Sunday, August 30, 2026
spot_img
Home Blog Page 10

Seminar Nasional Penguatan Ekonomi dan Bisnis Umat, MUI Sumut Dorong Kemandirian dan Kebangkitan Ekonomi Umat

Medan, muisumut.or.id., 16  Juli 2026 – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, membuka secara resmi Seminar Nasional Penguatan Ekonomi dan Bisnis Umat yang diselenggarakan MUI Sumut dalam rangkaian Gebyar Muharram 1448 Hijriah sekaligus menjadi bagian dari persiapan menuju Kongres Umat Islam yang akan digelar di Jakarta.

Dalam sambutannya, Maratua Simanjuntak menegaskan bahwa seminar tersebut merupakan salah satu ikhtiar MUI Sumut untuk memperkuat peran umat Islam dalam bidang ekonomi melalui kolaborasi berbagai elemen umat.

Ia mengungkapkan bahwa peringatan 1 Muharram 1448 H tahun ini tidak hanya diisi dengan seminar, tetapi juga berbagai kegiatan yang melibatkan ribuan umat Islam di Sumatera Utara.

“Hari ini kita berkumpul dalam jumlah yang terbatas untuk mengikuti seminar. Namun kemarin kita berhasil mengumpulkan simpul-simpul umat Islam dalam kegiatan Gebyar Muharram yang dihadiri lebih dari 2.500 orang. Ada gerak jalan sehat, bazar UMKM, berbagai perlombaan, serta kegiatan sosial dan keagamaan lainnya yang menjadi bagian dari upaya membangun dan menguatkan umat,” ujarnya.

Menurut Maratua, penyelenggaraan bazar UMKM dalam rangkaian Gebyar Muharram merupakan bentuk nyata komitmen MUI Sumut dalam mendorong penguatan ekonomi umat Islam. Karena itu, tema ekonomi dipilih sebagai salah satu agenda penting dalam peringatan Tahun Baru Hijriah tahun ini.

Ia juga menegaskan bahwa salah satu prinsip yang terus dikedepankan MUI Sumut adalah kemandirian organisasi dengan melibatkan partisipasi luas dari berbagai elemen umat.

“Yang terpenting, semua kegiatan ini kita lakukan dengan semangat kemandirian. Sejak pengukuhan kepengurusan, pelaksanaan Mukerda, hingga Gebyar Muharram dan seminar hari ini, MUI Sumut berupaya membangun kemandirian dengan melibatkan berbagai elemen umat Islam. Kita bermitra dengan organisasi Islam, pengusaha, pengurus masjid, pesantren, akademisi, dan berbagai komponen umat sebagaimana yang hadir dan kita ajak berdialog pada seminar ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, Prof. Abdullah, menjelaskan bahwa seminar diikuti oleh enam segmen strategis yang memiliki peran penting dalam penguatan ekonomi umat.

Segmen pertama terdiri dari MUI Sumut dan MUI kabupaten/kota se-Sumatera Utara. Segmen kedua berasal dari kalangan pengusaha Muslim, termasuk pelaku usaha besar seperti sektor perhotelan. Segmen ketiga adalah pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) yang telah mengembangkan usaha produktif, di antaranya pengelola Masjid Al Makruf dan Masjid Al Hidayah.

Selanjutnya, segmen keempat berasal dari organisasi kemasyarakatan Islam yang diharapkan mampu melahirkan produk dan unit usaha umat. Segmen kelima adalah para pimpinan pondok pesantren yang membutuhkan penguatan rantai produksi dan pengembangan usaha berbasis pesantren. Sedangkan segmen keenam diikuti pimpinan Fakultas Ekonomi dari berbagai perguruan tinggi untuk menjembatani teori ekonomi dengan praktik bisnis dan pemberdayaan masyarakat.

Prof. Abdullah mengatakan seminar ini menjadi bagian penting dari rangkaian Kongres Umat Islam yang akan dilaksanakan di Jakarta pada Juli mendatang.

Menurutnya, terdapat persoalan besar yang harus dijawab bersama. Umat Islam merupakan mayoritas di Sumatera Utara dengan jumlah sekitar 66 persen dari total penduduk, sementara di Kota Medan mencapai sekitar 69,8 persen.

“Pertanyaannya adalah mengapa umat Islam yang merupakan mayoritas masih belum menjadi kekuatan dominan dalam praktik ekonomi dan dunia bisnis. Inilah yang ingin kita bahas dan carikan solusinya melalui seminar ini,” ujarnya.

Seminar menghadirkan dua narasumber utama, yakni Firsal Dirdaus Mutyara dan Asrul Tanjung. Keduanya membahas strategi penguatan ekonomi umat melalui sinergi antara dunia usaha, lembaga keagamaan, masjid, pesantren, organisasi Islam, dan perguruan tinggi.

Melalui Seminar Nasional Penguatan Ekonomi dan Bisnis Umat ini, MUI Sumut berharap lahir rekomendasi strategis dan gerakan bersama yang mampu memperkuat kemandirian ekonomi umat, sehingga mayoritas umat Islam tidak hanya terlihat dari jumlah penduduk, tetapi juga tercermin dalam kekuatan ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.

Wamenag RI Apresiasi Kemandirian MUI Sumut dalam Gebyar Muharram 1448 H

Medan, muisumut.or.id., 16 Juni 2026 – Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum, menghadiri dan memberikan sambutan dalam kegiatan Gebyar Muharram 1448 Hijriah yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara. Dalam kesempatan tersebut, Wamenag menegaskan pentingnya menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum memperkuat peran umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di hadapan peserta yang terdiri dari ulama, tokoh masyarakat, akademisi, dan berbagai elemen umat Islam, Wamenag menyampaikan bahwa Muharram bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender hijriah, tetapi menjadi momentum muhasabah, tajdid (pembaruan), dan penguatan spirit keislaman untuk terus melakukan berbagai kebaikan dan kemaslahatan bagi umat.

“Muharram harus menjadi momentum evaluasi diri, memperbarui semangat perjuangan, dan memperkuat komitmen untuk menghadirkan kebaikan serta kebenaran di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Romo Muhammad Syafi’i juga menyoroti berbagai isu keumatan dan kebangsaan. Ia menegaskan bahwa pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, stigma yang selama ini kerap mengaitkan istilah terorisme dengan Islam tidak boleh lagi terjadi.

Menurutnya, Islam adalah agama yang membawa rahmat, perdamaian, dan kemaslahatan sehingga tidak tepat jika dikaitkan dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu.

Selain itu, Wamenag juga mengapresiasi penyelenggaraan ibadah haji yang menurutnya semakin baik dan terorganisir. Berbagai perbaikan pelayanan terus dilakukan pemerintah untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi jamaah haji Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Wamenag memberikan apresiasi khusus kepada MUI Sumatera Utara yang dinilainya mampu menyelenggarakan Gebyar Muharram secara mandiri.

“Kegiatan ini menunjukkan kemandirian MUI. Pelaksanaan Gebyar Muharram tidak bergantung pada dana APBD, tetapi dapat terlaksana dengan baik melalui dukungan dan partisipasi umat. Ini patut diapresiasi,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa MUI memiliki posisi strategis sebagai mitra umat dan pemerintah. Karena itu, MUI harus terus menjalankan fungsi himayatul ummah (melindungi umat), menjadi shadiqul hukumah (mitra kritis dan konstruktif pemerintah), sekaligus berperan dalam mendorong penguatan ekonomi umat.

Menurutnya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap MUI saat ini sangat tinggi sehingga harus dijaga dengan kerja-kerja nyata yang memberikan manfaat langsung bagi umat.

“Hari ini umat memberikan kepercayaan yang luar biasa kepada MUI. Kepercayaan itu harus dijawab dengan pengabdian, pelayanan, dan keberpihakan kepada kepentingan umat,” ungkapnya.

Wamenag juga menyatakan kesediaannya untuk menjadi penghubung aspirasi umat kepada pemerintah pusat. Ia menegaskan bahwa berbagai masukan dan kebutuhan umat akan terus diperjuangkan melalui jalur komunikasi yang baik antara ulama dan pemerintah.

Dalam pandangannya, konsep Maqashid Syariah dapat menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antara pemerintah dan ulama dalam merumuskan kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

“Maqashid Syariah harus menjadi titik temu antara pemerintah dan ulama. Dengan pendekatan tersebut, berbagai kebijakan dapat diarahkan untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta demi kemaslahatan bangsa dan umat,” tegasnya.

Kegiatan Gebyar Muharram 1448 H MUI Sumatera Utara menjadi salah satu agenda syiar Islam yang menghadirkan berbagai kegiatan keagamaan, edukasi, dan pemberdayaan umat sebagai bagian dari upaya menyambut Tahun Baru Islam dengan semangat persatuan, pembaruan, dan kebangkitan umat.

Ketua Umum MUI Sumut Dorong Kemandirian Organisasi dan Kolaborasi Aghniya dalam Gebyar Muharram 1448 H

Medan, muisumut.or.id, 16  Juni 2026 – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menegaskan pentingnya membangun kemandirian organisasi serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen umat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan bersama. Hal tersebut disampaikannya dalam rangkaian kegiatan Gebyar Muharram 1448 Hijriah yang diselenggarakan MUI Sumatera Utara di Medan.

Dalam sambutannya, Maratua menyampaikan bahwa MUI harus terus berkembang menjadi organisasi yang mandiri, profesional, dan mampu menjalankan berbagai program keumatan secara berkelanjutan. Menurutnya, kemandirian organisasi merupakan salah satu kunci agar MUI dapat menjalankan fungsi pelayanan, pembinaan, dan pemberdayaan umat secara optimal.

“MUI Sumatera Utara harus terus bergerak menuju kemandirian. Dengan kemandirian tersebut, MUI akan semakin kuat dalam melaksanakan program-program yang bermanfaat bagi umat, baik di bidang dakwah, pendidikan, sosial, maupun ekonomi,” ujarnya.

Ia juga mengajak kalangan aghniya atau umat Islam yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkolaborasi dan berpartisipasi dalam mendukung berbagai program MUI Sumatera Utara. Menurutnya, keterlibatan para dermawan dalam kegiatan keumatan merupakan bagian dari amal saleh yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya kepada para aghniya untuk berkolaborasi bersama MUI. Ini menjadi kesempatan untuk berkontribusi dalam pembangunan umat sekaligus menjadi ladang amal yang bernilai di sisi Allah SWT,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Maratua Simanjuntak juga menegaskan bahwa MUI merupakan lembaga yang memiliki landasan hukum yang kuat dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Ia merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 151 Tahun 2014 tentang Bantuan Pendanaan Kegiatan Majelis Ulama Indonesia yang menegaskan posisi dan peran strategis MUI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, dalam Peraturan Presiden tersebut disebutkan bahwa MUI merupakan wadah musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim dalam mengayomi umat serta mengembangkan kehidupan yang Islami.

“Peraturan Presiden Nomor 151 Tahun 2014 menegaskan bahwa MUI adalah wadah musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim dalam mengayomi umat serta mengembangkan kehidupan yang Islami. Ini menunjukkan bahwa MUI memiliki posisi yang strategis dalam kehidupan umat dan bangsa,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Maratua, regulasi tersebut juga menegaskan bahwa MUI merupakan mitra pemerintah dalam penyelenggaraan program pembangunan dan pengembangan kehidupan yang Islami. Karena itu, MUI memiliki tanggung jawab besar untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai program keumatan.

“MUI bukan hanya hadir untuk memberikan fatwa dan bimbingan keagamaan, tetapi juga menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan nasional, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan dan kemaslahatan umat,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Maratua mengapresiasi suksesnya pelaksanaan Gebyar Muharram 1448 H yang terlaksana berkat dukungan pengurus, panitia, donatur, dan berbagai elemen masyarakat. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi bukti nyata kuatnya semangat kebersamaan umat dalam mendukung syiar Islam.

Menurutnya, Muharram harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, memperbaharui semangat perjuangan, dan meningkatkan kontribusi umat dalam pembangunan bangsa.

“Gebyar Muharram ini menunjukkan bahwa ketika ulama, umara, cendekiawan, pengusaha, dan masyarakat bersinergi, maka akan lahir banyak program yang membawa manfaat bagi umat. Semangat inilah yang harus terus kita jaga dan kembangkan,” pungkasnya.

Kegiatan Gebyar Muharram 1448 H MUI Sumatera Utara menjadi salah satu agenda syiar Islam yang menghadirkan berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan umat sebagai bagian dari upaya menyambut Tahun Baru Islam dengan semangat hijrah, persatuan, dan kebangkitan umat.

2.600 Kupon Lucky Draw Habis Dibagikan, Semarak Muharram 1448 H di MUI Sumut Lampaui Prediksi Panitia

Medan, muisumut.or.id., 16 Juni 2026 – Perayaan Muharram 1448 Hijriah yang diselenggarakan di kompleks Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berlangsung meriah dan mencatat antusiasme masyarakat yang sangat tinggi. Jumlah peserta yang hadir jauh melampaui perkiraan panitia. Bahkan, sebanyak 2.600 kupon lucky draw habis dibagikan, menandakan besarnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan yang dipusatkan di gedung dan pelataran MUI Sumut tersebut.

Ketua Panitia, Prof. Dr. M. Jamil, MA, mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan kegiatan yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Menurutnya, jumlah peserta yang hadir berada di luar prediksi panitia. Sejak pagi hari, ribuan masyarakat dari berbagai daerah memadati lokasi acara untuk mengikuti rangkaian kegiatan Muharram 1448 H yang meliputi gerak jalan sehat, perlombaan gerak jalan, bazar UMKM, kegiatan keagamaan, serta pengundian hadiah.

“Alhamdulillah, kegiatan Muharram 1448 H tahun ini mendapat sambutan yang luar biasa. Antusiasme masyarakat benar-benar di luar prediksi panitia. Sebanyak 2.600 kupon lucky draw yang kami siapkan habis dibagikan kepada peserta yang hadir,” ujar Prof. Dr. M. Jamil, MA.

Meski demikian, panitia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta atas keterbatasan fasilitas yang tersedia akibat membludaknya jumlah pengunjung.

“Kami menyampaikan rasa syukur sekaligus memohon maaf apabila ada bapak dan ibu yang kurang nyaman selama mengikuti kegiatan. Karena jumlah peserta yang hadir sangat besar, ada yang mendapatkan tempat duduk di kursi, ada yang menempati area masjid, bahkan ada yang harus duduk di lantai. Kami berharap hal tersebut tidak mengurangi semangat kebersamaan dalam menyambut Tahun Baru Islam,” katanya.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian besar adalah gerak jalan sehat yang diikuti ribuan peserta dari berbagai kalangan masyarakat. Selain itu, panitia juga menggelar perlombaan gerak jalan yang diikuti oleh 13 peserta atau kelompok peserta dari berbagai instansi, organisasi, dan komunitas.

Kegiatan semakin semarak dengan hadirnya 30 peserta bazar yang menampilkan beragam produk kuliner, kerajinan, busana muslim, serta produk usaha mikro dan kecil. Kehadiran bazar tidak hanya menambah kemeriahan acara, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Untuk menambah kemeriahan perayaan Muharram 1448 H, MUI Sumut melalui Bidang Infokomdigi juga menyelenggarakan Lomba Video Reels Instagram. Kompetisi ini mengajak masyarakat dan peserta kegiatan untuk mendokumentasikan berbagai momen menarik selama pelaksanaan Muharram 1448 H, mulai dari gerak jalan sehat, bazar UMKM, kegiatan keagamaan, hingga suasana kebersamaan yang tercipta di lingkungan MUI Sumut.

Lomba tersebut mendapat sambutan positif, terutama dari kalangan generasi muda yang aktif di media sosial. Selain menjadi sarana publikasi kegiatan, lomba ini juga bertujuan memperluas syiar Islam melalui konten-konten kreatif dan inspiratif di platform digital.

Para peserta berkesempatan memperebutkan hadiah uang tunai jutaan rupiah yang telah disiapkan panitia bagi karya-karya terbaik. Dengan adanya lomba ini, kemeriahan Muharram tidak hanya dirasakan oleh peserta yang hadir secara langsung, tetapi juga dapat disaksikan masyarakat luas melalui berbagai unggahan di media sosial.

Ketua Panitia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan dukungan besar terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur dan pihak Agiya yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi suksesnya kegiatan Muharram 1448 H ini. Jika dinilai secara materi, nilai dukungan yang diberikan mungkin mencapai lebih dari Rp500 juta. Dukungan tersebut memungkinkan panitia menghadirkan berbagai hadiah dan fasilitas bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai bentuk apresiasi kepada peserta, panitia menyediakan berbagai hadiah menarik dengan nilai yang cukup besar. Hadiah utama yang paling dinantikan adalah empat paket umrah, selain sejumlah hadiah elektronik dan peralatan rumah tangga.

Hadiah-hadiah yang dibagikan antara lain televisi, kulkas, serta berbagai hadiah menarik lainnya yang diperoleh melalui pengundian lucky draw. Momen pengundian hadiah berlangsung meriah dan disambut antusias oleh ribuan peserta yang memadati lokasi acara hingga kegiatan berakhir.

Keberhasilan penyelenggaraan Muharram 1448 H di MUI Sumut menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Dengan habisnya 2.600 kupon lucky draw, terselenggaranya gerak jalan sehat, perlombaan gerak jalan yang diikuti 13 peserta, bazar yang melibatkan 30 pelaku UMKM, serta lomba video reels Instagram berhadiah jutaan rupiah, kegiatan ini menjadi salah satu perayaan Tahun Baru Islam terbesar dan paling meriah di Sumatera Utara tahun ini.

Panitia berharap semangat kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan Muharram 1448 H ini dapat terus dipelihara dan menjadi inspirasi bagi pelaksanaan kegiatan keagamaan serta sosial kemasyarakatan di masa mendatang.

 

 

Peluncuran Kalender Hijriyah 1448 H Jadi Agenda Strategis Gebyar 1 Muharram MUI Sumut

Medan, muisumut.or.id., 15 Juni 2026 – Di tengah semarak pelaksanaan Gebyar 1 Muharram 1448 Hijriyah yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara, terdapat satu agenda penting yang memiliki nilai strategis bagi umat Islam, yakni Peluncuran Kalender Hijriyah 1448 H MUI Sumut.

Peluncuran kalender ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian peringatan Tahun Baru Islam yang berlangsung pada 16–17 Juni 2026 di Kantor MUI Sumatera Utara. Tahun ini menandai tahun ke-17 secara berturut-turut MUI Sumut menerbitkan Kalender Hijriyah, sebuah tradisi ilmiah dan pelayanan keumatan yang hingga kini belum banyak dilakukan secara konsisten oleh lembaga sejenis di Indonesia.

Ketua Lembaga Falakiyah MUI Sumut sekaligus Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut, KH. Dr. Arso, M.Ag, menegaskan bahwa penerbitan kalender Hijriyah bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk tanggung jawab keilmuan dan pelayanan umat dalam memberikan pedoman waktu ibadah yang memiliki landasan syar’i dan konstitusional yang kuat.

Menurutnya, di tengah berkembangnya berbagai gagasan penyatuan kalender Islam global, termasuk konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), umat Islam Indonesia tetap membutuhkan kalender yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia, khususnya dalam penentuan waktu-waktu ibadah.

“Selama 17 tahun terakhir, MUI Sumut secara istiqamah menerbitkan Kalender Hijriyah sebagai bentuk khidmat kepada umat. Kalender ini disusun berdasarkan kriteria yang menjadi kesepakatan pemerintah dan otoritas keagamaan negara-negara MABIMS, sehingga memiliki dasar syar’i, ilmiah, dan regulatif yang jelas,” ujar KH. Arso.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan Kalender Hijriyah berbasis kriteria MABIMS memiliki landasan yang kuat, antara lain Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah, Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2006 tentang Sidang Isbat, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, serta kesepakatan negara-negara anggota MABIMS yang terdiri dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Menurut KH. Arso, konsep KHGT dapat menjadi bahan kajian dan memiliki manfaat untuk kepentingan muamalah, sosial, ekonomi, administrasi, maupun siyasah. Namun untuk pelaksanaan ibadah yang berkaitan dengan penentuan awal bulan Hijriyah seperti Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, umat Islam Indonesia masih memerlukan kalender yang dibangun berdasarkan kriteria yang telah disepakati secara nasional dan regional.

“KHGT dapat menjadi instrumen untuk kepentingan transaksi sosial dan administrasi umat secara global. Namun dalam konteks pelaksanaan ibadah, Indonesia masih menggunakan sistem yang didasarkan pada kriteria MABIMS yang telah memiliki legitimasi syar’i dan regulatif. Karena itu, penerbitan Kalender Hijriyah MUI Sumut tetap relevan dan sangat dibutuhkan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan pandangan dalam pengembangan kalender Islam merupakan bagian dari dinamika ijtihad yang harus disikapi dengan bijaksana dan penuh ukhuwah.

“Kita menghormati berbagai pandangan dan hasil ijtihad yang berkembang di dunia Islam. Namun bagi Indonesia, selama belum ada kesepakatan global yang benar-benar diterima secara luas oleh seluruh otoritas keagamaan dunia Islam, maka pedoman yang telah menjadi kesepakatan nasional dan regional harus tetap dijaga demi kemaslahatan, persatuan, dan kepastian pelaksanaan ibadah umat,” katanya.

Karena itu, peluncuran Kalender Hijriyah 1448 H pada Gebyar 1 Muharram tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol pergantian tahun baru Islam, tetapi juga menjadi momentum edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memahami sistem penanggalan Islam yang memiliki dasar syariat, astronomi, dan regulasi yang jelas.

Dengan memasuki tahun ke-17 penerbitannya, Kalender Hijriyah MUI Sumut diharapkan terus menjadi rujukan umat Islam Sumatera Utara dalam menjalankan berbagai aktivitas keagamaan sepanjang tahun, sekaligus menjadi kontribusi nyata MUI Sumut dalam menjaga ketertiban dan kesatuan pelaksanaan ibadah umat Islam.

Dokumentasikan Gebyar Muharram 1448 H, MUI Sumut Siapkan Hadiah Jutaan Rupiah untuk Lomba Reels Instagram

Medan, muisumut.or.id., 15 Juni 2026  – Semarak peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara semakin meriah. Selain menyediakan hadiah utama berupa 4 paket umrah, kulkas, televisi, dan ratusan hadiah menarik lainnya dalam rangkaian Gebyar Muharram 1448 H, MUI Sumut juga menyiapkan hadiah uang jutaan rupiah bagi para peserta yang mengikuti Lomba Video Reels Instagram.

Kegiatan yang digagas oleh Bidang Informasi, Komunikasi dan Digitalisasi (Infokomdigi) MUI Sumut ini bertujuan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah dan syiar Islam melalui konten-konten kreatif yang mengangkat semangat hijrah dan kebangkitan umat.

Ketua Bidang Infokomdigi MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, menjelaskan bahwa lomba tersebut merupakan bagian dari upaya MUI Sumut untuk mendokumentasikan sekaligus menyebarluaskan kemeriahan kegiatan Gebyar Muharram 1448 H kepada masyarakat luas.

“Melalui lomba video reels ini, kami ingin mengajak masyarakat menjadi bagian dari syiar Muharram. Peserta dapat mendokumentasikan berbagai kegiatan yang berlangsung selama Gebyar Muharram 1448 H, kemudian mengemasnya secara kreatif dan inspiratif untuk dibagikan melalui media sosial,” ujarnya.

Menurutnya, lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana edukasi dan dakwah digital yang relevan dengan perkembangan zaman. Konten-konten yang dihasilkan diharapkan mampu menyebarkan nilai-nilai hijrah, persatuan, kepedulian sosial, dan semangat membangun peradaban Islam yang harmonis dan penuh keberkahan.

Lomba Video Reels Instagram mengusung tema “Hijrah Menuju Kebangkitan Abad 15 Hijriah yang Harmonis dan Berkah.” Peserta diminta membuat video dokumentasi kegiatan Gebyar Muharram 1448 H yang dilaksanakan pada Selasa, 16 Juni 2026, dengan durasi antara 2 hingga 3 menit.

Panitia menetapkan sejumlah kriteria penilaian, antara lain kesesuaian tema Muharram, kualitas visual dan estetika, kerapian editing, kreativitas dan orisinalitas, kekuatan pesan inspiratif, kualitas audio dan narasi, serta interaksi organik di Instagram. Para pemenang akan ditetapkan dalam kategori Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit dengan total hadiah mencapai jutaan rupiah.

Dr. Akmaluddin menambahkan bahwa kegiatan ini terselenggara atas dukungan Rumah Sakit Sufina Aziz sebagai sponsor utama yang turut berkomitmen mendukung syiar Islam dan penguatan dakwah digital di Sumatera Utara.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Rumah Sakit Sufina Aziz atas dukungannya. Sinergi ini diharapkan dapat menghadirkan kegiatan Muharram yang lebih semarak, edukatif, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” katanya.

Gebyar Muharram 1448 H sendiri akan berlangsung selama dua hari, mulai 16–17 Juni 2026, di Kantor MUI Sumatera Utara. Selain lomba video reels, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan jalan santai, bazar UMKM, tausiyah, santunan sosial, serta pembagian ribuan kupon lucky draw dengan berbagai hadiah menarik.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, MUI Sumut berharap momentum Tahun Baru Islam dapat menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah, membangkitkan semangat hijrah, serta mendorong masyarakat menuju Sumatera Utara yang harmonis, maju, dan penuh keberkahan

Besok, Gebyar Muharram 1448 H MUI Sumut Gelar Gerak Jalan Sehat, Sediakan 2.000 Kupon Lucky Draw dan 2.000 Paket Konsumsi

Medan, muisumut.or.id., 15 Juni 2026 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara akan menggelar Gerak Jalan Sehat dan Parade Gebyar Muharram 1448 Hijriah pada Selasa, 16 Juni 2026, bertepatan dengan 1 Muharram 1448 H. Kegiatan yang dipusatkan di Kantor MUI Sumut, Jalan Majelis Ulama No. 3 Sutomo Ujung Medan ini diperkirakan akan diikuti ribuan peserta dari berbagai kalangan masyarakat, pelajar, mahasiswa, organisasi Islam, dan keluarga besar MUI Sumatera Utara.

Ketua Panitia Gebyar Muharram 1448 H, Prof. Dr. M. Jamil, MA, mengajak seluruh masyarakat untuk hadir dan memeriahkan peringatan Tahun Baru Islam yang dikemas dalam suasana sehat, religius, dan penuh kebersamaan.

“Gebyar Muharram 1448 H ini bukan sekadar kegiatan olahraga, tetapi juga momentum syiar Islam, mempererat ukhuwah, serta membangkitkan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Kami mengundang seluruh masyarakat Sumatera Utara untuk hadir bersama keluarga dan sahabat dalam kegiatan yang penuh manfaat ini,” ujar Prof. Dr. M. Jamil, MA.

Menurutnya, panitia telah menyiapkan berbagai fasilitas dan hadiah menarik untuk peserta. Sebanyak 2.000 kupon lucky draw telah disediakan dengan hadiah utama berupa 4 paket umrah, serta berbagai hadiah lainnya seperti kulkas, televisi, sepeda, dan ratusan hadiah menarik lainnya.

“Insya Allah panitia telah menyiapkan 2.000 kupon lucky draw. Hadiah yang disediakan sangat beragam, mulai dari 4 paket umrah, kulkas, televisi, sepeda, hingga ratusan hadiah hiburan lainnya. Kami berharap ini dapat menambah semangat masyarakat untuk ikut memeriahkan Gebyar Muharram tahun ini,” tambahnya.

Selain itu, panitia juga telah menyiapkan 2.000 paket sarapan pagi dan makan siang untuk peserta dan tamu yang hadir selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Tidak hanya gerak jalan dan tabligh akbar, Gebyar Muharram 1448 H juga akan dimeriahkan dengan Bazar UMKM yang menghadirkan berbagai produk halal, kuliner, dan hasil usaha masyarakat. Kehadiran bazar ini diharapkan menjadi sarana pemberdayaan ekonomi umat sekaligus memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha mikro dan kecil di Sumatera Utara.

Jadwal Pelaksanaan
Kegiatan akan diawali dengan persiapan barisan pada pukul 06.15–06.30 WIB di depan Kantor MUI Sumut. Selanjutnya pada pukul 06.30 WIB, parade dan gerak jalan akan dilepas secara resmi oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, SH, M.Hum, didampingi pimpinan MUI Sumut dan para tokoh umat Islam Sumatera Utara. Peserta ditargetkan telah menyelesaikan rute dan kembali ke lokasi finis pada pukul 08.30 WIB.

Setelah gerak jalan, kegiatan dilanjutkan dengan Tabligh Akbar dan Pencerahan Keagamaan oleh Wakil Menteri Agama RI hingga pukul 11.00 WIB. Selanjutnya akan dilaksanakan pengundian lucky draw dan pembagian hadiah bagi peserta gerak jalan sehat, serta pengumuman pemenang lomba gerak jalan antar kelompok.

Rute Gerak Jalan
Berdasarkan peta yang telah ditetapkan panitia, peserta akan memulai perjalanan dari Kantor MUI Sumut menuju Jalan Sutomo, kemudian melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Guru Patimpus, Jalan Prof. H.M. Yamin, Jalan Timor, kembali ke Jalan Sutomo, dan berakhir di Kantor MUI Sumut sebagai titik finis.

Panitia berharap Gebyar Muharram 1448 H dapat menjadi momentum memperkuat persatuan umat, meningkatkan semangat hijrah, serta menumbuhkan kepedulian sosial dan ekonomi masyarakat melalui berbagai kegiatan yang telah dipersiapkan. Dengan dukungan berbagai elemen umat Islam dan masyarakat Sumatera Utara, kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu perayaan Tahun Baru Hijriah terbesar di Sumatera Utara tahun 2026.

9 Finalis Siap Bertanding Menjadi yang Terbaik pada Lomba Semarak Muharram 1448 H MUI Sumut

0

Medan, muisumut.or.id – Senin 15 Juni 2026 Sebanyak sembilan finalis dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara siap menunjukkan kemampuan terbaik mereka pada babak final Lomba Semarak Muharram 1448 Hijriah yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara.

Para finalis merupakan peserta terpilih yang berhasil lolos setelah melalui proses seleksi dan penilaian dewan juri pada cabang Lomba Marhaban, Pidato, dan Cipta Puisi. Babak final dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026, bertepatan dengan 1 Muharram 1448 H, di Kantor MUI Provinsi Sumatera Utara, Jalan Majelis Ulama No. 3 Medan.

Untuk kategori Lomba Marhaban, tiga grup yang berhasil melaju ke final adalah Nurul Hasanah dari Hinai Kabupaten Langkat, Muslimah Karo dari Kabupaten Langkat, dan Amal Silaturahim dari Kota Medan.

Pada kategori Lomba Pidato, tiga finalis yang akan bersaing memperebutkan gelar terbaik adalah Muhammad Aidil Zidane dari Kabupaten Serdang Bedagai, Amelia Sika dari Kabupaten Padang Lawas, serta Pratama W dari Kota Medan.

Sementara itu, kategori Lomba Cipta Puisi menghadirkan tiga finalis, yakni Hikmah Khoiriyah Nasution dari Kabupaten Padang Lawas, Fairuz Chayyira dari Kota Medan, dan Muhammad Fabian Priwancana dari Kota Pematangsiantar.

Sekretaris Umum MUI Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Ardiansyah, Lc., M.Ag, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Semarak Muharram 1448 H. Menurutnya, perlombaan ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan generasi muda Islam dalam mengembangkan kreativitas, kemampuan komunikasi, serta kecintaan terhadap nilai-nilai keislaman.

“Melalui kegiatan ini, MUI Sumatera Utara ingin menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan, bakat, dan kecintaannya terhadap Islam melalui media dakwah, seni, dan literasi. Kami berharap para finalis dapat menampilkan kemampuan terbaiknya dengan tetap menjunjung tinggi nilai ukhuwah dan sportivitas,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menegaskan bahwa Semarak Muharram merupakan bagian dari syiar Islam sekaligus upaya membangun optimisme generasi muda dalam menyongsong kebangkitan umat.

“Momentum Tahun Baru Islam harus menjadi sarana memperkuat semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Kehadiran para finalis dari berbagai daerah menunjukkan bahwa potensi generasi muda Muslim Sumatera Utara sangat besar dan perlu terus dibina serta diberi ruang untuk berkembang,” katanya.

Babak final akan menjadi penentuan bagi para peserta terbaik untuk meraih juara pada masing-masing kategori lomba. Selain memperebutkan trofi dan penghargaan, para finalis diharapkan mampu menjadi duta syiar Islam yang kreatif, inspiratif, dan berakhlak mulia di tengah masyarakat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Semarak Muharram 1448 H yang diselenggarakan MUI Sumatera Utara dengan tema “Menuju Kebangkitan Islam Abad XV yang Harmonis dan Berkah.”

TAHUN BARU HIJRIYAH 1448 H: Prinsip Perubahan Islami dan Langkah Nyata Menyambut 1 Muharram 1448 H (Serial 3)

muisumut.or.,id., 14 Juni  2026., Setelah memahami pentingnya muhasabah dan hakikat perubahan, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara mewujudkan perubahan tersebut?

Istiqamah: Kunci Keberhasilan Perubahan
Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit.”

Perubahan tidak diukur dari semangat sesaat, tetapi dari konsistensi jangka panjang.

Tawazun: Keseimbangan
Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara hak dan kewajiban, serta antara kepentingan pribadi dan sosial.

Perubahan yang baik harus menyentuh seluruh aspek kehidupan secara proporsional.

Tadarruj: Bertahap
Nabi Muhammad SAW membangun peradaban Islam selama 23 tahun.

Karena itu, perubahan hendaknya dilakukan secara bertahap, realistis, dan berkelanjutan.

Tadzkir: Lingkungan yang Mendukung
Rasulullah SAW bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah ia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.”

Lingkungan yang baik akan mempercepat perubahan menuju kebaikan.

Lima Langkah Menyambut Tahun Baru Hijriyah
1. Muhasabah Mendalam
Evaluasi ibadah, akhlak, hubungan sosial, dan kontribusi selama tahun 1447 H.

2. Menetapkan Resolusi Islami
Buat target yang menggabungkan dimensi dunia dan akhirat, seperti meningkatkan tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan amal sosial.

3. Memperbarui Niat
Niatkan seluruh aktivitas sebagai ibadah kepada Allah SWT.

4. Memperkuat Ukhuwah
Pererat silaturahim, saling memaafkan, dan membangun jaringan kebaikan.

5. Memperbanyak Istighfar
Memohon ampunan dan taufik agar mampu menjalani perubahan yang diridhai Allah SWT.

Penutup
Tahun Baru Hijriyah 1448 H bukan sekadar pergantian angka pada kalender. Ia adalah panggilan untuk melakukan transformasi diri yang berlandaskan iman, dipandu oleh sunnah Nabi Muhammad SAW, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Hadis-hadis tentang niat, muhasabah, pemanfaatan waktu, istiqamah, tawazun, dan ukhuwah mengajarkan bahwa seorang Muslim harus terus berkembang menuju ridha Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjadikan tahun 1448 H sebagai tahun terbaik dalam kehidupan kita, tahun yang penuh keberkahan, peningkatan iman, kemuliaan akhlak, keluasan ilmu, dan kebermanfaatan bagi sesama.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Prof. Dr. Nawir Yuslem, MA

TAHUN BARU HIJRIYAH 1448 H: Hakikat Perubahan dan Standar Kemajuan Seorang Muslim (Serial 2)

muisumut.or.id.,  14  Juni 2026., Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan pentingnya muhasabah dan amanah waktu. Selanjutnya, kita perlu memahami hakikat perubahan menurut hadis Nabi Muhammad SAW.

Perubahan Harus Dimulai dari Niat
Hadis pertama yang menjadi landasan perubahan adalah hadis niat:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa perubahan yang benar harus lahir dari niat yang ikhlas karena Allah SWT.

Perubahan yang didasari riya, gengsi, atau sekadar ikut-ikutan tidak akan menghasilkan keberkahan.

Al-Qur’an juga menegaskan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Standar Kemajuan Seorang Muslim
Di tengah masyarakat beredar ungkapan populer:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ

“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia terlaknat.”

Perlu dijelaskan bahwa para ulama hadis berbeda pendapat mengenai status hadis ini. Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati dalam menyandarkannya secara langsung kepada Nabi SAW.

Namun kandungan maknanya sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong peningkatan kualitas diri secara terus-menerus.

Adapun hadis shahih yang semakna adalah:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Nabi SAW juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Perubahan yang baik bukan hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat.

Empat Aspek Perubahan
Hadis-hadis Nabi menunjukkan bahwa perubahan mencakup empat aspek utama:

1. Perubahan Keimanan dan Ibadah
Meningkatkan kualitas shalat, tilawah Al-Qur’an, puasa, dzikir, dan kedekatan kepada Allah SWT.

2. Perubahan Akhlak
Nabi SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

3. Perubahan Sosial
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh.”

4. Perubahan Ilmu dan Wawasan
Islam mendorong umatnya terus belajar dan mengembangkan kapasitas diri demi kemaslahatan yang lebih besar.

Oleh: Prof. Dr. Nawir Yuslem, MA

Bersambung ke Seri 3:
Prinsip Perubahan Islami dan Langkah Nyata Menyambut 1 Muharram 1448 H