Friday, March 6, 2026
spot_img
Home Blog Page 49

MUI Sumut Kampanyekan Ukhuwah Islamiyah untuk Pelajar Islam di Sumatera Utara

Medan, muisumut.or.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melalui Bidang Ukhuwah Islamiyah mengadakan kegiatan pembinaan bagi pelajar Islam pada Sabtu, 9 November 2024, bertempat di Yayasan Islamic Center Medan Estate, Percut Sei Tuan. Acara ini bertujuan memperkuat persaudaraan di kalangan pelajar Islam untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang maju dan damai.

Dengan mengusung tema “Melalui Kampanye Ukhuwah Islamiyah Bagi Pelajar Islam di Sumatera Utara Kita Wujudkan Masa Depan Indonesia yang Maju dan Damai”, kegiatan ini dihadiri oleh 100 siswa setingkat Aliyah. Drs. Muhammad Hatta, M.Si, melalui Sekretaris Bidang Ukhuwah Drs. T. Darmansyah, M.Si, menyampaikan bahwa program ini telah lama direncanakan dan kini terlaksana berkat sinergi yang baik antara MUI Sumut dan Yayasan Islamic Center.

Drs. T. Darmansyah, M.Si, menekankan pentingnya peran pendidikan dalam membentuk karakter pelajar Islam yang berlandaskan nilai-nilai ukhuwah islamiyah. “Pelajar perlu diberdayakan dengan pengetahuan yang komprehensif agar mereka mampu menerapkan prinsip-prinsip ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, kampus, tempat kerja, maupun di rumah. Penanaman nilai-nilai kejujuran dan rasa hormat terhadap sesama menjadi fondasi utama,” ungkapnya.

Acara ini dibuka oleh Wakil Ketua MUI Sumut, Dr. H. Arso, yang memberikan apresiasi atas inisiatif pembinaan ini. Ia berharap bahwa kerja sama antara MUI Sumut dan pihak sekolah dapat terus berlanjut untuk mendukung pembinaan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang menghargai keragaman.

Ketua Yayasan Islamic Center, Drs. H. A. Mu’in Isma Nasution, menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan pentingnya pembinaan bagi seluruh siswa di Yayasan Islamic Center (YIC). “YIC memiliki sekitar 1.300 siswa dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah, termasuk siswa yang mondok dan yang tidak mondok. Semoga kegiatan pembinaan seperti ini bisa berkelanjutan ke depannya,” ujar H. Mu’in Isma Nasution.

Pembinaan ukhuwah islamiyah bagi pelajar ini diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai persaudaraan Islam dan kejujuran serta mempererat hubungan antar pelajar untuk berperan aktif dalam membangun Indonesia yang lebih harmonis dan sejahtera.

KPU Sumatera Utara Siap Sukseskan Pilkada Serentak 2024

Medan, muisumut.or.id.,  9 November 2024 – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Utara menyatakan kesiapan penuh dalam menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2024 di wilayah Sumatera Utara. Hal ini seharusnya disampaikan oleh Ketua KPU Provinsi Sumatera Utara, Agus Arifin, namun diwaklili oleh Ibu Evi Ratima Hafsah, SH, M,.HUm dalam acara dialog interaktif bertema “Pendidikan Politik bagi Perempuan” yang diadakan oleh Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut di Aula MUI Sumut.

Dalam paparannya, Ibu Evi menjelaskan bahwa KPU Sumut telah membentuk berbagai badan ad hoc untuk memastikan kelancaran Pilkada di 33 kabupaten/kota se-Sumatera Utara. KPU telah menugaskan sebanyak 2.275 Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), 18.300 Panitia Pemungutan Suara (PPS), serta 176.561 Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih). Selain itu, 41.406 Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) juga telah siap ditempatkan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di seluruh Sumatera Utara​.

“Kami berkomitmen untuk mewujudkan Pilkada yang adil, transparan, dan demokratis sesuai dengan prinsip Luber Jurdil, yaitu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa KPU akan memastikan seluruh logistik pemilihan, seperti surat suara dan bilik suara, didistribusikan ke setiap TPS dengan baik dan tepat waktu.

Untuk meningkatkan partisipasi pemilih, KPU Sumut akan melaksanakan sosialisasi pemilu kepada masyarakat, termasuk perempuan, guna mendorong peran aktif mereka dalam proses demokrasi. Berdasarkan data KPU, setiap TPS akan melayani maksimal 600 pemilih, dan pemilih diwajibkan membawa surat pemberitahuan serta KTP-el atau surat keterangan untuk dapat menggunakan hak suaranya di TPS​

Dengan kesiapan ini, KPU Sumatera Utara optimistis bahwa Pilkada 2024 akan berlangsung lancar dan memberikan hasil yang berkualitas sesuai dengan harapan seluruh masyarakat.

Prof. Hasyim Sampaikan Problematika Hukum dan Efektivitas Demokrasi dalam Pilkada

0

Medan, muisumut.or.id., 9 November 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menggelar dialog interaktif bertajuk “Problematika Hukum dan Efektivitas Pelaksanaan Demokrasi dalam Pilkada Serentak” yang diadakan di Aula MUI Sumut. Kegiatan ini diisi oleh Prof. Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum., Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU), yang memaparkan berbagai isu penting seputar Pilkada serentak, khususnya dari sisi hukum dan peran lembaga terkait dalam mengawasi jalannya demokrasi.

Dalam presentasinya, Prof. Hasim menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara hukum (rechtstaat) harus mengedepankan konstitusi sebagai landasan utama dalam setiap aspek pemerintahan. Menurutnya, “Konstitusi menjadi rule of game dalam menentukan kebijakan dan manajemen seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Prof. Hasim juga menjelaskan bahwa Pilkada serentak yang akan digelar di 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota di Indonesia tahun ini merupakan bagian dari agenda politik besar 2024 yang mencakup Pemilu dan Pilkada. Ia menyoroti pentingnya peran lembaga penyelenggara seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dalam memastikan proses yang bersih, jujur, dan adil.

Dalam dialog tersebut, Prof. Hasim mengungkapkan bahwa sejumlah tantangan besar masih harus diantisipasi, seperti independensi penyelenggara, validasi data pemilih, serta netralitas aparatur negara. Ia juga menyoroti potensi permasalahan seperti politik uang, hoaks, dan kampanye hitam yang dapat merusak integritas Pilkada. “Pengawasan ketat dari Bawaslu serta partisipasi masyarakat sipil sangat diperlukan untuk mewujudkan Pilkada yang demokratis,” ujar Prof. Hasim.

Lebih lanjut, Prof. Hasim memaparkan tahapan penyelenggaraan Pilkada yang telah ditetapkan KPU, mulai dari pendaftaran calon hingga penghitungan suara yang akan berlangsung pada 27 November hingga 16 Desember 2024. Dalam hal ini, Prof. Hasim menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas di semua tahap penyelenggaraan agar hasil Pilkada dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Kegiatan dialog ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam kepada masyarakat, terutama perempuan, dalam menjalankan hak-hak politiknya secara bijak dan bertanggung jawab, sesuai dengan tema “Pendidikan Politik Bagi Perempuan.”

MUI Sumut Gelar Dialog Interaktif Pendidikan Politik Bagi Perempuan

0

Medan, muisumut.or.id., 09 November 2024 – Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan Dialog Interaktif bertajuk “Pendidikan Politik bagi Perempuan” pada Sabtu, 9 November 2024. Acara ini bertujuan memperkaya wawasan politik bagi kaum perempuan dengan menekankan pentingnya moralitas dalam berpolitik dan pemilihan kepala daerah yang bermartabat.

Dra. Rusmini, MA, Ketua Bidang KPRK, menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman terkait aturan dan tata cara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. “Kita ingin perempuan dapat menggunakan hak pilihnya dengan penuh tanggung jawab dan memahami aturan yang berlaku. Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk menyebarluaskan pentingnya politik yang bermoral, sehingga kita semua dapat menggunakan hak pilih kita secara bermartabat dan bijaksana,” ungkap Rusmini.

Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak, hadir sebagai keynote speaker dan menyampaikan sambutannya dengan menceritakan pengalamannya dalam mempertimbangkan masuk ke dunia politik praktis. Beliau mengenang saat pertama kali diminta untuk terjun ke politik praktis oleh institusi IAIN, dan dirinya memutuskan untuk bertanya kepada gurunya, Tuan Syekh Halim Hakim dari Pesantren Mustafawiyah. Dalam pertemuan tersebut, Syekh Halim Hakim menanggapi pertanyaan Maratua dengan bijaksana, “Apa gunanya menurut kamu?” Dr. Maratua pun menjawab, “Selama ini saya berkhutbah, tapi khutbah saya tidak punya pengaruh politik. Namun, jika saya berbicara sebagai anggota DPR, tentu ceramah saya akan lebih berpengaruh.” Mendengar itu, Syekh Halim memberikan restu, mengatakan, “Jika ada manfaatnya, silakan.”

Dalam acara yang dihadiri para tokoh perempuan, akademisi, dan aktivis, Dr. Maratua juga menegaskan bahwa politik adalah bentuk siyasah dan strategi. “Politik bukan semata-mata tentang kekuasaan, namun merupakan bagian dari usaha memperjuangkan nilai-nilai yang baik untuk kemaslahatan umat. Perempuan harus berperan aktif dan memiliki pengetahuan politik agar mampu memberi dampak positif,” tambahnya.

Dialog ini yang mengahadirkan Narasumber pertama Prof. Dr. Hasyim Purba, M.Hum yang membicarakan Problematika Hukum dan Efektifitas Pelaksanaan Demokrasi dalam Pilkada Serentak dan Ketua KPU Sumut, Agus Arifin yang mesosialisasikan Pelaksanaan Pilkada Serentak. Hal ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi perempuan untuk semakin aktif dan terdidik dalam bidang politik, serta berkontribusi dalam pemilihan yang adil, moral, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

MUI Sumut Hadiri Pembinaan Komsos Cegah Tangkal Radikalisme/Separatisme Kodam I Bukit Barisan

Medan, muisumut.or.id., 8 November 2024 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara turut berpartisipasi dalam acara Pembinaan Komunikasi Sosial (Komsos) bertema Cegah Tangkal Radikalisme/Separatisme yang diselenggarakan oleh TNI Angkatan Darat Kodam I Bukit Barisan, Jumat (8/11). Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara berbagai elemen masyarakat dalam upaya menangkal paham radikalisme dan separatisme yang berpotensi mengancam keutuhan bangsa.

Drs. Muhammad Hatta, M.Si, selaku Ketua Bidang Ukhuwah MUI Sumut, hadir mewakili Ketua Umum MUI Sumut. Dalam keterangannya, Hatta menekankan pentingnya acara ini sebagai upaya nyata untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan meneguhkan komitmen seluruh komponen bangsa dalam menjaga persatuan.

“Acara ini sangat penting sebagai wadah untuk membangun kesadaran bersama dalam menghadapi paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan kita. MUI mendukung penuh kegiatan semacam ini yang menumbuhkan semangat persatuan dan memperkuat ukhuwah di antara seluruh elemen masyarakat,” ujar Hatta.

Hatta juga menambahkan bahwa peran ulama dan tokoh agama sangatlah krusial dalam memberikan pemahaman yang benar mengenai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, menekankan nilai-nilai moderasi, toleransi, dan cinta tanah air. Menurutnya, radikalisme dan separatisme dapat dicegah apabila seluruh pihak, termasuk TNI, MUI, dan masyarakat, berkolaborasi secara aktif dalam pembinaan mental dan keagamaan yang sehat dan seimbang.

Selain itu, Kodam I Bukit Barisan menekankan pentingnya kolaborasi strategis antara TNI, MUI, dan berbagai organisasi masyarakat dalam menjaga keamanan dan stabilitas di Sumatera Utara. Acara ini diharapkan mampu memperkuat komitmen bersama untuk menjaga keutuhan NKRI dan membangun ketahanan nasional yang kokoh di tengah tantangan era globalisasi.

Pembinaan Komsos yang dilaksanakan ini juga menampilkan paparan dari para pakar dan praktisi, termasuk dari pihak TNI, yang membahas strategi dan langkah-langkah preventif dalam menghadapi isu radikalisme dan separatisme. Di akhir acara, seluruh peserta sepakat untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi lintas sektor demi menciptakan Indonesia yang aman, damai, dan bersatu.

Fakta Unik Negara Uzbekistan

muisumut.or.id, 7 November 2024, Berikut adalah fakta-fakta unik tentang Uzbekistan, negara yang penuh sejarah Islam dan memiliki hubungan erat dengan Indonesia, tentunya ini adalah bersifat subjektif dari pengamatan dan pembelajaran perjalanan Rihlah Ilmiah ke Uzbekistan:

  1. Pusat Peradaban Islam dan Ilmuwan Terkenal
    Uzbekistan adalah tempat lahirnya beberapa ilmuwan besar Islam, seperti Imam Bukhari, ahli hadis terkemuka; Ibnu Sina, bapak kedokteran modern; dan Bahauddin Naqshband, pendiri tarekat Naqshbandiyah. Mereka berperan besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan spiritualitas Islam.
  2. Warisan Arsitektur yang Megah
    Kota-kota bersejarah seperti Samarkand, Bukhara, dan Khiva dihiasi oleh bangunan megah yang menjadi saksi kejayaan era Jalur Sutra. Masjid, madrasah, dan mausoleum yang berdiri di kota-kota ini masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO dan memukau dengan keindahan arsitektur Islamnya.
  3. Destinasi Ziarah yang Kaya
    Uzbekistan adalah salah satu destinasi ziarah populer bagi Muslim, termasuk dari Indonesia. Negara ini memiliki makam tokoh-tokoh besar seperti Imam Bukhari, Imam Tirmidzi, dan Bahauddin Naqshband, pendiri tarekat Naqshbandiyah. Selain itu, makam Imam Al-Maturidi, tokoh penting dalam akidah Islam yang dianut banyak Muslim Indonesia, juga berada di sini.
  4. Larangan Berjilbab di Masa Lalu dan Larangan Bercadar
    Meskipun penduduknya mayoritas Muslim, Uzbekistan pernah memberlakukan larangan bagi perempuan untuk mengenakan jilbab di bawah pemerintahan presiden pertama,  Islam Karimov  ketika kebijakan agama sangat dikontrol. Saat ini pada masa pemerintahan Shavkat Mirziyoyev pemakaian jilbab dibolehkan namun pemakaian cadar dilarang sejak Oktober 2023. Maka kita akan terbiasa melihat perempuan disana  tidak berjilbab
  5. Minim Pengetahuan Bahasa Arab dan kemampuan membaca al Quran
    Meskipun merupakan negara mayoritas Muslim, banyak orang Uzbekistan yang tidak bisa berbahasa Arab dan tidak mampu membaca alquran.  Hal ini  disebabkan oleh masa pemerintahan Soviet yang menghambat pendidikan agama. Bahkan seluruh madrasah dijadikan pabrik dan gudang
  6. Budaya Ibadah di Rumah untuk Wanita
    Dalam budaya Uzbekistan, wanita lebih sering melakukan ibadah di rumah dibandingkan di masjid, meskipun kini ada perubahan bertahap untuk mengizinkan wanita beribadah di masjid secara terbuka.
  7. Pariwisata yang Semakin Berkembang
    Uzbekistan kini lebih terbuka terhadap pariwisata, berbeda dari masa presiden pertama, ketika kebijakan negara sangat ketat. Saat ini, Uzbekistan menjadi destinasi menarik bagi wisatawan internasional yang ingin menyelami sejarah dan budaya Islam.
  8. Harga-harga yang Mirip dengan Indonesia
    Nilai tukar mata uang Uzbekistan dan harga-harga barang di negara ini hampir setara dengan Indonesia, menjadikannya destinasi yang ramah bagi wisatawan Indonesia.
  9. Negara Tanpa Akses Lautan
    Uzbekistan adalah negara yang terkurung daratan, tanpa akses ke laut. Negara ini dikelilingi negara-negara daratan di Asia Tengah, menjadikannya salah satu negara besar tanpa garis pantai.
  10. Danau Aral yang Mengering
    Danau Aral, yang pernah menjadi salah satu danau terbesar di dunia, kini kering akibat eksploitasi air untuk pertanian kapas sejak era Soviet, yang menyebabkan masalah lingkungan besar di wilayah tersebut.
  11. Usia Kemerdekaan yang Relatif Muda Namun Memiliki Percaya Diri yang Tinggi
    Uzbekistan meraih kemerdekaannya pada tahun 1991, setelah bubarnya Uni Soviet, menjadikannya negara yang merdeka jauh setelah Indonesia, dengan usia kemerdekaan yang masih sekitar 30 tahun. Namun mereka sangat bangga dengan negara mereka yang penuh dengan peradaban.
  12. Khutbah yang Diseragamkan oleh Pemerintah
    Di Uzbekistan, khutbah Jumat diseragamkan dan disalurkan oleh kantor Mufti negara, memastikan bahwa pesan yang disampaikan di seluruh masjid pemerintah memiliki keseragaman.
  13. Salam Hormat dalam Interaksi Sehari-hari
    Masyarakat Uzbekistan, yang mayoritas Muslim, memiliki tradisi unik dalam menyapa. Mereka selalu memberikan salam saat bertemu dan meletakkan tangan kanan di dada kiri sebagai tanda penghormatan, menunjukkan keramahan dan rasa hormat kepada orang lain.

Demikianlah beberapa keunikan yang dijumpai, tentunya masih banyak keunikan yang lainnya. silahkan dilengkapi

Prof. M. Jamil Sampaikan Keharmonisan dan Perkembangan Islam di Indonesia di International Islamic Academy of Uzbekistan

 

Tashkent, Uzbekistan , muisumut.– Rabu, 6 November 2024, Prof. M. Jamil dari Indonesia memaparkan gambaran perkembangan Islam di Indonesia serta pentingnya kerja sama internasional di International Islamic Academy of Uzbekistan dalam kunjungan MUI Sumatera Utara ke Uzbelistan. Dalam pemaparannya, Prof. Jamil menjelaskan bahwa Indonesia, dengan populasi besar yang mayoritas beragama Islam, memiliki keberagaman organisasi masyarakat (ormas) Islam yang dapat hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini dimungkinkan oleh dasar negara yang diterima semua kalangan serta pemahaman agama yang moderat dan toleran.

Prof. Jamil juga mengapresiasi kontribusi Indonesia di kancah internasional melalui tokoh-tokoh Muslim berkaliber tinggi yang menghasilkan karya akademis luas. Selain itu, ia menggarisbawahi berdirinya kampus-kampus di Indonesia yang berhasil melahirkan generasi terpadu, yang menguasai ilmu pengetahuan dan spiritualitas secara seimbang. Perkembangan religiusitas masyarakat Indonesia, tambahnya, semakin terarah dan terukur melalui berbagai peraturan yang dibuat negara untuk membentuk kehidupan beragama yang damai.

Dalam presentasinya, Prof. Jamil menyoroti pentingnya menggali kekayaan peradaban Islam di Uzbekistan sebagai perbandingan yang inspiratif. Ia menyebut tokoh-tokoh besar seperti Bahauddin Naqshband, Imam Bukhari, Ibnu Sina, hingga Timurlenk sebagai sumber pengetahuan yang bisa memperkaya perspektif dan memperkuat peradaban Islam di Indonesia.

Selain itu, Prof. Jamil menyampaikan perhatian mengenai beberapa aspek keislaman yang masih perlu diperbaiki di Uzbekistan. Menurutnya, makanan dengan sertifikasi halal masih jarang dijumpai di negara ini. Ia menekankan pentingnya pemahaman lebih mendalam tentang praktik-praktik keislaman, seperti shalat, zakat, dan lainnya, yang perlu ditingkatkan demi pengamalan agama yang lebih utuh.

Ia juga menekankan perlunya mempererat kolaborasi antara ulama dari Indonesia dan Uzbekistan, agar kedua negara dapat saling belajar dan mendukung pemahaman Islam yang damai dan moderat. Dengan adanya hubungan yang lebih mendalam, Prof. Jamil berharap Indonesia dan Uzbekistan bisa memperkuat posisi sebagai pusat peradaban Islam yang berdaya saing di

MUI Sumatera Utara Bertemu dengan Kedutaan Besar RI di Uzbekistan: Diskusikan Potensi Kerjasama di Bidang Keagamaan dan Pariwisata

Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id.,  – 6 November 2024, Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Uzbekistan pada Rabu (6/11). Delegasi MUI disambut hangat oleh Sintia Christianity Saeh, Charge d’Affaires sekaligus Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tashkent. Rombongan tidak langsung diterima Duta Besar karena Duta Besar Uzbekistan baru saja wafat dan penggantinya, Ibu Siti Rohaini, belum tiba di Tashkent.

Dalam pertemuan tersebut, Sintia Saeh mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama Kedutaan Uzbekistan menerima kunjungan dari MUI Sumatera Utara, setelah MUI Pusat melakukan kunjungan tahun lalu. Ia menyampaikan pandangannya bahwa kunjungan ini sangat strategis, mengingat hubungan sejarah antara Indonesia dan Uzbekistan yang erat, terutama dalam bidang keagamaan dan budaya.

“Kunjungan ini menjadi simbol hubungan yang erat dan bersejarah antara kedua negara, terlebih dengan tujuan utama untuk ziarah ke makam Imam Bukhari. Indonesia dan Uzbekistan dapat menjajaki kerja sama di bidang pariwisata, ilmu pengetahuan Islam, hingga produk halal,” ujar Sintia.

Pada kesempatan tersebut, Sintia juga menyebutkan bahwa pada tahun 2025 Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan kunjungan ke Uzbekistan. Presiden Prabowo berencana mengusulkan pembangunan Taman Soekarno di Samarkand, dekat dengan makam Imam Bukhari, sebagai simbol persahabatan kedua negara.

“Di Uzbekistan, masyarakat kami kerap mengingat Indonesia dengan nama besar Soekarno. Hal ini tidak lepas dari kunjungan Presiden Soekarno ke Uzbekistan yang kala itu masih merupakan bagian dari Uni Soviet pada tahun 1956 dan 1961,” tambah Sintia.

Pada era Uni Soviet di bawah kepemimpinan Nikita Khrushchev, Bung Karno menggunakan strategi diplomatik unik. Ia menyatakan kesediaannya untuk memenuhi undangan Khrushchev hanya jika pemerintah Soviet dapat menemukan makam Imam Bukhari. “Dulu makam ini tidak dikenal, tidak ditemukan [makam] Imam Bukhari ini. Tapi Bung Karno menyadarkan pemerintah sini [Uzbekistan] bahwa di sini ada tokoh utama, yaitu Imam Bukhari,” ungkap Sintia. Bung Karno bahkan menyampaikan, “Tidak akan saya datang ke sini kalau tidak dibangunkan [makam] Imam Bukhari.”

Usaha Bung Karno ini berujung pada renovasi dan pembangunan kompleks makam Imam Bukhari yang kini menjadi salah satu tujuan wisata religi utama di Uzbekistan. Mengenang peran besar Bung Karno, pemerintah Indonesia mengusulkan kepada pemerintah Uzbekistan untuk membangun perpustakaan khusus bernama Soekarno Memorial Library di dekat makam tersebut. “Kita mengusulkan supaya di tempat ini dibangun, karena dulu ada kaitan dengan Bung Karno, [yaitu] Soekarno Memorial Library. Semacam perpustakaan Bung Karno, untuk mengenang bahwa Bung Karno yang kemudian menemukan tempat ini [Makam Imam Bukhari],” tambah Sintia.

Dalam diskusi tersebut, Ketua Umum MUI Sumatera Utara menyatakan rasa syukurnya atas kesempatan berkunjung dan mempelajari lebih dalam sejarah dan praktik keagamaan di Uzbekistan. “Kunjungan ini telah lama kami rencanakan dan almarhum Ketua Umum H. Abdullah Syah, sangat berkeinginan untuk bisa hadir di sini. Selama di Uzbekistan, kami berziarah ke berbagai tempat bersejarah, termasuk di Bukhara, Samarkand, dan Tashkent. Kami banyak belajar bahwa mazhab yang dianut adalah Hanafi, dan pemerintah menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan Islam,” ujarnya.

Delegasi MUI juga sempat mengunjungi Islamic Academy dan Madrasah Mir Ali, serta menyampaikan minat untuk mengirimkan mahasiswa Indonesia untuk belajar di Uzbekistan. Ketua MUI Sumut menyebutkan bahwa pihak universitas di Uzbekistan tertarik menerjemahkan kitab Imam Bukhari ke dalam bahasa Indonesia.

Sintia Saeh menambahkan bahwa perkembangan Islam di Uzbekistan sangat berproses, terutama setelah masa Uni Soviet yang sangat membatasi ekspresi keagamaan. Saat ini, di bawah pemerintahan presiden saat ini, masyarakat mulai diberikan kebebasan beragama, meskipun masih ada beberapa aturan seperti larangan pemakaian cadar bagi wanita sejak Oktober 2023. Pemerintah juga mendorong pendidikan bagi wanita agar mereka dapat berperan lebih aktif dalam dunia kerja.

Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk mempererat hubungan kerjasama antara Indonesia dan Uzbekistan, terutama dalam pengembangan pariwisata religi, pendidikan, dan pemahaman keislaman yang lebih mendalam

MUI Sumut Hadiri Pertemuan dengan Dinas Kesehatan, Tegaskan Fatwa Terkait Vaksin Polio

Medan, muisumut.or.id., 5 November 2024 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, diwakili oleh Dr. Irwansyah, M.H.I., Dewan Pimpinan yang membidangi Fatwa, hadir dalam Rapat Koordinasi Program VaxSocial yang diadakan untuk mendukung upaya imunisasi polio di wilayah Sumatera Utara. Rapat tersebut berlangsung di Ruang Rapat II Kantor Gubernur Sumatera Utara, dengan partisipasi berbagai pihak termasuk WHO Indonesia, GHS, Dinas Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, serta beberapa perwakilan Puskesmas.

Program vaksinasi polio ini rencananya akan difokuskan di Kota Medan dan Kabupaten Langkat, mengingat masih adanya penolakan dari sebagian masyarakat untuk menerima vaksin polio. Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Basarin Yunus, dalam sambutannya, menyatakan harapannya agar semua pihak bersinergi demi kesuksesan program ini demi kesehatan anak-anak di Sumatera Utara. “Kami berharap program vaksinasi ini bisa berjalan optimal dengan dukungan seluruh pihak terkait,” ujar Basarin.

Penjelasan MUI Tentang Fatwa Vaksin Polio

Dalam pertemuan tersebut, Dr. Irwansyah menyampaikan bahwa sejak tahun 2002, Komisi Fatwa MUI telah mengeluarkan fatwa terkait vaksin Polio Injeksi (IPV) dan pada tahun 2005 terkait Vaksin Polio Oral (OPV). Kedua fatwa tersebut mengakui bahwa dalam proses pembuatan vaksin polio, terdapat paparan dengan zat najis, meskipun dalam produk akhir tidak ditemukan kandungan najis tersebut.

“Karena kondisi mendesak dan belum ada alternatif lain yang halal, Komisi Fatwa MUI memutuskan untuk membolehkan penggunaan vaksin polio tersebut selama tidak ada pilihan lain,” jelas Irwansyah. Ia juga menekankan bahwa MUI berharap adanya upaya dari pemerintah, termasuk WHO, untuk memproduksi vaksin polio yang halal, terutama bagi negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Kendala dan Tantangan Edukasi Vaksin Polio

Irwansyah juga mengidentifikasi beberapa kendala dalam efektivitas vaksinasi polio. Salah satunya adalah minimnya edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya vaksin. “Banyak masyarakat yang belum mendapatkan informasi lengkap mengenai manfaat vaksin, ditambah lagi dengan efek samping ringan seperti demam yang kadang terjadi setelah vaksinasi,” ungkapnya. Selain itu, isu kehalalan juga masih menjadi perhatian masyarakat, yang membuat sebagian ragu untuk divaksinasi.

Lebih lanjut, Irwansyah menjelaskan bahwa fatwa MUI memiliki dua poin keputusan, yaitu:

  1. Pada dasarnya, penggunaan obat atau vaksin yang berasal dari atau bersinggungan dengan benda najis adalah haram.
  2. Namun, pemberian vaksin IPV dan OPV kepada anak-anak yang memiliki kekebalan rendah atau immunocompromised dibolehkan, selama belum ada alternatif vaksin yang suci dan halal.

MUI Sebagai Mitra Pemerintah dalam Upaya Kesehatan

Menutup penjelasannya, Irwansyah menyatakan bahwa MUI mendukung penuh upaya pemerintah dalam bidang kesehatan, termasuk vaksinasi yang bertujuan untuk menjaga kesehatan generasi bangsa. “MUI berfungsi sebagai pelayan umat (khadimul ummah) dan sekaligus mitra pemerintah (shadiiqul hukumah). Sinergi antara MUI dan pemerintah diharapkan terus berjalan dengan baik, tentunya dalam batas kewenangan dan kemampuan MUI, khususnya terkait penjelasan hukum syar’i,” pungkasnya.

Pertemuan ini mencerminkan komitmen MUI Sumatera Utara dalam mendukung program kesehatan nasional, sambil tetap menjalankan peran pentingnya dalam memberikan pencerahan hukum syariat bagi masyarakat Muslim di Sumatera Utara.

Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara Bahas Hukum Waris dan Muzakarah  Edisi November 2024

0

Medan, muisumut.or.id., 5 November 2024 — Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar sidang penting yang berlangsung di Ruang Rapat Fatwa MUI Sumut, Jalan Majelis Ulama No. 03, Sutomo Ujung, Medan Timur. Sidang yang digelar pada Selasa, 5 November 2024 ini membahas berbagai isu strategis, di antaranya hukum waris dalam Islam, dinamika politik jelang Pilkada 2024, dan sejumlah persoalan sosial keumatan lainnya.

Pembahasan Hukum Waris

Topik utama yang disoroti dalam sidang kali ini adalah persoalan hukum waris yang masih sering memicu perdebatan di tengah masyarakat Muslim. Komisi Fatwa MUI Sumut meneliti berbagai aspek hukum waris untuk memastikan pembagian harta warisan dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Dalam sidang tersebut, sejumlah kasus konkret turut diangkat sebagai contoh, guna merumuskan keputusan yang mampu memberikan keadilan bagi seluruh ahli waris.

Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut menyatakan bahwa penting bagi MUI untuk memberikan panduan yang jelas dan aplikatif agar umat Islam memahami hak dan kewajiban dalam hal pembagian warisan. “Kami berharap, melalui pembahasan ini, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya mengikuti aturan syariat dalam mengelola warisan, sehingga tercipta keadilan dan keberkahan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.

Mudzakarah Edisi November: Pencerahan Politik Menjelang Pilkada 2024

Selain hukum waris, MUI Sumut juga menggelar Mudzakarah yang menjadi forum untuk membahas isu-isu strategis bagi umat Islam. Dengan suasana politik yang kian memanas menjelang Pilkada 2024, MUI Sumut merasa perlu memberikan pencerahan kepada masyarakat agar bijak dalam menentukan pilihan politik mereka.

Menyikapi Masalah Sosial dan Keagamaan yang Berkembang

Sidang Komisi Fatwa juga menyoroti berbagai masalah sosial, ekonomi, dan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat Sumatera Utara. Komisi Fatwa berupaya memberikan solusi dari sudut pandang syariat Islam atas berbagai fenomena yang memengaruhi kehidupan umat Muslim di wilayah ini.

Dalam kesempatan tersebut, Komisi Fatwa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ukhuwah Islamiyah dan memperkuat nilai-nilai agama dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. “MUI Sumut berkomitmen untuk terus memberikan pencerahan dan arahan yang bermanfaat bagi masyarakat, agar umat Islam dapat hidup dengan tenang dan damai di tengah-tengah berbagai dinamika sosial yang ada,” ungkap salah satu anggota Komisi Fatwa.

Sidang ini menjadi ajang penting bagi MUI Sumut dalam menjaga persatuan umat dan memberikan panduan yang sesuai dengan syariat Islam bagi masyarakat. MUI Sumut berharap, seluruh keputusan yang diambil dalam sidang ini dapat memberi manfaat yang luas dan membawa kedamaian bagi masyarakat Sumatera Utara.