Medan, muisumut.or.id., 12 Agustus 2026 – Pengalaman panjang Mulyono sebagai penyintas bom di kawasan Kuningan, Jakarta, menjadi salah satu kesaksian penting dalam Halaqah Alim Ulama bertema “Menguatkan Ukhuwah melalui Pendekatan Ibrah” yang digelar di Hotel Santika Medan, Rabu (12/8/2026).
Dalam forum yang diselenggarakan melalui kerja sama Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dengan Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) MUI Provinsi Sumatera Utara, Mulyono membagikan pengalaman menghadapi peristiwa ledakan bom yang mengubah perjalanan hidupnya sekaligus mendorongnya untuk aktif menyuarakan perdamaian.
Mulyono, yang lahir di Jakarta pada 12 September 1971, merupakan anak keenam dari delapan bersaudara. Ia menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi di Universitas Gunadarma dan kemudian berkarier di sektor swasta. Sejak 1996 hingga kini, ia bekerja di PT Bank Danamon dan menjalankan tugas sebagai IT Senior Manager.
Selamat dari Ledakan di Kuningan
Peristiwa yang menjadi titik penting dalam kehidupannya terjadi pada 9 September 2004 sekitar pukul 10.20 WIB di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, tepat di depan Kedutaan Besar Australia.
Saat itu, perubahan jadwal pertemuan dari Jumat menjadi Kamis serta penundaan keberangkatan karena menunggu rekan kerja membuat Mulyono berada di lokasi ketika ledakan terjadi. Ia berada sekitar 25 meter dari titik ledakan, di dalam kendaraan.
Ledakan tersebut menyebabkan Mulyono mengalami luka serius dan harus menjalani rangkaian perawatan panjang. Ia sempat mendapatkan perawatan awal di RS Mata Aini Jakarta selama sekitar tiga jam sebelum kemudian dirujuk ke RSUP Cipto Mangunkusumo.
Setelah menjalani perawatan selama dua hari di Jakarta, Mulyono melanjutkan pengobatan ke Singapura. Di Singapore General Hospital, ia menjalani operasi rekonstruksi rahang selama sekitar empat bulan. Proses pemulihan kemudian berlanjut di Cabrini Hospital, Melbourne, Australia, selama sekitar satu tahun tiga bulan.
Keluarga dan Keyakinan Menjadi Kekuatan
Di tengah panjangnya proses pemulihan, keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan utama bagi Mulyono. Ketika peristiwa tersebut terjadi, salah seorang anaknya masih berusia sekitar enam bulan.
Kecintaan kepada keluarga dan keinginan untuk kembali hadir bagi anak-anak menjadi motivasi penting dalam menjalani proses penyembuhan.
Selain dukungan keluarga, Mulyono menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan dalam menghadapi ujian. Ia antara lain berpegang pada pesan QS. Al-Baqarah ayat 286 mengenai kemampuan manusia dalam menghadapi beban yang diberikan Allah SWT serta QS. Al-Insyirah ayat 5–6 tentang adanya kemudahan setelah kesulitan.
Memilih Memaafkan dan Menebarkan Perdamaian
Meski dampak peristiwa tersebut masih dirasakan hingga kini, Mulyono memilih tidak menjadikan pengalaman sebagai alasan untuk membalas kekerasan dengan kekerasan.
Ia masih mengalami sakit kepala setiap hari dan harus mengonsumsi obat serta menjalani pemeriksaan implant gigi secara berkala. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikannya untuk terlibat dalam kegiatan yang mendorong perdamaian.
Mulyono pernah menjabat sebagai Ketua Forum Kuningan pada periode 2006–2011 dan 2012–2017. Ia juga aktif sebagai Pembina Yayasan Penyintas Indonesia dan terlibat dalam kampanye perdamaian bersama mantan pelaku terorisme.
Menurutnya, pengalaman sebagai korban justru memberikan tanggung jawab moral untuk menyampaikan kepada masyarakat mengenai dampak nyata terorisme terhadap manusia dan keluarga.
Ia juga berupaya membimbing anak-anaknya agar mampu memahami pengalaman tersebut dan belajar memaafkan, sehingga trauma tidak berkembang menjadi kebencian atau siklus kekerasan baru.
“Jangan Membalas Kekerasan dengan Kekerasan”
Dalam pesan yang disampaikannya, Mulyono mengingatkan bahwa terorisme bukan sekadar persoalan ideologi atau tindakan kekerasan, tetapi memiliki dampak nyata terhadap kehidupan manusia yang tidak bersalah.
Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjauhi paham radikalisme dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang membenarkan kekerasan atas nama agama maupun tujuan tertentu.
Bagi Mulyono, pengalaman sebagai penyintas menjadi ibrah bahwa kekerasan hanya melahirkan penderitaan baru.
Pesan yang ia bawa sederhana namun mendasar: cintai perdamaian, jangan membenarkan terorisme, dan jangan pernah membalas kekerasan dengan kekerasan.
Kesaksian Mulyono dalam Halaqah Alim Ulama tersebut memperkuat pesan bahwa perdamaian tidak hanya dibangun melalui gagasan dan kebijakan, tetapi juga melalui pengalaman nyata para penyintas yang memilih mengubah luka menjadi pembelajaran, memaafkan, dan mengabdikan diri untuk mencegah kekerasan terulang kembali.





