MEDAN, muisumut.or.id, 30 Agustus 2026 — Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Aula MUI Sumatera Utara, Ahad (30/8/2026), bertepatan dengan 17 Rabiul Awal 1448 H.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.15 WIB tersebut mengangkat tema “Refleksi Maulid Nabi SAW di Tengah Krisis Moral Global” dengan menghadirkan Prof. Dr. H. M. Jamil, M.A. sebagai pemateri.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara, komisi dan lembaga MUI, Ketua MUI Kabupaten/Kota, organisasi kemasyarakatan Islam, jemaah Muzakarah Komisi Fatwa, serta masyarakat umum.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan umat kepada Rasulullah SAW sekaligus meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Maulid Nabi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi ruang refleksi dan introspeksi bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW harus menjadi momentum untuk kembali meneladani akhlak Rasulullah. Di tengah berbagai persoalan dan tantangan moral yang kita hadapi, umat membutuhkan keteladanan Nabi sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih baik,” ujar Maratua.
Ia berharap nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah SAW, seperti kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab dapat terus diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kecintaan kepada Rasulullah Harus Diwujudkan
Sementara itu, Prof. Dr. H. M. Jamil, M.A., dalam pemaparannya mengajak seluruh peserta untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum melakukan refleksi terhadap kondisi moral masyarakat di tengah perkembangan dan perubahan global.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui pengamalan ajaran dan keteladanan akhlak beliau dalam kehidupan nyata.
Dalam tausiyahnya, Prof. Jamil juga mengingatkan peserta tentang kisah Abu Lahab yang dalam sejumlah riwayat disebut mendapatkan keringanan azab pada hari Senin karena pernah bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Kalau Abu Lahab saja, yang jelas-jelas tidak beriman kepada Rasulullah SAW, dalam kisah yang diriwayatkan itu disebut mendapat keringanan setiap hari Senin karena pernah bergembira dengan kelahiran Rasulullah SAW, apalagi kita yang datang memperingati Maulid Nabi, bershalawat, dan mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah SAW,” ujar Prof. Jamil.
Ia menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi hendaknya menjadi sarana untuk memperkuat mahabbah atau kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kecintaan tersebut selanjutnya harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah, meneladani akhlak, serta mengamalkan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.
Peringatan Maulid, kata dia, juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri agar nilai-nilai Islam semakin hadir dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dimeriahkan Puisi dan Hadhrah
Selain penyampaian tausiyah dan refleksi Maulid, kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Bidang/Komisi Seni dan Budaya MUI Sumatera Utara.
Mahasiswa PTKU MUI Sumatera Utara turut menampilkan kesenian Hadhrah yang menambah suasana religius dan khidmat dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Kegiatan berlangsung sederhana namun penuh makna. Melalui peringatan tersebut, MUI Sumatera Utara berharap kecintaan umat kepada Rasulullah SAW semakin tumbuh dan nilai-nilai keteladanan beliau dapat terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah ini juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membangun masyarakat yang berlandaskan keimanan dan akhlak mulia.
Peringatan Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan nilai, ajaran, dan keteladanan beliau dalam kehidupan umat.





