Thursday, July 16, 2026
spot_img
Home Blog Page 5

TAHUN BARU HIJRIYAH 1448 H: Muhasabah dan Amanah Waktu dalam Perspektif Hadis (Serial1)

muisumut.or.id., 14  Juni  2025., Penanggalan Hijriyah bukan sekadar sistem kalender biasa. Ia merupakan rekaman sejarah paling monumental dalam perjalanan umat Islam, yaitu peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah al-Mukarramah menuju Madinah al-Munawwarah.

Hijrah bukan hanya perpindahan fisik semata, melainkan simbol transformasi besar: dari ketertindasan menuju kebebasan, dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, dan dari kesyirikan menuju tauhid yang murni.

Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1448 H, sudah sepatutnya umat Islam kembali merenungkan makna pergantian tahun. Bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk melakukan evaluasi diri dan menata masa depan dengan lebih baik.

Tulisan ini mengajak kita memahami hakikat muhasabah dan pentingnya waktu dalam perspektif hadis Nabi Muhammad SAW.

Makna Muhasabah dalam Islam
Sebelum berbicara tentang perubahan, Islam mengajarkan satu langkah mendasar yang harus dilakukan setiap Muslim, yaitu muhasabah atau introspeksi diri.

Rasulullah SAW bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi No. 2459)

Hadis ini menjelaskan bahwa kecerdasan sejati bukan hanya kemampuan berpikir, melainkan kemampuan mengevaluasi diri dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Pergantian tahun Hijriyah menjadi saat yang tepat untuk menghisab diri sebelum dihisab oleh Allah SWT.

Waktu adalah Amanah yang Tak Tergantikan
Salah satu pesan Nabi SAW yang sangat penting adalah memanfaatkan waktu sebelum kesempatan itu hilang.

Beliau bersabda:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”

Hadis ini mengingatkan bahwa setiap detik kehidupan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam riwayat lain disebutkan:

كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يُنَادِي: يَا ابْنَ آدَمَ! أَنَا خَلْقٌ جَدِيدٌ، وَأَنَا عَلَيْكَ شَهِيدٌ فَاغْتَنِمْنِي فَإِنِّي لَا أَعُودُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Setiap hari yang matahari terbit padanya berseru: Wahai anak Adam, aku adalah makhluk yang baru dan aku menjadi saksi atasmu. Maka manfaatkanlah aku karena aku tidak akan kembali sampai hari kiamat.”

Betapa berharganya setiap hari yang Allah berikan. Hari yang berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, pergantian tahun hendaknya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita lakukan selama satu tahun terakhir?

Oleh: Prof. Dr. Nawir Yuslem, MA

Bersambung ke Seri 2:
Hakikat Perubahan dan Standar Kemajuan Seorang Muslim

Partisipasi Erni Ariyanti Sitorus Warnai Semarak Muharram 1448 H di MUI Sumatera Utara

0

muisumut.or.id-Medan, Erni Ariyanti Sitorus, Ketua DPRD Sumatera Utara, turut mendukung pelaksanaan Semarak Muharram 1448 Hijriah yang akan digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara pada 16 Juni 2026 bertepatan dengan 1 Muharram 1448 H.

Ketua Panitia Semarak Muharram 1448 H MUI Sumatera Utara, Prof. Dr. H. M. Jamil, MA, mengatakan Semarak Muharram merupakan agenda yang mengedepankan penguatan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan keterlibatan masyarakat.

Menurut Prof. Jamil, perhatian Erni Ariyanti Sitorus terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut mencerminkan kepedulian terhadap program-program yang memberi manfaat bagi masyarakat. Dukungan itu diberikan sebagai bentuk partisipasi pribadi beliau dalam menyukseskan rangkaian Semarak Muharram 1448 H yang disiapkan panitia.

Prof. Jamil menambahkan, keterlibatan masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam menjadi bagian penting dalam memperkuat semangat kebersamaan dan memperluas manfaat kegiatan kepada masyarakat.

Rangkaian Semarak Muharram 1448 H akan diawali dengan Gerak Jalan Muharram yang diperkirakan diikuti 1.500 hingga 2.000 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.

Selain itu, panitia juga menggelar tabligh akbar, peluncuran Kalender Hijriah 1448 H, bazar UMKM, perlombaan marhaban, puisi Islami, pidato Islami, serta sejumlah agenda edukatif dan keagamaan lainnya.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, panitia menyiapkan program undian berhadiah bagi peserta dan pengunjung. Hadiah yang disediakan antara lain empat paket umrah, televisi, kulkas, dan sepeda yang akan dibagikan melalui mekanisme pengundian.

Prof. Jamil berharap Semarak Muharram 1448 H dapat menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, memperkuat kepedulian sosial, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat di Sumatera Utara.

Semarak Muharram 1448 H, MUI Sumut Ajak Seluruh Ormas Islam Meriahkan Gebyar Muharram

muisumut.or.id, Medan, 11 Juni 2026 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara mengajak seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, lembaga keagamaan, majelis taklim, serta elemen umat Islam se-Sumatera Utara untuk bersama-sama memeriahkan Gebyar Muharram 1448 Hijriah yang akan berlangsung selama dua hari, mulai 16–17 Juni 2026 di Kantor MUI Sumatera Utara, Jalan Sutomo Ujung, Medan.

Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menegaskan bahwa peringatan Tahun Baru Islam merupakan momentum penting untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, membangun semangat hijrah menuju peradaban yang lebih baik, serta mempererat sinergi antara ulama, umara, dan seluruh komponen umat Islam di Sumatera Utara.

Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan technical meeting Gebyar Muharram 1448 H yang dihadiri unsur panitia, perwakilan ormas Islam, serta berbagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Pada kesempatan itu, seluruh elemen ormas Islam yang hadir menyatakan komitmennya untuk turut menyukseskan dan memeriahkan rangkaian kegiatan Muharram tahun ini.

Ketua Panitia, Prof. Dr. H. M. Jamil, MA, menjelaskan bahwa puncak kegiatan pada Selasa, 16 Juni 2026 atau bertepatan dengan 1 Muharram 1448 H, akan diawali dengan Gerak Jalan Muharram yang diperkirakan diikuti antara 1.500 hingga 2.000 peserta dari berbagai kalangan masyarakat, pelajar, mahasiswa, organisasi Islam, dan keluarga besar MUI se-Sumatera Utara.

Selain gerak jalan santai, kegiatan juga akan dimeriahkan oleh lomba gerak jalan yang diikuti 13 tim, serta penampilan tiga kelompok marching band dari sejumlah sekolah yang akan menambah semarak suasana perayaan Tahun Baru Islam.

Rangkaian acara pada hari pertama juga meliputi tabligh akbar, peluncuran Kalender Hijriah 1448 H, bazar UMKM, perlombaan marhaban, puisi dan pidato Islami, serta berbagai kegiatan edukatif dan keagamaan lainnya. Acara tersebut direncanakan akan dihadiri dan dimeriahkan oleh Wakil Menteri Agama RI, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, SH., M.Hum, yang sekaligus dijadwalkan menyampaikan ceramah Muharram.

Untuk meningkatkan antusiasme masyarakat, panitia juga menyiapkan berbagai hadiah menarik melalui program lucky draw. Tahun ini tersedia empat paket umrah, televisi, kulkas, sepeda, dan ratusan hadiah lainnya yang akan dibagikan kepada peserta dan pengunjung kegiatan.

Menurut panitia, Gebyar Muharram 1448 H bukan hanya menjadi ajang perayaan Tahun Baru Islam, tetapi juga sarana memperkuat persatuan umat, menggerakkan ekonomi syariah melalui bazar UMKM, serta menumbuhkan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih harmonis, produktif, dan penuh keberkahan.

“Melalui Gebyar Muharram 1448 H ini, kami berharap seluruh elemen umat Islam dapat hadir bersama, mempererat silaturahmi, serta menjadikan momentum hijrah sebagai inspirasi untuk membangun peradaban Islam yang maju, harmonis, dan membawa rahmat bagi seluruh masyarakat,” ujar Ketua Umum MUI Sumut.

Panitia mengundang seluruh masyarakat Sumatera Utara untuk hadir dan berpartisipasi dalam berbagai rangkaian kegiatan yang telah disiapkan selama dua hari pelaksanaan Gebyar Muharram 1448 H di Kantor MUI Sumatera Utara.

HIJRAH MEMBANGUN PERADABAN Dari Fajar Keemasan Menuju Senja Peradaban, dan Kembali Menyongsong Fajar Baru

0

muisumut.or.id. 11 Juni 2026, Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan titik awal lahirnya sebuah peradaban besar yang kelak menerangi dunia selama berabad-abad. Dari hijrah lahir masyarakat yang dibangun di atas fondasi tauhid, ilmu pengetahuan, keadilan, persaudaraan, dan akhlak mulia.

Dalam sejarah umat manusia, peradaban Islam pernah mengalami Fajar Keemasan (Golden Dawn of Islamic Civilization), kemudian memasuki Senja Keemasan (Twilight of Islamic Civilization) akibat berbagai faktor internal dan eksternal. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa setiap senja dapat menjadi pertanda lahirnya fajar baru bagi umat yang mau belajar, berubah, dan berhijrah.
Hijrah: Awal Fajar Keemasan Peradaban Islam

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau membangun fondasi peradaban yang kokoh:

  • Tauhid sebagai landasan spiritual.
  • Masjid sebagai pusat pendidikan dan peradaban.
    Ukhuwah sebagai perekat sosial.
  • Keadilan sebagai pilar pemerintahan.
  • Ilmu sebagai mesin kemajuan.

Dalam waktu yang relatif singkat, masyarakat yang sebelumnya tercerai-berai berubah menjadi umat yang kuat dan berpengaruh. Semangat hijrah melahirkan generasi sahabat yang kemudian menyebarkan Islam ke berbagai penjuru dunia.

Beberapa abad kemudian lahirlah era yang dikenal sebagai Fajar Keemasan Peradaban Islam, terutama pada abad ke-8 hingga ke-14 Masehi. Pada masa ini, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan dunia.

Kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, dan Cordoba menjadi mercusuar peradaban manusia. Pada masa inilah lahir ilmuwan-ilmuwan besar seperti:

  • Al-Khawarizmi dalam matematika.
  • Ibnu Sina dalam kedokteran.
  • Al-Biruni dalam astronomi dan geografi.
  • Ibnu Khaldun dalam ilmu sosial.
  • Jabir bin Hayyan dalam kimia.

Dunia Barat kemudian belajar dari pusat-pusat ilmu Islam, yang menjadi jembatan lahirnya Renaisans Eropa.

Ketika Senja Keemasan Mulai Datang
Namun sejarah menunjukkan bahwa tidak ada peradaban yang abadi jika kehilangan ruh dan nilai-nilai yang membangunnya.
Sedikit demi sedikit muncul gejala kemunduran:

  • Melemahnya semangat ijtihad.
  • Perpecahan politik.
  • Konflik antar kelompok.
  • Kemunduran ilmu pengetahuan.
  • Ketergantungan ekonomi.
  • Menurunnya kualitas kepemimpinan.

Puncaknya terjadi ketika berbagai pusat peradaban Islam mengalami kemunduran dan kehancuran, termasuk jatuhnya Pengepungan Baghdad 1258 dan berakhirnya kekuasaan Islam di Jatuhnya Granada 1492.

Inilah yang dapat disebut sebagai Senja Keemasan Peradaban Islam.
Senja tersebut bukan karena Islam kehilangan kebenarannya, tetapi karena sebagian umat kehilangan semangat hijrah yang dahulu melahirkan kejayaan.

Pelajaran Filosofis dari Fajar dan Senja
Dalam perspektif sunnatullah, kebangkitan dan kemunduran adalah bagian dari hukum sejarah.

Allah SWT berfirman:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140)

Ayat ini mengajarkan bahwa kejayaan bukan warisan yang dapat dipertahankan tanpa usaha. Ia harus terus diperjuangkan.

Peradaban yang besar bukan hanya dibangun oleh sumber daya alam atau kekuatan militer, tetapi oleh:

  • kualitas manusia,
  • kekuatan ilmu,
  • kemuliaan akhlak,
  • integritas kepemimpinan,
  • dan kedekatan kepada Allah SWT.

Hijrah Menuju Fajar Baru Abad 15 Hijriah

Umat Islam saat ini menghadapi era baru:

  • Revolusi Industri 4.0 dan 5.0.
  • Kecerdasan buatan (AI).
  • Digitalisasi ekonomi.
  • Krisis lingkungan.
  • Persaingan geopolitik global.

Karena itu, hijrah masa kini harus dimaknai sebagai transformasi besar-besaran:

  • Hijrah Spiritual: Dari ritual menuju penghayatan.
  • Hijrah Intelektual: Dari konsumsi ilmu menuju produksi ilmu.
  • Hijrah Teknologi: Dari pengguna menjadi pencipta teknologi.
  • Hijrah Ekonomi: Dari ketergantungan menuju kemandirian.
  • Hijrah Peradaban: Dari nostalgia kejayaan menuju pembangunan kejayaan.
    Umat Islam tidak cukup hanya mengenang Baghdad, Cordoba, atau Andalusia. Yang lebih penting adalah membangun “Baghdad-Baghdad baru” dalam bentuk universitas unggul, pusat riset, industri halal, teknologi digital, dan kepemimpinan yang amanah.

Refleksi untuk Indonesia
Indonesia memiliki modal besar untuk menyongsong fajar baru peradaban Islam:
populasi Muslim terbesar di dunia,
sumber daya alam yang melimpah,
bonus demografi,
tradisi moderasi beragama,
jaringan pendidikan Islam yang luas.
Namun modal tersebut harus diiringi dengan budaya ilmu, disiplin, inovasi, dan persatuan.
Hijrah nasional berarti menjadikan iman sebagai fondasi, ilmu sebagai instrumen, dan kemaslahatan sebagai tujuan.

Penutup: Menyambut Fajar Baru
Fajar Keemasan Peradaban Islam lahir dari hijrah.
Senja Keemasan Peradaban Islam terjadi ketika semangat hijrah melemah.
Karena itu, jalan menuju kebangkitan bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan menghidupkan kembali ruh hijrah dalam seluruh aspek kehidupan.
Hijrah adalah keberanian meninggalkan kelemahan. Hijrah adalah tekad membangun kekuatan. Hijrah adalah perjalanan dari gelap menuju terang.
Jika generasi awal Islam berhasil mengubah gurun pasir menjadi pusat peradaban dunia, maka umat Islam abad ke-15 Hijriah pun mampu melahirkan fajar baru peradaban yang lebih maju, lebih adil, lebih berilmu, dan lebih membawa rahmat bagi seluruh alam.

Fajar pernah datang karena hijrah. Senja datang karena kelalaian. Fajar baru akan kembali datang melalui iman, ilmu, amal, persatuan, dan hijrah yang berkelanjutan.

Prof. Dr. Ir. Basyaruddin, MS

Ketua Bidding Halal/ Direktur LPPOM

Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Sumut Matangkan Program Kerja dan Sosialisasi Menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H

Medan, 9 Juni 2026 – Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menggelar rapat bulanan pada Senin (9/6/2026) untuk membahas program kerja jangka pendek dan jangka panjang sekaligus mengevaluasi berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan dalam beberapa bulan terakhir.

Rapat yang berlangsung di lingkungan MUI Sumatera Utara tersebut dihadiri Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Sumut Prof. Dr. H. Arifinsyah, M.Ag., Sekretaris Bidang Dr. H. M. Arfan Daulay, M.A., Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah Dr. H. Erwan Efendi, MA., Sekretaris Komisi Dr. H. M. Rozali, MA., selaku pimpinan sidang, serta para anggota bidang dan komisi.

Dalam rapat tersebut, para peserta melakukan evaluasi terhadap program sosialisasi ukhuwah Islamiyah yang telah dilaksanakan selama dua bulan terakhir kepada siswa dan siswi di sejumlah sekolah di Kota Medan dan sekitarnya. Program tersebut dinilai berhasil membangun pemahaman generasi muda tentang pentingnya persaudaraan Islam, persatuan umat, serta semangat menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagai tindak lanjut, Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Sumatera Utara telah menyusun agenda kerja enam bulan ke depan. Setelah menyasar kalangan pelajar, program sosialisasi akan diperluas kepada pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) dan selanjutnya kepada berbagai organisasi kemasyarakatan Islam di Sumatera Utara.

Rapat juga membahas persiapan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Selain mendukung dan menyukseskan rangkaian kegiatan Gebyar Tahun Baru Hijriah 1448 H yang diselenggarakan oleh MUI Sumatera Utara, Bidang dan Komisi Ukhuwah Islamiyah juga akan menggelar kegiatan Sosialisasi Ukhuwah Islamiyah yang dipusatkan di Masjid Al-Amin, Jalan Bhayangkara, Kecamatan Medan Tembung.

Kegiatan tersebut akan melibatkan unsur pengurus BKM mulai dari ketua, sekretaris, bendahara hingga ketua remaja masjid. Selain itu, siswa dan siswi SMK Tritech Medan juga akan turut hadir sebagai peserta dalam kegiatan yang bertujuan memperkuat jaringan ukhuwah antarmasjid dan membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya persatuan umat.

Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan atas dukungan para aghniya dan dermawan yang memiliki kepedulian terhadap syiar Islam dan penguatan ukhuwah di Sumatera Utara. Dukungan tersebut juga datang dari Forum Silaturahmi (FOSIL) BKM Sumatera Utara serta Yayasan SMK Tritech Medan yang selama ini menjadi mitra strategis dalam berbagai kegiatan keumatan.

Dalam rapat terungkap bahwa meskipun selama ini sejumlah program MUI Sumatera Utara mendapat dukungan dana hibah dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, namun hingga saat ini bantuan dana hibah untuk periode berjalan belum menunjukkan kepastian. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para pengurus dan relawan untuk terus menjalankan program-program pembinaan umat.

Bahkan, beberapa kegiatan besar yang telah dilaksanakan MUI Sumatera Utara sebelumnya dapat terlaksana dengan baik berkat kontribusi dan partisipasi para aghniya serta dermawan yang memiliki komitmen kuat dalam mendukung perjuangan dakwah dan pelayanan umat.

Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Arifinsyah, M.Ag., menegaskan bahwa penguatan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan mendasar umat Islam saat ini. Menurutnya, masjid, sekolah, dan organisasi kemasyarakatan harus menjadi simpul-simpul persatuan yang mampu mempererat hubungan antarsesama Muslim sekaligus memperkuat kontribusi umat bagi bangsa dan negara.

Melalui berbagai program yang telah dirancang, MUI Sumatera Utara berharap semangat ukhuwah Islamiyah semakin mengakar di tengah masyarakat serta menjadi modal sosial yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rapat ditutup dengan kesepakatan untuk mempercepat pelaksanaan program-program prioritas serta memperluas kolaborasi dengan berbagai elemen umat demi terwujudnya persatuan, kebersamaan, dan kemaslahatan masyarakat Sumatera Utara.

Sosialisasi Islam Wasathiyah di Langkat, MUI Sumut Perkuat Kolaborasi dengan Kementerian Agama

muisumut.or.id, Langkat, 9 Juni 2026 – Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama (KAUB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menggelar kegiatan Sosialisasi Islam Wasathiyah di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Langkat, Selasa (9/6/2026). Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi strategis antara MUI Sumatera Utara dan Kementerian Agama dalam memperkuat pemahaman serta implementasi nilai-nilai Islam moderat di tengah masyarakat.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, dan dihadiri Ketua MUI Kabupaten Langkat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Langkat, serta para pengurus MUI dan jajaran Kementerian Agama setempat.

Sebanyak 120 peserta mengikuti kegiatan tersebut yang terdiri dari Penyuluh Agama Islam, baik Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), yang selama ini menjadi garda terdepan dalam pembinaan dan pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Sumatera Utara Dr. H. Maratua Simanjuntak menegaskan bahwa kolaborasi antara MUI dan Kementerian Agama dalam menyosialisasikan Islam Wasathiyah merupakan langkah penting dan strategis untuk menghasilkan dampak yang lebih luas dan efektif di tengah umat.

Menurutnya, Penyuluh Agama Islam memiliki posisi yang sangat vital karena berhadapan langsung dengan masyarakat dalam memberikan pembinaan, edukasi, dan pendampingan keagamaan.

“Kolaborasi antara MUI dan Kementerian Agama dalam sosialisasi Islam Wasathiyah sangat penting untuk memperoleh hasil yang maksimal. Penyuluh Agama Islam merupakan ujung tombak di lapangan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Karena itu, pemahaman yang kuat tentang Islam Wasathiyah harus terus diperkuat agar dapat disampaikan secara tepat kepada umat,” ujarnya.

Maratua juga menekankan bahwa Islam Wasathiyah merupakan konsep keberagamaan yang mengedepankan sikap moderat, adil, seimbang, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemahaman ini dinilai sangat relevan dalam menjaga harmoni sosial dan memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

Sementara itu, pihak Kementerian Agama Kabupaten Langkat menyambut baik sinergi yang dibangun bersama MUI Sumatera Utara. Melalui kegiatan ini diharapkan para penyuluh agama semakin memiliki kapasitas dan pemahaman yang komprehensif dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan, moderat, serta mampu menjadi solusi terhadap berbagai tantangan sosial keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan antusias dan interaktif. Para peserta mendapatkan penguatan materi mengenai konsep, prinsip, dan implementasi Islam Wasathiyah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu, forum ini juga menjadi sarana diskusi untuk bertukar pengalaman terkait tantangan dakwah dan pembinaan umat di lapangan.

Melalui kegiatan ini, MUI Sumatera Utara berharap nilai-nilai Islam Wasathiyah semakin mengakar di tengah masyarakat melalui peran aktif para Penyuluh Agama Islam sebagai agen moderasi beragama dan penjaga harmoni sosial di Kabupaten Langkat maupun di wilayah Sumatera Utara secara umum.

Hijrah adalah Transformasi Total: Pengorbanan Jiwa, Raga, dan Harta Demi Meraih Ridha Allah SWT

muisumut.or.id, Medan, 7 Juni 2026 – Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Ardiansyah, Lc., M.A., menegaskan bahwa makna hijrah dalam Islam tidak dapat dipahami hanya sebatas perubahan penampilan atau perpindahan dari satu sistem ke sistem lainnya. Hijrah sejati merupakan proses transformasi total yang menuntut komitmen, perjuangan, serta pengorbanan nyata demi meraih keridaan Allah SWT.

Hal tersebut disampaikannya dalam pengajian yang diselenggarakan oleh Bidang Seni Budaya MUI Sumatera Utara bekerja sama dengan Majelis Dzikir Az-Zikra di Masjid Agung Medan, Ahad (7/6/2026).

Dalam ceramahnya, Prof. Ardiansyah menjelaskan bahwa pemahaman hijrah yang berkembang di tengah masyarakat sering kali terbatas pada perubahan-perubahan lahiriah, seperti mulai mengenakan jilbab, memelihara jenggot, atau beralih dari lembaga keuangan konvensional ke lembaga keuangan syariah. Padahal, menurutnya, hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat memiliki dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam.

“Hijrah bukan sekadar perubahan simbolik atau formalitas keagamaan. Hijrah adalah proses transformasi total yang menuntut pengerahan seluruh kemampuan manusia, baik jiwa, raga, maupun harta benda, demi mencapai keridaan Allah SWT,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa sejarah hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dipenuhi dengan kisah-kisah pengorbanan luar biasa yang dilakukan para sahabat. Mereka rela meninggalkan kampung halaman, keluarga, kedudukan sosial, bahkan seluruh harta benda demi mempertahankan akidah dan menegakkan agama Allah.

Prof. Ardiansyah mencontohkan keberanian Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang rela mempertaruhkan nyawanya dengan tidur di tempat Rasulullah SAW ketika rumah beliau dikepung oleh para pemuda Quraisy yang berencana membunuh Nabi Muhammad SAW. Dengan mengenakan selimut Rasulullah, Ali mengambil risiko besar demi keselamatan Sang Nabi.

Demikian pula dengan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq yang setia mendampingi Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah. Saat bersembunyi di Gua Tsur, Abu Bakar rela menahan rasa sakit akibat gigitan hewan berbisa demi memastikan Rasulullah dapat beristirahat dengan aman.

Selain itu, banyak sahabat lainnya yang harus meninggalkan seluruh kekayaan dan harta benda mereka di Makkah. Tidak sedikit pula yang terpaksa berpisah dengan pasangan hidup maupun anak-anak mereka demi dapat berhijrah dan bergabung bersama Rasulullah SAW di Madinah.

“Pengorbanan para sahabat bukan hanya pada aspek materi, tetapi juga menyangkut perasaan, keluarga, dan keselamatan jiwa. Semua itu mereka lakukan demi mempertahankan keimanan dan memperoleh keridaan Allah SWT,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Ardiansyah juga menyoroti peran besar kaum Anshar, penduduk Madinah, yang menunjukkan solidaritas dan ukhuwah Islamiyah yang luar biasa. Mereka menyambut kaum Muhajirin dengan penuh kasih sayang, membuka rumah-rumah mereka, berbagi makanan, serta membantu memenuhi kebutuhan saudara-saudara seiman yang datang dari Makkah tanpa membawa harta benda.

Menurutnya, semangat persaudaraan dan pengorbanan yang ditunjukkan kaum Muhajirin dan Anshar merupakan teladan yang sangat relevan untuk dihidupkan kembali pada masa kini.

“Kisah keteguhan, perjuangan, dan pengorbanan para sahabat dalam peristiwa hijrah hendaknya menjadi inspirasi dan motivasi besar bagi umat Islam abad ini untuk terus berjuang, berkorban, dan bekerja demi kejayaan Islam serta kemaslahatan umat,” katanya.

Pengajian yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB tersebut diawali dengan pelaksanaan Shalat Tasbih dan zikir bersama yang diikuti jamaah dengan penuh khidmat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Bidang Seni Budaya MUI Sumatera Utara, Hj. Wan Khairunnisah, Sekretaris Bidang Nani Ayum Panggabean, serta Nuraini Simangunsong. Hadir pula para pengurus dan jamaah Majelis Dzikir Az-Zikra yang selama ini aktif membina kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan itu, Pembina Majelis Dzikir Az-Zikra menyampaikan apresiasinya atas sinergi yang terjalin antara Majelis Dzikir Az-Zikra dengan Bidang Seni Budaya MUI Sumatera Utara.

“Kolaborasi Majelis Dzikir Az-Zikra dengan Bidang Seni Budaya MUI Sumatera Utara bukan hanya berlangsung pada tahun 2026 ini saja, tetapi akan terus berlanjut hingga akhir hayat,” ungkapnya.

Ia berharap semangat kebersamaan dalam dakwah, zikir, dan penguatan nilai-nilai keislaman tersebut dapat terus terjaga dan menjadi amal saleh yang bernilai pahala di sisi Allah SWT.

“Semangat berbuat kebaikan ini semoga menjadi pahala dan bekal bagi kita semua menuju kampung akhirat,” tutupnya.

HIJRAH: Unsur Penting Sebuah Peradaban  (Manusia dan Agama adalah Unsur Terpenting)

muisumut.or.id., 6 Juni 2026., Salah seorang pemikir Islam kontemporer, Malik Bennabi yang lahir di kota Konstantin, Aljazair, (1905-1973 M) yang juga merupakan salah satu pemikir yang sangat menonjol di dunia Islam, bahkan dikatakan jika dikaitkan dengan konsep sejarah dan peradaban, ia dapat ditempatkan sebagai pemikir Muslim terpenting setelah Ibn Khaldun (1332-1406).

Dalam pandangn Malik Bennabi, sebuah peradaban bukan sekedar kemajuan ekomomi, politik, dan teknologi. Peradaban adalah produk unsur-unsur dinamik, integral, dan kongkrit. Di antara unsur-unsur yang paling krusial adalah moral atau agama. Kemunduran dalam skala nilai atau moral akan menghadapkan suatu masyarakat pada berbagai masalah dan bahkan probolem berskala luas.
Menurut Malik Bennabi ada tiga unsur penting sebuah peradaban, yaitu: insan (manusia), turab (tanah), dan waqt (waktu).

Dalam teorinya, Bennabi menempatkan manusia pada posisi sentral. Manusia adalah ‘alat utama masyarakat, jika ia bergerak, masyarakat dan sejarah juga bergerak; sebalinya jika ia berhenti, masyarakat dan sejarah juga berhenti’.
Tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam dalam hal ini adalah bagaimana melahirkan manusia manusia yang mampu memanfaatkan tanah, waktu, dan kreativitas mereka sendiri untuk mencapai apa yang menjadi tujuan mereka, tentunya  tujuan besar dalam sejarah peradaban mereka.

Dalam rangka menyambut tahun baru 1448 H/2026 M., kita kelihatannya mesti kembali berfikir, merekonstruksi pemikiran kita, bagaimana cara efektif untk dapat melahirkan manusia manusia  yang bisa memanfaatkan secara maksimal ketiga unsur yang beliau sebutkan di atas, sekaligus menguatkan nilai/agama dalam seluruh dimensi kehidupan umat dalam bergerak membangun peradaban besar.

Prof. Dr. HM. Jamil., MA.
Wakil Ketua Umum MUI Sumatera Utara

Kuliah Umum PTKU MUI Sumut: Kader Ulama Harus Mampu Menjawab Tantangan Era Disrupsi

0

Medan, muisumut.or.id.,  4 Juni 2026 – Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara kembali menggelar Kuliah Umum sebagai bagian dari upaya mencetak ulama yang memiliki kapasitas keilmuan, wawasan kebangsaan, serta kemampuan menjawab tantangan zaman. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (4/6/2026) ini menghadirkan Guru Besar dan tokoh pemikir Islam, Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis, yang menyampaikan materi bertajuk “Tantangan Ulama di Era Disrupsi”.

Kuliah umum tersebut dihadiri Ketua Umum MUI Sumatera Utara Dr. H. Maratua Simanjuntak, Direktur PTKU Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA, Sekretaris PTKU Dr. Irwansyah, M.H.I, serta Wakil Direktur PTKU Prof. Dr. H. Arifinsyah, M.Ag yang bertindak sebagai moderator.

Turut hadir para dosen PTKU, yakni Dr. H. Arso, SH., M.Ag, Drs. H. Ahmad Sanusi Luqman, Lc., MA, Dr. Iqbal Habibi Siregar, M.Pd.I, dan Hakkul Yaqin Siregar, Lc., M.Ag. Hadir pula sejumlah pengurus Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara, antara lain Drs. H. T. Darmansyah, MA, Dr. H. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, Drs. Ahmad Darwis Ritonga, Drs. H. Saparuddin Lubis, MA, dan Drs. H. Muhammad Arifin Umar.

Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menegaskan bahwa program kaderisasi ulama merupakan amanah besar yang telah berlangsung sejak lama dan harus terus dipertahankan.

Menurutnya, perjalanan pendidikan kader ulama di Sumatera Utara tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk almarhum pengusaha nasional Probosutedjo yang pada masa awal turut memberikan dukungan pembiayaan bagi pendidikan kader ulama.

“Program Pendidikan Kader Ulama ini memiliki sejarah panjang. Dahulu, almarhum Probosutedjo turut membiayai pendidikan kader ulama. Alhamdulillah, hingga hari ini Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Sumatera Utara tetap berjalan dan menjadi salah satu program unggulan MUI Sumatera Utara dalam menyiapkan generasi ulama masa depan,” ujar Maratua.

Ia menambahkan bahwa keberadaan PTKU merupakan bentuk komitmen MUI Sumatera Utara dalam menjaga kesinambungan kaderisasi ulama yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mampu memahami perkembangan sosial, budaya, teknologi, dan berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi umat.

Sementara itu, dalam kuliah umumnya, Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis menjelaskan bahwa era disrupsi merupakan masa perubahan besar yang ditandai oleh peralihan dari teknologi fisik menuju teknologi digital yang melahirkan sistem baru yang lebih cepat, efisien, dan memberikan manfaat yang luas. Perubahan tersebut sekaligus menghadirkan peluang dan tantangan bagi kehidupan beragama. Menurutnya, ulama harus mampu menjaga nilai-nilai dasar agama yang meliputi akidah, syariah, dan akhlak, sembari tetap memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Ia mengingatkan bahwa pola berpikir yang kaku dan menolak perubahan berpotensi membuat dakwah Islam kehilangan relevansi di tengah masyarakat yang terus berkembang.

Prof. Ridwan juga menekankan bahwa sejarah Islamisasi Nusantara menunjukkan keberhasilan dakwah Islam melalui pendekatan yang damai, adaptif, dan menghargai budaya lokal. Karena itu, ulama masa kini dituntut mampu mengintegrasikan pemahaman keislaman yang kuat dengan kemampuan membaca realitas sosial secara bijaksana.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ulama ideal adalah sosok yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga kepekaan sosial, kemampuan berijtihad, serta keberanian bertindak untuk kemaslahatan umat. Karakter tersebut tercermin dalam konsep ulul albab, yakni pribadi yang senantiasa berzikir, berpikir, dan mampu menangkap makna mendalam dari setiap fenomena kehidupan.

Kegiatan kuliah umum berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan diskusi dari para mahasiswa PTKU. Melalui kegiatan ini, PTKU MUI Sumatera Utara kembali menegaskan perannya sebagai lembaga kaderisasi strategis yang mempersiapkan ulama berwawasan luas, moderat, dan mampu menjadi rujukan umat di tengah berbagai dinamika perubahan global.

Dengan terus berlangsungnya program PTKU hingga saat ini, MUI Sumatera Utara berharap lahir generasi ulama yang mampu menjaga kemurnian ajaran Islam, memperkuat persatuan umat, serta memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat di era modern.

SERTIFIKASI HALAL: Integrasi Wahyu, Sains, dan Kebangkitan Peradaban Islam

muisumut.or.id.,  3 Juni 2026, Di tengah arus globalisasi dan revolusi industri modern, dunia menghadapi perubahan besar dalam pola produksi dan konsumsi manusia. Teknologi berkembang sangat cepat; produk pangan, obat-obatan, kosmetik, bioteknologi, hingga rekayasa genetika semakin kompleks. Masyarakat modern tidak lagi mengonsumsi produk yang secara sederhana dapat dikenali asal-usulnya. Sebuah makanan yang tampak sederhana dapat mengandung puluhan bahan tambahan, berasal dari berbagai negara, dan diproses melalui teknologi yang rumit.

Dalam kondisi demikian, persoalan halal tidak lagi semata-mata dipahami sebagai hukum tentang boleh atau tidak boleh dikonsumsi. Halal telah berkembang menjadi isu multidimensi yang menyangkut syariat, kesehatan, sains, teknologi, ekonomi, etika, dan bahkan masa depan peradaban manusia.

Di sinilah sertifikasi halal memperoleh makna yang lebih luas. Ia bukan hanya label pada kemasan produk, melainkan sebuah sistem yang mempertemukan wahyu dan ilmu pengetahuan dalam satu kesatuan yang harmonis.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah:168)

Ayat tersebut memuat dua konsep penting: halal dan thayyib. Halal menunjukkan aspek syariat, sedangkan thayyib menunjukkan aspek kualitas, keamanan, kesehatan, dan kemanfaatan.

Secara ilmiah, konsep thayyib sesungguhnya memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Makanan yang baik bukan hanya enak dikonsumsi, tetapi juga aman secara biologis, tidak mengandung zat berbahaya, bebas kontaminasi, dan memberikan manfaat bagi kesehatan manusia.
Pada masa dahulu masyarakat dapat mengetahui status halal produk secara langsung. Mereka mengetahui siapa yang menyembelih hewan, bagaimana proses pengolahannya, dan dari mana bahan berasal. Namun pada era industri modern keadaan telah berubah.

Gelatin dapat berasal dari tulang sapi atau babi. Enzim dapat dihasilkan melalui rekayasa mikroorganisme. Emulsifier, flavor, pewarna, dan berbagai bahan tambahan pangan sering kali tidak mudah dikenali secara kasat mata.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan indra manusia menjadi sangat terbatas.
Maka sains hadir sebagai instrumen untuk membaca apa yang tidak tampak.
Ilmu kimia mampu mengidentifikasi komposisi bahan. Biologi molekuler mampu mendeteksi DNA spesies tertentu. Teknologi laboratorium modern dapat melacak kandungan zat yang diharamkan syariat.

Teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR) mampu mendeteksi kontaminasi DNA babi pada produk pangan. Analisis kromatografi mampu mengidentifikasi kandungan alkohol. Sistem traceability digital memungkinkan pelacakan bahan baku dari hulu sampai hilir.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa sains bukan lawan agama.
Justru sebaliknya, sains berfungsi sebagai alat untuk menguatkan implementasi wahyu.
Secara akademik, hubungan tersebut dapat digambarkan melalui pendekatan integratif:
SH = f(W + S + T + E)
Keterangan:
SH = Sistem Halal
W = Wahyu
S = Sains
T = Teknologi
E = Etika

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sistem halal modern tidak cukup hanya ditentukan oleh aspek hukum syariat semata, tetapi juga dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan, teknologi, dan etika.

Secara filosofis, konsep halal sesungguhnya menggambarkan cara Islam memandang kehidupan secara menyeluruh. Halal bukan sekadar aturan legal formal, melainkan bagian dari sistem nilai yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan masyarakat, dan manusia dengan alam.

Apa yang dikonsumsi manusia bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga memengaruhi dimensi psikologis, moral, bahkan spiritual.
Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas kehidupan seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas sesuatu yang masuk ke dalam dirinya.

Makanan halal bukan hanya menjaga kesehatan jasad, tetapi juga memelihara kebersihan hati dan ketenangan jiwa.

Dari sisi ekonomi dan peradaban, sertifikasi halal saat ini telah berkembang menjadi salah satu kekuatan global yang sangat besar. Industri halal dunia meliputi makanan, farmasi, kosmetik, pariwisata, logistik, keuangan syariah, hingga teknologi digital.

Menariknya, produk halal tidak lagi hanya dikonsumsi masyarakat Muslim. Banyak konsumen non-Muslim memilih produk halal karena dipandang lebih higienis, lebih aman, dan memiliki standar pengawasan yang lebih ketat.
Hal ini menunjukkan bahwa halal memiliki sifat universal.

Halal bukan sekadar identitas agama, tetapi juga standar kualitas peradaban.
Jika pada masa lalu peradaban Islam mencapai puncak kejayaan melalui ilmu pengetahuan, etika perdagangan, dan kemajuan teknologi, maka pada abad ke-15 Hijriah salah satu pintu kebangkitan itu dapat muncul melalui ekosistem halal.

Halal dapat melahirkan industri yang bersih.
Halal dapat melahirkan perdagangan yang jujur.
Halal dapat melahirkan teknologi yang bermoral.

Halal dapat melahirkan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemaslahatan manusia.

Hikmah terbesar dari sertifikasi halal sesungguhnya terletak pada kesadaran bahwa Allah tidak menurunkan aturan untuk membatasi manusia, tetapi untuk menjaga dan memuliakan manusia.

Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan teknologi yang canggih, tetapi teknologi yang memiliki akhlak; tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberkahan ekonomi; tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan yang maju, tetapi ilmu pengetahuan yang diterangi oleh wahyu.

Karena pada akhirnya, kebangkitan sebuah peradaban bukan dimulai dari tingginya bangunan atau besarnya kekayaan, tetapi dari kemuliaan nilai yang membentuk manusianya. Dan salah satu jalan menuju kemuliaan itu adalah halal.

Oleh: Prof. Dr. Ir. Basyaruddin, MS