muisumut.or.id. 18 Juni 2026, Pergantian tahun Hijriah tidak sekadar menandai pergantian angka pada kalender Islam. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah merupakan titik balik lahirnya sebuah peradaban baru. Karena itu, setiap datang Tahun Baru Hijriah, umat Islam sesungguhnya diajak untuk melakukan refleksi besar terhadap arah perjalanan peradabannya.
Memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, muncul pertanyaan penting: pada fase apakah peradaban Islam saat ini berada? Apakah umat Islam sedang berada di ambang kebangkitan baru?
Delapan Fase Perjalanan Peradaban Islam
Secara historis, peradaban Islam tidak bergerak secara linear, tetapi mengalami pasang surut. Sejarah panjang tersebut dapat dipetakan ke dalam delapan fase besar:
- Masa Jahiliah sebelum hijrah.
- Fajar Islam pada masa kenabian.
- Masa Khulafaur Rasyidin.
- Fase pertumbuhan peradaban.
- Fajar keemasan.
- Puncak kejayaan peradaban Islam.
- Senja keemasan.
- Kebangkitan baru abad ke-15 Hijriah dan seterusnya.
Setiap fase memiliki karakteristik, faktor pendorong, faktor penghambat, dan pelajaran yang berbeda.
Tajdid: Pembaruan yang Selalu Berulang
Dalam tradisi Islam, kebangkitan tidak dapat dilepaskan dari konsep tajdid (pembaruan) dan islah (perbaikan).
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang memperbarui agama mereka.”
Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam as-Suyuthi, dan al-Munawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “seseorang” tidak harus satu individu, tetapi dapat berupa kelompok atau gerakan pembaruan.
Artinya, kebangkitan peradaban bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah Islam, melainkan sunnatullah yang terus berulang.
Siklus Peradaban Menurut Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun melalui Muqaddimah menjelaskan bahwa setiap peradaban memiliki siklus: lahir, tumbuh, mencapai puncak, lalu mengalami kemunduran.
Kekuatan utama yang menopang sebuah peradaban adalah ashabiyah atau solidaritas sosial. Ketika semangat kolektif melemah akibat kemewahan dan perpecahan, maka peradaban pun mulai menurun.
Pemikiran Ibnu Khaldun sejalan dengan firman Allah bahwa kemenangan dan kekalahan dipergilirkan di antara manusia agar mereka mengambil pelajaran.
Kebangkitan Menurut Para Pemikir Modern
Arnold Toynbee menyebut bahwa peradaban bangkit ketika mampu memberikan respons kreatif terhadap tantangan zaman.
Malik Bennabi menegaskan bahwa penjajahan sesungguhnya bermula dari “mental terjajah”. Karena itu, kebangkitan harus dimulai dari pembenahan cara berpikir, budaya, dan etos kerja.
Fazlur Rahman menekankan pentingnya ijtihad yang kreatif agar Al-Qur’an mampu menjawab persoalan kontemporer.
Sementara Ismail Raji al-Faruqi mengajukan konsep Islamisasi ilmu pengetahuan, yakni integrasi antara wahyu dan sains modern.
Yusuf al-Qaradawi juga mencatat munculnya kembali kesadaran keagamaan generasi muda Muslim di berbagai belahan dunia.
Delapan Fase Peradaban dalam Tinjauan Historis
Sejarah Islam memperlihatkan perjalanan panjang dari masa jahiliah menuju masa kenabian, Khulafaur Rasyidin, pertumbuhan Daulah Umayyah, kejayaan Abbasiyah, hingga masa kemunduran yang berakhir dengan runtuhnya Khilafah Ottoman pada 1924.
Memasuki abad ke-15 Hijriah, muncul harapan akan lahirnya fase kebangkitan baru yang ditandai dengan integrasi iman, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi halal, dan kolaborasi global umat Islam.
(Bersambung ke Seri 2: Tanda-Tanda Kebangkitan dan Tantangan Umat di Abad ke-15 Hijriah)
Oleh: Prof. Dr. Nawir Yuslem, MA





