Tuesday, April 21, 2026
spot_img
Home Blog Page 36

MUI Sumut di Masjid Al-Fatih Binjai: Infak untuk Palestina, Bukti Kepedulian Umat

0

Binjai, muisumut.or.id | 9 Maret 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengajak umat Islam untuk terus menunjukkan kepedulian terhadap Palestina melalui infak dan sedekah. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum., yang juga Direktur Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Sumut, dalam rangkaian Safari Ramadan yang digelar di Masjid Al-Fatih, Binjai.

Dalam tausiyahnya, Dr. Akmaluddin menekankan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan hanya soal politik, tetapi juga bukti kepedulian dan solidaritas kemanusiaan yang diajarkan Islam.

“Saudara kita di Palestina sangat membutuhkan bantuan. Berapa pun yang kita infakkan, akan menentukan posisi kita: apakah kita benar-benar bersama mereka atau tidak. Ini adalah ujian kepedulian kita sebagai umat Islam,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa infak dan wakaf bukan hanya untuk membantu sesama, tetapi juga merupakan investasi akhirat. Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana sedekah dan wakaf menjadi instrumen kebaikan yang terus mengalirkan manfaat.

“Jika anak Adam wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,” ujar Dr. Akmaluddin mengutip hadis Nabi SAW.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan Ramadan sebagai momentum meningkatkan sedekah dan wakaf. Ia mencontohkan bagaimana Wakaf Kebun Umar di Khaibar dan Wakaf Sumur Utsman terus memberikan manfaat bagi umat Islam hingga saat ini, termasuk dalam bentuk Hotel Utsman di Madinah.

“Masjid Al-Fatih yang kita tempati ini pun berdiri berkat wakaf. Ini membuktikan bahwa wakaf adalah solusi untuk membangun kemandirian umat secara berkelanjutan,” tambahnya.

Safari Ramadan MUI Sumut di Masjid Al-Fatih Binjai ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat solidaritas dengan sesama, baik melalui infak untuk Palestina maupun dengan berwakaf untuk membangun kemandirian ekonomi umat.

MUI Sumut Berduka, Ketua Umum MUI Tapanuli Selatan KH Ahmad Gozali Siregar Berpulang

Tapanuli Selatan, muisumut.or.id | Ahad, 9 Maret 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berduka atas wafatnya Ketua Umum MUI Tapanuli Selatan, Buya KH Ahmad Gozali Siregar. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 8 Maret 2025, dan disemayamkan di Pesantren Jabalul Madaniah, Sijunjungkang, Tapanuli Selatan, Ahad, 9 Maret 2025.

Prosesi pemberangkatan jenazah dihadiri oleh para ulama, pimpinan pondok pesantren, santri, serta masyarakat yang datang memberikan penghormatan terakhir. Mewakili Ketua Umum MUI Sumut, hadir Ketua Bidang Ukhuwah MUI Sumut, Drs. H. Hatta Siregar, M.Si., didampingi KTU Sekretariat MUI Sumut, Mhd Fuadi Harahap, S.H., M.Pd.

MUI Sumut: Kehilangan Besar bagi Umat

Dalam sambutannya, Drs. H. Hatta Siregar, M.Si., menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas kepergian almarhum.

“Buya KH Ahmad Gozali Siregar adalah seorang ulama kharismatik yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk dakwah dan pembinaan umat. Beliau telah meninggalkan jejak perjuangan yang luar biasa, baik melalui MUI Tapanuli Selatan maupun Pesantren Jabalul Madaniah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, dan perjuangannya dapat kita lanjutkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa MUI Sumut kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, yang selama ini konsisten dalam membina umat, memperjuangkan nilai-nilai Islam, serta memperkokoh persatuan ulama di Sumatera Utara.

“MUI Sumut turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kami berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini,” tambahnya.

Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Selatan Sampaikan Belasungkawa

Turut hadir dalam prosesi, Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, dan Wakil Bupati, Dr. Ja’far Syahbuddin Ritonga, yang juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya almarhum.

Dr. Ja’far Syahbuddin Ritonga, yang memiliki kedekatan khusus dengan MUI Sumut, karena sebelumnya menjabat sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut, menyampaikan rasa kehilangan mendalam.

Dimakamkan dengan Penuh Penghormatan

Seusai prosesi pelepasan, jenazah almarhum dimakamkan dengan penuh penghormatan di lingkungan pesantren yang telah beliau besarkan. Kepergian Buya KH Ahmad Gozali Siregar menjadi kehilangan besar bagi umat Islam di Tapanuli Selatan, khususnya bagi para santri dan masyarakat yang selama ini mendapat bimbingannya.

MUI Sumut berharap nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan oleh almarhum dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya, sehingga Islam tetap menjadi sumber kekuatan dalam membangun peradaban umat.

MUI Sumut Gelar Muzakarah Ekonomi dan Pinbas Weekend Market: Strategi Membangun Daya Saing Entrepreneur Muslim

Medan, muisumut.or.id |Ahad, 9 Maret 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melalui BIdang/Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat dan  Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (Pinbas) MUI Sumut sukses menggelar Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis serta Pinbas Weekend Market pada Ahad, 9 Maret 2025.

Rangkaian acara ini mencakup tiga agenda utama:

  1. Sekolah Bisnis (08.30 – 12.30 WIB) di Ruang Rapat LPPOM MUI Sumut, terbatas untuk 25 entrepreneur.
  2. Bazar UMKM Mitra dan Binaan Pinbas MUI Sumut (10.00 – 18.00 WIB) di Halaman MUI Sumut.
  3. Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis (14.00 – 17.00 WIB) di Ruang Rapat Utama MUI Sumut.

Sekolah Bisnis: Meningkatkan Kapasitas Entrepreneur Muslim

Pada sesi Sekolah Bisnis, hadir sebagai narasumber:

  • Dr. Fikri (JNE), membahas strategi penguatan jaringan bisnis berbasis logistik dan distribusi.
  • Cahyo Pramono, MBA (Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut), mengupas strategi praktis dalam membangun bisnis yang kompetitif di era digital.

Program ini bertujuan untuk membangun mata rantai bisnis berbasis syariah dengan meningkatkan daya saing entrepreneur Muslim agar lebih tangguh dalam menghadapi persaingan global.

Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis: Membangun Ekosistem Bisnis Syariah

Acara pembukaan Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis secara resmi dibuka oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak. Dalam sambutannya, Maratua menegaskan kembali dua peran utama MUI, yaitu sebagai mitra pemerintah dan pemelihara umat melalui tausiyah dan fatwa.

“MUI adalah tenda besar umat Islam. Peran kita tidak hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam bidang ekonomi. MUI dan pemerintah melakukan pekerjaan yang sama dalam membangun kesejahteraan umat, termasuk dalam penguatan ekonomi berbasis syariah,” ujar Maratua.

Diskusi dalam Muzakarah Ekonomi Islam dan Bisnis menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh, di antaranya:

  1. Prof. Dr. Saparudin Siregar (Ketua Bidang Ekonomi MUI Sumut) – Membangun Mata Rantai Peningkatan Daya Saing Entrepreneur Muslim.
  2. Dr. Fikri (Pimpinan JNE) – Peluang Kemitraan Bisnis Distribusi dan Logistik.
  3. Dr. Dedi Masri  Success Story Profesional dan Pengusaha Muslim.

Putrama Al Khari, selaku Ketua Panitia, menyoroti pentingnya strategi dan komunikasi dengan pemerintah untuk memperkuat ekosistem bisnis Muslim.

“Kita sudah sangat terpinggirkan. Kita harus fokus dan berstrategi. Bisnis berbasis syariah harus mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Kita melihat peluang besar untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi yang kuat. Di Sumatera Utara, kita melihat bagaimana konglomerat lokal mengalami kemunduran, seperti runtuhnya Garuda Plaza. Namun, ada contoh sukses seperti Toko Aceh yang mampu bersaing dengan Indomaret dan jaringan ritel besar lainnya. Artinya, kita bisa membangun sistem bisnis berbasis syariah yang kuat jika bersatu,” ujar Putrama.

Ceramah Menjelang Berbuka Puasa Ramadhan 1446 H: Menjadi Pribadi Bertaqwa Melalui Puasa

Medan, muisumut.or.id – 8 Maret 2025 – Dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah, Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI SU) menyelenggarakan ceramah menjelang berbuka puasa yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA, Ketua Bidang Pendidikan, Pemuda, dan Kaderisasi MUI SU sekaligus Direktur PTKU MUI SU. Ceramah yang berlangsung pada Sabtu, 8 Ramadhan 1446 H, mengangkat tema “Bagaimana Menjadi Pribadi Yang Bertaqwa Dengan Berpuasa?”

Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution membuka ceramah dengan mengutip ayat Al-Qur’an dari Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan bahwa tujuan akhir dari puasa adalah untuk mencapai derajat takwa. “Awal dari Ramadhan adalah iman, dan sasaran akhirnya adalah takwa. Allah SWT mewajibkan puasa agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa,” jelasnya.

Beliau menjelaskan bahwa takwa dalam istilah agama adalah kesiapan untuk melaksanakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. “Puasa Ramadhan adalah rangkaian perintah dan larangan. Kita diperintahkan untuk berpuasa dan dilarang melakukan hal-hal yang membatalkan puasa,” tambahnya.

Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution menekankan pentingnya memahami perbedaan antara saum dan siam. “Saum adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, sedangkan siam adalah menahan diri dari segala yang dilarang oleh agama, termasuk yang membatalkan pahala puasa,” ujarnya.

Beliau mengingatkan bahwa puasa yang ideal adalah puasa yang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan dan perbuatan yang dapat merusak pahala puasa. “Kita harus menjauhi perkataan jorok, caci maki, iri, dan dengki. Dengan demikian, kita dapat mencapai derajat takwa yang dijanjikan Allah SWT,” tegasnya.

Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution menutup ceramah dengan mengajak umat Islam untuk memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. “Orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar dari setiap masalah di dunia dan balasan surga di akhirat. Mari kita laksanakan puasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya agar kita dapat meraih gelar takwa,” tutupnya.

Ceramah ini diharapkan dapat memberikan pencerahan dan motivasi bagi umat Islam untuk lebih serius dalam menjalankan ibadah puasa, sehingga dapat menjadi pribadi yang bertakwa dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

P2WP MUI Sumut Gelar Gerakan Wakaf Produktif di Serdang Bedagai

0

Serdang Bedagai, muisumut.or.id | 8 Maret 2025 – Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menggelar Gerakan Wakaf Produktif memanfaatkan momentum Safari Ramadhan 1446 H di Kabupaten Serdang Bedagai. Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Kemandirian Umat Bersama MUI” ini dilaksanakan oleh tim P2WP MUI Sumut, dengan menghadirkan Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum. sebagai narasumber. Ia didampingi oleh Rustam, M.A., Ari Syahputra, Fahri Roja Sitepu, dan Syahrul, M.Pd.

Bertempat di Kantor MUI Serdang Bedagai, acara ini dihadiri oleh 50 peserta, yang terdiri dari Dewan Pimpinan MUI Kabupaten, pimpinan pesantren, nazhir masjid, serta perwakilan organisasi kepemudaan.

Sejarah Wakaf Produktif dan Tantangan di Indonesia
Dalam pemaparannya, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum., yang juga merupakan Direktur P2WP MUI Sumut, menjelaskan sejarah panjang wakaf produktif sejak era Rasulullah SAW hingga praktik modern yang berkembang di Mesir, Turki, Malaysia, dan Indonesia.

Ia menyoroti bahwa lemahnya literasi wakaf produktif masih menjadi kendala utama dalam pengembangannya di Indonesia. Selain itu, minimnya kolaborasi dan profesionalitas nazhir juga menjadi tantangan yang perlu segera diatasi. Oleh karena itu, menurutnya, MUI dari pusat hingga daerah harus menyatu dalam gerakan ini guna membangun ekosistem wakaf produktif yang lebih baik.

Ketua MUI Serdang Bedagai: Wakaf Produktif Wujud Kemandirian Umat
Ketua Umum MUI Serdang Bedagai, Drs. H. Hasful Huznain, S.H., menyambut baik inisiatif P2WP MUI Sumut ini. Ia menegaskan bahwa kemandirian umat hanya bisa tercapai jika institusi seperti MUI juga mandiri secara finansial.

“MUI tidak boleh bergantung pada bantuan pihak lain. Wakaf produktif adalah jalan untuk membangun kemandirian kelembagaan sekaligus memberdayakan masyarakat,” tegas Hasful.

Strategi MUI dalam Meningkatkan Profesionalisme Nazhir
Sesi diskusi menjadi semakin menarik ketika Sekretaris Umum MUI Serdang Bedagai, H. Elmis, S.H., mengajukan pertanyaan mengenai strategi merekrut nazhir yang andal untuk mengelola wakaf secara profesional.

Menanggapi hal ini, Dr. Akmaluddin Syahputra menjelaskan bahwa MUI setempat dapat menjadi garda terdepan dalam proses seleksi nazhir.

“Kami akan melibatkan MUI Serdang Bedagai dalam proses rekrutmen, kemudian memberikan pelatihan sertifikasi nazhir selama lima hari. Hal ini bertujuan agar pengelolaan aset wakaf dilakukan secara transparan dan akuntabel,” jelasnya.

Selain itu, Akmaluddin juga memaparkan Program Dana Abadi Lembaga Wakaf MUI Tahun 2025, yang terdiri dari empat skema utama:

CWLD (Cash Wakaf Linked Deposito)
CWLS (Cash Wakaf Linked Sukuk)
Reksa Dana Wakaf MUI
Wakaf Produktif
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Bank Indonesia, yang juga turut berkomitmen dalam pengembangan literasi keuangan syariah dan wakaf produktif di masyarakat.

Dengan adanya Gerakan Wakaf Produktif ini, diharapkan MUI Serdang Bedagai dapat semakin aktif dalam mengelola dan mengembangkan aset wakaf secara profesional, sehingga mampu memberdayakan umat serta membangun kemandirian ekonomi berbasis syariah.

Ceramah Menjelang Berbuka Puasa Ramadhan 1446 H: Meningkatkan Kualitas Shalat di Bulan Ramadhan

Medan, muisumut.or.id – 7 Maret 2025 – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah, Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI SU) mengadakan ceramah menjelang berbuka puasa yang disampaikan oleh Drs. H. Ahmad Sanusi Luqman, Lc, MA, Ketua Bidang Fatwa MUI SU. Ceramah yang berlangsung pada hari Jumat, 7 Ramadhan 1446 H, mengangkat tema “Meningkatkan Kualitas Shalat di Bulan Ramadhan”.

Dalam ceramahnya, Drs. H. Ahmad Sanusi Luqman menekankan pentingnya meningkatkan kualitas shalat sebagai tiang agama. “Shalat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab oleh Allah SWT di hari kiamat. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mengevaluasi dan meningkatkan kualitas shalat kita,” ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa peningkatan kualitas shalat dapat dilakukan dengan memperbaiki rukun-rukun shalat, baik rukun qauli (bacaan), rukun fi’li (gerakan), maupun rukun qalbi (niat dan kekhusyukan). “Bacaan shalat harus diperbaiki tajwid dan fasahahnya, gerakan shalat harus sesuai dengan tuntunan, dan kekhusyukan harus ditingkatkan agar shalat kita diterima oleh Allah SWT,” tambahnya.

Drs. H. Ahmad Sanusi Luqman juga mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan ibadah, termasuk shalat. “Di bulan Ramadhan, pahala ibadah dilipatgandakan. Shalat fardu yang kita laksanakan akan mendapatkan pahala 70 kali lipat dibanding bulan lainnya. Begitu juga dengan shalat sunnah yang pahalanya setara dengan shalat fardu di bulan lain,” jelasnya.

Beliau mengajak seluruh umat Islam untuk memanfaatkan bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya, meningkatkan kualitas shalat dan ibadah lainnya agar diterima oleh Allah SWT. “Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah kita,” tutupnya.

Ceramah ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi umat Islam untuk lebih khusyuk dan serius dalam melaksanakan shalat, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Semoga ibadah kita semua diterima dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.

P2WP MUI Sumut Bersinergi dengan Bank Indonesia dalam Gerakan Wakaf Produktif di 5 Kabupaten/Kota

0

Medan, muisumut.or.id – 7 Maret 2025 – Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara bersinergi dengan Bank Indonesia dalam mendorong Sosialisasi Gerakan Wakaf Produktif di Sumatera Utara. Sinergi ini diwujudkan melalui kegiatan Safari Ramadhan 1446 H Gerakan Wakaf Produktif dengan tema Membangun Kemandirian umat: Gerakan Wakaf Produktif Bersama MUI. ditandai dengan serah terima roll banner dan kain sarung di kantor P2WP MUI Sumut Jalan Sutomo/ Jn Majelis Ulama No.3 Medan, Jumat 7 Maret 2025.

Penyerahan tersebut diwakili oleh Fika Habbina, Manajer Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sumatera Utara, dan Ali Sakti Nasution, Konsultan PUMKM Bank Indonesia, yang langsung diterima oleh Direktur P2WP MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum.

Komitmen Bersama dalam Mendorong Wakaf Produktif

Dr. Akmaluddin Syahputra menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat pemahaman dan praktik wakaf produktif di Sumatera Utara.

“Gerakan wakaf produktif saat ini kami melakukannya di lima kabupaten/kota se Sumatera Utara, kami berharap sinergi ini tetap berlanjut hingga bisa mencakup seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara. Namun saat ini kita akan mengunjungi Medan, Binjai, Sergai, Siantar dan Karo.” jelasnya
“Langkah ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya wakaf produktif untuk kemandirian ekonomi umat. Dengan dukungan Bank Indonesia, kami berharap sosialisasi ini dapat menjangkau lebih banyak pihak dan mendorong partisipasi aktif umat dalam wakaf produktif,” tambahnya

Dukungan Bank Indonesia terhadap Gerakan Wakaf Produktif

Fika Habbina menegaskan bahwa Bank Indonesia siap mendukung penguatan literasi wakaf produktif di Sumatera Utara.

“Kami melihat wakaf sebagai instrumen penting dalam pembangunan ekonomi yang berbasis kebermanfaatan sosial. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk terus bersinergi dengan MUI Sumut dalam mengedukasi masyarakat terkait wakaf produktif dan pemanfaatannya,” kata Fika.

Ali Sakti Nasution menambahkan bahwa sinergi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih luas kepada masyarakat mengenai konsep dan manfaat wakaf produktif.

“Sosialisasi wakaf produktif ini penting untuk memastikan bahwa masyarakat memahami bagaimana wakaf dapat dikelola dan dikembangkan dengan baik. Kami mendukung upaya MUI Sumut dalam memperkenalkan konsep ini ke berbagai daerah,” ujar Ali Sakti.

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat gerakan wakaf produktif di Sumatera Utara. Dengan adanya kerja sama antara MUI Sumut dan Bank Indonesia, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya wakaf produktif semakin meningkat, serta wakaf dapat dikelola dengan lebih optimal untuk kepentingan umat.

Hikmah Puasa: Ceramah Ramadhan oleh Drs. H. Sotar Nasution, MHB.

Medan, muisumut.or.id – 5 Maret 2025 – Menjelang waktu berbuka puasa pada hari ke-5 Ramadhan 1446 H, Drs. H. Sotar Nasution, MHB., Bendahara Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI SU), menyampaikan ceramah bertema “Hikmah-Hikmah Puasa”. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya puasa sebagai sarana mencapai ketakwaan dan bentuk latihan pengendalian diri bagi umat Islam.

Dalam ceramahnya, Drs. H. Sotar Nasution mengawali dengan mengajak jamaah untuk bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT sehingga dapat menjalani bulan suci Ramadhan dengan penuh keberkahan.

“Ramadhan adalah bulan suci yang penuh kemuliaan. Allah SWT telah mewajibkan ibadah puasa bagi umat Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183: ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa’,” ujarnya.

Puasa sebagai Latihan Ketakwaan

Drs. H. Sotar menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan inilah yang menjadi pegangan utama dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.

“Puasa melatih kita untuk menahan lapar, dahaga, serta hawa nafsu. Ini adalah ujian yang diberikan oleh Allah SWT agar kita semakin dekat kepada-Nya dan lebih memahami bagaimana rasanya kekurangan yang dialami oleh saudara-saudara kita yang kurang mampu,” jelasnya.

Selain menahan diri dari makan dan minum, puasa juga mengajarkan umat Islam untuk bersikap lebih sabar, mengendalikan emosi, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Amalan Tambahan di Bulan Ramadhan

Dalam kesempatan itu, beliau juga mengingatkan pentingnya menunaikan ibadah-ibadah tambahan selama bulan Ramadhan, seperti shalat Tarawih dan Witir yang menjadi bagian dari ibadah malam.

“Selain menjalankan ibadah wajib, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sunnah, seperti shalat Tarawih, Witir, serta memperbanyak membaca Al-Qur’an dan berzikir. Semua ini akan menambah pahala serta meningkatkan keimanan kita,” katanya.

Tak hanya itu, beliau juga menyoroti kewajiban menunaikan zakat fitrah sebagai bentuk kepedulian sosial bagi umat Islam.

“Di akhir Ramadhan, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah sebagai bentuk kepedulian terhadap kaum fakir dan miskin. Ini mengajarkan kita untuk berbagi rezeki serta membersihkan jiwa sebelum merayakan Idul Fitri,” tambahnya.

Kesimpulan: Menjadi Muslim yang Muttaqin

Menutup ceramahnya, Drs. H. Sotar Nasution mengajak umat Islam untuk menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum perbaikan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa kepada Allah SWT.

“Semoga kita semua menjadi orang-orang yang muttaqin, yakni mereka yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya,” pungkasnya.

Ceramah ini disambut dengan antusias oleh jamaah yang hadir, yang tampak khusyuk menyimak pesan-pesan yang disampaikan. Semoga hikmah puasa yang disampaikan dapat menjadi motivasi bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT selama bulan Ramadhan.

Prof. Dr. H. Asmuni, MA: Puasa Membentuk Pribadi yang Lebih Baik

Medan, muisumut.or.id 4 Maret 2025 – Menjelang waktu berbuka puasa, Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI SU) menggelar ceramah Ramadan dengan tema “Menjadi Pribadi yang Lebih Baik dengan Berpuasa.” Ceramah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Asmuni, MA., Sekretaris Umum MUI Sumatera Utara, ini berlangsung pada Selasa, 4 Ramadan 1446 H.

Dalam ceramahnya, Prof. Dr. H. Asmuni menekankan bahwa puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga sebagai sarana pembentukan kepribadian yang lebih bertakwa. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah menjadikan umat Islam lebih bertakwa.

“Puasa merupakan ibadah yang membentuk pribadi yang lebih baik. Ketakwaan berarti melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika kita berhasil menjalankan puasa dengan baik, maka kita akan menjadi manusia yang lebih saleh dan berakhlak mulia,” ungkapnya.

Ganjaran Berlipat di Bulan Ramadan

Lebih lanjut, Prof. Asmuni mengutip hadis riwayat Muslim, yang menyebutkan bahwa amal kebajikan di bulan Ramadan akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat. Hal ini menjadi keistimewaan bulan suci, di mana setiap ibadah yang dilakukan memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan bulan lainnya.

“Di bulan Ramadan ini, kita diberikan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, seperti shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, tadarus, dan berbagi takjil. Semua ini akan diganjar pahala yang berlipat-lipat oleh Allah SWT,” jelasnya.

Prof. Asmuni juga mengingatkan bahwa salah satu keutamaan Ramadan adalah pengampunan dosa, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

“Siapa yang menjalankan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Ia menegaskan bahwa ibadah di bulan Ramadan tidak hanya terbatas pada shalat malam atau puasa, tetapi mencakup segala bentuk amal baik yang dilakukan dengan niat yang tulus.

Puasa dan Kesehatan Mental serta Spiritual

Dalam ceramahnya, Prof. Asmuni juga membahas manfaat puasa dari perspektif kesehatan dan psikologi. Ia mengutip pemikiran Ibnu Sina, seorang dokter Islam terkemuka, yang menekankan bahwa puasa dapat meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).

“Puasa melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan emosi. Dengan berpuasa, kita belajar sabar, disiplin, dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Ini adalah latihan mental dan spiritual yang luar biasa,” katanya.

Ia juga menyinggung penelitian modern yang menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dan keseimbangan emosional. Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam untuk memperbanyak membaca dan merenungkan isi Al-Qur’an selama bulan Ramadan.

Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Sebagai penutup, Prof. Asmuni mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri.

“Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mari kita manfaatkan Ramadan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperbanyak amal kebaikan. Dengan begitu, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di bulan-bulan berikutnya,” tutupnya.

Ceramah ini mendapat sambutan positif dari jamaah yang hadir, yang terlihat semakin antusias dalam menjalankan ibadah Ramadan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Dr. H. Ardiansyah, Lc, MA: Puasa Bukan Hanya Menahan Lapar dan Dahaga

Medan, muisumut.or.id – 3 Maret 2025 – Dr. H. Ardiansyah, Lc, MA, Waki Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, menyampaikan pesan penting tentang esensi puasa dalam ceramahnya. Beliau menegaskan bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa.

“Puasa bukan hanya meninggalkan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan pendengaran dari perbuatan yang tidak baik,” ujar Dr. Ardiansyah. Beliau mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Allah tidak memerlukan puasa seseorang jika ia masih melakukan dusta dan perbuatan sia-sia.

Esensi Puasa
Dr. Ardiansyah menjelaskan bahwa puasa adalah kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183. “Puasa seharusnya menjadi sarana untuk menempa diri menjadi lebih baik dan lebih saleh,” tambahnya.

Amal Ibadah dan Kepedulian Sosial
Beliau juga menekankan pentingnya memperbanyak amal ibadah selama bulan Ramadhan, seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berdoa. “Mari kita saling mendoakan dan berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan,” ajaknya.

Kesempatan untuk Berubah
Dr. Ardiansyah berharap agar Ramadhan kali ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk terus memperbaiki diri. “Jika kita dapat mengimplementasikan pemahaman ini tidak hanya di bulan Ramadhan, Insya Allah negeri ini akan menjadi baldatun tayyibatun, negeri yang dilimpahkan dengan nikmat dan karunia Allah,” tutupnya.