Friday, March 6, 2026
spot_img
Home Blog Page 51

MUI Sumut Berziarah ke Makam Sufi Abd al-Khaliq Gijduvani di Bukhara, Dr. Maratua Simanjuntak Sampaikan Pesan

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id.,3 November 2024, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak saat berziarah ke makam sufi Abd al Khaliq Gijduvani di Bukhoro, Ahad 3 November 2014, menyampaikan pesan Imam Al-Ghazali mengenai tujuan utama dalam praktik ziarah kubur yang telah lama diamalkan umat Islam. Menurut Al-Ghazali, ziarah kubur memiliki dua manfaat: pertama, peziarah dapat memetik hikmah dari peristiwa kematian orang yang diziarahi; kedua, ahli kubur memperoleh manfaat doa dari peziarah. Dari sini, Al-Ghazali menyarankan agar peziarah mendoakan ahli kubur terlebih dahulu, kemudian merenung dan mendoakan diri sendiri.

Dr. Maratua juga mengutip Sayyid Az-Zabidi, yang menganjurkan agar peziarah mendahulukan doa untuk ahli kubur sebelum berdoa untuk dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Abu Darda ra yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Tiada seorang hamba muslim mendoakan saudaranya secara sembunyi (ghaib) melainkan ada malaikat yang mendoakannya, ‘Untukmu semisal itu.’”

Bukhara dan Peninggalan Sufi Terkenal Abd al-Khaliq Gijduvani

Bukhara menyimpan warisan budaya Islam yang berharga, salah satunya adalah makam sufi besar Abd al-Khaliq Gijduvani (wafat 1180/1220). Gijduvani merupakan murid Syekh Yusuf al-Hamadani dan pendiri tarekat “Hajagan” (Jalan Para Guru), yang kemudian melahirkan ajaran Naqsyabandiyah. Pada tahun 1432-1433, Mirzo Ulugbek, penguasa Maverannakhr, membangun madrasah di samping makamnya sebagai bentuk penghormatan.

Di awal abad ke-21, sebuah memorial modern juga didirikan untuk mengenang Gijduvani, menampilkan iwan kayu berukir dengan kubah biru di atas makamnya. Lahir pada tahun 1118 di Gijduvan, Abd al-Khaliq berasal dari keluarga religius dan sejak kecil dikelilingi oleh nilai-nilai Islam. Pada usia sembilan tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an dan sejak usia muda bersemangat mencari ilmu keagamaan.

Selama berada di Bukhara, ia mendalami pengetahuan di berbagai perpustakaan yang menyimpan manuskrip berharga. Pertemuannya dengan Syekh Yusuf al-Hamadani membawa Gijduvani menjadi murid kesayangan dan kelak menjadi tokoh penting dalam perkembangan tasawuf di Asia Tengah.

Hasful Huznain Dipercaya Kembali Pimpin MUI Sergai untuk Periode 2024-2029

Pantai Cermin, muisumut.or.id – Drs. H. Hasful Huznain, SH, kembali dipercaya  sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) untuk masa khidmat 2024-2029. Pemilihan ini berlangsung secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-V MUI Sergai, yang diadakan pada 2-3 November 2024 di Aula Pantai Wong Rame, Desa Kota Pari, Kecamatan Pantai Cermin.

Pelaksanaan Musda ke-V MUI Sergai ini disusun dan dikawal oleh Organizing Committee (OC) yang dipimpin Kiyai Sunarto sebagai Ketua, H. Zulkarnain Panjaitan sebagai Sekretaris, dan H. Abdul Malik sebagai Bendahara. Adapun Steering Committee (SC) yang dipimpin Dr. Hidayat dan Ahmad Al Hadi bertanggung jawab dalam pengesahan tata tertib serta proses pemilihan formatur.

Dalam Musda tersebut, terpilih 11 orang formatur, termasuk H. Syarif Santoso sebagai Ketua Dewan Pertimbangan, H. Hasful Huznain sebagai Ketua Umum, dan H. Elmis sebagai Sekretaris Umum. Formatur ini terdiri dari perwakilan berbagai organisasi masyarakat, antara lain Muhammadiyah (diwakili Achyar), Al Washliyah (diwakili Dauli Damanik), dan NU (diwakili H. Maralutan Siregar), serta beberapa perwakilan dari MUI Kecamatan, seperti H. Syahrul Nasution, Kisman, Daiman, dan H. Kholid Harahap.

Dalam struktur kepengurusan Dewan Pertimbangan MUI Sergai periode 2024-2029, K.H. Maralutan Siregar didapuk sebagai Ketua, dengan Ardiyansyah sebagai Sekretaris. Sementara itu, Dewan Pimpinan MUI Sergai dipimpin oleh Ketua Umum H. Hasful Huznain, dibantu Wakil Ketua Umum Dauli Damanik, H. Jairan, dan Sunarto. Sekretaris Umum dijabat oleh H. Elmis, dengan H. Kuswan sebagai Bendahara Umum, dan H. Abdul Malik sebagai Bendahara, serta didukung oleh 11 Ketua dan 11 Sekretaris lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Sergai terpilih, H. Hasful Huznain, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh panitia serta perwakilan MUI Kecamatan se-Sergai atas terselenggaranya Musda dengan baik. “Kepercayaan ini adalah amanah yang harus kami emban. Kami mengharapkan bimbingan dari Dewan Pertimbangan serta kerja sama seluruh pengurus untuk membawa MUI Sergai menjadi lebih baik dalam membina umat,” ungkapnya.

Wakil Ketua Umum MUI Sumut, H. Asro, turut hadir memberikan ucapan selamat kepada pengurus terpilih. Ia menyampaikan harapannya agar kepengurusan baru ini dapat menghadapi tantangan dengan semangat kerja sama, mempererat silaturahim, dan niat yang tulus untuk memajukan MUI Sergai. “Semoga kepengurusan baru ini membawa MUI Sergai menjadi lebih baik lagi di masa mendatang,” pungkasnya.

“Inspirasi Ibnu Sina: Delegasi MUI Sumut Perkuat Komitmen untuk Menjadi Manfaat bagi Umat”

0

Bukhara, Uzbekistan, muisumut.or.id3 November 2024 Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut, melakukan kunjungan ke Bukhara. Dalam kunjungan ini, delegasi MUI Sumut tidak hanya menikmati keindahan budaya dan sejarah kota tua Bukhara, tetapi juga mengambil inspirasi dari sosok Ibnu Sina, tokoh besar dari Bukhara yang telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan peradaban.

Ibnu Sina, atau yang dikenal di Barat sebagai Avicenna, adalah seorang polymath Muslim yang berjasa di bidang kedokteran, filsafat, astronomi, dan sastra. Dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Dunia,” Ibnu Sina meninggalkan karya monumentalnya, Al-Qānūn fī al-Thibb (Buku Pengobatan), yang menjadi standar pengajaran kedokteran selama berabad-abad. Tokoh besar dari era Keemasan Islam ini adalah simbol dedikasi dalam ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara dalam keterangannya menyampaikan bahwa kunjungan ini bukan sekadar perjalanan budaya, tetapi juga misi untuk menyerap nilai-nilai kearifan dari tokoh besar seperti Ibnu Sina. “Sebagaimana Ibnu Sina, kita di MUI Sumatera Utara bertekad untuk mengabdikan ilmu yang kita miliki demi kemaslahatan umat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan Ibnu Sina adalah salah satu teladan terbaik dalam hal ini,” ujarnya.

Para anggota delegasi MUI Sumut mengunjungi patung perunggu Ibnu Sina di Bukhara, yang berdiri sebagai penghormatan bagi sang tokoh. Melalui patung ini, rombongan mendapat inspirasi dari nilai-nilai yang diajarkan Ibnu Sina, yakni pentingnya ilmu yang bermanfaat dan dedikasi tanpa pamrih. Patung tersebut mengingatkan bahwa Ibnu Sina tak hanya dikenal sebagai dokter terkemuka, tetapi juga sebagai seorang penulis produktif yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan.

Ibnu Sina menulis sekitar 450 judul buku, dan 240 di antaranya bertahan hingga kini, termasuk 40 buku di bidang kedokteran. Dalam setiap karya tulisnya, Ibnu Sina berupaya menghadirkan ilmu yang tak hanya bermanfaat bagi kaum Muslim, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Delegasi MUI Sumut berharap untuk meneladani semangat beliau dalam menuliskan ilmu dan menyebarkannya demi kebaikan bersama.

Musda V MUI Kabupaten Serdang Bedagai: Menguatkan Peran Ulama sebagai Pelayan Umat dan Mitra Pemerintah

Serdang Bedagai, muisumut.or.id,  2 November 2024 Wakil Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Arso, SH., Ag, secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) V Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Serdang Bedagai yang digelar di Woong Rame, Pantai Cermin. Acara ini dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, dan perwakilan dari MUI kecamatan se-Kabupaten Serdang Bedagai.

Dalam sambutannya, Dr. Arso menegaskan pentingnya memilih pemimpin yang memenuhi syarat sesuai dengan pedoman Islam. Ia menyampaikan bahwa hasil rapat koordinasi MUI se-Sumatera Utara sebelumnya telah menekankan hal ini sebagai bagian dari komitmen MUI untuk mendukung pemimpin yang dapat membimbing umat. Hal ini juga selaras dengan hasil ijtimak ulama tahun 2009, yang menegaskan kewajiban umat Islam untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan syariat.

“Musda ini adalah bagian dari pedoman dasar MUI. Musyawarah ini penting untuk memperkuat jajaran MUI di berbagai tingkatan,” ujar Dr. Arso.

Dr. Arso juga menekankan bahwa MUI memiliki peran ganda sebagai pelayan umat dan mitra pemerintah. “Ulama adalah mitra umara (pemerintah). Tugas kita berat karena banyak tantangan, baik dari dalam maupun luar. Kita harus menjaga akidah umat agar tetap kuat, terlebih dalam menghadapi berbagai penistaan agama yang terjadi,” tuturnya.

Dalam tausiyahnya, Dr. Arso mengingatkan tiga hal yang diridai Allah SWT, yaitu:

  1. Menghindari Syirik – Di era modern yang semakin canggih, umat Islam tetap harus waspada terhadap segala bentuk kesyirikan.
  2. Bersatu dalam Agama – Meskipun berbeda pilihan politik, terutama menjelang pemilu, umat Islam diharapkan tetap bersatu dan berpegang teguh pada agama.
  3. Memberikan Nasihat yang Baik – Ulama memiliki peran penting sebagai penasihat bagi pemerintah, memberikan tuntunan yang bijak dalam setiap kebijakan.

Dalam kesempatan ini, Dr. Arso juga mengingatkan tentang pentingnya dukungan umat terhadap MUI yang berperan sebagai roda penggerak dalam mengayomi umat. Ia menegaskan bahwa umat Islam perlu mempersiapkan generasi yang kuat, baik dari sisi akidah maupun ekonomi, agar tidak mudah terpengaruh oleh tantangan zaman.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Serdang Bedagai, Pj Bupati, perwakilan dari Dandim dan Polres, serta Dewan Pertimbangan MUI Serdang Bedagai, H. Darmawijaya dan Adlin Tambunan. Para peserta yang hadir termasuk ketua-ketua MUI dari setiap kecamatan di Serdang Bedagai.

Dr. Arso, didampingi oleh Dr. Irwansyah, M.H.I, Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara, menyampaikan harapannya agar kepengurusan MUI yang terpilih nantinya dapat semakin memaksimalkan perannya dalam mengayomi umat. “Semoga kepengurusan baru dapat memperkuat MUI dalam menjalankan tugas dan misinya,” ujarnya.

Musda V ini diharapkan menjadi langkah konkret bagi MUI Serdang Bedagai dalam memperkokoh perannya sebagai penjaga akidah umat, pelayan masyarakat, serta mitra pemerintah dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

MUI Sumut Nikmati Budaya Tradisional Uzbekistan dalam Malam yang Berkesan di Kota Tua Bukhara

0

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id., – Jumat, 1 November 2024, Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menghabiskan malam penuh kenangan di kawasan bersejarah Lyabi Hauz, jantung kota tua Bukhara, Uzbekistan. Dalam kesempatan makan malam ini, mereka tidak hanya menikmati sajian kuliner khas, tetapi juga merasakan keunikan budaya Uzbekistan yang disajikan melalui pertunjukan tari, nyanyian, dan fashion show tradisional di Nodir Devonbegi Madrasah.

Setiap malam, madrasah ini menyelenggarakan acara yang menghidupkan kembali warisan budaya Uzbek, menghadirkan paduan antara seni tari dan busana tradisional yang memikat. Para pengunjung dapat menikmati hidangan lezat sambil menyaksikan pertunjukan yang menggugah kekaguman akan kekayaan budaya lokal. Bagi rombongan MUI Sumut, pengalaman ini memberikan wawasan mendalam tentang seni dan tradisi yang telah terjaga selama berabad-abad di tanah Uzbek.

mahasiswa madrasah memperkenalkan budaya dan tariannya
mahasiswa madrasah memperkenalkan budaya dan tariannya

Suasana di sekitar Lyabi Hauz begitu memikat. Meskpun malam yang terasa dingin taman di kawasan ini dipenuhi pengunjung. Di sekitar kolam yang dikelilingi pohon-pohon tua, para wisatawan dapat menikmati pemandangan yang menyejukkan dan mengunjungi  toko suvenir yang menawarkan berbagai macam barang khas Uzbekistan. Bagi rombongan MUI Sumut, berkeliling di kawasan ini menjadi pengalaman yang berkesan, sekaligus memberikan kesempatan untuk melihat dan berbelanja suvenir khas.

Usai menikmati makan malam,  rombongan menemukan patung ikonik Khoja Nasrudin – seorang tokoh legendaris dalam budaya Uzbekistan yang sering dikaitkan dengan kisah-kisah penuh humor dan satir. Patung perunggu tersebut menampilkan sosok Nasrudin yang sedang menunggang keledai dalam pose jenaka. Patung ini ditempatkan di atas pedestal berbentuk persegi panjang dengan posisi dua kaki keledai yang menyentuh dasar, seakan menggambarkan gerakan dinamis keledai yang tengah berjalan. Sosok Khoja Nasrudin mengingatkan beberapa anggota rombongan akan tokoh Abu Nawas dari kisah “1001 Malam,” yang juga populer di Indonesia dengan cerita-cerita humor yang penuh pesan moral.

berfoto bersama patung Abu Nawas
berfoto di patung Abu Nawas

Malam itu menjadi lebih dari sekadar santapan lezat. Perpaduan antara budaya, sejarah, dan seni tradisional Uzbekistan yang disajikan di Lyabi Hauz berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi rombongan MUI Sumut. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya wawasan mereka, tetapi juga menambah inpirasi untuk membangkitakan wisata halal di Indoensia khususnya Sumatera Utara, dimaa ada tempat orang bisa menikmati makanan sambil menikmati budaya serta berbelanja..

Berbelanja di Trading Domes, Mengingat Kuatnya Ekonomi Islam

Bukhara, Uzbekistan,muisumut.or.id, 2 November 2024 — Dalam rangkaian perjalanan mengunjungi situs-situs bersejarah di kota tua Bukhara, rombongan Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) menyempatkan diri untuk merasakan atmosfer perdagangan di bazar kubah atau “trading domes” yang masih aktif hingga kini. Keberadaan kubah-kubah perdagangan ini menjadi pengingat akan kuatnya ekonomi Islam yang dulu mewarnai sejarah Jalur Sutra, sebuah jaringan perdagangan global yang menghubungkan Asia dengan Eropa.

Pada masa kejayaannya di abad pertengahan, Bukhara dikenal sebagai pusat perdagangan internasional yang sangat ramai. Pedagang dari berbagai negara, seperti Asia Tengah, Iran, India, Rusia, hingga Tiongkok, menjadikan kota ini sebagai titik pertemuan dalam kegiatan bisnis mereka. Di sana, berbagai jenis produk dijajakan di sepanjang jalan utama kota, yang dipenuhi oleh area perbelanjaan dan karavanserai yang memfasilitasi para pedagang untuk beristirahat dan bertransaksi.

Bangunan berkubah atau “toki” yang masih berdiri hingga saat ini merupakan inovasi arsitektur pada masanya. Kubah-kubah ini didirikan di alun-alun dan persimpangan kota, menciptakan suasana yang nyaman untuk aktivitas jual beli, bahkan di musim panas. Struktur bangunan yang luas dengan lengkungan dan kanopi melindungi para pedagang dan pengunjung dari teriknya matahari. Sejarah mencatat bahwa konstruksi bangunan ini dimulai pada masa pemerintahan Abdullah-khan II lebih dari 400 tahun yang lalu, dan beberapa di antaranya masih digunakan sebagai pusat perdagangan hingga sekarang.

Adapun tiga kubah perdagangan utama yang bertahan di Bukhara saat ini adalah Toqi Zargaron, Toqi Sarrafon, dan Toqi Tilpak-Furushon. Selain ketiga kubah tersebut, terdapat juga Tim Abdulla Khan, sebuah bangunan berkubah besar yang berfungsi sebagai pusat penjualan sutra.

Toqi Zargaron: Pusat Perhiasan Bersejarah

Toqi Zargaron adalah kubah perdagangan paling utara dan terbesar di antara yang lainnya. Berdiri megah di pusat bersejarah Bukhara, Toqi Zargaron menjadi destinasi favorit rombongan MUI Sumut. Nama “Zargaron” berasal dari kata “Zargar,” yang berarti perhiasan, mengacu pada 36 bengkel dan toko perhiasan yang memenuhi area tersebut. Dibangun pada tahun 1569-1570, Toqi Zargaron menjadi saksi bisu kejayaan ekonomi Bukhara saat itu, yang baru saja dikukuhkan sebagai ibu kota wilayah.

Dengan lokasi strategisnya yang berada di persimpangan antara kompleks Poi Kalon di barat dan madrasah Ulugbeg serta Abdulaziz Khan di timur, Toqi Zargaron terus menarik pengunjung dari berbagai belahan dunia, termasuk rombongan MUI Sumut yang menikmati pengalaman berbelanja di tempat penuh sejarah ini. Atmosfer yang tercipta membawa kembali ingatan akan pertukaran barang dan budaya di masa lampau, yang menjadi jantung peradaban Islam dan kontribusi penting dalam ekonomi global.

Tim Abdulla Khan: Harmoni Arsitektur dan Kenyamanan

Sekitar 100 meter di selatan Toqi Zargaron, terdapat kubah perdagangan lain, Tim Abdulla Khan, yang dibangun pada tahun 1577. Bangunan ini memiliki ciri khas pencahayaan yang unik, dengan jendela-jendela kecil dan lubang-lubang di kubahnya, menciptakan suasana sejuk yang tetap nyaman meskipun berada di bawah panas matahari. Rombongan MUI Sumut menikmati suasana Tim Abdulla Khan yang hingga kini masih ramai dengan pedagang kain dan karpet, menampilkan kekayaan tekstil dari masa lalu yang tetap relevan di masa kini.

Kunjungan MUI Sumut ke bazar-bazar berkubah ini tidak hanya menjadi momen wisata sejarah, tetapi juga sebagai refleksi atas pentingnya peran Islam dalam perkembangan ekonomi global. Perjalanan ini menyadarkan kembali betapa Islam memberikan kontribusi besar dalam bidang perdagangan, di mana nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan keseimbangan menjadi prinsip utama dalam aktivitas bisnis di sepanjang Jalur Sutra.

Dengan melestarikan dan memahami warisan ini, masyarakat Muslim di era modern diharapkan dapat terus menginspirasi dan memperkuat perekonomian berbasis syariah yang mendukung kesejahteraan umat secara berkelanjutan. Rombongan MUI Sumut membawa pulang bukan hanya oleh-oleh khas Bukhara, tetapi juga semangat ekonomi Islam yang pernah memajukan peradaban di masa silam.

MUI Sumut Jajaki Kerjasama Pengiriman Mahasiswa ke Universitas Madrasah Mir Arab Aliy di Bukhoro

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id.,—Setelah mengunjungi madrasah Mir-Arab di kota tua Bukhoro tingkat Mutawasithoh (Menengah) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menghadiri undangan Universitas Madrasah Mir Arab Aliy, pada Sabtu 2 November 2024, di kampus Mir Arab Aliy yang dihadiri oleh 23 delegasi yang langsung dipimpin Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak.  Dalam pertemuan dilakukan  langkah penting dalam upaya pengembangan Pendidikan Tinggi Kader Ulama dengan menjajaki kerjasama pengiriman mahasiswa ke Universitas Mir Arab Aliy di Bukhoro.

Dalam kunjungan ini, delegasi MUI Sumut disambut oleh Rektor Mir Arab, Prof. Dr. Jobir bin Rustam, yang juga Mufti Bukhoro, beserta jajaran pimpinan kampus lainnya. Prof. Jobir menyampaikan rasa gembiranya atas kehadiran delegasi dari Sumatera Utara dan berharap silaturrahmi ini dapat mempererat hubungan antar lembaga. “Kami sangat senang bisa bersilaturrahim dengan delegasi dari Sumatera Utara. Dalam waktu dekat, kami juga akan menerima kunjungan dari ulama Perlis, Malaysia,” ungkap Prof. Jobir.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Jobir juga menceritakan sejarah dan perjalanan pendidikan ulama di Bukhoro, yang meski sempat terpuruk selama 100 tahun masa penjajahan, kini telah bangkit kembali dan menghasilkan banyak ulama terkemuka. Ia menyebutkan sejumlah tokoh ulama lulusan Bukhoro seperti Syekh Ahmad Abdulhamidovich Qodiro (1951-2004) dan Syekh Muhammad Sodiq Muhammad Yusuf, yang pernah menjabat sebagai Mufti Yillari pada 1989-1993.

“Di sini, proses uji kelayakan mahasiswa melibatkan hingga 15 penguji, sehingga kami menghasilkan ulama-ulama hebat,” ujar Prof. Jobir. Saat ini, Universitas Mir Arab Aliy memiliki sekitar 100 mahasiswa putra dan putri yang asramanya terpisah dan pembiayaannya sepenuhnya didukung oleh pemerintah. Ia juga mengungkapkan bahwa pada 2017, Ramzan Kadyrov, Presiden Republik Chechnya, adalah salah satu alumnus dari madrasah ini.

Dr. H. Maratua Simanjuntak, MA, dalam sambutannya, menyampaikan rasa terima kasih dan mengapresiasi sistem pendidikan yang diterapkan di Universitas Mir Arab Aliy. Ia menjelaskan bahwa MUI Sumut memiliki program serupa melalui Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) yang juga memberlakukan sistem beasiswa dan asrama selama tiga tahun.

“Kami berharap ada kesempatan bagi mahasiswa kami untuk belajar di sini, mungkin satu atau dua orang untuk tahap awal,” ujar Dr. Maratua. Prof. Jobir menyambut baik harapan ini dan menyatakan kesiapan mereka untuk menindaklanjuti kerjasama tersebut. “InsyaAllah, kami sangat terbuka untuk merealisasikannya,” balas Prof. Jobir.

Pertemuan ini juga diwarnai dengan perbincangan hangat antara Prof. Jobir dan Dr. Ardiansyah, LC, MA, Wakil Ketua Umum MUI Sumut, yang sama-sama pernah belajar di Universitas Madinah, Arab Saudi. Keduanya berbagi pengalaman yang semakin mempererat suasana keakraban dalam pertemuan tersebut.

Sebagai tanda persahabatan dan komitmen awal kerjasama, kedua belah pihak melakukan tukar-menukar cendera mata sebelum mengakhiri pertemuan. Langkah ini menjadi harapan baru dalam meningkatkan kualitas pendidikan kader ulama di Sumatera Utara melalui kerjasama internasional yang mendalam dan berkelanjutan.

Kunjungan MUI Sumut ke Madrasah Mir-i Arab: Menggali Jejak Pendidikan Islam di Bukhara

Bukhara, Uzbekistan, muisumut.or.id., 2 November 2024, MUI Sumatera Utara melakukan kunjungan ke Madrasah Mir-i Arab yang terletak di jantung kota Bukhara, Uzbekistan. Madrasah ini menjadi pusat pendidikan Islam bersejarah dan merupakan salah satu dari tiga bangunan utama yang membentuk kompleks Po-i-Kalyan, bersama dengan Menara Kalyan dari abad ke-12 dan Masjid Kalyan dari abad ke-16. Madrasah ini dibangun oleh penguasa Shaibanid, Ubaydullah Khan, pada tahun 1535-1536 dan menjadi simbol kebanggaan sejarah Islam di kawasan Asia Tengah.

Madrasah Mir-i Arab, yang dalam bahasa Arab berarti “Pangeran Arab,” dinamai sesuai dengan nama Syekh Abdullah Yamani, seorang ulama terkenal dari Yaman yang memimpin komunitas Muslim Bukhara pada masa Muhammad Shaybani. Syekh Yamani, yang berperan sebagai penasihat spiritual bagi beberapa Khan, dimakamkan di dalam madrasah yang kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tertua di kawasan tersebut.

Kunjungan ini juga memberi kesempatan bagi tim untuk menelusuri kegiatan belajar di dalam madrasah yang saat ini dihuni oleh sekitar 180 siswa. Para siswa diberikan fasilitas lengkap termasuk asrama, makan, dan keperluan belajar, yang memungkinkan mereka untuk fokus pada pendidikan agama. Selain itu, madrasah ini memiliki sekitar 10 guru yang membimbing para siswa dalam memahami dan mendalami ajaran Islam.

Namun, akses bagi pengunjung ke dalam madrasah ini cukup terbatas. Meski demikian, para pengunjung masih diperbolehkan berinteraksi dan bertanya langsung kepada para guru yang dengan senang hati menjelaskan sejarah dan peran penting madrasah dalam pengembangan ilmu agama di Bukhara. Di pintu masuk, pengunjung akan menemukan maqbarah atau makam pendiri madrasah, yaitu Syekh Abdullah Yamani, yang merupakan sosok inspiratif dalam pengembangan Islam di Asia Tengah.

Madrasah Mir-i Arab tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan tetapi juga memiliki nilai arsitektur yang khas. Dengan desain bangunan persegi panjang yang megah, madrasah ini dihiasi dengan ubin mosaik berwarna pirus yang menawan. Fasad dua lantainya hampir sepenuhnya ditutupi dekorasi faience berlapis kaca, yang memberikan keindahan sekaligus keunikan tersendiri pada bangunan ini.

Kunjungan ini diharapkan memberikan inspirasi bagi MUI Sumut dalam upaya memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang warisan pendidikan Islam, serta bagaimana madrasah tradisional dapat berperan dalam membentuk karakter generasi muda muslim.

MUI Sumut di Kota Tua Bukhara: Menggali Makna Spiritualitas di Masjid Kalyan

Bukhara, Uzbekistan , muisumut.or.id, 2 November  2024, Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melakukan ziarah spiritual di Kota Tua Bukhara, Uzbekistan, dan mengunjungi Masjid Kalyan yang bersejarah. Masjid ini merupakan salah satu simbol arsitektur Islam di Asia Tengah, yang masih berdiri kokoh dan penuh makna sejak pembangunannya.

Dalam bahasa Uzbekistan, kompleks masjid ini disebut Po-i-Kalan, yang berarti “Kaki Besar”. Masjid Kalyan pertama kali didirikan pada tahun 713 Masehi dan kemudian diperluas oleh penguasa Dinasti Karakhanid, Arslan Khan, pada tahun 1121. Terletak di pusat kota Bukhara, masjid ini dikelilingi bangunan bersejarah lainnya yang menyimpan nilai keagamaan dan kebudayaan.

Sayangnya, pada awal abad ke-13, pasukan Genghis Khan menyerbu Bukhara dan merusak kompleks masjid. Hanya Menara Kalyan yang berhasil selamat dari serangan tersebut. Pada masa kekuasaan Ubaydullah Khan pada tahun 1514, kompleks ini kembali diperbaiki dan disempurnakan. Dengan empat iwan besar, kubah yang indah, serta pilar-pilar yang kokoh, Masjid Kalyan menjadi salah satu masjid terbesar di wilayah ini, memancarkan kemegahan seni arsitektur Persia yang diabadikan dalam 288 kubahnya.

Pesona Menara dan Madrasah Mir-i Arab

Kompleks ini juga mencakup Menara Kalyan dan Madrasah Mir-i Arab, yang menjulang megah di sudut kompleks. Menara Kalyan, setinggi 46 meter, dikenal sebagai “menara kematian” karena pada masa lalu digunakan sebagai tempat eksekusi bagi para pelanggar hukum. Namun, fungsi utamanya adalah untuk mengumandangkan azan. Menara ini dihiasi dengan ornamen geometris dan kaligrafi ayat-ayat Al-Quran yang menambah keindahannya.

Madrasah Mir-i Arab, yang didirikan pada 1536 oleh Syekh Abdullah Yamani, juga terletak dalam kompleks ini. Madrasah ini merupakan salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Bukhara dan bersebelahan dengan makam Ubaydullah Khan, sang pendiri. Pada tahun 1997, Masjid Kalyan dan seluruh kompleksnya direnovasi dan dijadikan situs warisan dunia oleh UNESCO.

Ziarah MUI Sumut: Mengenang Warisan Islam di Bukhara

Ziarah ini diharapkan memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi para delegasi, mengingatkan mereka akan kebesaran peradaban Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad di Asia Tengah. Bukhara, dengan situs-situs seperti Masjid Kalyan, mengisyaratkan kejayaan dan keberlanjutan kebudayaan Islam yang tetap relevan dan terpelihara hingga kini.

“Ziarah Spiritual MUI Sumut di Makam Syekh Bahauddin Naqsyabandi: MUI Sumut dapat bingkisan Khusus”

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id,  1 November 2024, Rombongan Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) setelah mengadakan ziarah ke makam Sayyid Amir Kulol, guru dari Syekh Bahauddin Naqsyabandi. langung mengunjungi untuk berziarah ke Syeh Bahauddin Naqsyabandi. Ziarah ini bukan hanya menjadi momen untuk berdoa, tetapi juga kesempatan untuk merasakan suasana spiritual yang mendalam di kompleks makam yang lebih besar lagi di wilayah tersebut.Suasana dimakam ini begitu mengundang spritualitas keimanan, banyak makam lain yang terpisah namun masih satu komplek pemakaman.

Suasana di tempat wudhu kompleks makam sangat bersih dan tertata dengan baik. Tidak terlihat sampah ataupun kotoran, yang didukung oleh perencanaan pembangunan yang sangat baik. Meski tidak ada peraturan larangan alas kaki, orang yang memasuki area wudhu tetap memakai alas kaki. Setiap keluar, lantai langsung dipel menggunakan handuk khusus, menjaga kebersihan tanpa cela.

Sepanjang jalan menuju masjid, terdapat taman yang ditumbuhi pohon dan bunga, menciptakan suasana harum dan nyaman menjelang waktu Maghrib. Di taman kecil tersebut, terdapat papan-papan berisi petuah dari Imam Bahauddin al-Naqsyabandi dalam bahasa Rusia dan Inggris, yang mengingatkan pengunjung tentang ajaran-ajaran beliau sebagai pedoman hidup.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua MUI Sumatera Utara juga menerima bingkisan sajadah dan Al-Qur’an dari penjaga makam. Penjaga tersebut kemudian membuka sebuah ruangan yang dikenal sebagai “cilahona,” tempat Syekh Bahauddin dahulu sering melakukan zikir hingga 41 malam. Para rombongan MUI pun berkesempatan berdoa dan berzikir di tempat tersebut, merasakan atmosfer spiritual yang mendalam sehingga beberapa anggota rombongan tampak enggan meninggalkan lokasi tersebut.

Ziarah ini juga disempurnakan dengan doa yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut di depan makam Imam Bahauddin. Makam beliau berada di halaman dalam masjid, dikelilingi pagar beton dan dihiasi bunga yang tertata rapi. Makam ini tidak menimbulkan kesan angker atau kotor, tetapi penuh ketenangan dan keindahan. Selain itu, terdapat dua pohon rindang yang menaungi area makam, menyediakan tempat duduk melingkar yang menambah kenyamanan bagi peziarah.

Di bagian belakang masjid, berdiri sebuah menara tinggi yang dibangun dari batu bata tanpa penguat baja, mengikuti arsitektur khas bangunan-bangunan bersejarah di Uzbekistan seperti di Bukhara, tempat kelahiran Imam Bukhari. Menara ini mengingatkan para pengunjung akan keindahan arsitektur Islam kuno dan nilai sejarah tarekat Naqsyabandiyah yang terus berkembang hingga saat ini.

Ziarah ke makam Imam Bahauddin al-Naqsyabandi ini tidak hanya memberikan pengalaman spiritual, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antara MUI Sumut dengan komunitas Tarekat Naqsyabandi, sekaligus menjadi kesempatan untuk merenungi ajaran-ajaran luhur para pendahulu dalam menapaki kehidupan yang lebih baik dan penuh makna.

Sepanjang jalan menuju masjid, terdapat taman yang ditumbuhi pohon dan bunga, menciptakan suasana harum dan nyaman menjelang waktu Maghrib. Di taman kecil tersebut, terdapat papan-papan berisi petuah dari Imam Bahauddin al-Naqsyabandi dalam bahasa Rusia dan Inggris, yang mengingatkan pengunjung tentang ajaran-ajaran beliau sebagai pedoman hidup.