan LPPOM MUI Sumatera Utara. Setelah melalui penantian hampir satu tahun sejak pencanangan dan peletakan batu pertama pada 1 Muharram 1446 Hijriah, kini menjelang Muharram 1447 Hijriah, proses pembangunan fisik gedung akan segera dimulai. Izin resmi pun telah dikeluarkan oleh pemerintah kota melalui sistem perizinan daring. Hal ini disampaikan Ketua Panitia Prof. Dr. Basyaruddin, MS kepada Tim Infokom Sabtu 14 Juni 2025.

Ketua Panitia Pembangunan

Gedung yang akan dibangun di atas lahan seluas 190 m² di Jalan Majelis Ulama No. 3, Kecamatan Medan Timur ini direncanakan terdiri atas lima lantai lengkap dengan atap berbentuk kubah. Proyek ini sepenuhnya dibiayai dari swadaya umat dan para dermawan, dengan estimasi biaya mencapai Rp 5 miliar.

Prof. Dr. Basyaruddin M.S., Ketua Panitia Pembangunan, menjelaskan bahwa keterlambatan pembangunan disebabkan oleh proses administratif yang cukup rumit. Hal ini karena tanah yang digunakan secara hukum tercatat sebagai milik MUI Pusat, sehingga seluruh proses perizinan harus melalui prosedur nasional yang ketat.

“Walaupun tanah ini dibeli oleh MUI Sumut, status hukumnya tetap berada di bawah MUI Pusat. Maka setiap proses harus dilakukan sesuai struktur nasional, termasuk dalam pengajuan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (P-KKPR),” jelas Prof. Basyaruddin.

Kini seluruh dokumen telah lengkap dan izin resmi telah dikeluarkan. Bukti pengesahan dapat dilihat dari Formulir Permohonan P-KKPR Non Usaha/UMK yang telah diterima dan distempel resmi oleh Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Medan.

Gedung ini akan menjadi pusat kegiatan strategis MUI Sumut, terutama dalam pengembangan ulama perempuan melalui Program Tinggi Kader Ulama Perempuan (PTKUP) dan pelayanan sertifikasi halal melalui LPPOM.

“Alhamdulillah, di memasuki tahun baru Hijriah ini kita memulai langkah besar. Mari bersama-sama kita realisasikan pembangunan gedung ini demi kemajuan dakwah dan pelayanan umat. Jangan biarkan administrasi menghalangi laju pengabdian kita,” tutup Prof. Basyaruddin penuh semangat.

Sepi Imbas Tol, Masjid Al-Mukhlisin Bertahan Lewat Aktivitas Warga

0

muisumut.or.id-SIMALUNGUN – Masjid Al-Mukhlisin di Simpang Dolok Merangir, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun, mulai sepi sejak jalur tol Medan–Pematangsiantar beroperasi. Volume kendaraan yang dulu padat di jalan lintas nasional kini beralih ke tol, berdampak langsung pada aktivitas masjid yang sebelumnya menjadi persinggahan utama pelintas.

Masjid ini berdiri sejak 2003 di atas lahan hibah dari perusahaan perkebunan, dibangun melalui swadaya masyarakat dan infak para musafir. Letaknya yang strategis sempat menjadikannya tempat favorit bagi sopir truk, penumpang bus, hingga keluarga pemudik untuk salat dan beristirahat.

Kini, meski pengunjung berkurang, roda aktivitas tetap berputar. Tim Majalah Media Ulama MUI Sumut yang singgah pada jumat 13 juni 2025, mendapati beberapa kantin masih buka. Salah satunya milik Rahmaini, warga sekitar yang juga tergabung dalam Badan Kemakmuran Masjid (BKM).

“Kalau dulu ramai siang malam. Sekarang sudah lebih sepi karena orang lewat tol. Tapi kami tetap buka, karena masih ada sopir truk atau warga sekitar yang mampir,” ujar Rahmaini saat ditemui.

Rahmaini hanya membayar iuran air sebesar Rp55 ribu per bulan. Untuk listrik, ia menggunakan token mandiri. Ia mengaku tetap semangat berdagang meski pemasukan tak sebesar dulu.

Masjid ini juga masih menjadi tempat istirahat sopir kendaraan angkutan. Seorang sopir bernama Andi mengatakan, Masjid Al-Mukhlisin aman untuk singgah. “Kalau pun bawa barang, kami tenang. Di sini tidak pernah ada kejadian kehilangan,” katanya.

Ketua BKM Al-Mukhlisin, Sairul Amri P. Saragih, menyampaikan bahwa meski kondisi lalu lintas berubah, pengurus tetap melanjutkan program-program internal. Kegiatan UMKM tetap digelar secara berkala, dan pengembangan masjid terus dirancang dalam master plan jangka panjang. Termasuk rencana pembangunan menara pandang, klinik Islam, penginapan syariah, serta pusat pelatihan qori dan hafiz.

Masjid Al-Mukhlisin kini tidak lagi seramai dulu, namun fungsinya sebagai ruang ibadah, istirahat, dan kegiatan sosial ekonomi tetap dipertahankan oleh warga dan pengurusnya. (Yt)

Lewat Podcast dan YouTube, MUI Siantar Tawarkan Format Dakwah yang Relevan

muisumut.or.id-Pematangsiantar — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pematangsiantar kini mengambil langkah maju dalam mendekatkan dakwah kepada masyarakat dengan membangun studio dakwah digital sendiri. Studio ini digunakan untuk memproduksi konten keislaman dalam bentuk podcast, ceramah daring, dan program produksi konten berbasis YouTube, sebagai respon terhadap pola konsumsi informasi umat yang terus berkembang.

Sekretaris Umum MUI Pematangsiantar, H. Ahmad Ridwansyah, mengatakan bahwa media digital adalah keniscayaan dakwah hari ini. “Kami tidak ingin hanya hadir di ruang-ruang fisik. Melalui podcast dan YouTube, dakwah bisa masuk ke rumah, ke kendaraan, bahkan ke perangkat pribadi generasi muda. Ini medium untuk memperluas jangkauan pesan Islam yang sejuk dan membangun,” ujarnya, Jumat (13/6), saat menerima kunjungan tim Majalah Ulama MUI Sumatera Utara.

Di studio tersebut, MUI secara rutin memproduksi ceramah Jumat sore, podcast Ramadan tematik, dan dialog keumatan yang merespon isu sosial dan agama secara kontekstual. Selain konten audio-visual, kanal YouTube MUI Pematangsiantar juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi sekaligus pembinaan, salah satunya dengan menyelenggarakan perlombaan keislaman berbasis digital yang menyasar pelajar dan remaja (tingkat SD-SMP-SMA).

Ketua Komisi Infokom MUI Pematangsiantar, A. Fitrianto, menjelaskan bahwa pendekatan ini dilakukan untuk memastikan pesan-pesan dakwah dapat menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas. “Kami menyasar masyarakat urban dan generasi muda yang lebih akrab dengan platform digital. Produksi kami bersifat tematik, kontekstual, dan mudah diakses,” katanya.

Langkah MUI Pematangsiantar ini mendapat apresiasi dari MUI kabupaten/kota lain di Sumatera Utara. Bahkan, MUI Kota Tebing Tinggi telah melakukan studi banding ke studio ini untuk menggali praktik baik dalam pengelolaan dakwah digital.

Ketua MUI Sumut Bidang Infokom, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum., turut memberi apresiasi atas inisiatif ini. “Studio ini bukan hanya fasilitas teknis, tapi bentuk adaptif MUI untuk hadir secara relevan di tengah perubahan zaman. Pematangsiantar membuktikan bahwa dakwah bisa dikemas secara profesional dan tetap menyentuh substansi,” ungkapnya.

Dengan pendekatan digital yang terencana dan partisipatif, MUI Pematangsiantar memperkuat peran strategisnya sebagai institusi keagamaan yang adaptif dan komunikatif untuk menjadikan media sebagai wasilah, bukan sekadar saluran. (Yt)

Disambut Hangat di Siantar, Tim Majalah Ulama Temukan Semangat Dakwah yang Bersahaja

muisumut.or.id-Pematangsiantar, Tim redaksi Majalah Ulama MUI Sumatera Utara disambut hangat oleh jajaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pematangsiantar dalam kunjungan peliputan untuk edisi ke-9 majalah tersebut pada Jumat, 13 juni 2025. Rombongan terdiri dari Rustam MA, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum., Ari Syahputra, M.Hum., Yogo Pamungkas L. Tobing, M.I.Kom., dan Ali Suman Daulay.

Ketua Umum MUI Pematangsiantar, H. Muhammad Ali Lubis, dalam sambutannya menegaskan bahwa Pematangsiantar merupakan kota dengan tingkat toleransi tinggi di Indonesia. “Kami dipercaya berceramah di lembaga pemasyarakatan dan aktif membina moral generasi muda. Hubungan dengan pemerintah, aparat, dan lembaga lainnya berjalan baik dalam menjaga kehidupan keagamaan yang damai,” jelasnya.

Sekretaris Umum MUI Kota Pematangsiantar, H. Ahmad Ridwansyah, turut menekankan pentingnya sinergi keumatan. Ia menyebut bahwa kerukunan di kota ini berada di peringkat kelima secara nasional, dan MUI hadir aktif sebagai penghubung umat dengan berbagai lini, termasuk digitalisasi dakwah dan pembinaan kader ulama.

Dalam sesi diskusi bersama tim redaksi, beberapa komisi di MUI Pematangsiantar turut memaparkan program unggulan mereka. Komisi Pendidikan dan Kaderisasi yang diwakili Akhyar menjelaskan rencana peluncuran *Pendidikan Dasar Kader Ulama (PDKU)* pada 6 Juli mendatang. Program ini akan dilaksanakan setiap akhir pekan sebanyak 40 kali pertemuan hingga November, dengan target 20 peserta di tahap awal. “Kami ingin menyiapkan kader ulama muda yang bisa menjawab tantangan zaman,” ujar Akhyar.

Dari sisi pembinaan umat, Komisi Dakwah melalui Rahmad Ridwan menginformasikan dua program rutin mereka: *JITU (Jihad Ilmu Sabtu)* dan *JIHAD (Jihad Ilmu Hari Ahad)*. Keduanya menyasar masyarakat secara langsung dengan pendekatan edukatif dan aplikatif terhadap persoalan keislaman sehari-hari.

Sementara itu, Kepala Sekretariat MUI, Rasyid, mengungkapkan bahwa MUI Pematangsiantar juga memiliki konselor narkoba untuk mendampingi dan membina warga yang terdampak penyalahgunaan narkotika. “Kami ingin hadir tidak hanya dalam ranah ibadah, tapi juga sosial dan kemanusiaan,” tegasnya. (YT)

Tim Majalah Media Ulama Laksanakan Liputan ke Pematang Siantar dan Simalungun

muisumut.or.id., Pematang Siantar, 13 Juni 2025 — Dalam rangka penyusunan konten edisi ke-9 Majalah Media Ulama, tim redaksi melaksanakan kegiatan liputan ke dua daerah strategis di Sumatera Utara, yaitu Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, dimulai dari Jumat, 13 Juni hingga Senin, 16 Juni 2025.

Dipimpin langsung oleh Rustam, MA, tim ini turut didampingi oleh Penanggung Jawab Majalah sekaligus Ketua Bidang Infokom MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, bersama tim lainnya: Ali Suman Daulay, Yogo Pamungkas, M.I.Kom, dan Ari Syahputra.

Selama kegiatan, tim melakukan kunjungan dan peliputan ke sejumlah lokasi penting. Di antaranya adalah Kantor MUI Kota Pematang Siantar dan Kantor MUI Kabupaten Simalungun, untuk menghimpun data, wawancara, serta dokumentasi aktivitas kelembagaan MUI di daerah.

Selain itu, liputan juga menyasar beberapa situs bersejarah Islam yang memiliki nilai penting dalam perjalanan dakwah dan peradaban umat Islam di kawasan tersebut. Lokasi-lokasi yang dikunjungi antara lain:

  • Masjid Al-Mukhlisin, yang terletak di jalur lintas strategis menuju Simalungun,

  • Masjid Raya Pematang Siantar, sebagai masjid sentral umat Islam kota,

  • Masjid Lama di Raya, salah satu peninggalan awal syiar Islam di Simalungun,

  • dan Situs Makam Raya Nawaluh Damaik, yang diyakini memiliki kaitan erat dengan tokoh-tokoh ulama penyebar Islam di masa lampau.

Dr. Akmaluddin menyampaikan bahwa kegiatan liputan ini merupakan bagian dari program besar dokumentasi jejak peradaban Islam dan kontribusi MUI di daerah. “Ini adalah bentuk penghargaan kita terhadap sejarah, serta bagian dari ikhtiar meneguhkan identitas keulamaan dan keislaman di Sumatera Utara,” jelasnya.

Hasil dari liputan ini akan menjadi materi utama dalam rubrik Liputan Khusus Majalah Media Ulama Edisi ke-9 Tahun 2025, yang Insya Allah akan diluncurkan dan dibagikan pada acara Peringatan Muharram 1447 H. Acara tersebut dijadwalkan digelar pada 9 Muharram 1447 H, bertepatan dengan 5 Juli 2025, di Pelataran Kantor MUI Provinsi Sumatera Utara.

Majalah Media Ulama terus berkomitmen menjadi media dakwah, informasi, dan dokumentasi MUI yang menyinergikan nilai keulamaan dengan narasi kebudayaan Islam Nusantara yang kaya akan khazanah dan sejarahnya.

MUI Sumut Gelar Peringatan Muharram 1447 H dengan Semangat Kolaborasi Umat

muisumut.or.id., Medan, 12 Juni 2025,  – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara akan menggelar peringatan tahun baru Islam 1447 H dengan rangkaian kegiatan sehari penuh pada Sabtu, 5 Juli 2025 (9 Muharram 1447 H) di pelataran halaman kantor MUI Sumut, Jalan Majelis Ulama No. 3 Medan.

Ketua Panitia Muharram 1447 H, Prof. Dr. H. Fachruddin, MA, menyampaikan bahwa peringatan tahun ini mengusung tema: “Menguatkan Nilai Hijrah dengan Kolaborasi Sumatera Utara Unggul, Maju Berkesinambungan yang Religius”.

“Tema ini merefleksikan semangat hijrah dalam konteks pembangunan peradaban yang melibatkan seluruh elemen umat. Kolaborasi menjadi kunci menuju Sumatera Utara yang lebih unggul, maju, dan tetap religius,” ujar Prof. Fachruddin.

Rangkaian Acara Sehari Penuh

Peringatan Muharram 1447 H akan dimulai pukul 07.00 WIB dengan Jalan Santai Keluarga yang akan diikuti oleh para tokoh, ulama, dan masyarakat umum dari seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara. Kegiatan ini dirancang sebagai ajang silaturahmi dan kebersamaan lintas generasi.

Selanjutnya, pada pukul 09.00 hingga 10.30 WIB akan digelar Diskusi Publik yang menghadirkan tokoh dan ulama dari berbagai daerah. Diskusi ini akan menjadi forum untuk merumuskan “Memorandum Muharram 1447 H” yang berisi pandangan strategis dan rekomendasi umat Islam dalam menjawab tantangan keumatan dan kebangsaan.

Yang istimewa, diskusi ini juga akan melibatkan para Kader Ulama dari tiga institusi: Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) MUI Sumut, PTKU MUI Binjai, dan Kader Ulama Al-Washliyah.

Pada pukul 10.30 hingga 12.00 WIB akan digelar Babak Final Lomba Pildacil yang diikuti oleh peserta dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara. Babak penyisihan telah dilaksanakan secara daring dengan pengiriman video berdurasi maksimal 7 menit.

Acara Puncak: Peluncuran Produk Keumatan Strategis

Puncak acara akan berlangsung siang hari dengan jumlah peserta lebih dari 300 orang. Dalam kesempatan ini, akan dilaksanakan:

  • Pembacaan Memorandum Muharram 1447 H

  • Peluncuran Kalender Hijriah 1447 H

  • Peluncuran Buku Panduan Majelis Taklim

  • Peluncuran Majalah Media Ulama Edisi 9

Prof. Fachruddin mengungkapkan bahwa sejumlah tokoh penting dijadwalkan hadir dalam acara puncak, di antaranya Wakil Menteri Agama RI,  Gubernur Sumatera Utara, serta para tokoh ormas Islam, ulama, dan akademisi.

“Ini bukan sekadar seremoni tahunan, tapi wujud konsolidasi pemikiran dan langkah strategis umat Islam Sumatera Utara ke depan,” jelasnya.

Zikir dan Doa sebagai Penutup Spiritualitas

Kegiatan akan ditutup setelah Salat Ashar dengan Zikir dan Doa Bersama sebagai bentuk penyucian hati dan penguatan spiritual umat.

“Kami ingin momentum ini menjadi titik tolak untuk gerakan hijrah kolektif umat. Tidak hanya dalam tataran wacana, tetapi dalam aksi nyata menuju Sumatera Utara yang unggul dan religius,” pungkas Prof. Fachruddin.

Melalui peringatan ini, MUI Sumut berharap dapat memperkuat peran ulama, memperluas sinergi antar lembaga keagamaan, dan terus menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semua dalam konteks lokal maupun nasional.