Wednesday, April 22, 2026
spot_img
Home Blog Page 50

Masjid Lama Kabanjahe, Saksi Sejarah Islam di Tanah Karo

Kabanjehe, muisumut.or.id, 25 November 2024 – Tim Infokom MUI Sumatera Utara yang dipimpin Ketua Bidang Infokom MUI Sumatera Utara, Dr. Akmaluddin Syahputra di dampingi Ketua Umum MUI Karo, Drs. H. Fahri Samadin Tarigan melakukan kunjungan ke Masjid Lama Kabanjahe, sebuah masjid bersejarah yang berdiri sejak awal abad ke-20 di Jalan Mesjid, Kelurahan Lau Cimba, pusat Kota Kabanjahe, Kabupaten Karo. Kunjungan Tim menjumpai  Ketua BKM Masjid Lama, M. Sidik Surbakti, yang menyampaikan kisah  tentang perjalanan panjang masjid ini sebagai salah satu simbol masuknya Islam di Tanah Karo.

Masjid Lama Kabanjahe mulai dibangun pada tahun 1902 dan selesai pada tahun 1904. Keberadaannya berawal dari keresahan para pedagang yang berasal dari berbagai suku, seperti Melayu, Aceh, Minangkabau, dan Jawa, yang kesulitan menunaikan salat di tengah aktivitas mereka berdagang di pasar. Atas mufakat bersama, mereka memohon izin kepada Sibayak Lingga, salah satu penguasa adat setempat, untuk mendirikan masjid.

“Ia (Sibayak Lingga) mengizinkan para pedagang Muslim mendirikan masjid agar mereka dapat beribadah dengan khusyuk. Bahkan, ia memberi keleluasaan kepada mereka untuk memilih tanah yang cocok,” ujar M. Sidik Surbakti.

Namun, hingga kini, belum jelas siapa pewakif tanah masjid ini. Berdasarkan informasi dari ayah M. Sidik, tanah tersebut diduga diwakafkan oleh seseorang bermarga Brahmana. Namun, klaim tersebut sulit dibuktikan karena tidak ada pengakuan dari keturunannya. Saat ini, proses pengurusan sertifikat wakaf tengah dilakukan agar masjid ini memiliki legalitas formal.

Arsitektur Bersejarah dengan Nuansa Melayu
Masjid Lama Kabanjahe memiliki desain arsitektur khas Melayu dengan atap menyerupai Masjid Agung Demak di Jawa Tengah. Dinding dan lantainya terbuat dari kayu tua yang diambil dari hutan sekitar Kabanjahe pada masa itu. Sultan Langkat juga berperan penting dalam pembangunan masjid ini dengan mewakafkan dana sebesar Rp250, yang kala itu merupakan jumlah yang signifikan.

Sebagai salah satu masjid tertua di Tanah Karo, Masjid Lama Kabanjahe menjadi pintu gerbang penyebaran Islam di wilayah ini. “Masjid ini adalah bukti sejarah perjuangan Islam di Tanah Karo dan merupakan salah satu saksi bisu peradaban Islam masa lampau,” ungkap Sidik Surbakti, yang telah mengurus masjid ini sejak 1988, melanjutkan peran ayahnya sebagai pengurus inti masjid.

Dari Tempat Ibadah Hingga Rencana Renovasi
Seiring bertambahnya jumlah umat Islam, sejak sekitar tahun 1967 pelaksanaan salat Jumat dipindahkan ke Masjid Raya Kabanjahe, yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Kabanjahe. Masjid Lama Kabanjahe sejak itu hanya digunakan untuk salat fardu lima waktu, salat tarawih, kajian Islam, dan pengajian.

Sidik Surbakti juga menyampaikan rencana renovasi masjid ini, dengan desain yang sama persis dengan bangunan aslinya. Namun, renovasi ini akan menambahkan area parkir di bagian bawah untuk mengakomodasi kebutuhan umat Islam saat ini.

“Kami ingin memastikan bahwa masjid ini tetap terjaga keasliannya, sekaligus memberikan fasilitas tambahan yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” jelas Sidik.

Dengan nilai sejarahnya yang tinggi, Masjid Lama Kabanjahe tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu peradaban Islam di Tanah Karo. Kunjungan Tim Infokom MUI Sumut bertujuan mendokumentasikan cerita dan keberadaan masjid ini sebagai bagian dari warisan sejarah Islam di Sumatera Utara, sekaligus mengingatkan generasi muda tentang pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya dan agama.

Tim Infokom MUI Sumut Kunjungi Makam Tengku Lau Bahun, Warisan Sejarah Islam di Tanah Karo

Karo, muisumut.or.id, 25 November 2024 – Tim Infokom MUI Sumatera Utara, yang dipimpin oleh  Ketua Bidang Infokom Dr. Akmaluddin Syahputra, dan kordinator liputan, Rustam, MA melakukan kunjungan ke makam Tengku Lau Bahun di Desa Budaya Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Perjalanan menuju makam ini menantang, karena tim harus melewati jalan tanah berlubang sejauh 4 kilometer dari jalan utama.

Makam Tengku Lau Bahun, yang juga dikenal sebagai Tengku Abdul Hamid oleh beberapa warga, terletak di tengah kebun milik warga. Suasana di sekitar makam dipenuhi keheningan alami yang diselimuti cerita mistis dan sejarah panjang. Di atas makam ini tumbuh pohon beringin besar dengan akar-akar yang melilit, menjadi simbol keabadian dan memberikan aura magis. Pohon tersebut dihiasi benalu besar dengan bunga-bunga yang mekar, menambah daya tarik bagi siapa saja yang berziarah.

Nisan Bersejarah dengan Sentuhan Tradisional
Tim Infokom mendapati batu nisan makam ini memiliki desain tradisional yang unik. Batu tersebut terlihat kokoh, terbuat dari batu alami dengan ornamen melingkar di bagian atas yang menyerupai mahkota atau ukiran bunga. Lumut hijau yang menutupi permukaannya menandakan usia yang sudah sangat tua. Lokasi nisan ini terlindungi oleh struktur kayu sederhana dan kain putih, memberikan kesan sakral dan penghormatan terhadap makam ini.

Legenda dan Kisah Mistis Tengku Lau Bahun
Berdasarkan cerita turun-temurun, Tengku Lau Bahun adalah tokoh sakral yang dihormati masyarakat Karo. Setelah wafatnya, sempat terjadi kemarau panjang karena jasadnya tidak segera dimakamkan dengan layak. Warga juga menceritakan fenomena aneh, seperti pagar ladang yang bergeser kembali ke posisi awal setelah dicoba dipindahkan.

Makam ini dahulu sering menjadi tempat bertawasul oleh masyarakat setempat, terutama saat menghadapi musim kemarau panjang. Di sekitar makam, terdapat sarang lebah yang menghasilkan madu, yang dipercaya warga sebagai tanda keberkahan dari lokasi tersebut.

Bagi masyarakat Karo, makam Tengku Lau Bahun bukan hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga tempat penghormatan lintas generasi. Cerita mistis bahwa makam ini dapat tertutup sepenuhnya oleh akar pohon jika tidak sering diziarahi menjadi pengingat bagi warga untuk terus menjaga dan merawatnya.

Misi Dokumentasi Warisan Sejarah Islam
Kunjungan Tim Media Ulama bertujuan untuk mendokumentasikan kisah dan keberadaan makam ini sebagai bagian dari warisan sejarah Islam di Sumatera Utara. Drs. Rustam menyampaikan, “Makam Tengku Lau Bahun adalah bukti perjuangan ulama di masa lalu, sekaligus pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya merawat warisan sejarah.”

Dr. Akmaluddin Syahputra menambahkan, “Keunikan dan cerita di balik makam ini perlu dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya dan keagamaan. Ini adalah pengingat tentang harmoni antara sejarah Islam dan tradisi lokal di Sumatera Utara.”

Dengan nilai sejarah dan spiritualitas yang kaya, makam Tengku Lau Bahun tetap menjadi simbol perjuangan, keberkahan, dan harmoni yang menghubungkan sejarah Islam dengan tradisi masyarakat Karo. Tim Media Ulama berharap kunjungan ini dapat memberikan inspirasi untuk menjaga warisan budaya dan keagamaan yang berharga ini.

Tausiyah MUI Sumut: : Pilkada Damai dan Beretika adalah Tanggung Jawab Bersama

0

Medan, muisumut.or.id., 24 November 2024., – Menjelang Pilkada Serentak 2024, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengeluarkan taushiyah bertema “Pemilu Damai Beretika Wujudkan Masyarakat Adil Sejahtera”. Dalam pesan moral ini, MUI Sumut mengajak umat Islam di seluruh provinsi untuk berpartisipasi aktif dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama, moralitas, dan etika dalam proses demokrasi.

Dr. Ardiansyah, Wakil Ketua MUI Sumatera Utara, menegaskan bahwa pilkada merupakan momentum penting untuk memilih pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat. “Islam mengajarkan bahwa memilih pemimpin adalah tanggung jawab umat, sebagai bagian dari menjaga agama dan mengatur kehidupan berbangsa,” ungkapnya.

Berikut adalah poin-poin utama dalam taushiyah yang disampaikan:

1. Kewajiban Memilih Pemimpin
Islam menegaskan pentingnya memilih pemimpin yang beriman, bertakwa, jujur, amanah, aspiratif, dan memiliki kompetensi yang mumpuni. Pemimpin seperti ini diharapkan mampu menjaga nilai-nilai agama dan memberikan solusi terbaik untuk masyarakat.

2. Bijak dalam Penggunaan Media Sosial
MUI Sumut mengingatkan masyarakat untuk menggunakan media sosial dengan bertanggung jawab. Ujaran kebencian, hoaks, dan fitnah harus dihindari sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Muamalah di Media Sosial. Media sosial harus menjadi sarana edukasi, bukan provokasi.

3. Menolak Politik Uang (Money Politics)
Politik uang atau risywah (suap) dinyatakan haram dalam Islam karena merusak moral masyarakat dan mencederai proses demokrasi. “Kita harus menolak segala bentuk praktik suap, karena pemimpin yang terpilih dengan cara tidak jujur sulit diharapkan membawa keberkahan,” kata Dr. Ardiansyah.

4. Menjaga Persatuan dan Ukhuwah Islamiyah
Dalam kontestasi politik, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar. MUI Sumut menyerukan agar masyarakat tetap menjaga persatuan dan kerukunan, mengedepankan dialog yang santun, serta tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memecah belah.

5. Memilih Pemimpin Ideal
Masyarakat diajak untuk memilih pemimpin yang takut kepada Allah, berkeadilan, dan berkomitmen melayani semua lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Pemimpin seperti ini diharapkan mampu membawa kesejahteraan yang merata bagi Sumatera Utara.

Dr. Ardiansyah juga menekankan bahwa Pilkada Serentak 2024 harus menjadi tonggak persatuan umat. “Kami berharap seluruh umat Islam dapat menjaga stabilitas keamanan, mendukung proses demokrasi, dan memastikan Sumatera Utara tetap menjadi provinsi yang harmonis dan sejahtera,” ujarnya.

MUI Sumut berharap, melalui taushiyah ini, seluruh elemen masyarakat dapat berkontribusi menciptakan suasana pemilu yang damai, adil, dan beretika demi terciptanya masa depan yang lebih baik bagi Sumatera Utara.

Muzakarah MUI Sumut Bahas Ijtihad Politik Umat Islam di Pilkada 2024

0

Medan, muisumut.or.id., 24 November 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara mengadakan Muzakarah Komisi Fatwa bertajuk “Ijtihad Politik Umat Islam: Ikhtiyar Menyikapi Pilkada di Sumatera Utara Tahun 2024”. Kegiatan ini bertujuan memberikan panduan bagi umat Islam dalam menyikapi Pilkada serentak tahun depan.

Prof. Dr. H. Hasyimsyah Nasution, MA, dalam pemaparannya, menjelaskan pentingnya umat Islam memahami peran politik sebagai sarana untuk mewujudkan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Beliau menyoroti lima fungsi utama politik, yaitu pendidikan politik, pembinaan pelaku politik, pengartikulasian kepentingan, penyaluran aspirasi, dan komunikasi politik.

Tantangan dan Peluang di Pilkada 2024

Sumatera Utara memiliki Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 10.771.496 jiwa, dengan mayoritas pemilih berasal dari generasi milenial dan generasi Z. Prof. Hasyimsyah menegaskan perlunya pendidikan politik berbasis nilai-nilai agama untuk membantu pemilih menentukan pilihan yang bijak dan bertanggung jawab.

Selain itu, beliau mengajak masyarakat memahami politik Islam melalui pendekatan normatif (Al-Qur’an dan Hadis) serta historis, dengan mencontoh praktik politik di masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafa’ al-Rasyidin.

Peran MUI dalam Pilkada

Acara ini mencerminkan komitmen MUI Sumut dalam mendampingi umat Islam untuk menghadapi Pilkada dengan cerdas dan beretika. Melalui diskusi ini, diharapkan tercipta kesadaran politik yang lebih baik dan bermanfaat bagi keutuhan bangsa.

Acara yang terbuka untuk umum ini juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi MUI Sumut untuk menjangkau khalayak lebih luas.

Musda MUI Labusel ke-IV: Meningkatkan Kolaborasi Antar Ulama dan Umara dalam Membina Umat

Labuhan Batu Selatan, muisumut.or.id.,  23 November 2024 – Musyawarah Daerah (Musda) ke-IV Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Labuhan Batu Selatan (Labusel) digelar dengan tema “Meningkatkan Kolaborasi Antar Ulama dan Umara dalam Membina Umat”. Acara yang berlangsung di Grand Suma pada 21 Jumadil Awal 1446 H / 23 November 2024 M ini, dihadiri oleh berbagai tokoh penting, baik dari kalangan ulama, umara, maupun masyarakat setempat.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan dengan kata sambutan. Dalam sambutannya, Ketua MUI Labusel menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam penyelenggaraan Musda kali ini. Ia menekankan pentingnya kolaborasi yang erat antara ulama dan umara (pemimpin daerah) dalam memperkuat pembinaan umat, mengingat tantangan zaman yang semakin kompleks.

DR. H. Ardiansyah LC MA, Wakil Ketua MUI Provinsi Sumatera Utara, dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangga dan harapan besar terhadap MUI Labusel. Menurutnya, Musda ini merupakan momen penting dalam mempererat hubungan antara ulama dan umara untuk meningkatkan kesejahteraan umat. “Keharmonisan hubungan antara ulama dan umara sangat diperlukan dalam menciptakan kedamaian dan kemajuan masyarakat. MUI memiliki peran sentral dalam membimbing umat agar selalu berjalan sesuai dengan ajaran agama yang benar,” ujarnya.

Wakil Bupati Labusel, yang juga hadir dalam acara ini, mengucapkan terima kasih atas undangan serta kesempatan untuk berkolaborasi dalam pembangunan daerah yang berbasis pada nilai-nilai agama. Beliau menyampaikan komitmennya untuk mendukung penuh segala kegiatan yang dilaksanakan oleh MUI guna menciptakan suasana yang kondusif bagi masyarakat. “Kerjasama antara ulama dan umara adalah kunci untuk memajukan daerah kita. Mari kita bersinergi untuk mewujudkan Labusel yang lebih baik,” tuturnya.

Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh Forkopimda Labusel dan perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Labusel, yang turut mendukung upaya MUI dalam menyukseskan program-program pembinaan umat.

Musda MUI Labusel ke-IV ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah antara berbagai elemen masyarakat dan memfasilitasi peran aktif MUI dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam.

Tim Infokom MUI Sumut Kunjungi Masjid Raya Gunung Tua dalam Rangka Menggali Khazanah Keislaman di Padang Lawas Utara

Padang Lawas Utara, muisumut.or.id., 23 November 2024 – Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara yang dipimpin oleh Dr. Akmaluddin Syahputra, melakukan kunjungan ke Masjid Raya Gunung Tua, sebuah masjid megah yang menjadi kebanggaan warga Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Kunjungan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang khazanah keislaman di daerah tersebut.

Masjid Raya Gunung Tua, yang terletak di Jalan Sisingamangaraja Gunung Tua, dibangun di atas lahan bekas lapangan sepak bola. Dengan desain bergaya minimalis, masjid ini mampu menampung hingga 3.500 jamaah, dengan kapasitas 2.000 jamaah di lantai dua dan 1.500 jamaah di lantai dasar, balkon, dan sayap. Masjid ini tidak hanya digunakan untuk salat, tetapi juga untuk berbagai kegiatan keagamaan seperti perwiritan, seminar, dan kegiatan agama lainnya di lantai dasar.

Selain masjid, komplek ini juga dilengkapi dengan gedung perkantoran untuk organisasi masyarakat Islam seperti MUI, Persatuan Haji, dan lembaga keagamaan lainnya. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat membantu mengontrol dan menjaga kemakmuran masjid yang megah tersebut.

Kehadiran Masjid Raya Gunung Tua di Kabupaten Paluta menjadi kebanggaan bagi masyarakat setempat. “Rasa syukur kami atas masjid ini harus diwujudkan dengan cara memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan keagamaan,” ujar seorang pengunjung setempat kepada Tim Infokom.

Sebagai bagian dari visi Kabupaten Paluta yang beriman, cerdas, berakhlak, dan beradab, Masjid Raya Gunung Tua menjadi simbol penting dalam pembangunan masyarakat yang beriman dan beradab. Masjid ini menjadi pusat kegiatan agama yang dapat membangun karakter dan akhlak masyarakat.

Ketua komisi Penelitian MUI Paluta Muhammad Ali Harahap, M.Pd., menyampaikan pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 2009 dan memakan waktu selama tiga tahun dengan menggunakan dana dari APBD Kabupaten Paluta. Selain masjid, kompleks ini juga mencakup kantor MUI Paluta, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta Badan Kemakmuran Masjid (BKM). Tak hanya itu, di area ini juga terdapat Taman Kanak-Kanak/ Raudhatul Atfal (TK/RA) Al-Quran serta Taman Pendidikan Al-Quran yang telah terakreditasi, sebagai upaya mencetak generasi penerus yang berkualitas dalam bidang agama.

Kunjungan ini diakhiri dengan diskusi tentang potensi masjid sebagai pusat kegiatan dakwah dan pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Paluta. Tim Infokom MUI Sumut mengapresiasi keberadaan masjid ini dan berharap dapat menjadi contoh dalam memakmurkan masjid dan membangun umat yang berakhlak mulia.

Perkuat Sinergi, Tim Infokom MUI Sumut Kunjungi MUI Padang Lawas Utara

Padang Lawas Utara, muisumut.or.id., 23 November 2024 – Dalam rangka memperkuat sinergi dan menggali khazanah keislaman di daerah, Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melakukan kunjungan ke kantor MUI Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Kunjungan ini dipimpin oleh Dr. Akmaluddin Syahputra, Kabid Infokom MUI Sumut, didampingi oleh Rustam, MA, Ari Syahputra, dan Muhammad Mulyo Ponconiti.

Kegiatan ini berlangsung di Kantor MUI Paluta yang terletak di kompleks Masjid Raya Gunung Tua, Padang Lawas Utara. Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Komisi Infokom MUI Paluta, Tohong Pangundian Harahap, S.H.I., M.Pd.I., Ketua Komisi Dakwah H. Hincat Pangabisan, S.H.I., serta Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian, Muhammad Ali Harahap, M.Pd.

Dalam sambutannya, Dr. Akmaluddin Syahputra menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari agenda liputan daerah, untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan khazanah keislaman di Kabupaten Paluta. Selain itu, kunjungan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara MUI Sumut dan MUI daerah, khususnya dalam bidang informasi dan komunikasi.

“Infokom memiliki peran strategis untuk membantu MUI lebih dikenal di mata publik. Melalui Infokom, kita dapat menyebarkan informasi yang edukatif dan memperlihatkan kontribusi MUI dalam pembangunan umat,” ujar Akmaluddin.

Sementara itu, Muhammad Ali Harahap, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kunjungan ini dan mengusulkan agar Infokom MUI Sumut mengadakan pelatihan di daerah, khususnya untuk meningkatkan kemampuan dalam pembuatan berita dan publikasi. “Kami berharap Infokom MUI Sumut dapat melibatkan daerah dalam program-programnya, terutama melatih kader-kader lokal untuk membuat berita yang baik dan relevan,” katanya.

Permintaan ini disambut positif oleh Dr. Akmaluddin Syahputra, yang menegaskan bahwa pengembangan kapasitas di bidang jurnalistik dan komunikasi merupakan bagian dari agenda Infokom MUI Sumut ke depan.

Kunjungan ini diakhiri dengan diskusi hangat dan komitmen bersama untuk memperkuat peran MUI dalam menyebarkan informasi yang membangun umat Islam, baik di tingkat provinsi maupun daerah. Sinergi ini diharapkan dapat memperluas cakupan dakwah dan memperkuat citra MUI di tengah masyarakat.

Tim Infokom MUI Sumut Kunjungi Makam Syekh Muhammad Nur Hasibuan di Sigorbus Jae, Padang Lawas

Padang Lawas, muisumut.or.id., 22 November 2024 – Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melaksanakan kunjungan ke makam Syekh Muhammad Nur Hasibuan, seorang ulama besar yang dikenal dengan sebutan Syekh Sigorbus, di kompleks masjid Nurul Falah di Sigorbus Jae, Kecamatan Barumun Baru, Kabupaten Padang Lawas. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka menggali khazanah keislaman di daerah Padang Lawas, sebagai bagian dari liputan daerah oleh tim Infokom MUI Sumut.

Syekh Muhammad Nur Hasibuan lahir pada Ahad, 7 Mei 1827, dan wafat pada 15 Agustus 1948. Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Tapanuli Selatan. Berdasarkan keterangan Ustadz Drs. Rohyan, M.Pd., tokoh agama setempat, Syekh Muhammad Nur Hasibuan menuntut ilmu selama sembilan tahun di Makkatul Mukarramah, di mana beliau belajar melalui halaqah.

Setelah kembali ke Indonesia, Syekh Muhammad Nur Hasibuan melanjutkan perjuangannya untuk menyebarkan dakwah Islam di wilayah Tapanuli Selatan. Beliau menikahi seorang wanita bernama Rokiba dan mendirikan kampung Sigorbus Jae, yang kini terletak di Kecamatan Barumun Baru, Kabupaten Padang Lawas. Di sana, beliau juga membuka persulukan dengan tarekat Naqsabandiyah, yang menjadi salah satu pusat pengajaran dan penyebaran ajaran Islam di daerah tersebut.

Ustadz Rohyan juga menceritakan beberapa karomah yang dimiliki oleh Syekh Muhammad Nur Hasibuan. Salah satunya adalah kejadian ketika beliau sedang bercukur rambut di dekat masjid Desa Sigorbus, ketika tiba-tiba terjadi kebakaran besar di Makkah. Beliau meminta kepada tukang cukur, Ja Sayur Nasution, untuk berhenti sebentar, dan setelah beberapa waktu menghilang, kembali dengan wajah hitam dan pakaian berdebu.  Setelah  para jamaah haji yang pulang dari Makkah ditanya mengenai kebakaran tersebut, dan para jamaah haji menjawab  “Benar, ada kebakaran di Makkah.”

Selain itu, setelah beliau melaksanakan suluk di Sigorbus Jae, muncul mata air kecil yang sangat jernih di tengah-tengah masjid. Syekh Muhammad Nur juga dikenal memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit, serta beberapa karomah lainnya, seperti peristiwa di mana seorang pencuri yang hendak mencuri kelapa tidak bisa turun dari pohon karena melihat lautan di bawahnya.

Kunjungan malam hari tersebut berlangsung dalam suasana hujan yang deras, menambah kekhidmatan dan keistimewaan dalam ziarah tersebut. Tim Infokom MUI Sumut pun menyempatkan diri untuk berdoa bersama di makam Syekh Muhammad Nur Hasibuan, berharap semangat dakwah dan karomah beliau dapat terus menginspirasi umat Islam di Padang Lawas dan sekitarnya.

Infokom MUI Sumut Kunjungi Makam Ulama Syekh Mukmin Azis Pulungan yang Berusia Sekitar 200 Tahun

0

Padang Lawas, nuisumut,or.id., 22 November 2024 – Dalam rangkaian kegiatan liputan daerah khazanah Keislaman, Tim Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melaksanakan ziarah ke makam ulama besar Syekh H. Mukmin Azis Pulungan yang terletak di area pemakaman umum belakang Pesantren Al Hakimiyah, Desa Paringgonan, Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas.

Ziarah ini dilakukan setelah mengunjungi makam Sultan Hamid (Jiret Martuah), meskipun telah melewati waktu senja dan dilaksanakan setelah matahari terbenam. Dalam suasana penuh khidmat, rombongan Infokom MUI Sumut melanjutkan perjalanan menuju makam Syekh Mukmin sebagai bentuk menggali dan mengkonfirmasi data serta penghormatan atas jasa besar beliau dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Rombongan turut didampingi oleh Ustadz Drs. Rohyan, M.Pd., tokoh agama setempat, yang memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah perjuangan Syekh Mukmin. Dikenal sebagai ulama yang melanglang buana menuntut ilmu hingga ke Malaysia dan Makkah, Syekh Mukmin memperdalam ilmu agama selama lima tahun di tanah suci. Dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya, ia terus memperkaya ilmunya dari berbagai ulama. Setibanya di Paringgonan, Syekh Mukmin berjuang memurnikan akidah masyarakat dari pengaruh animisme yang saat itu masih kuat.

Menurut Ustadz Rohyan, M.Pd., dedikasi Syekh Mukmin dalam berdakwah tidak hanya membuahkan pengajaran agama yang kokoh tetapi juga melahirkan generasi penerus yang melanjutkan misi keagamaannya. “Beliau adalah figur yang menanamkan pondasi keislaman di tengah tantangan besar. Peninggalannya masih dirasakan hingga kini melalui pengajian dan pendidikan yang dilanjutkan oleh keturunannya,” ujarnya.

Ketua Infokom MUI Sumut menegaskan pentingnya mengenang jasa ulama seperti Syekh Mukmin Azis Pulungan sebagai inspirasi generasi muda. “Syekh Mukmin adalah teladan dalam menuntut ilmu dan keberanian berdakwah. Kita belajar dari kegigihan dan keikhlasannya dalam menyebarkan Islam,” tuturnya.

Ziarah ini diakhiri dengan doa bersama, memohon agar semangat dakwah Syekh Mukmin tetap hidup dan terus menginspirasi umat Islam di Padang Lawas. Makam beliau yang telah berusia sekitar 200 tahun ini menjadi saksi perjuangan dakwah dan dedikasi yang tak lekang oleh waktu.

Tim Infokom MUI Sumut Berziarah ke Makam Khalifah Lobe Jabal di Padang Lawas Utara

Padang Lawas Utara, muisumut.or.id., Sabtu, 23 November 2024 – Tim Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melakukan ziarah ke makam Khalifah Lobe Jabal di Desa Purbasinomba, Kabupaten Padang Lawas Utara. Ziarah ini dipimpin oleh Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, dan didampingi oleh Rustam, MA, Ari Syahputra, serta Muhammad Mulyo Ponconiti. Tim Infokom juga disertai oleh Muhammad Ali Harahap, M.Pd., dari MUI Kabupaten Padang Lawas Utara, yang turut mendampingi dalam kegiatan ini.

Makam Lobe Jabal terletak di ujung Desa Purbasinomba, dengan jarak tempuh sekitar 1 kilometer dari Gunungtua, ibukota Kabupaten Padang Lawas Utara. Untuk mencapai lokasi makam, pengunjung harus menyeberangi Sungai Batang Pane dan melewati sawah selama sekitar 1 kilometer. Makam tersebut berada di samping pohon aloban, dengan ukuran makam sekitar 3 meter persegi (2 x 3 meter).

Sejarah Lobe Jabal, meskipun tidak banyak diketahui oleh orang luar, menjadi bahan perbincangan yang menarik di kalangan warga setempat. Sosok Lobe Jabal dikenal karena memiliki kelebihan yang luar biasa, yang jarang dimiliki oleh orang lain. Muhammad Ali Harahap mengungkapkan bahwa Lobe Jabal dikenal memiliki kemampuan istimewa, seperti menyeberangi sungai tanpa basah, serta bisa bergerak lebih cepat daripada kendaraan. Pada suatu kejadian, meskipun tidak dapat menaiki mobil karena penuh, Lobe Jabal tetap sampai ke pasar hanya dengan berjalan kaki, lebih cepat daripada kendaraan yang ditujunya.

Lobe Jabal meninggal pada tahun 1955 setelah menderita sakit tanpa pernah mengeluh. Meskipun kelebihan yang dimilikinya, ia tetap menjadi manusia biasa yang harus menghadapi sakit. Kepergiannya di malam Sabtu tersebut dihadiri oleh banyak orang dari berbagai desa.

Kisah keajaiban terus berlanjut setelah kematiannya. Saat makamnya digali, para penggali tercium bau harum yang sangat mirip minyak kasturi. Tanah di sekitar makam pun diambil dan ditemukan masih berbau wangi. Keajaiban lainnya terjadi setelah makam Lobe Jabal dikebumikan, di mana makam tersebut bersinar terang pada malam hari, seakan disinari lampu. Cahaya tersebut bertahan selama 30 malam berturut-turut.

Hingga saat ini, makam Lobe Jabal terus dikunjungi oleh banyak orang yang datang untuk berziarah dan mendoakan berkah. Tim Infokom MUI Sumut, bersama dengan MUI Kabupaten Padang Lawas Utara, mengadakan doa bersama di makam tersebut sebagai bagian dari kegiatan ziarah ini.

Ziarah ini mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga dan menghormati sejarah serta kepercayaan lokal yang diwariskan oleh para leluhur. Semoga kehadiran tim dan doa bersama ini membawa berkah bagi semua pihak yang terlibat.