Sunday, April 19, 2026
spot_img
Home Blog Page 28

Sekitar 1.000 Peserta dari Berbagai Elemen Masyarakat Siap Meriahkan Semarak Muharram 1447 H MUI Sumut

muisumut.or.id., Medan, 11 Juli 2025 – Menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara akan menggelar Semarak Muharram pada Sabtu, 12 Juli 2025 / 19 Muharram 1447 H, dengan melibatkan sekitar 1.000 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Peserta yang telah mengonfirmasi kehadiran berasal dari ormas Islam, lembaga keagamaan, perguruan tinggi, instansi pemerintah, dunia usaha, hingga perwakilan perbankan syariah.

Mengusung tema “Menguatkan Nilai Hijrah dengan Kolaborasi Sumatera Utara Unggul, Maju Berkesinambungan yang Religius,” kegiatan ini tidak sekadar menjadi peringatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum konsolidasi umat Islam untuk memperkuat sinergi dalam membangun peradaban yang berkelanjutan.

Ketua Panitia, Prof. Dr. H. Fachruddin, MA, menjelaskan bahwa tema tersebut merupakan refleksi dari semangat hijrah yang kontekstual, yaitu membangun kolaborasi antara ulama, umara, dan masyarakat dalam mewujudkan Sumatera Utara yang religius, inklusif, dan unggul dalam berbagai sektor kehidupan.

Rangkaian Kegiatan Sehari Penuh

Semarak Muharram akan dimulai pada pukul 06.30 WIB dengan Jalan Santai Keluarga yang akan diikuti oleh seleuruh elemen umat Islam seperti para tokoh, ulama, ormas Islam, mahasiswa, serta masyarakat umum dari berbagai daerah. Acara ini diharapkan menjadi wadah silaturahmi lintas generasi dan lintas lembaga.

Panitia menyediakan beragam hadiah doorprize menarik lebih dari 150 sebagai bentuk apresiasi kepada peserta, antara lain: 3 unit sepeda, 10 unit magic com, 10 payung, 60 sarung, 50 souvenir dari Galeri Rahmatsyah, 10 tumbler dan 10 hadiah menarik lainnya

Pada pukul 09.00 hingga 10.30 WIB, akan digelar Diskusi Publik yang menghadirkan sejumlah tokoh dan ulama terkemuka. Forum ini akan merumuskan “Memorandum Muharram 1447 H” berisi pandangan strategis dan rekomendasi umat Islam dalam menjawab tantangan keummatan dan kebangsaan.

Acara Puncak: Peluncuran Produk Strategis dan Hadiah Umrah

Acara puncak yang akan dihadiri oleh lebih dari 300 undangan kehormatan dari berbagai unsur pemerintah, ormas, dan lembaga keislaman akan dirangkai dengan: Pembacaan Memorandum Muharram 1447 H, Peluncuran Kalender Hijriah 1447 H, Peluncuran Buku Panduan Majelis Taklim, Peluncuran Majalah Media Ulama Edisi 9, Penyerahan Penghargaan kepada Lembaga Peduli Umat

Yang istimewa, dalam acara puncak ini juga akan diserahkan empat paket umrah kepada  pengabdi umat, yaitu: Bilal Mayit Laki-laki, Bilal Mayit Perempuan, Imam Masjid, Alumni atau Mahasiswa PTKU MUI Sumut

Selanjutnya, pada pukul 14.00 – 16.00 WIB, akan berlangsung Babak Final Lomba Pildacil yang diikuti oleh enam finalis terbaik dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara, setelah melalui seleksi ketat secara daring.

Bazar UMKM dan Pelayanan Kesehatan Gratis

Untuk mendukung pemberdayaan ekonomi umat, acara ini juga akan dimeriahkan oleh 25 stand Bazar UMKM dari berbagai kabupaten/kota di Sumut yang menampilkan produk-produk lokal unggulan. Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis dari Rumah Sehat BAZNAS, sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap kesehatan umat.

“Atas nama panitia, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan menyukseskan kegiatan ini. Semoga semangat Tahun Baru Islam menjadi energi kolektif dalam memperkuat ukhuwah dan membangun Sumatera Utara yang unggul, maju, dan religius,” tutup Prof. Dr. H. Fachruddin, MA.

6 Finalis Pildacil Akan Berlaga di Acara Puncak Muharram 1447 H, Sabtu 12 Juli 2025

muisumut.or.id., 18 Muharram 1447/ 11 Juli 2025, Medan – Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan Lomba Pidato Dakwah Cilik (Pildacil) bertema “Aku Cinta Hijrah”. Lomba ini ditujukan bagi anak-anak usia 10 hingga 13 tahun dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Utara, sebagai upaya menanamkan nilai-nilai hijrah dan semangat keislaman sejak usia dini.

Proses pendaftaran dan seleksi dilakukan secara daring. Para peserta diminta mengirimkan video ceramah berdurasi 5–7 menit melalui tautan Google Form paling lambat Selasa, 8 Juli 2025. Video yang dikirim wajib menampilkan tubuh peserta secara utuh dan sesuai dengan tema lomba, serta dilengkapi data diri berupa Kartu Keluarga.

Setelah melalui proses penilaian yang ketat oleh dewan juri pada 9 dan 10 Juli 2025, panitia menetapkan enam finalis yang akan tampil secara langsung di acara puncak peringatan Muharram dan peluncuran Kalender Hijriah 1447 H, yang akan digelar pada Sabtu, 19 Muharram 1447 H / 12 Juli 2025 di pelataran Kantor MUI Provinsi Sumatera Utara, Jalan Majelis Ulama No. 3, Medan.

Berikut nama-nama finalis yang lolos ke babak akhir:

Finalis Putra:

  1. Muhammad Daffa Al Sakhi – Deliserdang

  2. Muhammad Vidi Alvaro – Deliserdang

  3. Syafiq Athariz Pasa – Deliserdang

Finalis Putri:

  1. Nurin Faiza Lubis – Labuhanbatu

  2. Amanda Khafifah Lubis – Pematang Siantar

  3. Suci Khairani Harianja – Medan

Menurut Ketua Seksi Perlombaan, Dra. Hj. Nani Ayum Panggabean, M.Pd, bersama dewan juri lainnya yakni Drs. H. M. Arifin Umar dan Mhd. Mulyo Ponconiti, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian tema, penampilan, penguasaan materi, artikulasi, serta keberanian tampil. Urutan finalis ditentukan berdasarkan Nomor Peserta Pendaftaran (NPP), dan bukan berdasarkan peringkat juara.

Kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga menjadi wahana syiar Islam yang menyentuh generasi muda secara kreatif dan edukatif. “Melalui lomba Pildacil, kami ingin membangun kecintaan anak-anak terhadap bulan Muharram yang sarat nilai sejarah dan makna hijrah Rasulullah,” ungkap panitia pelaksana.

Pemenang akan diumumkan langsung pada acara puncak dan akan menerima trofi serta hadiah uang tunai jutaan rupiah dari Baznas Porv. Sumatera Utara.

Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi panitia melalui WhatsApp di 0812-3470-8457 atau mengakses akun resmi MUI Sumut melalui Instagram, Facebook, dan website muisumut.or.id.

Pelatihan Juru Sembelih Halal: Meningkatkan Kualitas dan Kehalalan Daging di Sibolga

0

Sibolga, muisumut.or.id Rabu 9 Juli 2025 – Dalam upaya meningkatkan kompetensi dan keahlian juru sembelih halal, LPPOM MUI Sumatera Utara, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Basyaruddin M.S, menggelar pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) berbasis SKKNI di Kota Sibolga. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara LPPOM MUI Sumut dan Perwakilan Bank Indonesia Kota Sibolga, bertujuan untuk menjamin kehalalan produk hewani yang berkualitas.

Dalam sambutannya, Prof. Basyaruddin menekankan pentingnya peran Juleha dalam memastikan kehalalan daging. “Juleha adalah garda terdepan dalam memastikan kehalalan daging. Pelatihan ini bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang tanggung jawab moral dan spiritual,” ujarnya.

Materi Pelatihan yang Komoerhensif

Peserta pelatihan mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai:

Penerapan syariat Islam dalam penyembelihan hewan.
Peran strategis Juleha dalam rantai pasok halal yang semakin penting.
Teknik penyembelihan yang sesuai dengan standar HAS 23000 dan SKKNI.
Prosedur sertifikasi halal untuk Rumah Potong Hewan (RPH) dan Rumah Pemotongan Unggas (RPU).
Kesejahteraan Hewan dan Kualitas Daging

Pelatihan ini juga menekankan pentingnya kesejahteraan hewan. “Hewan yang sehat dan diperlakukan dengan baik akan menghasilkan daging yang berkualitas,” tambah Prof. Basyaruddin. Para peserta diajarkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan, serta teknik pemotongan yang tepat.

Perwakilan Bank Indonesia Kota Sibolga turut hadir untuk memberikan dukungan. “Kami percaya bahwa penguatan ekonomi syariah dimulai dari sektor pangan. Pelatihan ini adalah langkah penting untuk mencapai itu,” ungkap perwakilan BI.

Peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga melakukan praktik langsung. “Kami ingin memastikan bahwa setiap Juleha tidak hanya tahu, tetapi juga mampu melaksanakan penyembelihan dengan baik,” jelas Prof. Basyaruddin.

Dengan semangat dan pengetahuan baru, para peserta diharapkan dapat menjadi Juleha yang profesional dan bertanggung jawab. “Mari kita jaga kehalalan dan kualitas daging yang kita konsumsi,” tutup Prof. Basyaruddin. Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi industri pangan halal di Indonesia, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kehalalan dalam setiap aspek kehidupan.

MUI Sumut Gelar Silaturahmi Ekonomi Umat Bersama HEBITREN dan KSBP

muisumut.or.id., Medan, 8 Juli 2025 — Dalam rangka memperkuat sinergi antar lembaga, tokoh masyarakat, dan pelaku usaha di bidang ekonomi syariah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melalui Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat menggelar Silaturahmi Ekonomi Umat yang berlangsung di Kantor MUI Sumut, Jalan Majelis Ulama, Medan.

Acara yang diinisiasi oleh Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut, Prof. Dr. Saparuddin Siregar, SE, Ak, MA, dan Sekretaris Drs. Putrama Al-Khairi, ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan strategis. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Pusat, Andi YH Djuwaely Pimpinan Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (HEBITREN) Sumatera Utara, serta Ketua Koperasi Syariah Bisnis Pesantren (KSBP).

Dalam sambutannya, Prof. Saparuddin menegaskan pentingnya membangun ekosistem ekonomi umat yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan. “Silaturahmi ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan visi, menyatukan langkah, dan memperkuat kolaborasi agar ekonomi umat, khususnya di kalangan pesantren, dapat berkembang secara signifikan,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan MUI Pusat Wakil Ketua KPEU MUI, Andi YH Djuwaely memberikan apresiasi terhadap inisiatif MUI Sumut dalam menyelenggarakan silaturahmi rutin ini. Menurutnya, sinergi antara pusat dan daerah sangat penting dalam mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan ekonomi berbasis syariah.

Pimpinan HEBITREN Sumut menyampaikan paparan mengenai progres dan tantangan pengembangan ekonomi pesantren di Sumatera Utara, termasuk pentingnya integrasi bisnis antarpesantren serta terbentuknya ekosistem usaha berbasis syariah. “Pesantren memiliki potensi besar sebagai sentra ekonomi umat, tetapi masih dihadapkan pada kendala seperti keterbatasan SDM, akses pembiayaan, dan konektivitas antar lembaga,” ungkapnya.

Ketua KSBP Sumut juga menambahkan pentingnya memperkuat koperasi pesantren sebagai ujung tombak distribusi dan produksi kebutuhan umat. Ia menekankan perlunya digitalisasi dan pemasaran bersama antar pesantren sebagai solusi atas keterbatasan akses pasar.

Acara ini menjadi bagian dari program rutin bulanan yang diusung oleh Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut, dengan tujuan:

  • Menyusun dan mengevaluasi program pemberdayaan ekonomi umat.

  • Menyediakan forum koordinasi antar-stakeholders.

  • Merumuskan solusi ekonomi umat melalui pendekatan partisipatif.

  • Mendorong berdirinya UPZ, penguatan wakaf produktif, serta ekonomi berjamaah.

Silaturahmi ini sekaligus menegaskan komitmen MUI Sumut dalam menggalang kekuatan umat melalui jejaring ekonomi syariah yang inklusif dan kolaboratif, sebagai upaya menurunkan angka kemiskinan dan memperkuat kemandirian ekonomi umat menuju tahun 2026.

MUI Sumut Turut Berduka atas Wafatnya Anieqa Zuwena Adly, Putri Wakil Ketua Komisi Fatwa

muisumut.or.id., Medan, 8 Juli 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Anieqa Zuwena Adly, putri tercinta dari Ustaz Dr. Amar Adly, Lc., M.A.,  Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara. Anieqa wafat dalam usia 14 tahun pada Senin malam, 7 Juli 2025 pukul 21.35 WIB, setelah sebelumnya menjalani perawatan karena sakit.

Suasana duka menyelimuti kediaman almarhumah di lingkungan Pesantren Darul Hikmah Taman Pendidikan Islam (TPI) Jalan Pelajar, Medan. Sejumlah tokoh dan keluarga besar dari berbagai institusi turut hadir menyampaikan belasungkawa, termasuk dari jajaran MUI Sumut, MUI Kota Medan, civitas akademika UIN Sumatera Utara, keluarga besar Pesantren TPI, serta masyarakat dan sahabat keluarga.

Mewakili MUI Sumut, Ustaz Dr. H. Ardiansyah, Lc., M.A., hadir langsung di lokasi duka dan menyampaikan pesan takziah serta dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan. Dalam tausiyah singkatnya, ia mengingatkan pentingnya kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi ujian kehilangan orang tercinta.

“Rasulullah SAW memiliki tujuh orang anak, dan enam di antaranya wafat saat beliau masih hidup. Itu adalah ujian yang sangat berat. Namun beliau tetap sabar dan ridha atas takdir Allah. Mudah-mudahan kita tidak diuji melebihi ujian Rasulullah SAW,” ujar Ustaz Ardiansyah.

Ia juga menyampaikan bahwa wafatnya anak dalam usia muda merupakan ketentuan Allah yang pasti mengandung hikmah besar. “Insya Allah, Zuwena menjadi tabungan akhirat bagi kedua orang tuanya dan dikumpulkan bersama para shalihin di surga,” tambahnya.

MUI Sumatera Utara turut mendoakan agar almarhumah Anieqa Zuwena Adly diterima di sisi Allah SWT, dilapangkan kuburnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menerima takdir-Nya.

MUI Sumatera Utara Terima Kunjungan LPH Inspirasi Halal Indonesia

muisumut.or.id., Medan, 7 Muharram/ 3 Juli 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menerima kunjungan resmi dari Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Inspirasi Halal Indonesia di Kantor MUI Sumut. Kunjungan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi serta memperkenalkan keberadaan LPH yang baru terakreditasi dan berbasis di Sumatera Utara.

Dalam kunjungan tersebut, hadir Ketua Yayasan Inspirasi Halal Indonesia, Pristia, bersama Direktur Pelaksana, Zulkarnein. Keduanya menyampaikan bahwa LPH Inspirasi Halal Indonesia merupakan lembaga yang didirikan dan beroperasi langsung dari Sumatera Utara, dengan kantor pusat yang juga berada di daerah ini.
Kami hadir sebagai LPH yang lahir dan berkembang langsung di Sumatera Utara. Kami berharap kehadiran kami dapat memperkuat sistem jaminan produk halal di wilayah ini,” ujar Zulkarnein.

Sekretaris Umum MUI Sumatera Utara, Prof. Dr. Asmuni, menyambut baik kehadiran lembaga ini. Ia berharap LPH Inspirasi Halal Indonesia dapat membantu umat Islam untuk lebih terlindungi dari produk-produk yang mengandung unsur syubhat.
Dengan adanya LPH seperti ini, kita bisa menjaga kualitas kehalalan produk, sehingga umat tidak ragu lagi dalam mengonsumsi sesuatu. Ini merupakan bagian penting dari perlindungan konsumen Muslim,” ujar Prof. Asmuni.

Lebih lanjut, MUI Sumatera Utara menyampaikan komitmennya untuk siap membantu secara maksimal dan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk LPH Inspirasi Halal Indonesia, demi terwujudnya upaya pemerintah dalam memastikan bahwa setiap produk yang beredar di masyarakat telah terjamin kehalalannya melalui proses sertifikasi yang sah.

Ahmad Sanusi Luqman, Lc., MA, anggota Komisi Fatwa MUI Sumut, menjelaskan bahwa proses fatwa halal didasarkan pada hasil audit yang dilakukan oleh LPH atau LPPOM. Audit ini mencakup dua kategori, yakni audit produk sembelihan dan audit produk jadi.
Pada prinsipnya, jika hasil audit menunjukkan bahwa suatu produk telah memenuhi unsur kehalalan secara syar’i, maka kami dari MUI akan memfatwakan kehalalannya,” jelasnya.

Sanusi juga menambahkan bahwa cakupan sertifikasi halal saat ini tidak terbatas pada produk makanan dan minuman saja. “Kini sertifikasi halal juga mencakup jasa, termasuk jasa angkutan. Ini menunjukkan bahwa standar halal telah meluas seiring dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan oleh Irwansyah, Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumut, yang menjelaskan bahwa proses sidang fatwa halal dilaksanakan secara berkala.
Sidang fatwa halal MUI Sumut biasa digelar setiap Selasa. Produk akan difatwakan kehalalannya berdasarkan laporan hasil audit, khususnya terkait bahan baku dan proses produksinya,” terang Irwansyah.

Keberadaan LPH yang baru berdiri ini menambah deretan LPH yang ada di Sumatera Utara. Hal ini tentu menjadi perpanjangan tangan MUI di lapangan dalam memeriksa apakah produk sudah sesuai dengan standar halal atau tidak. Dengan demikian, kehadiran LPH Inspirasi Halal Indonesia akan memberikan jaminan tambahan kepada konsumen terkait kehalalan produk yang mereka konsumsi. Hasil Audit itu yang kita fatwakan, ujar Dr. Irwansyah.

Pertemuan ditutup dengan harapan agar sinergi antara MUI dan LPH terus terjalin erat demi melindungi umat dari produk yang tidak jelas kehalalannya serta memperkuat sistem jaminan halal nasional, khususnya di Sumatera Utara. (Irwansyah)

PKU Perempuan MPU Aceh Kunjungi MUI Sumatera Utara, Perkuat Kaderisasi Ulama Perempuan Antarprovinsi

muisumut.or.id, Medan, 2 Juli 2025,  — Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh melalui program Pendidikan Kader Ulama (PKU) Perempuan melaksanakan kunjungan studi lapangan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, Rabu (2/7/2025). Kunjungan ini merupakan bagian dari pelaksanaan silabus PKU Perempuan MPU Aceh dalam rangka memperkuat kapasitas, jaringan, dan wawasan kader ulama perempuan dalam skala nasional.

Kegiatan tersebut disambut hangat oleh jajaran MUI Sumatera Utara dan civitas akademika Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) MUI Sumut antara lain: Dr. H. Arifinsyah, M.Ag (Wakil Direktur PTKU), Drs. H. Sotar Nasution, MHB (Bendahara PTKU), Dr. Irwansyah, M.H.I (Sekretaris PTKU), Drs. Ahmad Darwis Ritonga (Kepala Sekretariat PTKU), Muhammad Puadi Harahap, Saidal Arifin, dan M. Alfi Syahri (Bidang Pengasuhan PTKU).

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Ardiansyah, Lc., MA, menyatakan bahwa program PKU merupakan strategi penting dalam menjawab kebutuhan umat akan hadirnya ulama-ulama baru yang kompeten dan kontekstual.

Kunjungan ini menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi dan membangun sinergi antar-lembaga keulamaan di dua provinsi. Regenerasi ulama adalah pekerjaan besar yang harus dipersiapkan bersama,” tegas Dr. Ardiansyah.

Rombongan dari MPU Aceh dipimpin oleh Ustaz Tgk. Ahmad Taufik, Lc dan Muhammad Afdhal, ST, serta terdiri dari 23 peserta kader PKU Perempuan. Ahmad Taufik menjelaskan bahwa program PKU Perempuan dilaksanakan selama 20 hari secara intensif dengan pengawasan langsung dari MPU Aceh, mengusung pendekatan holistik yang mencakup penguatan keilmuan, spiritualitas, serta kepemimpinan dakwah bagi perempuan.

Sementara itu, Direktur PTKU MUI Sumut, Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA, dalam paparannya menyampaikan bahwa pendirian PTKU dilandasi oleh kekhawatiran akan kelangkaan figur ulama yang dapat menjawab tantangan zaman.

Saat ini, kita menghadapi krisis regenerasi ulama, baik di Sumatera Utara maupun di Aceh. Ketika seorang ulama wafat, sulit mencari penggantinya yang sepadan, apalagi yang lebih unggul. Maka kaderisasi adalah keniscayaan,” jelas Prof. Hasan.

PTKU MUI Sumut, lanjutnya, memiliki visi mencetak ulama yang ahli agama, pengamal agama, dan pejuang agama. Program ini terbuka untuk lulusan sarjana hingga doktoral, dan difokuskan pada penguatan bahasa Arab dan Inggris serta pengajaran dari dosen-dosen alumni Timur Tengah.

Dari sisi keulamaan perempuan, Ketua Bidang PKU Perempuan MUI Sumatera Utara, Dra. Hj. Rusmini, MA, menekankan pentingnya kehadiran ustazah dalam menjawab isu-isu spesifik perempuan dalam masyarakat.

Selama ini banyak persoalan keagamaan perempuan dijelaskan oleh ustaz laki-laki. Dengan adanya PKU Perempuan, kita menghadirkan solusi yang lebih kontekstual dan representatif,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa PKU Perempuan MUI Sumatera Utara berlangsung selama tiga bulan dengan sistem non-boarding (tidak berasrama), agar peserta bisa tetap menjalankan peran domestik sambil mengikuti pendidikan.

Di akhir kegiatan, Prof. Hasan Bakti menyampaikan rencana kunjungan balasan PTKU MUI Sumut ke MPU Aceh pada akhir Juli 2025 mendatang dalam rangka menghadiri Multaqa Ulama II, sebagai bentuk keberlanjutan kerja sama strategis antarlembaga keulamaan di Sumatera bagian utara. (Irwansyah)

MUI Sumut Terima Kunjungan MUI Pusat: Petakan Kerukunan Umat Beragama di Wilayah Sumatera Utara

muisumut.or.id, Medan, 2 Juli 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menerima kunjungan resmi dari Tim MUI Pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan Pemetaan Kerukunan Umat Beragama di Wilayah Minoritas Muslim, mulai Senin (30/6/2025) hingga Kamis (3/7/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional yang difasilitasi oleh Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama (KAUB) MUI Pusat, mencakup tujuh provinsi, termasuk Sumatera Utara.

Tim MUI Pusat yang hadir antara lain: Dr. HM. Zainuddin Daulay, M.Hum, Sekretaris Komisi KAUB MUI Pusat, dan H. Arif D. Hasibuan, S.Pd., M.IP, Panitia Pemetaan Kerukunan MUI.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menyambut langsung tim di Kantor MUI Sumut, Jalan Majelis Ulama No. 3 Medan. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pemetaan kerukunan umat beragama ini merupakan langkah strategis dan sangat penting, khususnya dalam menjaga stabilitas sosial dan keagamaan di wilayah Sumatera Utara yang multietnis dan multiagama.

MUI Sumut senantiasa membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas dan keharmonisan antarumat beragama. Kami menyambut baik langkah MUI Pusat dalam menyusun peta kerukunan sebagai basis penguatan moderasi dan penyelesaian konflik keagamaan secara komprehensif dan ilmiah,” ujar Buya Dr. Maratua.

Sebagai bentuk dukungan konkret, pada Rabu, 2 Juli 2025, MUI Sumatera Utara menggelar Rapat Pleno Khusus yang dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris masing-masing Bidang, Komisi, serta para Direktur dan Pimpinan Lembaga di lingkungan MUI Sumut. Rapat Pleno ini juga dihadiri dari utusan Kementrian Agama Sumatera Utara dan ormas ormas Islam. Rapat ini secara khusus membahas langkah-langkah partisipatif MUI Sumut dalam mendukung dan menyukseskan program pemetaan kerukunan yang dijalankan oleh MUI Pusat.

Dalam kesempatan tersebut, seluruh jajaran menyepakati bahwa pemetaan ini menjadi langkah strategis jangka panjang, terutama dalam menyusun kebijakan dakwah, advokasi sosial, serta respons terhadap potensi-potensi gangguan kerukunan yang mungkin muncul di masa depan.

Selama kunjungan lapangan, tim MUI Pusat akan melakukan penggalian data langsung, berdialog dengan tokoh lintas agama, mempelajari kearifan lokal, serta menelusuri berbagai dinamika sosial yang berkaitan dengan rumah ibadah, kebebasan beribadah, simbol keagamaan, hingga relasi sosial antarumat.

Kegiatan ini diharapkan menghasilkan data pemetaan kerukunan yang valid dan aplikatif, yang nantinya menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan nasional dan lokal, serta memperkuat peran strategis MUI sebagai penjaga harmoni dan pemersatu umat di tengah keberagaman Indonesia

Hijrah dan Dakwah: Refleksi Prof. Dr. H. Mohd Hatta, Ketua Bidang Dakwah MUI Sumatera Utara

muisumut.or.id., Medan, 4 Muharram 1447 H/30 Juni 2025, Fenomena hijrah belakangan ini tumbuh subur di tengah masyarakat. Dari kalangan pemuda hingga publik figur, semangat untuk kembali kepada ajaran Islam mulai menggeliat. Tanda-tanda hijrah pun tampak nyata: mulai dari perubahan penampilan, pola pikir, hingga munculnya gairah untuk menyampaikan kebaikan. Namun, muncul pula fenomena baru—orang-orang yang belum lama berhijrah tiba-tiba menjadi pendakwah publik, baik secara langsung maupun lewat media sosial.
Bagaimana kita menyikapinya? Apakah semangat itu cukup untuk berdakwah? Bagaimana posisi ilmu dalam proses transformasi spiritual ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini kami ajukan kepada Prof. Dr. H. Mohd Hatta, Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, yang juga merupakan Ketua Baznas Sumatera Utara, seorang akademisi dan ulama yang telah puluhan tahun menggeluti dunia dakwah dan pendidikan Islam.

Hijrah: Sebuah Awal, Bukan Akhir
Bagi Prof. Hatta, hijrah adalah momentum yang sangat berharga. Ia menyebutkan bahwa semangat hijrah di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk artis dan selebritas, merupakan pertanda baik bagi kehidupan beragama.
Hijrah itu proses panjang, bukan sekadar perubahan penampilan. Ia harus diikuti dengan belajar, muhasabah, dan istiqamah,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa hijrah harus diarahkan kepada kedalaman iman, bukan hanya impresi luar.

Publik Figur Hijrah, Langsung Berdakwah?

Dalam pengamatan MUI, banyak artis atau publik figur yang setelah hijrah merasa terdorong untuk langsung menyampaikan nasihat agama, bahkan ceramah. Beberapa memang memiliki niat baik dan pengaruh besar, namun tak sedikit pula yang tergelincir karena kurangnya bekal ilmu.
Semangat itu penting, tapi tidak cukup. Dakwah itu ibadah yang berat. Ia menuntut ilmu, akhlak, dan keikhlasan,” ujar Prof. Hatta tegas. Ia mencontohkan bahwa Rasulullah SAW sendiri menerima wahyu dan bimbingan selama bertahun-tahun sebelum aktif menyampaikan risalah ke tengah masyarakat.

MUI sendiri tidak melarang siapa pun untuk menyampaikan kebaikan. Namun, ia menekankan pentingnya ada proses pembinaan dan pengawasan. “Kami khawatir, jika yang disampaikan tidak tepat, akan terjadi misinformasi agama. Akibatnya, umat bisa bingung atau bahkan salah paham.”

Popularitas Bukan Jaminan Kebenaran
Menurut Prof. Hatta, di era digital ini, jumlah pengikut dan penonton sering dijadikan tolok ukur keberhasilan dakwah. Padahal dalam Islam, keberhasilan dakwah tidak diukur dari viralitas, tetapi dari ketepatan isi dan keikhlasan niat.
“Jangan sampai popularitas mengalahkan urgensi ilmu. Rasulullah berdakwah bukan karena ia terkenal, tetapi karena ia membawa kebenaran,” tutur beliau.
Ia mengingatkan bahwa pendakwah adalah perpanjangan lisan Nabi. Maka, setiap kata yang diucapkan harus melewati pertimbangan ilmu dan akhlak. Ia mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima konten keagamaan dan tidak menjadikan status publik figur sebagai legitimasi kebenaran.

Peran MUI: Membina dan Mendampingi
MUI Sumatera Utara melalui Bidang Dakwah memiliki program khusus untuk membina calon-calon dai dan para muallaf hijrah yang ingin aktif berdakwah. “Kami tidak ingin mematikan semangat. Justru kami ingin membimbing agar semangat itu terarah,” katanya.

MUI juga mendorong para publik figur yang berhijrah untuk ikut serta dalam pelatihan dakwah, kajian mendalam, dan berguru kepada ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. “Kalau sudah siap, mereka bisa menjadi pendakwah yang bukan hanya menarik, tetapi juga mendidik,” tambahnya.

Dakwah adalah Amanah
Menutup perbincangan, Prof. Hatta menyampaikan pesan yang menyentuh: “Dakwah itu bukan profesi untuk tenar. Ia adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Kalau belum siap, lebih baik perkuat diri dulu dengan ilmu dan akhlak. Jika nanti berdakwah, maka dakwahlah dengan hati yang bersih dan tujuan yang ikhlas.”
Semangat hijrah adalah awal yang mulia, tetapi setiap awal butuh arah. Dan arah itu hanya bisa dicapai jika semangat dibimbing oleh ilmu, akhlak, dan bimbingan para ulama.

Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara Gelar Muzakarah Edisi Muharram 1447 H: Bahas Makna Hijrah dan Muhasabah Umat

muisumut.or.id., Medan, 3 Muharram 1447/ 29 Juni 2024 — Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Muzakarah Ilmiah Edisi Muharram 1447 H pada Sabtu, 29 Juni 2024 bertepatan dengan 3 Muharram 1447 H. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah.

Acara yang dilaksanakan di Medan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA dan Prof. Dr. Ir. H. Basyaruddin, MS, serta dimoderatori oleh Dr. Irwansyah, Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumut.
Dalam pemaparannya, Prof. Hasan Bakti mengangkat tema “Hijrah: Sejarah, Prospek, dan Tantangan“. Ia menjelaskan bahwa konsep hijrah mencakup dua dimensi, yakni fisik dan non-fisik. Hijrah fisik bermakna perpindahan tempat, sementara hijrah non-fisik adalah proses berpindah ke arah yang lebih baik secara moral dan spiritual.
banyak pelajaran penting dalam sejarah pada peristiwa Hijrah Nabi saw. Nabi itu bahkan ahli dalam berbagai aspek termasuk dalam stategi. lain dari itu untuk hari ini perlunya Hijrah non-fisik adalah perubahan menuju kondisi yang lebih positif. Kita harus menciptakan perubahan, bukan sekadar mengikuti atau menjadi korban perubahan,” tegas Prof. Hasan.

Sementara itu, Prof. Basyaruddin dalam paparannya degan topik “Muharram sebagai Media Muhasabah”, menekankan pentingnya refleksi dan evaluasi diri dalam menyambut Tahun Baru Islam.
Muharram adalah momen muhasabah secara menyeluruh, bukan hanya individu tetapi juga umat Islam secara global, regional, dan nasional. Ini adalah panggilan ruhani untuk memperbaiki diri dan komunitas,” ungkapnya.

Ketua Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara, Drs. H. Ahmad Sanusi Luqman, Lc., MA, menyampaikan bahwa Muzakarah ini merupakan bagian dari agenda MUI Sumut dalam menyemarakkan Tahun Baru Islam. Sebelumnya, telah diselenggarakan kegiatan zikir dan doa bersama, dan akan berlanjut dengan berbagai seminar hingga acara puncak pada 12 Juli 2025.

Dr. Irwansyah selaku moderator menambahkan bahwa Komisi Fatwa MUI Sumut terus merespons persoalan-persoalan keumatan melalui forum ilmiah seperti muzakarah ini. Bahkan, dalam waktu dekat, Komisi Fatwa akan kembali menggelar Ijtima’ Ulama pada Oktober 2025, untuk membahas isu-isu aktual keagamaan.
“Topik-topik seperti salat di atas kursi, khutbah Id dua kali dalam hari yang berbeda, hingga tradisi lokal seperti mandi marpangir akan menjadi perhatian Komisi Fatwa,” jelasnya.

Muzakarah ini ditutup oleh Dr. KH. Arso, SH., M.Ag, Wakil Ketua Umum MUI Sumut sekaligus Koordinator Bidang Fatwa. Dalam penutupannya, ia menegaskan pentingnya menjadikan Muharram sebagai momentum membangun masa depan Islam yang lebih baik.
Setidaknya, kita bisa mulai dengan mengenalkan kalender Islam kepada generasi muda. Jangan sampai mereka lebih hafal nama-nama bulan dalam kalender Masehi daripada Muharram hingga Zulhijjah,” pesannya.

Muzakarah Edisi Muharram ini menjadi bagian dari komitmen MUI Sumatera Utara dalam memperkuat peran fatwa dan pendidikan umat dalam menghadapi dinamika zaman.