Thursday, July 16, 2026
spot_img
Home Blog Page 6

HIJRAH: Membangun dan Memajukan Peradaban Islam dengan Kolaborasi

muisumut.or.id.,  1 Juni 2026, Hijrah secara etimologi berarti meninggalkan sesuatu karena ketidaksukaan kepada sesuatu itu, perhatikan surah Almuddatsstir ayat 5 yang memerintahkan agar setiap orang berhijrah (fahjur) dari berhala berhala, tentunya meninggalkan berhala dengan rasa kebencian kepada berhala tersebut. Perhatikan juga hadits Rasulullah saw yang melarang orang untuk meninggalkan/tidak berteguran dengan saudaranya [karena rasa ketidak sukaan] (an yahjura akhahu) saudaranya melebihi tiga hari. (HR. Abu Daud).

Secara terminologi/syar’i, hijrah berarti pindah dari sesuatu yang tidak baik kepada sesuatu yang baik, atau dari sesuatu yang baik kepada sesuatu yang lebih baik. Perhatikan hadis Rasulullah saw; “Seorang muhajir/orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari, Muslim).
Jadi Hijrah bukan saja perpindahan tempat tetapi juga transformasi prilaku setiap orang, yang tidak baik atau kurang baik kepada yang baik, atau dari yang baik kepada sesuatu yang lebih baik.

Ketika Rasulullah saw berhijrah, meninggalkan masyarakat Makkah dengan rasa ketidak sukaan kepada prilaku mereka menyembah berhala, kejahatan sosial dan politik, tetapi beliau saw meninggalkan mereka dengan cara yang baik (Almuzzammil ayat 10), kemudian membangun peradaban Islam.
Dalam membangun dan memajukan peradaban, baginda mengatur strategi dengan kolaborasi yang apik. Kolaborasi yang tidak saja pada dimensi usia dan gender (ada yang tua seperti Abu Bakar dan ada yang muda seperti Ali, ada lelaki dan ada wanita seperti Asma binti Abi Bakr), tetapi juga dimensi keahlian atau kapasitas.

Abu Bakr termasuk hartawan dan dermawan yang menyumbangkan dua ekor unta yang salah satunya untuk tunggangan Nabi dalam peejalanan hijrah tersebut. Kemudian ada Abdullah bin Abi Bakr dengan keahlian dan ditugaskan untuk menghimpun informasi percakapan masyarakat Makkah seputar keberangkatan Nabi dan Abu Bakr yang kemudian informasi yang dikumpulkan itu dilaporkan kepada Nabi saw di tempat persembunyiannya bersama Abu Bakr untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk mengambil langkah dan keputusan selanjutnya.
Kemudian ada Abdullah bin Fuhairah yang keahliannya sebagai pengembala kambing yang ditugasi untuk mengaburkan jejak Rasulullah dan Abu Bakr dengan jejak binatang/kambing gembalaanya, sehingga musuh sulit mendeteksi ke mana arah Rasulullah saw.
Selanjutnya ada Amar bin Uraiqiz seorang non muslim yang memiliki keahlian teritorial yang ditugasi memandu perjalanan hijrah melalui jalur yang tidak biasa, sehingga perjalanan hijrah bisa lebih aman.
Ada Asma binti Abu Bakr yang bertugas menyuplai makanan ke tempat persembunyian, semacam logistik dalam sebuah perjuangan.
Terakhir, ada Ali bin Abi Thalib sang anak muda yang siap menenerima resiko kematian ketika berbaring ditempat berbaringnya Raaulullah saw.

Dari sini jelas terlihat bahwa dalam membangun dan memajukan sebuah peradanan Islam, Rasulullah saw menunjukkan kepada kita agar dilakukan dengan perencanaan yang teliti dan matang, dengan kolaborasi yang memadukan berbagai unsur yang dieperlukan, tentu tidak bisa sendirian, apalagi one man show.
Peradaban Islam perlu dibangun dan dimajukan dengan merekrut dan melibatkan semua dimensi keahlian dan kekuatan. Di abad ini, kolaborasi untuk kemajuan ini perlu kembali digaungkan, khususnya dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1448 H ini.

Oleh: Prof. Dr. HM. Jamil., MA (Waketum MUI SU)

Ketua Umum MUI Sumut dan Ketua Bidang KAUB Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026

Medan, muisumut.or.id., 1 Juni 2026 – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, M.A., bersama Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama (KAUB) MUI Sumut yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumatera Utara, Drs. Hatta Siregar, M.Si., menghadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Astaka, Jalan Pancing, Medan, Senin (1/6/2026).

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini mengusung tema yang ditetapkan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), yakni “Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia.” Tema tersebut menegaskan pentingnya Pancasila sebagai kekuatan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk sekaligus kontribusi Indonesia dalam membangun perdamaian global melalui nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan persaudaraan.

Kehadiran pimpinan MUI Sumut dalam upacara tersebut menunjukkan komitmen MUI untuk terus mengawal penguatan nilai-nilai kebangsaan, persatuan, dan kerukunan sebagai bagian dari pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menyampaikan bahwa Pancasila telah terbukti menjadi fondasi kokoh yang menjaga persatuan bangsa Indonesia di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa.

“Pancasila adalah anugerah sekaligus konsensus kebangsaan yang telah mempersatukan seluruh komponen bangsa. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan ajaran agama yang mengedepankan keadilan, persaudaraan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, seluruh elemen bangsa harus terus menjaga dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Maratua, tema yang diusung BPIP sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini yang masih diwarnai berbagai konflik dan ketegangan. Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi contoh bagi dunia dalam membangun kehidupan yang damai melalui semangat persatuan dalam keberagaman.

Sementara itu, Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama (KAUB) MUI Sumut sekaligus Ketua FKUB Sumatera Utara, Drs. Hatta Siregar, M.Si., menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila merupakan landasan utama dalam membangun kerukunan antarumat beragama.

“Tema ‘Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia’ mengandung pesan yang sangat kuat. Perdamaian dunia tidak akan terwujud tanpa adanya perdamaian di tingkat bangsa, dan perdamaian bangsa hanya dapat dibangun apabila masyarakat mampu menjaga persatuan serta menghormati perbedaan,” katanya.

Hatta menjelaskan bahwa Sumatera Utara merupakan miniatur Indonesia yang memiliki keberagaman agama, suku, dan budaya. Oleh karena itu, semangat Pancasila harus terus ditanamkan agar keberagaman tersebut menjadi kekuatan dalam membangun kemajuan daerah dan bangsa.

“Kerukunan antarumat beragama bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi juga amanah konstitusi dan amanah Pancasila. Melalui dialog, saling menghormati, dan kerja sama lintas agama, kita dapat menjaga harmoni sosial sekaligus memberikan kontribusi bagi terciptanya perdamaian yang lebih luas,” tambahnya.

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Astaka Medan berlangsung khidmat dan dihadiri unsur Forkopimda Sumatera Utara, pejabat pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pelajar, mahasiswa, serta berbagai elemen masyarakat yang bersama-sama meneguhkan komitmen untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila demi persatuan bangsa dan perdamaian dunia.

Tim Media Ulama MUI Sumut Meliput Masjid Azizi dan Berziarah ke Makam H. Ahmad Husein.

0

Langkat, muisumut.or.id – 1 Juni 2026 Tim Majalah Media Ulama MUI Sumatera Utara melakukan liputan di Kabupaten Langkat untuk penyusunan Media Ulama Edisi XI Tahun 2026.

Dalam kunjungan tersebut, tim mengunjungi Masjid Azizi Tanjung Pura, salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Langkat yang didirikan oleh Sultan Musa Al-Muazzamsyah. Tim juga melakukan wawancara dengan Sultan Langkat, Tengku Arifanda Aziz, mengenai sejarah kesultanan, perkembangan pendidikan Islam, serta pelestarian warisan budaya Melayu di Langkat.


Menurut Sultan Tengku Arifanda Aziz, Masjid Azizi bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol perjalanan panjang Kesultanan Langkat dalam membangun kehidupan keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan masyarakat Melayu. Ia menegaskan bahwa warisan sejarah tersebut perlu dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda agar tidak terputus oleh perkembangan zaman.

“Masjid Azizi dan peninggalan Kesultanan Langkat merupakan bagian dari identitas sejarah daerah yang harus dirawat bersama. Generasi muda perlu mengenal sejarahnya agar memahami nilai-nilai perjuangan, pendidikan, dan dakwah yang diwariskan para pendahulu,” ujarnya.

Selain mengunjungi Masjid Azizi, tim berziarah ke sejumlah situs sejarah di sekitar kawasan masjid, di antaranya makam Pahlawan Nasional Tengku Amir Hamzah, kompleks makam para Sultan Langkat, serta makam H. Ahmad Husein, Bendahara MUI Sumatera Utara periode 2005–2020.


Tim juga mengunjungi Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah Langkat, lembaga pendidikan Islam bersejarah yang didirikan oleh Permaisuri Tengku Maslurah, sementara Masjid Azizi dibangun oleh Sultan Musa Al-Muazzamsyah. yang saat ini menjadi Institut Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah Langkat. Kedua peninggalan tersebut menjadi bukti perhatian Kesultanan Langkat terhadap pengembangan pendidikan dan syiar Islam.

Tim Majalah Media Ulama Kunjungi Pesantren Modern Nuur Ar Radhiyah Tanjung Pura

Langkat, muisumut.or.id., 1 Juni 2026 – Tim Majalah Media Ulama MUI Sumatera Utara melakukan kunjungan silaturahmi dan liputan ke Pesantren Modern Nuur Ar Raadhiyah di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Kunjungan tersebut disambut oleh Ustaz Syarifuddin yang menjelaskan sejarah, sistem pendidikan, serta berbagai program unggulan yang dikembangkan pesantren tersebut.

Tim Majalah Media Ulama yang hadir terdiri dari Ketua Bidang Media dan Informasi MUI Sumatera Utara Dr. Akmaluddin Syahputra, Pimpinan Redaksi Majalah Media Ulama Rustam, MA, beserta tim redaksi lainnya dalam rangka pengumpulan bahan untuk edisi terbaru majalah yang mengangkat kiprah lembaga-lembaga pendidikan Islam di Sumatera Utara.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Syarifuddin menjelaskan bahwa Pesantren Modern Nuur Ar Raadhiyah memiliki kekhasan pada pendidikan adab yang diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran dan aktivitas keseharian santri.

“Spesifikasi pesantren ini adalah pendidikan adab. Adab menjadi ruh pendidikan yang diintegrasikan ke semua mata pelajaran dan kegiatan santri sehingga membentuk karakter yang kuat,” ujarnya.

Pesantren Modern Nuur Ar Raadhiyah berdiri pada tahun 2019 dan hingga saat ini telah memiliki empat angkatan santri. Dalam perjalanannya, pesantren terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadukan pembinaan akhlak, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Selain program reguler, pesantren juga menyediakan kelas tahfiz Al-Qur’an bagi santri yang ingin mendalami hafalan Al-Qur’an secara lebih intensif. Program tersebut berjalan berdampingan dengan kurikulum pendidikan formal yang diterapkan di lingkungan pesantren.

Ustaz Syarifuddin menjelaskan bahwa seluruh sistem di pesantren dirancang agar santri dapat fokus menjalani proses pendidikan. Karena itu, berbagai kebutuhan operasional dan pelayanan pesantren dikelola oleh para ustaz dan pegawai.

“Di sini santri dikhususkan untuk belajar, beribadah, dan bermain atau berolahraga. Seluruh kebutuhan pengelolaan pesantren ditangani oleh ustaz dan pegawai sehingga santri dapat berkonsentrasi penuh pada proses pembelajaran dan pembinaan diri,” jelasnya.

Menurut Ustaz Syarifuddin, Pesantren Modern Nuur Ar Raadhiyah merupakan sebuah investasi akhirat yang dibangun dengan semangat memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan umat. Ia menambahkan bahwa yayasan yang menaungi pesantren juga memiliki unit usaha yang bersentuhan dengan dunia bisnis dan pelayanan masyarakat, salah satunya adalah Rumah Sakit Bidadari, yang turut mendukung pengembangan lembaga.

Pesantren ini berada di bawah naungan Yayasan Pesantren Modern Nuur Ar Raadhiyah yang dipimpin oleh H. Firmansyah, SE, MARS. Melalui berbagai program pendidikan yang dijalankan, pesantren berkomitmen melahirkan generasi muslim yang beradab, berilmu, dan memiliki kesiapan menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Tim Majalah Media Ulama menilai konsep pendidikan yang diterapkan Pesantren Modern Nuur Ar Raadhiyah sangat relevan dengan kebutuhan umat saat ini. Penekanan pada pendidikan adab sebagai fondasi utama pembentukan karakter menjadi salah satu keunggulan yang membedakan pesantren tersebut.

Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Majalah Media Ulama MUI Sumatera Utara untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan berbagai lembaga pendidikan Islam yang berkontribusi dalam membangun kualitas umat, sekaligus memperkuat jaringan silaturahmi dan sinergi antara MUI Sumatera Utara dengan institusi pendidikan Islam di berbagai daerah.

Tim Majalah Media Ulama MUI Sumut Lakukan Liputan Khusus ke Besilam, Diterima Tuan Guru Babussalam Dr. Zikmal Fuad

Langkat, muisumut.or.id.,  1 Juni 2026 – Tim Majalah Media Ulama MUI Sumatera Utara melakukan kunjungan dan liputan khusus ke kawasan bersejarah Babussalam Besilam, Kabupaten Langkat, Senin (1/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, rombongan diterima langsung oleh Tuan Guru Babussalam, Dr. Zikmal Fuad, yang memberikan berbagai penjelasan terkait perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Sumatera dan kawasan Asia Tenggara.

Tim Majalah Media Ulama yang hadir terdiri dari Ketua Bidang Media dan Informasi MUI Sumut Dr. Akmaluddin Syahputra, Pemimpin Redaksi Rustam, M.A., Ali Suman, Fahri Roza Sitepu, M.A., Yogo Pamungkas L. Tobing, M.Kom., dan Ari Syahputra.

Kegiatan liputan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pengumpulan bahan untuk edisi mendatang Majalah Media Ulama. Selain mengunjungi Babussalam Besilam, tim juga melakukan kunjungan ke sejumlah lembaga dan tokoh penting di Kabupaten Langkat, antara lain Pesantren Modern Nuur Ar-Radhiyyah, BKM Masjid Azizi Tanjung Pura, Tengku Arif selaku Sultan Langkat, serta Institut Jam’iyah Mahmudiyah.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, Dr. Zikmal Fuad menjelaskan bahwa Babussalam Besilam selama ini dikenal sebagai salah satu pusat Tarekat Naqsyabandiyah terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, menurutnya, sebagian besar jaringan tarekat di Malaysia memiliki hubungan spiritual dan keilmuan dengan Babussalam.

“Besilam ini disinyalir menjadi salah satu pusat Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. Bahkan sekitar 80 persen jamaah tarekat di Malaysia kiblatnya ke sini,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Tuan Guru Babussalam juga menekankan pentingnya meluruskan pemahaman masyarakat tentang tarekat. Menurutnya, tujuan utama bertarekat adalah untuk mengenal Allah SWT, memperbaiki adab, dan meningkatkan kualitas ibadah, bukan mengejar kemampuan-kemampuan luar biasa yang bersifat mistis.

Ia mengingatkan agar tarekat tidak disalaharahkan kepada pencarian kasyaf, terbukanya hijab, kemampuan meramal, atau berbagai hal yang menjurus kepada praktik perdukunan.

“Tarekat itu seharusnya fokus kepada mengenal Allah dan membangun adab. Jangan disalaharahkan kepada hal-hal yang bersifat mistis seperti kasyaf, terbuka hijab, atau kemampuan meramal,” tegasnya.

Menurut Dr. Zikmal Fuad, pada masa Syekh Abdul Wahab Rokan, para pencari jalan spiritual datang ke Babussalam dengan niat yang tulus untuk memperoleh ridha Allah SWT. Mereka tidak menjadikan karamah, kasyaf, maupun kelebihan-kelebihan lainnya sebagai tujuan utama.

“Dulu orang datang untuk bertarekat semata-mata mencari ridha Allah. Mereka tidak mengharapkan karamah atau kasyaf. Karena keikhlasan itulah terkadang Allah memberikan berbagai kelebihan kepada mereka, tetapi itu bukan tujuan yang dicari,” ungkapnya.

Ia bahkan menceritakan bahwa pada masa lalu terdapat sejumlah pengamal tarekat yang memilih berpindah tempat ketika doa-doanya mulai banyak dikabulkan Allah SWT agar tidak dikenal masyarakat dan terhindar dari pujian manusia.

Sebaliknya, menurutnya, saat ini terdapat kecenderungan sebagian orang memasuki dunia tarekat dengan motivasi yang kurang tepat, yakni mengejar karamah, kasyaf, atau kemampuan tertentu untuk kepentingan pribadi. Hal ini kemudian menimbulkan persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat terhadap ajaran tarekat.

“Saya tidak suka jika ada orang bertarekat kemudian menjadi peramal atau berpraktik seperti dukun. Saya tidak ingin tempat ini menjadi tempat perdukunan dan peramalan,” katanya dengan tegas.

Mengenai sosok pendiri Babussalam, Syekh Abdul Wahab Rokan, Dr. Zikmal Fuad menjelaskan bahwa beliau memang dikenal sebagai ulama besar yang memiliki kemuliaan karena ketekunan ibadah dan kedekatannya kepada Allah SWT. Namun demikian, masyarakat juga perlu memahami bahwa Syekh Abdul Wahab Rokan bukan hanya seorang mursyid tarekat, melainkan juga tokoh yang aktif dalam berbagai bidang kehidupan.

“Beliau memang seorang yang mulia dan dihormati karena ibadahnya. Namun masyarakat juga perlu mengetahui bahwa Syekh Abdul Wahab Rokan memiliki banyak sisi lain. Beliau berkiprah dalam bidang sosial, politik, sastra, dan berbagai aktivitas kemasyarakatan lainnya,” jelasnya.

Setelah sesi wawancara dan diskusi berlangsung, Tim Majalah Media Ulama MUI Sumut dijamu makan siang bersama oleh pihak Babussalam sebagai bentuk penghormatan dan silaturahim.

Pemimpin Redaksi Majalah Media Ulama, Rustam, M.A., menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan Tuan Guru Babussalam dan seluruh pengurus. Menurutnya, kunjungan tersebut menghasilkan banyak informasi berharga mengenai sejarah, perkembangan, dan dinamika Tarekat Naqsyabandiyah yang selama ini berkembang di Sumatera Utara dan Asia Tenggara.

“Berbagai informasi, sejarah, dan pandangan yang disampaikan Tuan Guru Babussalam sangat penting untuk diketahui masyarakat luas. Untuk ulasan yang lebih lengkap dan mendalam, pembaca dapat menyimaknya pada edisi mendatang Majalah Media Ulama,” ujar Rustam.

Liputan khusus ini menjadi bagian dari komitmen Majalah Media Ulama MUI Sumatera Utara untuk mendokumentasikan khazanah keislaman, sejarah ulama, serta perkembangan lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah yang memiliki kontribusi besar bagi umat Islam di Sumatera Utara dan kawasan Nusantara.

Tim Majalah Media Ulama MUI Sumut Lakukan Liputan di Langkat untuk Edisi XI Tahun 2026

0

Langkat, muisumut.or.id – Tim Majalah Media Ulama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara melaksanakan kegiatan liputan daerah ke Kabupaten Langkat dalam rangka penyusunan Majalah Media Ulama Edisi XI Tahun 2026. Kegiatan ini bertujuan menggali dan mendokumentasikan jejak sejarah, pendidikan, dakwah, serta tokoh-tokoh penting yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan Islam di Sumatera Utara.

Dalam rangkaian liputan tersebut, tim mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah dan lembaga pendidikan Islam yang menjadi bagian penting dari khazanah keislaman di Kabupaten Langkat. Beberapa lokasi yang menjadi objek liputan antara lain kawasan Tuan Guru Besilam (Babussalam) yang dikenal sebagai pusat dakwah dan pengembangan Tarekat Naqsyabandiyah, Masjid Azizi Tanjung Pura sebagai salah satu masjid bersejarah peninggalan Kesultanan Langkat, serta Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyah Mahmudiyah (STAI-JM) Langkat yang memiliki peran dalam pengembangan pendidikan Islam di daerah tersebut.

Selain itu, tim juga melakukan ziarah dan dokumentasi ke makam tokoh-tokoh yang memiliki jasa besar terhadap MUI Sumatera Utara dan umat Islam. Di antaranya makam Prof. Dr. H. Abdullah Syah, yang pernah memimpin MUI Sumatera Utara selama beberapa periode dan dikenal sebagai ulama, akademisi, serta pemikir Islam terkemuka. Tim juga berziarah ke makam Ahmad Husein sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdiannya dalam membangun organisasi keulamaan tersebut.

Kunjungan berikutnya dilakukan ke makam Tengku Amir Hamzah, sastrawan besar Indonesia yang dikenal sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru” sekaligus tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Langkat dan perjuangan bangsa Indonesia.

Penanggung Jawab Majalah Media Ulama, Dr. H. Akmaluddin Syahputra, M.Hum dan Abdul Aziz S.T menyampaikan bahwa kegiatan liputan lapangan menjadi bagian penting dalam menghadirkan informasi yang akurat, mendalam, dan bernilai historis kepada masyarakat.

Menurutnya, Kabupaten Langkat memiliki kekayaan sejarah Islam yang sangat besar, baik dari sisi pendidikan, dakwah, budaya, maupun tokoh-tokoh ulama yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan Islam di Sumatera Utara.

“Melalui liputan ini, kami ingin menghadirkan dokumentasi yang lebih komprehensif mengenai warisan sejarah dan peradaban Islam di Langkat. Selain menjadi sumber informasi, hasil liputan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mengenal dan melanjutkan perjuangan para ulama serta tokoh-tokoh Islam terdahulu,” ujarnya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Media Ulama, Rustam, M.A., menegaskan bahwa edisi XI tahun 2026 akan memberikan perhatian khusus terhadap tema sejarah, pendidikan, dan kontribusi ulama dalam membangun peradaban Islam di Sumatera Utara.

“Kami berupaya menghadirkan laporan yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan dokumentatif. Langkat merupakan salah satu daerah yang memiliki jejak sejarah Islam yang sangat kuat dan layak untuk diketahui masyarakat luas,” katanya.

Kegiatan liputan tersebut diikuti oleh Penanggung Jawab Majalah Media Ulama Dr. H. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, Pemimpin Redaksi Rustam, M.A., serta anggota tim liputan Ali Suman Daulay, Fahri Roja Sitepu, S.H., M.H., Yogo Pamungkas, L. Tolong, M.I.Kom., dan Ari Syahputra.

Melalui kegiatan ini, MUI Sumatera Utara berharap Majalah Media Ulama dapat terus menjadi media dokumentasi, edukasi, dan syiar yang mengangkat nilai-nilai keislaman, sejarah perjuangan ulama, serta perkembangan umat Islam di berbagai daerah di Sumatera Utara.

K.H. Dr. Arso, M.Ag Ajak Umat Perkuat Taqarrub Ilallah dan Kesalehan Sosial pada Khutbah Idul Adha

Medan, muisumut.or.id. 27 Mei 2026 — Ketua Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara, K.H. Dr. Arso, M.Ag, menyampaikan khutbah Idul Adha 1447 H di Masjid Agung Assakinah, Rabu (27/5/2026), dengan mengangkat tema “Memetik Makna Idul Adha dan Hikmah Berqurban untuk Penguatan Taqarrub Ilallah dan Kualitas Kesalehan Sosial.”

Dalam khutbahnya, KH Arso menegaskan bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan qurban, tetapi momentum besar untuk memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT sekaligus membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS menghadirkan teladan keluarga yang dibangun di atas fondasi keimanan, ketundukan, dan ketaatan total kepada Allah SWT.

“Idul Adha mengajarkan kepada kita bahwa keberhasilan pendidikan keluarga bukan hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi generasi yang taat kepada Allah. Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail adalah figur keluarga beriman yang sama-sama memiliki kualitas ketaatan luar biasa,” ujar KH Arso dalam khutbahnya.

Ia menjelaskan, ibadah qurban memiliki dua dimensi utama yang harus dipahami umat Islam. Pertama adalah dimensi vertikal, yakni taqarrub ilallah atau upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua adalah dimensi horizontal berupa penguatan kesalehan sosial melalui kepedulian, berbagi, dan solidaritas terhadap sesama.

“Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme, keserakahan, dan sifat individualisme. Dari qurban lahir solidaritas sosial dan penguatan ukhuwah di tengah umat,” katanya.

KH Arso juga menyoroti berbagai tantangan umat saat ini, khususnya krisis spiritual dan menurunnya kepedulian sosial. Karena itu, ia mengajak umat Islam memperkuat tiga pilar utama kehidupan umat, yakni yad’una ilal khair, amar makruf, dan nahi mungkar.

Menurutnya, ketiga pilar tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang religius, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

“Ketika umat mengalami krisis taqarrub ilallah dan krisis kesalehan sosial, maka yang harus diperkuat adalah dakwah menuju kebaikan, gerakan amar makruf, dan nahi mungkar. Inilah pilar perbaikan umat,” tegasnya.

Usai menyampaikan khutbah dan pelaksanaan Salat Idul Adha, KH Arso juga mengikuti acara pembukaan pemotongan hewan qurban di halaman Masjid Agung Assakinah. Kegiatan tersebut dihadiri pengurus masjid, panitia qurban, serta masyarakat sekitar yang turut bergotong royong dalam pelaksanaan penyembelihan dan distribusi daging qurban.

Suasana Idul Adha di Masjid Agung Assakinah berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Jamaah tampak antusias mengikuti rangkaian ibadah sekaligus kegiatan sosial yang menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai qurban dalam kehidupan bermasyarakat.

Momentum Idul Adha 1447 H di Binjai: Gubernur Sumut Tegaskan Spirit Taqarrub dan Solidaritas Sosial

Binjai, muisumut.or.id., 27 Mei 2026 — Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Kota Binjai berlangsung khidmat dengan kehadiran Gubernur Sumatera Utara bersama Wakil Gubernur Sumatera Utara yang melaksanakan salat Idul Adha berjamaah bersama jajaran Pemerintah Kota Binjai dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Momentum keagamaan tersebut menjadi ruang refleksi bersama mengenai makna ketaatan kepada Allah SWT sekaligus penguatan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara, Prof. Dr. HM. Jamil, MA, menyampaikan khutbah yang menekankan pentingnya integrasi antara nilai spiritual dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam khutbahnya, Prof. Jamil mengulas kembali ungkapan Nabi Ibrahim AS, “Inni zahibun ila rabbi sayahdin” yang berarti “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Menurutnya, kalimat tersebut mencerminkan orientasi hidup seorang mukmin yang seluruh aktivitasnya diarahkan untuk memperoleh keridhaan Allah SWT.

“Seluruh aktivitas dan langkah hidup manusia semestinya diletakkan dalam kerangka keredhaan Allah. Orientasi hidup yang tidak tertuju pada Sang Pencipta akan kehilangan arah eksistensialnya,” ujar Prof. Jamil di hadapan jamaah.

Ia menegaskan bahwa setiap tindakan manusia harus memiliki landasan spiritual sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Nilai tauhid, menurutnya, tidak hanya diwujudkan dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan sosial dan kemasyarakatan.

Lebih lanjut, Prof. Jamil menyoroti makna ibadah qurban sebagai instrumen penguatan solidaritas sosial. Menurutnya, semangat berqurban tidak boleh berhenti pada dimensi simbolik dan ritual semata, melainkan harus mampu melahirkan kepedulian nyata terhadap sesama.

“Semangat berqurban harus bertransformasi menjadi solidaritas sosial yang konkret. Kedekatan kita kepada Allah harus berbanding lurus dengan kepedulian terhadap sesama. Ibadah qurban merupakan instrumen untuk menghapus kesenjangan dan memperkuat ikatan emosional antaranggota masyarakat,” ungkapnya.

Pada bagian akhir khutbahnya, Prof. Jamil juga menekankan pentingnya pembangunan karakter generasi muda. Ia mengingatkan bahwa generasi mendatang harus dipersiapkan tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga keteguhan moral dan arah hidup yang jelas.

“Generasi masa depan harus memiliki visi hidup yang kuat. Mereka harus dipersiapkan menjadi pribadi yang siap berjihad dalam makna pengabdian yang luas demi kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Rangkaian ibadah Idul Adha tersebut turut diisi dengan prosesi penyembelihan hewan qurban yang akan disalurkan kepada masyarakat. Pada kesempatan itu, bantuan hewan qurban dari Presiden Republik Indonesia sebanyak dua ekor serta satu ekor bantuan dari Gubernur Sumatera Utara diserahkan untuk masyarakat Kota Binjai.

Sebelum pelaksanaan salat Idul Adha, suasana keakraban tampak terjalin saat Gubernur Sumatera Utara, Wakil Gubernur Sumatera Utara, dan Wali Kota Binjai melaksanakan sarapan bersama. Momen tersebut mencerminkan sinergisitas yang harmonis antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota dalam membangun kebersamaan dan memperkuat pelayanan kepada masyarakat.

Perayaan Idul Adha 1447 H di Binjai tidak hanya menjadi seremoni keagamaan, tetapi juga momentum mempertegas pentingnya integrasi antara ketakwaan personal dan tanggung jawab sosial dalam mewujudkan masyarakat yang berkarakter, harmonis, dan berkeadaban.

 

WUKUF DI ARAFAH: Sekolah kehidupan

0

muisumut.orid.,  Arafah,  9 Zulhijjah 1447 H, 26 Mei 2026, Ritual wukuf di Padang Arafah adalah puncak manasik haji dan menjadi rukun kunci haji yang tidak bisa tidak wajib dikerjakan oleh seluruh jamaah haji. Karenanya, secara fiqih jika wukuf tidak dilakukan maka hajinya menjadi tidak sah.

Secara filosofis atau hikmah bahwa wukuf di Padang Arafah adalah pendidikan atau sekolah kehidupan. Mengapa?

Pertama, Arafah secara bahasa berarti mengenal, mengetahui, menyadari. Disebut demikian, secara historis, Nabi Adam AS dan Siti Hawa saling mengenal, mengetahui menyadari tentang dirinya dan dosanya saat di Arafah. Demikian pula dengan Nabi Ibrahim AS mengenal mengetahui dan meyakini sepenuh hati bahwa perintah menyembelih anaknya Ismail AS adalah wahyu dari Allah SWT saat di Arafah. Dalam riwayat lain, Malaikat mengajari Nabi Ibrahim manasik haji dan menanyakan, hal Arafta dan Nabi Ibrahim AS menjawab: araftu.

Oleh karena itu, sekolah kehidupan dimulai dari mengenal siapa diri. Dari mengenal diri kita dapat mengenal Tuhan, man ‘arafa nafsah, ‘arafa rabbah. Lalu, siapa kita sebenarnya? Manusia terdiri dari dua (2) unsur, jasmaniah dan ruhaniah. Secara jasmaniah, manusia berasal dari tanah (QS. Assajadah: 7), lalu keturunannya dari air yang hina, ma’ mahin (QS. Assajadah: 8). Betapa, sungguh tak pantas kita menjadi sombong dan angkuh jika kita sadar kita dari air yang jangan orang lain, kita sendiri pun jijik melihatnya. Kita hanya mulia jika beriman dan beramal shaleh dan menjadi paling rendah jika kafir dan berbuat kerusakan. (QS. At Tin: 4-5).

Namun jangan lupa dan terlena, kita berasal dari tiupan ruhNya, “kemudian Dia sempurnakan dan meniupkan Ruh penciptaNya (QS. Assajadah: 8).” Inilah sisi rohaniah yang harus kita pahami. Jika tanah dan air pulang ke tanah kembali melalui proses kimiawi, sedangkan ruh pulang ke TuhanNya melalui proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) (QS. Asy Syam: 9).

Pada konteks inilah, wukuf di Padang Arafah kita berzikir untuk menetapkan dalam hati, Tiada Tuhan selain Allah yang Esa, tidak ada syarikat baginya, Dia yang hidup dan tidak mati, dalam kekuasaan-Nya kebaikan dan Dia-lah yang berkuasa atas sesuatu.

Kedua, wukuf berarti berhenti. Kita harus memahami perjalanan hidup sebagaimana makna dalam ritual thawaf, maka kita sedang bergerak, beraktivitas, sibuk dalam berbagai kegiatan, dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat, pekerjaan bahkan juga kenegaraan. Dalam berbagai kesibukan itu, kita diperintahkan untuk berhenti (wukuf) sejenak. Berhenti dalam ketenangan untuk mengevaluasi, sedang dimana kita dan berapa jauh lagi kita harus melangkah. Ada satu pertanyaan Allah dalam surah Al Takwir, mau kemana kamu?. (QS. At-Takwir: 26).

Dalam kehidupan, terkadang kita sibuk sekali dan tidak mengetahui tujuan kesibukan itu. Dalam konteks itulah, Wukuf mengajarkan untuk berhenti dan tenang dalam kehidupan. Sungguh dengan berzikir hatimu akan tenang. Lebih dari itu, hanya jiwa jiwa yang tenanglah yang ditempatkan di surga kelak. (QS. Al Fajr: 27-30).

Ketiga, siap menjalankan perintah Allah dan meninggalkan  laranganNya. Dalam sejarah wukuf, saat Rasulullah berhaji wada’, Allah menegaskan bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna dan diridhaiNya (QS. Al Maidah: 3). Dan Rasulullah menegaskan kesempurnaan Islam dan Khutbah Wada’ yang intinya: bertaqwa kepada Allah SWT, berbuat baik kepada manusia dan semua makhluk, kewajiban memegang amanah, tidak memakan riba dalam kehidupan, menjaga istri yang telah kita ambil atas nama Allah.

Keempat, wukuf berarti berhenti dari denyut kehidupan, kaki dan tangan berhenti bergerak, mata berhenti berkedip, terjadilah kematian. Innalillahi wa innalillahi rojiun. Wukuf di Padang Arafah adalah simulasi kematian. Kita akan dikumpulkan di padang mahsyar kelak. Wukuf di Padang Arafah adalah miniatur dari Padang Mahsyar yang tidak bisa tidak adalah tempat berkumpulnya kita nanti. Di Padang Arafah kita mohon kepada Allah agar kiranya Allah ampuni dosa-dosa kita. Di hari Arafah ini kita mohon diampuni oleh Allah atas semua kesalahan dan dosa.

Disebutkan sebuah hadis, dari Anas bin Malik Ra. suatu kali Nabi Muhammad wukuf di Padang Arafah di saat matahari hampir tenggelam lalu Rasulullah berkata “Wahai Bilal Suruhlah umat manusia mendengarkan saya, maka Bilal pun berdiri dan menyeru manusia. Rasulullah bersabda: Wahai umat manusia baru saja Jibril datang kepadaku, Tuhanku dan mengatakan sungguh Allah mengampuni dosa-dosa orang-orang yang berwukuf di Arafah dan orang-orang yang bermalam di Mas’aril Haram atau Muzdalifah dan menjamin membebaskan mereka dari tuntutan balasan dari dosa-dosa mereka. Umar Bin Khattab pun berdiri dan bertanya kepada Rasulullah, Ya Rasulullah apakah ini khusus untuk kita saja Rasulullah menjawab, ampunan ini untuk kalian dan untuk orang-orang yang datang setelah kalian hingga hari kiamat kelak Umar pun berkata kebaikan Allah sungguh banyak dan Dia Maha Pemurah.

Dalam hadis dari Aisyah Rasulullah bersabda: Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka selain hari Arafah. Wallahu’alam.

Arafah, 9 Zulhijjah 1447 H
MKR

IDULADHA: TELADAN NABI IBRAHIM DALAM KEYAKINAN, KETAATAN DAN KEADABAN SEBAGAI WUJUD PENGHAMBAAN KEPADA ALLAH Oleh IRVAN MANGUNSONG, M.Pd Anggota Komisi Penelitian MUI SU; Alumni PTKU MUI SU

0

 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ  اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

اللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلهِ  كثيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرْ

اللَّهُ أَكْبَرْ وَ لِلَّهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ, اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ ٣

وَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

 

Hadirin Jamaah Salat Iduladha Rahimakumullah!

Marilah kita senantiasa bersyukur dan memuji Allah atas semua pemberian-Nya kepada kita; dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw., “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad”. Semoga pujian kita kepada Allah dan salawat kita kepada Rasulullah, menjadikan kita, hamba yang selamat dan bahagia dunia-akhirat.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Hadirin yang Berbahagia!

Masih terngiang di telinga kita, lantunan takbir di hari yang fitri. Dan kini, kita kembali melantunkan takbir itu, untuk membesarkan dan mengagungkan Allah, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar; yang menjadi pertanda, bahwa beginilah hidup ini, amat cepat waktu itu berlalu.

Kemarin, kita duduk bersama orang-orang yang kita sayangi, kita cintai, dan kita kasihi; ayah, ibu, anak, suami, istri, saudara, sahabat, atau tetangga kita. Namun saat ini, mereka telah tiada, mereka telah dulu meninggalkan kita. Namun begitulah hidup, “setiap yang bernyawa pasti akan mati”, dan “apabila telah datang ajal itu, tak bisa dimajukan dan tak bisa pula dimundurkan”. Pada hakikatnya, kita semua memang sudah divonis mati, dan hanya menanti bila kematian itu tiba, tanpa sebuah permisi. Untuk itu, jadikanlah hidup ini benar-benar hanya untuk menghambakan diri kepada Allah, karena saatnya kelak, kita akan kembali kepada Allah.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Hadirin yang Berbahagia!

Dalam momen ini, kita mungkin telah banyak mendengar, penjelasan dari para ulama dan guru-guru kita, tentang ibadah kurban dan berbagai keutamaannya, tentang sejarah ibadah kurban, serta perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya. Itu semua merupakan hal yang memang harus kita tahu. Akan tetapi, ada hal yang amat penting untuk kita jadikan teladan, yaitu tentang keteladanan Nabi Ibrahim dalam keyakinan (akidah), ketaatan (syariah) dan keadaban (akhlak), yang semuanya merupakan wujud penghambaan diri kepada Allah swt. Inilah poin penting yang akan disampaikan dalam khutbah ini.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Hadirin yang Berbahagia!

Pertama, Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Keyakinan

Keyakinan Nabi Ibrahim tidak tumbuh begitu saja, namun dengan perjuangan melakukan pencarian. Al-Qur’an merekam dengan jelas, bagaimana Nabi Ibrahim dilanda kegundahan dan kebingungan; tentang siapakah Tuhan yang harus benar-benar diyakini dan disembah.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ ٧٦ فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ ٧٧ فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ ٧٨

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang  (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (Q.S. al-An’ām/6: 76-78).

Ketika pencarian yang begitu panjang, pada akhirnya Nabi Ibrahim menemukan, bahwa Allah adalah Tuhan yang benar-benar harus diyakini dan disembah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ ٧٩

Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik (Q.S. al-An’ām/6: 76-78).

Ketika Nabi Ibrahim meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang harus diyakini, maka keyakinan itu pun murni hanya untuk Allah, sehingga beliau menolak segala bentuk penghambaan kecuali hanya kepada Allah. Itulah yang membuatnya murka dan marah, ketika kaumnya menyekutukan Allah dengan berhala-berhala.

Ketika beliau sudah benar-benar meyakini bahwa hanya Allah-lah satu-satunya zat yang disembah, beliau kemudian istikamah dalam keyakinan, sekalipun taruhannya adalah nyawa. Beliau tidak takut dan gentar, ketika kaumnya yang inkar membakarnya. Atas izin Allah, api yang harusnya membakar, namun tidak dapat membakar Nabi Ibrahim, karena Allah berfirman:

قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ ٦٩

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (Q.S. al-Anbiyā`/21: 69).

Dari keteladanan Nabi Ibrahim tentang keyakinannya kepada Allah, ada beberapa pelajaran penting untuk kita:

Pertama, menumbuhkan iman dengan pencarian dan pemikiran. Nabi Ibrahim mengajarkan kita saat ini, bahwa keyakinan kita kepada Allah, jangan hanya sekedar ikut-ikutan, tapi memang punya dasar yang kuat, dengan mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Allah, pelajari ilmu tauhid dan sifat-sifat Allah.

Kedua, memurnikan tauhid hanya kepada Allah. Nabi Ibrahim mengajarkan kita, bahwa tidak ada sesuatu apapun yang kita sembah kecuali Allah, tidak ada harapan apapun kecuali harapan pada Allah, dan tujuan hidup kita hanya untuk Allah saja.

Ketiga, berani meninggalkan dan menolak kesyirikan. Nabi Ibrahim tidak hanya meyakini, namun juga secara total berlepas diri dari segala bentuk penyekutuan terhadap Allah. Atas dasar itu, kita wajib menjauhi segala kesyirikan, baik yang nyata maupun tersembunyi seperti riya.

Keempat, istikamah dalam keimanan meskipun diuji. Nabi Ibrahim tetap istikamah dan mempertahankan keimanannya, sekalipun beliau diancam dan dibakar. Ini mengajarkan kita, bahwa iman harus dijaga dengan kesabaran dan keteguhan, agar tidak mudah mudah goyah oleh ujian kehidupan.

Kelima, tawakal dan yakin kepada pertolongan Allah. Keyakinan Nabi Ibrahim yang begitu kuat kepada Allah, membuat tawakal, memasrahkan semua hidupnya kepada Allah. Atas kekuatan imannya, api yang harusnya membakar, namun tak bisa membakarnya. Atas dasar itu, kita harus menyakini, bahwa Allah akan senantiasa menjaga dan menolong orang-orang yang benar-benar yakin kepada-Nya.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Hadirin yang Berbahagia!

Kedua, Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Ketaatan

Bukti bahwa keyakinan kepada Allah itu benar-benar nyata, adalah ketaatan seorang hamba dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam ketaatan kepada Allah, Nabi Ibrahim tak lagi diragukan. Beliau benar-benar menjalankan ketaatan kepada Allah, tanpa memikirkan untung atau rugi dirinya, baik atau buruk untuknya; semua dijalankan dengan sami’na wa atha’na, dan keyakinan bahwa apapun yang diperintahkan Allah untuknya adalah yang terbaik untuk dirinya.

Ada banyak ketaatan yang dilakukan Nabi Ibrahim dengan penuh kepatuhan tanpa memikirkan resiko yang dialaminya, salah satunya ialah ketika Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. Ketika Nabi Ibrahim tahu bahwa perintah itu benar dari Allah, maka beliau mentaati perintah Allah, sekalipun menyembelih anak yang selama ini dirindukan kehadirannya. Tentang ini disebutkan dalam Al-Qur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” (Q.S. al-Shaffāt/37: 102).

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١٠٧

Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (Q.S. al-Shaffāt/37: 103-107).

Dari kisah ini, terlihatlah dengan jelas, bahwa Nabi Ibrahim begitu taat kepada Allah. Ketika tahu bahwa perintah itu dari Allah, tanpa berpikir dan bertanya-tanya, mengapa dan mengapa? Beliau langsung menjalankan perintah itu, sekalipun harus mengorbankan anak yang amat disayanginya.

Nabi Ibrahim tidak pernah berpikir, bahwa ini hanya ujian kepadanya, dan Allah tak akan mungkin membiarkannya menyembelih anaknya sendiri. Beliau tidak pernah berpikir akan seperti itu endingnya. Beliau hanya berpikir ini perintah Allah, maka apapun perintah Allah, harus ditaati.

Keteladan ini mengajarkan kita, bahwa ketaatan yang sesungguhnya ialah ketika melakukan semuanya hanya untuk Allah dan rela mengorbankan apapun yang kita sayangi dan cintai hanya demi Allah.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Hadirin yang Berbahagia!

Ketiga, Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Keadaban

Semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah atas izin Allah. Baik sesuatu yang baik ataupun sesuatu yang buruk; semuanya atas izin Allah. Inilah keyakinan yang wajib diyakini oleh orang beriman, termasuk Nabi Ibrahim meyakini hal tersebut. Karena semua nabi dan rasul, dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, memiliki keyakinan demikian. Al-Qur’an secara tegas menyebutkan:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ٢٢

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah (Q.S. al-Ḥadīd/57: 22).

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ١١

Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S. al-Taghābun/64: 11).

Memang semua kejadian yang terjadi; baik kejadian yang baik ataupun kejadian yang buruk; itu semua atas izin Allah. Akan tetapi, ada seuatu yang Allah izinkan dan Allah meridainya, namun ada pula sesuatu yang Allah izinkan, tetapi Allah tidak meridai-Nya. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita adab tertinggi kepada Allah, sebagaimana ungkapan beliau yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ ٧٨ وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ ۙ ٧٩ وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ ٨٠

(Yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku (Q.S. al-Syu’arā`/26: 78-80).

Nabi Ibrahim tahu betul; bahwa semua yang terjadi atas izin Allah. Namun ungkapan beliau memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa adab kepada Allah adalah prioritas yang harus kita lakukan.

Dalam ungkapan Nabi Ibrahim, segala sesuatu kebaikan seperti menciptakan, memberi hidayah, memberi makan, memberi minum dan memberi kesembuhan, semuanya disandarkan kepada Allah. Sebaliknya, untuk sesuatu yang tidak disukai, seperti suatu penyakit, tidak disandarkannya kepada Allah, namun disandarkan kepada dirinya, padahal hakikatnya, sakit itu juga atas izin Allah. Itulah mengapa beliau katakan “wa idzā maridhtu” (apabila aku sakit), bukan dengan kata “wa idzā amradhani Rabbī (apabila Tuhan memberikan penyakit kepadaku).

Pelajaran berharga bagi kita dari keteladan adab Nabi Ibrahim ialah “selalu berbaik sangka kepada Allah (bahwa semua yang diberikan Allah adalah yang terbaik untuk kita), dan selalu rendah diri di hadapan Allah (bahwa kekurangan dan kelemahan ada pada diri kita, sedangkan segala kekuatan dan kebaikan ada pada Allah)”.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Hadirin yang Berbahagia!

Keteladanan Nabi Ibrahim dalam keyakinan, ketaatan, dan keadaban pada hakikatnya adalah wujud penghambaannya yang total kepada Allah. Dari beliau, kita diajarkan bahwa jalan hidup seorang hamba dimulai dari tauhid yang murni, yaitu keyakinan bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah.

Keyakinan itu harus pula dibuktikan, dengan ketaatan yang nyata, yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah tanpa syarat, tanpa ragu, dan tanpa menunda. Kemudian, keyakinan dan ketaatan kita kepada Allah, harus disempurnakan dengan adab kepada Allah, yaitu senantiasa bersangka baik pada Allah dan merendahkan diri serendah-rendahnya hanya kepada Allah.

Semua ini adalah wujud penghambaan kita kepada Allah dan memang kita diciptakan untuk itu, yakni untuk mengabdi kepada Allah. Kita pun telah berjanji dalam setiap salat kita, bahwa semua kehidupan kita hanya untuk Allah:

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٦٢

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam (Q.S. al-An’ām/6: 162).

 

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ, وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

للَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ !إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.