Friday, March 6, 2026
spot_img
Home Blog Page 50

Delegasi MUI Sumatera Utara  Menjadi Sorotan TV Uzbekistan di Timur Square

0

Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id., 5 November 2025 – Dalam kunjungan ke Amir Timur Square di Tashkent, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mendapat perhatian media lokal. TV Uzbekistan, salah satu stasiun televisi Dunyo bo‘ylab yang bercorak dokumenter di negara tersebut, mewawancarai Prof. Dr. Jamil, perwakilan dari delegasi MUI Sumut, yang berbagi pandangannya mengenai keindahan dan kekayaan budaya Uzbekistan, serta tujuan utama rombongan selama berada di negara Asia Tengah tersebut.

Saat sesi wawancara bersama reporter TV Dunyo bo‘ylab, Azizah, Prof. Jamil menyampaikan beberapa hal menarik mengenai kunjungan ini. Azizah membuka wawancara dengan menanyakan durasi dan tujuan kunjungan delegasi MUI Sumut di Uzbekistan. Prof. Jamil menjelaskan bahwa delegasi mereka akan berada di Uzbekistan selama sekitar tujuh hari. “Uzbekistan adalah negara yang penuh dengan sejarah Islam yang kaya dan mempesona. Banyak ulama besar yang lahir di sini, menjadikan negara ini sebagai pusat peradaban Islam yang sangat menginspirasi,” ungkapnya. Prof. Jamil juga menambahkan, “Kami berada di sini untuk melakukan ziarah serta bertukar ilmu dan pengalaman dengan para cendekiawan dan ulama Uzbekistan.”

Wawancara semakin menarik ketika Azizah menanyakan kota mana di Uzbekistan yang paling berkesan bagi delegasi MUI Sumut di antara Bukhara, Samarkand, dan Tashkent. Prof. Jamil dengan antusias menyatakan bahwa ketiga kota tersebut memiliki keistimewaan masing-masing. “Bukhara, Samarkand, dan Tashkent adalah kota-kota yang luar biasa. Bukhara dikenal sebagai kota seribu madrasah, Samarkand adalah pusat ilmu pengetahuan dan arsitektur Islam klasik, sementara Tashkent sebagai ibukota memiliki nuansa modern yang harmonis dengan nilai tradisi. Kami sangat senang dan antusias melihat keindahan budaya dan sejarah dari masing-masing kota,” jelas Prof. Jamil.

Lebih lanjut, Prof. Jamil menyampaikan kekagumannya pada arsitektur kuno yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman di Uzbekistan, terutama di situs-situs bersejarah seperti Amir Timur Square, yang menjadi simbol kejayaan Amir Timur (Tamerlane) sebagai sosok pemimpin dan penakluk besar di Asia Tengah. “Amir Timur adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam, dan kehadiran patungnya di tengah kota mengingatkan kita pada peran pentingnya dalam perkembangan peradaban Islam,” tambahnya.

TV  Dunyo bo‘ylab, Uzbekistan  juga menyoroti antusiasme delegasi MUI Sumut yang mengunjungi berbagai situs bersejarah sebagai bagian dari ziarah dan studi perbandingan. Prof. Jamil mengungkapkan bahwa Uzbekistan tidak hanya memiliki sejarah yang kaya tetapi juga menawarkan pelajaran berharga dari keberagaman budayanya. “Kami ingin belajar bagaimana Uzbekistan melestarikan sejarah dan budayanya, termasuk situs-situs madrasah dan masjid yang tetap terjaga meski telah berusia ratusan tahun. Hal ini sangat menginspirasi kami dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Islam di Indonesia,” pungkasnya

Rombongan MUI Sumatera Utara Kunjungi Amir Temur Square di Tashkent

0

Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id.,  Selasa, 5 November – Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara memulai perjalanan mereka dari Samarkand menuju kota Tashkent, Uzbekistan, pagi ini pukul 09.00 waktu setempat. Mereka tiba di Tashkent pada pukul 16.00 setelah menempuh perjalanan dengan bus. Perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 5 jam, namun ditempuh lebih lama dikarnakan banyak persinggahan.  Dalam perjalanan, rombongan mengunjungi  Menara Televisi Tashkent, salah satu ikon kota yang merupakan bangunan tertinggi di Asia Tengah dengan ketinggian mencapai 375 meter. Menara ini, yang terbuat dari baja, dibangun pada 1978 dan mulai beroperasi pada 15 Januari 1985.

Setibanya di Tashkent, sebelum menuju hotel, rombongan menyempatkan diri untuk mengunjungi Amir Timur Square. Alun-alun ini awalnya merupakan taman yang dibangun pada era Gubernur Jenderal Turkestan Rusia, terletak di persimpangan dua jalan utama, yakni Jalan Moskow (kini Jalan Amir Timur) dan Jalan Kaufmann (kini Jalan Milza Ulugh Beg). Awalnya dikenal sebagai Alun-Alun Constantinov, taman ini didirikan pada 1882 oleh Nikolai Ulyanov di bawah arahan Mikhail Chernyayev. Setelah Revolusi Rusia pada 1917, alun-alun ini diganti namanya menjadi Alun-Alun Revolusi, yang kemudian dihiasi dengan patung Joseph Stalin pada akhir 1940-an. Patung Stalin kemudian dihilangkan pada 1961, dan digantikan dengan patung Karl Marx pada 1968. Setelah Uzbekistan merdeka pada 1991, alun-alun ini diubah namanya menjadi Alun-Alun Amir Timur pada 1994, di mana patung Amir Timur kini berdiri sebagai simbol kebanggaan nasional. Tepat di sebelah selatan alun-alun, Museum Amir Timur dibangun pada 1996.

Rombongan MUI Sumatera Utara memilih untuk tidak memasuki Museum Amir Timur, namun mengagumi sejarah dan arsitektur museum dari luar. Museum Sejarah Dinasti Timurid, yang juga dikenal sebagai Museum Amir Temur, terletak di pusat kota Tashkent dan merupakan salah satu landmark penting di kota tersebut. Dibuka pada 1996 untuk menghormati Amir Temur, museum ini mengabadikan sejarah dan kontribusi besar Amir Temur dalam membangun Asia Tengah dan mempersatukan Uzbekistan. Museum ini termasuk dalam daftar “Objek Ilmiah Unik Negara” Uzbekistan dan menerima sekitar 2 juta pengunjung setiap tahun, termasuk wisatawan internasional.

Lima Guru Besar berfoto bersama
Lima Guru Besar berfoto bersama

Uzbekistan, yang merdeka pada 1991, menaruh perhatian besar terhadap pemulihan budaya dan pengakuan terhadap tokoh sejarah seperti Amir Temur yang berjasa besar bagi kemajuan negara. Pada 1996, ulang tahun Amir Temur yang ke-660 diperingati secara nasional sebagai “Tahun Amir Temur,” dan museum ini dibuka sebagai bagian dari penghormatan tersebut.

Museum ini memiliki tiga lantai dengan desain arsitektur bundar dan kubah bergaya oriental. Interiornya dihiasi dengan marmer, fresko, dan lampu kristal besar setinggi 8,5 meter dengan 106 ribu liontin. Museum ini menyimpan sekitar 5 ribu koleksi, termasuk manuskrip, senjata, keramik, dan koin yang berasal dari masa pemerintahan Amir Temur dan dinastinya. Salah satu koleksi paling berharga adalah salinan Quran Utsman dan panel miniatur yang menggambarkan perjalanan hidup Amir Temur.

Secara rutin, museum ini mengadakan berbagai pameran internasional yang menampilkan koleksi langka, seperti manuskrip kuno dan lukisan miniatur, bekerja sama dengan negara-negara seperti India, Iran, dan Oman. Beberapa pameran museum ini bahkan pernah diadakan di luar negeri, seperti “Renaisans Timurid” di Prancis, Expo 2000 di Jerman, dan “Warna-Warni Kain dan Keramik” di Australia.

Kunjungan rombongan MUI Sumatera Utara ke Tashkent dan Amir Timur Square ini diharapkan dapat mempererat hubungan budaya dan memperdalam pemahaman mengenai sejarah besar peradaban Islam yang pernah berjaya di Asia Tengah.

Delegasi MUI Sumut Sampaikan Terimakasih ke Pusat Kajian Imam Bukhari dan Sekolah Tinggi Ilmu Hadis di Uzbekistan

0

Samarkand, Uzbekistanm muisumut.or.id, 4 November 2024 – Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI-SU) yang diwakili oleh Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI), KH Akhyar Nasution, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas kesempatan mengunjungi Pusat Kajian Imam Bukhari di Uzbekistan. Lembaga pemerintah ini didirikan untuk memperkenalkan kontribusi keilmuan para ulama Asia Tengah yang dalam literatur klasik dikenal dengan sebutan ma wara’a an-Nahr atau Transoxiana.

Dalam wawancara, KH Akhyar Nasution mengungkapkan kebahagiaannya ketika mendapatkan informasi dari Rektor Dr. Barot Amonov bahwa mulai Oktober 2024, Pusat Kajian Imam Bukhari akan menawarkan program beasiswa internasional bagi mahasiswa dari berbagai negara. “Kami sangat berharap dapat mengirim mahasiswa berprestasi dari Indonesia melalui dukungan MUI Sumut. Ini adalah kesempatan besar bagi generasi muda Indonesia untuk mendalami ilmu dan peradaban Islam yang berkembang pesat di Asia Tengah,” ujar KH Akhyar.

Program beasiswa ini juga ditujukan kepada para peneliti manuskrip keislaman dari seluruh dunia, terutama mereka yang ingin meneliti tentang karya-karya para ulama Asia Tengah. Lembaga ini telah melakukan banyak inisiatif dalam mengumpulkan, meneliti, menerjemahkan, serta mempublikasikan berbagai karya ulama Asia Tengah, khususnya karya-karya monumental dari Imam Bukhari. Dr. Barot Amonov menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan agar generasi muda di seluruh dunia dapat mengenal dan mengapresiasi warisan intelektual yang dihasilkan para ulama besar.

Tidak hanya mengunjungi Pusat Kajian Imam Bukhari, delegasi MUI Sumut juga diberi kehormatan untuk berkunjung ke Sekolah Tinggi Ilmu Hadis Imam Bukhari. Lembaga pendidikan ini fokus pada kajian mendalam terhadap Al-Quran dan Hadits, dengan kajian hadits yang mencakup berbagai kitab yang disusun oleh para Imam Hadits seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah. KH Akhyar menyampaikan bahwa Sekolah Tinggi Ilmu Hadis ini telah menjadi pusat penting dalam melahirkan generasi cendekiawan yang mampu memahami dan mengembangkan ilmu hadits secara mendalam.

Delegasi MUI Sumut juga mendapatkan kesempatan untuk meninjau fasilitas di Sekolah Tinggi Ilmu Hadis tersebut, termasuk perpustakaan, ruang kelas, dan sarana olahraga mahasiswa. “Melihat fasilitas dan komitmen pendidikan yang ada, kami merasa sangat terinspirasi dan berharap agar lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia juga dapat terus berkembang dan memperluas program kajian hadits yang terstruktur dan mendalam,” tambah KH Akhyar.

Kunjungan ini tidak hanya mempererat hubungan kerjasama antara MUI Sumut dan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Uzbekistan, namun juga membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk mendapatkan akses ke ilmu pengetahuan yang berharga dari salah satu pusat peradaban Islam di Asia Tengah. KH Akhyar menegaskan komitmen MUI Sumut untuk terus mendukung mahasiswa dan peneliti Indonesia dalam mengejar kesempatan belajar di luar negeri, agar ilmu dan wawasan yang diperoleh dapat membawa manfaat bagi perkembangan Islam di tanah air.

4o

ChatGPT dapat membuat kesalahan. Periksa info penting.

Delegasi MUI Sumut Ziarah ke Makam Imam Abu Mansur Al-Maturidi di Samarkand

Samarkand, Uzbekistan, musumut.or.id., 4 November 2024– Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak, melakukan ziarah ke makam Imam Abu Mansur Al-Maturidi, seorang tokoh besar dalam sejarah Islam. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda ilmiah MUI Sumut di Uzbekistan, dalam rangka memperdalam wawasan tentang para ulama berpengaruh dari Asia Tengah, yang menjadi pusat peradaban Islam pada masanya.

Rombongan tiba di kompleks makam pada Senin (4/11/2024) pukul 15.15 waktu setempat. Untuk mencapai makam, para anggota rombongan harus berjalan kaki sejauh 200 meter, karena bus tidak dapat memasuki area makam yang sakral. Di tempat tersebut, rombongan melaksanakan pembacaan tahtim dan doa yang dipimpin oleh KH Akhyar Nasution, sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Al-Maturidi, sosok yang dikenal karena sumbangsihnya dalam merumuskan dan menjaga kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Imam Abu Mansur Al-Maturidi, yang memiliki nama lengkap Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi As-Samarqandi Al-Hanafi, adalah seorang ahli kalam dan tokoh teologi Islam berpengaruh pada masanya. Berasal dari Samarkand, beliau berhasil mematahkan berbagai paham menyimpang dengan argumentasi yang kuat dan logis, serta mempertahankan ajaran Islam yang lurus dan sesuai dengan sunnah Rasulullah dan para Sahabat.

Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak, menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar ziarah, tetapi juga sarana untuk mengingat kembali kontribusi besar Imam Al-Maturidi dalam menjaga ajaran Islam yang murni. “Ulama yang kita ziarahi ini, Imam Abu Mansur Al-Maturidi, adalah salah satu dari dua imam besar yang merumuskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Bersama Abu Musa Al-Asy’ari, beliau berperan penting dalam meluruskan paham-paham yang menyimpang di zamannya,” tutur Buya Maratua.

Lebih lanjut, Buya Maratua menjelaskan bahwa sebagai ahli kalam dan aqidah, Imam Abu Mansur Al-Maturidi banyak berjasa dalam mengembalikan paham yang menyimpang kepada ajaran Islam yang asli. “Pada masa itu, banyak paham menyimpang seperti Mu’tazilah dan Qadariyah yang berkembang di kawasan ini. Imam Al-Maturidi, dengan ilmunya, mampu meluruskan paham-paham tersebut dan kembali mengajarkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan para Sahabat,” tambahnya.

Imam Al-Maturidi dikenal pula dengan gelar Rais Ahlussunnah (Pemimpin Ahlussunnah) dan al-Imam al-Zahid (Pemimpin yang Zuhud), karena keteguhannya dalam ilmu dan kesederhanaannya dalam hidup. Beberapa tokoh besar juga tercatat sebagai muridnya, termasuk Abu Bakar Ahmad al-Juzjani, Abu Nashr Ahmad al-‘Iyadh, dan Nushair bin Yahya al-Balkhi, yang turut menyebarkan ajarannya di berbagai penjuru wilayah.

Rombongan juga menemukan batu batu nisan disamping makam Imam Maturidi yang diyakini oleh arkiolog bahwa dulu makam ini ada 6 tingkat, dan batu batu ini adalah bagiannya

Ziarah ini meninggalkan kesan mendalam bagi rombongan MUI Sumut. “Ini bukan hanya tentang mengenang tokoh besar, tapi juga menghidupkan kembali semangat memperjuangkan Islam yang lurus dan moderat, sesuai yang diajarkan para pendahulu kita,” tutup Buya Maratua.

Kunjungan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi umat Islam, khususnya di Indonesia, untuk terus menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan sehari-hari, serta meneruskan perjuangan ulama terdahulu yang senantiasa mengutamakan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Rombongan MUI Sumut Ziarah ke Makam Amir Timur di Samarkand

0

Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id., 4 November 2024 – Dalam upaya mempererat spiritualitas dan menghidupkan kembali jejak sejarah peradaban Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan kunjungan ziarah ke makam Amir Timur, atau Gur-e Amir Maqbarasi, di Samarkand. Kegiatan ziarah ini bertujuan untuk meneladani tokoh Islam besar, mengenal arsitektur bersejarah, dan menguatkan nilai-nilai persaudaraan antarbangsa.

Setibanya di lokasi, rombongan MUI Sumut terpesona oleh keindahan arsitektur bangunan bersejarah yang memiliki kubah berwarna biru eksotis, yang menjadi salah satu ciri khas kompleks Gur-e Amir. Selain mempelajari sejarah Amir Timur dan kontribusinya dalam perkembangan peradaban Islam, rombongan juga mendengarkan kisah-kisah menarik yang disampaikan oleh pemandu wisata, Adil Bek. Beberapa kisah misteri seputar makam ini menambah daya tarik bagi para pengunjung.

Di dalam mausoleum, rombongan melihat batu nisan Amir Timur yang terbuat dari batu zamrud berwarna hijau tua, sekilas tampak seperti hitam. Batu zamrud ini dipercaya sebagai batu terbesar yang ditemukan pada masa cucu Amir Timur, Ulugh Beg, yang terkenal dengan observatoriumnya di Samarkand. Konon, batu ini ditemukan di Tiongkok dan telah diukir dengan nama Amir Timur sebagai pengingat garis keturunan langsungnya dari Ghengis Khan.

Rombongan MUI Sumut dipandu Adil Bek, yang memandu  menyusuri area kompleks makam Amir Timur. Setibanya di sana, rombongan terkesima dengan kemegahan arsitektur bangunan, khususnya kubah biru yang khas dan megah. Kompleks Gur-e Amir ini juga menjadi tempat peristirahatan bagi beberapa anggota keluarga Dinasti Timurid, termasuk Ulugh Beg, cucu Amir Timur yang terkenal atas kontribusinya dalam ilmu astronomi di Samarkand

Selama kunjungan, rombongan juga menjumpai puing-puing bekas bangunan madrasah yang terletak di sekitar area makam. Puing-puing ini menjadi saksi bisu kejayaan pendidikan Islam pada masa Dinasti Timuri, yang dulu mendirikan madrasah sebagai pusat pendidikan. Madrasah satu lantai yang ada kini menampung toko kerajinan. Di sebelah madrasah terdapat masjid yang masih berfungsi. Ketiga bangunan ini membentuk satu ansambel.  Reruntuhan madrasah ini mengingatkan pengunjung akan pentingnya peran pendidikan dalam mengembangkan peradaban.

Saat berada di dalam mausoleum, rombongan mengamati batu nisan Amir Timur yang sangat eksotis, terbuat dari batu zamrud berwarna hijau tua yang sekilas tampak hitam. Batu zamrud ini konon adalah yang terbesar pada zamannya, didatangkan dari Tiongkok, dan memiliki ukiran nama Amir Timur sebagai simbol garis keturunannya dari Ghengis Khan. Keunikan batu zamrud ini menjadi salah satu daya tarik yang membuat pengunjung terkagum-kagum akan sejarah dan kemegahan Dinasti Timurid.

Rombongan MUI Sumatera Utara yang dipimpin  Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak  menyempatkan untuk berdoa bersama di depan kuburan Amir Timur dan beberapa kuburan disebelahnya, Untuk mengenali kuburannya ada papan pengumuman sehingga lebih mudah pengunjung untuk mengetahui posisi makam tersebut, di samping bahwa makam Amir Timur berbeda karena terbuat dari Zamrud berwarna hijau tua yang tampak seperti warna hitam

Selain itu, rombongan juga menemukan area belanja suvenir yang menarik, berada dalam bangunan menyerupai gua di sekitar kompleks makam. Beberapa orang menganggap Gur-e Amir, makam Ruhabad, dan makam Aksaray sebagai satu ansambel karena letaknya yang berdekatan. Ruhabad (abad ke-14) adalah sebuah makam kecil dan konon berisi sehelai rambut Nabi Muhammad. Madrasah satu lantai yang ada kini menampung toko kerajinan. .  Tempat ini menyediakan berbagai suvenir khas, mulai dari kerajinan lokal hingga cendera mata dengan nuansa sejarah Islam, yang bisa menjadi kenang-kenangan dari kunjungan mereka ke Samarkand. Keberadaan tempat suvenir ini menambah pengalaman tersendiri bagi rombongan, yang turut berinteraksi dengan masyarakat setempat serta mendukung ekonomi lokal.

Ziarah ini tak hanya memberikan wawasan sejarah yang kaya, tetapi juga membawa pengalaman spiritual yang mendalam. Ketua MUI Sumut menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar ziarah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menghormati jasa besar Amir Timur dalam sejarah peradaban Islam dan sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya Islam yang berharga.

Dengan menghidupkan kembali tradisi ziarah, rombongan MUI Sumut berharap agar umat Islam semakin mengenal sejarah dan meneladani tokoh-tokoh besar Islam, serta mempererat persaudaraan di antara umat Islam di seluruh dunia

Delegasi MUI Sumut Berziarah ke Makam Imam Bukhari

0

Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id,  4 November 2024 – Setelah pertemuan dengan Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Hadis dan Direktur Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara  berziarah ke makam Imam Bukhari, yang memang berada satu komplek . Namun, karena makam tersebut sedang dalam tahap perbaikan, rombongan hanya dapat berziarah dan berdoa dari luar makam.

Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, memimpin doa bersama di lokasi ziarah. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan, “Kami sangat ingin berziarah lebih dekat, namun kondisi yang tidak memungkinkan. Semoga kompleks makam ini segera selesai, sehingga umat Islam sedunia bisa berziarah kembali.”

Makam Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari merupakan situs penting bagi umat Islam, berlokasi di Desa Khartang Samarkand  dan saat ini tengah dilakukan proyek berskala besar untuk rekonstruksi lengkap lahan seluas 48.300 meter persegi di sekitarnya. Proyek ini mencakup pembangunan masjid besar baru dengan kapasitas 8.000 jamaah dan taman lanskap yang indah seluas 4.400 meter persegi. Diharapkan, masjid ini akan mampu menampung hingga 5 juta peziarah setiap tahunnya.

Kompleks tersebut juga akan mencakup situs ziarah dengan mausoleum Imam Bukhari, ruang shalat yang luas, dan hotel yang dibangun sesuai dengan prinsip halal. Pembangunan diharapkan selesai pada tahun 2025, sehingga dapat memberikan akses yang lebih baik bagi peziarah yang ingin menghormati salah satu ulama terkemuka dalam sejarah Islam.

Momen ziarah ini menegaskan komitmen MUI Sumut untuk terus menjaga hubungan spiritual dengan warisan keilmuan Islam dan memperkuat jalinan ukhuwah antar umat.

MUI Sumatera Utara Mendapat Undangan Beasiswa dari Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari, Samarkand

0

Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id.,  4 November 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menerima undangan kehormatan dari Imam Bukhari International Scientific Research Center di Samarkand, Uzbekistan, dalam pertemuan yang dilaksanakan pada hari Senin, 4 November 2024. Undangan ini merupakan langkah awal dalam mempererat hubungan ilmiah dan budaya antara MUI Sumut dengan lembaga internasional terkemuka di Uzbekistan.

Direktur Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari, Ziyodov Shovosil Yunusovich, menyampaikan harapan dan sambutan hangat dalam pertemuan tersebut. Beliau menegaskan komitmen lembaga ini untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya kaya Asia Tengah, serta melestarikan dan menyebarkan warisan keilmuan, keagamaan, dan spiritual dari para ilmuwan besar, termasuk Imam Bukhari dan Imam Tirmizi. Selain itu, Pusat Penelitian ini terus melakukan upaya penelitian dan promosi nilai-nilai keislaman yang luhur di tingkat global.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak menyambut positif kesempatan tersebut dan menyampaikan bahwa ini adalah awal yang baik bagi MUI Sumut untuk mengirimkan kader-kader terbaiknya ke High School for Hadith Sciences yang bernaung di bawah pusat penelitian ini. Kerja sama ini diharapkan akan membuka jalan bagi para peneliti dan pelajar Indonesia untuk mendalami ilmu hadits langsung di pusat yang berdekatan dengan tempat kelahiran Imam Bukhari, salah satu ulama besar Islam.

Beasiswa Internasional Imam Bukhari 2025

Sebagai bagian dari kolaborasi internasional, Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari juga membuka program Beasiswa Internasional Imam Bukhari 2025. Beasiswa ini dirancang untuk para peneliti asing yang tertarik mendalami sejarah dan budaya Asia Tengah, serta mempelajari warisan ilmiah ulama-ulama besar dari wilayah ini. Program ini berbentuk Fellowship Penelitian, yang memberi akses kepada fasilitas penelitian modern serta tempat tinggal yang nyaman bagi para penerima beasiswa.

Program ini diharapkan akan dimulai pada 1 April 2025 dengan durasi minimum dua bulan. Aplikasi dapat diajukan melalui Sekretaris Akademik Pusat Penelitian, dengan batas akhir penerimaan pada 20 Desember 2024. Aplikasi harus mencakup curriculum vitae, pernyataan singkat mengenai penelitian yang diusulkan, serta dua surat rekomendasi yang dikirim langsung ke Pusat.

Dengan adanya inisiatif ini, MUI Sumatera Utara berharap dapat membuka kesempatan lebih luas bagi kader-kader muda dalam memperoleh pendidikan tinggi ilmu hadits yang mendalam, serta meningkatkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Uzbekistan.

MUI Sumut Hadiri Seminar Internasional di Uzbekistan untuk Perkuat Moderasi Islam

Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id, 4 November 2024 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berpartisipasi dalam seminar internasional bertajuk “The Efforts of Scholarly Institutions in Promoting Values of Moderation to Reject Extremism and Enhance the Civilizational Dimension of Islam: Experiences of Indonesia and Uzbekistan as a Model.” Acara ini diselenggarakan oleh Imam Bukhari International Scientific Research Center bekerja sama dengan High School for Hadith Sciences dan MUI Sumut.

Acara ini dimulai dengan sambutan dari Dr. Barot Amonov Muradovich, Rektor High School for Hadith Sciences, yang menyampaikan apresiasinya atas kunjungan MUI Sumut dan menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan Islam di Uzbekistan dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi Islam. Dalam sambutannya, Amonov juga memperkenalkan sejarah madrasah-madrasah besar di Uzbekistan, seperti Madrasah Mir Arab, sebagai simbol komitmen negara dalam mendukung pengembangan ilmu keislaman.

Ziyodov Shovosil Yunusovich, Direktur Imam Bukhari International Scientific Research Center, turut menyampaikan sambutan hangatnya. Beliau menyampaikan pentingnya menjaga warisan spiritual Imam Bukhari dan mengajak peserta untuk menonton video dokumentasi tentang kegiatan di pusat ilmiah tersebut. Ia juga berharap dapat melihat mahasiswa Indonesia memperoleh beasiswa di pusat ini, sebagaimana mahasiswa dari berbagai negara lain seperti Malaysia, Rusia, dan Aljazair yang telah hadir sebelumnya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, memperkenalkan rombongannya yang terdiri dari para dosen, guru besar, dan rektor Universitas Al-Washliyah. Beliau menyampaikan rasa bangganya atas hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Uzbekistan serta menekankan pentingnya menjaga akidah umat. Maratua juga mengungkapkan apresiasinya terhadap budaya tarekat Naqsyabandiyah yang terkenal di Sumatera Utara dan Uzbekistan.

Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab, di mana para peserta berdiskusi mengenai upaya memperkuat moderasi Islam dan menanggulangi ekstremisme di dunia Islam. Pada akhir seminar, kedua delegasi saling menyerahkan cinderamata sebagai simbol persahabatan dan penghargaan atas kerjasama dalam mempromosikan nilai-nilai Islam yang moderat. MUI Sumut berharap partisipasinya dalam seminar ini akan semakin mempererat hubungan Indonesia-Uzbekistan dalam mengedepankan nilai-nilai Islam yang damai dan moderat.

Belajar dari Registan Square, Uzbekistan: MUI Sumut Ajak Indonesia Hadirkan Wisata Sejarah Modern yang Mendidik

0

Samarqand, Uzbekistan, muisumut.or.id –3 November 2024,  Rombongan MUI Sumatera Utara sangat antusias menyaksikan pertunjukan proyeksi 3D spektakuler yang digelar setiap hari setelah magrib di Registan Square, Samarkand. Pertunjukan ini memukau ribuan penonton dengan menampilkan perjalanan sejarah melalui perpaduan musik dan cahaya di tengah situs bersejarah. Proyek ini merupakan program permanen dari pemerintah Uzbekistan untuk meningkatkan daya tarik wisata di Samarkand, kota yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam.

Pertunjukan yang terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya ini berlangsung sekitar 30 sd 45 menit, menyajikan visualisasi sejarah Uzbekistan yang diambil dari berbagai peristiwa penting, menghidupkan kisah-kisah masa lalu yang telah membentuk peradaban Timur. Berbeda dari hiburan serupa di kota-kota lain, pertunjukan musik dan cahaya di Registan Square didasarkan sepenuhnya pada fakta sejarah. Uzbekistan menjadi negara pertama di dunia yang menggelar pertunjukan musik dan cahaya 3D permanen, berfungsi sekaligus sebagai sarana edukasi untuk memperkenalkan warisan budaya dan sejarah kawasan tersebut kepada masyarakat luas.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap pertunjukan tersebut. “Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan,” ujarnya. “Meski tidak memahami bahasa yang digunakan, kami tetap merasakan emosi yang kuat serta efek kehadiran yang luar biasa. Visualisasi sejarah ini dengan sempurna menggambarkan estetika peradaban Islam yang selalu kami cintai.”

Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, turut mengungkapkan kekagumannya. “Kami semua terpukau sepanjang pertunjukan berlangsung. Tokoh-tokoh pahlawan sejarah Uzbekistan terlihat seolah hidup, membuat kami merasa seperti melakukan perjalanan ke masa ribuan tahun yang lalu,” katanya dengan antusias.

Dr. Ardiansyah juga mengingatkan bahwa pengalaman ini mengingatkannya pada kunjungan ke Singapura di mana ada pertunjukan cahaya dan air yang menggunakan semprotan laut sebagai layar. “Namun, pertunjukan di Samarkand ini sangat emosional karena diadakan di situs bersejarah dan yang disajikan juga sarat dengan sejarah Islam. Artefak yang ditampilkan dalam proyeksi 3D pun autentik dan asli, yang semakin menambah kesan bersejarah pada pertunjukan ini,” tambahnya.

Keunikan lain dari pertunjukan ini adalah pendekatan yang diambil oleh Uzbekistan. Tidak seperti pertunjukan serupa yang sering kali menyisipkan elemen fiksi, pertunjukan ini sepenuhnya berlandaskan sejarah. Setiap adegan dalam pertunjukan mengangkat peristiwa nyata, memungkinkan penonton untuk mengenal lebih dalam tokoh-tokoh luar biasa dari Timur dan perkembangan budaya yang unik di kawasan ini.

Ketua Umum MUI Sumut berharap bahwa pelajaran dari pertunjukan ini dapat diambil dan diterapkan dalam pengembangan wisata edukatif di Indonesia, khususnya Sumatera Utara. “MUI bisa menjadi motor penggerak wisata halal yang juga mengandung edukasi sejarah dan budaya. Memang, biayanya mungkin cukup besar karena memerlukan keterlibatan berbagai pihak, seperti sejarawan, produser, sutradara, dan teknologi pencahayaan. Namun, hasilnya pasti akan lebih besar karena selain menarik pengunjung, ini juga akan mengedukasi masyarakat dan memperkuat citra bangsa kita di mata dunia,” pungkasnya.

Dengan pertunjukan ini, Uzbekistan telah menunjukkan bahwa teknologi modern dapat menjadi medium untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya yang kaya, sekaligus membangkitkan kebanggaan nasional. Inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengemas sejarah dan budaya sebagai daya tarik wisata yang berkesan.

Mengagumi Warisan Islam di Uzbekistan: Rombongan MUI Sumut Jelajahi Registan Square

Samarqand, Uzbekistan, muisumut.or.id, 3 November 2024
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Bukhoro ke Samarkand sejauh sekitar 291 kilometer yang memakan waktu sekitar lima jam, rombongan MUI Sumatera Utara akhirnya tiba di kota bersejarah ini menjelang waktu magrib. Dalam perjalanan menuju Samarkand, rombongan juga sempat berziarah ke makam sufi besar, Abd al-Khaliq Gijduvani, sebuah pengalaman yang memberikan kedamaian tersendiri. Sesampainya di Samarkand, sebelum beristirahat di hotel, rombongan mengunjungi Registan Square, ikon kota ini yang terkenal dengan keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang tinggi.

Saat menyaksikan kemegahan Registan, rasa kagum tidak terhindarkan. Skala besar bangunan, harmoni proporsi, serta kemewahan arsitektur kuno yang penuh detail mengundang penghormatan mendalam bagi para arsitek dan seniman yang menciptakan mahakarya ini. Di pusat Samarkand, Registan merupakan alun-alun besar yang dikelilingi oleh tiga madrasah abad pertengahan: Madrasah Ulugbek, Madrasah Sherdor, dan Madrasah Tilla-Kori. Ketiga madrasah ini berdiri kokoh sebagai simbol keagungan peradaban Islam di Asia Tengah dan menjadi contoh sempurna seni perkotaan serta desain arsitektur era tersebut. Pada tahun 2001, UNESCO mengakui ansambel ini sebagai Situs Warisan Dunia, memperkokoh Registan sebagai salah satu destinasi sejarah dunia yang harus dikunjungi.

Saat rombongan tiba, para pengunjung telah ramai berkumpul, menanti pertunjukan teater yang memanfaatkan dinding besar madrasah sebagai layar raksasa, lengkap dengan permainan cahaya yang spektakuler. Seiring langit yang semakin gelap, suasana alun-alun berubah magis dengan proyeksi cahaya yang menampilkan sejarah Samarkand dan ketiga madrasah. Pertunjukan ini tidak hanya indah secara visual tetapi juga penuh makna, menghadirkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang memperkaya pemahaman para penonton akan budaya Timur yang penuh kejayaan.

Sejarah Registan dan Tiga Madrasah Agung

Setiap madrasah di Registan dibangun pada periode yang berbeda, mencerminkan perkembangan seni arsitektur selama berabad-abad. Madrasah Ulugbek adalah yang tertua, dibangun atas perintah Ulugbek, cucu penguasa besar Timur (Tamerlane), yang terkenal sebagai astronom dan ilmuwan. Madrasah ini didirikan antara tahun 1417 hingga 1420 dan menjadi pusat keilmuan terkemuka di Timur abad pertengahan. Dua abad kemudian, di bawah pemerintahan Bahodur Yalangtush, dua madrasah lainnya, Sherdor dan Tilla-Kori, berdiri megah di sisi lain alun-alun. Madrasah Sherdor, yang berarti “pemilik singa”, dibangun pada 1619-1636 dan berdiri simetris dengan Madrasah Ulugbek, sementara Madrasah Tilla-Kori, atau “berlapis emas”, didirikan pada 1647-1660.

Selama berabad-abad, Registan juga berfungsi sebagai pasar sentral kota Samarkand. Di sinilah persimpangan enam jalan utama bertemu, dan istri Tamerlane, Tuman-aka, mendirikan pusat perbelanjaan kubah bernama Chor-su. Pada akhir abad ke-17, ketika ibu kota Khanate dipindahkan ke Bukhara dan Jalur Sutra berhenti melewati Samarkand, alun-alun ini sempat mengalami masa stagnasi. Namun, pada akhir abad ke-18, kehidupan di Registan kembali bergairah, dan kota ini perlahan kembali hidup dengan toko-toko tradisional yang ramai.

Madrasah Ulugbek: Pusat Ilmu Pengetahuan Abad Pertengahan

Madrasah Ulugbek, sebagai madrasah tertua di Registan, menjadi pusat ilmu pengetahuan terkemuka berkat upaya Ulugbek yang juga membangun observatorium besar di Samarkand. Madrasah ini dirancang oleh Kamaleddin Muhandis, murid ahli matematika terkenal Kazi-zade Rumi, dan memiliki halaman luas yang dikelilingi oleh ruangan-ruangan tempat para pelajar menimba ilmu. Dinding madrasah dihiasi pola geometris rumit dan mosaik biru tua yang memesona, menunjukkan keanggunan artistik yang luar biasa.

Madrasah Sherdor: Simbol Keberanian dan Keindahan

Madrasah Sherdor didirikan sebagai refleksi Madrasah Ulugbek dengan ukuran yang lebih besar, dihiasi dengan ornamen megah yang mencerminkan kebesaran penguasa pada masa itu. Meski sederhana di bagian dalam, madrasah ini tetap memikat dengan simbol singa pada fasadnya yang ikonik, sebuah lambang yang jarang ditemukan dalam arsitektur Islam.

Madrasah Tilla-Kori: Permata Emas di Registan

Madrasah Tilla-Kori, yang artinya “berlapis emas”, dibangun sepuluh tahun setelah Madrasah Sherdor dan berfungsi ganda sebagai masjid. Bagian dalamnya dipenuhi dekorasi emas yang mewah, dan kubah masjidnya dihiasi lukisan berlapis emas, menghadirkan pemandangan yang menakjubkan bagi setiap pengunjung.

Malam itu, di bawah langit Samarkand yang gemerlap, rombongan MUI Sumatera Utara disuguhkan pengalaman yang tak terlupakan, menyaksikan sejarah yang hidup dalam perpaduan antara seni, arsitektur, dan cahaya. Sebagai pusat kebudayaan Islam yang pernah berjaya, Registan tidak hanya memamerkan keindahan bangunan tetapi juga menggugah perasaan hormat terhadap sejarah besar Samarkand, menjadikannya sebagai destinasi yang abadi bagi setiap jiwa yang mencintai sejarah dan budaya Islam.