Medan, muisumut.or.id – Senin 20 Juli 2026 Komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap hari, manusia menyampaikan gagasan, bertukar informasi, membangun hubungan, hingga menyelesaikan berbagai persoalan melalui komunikasi. Karena itu, kualitas kehidupan seseorang sering kali ditentukan oleh kualitas komunikasinya.
Bagi seorang muslim, komunikasi memiliki makna yang lebih luas. Komunikasi tidak hanya berlangsung antara manusia dengan manusia, tetapi juga antara manusia dengan Allah SWT. Hubungan spiritual tersebut terjalin melalui doa, zikir, dan ibadah. Allah SWT berfirman:
«”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)»
Ayat tersebut menunjukkan bahwa komunikasi yang paling agung adalah komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya. Dari hubungan yang baik dengan Allah inilah lahir akhlak yang baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia.
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Kehadiran media sosial membuat setiap orang mampu menyampaikan informasi kepada ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Kemajuan ini membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.
Di era digital, komunikasi tidak cukup hanya cepat. Komunikasi juga harus benar, jelas, dan beretika. Kecepatan tanpa tanggung jawab dapat melahirkan hoaks, fitnah, ujaran kebencian, hingga perpecahan di tengah masyarakat.
Islam telah memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai hal tersebut. Allah SWT berfirman:
«”Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)»
Ayat ini menjadi dasar penting bagi budaya tabayyun, yaitu memverifikasi setiap informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Di tengah derasnya arus informasi digital, prinsip ini menjadi semakin relevan untuk mencegah penyebaran berita yang tidak benar.
Rasulullah SAW juga memberikan pedoman komunikasi yang sederhana, namun sangat mendalam:
«”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari)»
Hadis tersebut mengajarkan bahwa setiap ucapan, tulisan, maupun unggahan di media sosial memiliki konsekuensi moral. Sebelum berbicara atau menekan tombol kirim, setiap muslim hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri: apakah informasi ini benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik?
Prinsip komunikasi yang baik juga banyak dibahas dalam berbagai literatur modern. Dale Carnegie, melalui bukunya How to Win Friends and Influence People, menjelaskan pentingnya menghargai orang lain, menjadi pendengar yang baik, serta membangun hubungan dengan ketulusan. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau dikenal sebagai pribadi yang santun, tidak memotong pembicaraan, menghargai lawan bicara, dan selalu menggunakan kata-kata yang lembut.
Etika komunikasi sejatinya harus diterapkan dalam seluruh ruang kehidupan. Di lingkungan keluarga, komunikasi menjadi sarana menanamkan kasih sayang dan adab. Di tempat ibadah, komunikasi menjadi bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Di lingkungan kerja, komunikasi harus dibangun atas dasar amanah, profesionalisme, dan tanggung jawab. Sementara di tengah masyarakat, komunikasi menjadi perekat ukhuwah dan media untuk menghadirkan kemaslahatan bersama.
Allah SWT memberikan tuntunan dalam berdakwah melalui firman-Nya:
«”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.”
(QS. An-Nahl: 125)»
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan komunikasi dalam Islam bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menghadirkan hikmah, menjaga kehormatan sesama, serta membangun persaudaraan. Prinsip tersebut tetap relevan, baik ketika berbicara di atas mimbar, berdiskusi di ruang publik, mengirim pesan melalui grup WhatsApp, maupun berinteraksi di media sosial.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi hanyalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah cara manusia menggunakannya. Oleh karena itu, setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menjadikan media digital sebagai ruang yang dipenuhi kejujuran, kesantunan, dan kemaslahatan. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana bertukar informasi, tetapi juga menjadi jalan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.





