Tuesday, March 3, 2026
spot_img
Home Blog Page 9

Tim Perumus; Dr. H. Arso, M.Ag Bacakan dan Serahkan Rumusan Hasil Pertemuan Silaturrahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim 2025

muisumut.or.id., Medan, 1 November 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara secara resmi menutup Pertemuan Silaturrahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025 pada Sabtu, 1 November 2025, di Grand Inna Hotel Medan. Penutupan diawali dengan penyanyian lagu “Padamu Negeri” secara bersama-sama oleh seluruh peserta, sebagai simbol kebersamaan dan kecintaan pada tanah air.

Pada acara penutupan, Tim Perumus yang diwakili Dr. H. Arso, M.Ag didampingi Prof. Dr. H. Fachruddin Azmi dan Prof. Dr. Hasan Bakti Nasution, MA membacakan rumusan dan rekomendasi hasil pertemuan dan menyerahkannya kepada Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak. Sekretaris Panitia, Dr. T. Darmansyah, menyampaikan bahwa kegiatan selama dua hari, 31 Oktober – 1 November 2025, berjalan lancar sesuai rencana dan mendapat sambutan sangat baik dari para peserta.

Pertemuan ini didasarkan pada arahan dan bimbingan dari Gubernur Sumatera Utara yang diwakili oleh Drs. H. Basarin Yunus Tanjung, M.Si, serta arahan Ketua Umum MUI Sumut mengenai urgensi silaturahim dalam memperkuat soliditas umat dan membangun peradaban Islam yang maju dan berkah.

Beberapa narasumber menyampaikan paparan strategis masing-masing, antara lain:

  • Hj. Anita Lubis, ST, M.IP.: Pemberdayaan perempuan dan partisipasi dalam pembangunan.

  • Prof. Dr. Hasyimsyah Nasution, MA: Pendidikan dan ekonomi umat.

  • Dr. H. Dedy Iskandar Batu Bara, SH., MSP: Penguatan keluarga dan masyarakat Islam.

  • Dr. H. Abd Hamid Ritonga, MA: Sinergi organisasi dan kelembagaan umat Islam.

  • Dr. H. Hasnan Syarif Panggabean, M.Pd: Dakwah dan pembinaan moral.

  • Dr. Mursal Aziz, M.Pd.I: Institusi sosial dan budaya Islami.

  • H. Muhammad Nuh, M.SP: Politik dan peran umat Islam dalam pembangunan.

Berikut hasil rumusannya

A. RUMUSAN

1. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan Silaturahim Ulama, Tokoh dan Cendekiawan Muslim MUI Sumatera Utara tahun 2025 dengan tema “Memperkuat soliditas umat untuk membangun peradaban Islam yang maju dan berkah”. Melalui kegiatan ini diharapkan akan terwujud sinergitas antar ulama, tokoh dan cendekiawan pada satu sisi dan pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada sisi lain sehingga menjadi sebuah kekuatan yang dapat sebagai pendorong terwujudnya visi Sumatera Utara yaitu, “Kolaborasi Sumut berkah menuju Sumatera Utara yang unggul, maju dan berkelanjutan”.
2. Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara sebagai Tenda Besar Umat Islam Sumatera Utara memiliki peran strategis dalam memperkuat soliditas umat untuk membangun peradaban Islam yang maju dan berkah melalui berbagai program kegiatan. Dalam rangka mensukseskan berbagai kegiatan tersebut khususnya memperkuat hasil-hasil fatwa yang telah diputuskan MUI perlu dukungan penuh (full support) dari Pemerintah, Aparat Penegak Hukum, Ormas Keislaman dan masyarakat (umat) secara keseluruhan. Lebih lanjut diharapkan fatwa tersebut memiliki kekuatan hukum yang formal sehingga dapat menutupi kekosongan hukum.
3. Dalam rangka “Memperkuat soliditas umat untuk membangun peradaban Islam yang maju dan berkah”, dapat dilakukan :
a. Melalui pemberdayaan perempuan dan partisipasinya dalam pembangunan, dengan melibatkan perempuan tidak hanya sebatas peran pembinaan ketahanan rumah tangga secara sektoral, sosial, pendidikan, dan ekonomi melainkan juga melalui keterlibatan perempuan dalam kebijakan politik dengan melibatkan mereka sebagai bagian dari legislator di semua tingkatan. Melalui keterlibatan ini diharapkan akan menghasilkan kebijakan yang fungsional bagi pemberdayaan perempuan dan partisipasinya dalam pembangunan.
b. Melalui sinergi organisasi dan kelembagaan umat Islam, dengan membangun kolaborasi dan koordinasi sinergis antar ormas, lembaga pendidikan, pesantren dan institusi dakwah agar tercipta kesatuan gerak dan langkah (tansiqul harakah) dalam memperjuangkan kepentingan dan kemaslahatan umat. Sinergi organisasi dan kelembagaan kunci memperkokoh ukhuwah Islamiyah, sehingga disharmoni internal umat dapat dihindari.
c. Melalui penguatan pendidikan, ekonomi umat dan lembaga pendidikan Islam khususnya pesantren harus diperkuat agar melahirkan generasi yang berilmu termasuk ilmu-ilmu numerik, berakhlaq mulia, dan berdaya saing. Sementara itu, ekonomi umat perlu dikembangkan melalui peningkatkan semangat enterpreneuer di kalangan umat di satu sisi. Di sisi lain, ekonomi umat perlu dikembangkan melalui penguatan dan pemberdayaan Lembaga-lembaga keuangan Islam seperti Koperasi Syariah, BMT, dan BPRS dan usaha produktif bebasis masjid, pesantren dan melaksanakan gerakan infak untuk mewujudkan kemandirian umat.
d. Melalui Penguatan Keluarga dan Masyarakat Islam, keluarga Muslim harus menjadi pusat pembinaan iman, akhlak, dan karakter generasi penerus. Masyarakat Islam hendaknya menumbuhkan budaya gotong royong, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap sesama (ta’awun), sehingga tercipta kehidupan sosial yang harmonis dan berperadaban mulia.
e. Melalui Politik dan Peran Umat Islam dalam Pembangunan, umat Islam perlu berpartisipasi aktif dan cerdas dalam kehidupan politik dan kebangsaan, dengan menjunjung tinggi nilai keadilan, moral, dan integritas. Politik Islam hendaknya menjadi sarana memperjuangkan kemaslahatan umum, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok.
f. Melalui Dakwah dan Pembinaan Moral, dakwah Islam harus menjadi sarana pencerahan dan pemersatu umat dengan pendekatan yang santun, moderat (washatiyah), dan berorientasi pada pembinaan akhlakul karimah. Para Dai dan ulama diharapkan memanfaatkan media digital secara bijak sebagai sarana dakwah yang produktif dan edukatif.
g. Melalui Institusi Sosial dan Budaya Islami, perlu dikembangkan lembaga sosial dan budaya yang berperan aktif dalam melestarikan nilai-nilai keislaman, memperkuat karakter bangsa, serta memadukan budaya lokal yang selaras dengan ajaran Islam sebagai identitas peradaban umat.
h. Melalui Kerjasama terpadu antar ormas Islam di satu sisi dan dengan institusi penegak hukum pada sisi lain dapat mencegah dan meminimalisir terjadinya penyakit masyarakat seperti narkoba, judi online, prostitusi, perdagangan manusia(trafficking).

B. Rekomendasi

Kepada Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Sumatera Utara :
a. Diharapkan memperkuat sinergi dan dialog kebijakan dengan MUI serta ormas Islam dalam penyusunan program pembangunan daerah, khususnya dalam bidang Agama, politik, pendidikan, moral, dan kesejahteraan sosial.
b. Mendorong terciptanya kebijakan publik yang berkeadilan dan berorientasi pada penguatan nilai-nilai keagamaan, moral masyarakat dan kearifan lokal.
c. Mendukung program pemberdayaan ekonomi umat melalui pelatihan, akses permodalan, dan memfasilitasi usaha syariah berbasis komunitas.
d. Mendorong penegak hukum untuk bertindak tegas menuntaskan pemberantasan penyakit masyarakat dan pelanggaran norma dan hukum di Wilayah Sumatera Utara.

C. Kepada Ormas dan Lembaga Islam
a. Diharapkan memperkuat kolaborasi lintas organisasi dan menghindari perpecahan dalam tubuh umat Islam dengan membentuk Forum Lintas Ormas Islam Sumatera Utara untuk merespon berbagai persoalan umat khususnya bidang Agama, politik, ekonomi, sosial dan budaya yang melaksanakan pertemuan rutin setiap bulan secara bergantian.
b. Menjalankan kaderisasi kepemimpinan dan pembinaan generasi muda secara berkelanjutan.
c. Bersinergi dalam bidang dakwah, sosial, pendidikan, dan ekonomi untuk memperkuat kesejahteraan dan keutuhan umat.
d. Melaksanakan gerakan infak secara bersama-sama yang akumulasi dananya dimanfaatkan sepenuhnya untuk pemenuhan kebutuhan umat forum lintas orma Islam Sumatera Utara.

D. Kepada MUI Sumatera Utara dan MUI Kabupaten/Kota
a. Menindaklanjuti hasil pertemuan ini melalui pembentukan tim sinergi umat lintas bidang/lembaga untuk menyusun langkah konkret.
b. Melaksanakan program penguatan dakwah, pendidikan Islam, dan ekonomi umat secara terpadu dan berkelanjutan.
c. Mengadakan pertemuan silaturahim ulama dan tokoh Islam secara berkala sebagai forum komunikasi, evaluasi, dan konsolidasi keumatan.
d. Menyelenggarakan Program Pendidikan Tinggi Kader Ulama pada semua tingkatan MUI Kab/Kota se Sumatera Utara sebagai upaya konkret untuk mempersiapkan generasi penerus ulama dan memperkuat soliditas umat.

Pertemuan ini menegaskan komitmen bersama untuk: “Memperkuat Soliditas Umat Islam Sumatera Utara dalam Membangun Peradaban Islam yang Maju, Bermartabat, dan Berkah.”
Semoga hasil pertemuan ini menjadi panduan moral, spiritual, dan sosial bagi seluruh komponen umat Islam dalam mewujudkan masyarakat yang adil, berkeadaban, dan diridhai Allah SWT.

Tim Perumus:

1. Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA 1.

2. Dr. H. Arso, SH, M.Ag 2.

3. Prof. Dr. H. Fachruddin Azmi, MA 3.

4. Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA 4.

5. Dr. Irwansyah, M.H.I 5.

 

Mengetahui,
DEWAN PIMPINAN
MUI PROVINSI SUMATERA UTARA
Ketua Umum,

 

(Dr. H. Maratua Simanjuntak)

H. Muhammad Nuh: Konsolidasi Umat dan Politik Substansial Kunci Memperkuat Solidaritas Islam di Sumut

0

muisumut.or.id., Medan, 1 November 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025 di Grand Inna Hotel Medan, Jumat–Sabtu (31 Oktober–1 November 2025). Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi para ulama, akademisi, dan pimpinan organisasi masyarakat Islam untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus membangun solidaritas umat di Sumatera Utara.

Kegiatan dua hari ini mengusung tema, “Memperkuat Soliditas Umat untuk Membangun Peradaban Islam yang Maju dan Berkah.” Dalam kesempatan tersebut, Ketua PW Persis Sumatera Utara, H. Muhammad Nuh, MsP, menyampaikan pandangannya tentang peran umat Islam dalam sejarah dan dinamika politik kontemporer.

Menurut Muhammad Nuh, umat Islam memiliki kontribusi besar dalam memerdekakan Indonesia, di antaranya melalui Resolusi Jihad yang kemudian menjadi dasar Hari Santri Nasional. Ia menyinggung keberanian Bung Tomo yang memekikkan takbir pada 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Dalam konteks politik, Muhammad Nuh membagi politik menjadi dua kategori: substansial dan prosedural. Politik substansial menurutnya mengandung banyak kesamaan kepentingan umat Islam, sementara politik prosedural sering menghadapi kendala teknis dan dinamika yang cepat. “Politik substansial harus terus berlanjut, dibarengi politik prosedural yang dinamis. Dengan munculnya partai-partai bernuansa Islam, sikap kita harus menerima realita ini seperti halnya kita menghormati perbedaan mazhab,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya konsolidasi umat dalam pembangunan, di mana setiap pihak harus terlibat sesuai kapasitas dan kontribusinya. Dinamika politik harus disikapi secara cepat dan proaktif. Contohnya, jika Nias menjadi provinsi baru, MUI di daerah tersebut harus siap menghadapi perubahan dan memastikan layak menjadi provinsi.

Muhammad Nuh menambahkan bahwa MUI Sumut perlu bersikap proaktif dalam dunia politik, termasuk dengan memanggil politisi Muslim agar kekuatan umat Islam tidak hanya berupa moral dan sosial, tetapi juga politik.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tukar gagasan antarulama dan tokoh Muslim, memperkuat jaringan kolaborasi umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan di Sumatera Utara.

Perkuat Solidaritas Umat, Al Ittihadiyah Dorong Aksi Nyata di Masjid, Pesantren, dan Lembaga Islam

0

muisumut.or.id, Medan, 1 November 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan Pertemuan Silaturrahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025 di Grand Inna Hotel Medan, Jumat–Sabtu (31 Oktober–1 November 2025). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat solidaritas umat Islam melalui penguatan institusi sosial dan budaya Islam.

Assoc. Prof. Dr. Mursal Aziz, M.Pd, Ketua PW Al Ittihadiyah Sumatera Utara sekaligus perwakilan DPW Al Ittihadiyah, menyampaikan gagasan dan aksi strategis dalam membangun solidaritas umat Islam. Menurutnya, solidaritas umat Islam bukan sekadar ajaran moral, tetapi merupakan perintah teologis dan strategi peradaban, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Hujurat ayat 10. “Ini adalah kekuatan umat Islam untuk menghadapi tantangan zaman,” tegasnya.

Dr. Mursal menyoroti beberapa tantangan yang saat ini dihadapi umat Islam, termasuk perpecahan sosial, perbedaan mazhab, polarisasi politik, minimnya sinergi antar-lembaga Islam, serta pengaruh globalisasi dan budaya digital. Ia menekankan urgensi membangun kembali solidaritas melalui institusi sosial dan budaya Islam sebagai aksi nyata umat.

Ia menjelaskan bahwa pilar utama institusi Islam meliputi masjid sebagai pusat peradaban, pesantren dan madrasah sebagai pusat pendidikan, majelis taklim dan organisasi kemasyarakatan Islam, serta lembaga zakat dan wakaf. Aksi nyata yang disarankan mencakup gerakan ekonomi masjid, forum kolaborasi antar-institusi Islam, program literasi budaya Islam, serta digitalisasi dakwah untuk menjangkau masyarakat luas

Pertemuan ini dihadiri para ulama, tokoh, cendekiawan, serta pimpinan lembaga Islam di Sumatera Utara. Diskusi dan tukar gagasan menjadi fokus utama, memperkuat sinergi lintas institusi demi terciptanya umat Islam yang solid, berdaya, dan berperan dalam pembangunan peradaban

Membangun Soliditas Umat Islam melalui Dakwah dan Moral, Dr. Hasnan Syarief Pangabean Beri Paparan Strategis

muisumut.or.id – Medan, 1 November 2025 – Dr. H. Hasnan Syarief Pangabean, M.Pd, Ketua PW Mathlaul Anwar Provinsi Sumatera Utara, menekankan pentingnya gagasan dan aksi strategis dalam membangun soliditas umat Islam melalui dakwah dan pembinaan moral dalam Pertemuan Silaturrahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara di Grand Inna Hotel Medan, Jumat–Sabtu (31 Oktober–1 November 2025).

Dalam paparannya, Dr. Hasnan yang juga merupakan Dewan Pertimbangan MUI Sumut menyampaikan bahwa umat Islam saat ini menghadapi tantangan besar dari berbagai arus ideologi dan fenomena sosial, termasuk kapitalisme, komunisme, sekularisme, serta berbagai praktik masyarakat yang menjauhkan umat dari ajaran Islam, seperti judi, narkoba, dan perilaku korup. Menurutnya, dakwah dan pendidikan Islam melalui Majelis Taklim, Lembaga Dakwah, dan Lembaga Pendidikan menjadi solusi utama dalam menghadapi tantangan tersebut.

Gagasan dan Aksi Strategis yang disampaikan Dr. Hasnan menekankan pentingnya membangun soliditas — keteguhan, integritas, dan kekuatan karakter—di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa soliditas umat Islam lahir dari pemahaman mendalam terhadap Al-Qur’an dan Hadis, diikuti oleh pengamalan yang menghasilkan iman, ihsan, dan pembinaan moral yang menyeluruh.

Dalam menghadapi tantangan internal, seperti fanatisme golongan, rendahnya pemahaman agama, lemahnya ukhuwah Islamiyah, dan intervensi kepentingan politik atau ekonomi, Dr. Hasnan menekankan kembali pada model dakwah Rasulullah di periode Makkah. Ia menekankan pentingnya meneladani strategi Rasulullah yang mengedepankan ilmu, akhlak, dan iman dalam membentuk pribadi Muslim yang kuat, jujur, disiplin, dan adil.

Sementara itu, tantangan eksternal, seperti arus informasi global, media sosial, isu Islamofobia, dan ketidakadilan politik ekonomi global, dapat diatasi dengan inspirasi dari hijrah Rasulullah ke Madinah. Dr. Hasnan menjelaskan bagaimana manajemen hijrah yang matang, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi, menghasilkan umat yang solid dan masyarakat Madinah yang harmonis serta produktif. Masjid Quba dan Masjid Nabawi, menurutnya, menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial yang menumbuhkan solidaritas di antara Muhajirin dan Anshor.

Dr. Hasnan juga menekankan strategi dakwah kontemporer yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk:

Metode dakwah: bil-Hikmah, Mau’idzah Hasanah, dan Mujadalah bil-lati hiya ahsan;

Media dakwah: lisan, perbuatan nyata (bil-hal), dan tulisan (bit-tadwin);

Pelaksanaan dakwah: individu, kelompok, jama’iyah, media massa, dan pendidikan formal maupun non-formal.

Ia menekankan bahwa materi dakwah harus memadukan penguasaan Al-Qur’an, Hadis, hukum agama, kearifan lokal, serta kemampuan IT dan bahasa global agar umat Islam memiliki daya saing global.

Sebagai penutup, Dr. Hasnan mengutip QS. 6:82 dan QS. 49:10, yang menegaskan bahwa soliditas umat lahir dari iman yang murni tanpa kezaliman, dan solidaritas diwujudkan melalui perbaikan hubungan persaudaraan, saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan saling mendukung dalam membangun peradaban Islam yang maju dan berkah.

Pertemuan ini menjadi momen strategis bagi para ulama, tokoh, dan cendekiawan Muslim Sumatera Utara untuk meninjau kembali gagasan dan langkah konkret dalam dakwah dan pembinaan moral, guna memperkuat umat Islam menghadapi tantangan internal maupun eksternal di era kontemporer.

Dr. Abdul Hamid Ritonga, MA: Sinergi Organisasi Kunci Memperkuat Solidaritas Umat Islam

0

muisumut.or.id., Medan, 1 November 2025 – Pada acara Pertemuan Silaturrahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim yang berlangsung di Grand Inna Hotel Medan pada 31 Oktober hingga 1 November 2025, Dr. Abdul Hamid Ritonga, MA, mewakili PWNU Sumatera Utara, menyampaikan gagasan dan aksi strategis dalam memperkuat solidaritas umat Islam melalui sinergi organisasi dan kelembagaan umat.

Dalam paparan yang disampaikan, Dr. Abdul Hamid menyoroti beberapa akar permasalahan kurangnya soliditas umat Islam. Pertama, masih kuatnya ego sektoral antarorganisasi yang menghambat kerja sama. Kedua, lemahnya komunikasi dan koordinasi antar lembaga. Ketiga, adanya persaingan tidak sehat terkait sumber daya manusia, politik, dan ekonomi. Keempat, masih rendahnya kesadaran bahwa persatuan umat adalah bagian dari maqashid syari’ah yang harus dijaga.

Dr. Abdul Hamid menekankan peran strategis Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam memperkuat persatuan umat. Menurutnya, MUI berfungsi sebagai:

  1. Lembaga koordinatif dan pemersatu umat.
  2. Jembatan antar ormas, akademisi, dan pemerintah, serta memperjuangkan aspirasi keumatan.
  3. Penjaga moral, penengah perbedaan, dan penggerak kolaborasi program umat Islam
  4. Penguat posisi umat Islam sebagai kekuatan moril dan sosial yang konstruktif di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gagasan ini mendapat perhatian peserta pertemuan, yang terdiri dari ulama, tokoh masyarakat, akademisi, dan pimpinan organisasi Islam di Sumatera Utara, sebagai langkah konkret untuk memperkuat solidaritas umat dan membangun sinergi yang lebih nyata antar organisasi keagamaan.

Kyaiprener Putrama Alkhair: Dakwah Ekonomi Umat Harus Direkonstruksi Kembali

muisumut.or.id., Medan, 1 November 2025 – Sekretaris Bidang Ekonomi sekaligus Ketua Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, Putrama Alkhair, menyampaikan gagasan penting tentang perlunya rekonstruksi dakwah ekonomi umat. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam sesi tausiyah dan tukar ide serta gagasan usai shalat Subuh, pada kegiatan Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim MUI Sumut di Grand Inna Hotel Medan, Sabtu (1/11/2025).

Putrama menjelaskan bahwa fakta ekonomi umat Islam saat ini mengkhawatirkan, karena meskipun jumlah umat mayoritas, namun belum mampu menguasai sektor ekonomi. “Kita perlu merekonstruksi ulang dakwah ekonomi. Kita harus menguatkan sebagian cendekiawan dan dai agar memahami bahwa berbicara ekonomi bukan hanya urusan dunia, tapi juga urusan akhirat,” ujarnya.

Menurutnya, perlu evaluasi mendalam terhadap strategi pemberdayaan ekonomi umat agar semangat dan ghirah ideologi ekonomi Islam dapat kembali menggelora. Ia menilai, di tengah keberadaan berbagai instrumen keuangan syariah seperti bank syariah, masih banyak tantangan pada aspek implementasi.

Gubernur BI sudah mendorong ekonomi syariah, kita punya bank syariah, tapi problemnya siapa penumpangnya? Banyak hotel runtuh, Garuda goyah, tapi kita seolah menganggapnya hal biasa. Padahal ini fakta yang seharusnya membuat kita khawatir,” ungkap Putrama.

Ia juga menyinggung refleksi atas pergerakan ekonomi umat yang pernah muncul melalui semangat 212. “Ketika gerakan itu gagal, kita tidak melakukan evaluasi. Padahal itu momentum besar yang seharusnya menjadi pelajaran untuk membangkitkan ekonomi umat,” tambahnya.

Kegiatan tausiyah dan tukar gagasan setelah shalat Subuh ini memang menjadi tradisi khas MUI Sumatera Utara, di mana setiap momentum kegiatan subuh berjamaah selalu dimanfaatkan sebagai ruang bertukar ide, memperkuat ukhuwah, dan menumbuhkan kesadaran kolektif dalam membangun peradaban umat.

Prof. Dr. Fachruddin Azmi: Pendidikan Islam Harus Melahirkan Muslim yang Kokoh dan Berperadaban

muisumut.or.id, Medan, 1 November 2025 – Ketua Bidang Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara), Prof. Dr. Fachruddin Azmi, MA, menegaskan pentingnya membangun pendidikan Islam yang mampu melahirkan generasi Muslim yang kokoh dalam iman dan berperadaban tinggi. Hal ini disampaikannya dalam sesi tanya jawab dan tukar ide serta gagasan setelah pelaksanaan salat Subuh berjamaah pada kegiatan Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025, di Grand Inna Hotel Medan, Sabtu (1 November 2025).

Kegiatan yang dipandu oleh Prof. Dr. Hasan Bakti Nasution, MA tersebut menjadi ajang bertukar pikiran antarulama dan cendekiawan mengenai arah penguatan soliditas umat dan peradaban Islam. Tradisi momen Subuh berjamaah yang dirangkai dengan tausiyah serta pertukaran ide ini memang sudah menjadi kebiasaan MUI Sumatera Utara setiap kali mengadakan kegiatan besar, sebagai bentuk refleksi spiritual dan intelektual para ulama.

Dalam pandangannya, Prof. Fachruddin menilai bahwa silaturahim para ulama dan tokoh Islam bukan sekadar pertemuan, tetapi wadah penting untuk menggali hikmah dalam merumuskan kebijakan dan langkah strategis umat ke depan. Ia menjelaskan bahwa peradaban Islam mencakup delapan aspek besar—ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan ilmu pengetahuan—yang menurutnya belum tergarap optimal.

“Dalam implementasi ideologi Pancasila, umat Islam justru sering tersudut oleh pihak-pihak yang tidak memahami nilai dasarnya. Umat Islam kehilangan posisi penting dalam mengisi peradaban karena lemahnya iman dan akidah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya kekosongan hukum di Indonesia yang menyebabkan sebagian umat tidak terlindungi, serta lemahnya sistem pendidikan dalam membentuk karakter Muslim yang kuat. “Kita punya banyak sekolah, madrasah, dan pesantren, tapi belum berhasil melahirkan Muslim yang kokoh keimanannya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam keluarganya. Ini perlu kritik total terhadap pendidikan kita,” tegasnya.

Menurutnya, persoalan umat tidak hanya bersumber dari sistem, melainkan dari perilaku manusia itu sendiri. “Masalahnya bukan pada sistem, tapi pada manusianya. Karena itu Rasulullah SAW bersabda ibda’ binafsik — mulailah dari dirimu sendiri,” ungkapnya.

Menutup tausiyahnya, Prof. Fachruddin mengajak agar generasi muda lebih aktif menghidupkan masjid. “Di setiap masjid sudah ada kajian Subuh, tapi yang hadir kebanyakan orang tua. Bagaimana dengan anak muda kita? Hati mereka seharusnya melekat di masjid,” ujarnya mengingatkan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025 yang diselenggarakan MUI Sumut selama dua hari (31 Oktober–1 November 2025) dengan tema “Memperkuat Soliditas Umat untuk Membangun Peradaban Islam yang Maju dan Berkah.”

Ustaz Salman Tanjung Ajak Peserta Silaturahim Ulama MUI Sumut Tingkatkan Iman dan Hindari Sifat Ahmaq

muisumut.or.id, Medan, 1 November 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025 di Grand Inna Hotel Medan, Jumat–Sabtu (31 Oktober–1 November 2025). Kegiatan dua hari ini menjadi ajang konsolidasi para ulama, akademisi, dan pimpinan ormas Islam dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membangun soliditas umat di Sumatera Utara.

Mengusung tema “Memperkuat Soliditas Umat untuk Membangun Peradaban Islam yang Maju dan Berkah,” kegiatan tersebut diisi dengan berbagai sesi dialog, tausiyah, dan diskusi kebangsaan. Pada Sabtu (1/11) pagi, peserta memanfaatkan waktu setelah Salat Subuh untuk mendengarkan tausiyah dan bertukar pikiran bersama Ustaz H. Salman Tanjung, Lc, M.A., Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan.

Dalam ceramahnya, Ustaz Salman mengingatkan tentang tanda-tanda lemahnya iman sebagaimana disampaikan Anas bin Malik. “Di antara tanda lemahnya iman adalah ketika seseorang berusaha mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, memuja orang lain karena rezeki yang mereka miliki, atau membenci mereka hanya karena perbedaan rezeki, padahal mereka tidak menyakitimu,” ujarnya.

Beliau juga mengangkat istilah ahmaq yang dalam literatur Islam berarti “orang dungu,” yakni seseorang yang bermaksud melakukan kebaikan namun justru menimbulkan keburukan. “Kata dungu sudah lama dikenal dalam literatur Islam. Orang ahmaq adalah orang yang tahu sesuatu itu salah tapi tetap melakukannya. Mereka juga banyak berjanji namun tidak menepatinya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ustaz Salman menegaskan bahwa kekuatan iman dapat dilihat dari empat aspek utama, yaitu:

  1. Keyakinan terhadap perintah Allah, yang jika diragukan menunjukkan lemahnya iman.
  2. Ketaatan terhadap larangan Allah dan keyakinan terhadap amar makruf nahi mungkar.
  3. Ketakutan terhadap ancaman Allah.
  4. Kepercayaan terhadap janji Allah bagi hamba-Nya yang taat.

Semoga kita tidak termasuk golongan ahmaq, tetapi menjadi Ahmad — orang yang terpuji di sisi Allah,” tutupnya di hadapan para peserta.

Pertemuan Silaturahim ini menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di antara para ulama dan cendekiawan Muslim untuk terus berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang berkeadaban dan membawa keberkahan bagi masyarakat Sumatera Utara.

Dr. Dedi Iskandar Batubara: Ketahanan Keluarga Pilar Utama Membangun Peradaban Islam

muisumut.or.id, Medan | 31 Oktober 2025 – “Keluarga adalah fondasi peradaban Islam,” demikian ditegaskan Dr. Dedi Iskandar Batubara dalam sesi diskusi Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025 yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara di Grand Inna Hotel Medan, Jumat–Sabtu (31 Oktober–1 November 2025). Menurutnya, penguatan ketahanan keluarga merupakan kunci dalam membangun solidaritas dan kemajuan umat Islam di Sumatera Utara.

Dalam pemaparannya yang bertajuk “Solidaritas Umat Islam melalui Penguatan Keluarga dan Masyarakat Islam Perspektif Organisasi Al Washliyah”, Dr. Dedi menekankan bahwa keluarga memiliki fungsi strategis sebagai basis pembentukan peradaban. “Peradaban besar lahir dari keluarga yang kuat secara akidah, akhlak, dan syariah,” ujarnya.

Ia menjelaskan tiga pilar utama dalam ketahanan keluarga, yakni pilar akidah, pilar akhlak, dan pilar syariah. Akidah, menurutnya, memberi arah dan tujuan hidup yang jelas bagi seluruh anggota keluarga. Sementara akhlak yang mulia membentuk karakter dan etika sosial, serta ketaatan terhadap syariah menjadi dasar dalam menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Dr. Dedi menguraikan bahwa ketahanan keluarga dalam Islam tidak hanya mencakup dimensi spiritual, tetapi juga dimensi psikologis, sosial, dan ekonomi. Keluarga yang tangguh, katanya, akan melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak.

“Dalam perspektif hukum Islam, urgensi menjaga keluarga juga tercermin dalam maqāṣid al-syarī‘ah – tujuan utama penerapan syariat Islam yang menekankan perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta,” tambahnya.

Kegiatan silaturahim yang digelar MUI Sumut ini menjadi wadah strategis bagi para ulama, tokoh, dan cendekiawan Muslim untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, membangun sinergi lintas organisasi Islam, serta meneguhkan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan sosial keumatan di Sumatera Utara.

Prof. Dr. Hasyimsyah Nasution: Pendidikan dan Soliditas Umat Jadi Pilar Peradaban Islam Maju

muisumut.or.id, Medan, 31 Oktober 2025 – Ketua PW Muhammadiyah Sumatera Utara, Prof. Dr. Hasyimsyah Nasution, MA, menegaskan bahwa pendidikan dan soliditas umat merupakan dua pilar utama dalam membangun peradaban Islam yang maju dan berkah. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi diskusi bersama tokoh dan ulama pada kegiatan Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara di Grand Inna Hotel Medan, Jumat–Sabtu (31 Oktober–1 November 2025).

Dalam paparannya bertema “Pendidikan dan Ekonomi Umat,” Prof. Hasyimsyah menjelaskan bahwa hakikat pendidikan tidak sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan peradaban umat. “Pendidikan harus dikelola secara menyeluruh melalui peran lembaga, pengelola terutama guru, dukungan kebijakan, dana, serta sarana dan prasarana yang memadai,” ujarnya.

Menurutnya, lembaga pendidikan Islam perlu membangun academic atmosphere yang kuat dengan menumbuhkan budaya literasi dan numerasi di lingkungan belajar. Ia menegaskan, guru memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan produktif.

Selain membahas aspek pendidikan, Prof. Hasyimsyah juga menekankan pentingnya solidalitas umat dalam memperkuat kekuatan Islam di tengah perubahan sosial yang cepat. Ia menyebut bahwa kekompakan dan ikatan yang kuat dalam organisasi harus dilandasi oleh empat unsur perekat: perasaan yang sama, tujuan yang sama, kepentingan yang sama, serta perlakuan yang adil antaranggota.

“Solidalitas bukan sekadar kebersamaan, tetapi merupakan energi moral yang tumbuh dari kesamaan visi dan komitmen memperjuangkan kemaslahatan umat,” ungkapnya.

Sesi diskusi yang dipandu secara interaktif tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim yang diinisiasi MUI Sumut. Kegiatan ini mengusung tema “Memperkuat Soliditas Umat untuk Membangun Peradaban Islam yang Maju dan Berkah,” dan menjadi forum konsolidasi strategis antara ulama, akademisi, serta pimpinan ormas Islam di Sumatera Utara dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah dan membangun sinergi peradaban umat.