Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id., 5 November 2025 – Dalam kunjungan ke Amir Timur Square di Tashkent, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mendapat perhatian media lokal. TV Uzbekistan, salah satu stasiun televisi Dunyo bo‘ylab yang bercorak dokumenter di negara tersebut, mewawancarai Prof. Dr. Jamil, perwakilan dari delegasi MUI Sumut, yang berbagi pandangannya mengenai keindahan dan kekayaan budaya Uzbekistan, serta tujuan utama rombongan selama berada di negara Asia Tengah tersebut.
Saat sesi wawancara bersama reporter TV Dunyo bo‘ylab, Azizah, Prof. Jamil menyampaikan beberapa hal menarik mengenai kunjungan ini. Azizah membuka wawancara dengan menanyakan durasi dan tujuan kunjungan delegasi MUI Sumut di Uzbekistan. Prof. Jamil menjelaskan bahwa delegasi mereka akan berada di Uzbekistan selama sekitar tujuh hari. “Uzbekistan adalah negara yang penuh dengan sejarah Islam yang kaya dan mempesona. Banyak ulama besar yang lahir di sini, menjadikan negara ini sebagai pusat peradaban Islam yang sangat menginspirasi,” ungkapnya. Prof. Jamil juga menambahkan, “Kami berada di sini untuk melakukan ziarah serta bertukar ilmu dan pengalaman dengan para cendekiawan dan ulama Uzbekistan.”
Wawancara semakin menarik ketika Azizah menanyakan kota mana di Uzbekistan yang paling berkesan bagi delegasi MUI Sumut di antara Bukhara, Samarkand, dan Tashkent. Prof. Jamil dengan antusias menyatakan bahwa ketiga kota tersebut memiliki keistimewaan masing-masing. “Bukhara, Samarkand, dan Tashkent adalah kota-kota yang luar biasa. Bukhara dikenal sebagai kota seribu madrasah, Samarkand adalah pusat ilmu pengetahuan dan arsitektur Islam klasik, sementara Tashkent sebagai ibukota memiliki nuansa modern yang harmonis dengan nilai tradisi. Kami sangat senang dan antusias melihat keindahan budaya dan sejarah dari masing-masing kota,” jelas Prof. Jamil.
Lebih lanjut, Prof. Jamil menyampaikan kekagumannya pada arsitektur kuno yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman di Uzbekistan, terutama di situs-situs bersejarah seperti Amir Timur Square, yang menjadi simbol kejayaan Amir Timur (Tamerlane) sebagai sosok pemimpin dan penakluk besar di Asia Tengah. “Amir Timur adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam, dan kehadiran patungnya di tengah kota mengingatkan kita pada peran pentingnya dalam perkembangan peradaban Islam,” tambahnya.


TV Dunyo bo‘ylab, Uzbekistan juga menyoroti antusiasme delegasi MUI Sumut yang mengunjungi berbagai situs bersejarah sebagai bagian dari ziarah dan studi perbandingan. Prof. Jamil mengungkapkan bahwa Uzbekistan tidak hanya memiliki sejarah yang kaya tetapi juga menawarkan pelajaran berharga dari keberagaman budayanya. “Kami ingin belajar bagaimana Uzbekistan melestarikan sejarah dan budayanya, termasuk situs-situs madrasah dan masjid yang tetap terjaga meski telah berusia ratusan tahun. Hal ini sangat menginspirasi kami dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Islam di Indonesia,” pungkasnya






















Dr. Ardiansyah juga mengingatkan bahwa pengalaman ini mengingatkannya pada kunjungan ke Singapura di mana ada pertunjukan cahaya dan air yang menggunakan semprotan laut sebagai layar. “Namun, pertunjukan di Samarkand ini sangat emosional karena diadakan di situs bersejarah dan yang disajikan juga sarat dengan sejarah Islam. Artefak yang ditampilkan dalam proyeksi 3D pun autentik dan asli, yang semakin menambah kesan bersejarah pada pertunjukan ini,” tambahnya.




