Friday, March 6, 2026
spot_img
Home Blog Page 52

Menghormati Warisan Sufi, Delegasi MUI Sumut Ziarah ke Makam Sayyid Amir Kulol di Uzbekistan

Bukhara, Uzbekistan, muisumut.or.id., — Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berziarah ke makam Sayyid Mir (Amir) Kulol Buxoriy pada Jumat, 1 November 2024. Ziarah ini merupakan bagian dari kunjungan spiritual untuk menghormati salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam yang juga menjadi guru spiritual Muhammad Bahouddin Naqshband, pendiri Tarekat Naqsyabandiyah.

Rombongan MUI Sumatera Utara yang dipimpin oleh Ketua Umum Dr. Maratua Simanjuntak dan Dewan Pimpinan lainnya, tiba di kompleks makam melalui gerbang megah yang menyambut dengan arsitektur yang penuh nuansa keagungan. Setelah memasuki gerbang, para delegasi disuguhi pemandangan masjid yang indah dengan arsitektur megah serta taman-taman yang asri, memberikan suasana khusyuk dan damai bagi para peziarah.

Di area makam, rombongan menyempatkan diri untuk berdoa bersama, dipimpin oleh Prof. Dr. Muhammad Jamil, MA. Doa dan lantunan zikir dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada Sayyid Amir Kulol yang dikenal sebagai ulama mazhab Hanafi, mursyid, dan salah satu tokoh sufi terkemuka dari akhir abad ke-13.

Mengenal Sayyid Amir Kulol Buxoriy

Sayyid Amir Kulol lahir di Desa Suxor, dekat Bukhara, yang kini masuk dalam wilayah Distrik Kogon. Beliau wafat pada 29 November 1370. Amir Kulol merupakan guru spiritual dari Tarekat Naqsyabandiyah, khususnya bagi Muhammad Bahouddin Naqshband, yang kelak mendirikan tarekat tersebut. Julukan “Kulol” diberikan kepadanya yang berarti “pengrajin tembikar,” karena keluarga beliau dikenal sebagai pengrajin tembikar yang handal.

Sejak usia muda, Amir Kulol dikenal sebagai sosok dengan fisik kuat dan gemar berlatih seni bela diri. Dalam masyarakat sufi, banyak tokoh yang memilih profesi populer untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Amir Kulol juga menerapkan pendekatan ini untuk membawa masyarakat menuju ajaran Islam.

Ayahnya, Amir Hamza, adalah keturunan dari Madinah, Hijaz, dan sempat bersahabat dengan syekh Yassawiyah, Sayyid Ata. Dalam suatu kesempatan, Sayyid Ata meramalkan bahwa Amir Kulol kelak akan mencapai derajat tinggi dalam jalan spiritual. Ramalan ini terbukti saat Amir Kulol berhasil menjadi sosok sufi berpengaruh dan membawa banyak pengikut menuju kebajikan dan pemahaman mendalam akan ajaran Islam.

Kehidupan dan Warisan Spiritual

Amir Kulol dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan penuh kasih, meskipun memiliki keterampilan dan pengetahuan yang mendalam dalam bidang syariat, tasawuf, dan hakikat. Ia mengajarkan pentingnya mencari rezeki yang halal kepada para muridnya, serta menekankan pemahaman mendalam tentang halal dan haram.

Salah satu momen penting dalam kehidupan spiritual Amir Kulol adalah pertemuannya dengan gurunya, Khoja Muhammad Bobo Samosiy, di sebuah arena gulat. Samosiy melihat dalam diri Amir Kulol potensi besar dalam spiritualitas dan mengambilnya sebagai murid. Pertemuan ini menandai awal perjalanan panjang Amir Kulol dalam dunia tasawuf, yang membuatnya menjadi salah satu dari tujuh tokoh sufi terkemuka di Bukhara.

Keturunan Sayyid Amir Kulol juga dikenal memiliki pengaruh besar. Salah satu kerabatnya bahkan menjadi menantu Sultan Yildirim Bayazid dari Kekaisaran Ottoman, dan dikenal sebagai Amir Sultan yang dicintai masyarakat Bursa, Turki.

Ziarah ini menjadi kesempatan berharga bagi delegasi MUI Sumatera Utara untuk meresapi warisan spiritual Amir Kulol serta meneguhkan komitmen dalam menjalankan amanah untuk terus menebarkan kebaikan dan ajaran Islam di tengah masyarakat. Warisan Amir Kulol sebagai ulama dan tokoh sufi yang rendah hati dan berpengaruh tetap relevan, menjadi inspirasi bagi umat Islam hingga saat ini.

Menyusuri Jejak Peradaban Islam, Delegasi MUI Sumut Sholat Jumat di Masjid Bolo Hauz

0

Bukhoro, muisumut.or.id – 1 November 2024. Dalam rangkaian kunjungannya di Uzbekistan, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berkesempatan melaksanakan sholat Jumat di Masjid Bolo Hauz, sebuah masjid bersejarah di Bukhara. Rombongan MUI Sumut, yang dipimpin oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak merasa terhormat dapat beribadah di masjid yang sarat nilai sejarah dan budaya ini.

Masjid Bolo Hauz dikenal dengan sebutan “Masjid Empat Puluh Pilar” karena arsitekturnya yang menggunakan banyak pilar di terasnya. Nama Bolo Hauz sendiri berarti “Masjid Berkolam,” yang merujuk pada kolam berbentuk oktagonal di halaman depan masjid. Masjid ini didirikan pada tahun 1712 oleh Abu’l Fayud Khan dari Dinasti Astarkhanid sebagai penghormatan untuk Bibi Khanum, ibu dari dinasti tersebut.

Keunikan lain dari masjid ini adalah berbagai elemen arsitektural dan dekorasi yang dipengaruhi oleh budaya dan tradisi Islam Asia Tengah. Masjid ini merupakan satu-satunya bangunan bersejarah yang tetap terawat di kawasan alun-alun Registan Bukhara, yang serupa dengan Registan di Samarkand, tempat yang juga terkenal dengan situs-situs Islam bersejarah.

Saat rombongan tiba di masjid dengan berjalan kaki sejauh 500 meter dari Museum Imam Al-Bukhari, mereka disambut oleh suasana khas masjid bermazhab Hanafi. Dalam mazhab ini, terdapat beberapa perbedaan teknis dalam pelaksanaan ibadah. Salah satu perbedaannya adalah pelaksanaan tausiyah yang berlangsung sekitar 40 menit sebelum azan kedua. Setelah azan pertama, jamaah menunaikan sholat sunnah empat rakaat, diikuti oleh azan kedua, khutbah, dan sholat Jumat. Dalam sholat mazhab Hanafi, makmum tidak mengucapkan “Amiin” setelah imam membaca surat Al-Fatihah.

Seusai sholat, K. Akhyar Nasution dan Dr. Akmaluddin Syahputra berkesempatan bercengkrama dengan khatib masjid, memperkenalkan delegasi dari Indonesia, dan membahas sejarah serta keunikan Masjid Bolo Hauz. Kesempatan tersebut menjadi momen berharga bagi delegasi MUI Sumut untuk memahami perbedaan budaya dan tradisi keislaman yang berkembang di kawasan Asia Tengah.

Masjid Bolo Hauz telah melalui banyak perubahan dan restorasi sejak pembangunannya. Selama invasi Tentara Merah Soviet pada awal abad ke-20, banyak situs sejarah Islam di Bukhara yang mengalami kerusakan parah, termasuk Masjid Bolo Hauz. Pemerintah Uni Soviet kemudian melakukan program restorasi pada tahun 1960 untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Upaya restorasi lebih lanjut dilakukan secara serius oleh Pemerintah Uzbekistan, yang mengembalikan kemegahan masjid sebagai karya seni dekoratif nasional Uzbek.

Keindahan arsitektur Masjid Bolo Hauz semakin memperkaya pengalaman delegasi MUI Sumut dalam menapaki jejak-jejak sejarah Islam di Uzbekistan. Keunikan desain bangunan yang dilengkapi dengan pilar-pilar megah, ceruk-ceruk kubah, serta motif geometris dan stalaktit di langit-langit masjid menjadikan tempat ini bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi juga sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

Bagi delegasi MUI Sumut, kunjungan dan sholat Jumat di Masjid Bolo Hauz menjadi pengalaman yang mengesankan, menguatkan ikatan spiritual, dan memperdalam apresiasi terhadap kekayaan sejarah serta keberagaman Islam di belahan dunia lain.

Jejak Keilmuan Imam Al Bukhari: Kunjungan Spiritualitas MUI Sumut di Bukhara

Bukhara, muisumut.or.id – 1 November 2024, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melanjutkan perjalanan mereka di Uzbekistan dengan mengunjungi Kompleks Memorial Imam Al Bukhari di Bukhara. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi delegasi MUI Sumut untuk lebih memahami peran penting Imam Al Bukhari dalam pengembangan ilmu hadis serta kontribusinya dalam menguatkan ajaran Islam.

Kompleks Memorial Imam Al Bukhari, yang didirikan pada tahun 2001, menjadi salah satu situs utama yang mengabadikan jejak sang ulama besar, Imam Muhammad ibn Ismail al-Bukhari. Museum ini dibangun dalam desain modern yang dirancang oleh Zoirsho Kilichev, arsitek utama kota Bukhara. Bangunan megah ini tidak hanya memikat dari segi arsitektur, tetapi juga menyimpan sejarah dan nilai spiritual yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia. Tempat ini sangat direkomdasikan untuk dikunjungi, pengunjung hanya diminta untuk membayar 20.000 som yang jika dirupiahkan hanya 25.000 rupiah (1 som = 1,24 rupiah)

Warisan Ilmu dan Dedikasi Imam Al Bukhari

Imam Al Bukhari dikenal luas sebagai salah satu ulama terbesar dalam kajian hadis. Karya monumentalnya, Al-Jame as-Sahih, merupakan kitab yang memuat koleksi hadis-hadis sahih yang telah melalui seleksi ketat berdasarkan ketelitian dan penelitian mendalam. Dalam menyusun kitab ini, Imam Al Bukhari mempelajari lebih dari 600.000 hadis, dan dari jumlah tersebut, hanya sekitar 7.000 hadis yang diseleksi dan dimasukkan ke dalam bukunya. Oleh karena kontribusi besarnya, beliau mendapat gelar Amirul Mu’minin fil Hadith, yang bermakna “Pemimpin dalam Ilmu Hadis.”

Kunjungan ke museum ini memungkinkan delegasi MUI Sumut untuk melihat lebih dekat artefak-artefak bersejarah dan koleksi yang menggambarkan kehidupan serta perjalanan keilmuan Imam Al Bukhari. Salah satu daya tarik museum ini adalah pasir atau batu yang diambil dari makam asli Imam Al Bukhari di Samarkand, yang memberikan nuansa spiritual tersendiri bagi para pengunjung.

 

Penghormatan terhadap Jejak Keilmuan dan Spiritualitas Islam

Museum Imam Al Bukhari bukan sekadar bangunan megah, tetapi juga merupakan penghormatan terhadap salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam. Dengan arsitektur yang terinspirasi oleh seni Islam Asia Tengah, museum ini dihiasi dengan motif-motif indah yang mencerminkan kejayaan zaman keemasan Islam. Setiap sudut museum memancarkan suasana yang tenang dan mendalam, memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk merenungkan perjalanan hidup Imam Al Bukhari dan sumbangsihnya bagi ajaran Islam.

Dalam kunjungannya,  Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, LC, MA, yang juga merupakan pakar hadis  membacakan buku buku hadis yang terpajang dan menerangkan terkait keulamaan Imam Bukhori serta berdoa bersama sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap ilmu yang diwariskan oleh Imam Al Bukhari. Dr. Ardiansyah menekankan bahwa kunjungan ini merupakan kesempatan untuk memperkuat kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, khususnya dalam mempelajari hadis sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Quran.

Museum: Sebuah Pusat Pembelajaran dan Inspirasi

Kompleks Memorial Imam Al Bukhari tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi salah satu cendekiawan Islam terbesar, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan inspirasi bagi generasi muda Muslim. Bagi delegasi MUI Sumut, museum ini memberikan perspektif baru tentang pentingnya dedikasi dalam ilmu pengetahuan dan tanggung jawab dalam menjaga keotentikan ajaran Islam. Museum ini menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi siapa saja yang ingin lebih memahami warisan keilmuan Islam dan inspirasi yang dihadirkan oleh tokoh besar seperti Imam Al Bukhari.

Dalam kesimpulannya, kunjungan delegasi MUI Sumut ke Kompleks Memorial Imam Al Bukhari menjadi momen berharga untuk mendalami nilai-nilai keteladanan yang diajarkan oleh ulama terdahulu. Delegasi berharap agar pengalaman ini dapat menginspirasi umat Islam, khususnya di Sumatera Utara, untuk terus mencintai ilmu dan menjaga ajaran Islam yang penuh hikmah. Kunjungan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menghormati dan merawat warisan budaya serta spiritual Islam yang abadi.

Delegasi MUI Sumut Ziarah ke Chashma Ayub Mausoleum di Bukhara

0

Bukhara, muisumut.or.id, 1 November 2024 — Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara (Sumut) melanjutkan perjalanan ziarah spiritual mereka ke Chashma Ayub Mausoleum di kota bersejarah Bukhara, Uzbekistan, setelah sebelumnya mengunjungi Makam Samanid. Delegasi ini dipimpin langsung oleh  Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak yang bersama-sama delegasi  lainnya mengunjungi salah satu situs paling sakral dalam tradisi Islam, yang diyakini sebagai tempat Sumur Nabi Ayub.

Sumur ini diyakini sebagai titik di mana Nabi Ayub AS, setelah menghadapi berbagai cobaan hidup, dengan izin Allah SWT, menghentakkan kaki atau tongkatnya ke tanah, dan dari sana memancar mata air yang membawa kesembuhan. Kisah ini menggambarkan ketabahan dan kesabaran Nabi Ayub yang menghadapi ujian berat, dan tetap berserah diri kepada Allah SWT. Ziarah ini tidak hanya sekadar perjalanan fisik, namun juga kesempatan bagi delegasi MUI Sumut untuk memperkuat keimanan dan menggali nilai-nilai keteladanan yang diwariskan oleh para nabi dan ulama terdahulu.

Bukhara: Kota Bersejarah dan Pusat Spiritualitas Islam

Bukhara adalah salah satu kota tertua di dunia, yang selama berabad-abad telah menjadi pusat politik, administrasi, ilmu pengetahuan, budaya, dan agama di Asia Tengah. Kota ini dipenuhi dengan monumen bersejarah yang masih berdiri megah hingga saat ini, menarik ribuan wisatawan dan peziarah dari seluruh penjuru dunia. Salah satu tempat ziarah utama di Bukhara adalah Chashma Ayub Mausoleum, yang menjadi daya tarik khusus bagi delegasi MUI Sumut.

Di dalam bangunan Chashma Ayub, terdapat sebuah sumur yang telah ada sejak zaman kuno dan hingga kini diyakini oleh banyak orang sebagai Sumur Nabi Ayub. Mata air ini dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan, mencerminkan keajaiban dari kisah Nabi Ayub AS. Dalam bangunan tersebut, terdapat tiga keran air yang dapat diambil oleh para pengunjung, di mana air tersebut sering dijadikan sebagai simbol berkah dan diyakini memiliki manfaat untuk kesehatan.

Melihat Sejarah Arsitektur Chashma Ayub Mausoleum

Chashma Ayub Mausoleum bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi saksi sejarah perkembangan arsitektur di Asia Tengah. Makam ini dibangun dalam tiga era yang berbeda. Bagian pertama dari bangunan ini, dikenal sebagai “gurkhana,” dibangun pada abad ke-12 di bawah pemerintahan Arslankhan dari Dinasti Karakhanid. Pada masa itu, Arslankhan memerintahkan pembangunan struktur yang megah di atas makam yang sebelumnya sederhana.

Bagian kedua dari makam ini dibangun pada masa Sultan Movarounnahr dan Khurasan Amir Temur. Pada era Amir Temur, bangunan ini diperindah dan diperkokoh dengan ciri khas arsitektur Islam Asia Tengah. Sementara itu, bagian ketiga dari makam ini disempurnakan pada abad ke-16 selama pemerintahan Dinasti Sheibanid. Chashma Ayub Mausoleum saat ini berdiri sebagai saksi arsitektur megah yang menunjukkan kemajuan peradaban dan seni Islam di wilayah ini.

Mengenal Sejarah Laut Aral dan Sistem Pengairan Kuno di Bukhara

Selama kunjungan, delegasi MUI Sumut juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari sejarah sistem pengairan kuno yang menjadi bagian dari pengelolaan air di daerah ini. Bukhara, yang terletak di wilayah gurun, memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan sumber daya air yang terbatas. Di dalam Chashma Ayub Mausoleum, terdapat museum yang menjelaskan tentang pengelolaan air di wilayah tersebut dan sejarah Laut Aral. Laut Aral dahulu adalah salah satu danau terbesar di dunia, namun sejak tahun 1960-an, danau ini mengalami penyusutan drastis akibat proyek irigasi besar-besaran oleh Uni Soviet.

Proyek ini telah menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, terutama bagi komunitas lokal yang hidup di sekitar Laut Aral. Saat ini, upaya pemulihan hanya terfokus pada bagian utara danau tersebut, sementara bagian selatan masih menghadapi ancaman kerusakan. Melalui museum ini, delegasi MUI Sumut belajar bagaimana Bukhara, dengan keterbatasan sumber daya alam, berhasil mengelola air secara efisien dan menjaga keberlanjutan ekosistemnya.

Doa Bersama di Makam Guru Imam Bukhari

Selain berziarah ke Chashma Ayub Mausoleum, delegasi MUI Sumut juga menyempatkan diri untuk berdoa di makam salah satu ulama besar dalam sejarah Islam, yaitu guru dari Imam Bukhari. Imam Bukhari adalah tokoh penting dalam penyusunan kitab hadits yang menjadi rujukan utama dalam ajaran Islam. Berdoa di makam ini menjadi momen yang penuh khidmat bagi delegasi, yang merasakan kehadiran spiritual dari sosok yang telah berkontribusi besar terhadap penyebaran dan pemahaman hadits di dunia Islam.

Di sela-sela kunjungan, Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, LC, MA, memimpin doa bersama di depan makam guru Imam Bukhari. Doa ini diharapkan menjadi simbol keteguhan hati umat Islam, mengingatkan pada ketabahan Nabi Ayub yang selalu berserah diri kepada Allah SWT. Dr. Ardiansyah juga menyampaikan bahwa keteladanan para nabi dan ulama, seperti Nabi Ayub dan Imam Bukhari, menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk senantiasa menguatkan iman dan menjaga kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup.

Warisan Nilai Spiritual dan Kebudayaan Islam

Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi delegasi MUI Sumut untuk mendalami warisan nilai spiritual dan kebudayaan Islam yang kaya akan pelajaran hidup dan hikmah. Melalui kisah-kisah para nabi dan ulama terdahulu, umat Islam diharapkan dapat mengambil teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seperti halnya Nabi Ayub yang menunjukkan kesabaran luar biasa, umat Islam juga diajak untuk selalu bersyukur dan ikhlas dalam menghadapi segala bentuk ujian.

Kunjungan ke Chashma Ayub Mausoleum ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian ziarah spiritual delegasi MUI Sumut di Uzbekistan. Dengan pengalaman ini, delegasi MUI Sumut berkomitmen untuk terus menjaga dan menghormati warisan budaya serta spiritual Islam. Melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap kisah-kisah ini, umat Islam diharapkan semakin kuat dalam memelihara keimanan dan memperkokoh identitasnya sebagai bagian dari komunitas global yang menghormati nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para nabi dan ulama.

Delegasi MUI Sumut Ziarah ke Makam Samanid di Bukhara, Uzbekistan

0

Bukhara, muisumut.or.id., 1 November 2024 — Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berkesempatan melaksanakan ziarah ke Makam Samanid di Bukhara, Uzbekistan. Monumen bersejarah ini berasal dari masa kejayaan Dinasti Samanid, dan ziarah ini menjadi bagian dari kunjungan budaya dan sejarah untuk mengeksplorasi warisan Islam yang mempengaruhi Asia Tengah, khususnya di kota Bukhara yang dikenal sebagai “Kota Para Wali.”

Sebagai pusat peradaban Islam di masa Dinasti Samanid, Bukhara menyimpan banyak peninggalan berharga. Kota ini menawarkan suasana yang lebih sederhana dibandingkan Samarkand atau Tashkent, dengan kolam-kolam kuno yang dahulu dibangun untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat yang hidup di tengah padang pasir.

Kekaguman pada Makam Samanid, Ikon Arsitektur Islam Kuno

Di pusat ziarah ini, delegasi MUI Sumut mengunjungi Makam Samanid yang terletak di bagian barat laut Bukhara. Makam yang dibangun pada abad ke-10 ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi keluarga Dinasti Samanid, termasuk tokoh penting Nasr II. Makam ini merupakan contoh ikonik arsitektur Islam awal dan menjadi bangunan pemakaman tertua dalam sejarah arsitektur Asia Tengah.

Struktur makam yang terbuat dari bata bakar memiliki kubah besar di tengah serta empat kubah kecil di setiap sudutnya. Keunikan makam ini terletak pada dindingnya yang setebal 1,8 meter serta desain simetris yang menciptakan tampilan identik di setiap sisinya, sebuah pendekatan yang disebut komposisi sentrik dalam seni arsitektur Asia Tengah. Selain itu, teknik susunan bata yang digunakan menghasilkan pola geometris yang berubah sesuai arah cahaya matahari, menciptakan efek artistik berbeda sepanjang hari dan lebih memukau di bawah sinar bulan.

Warisan Abadi di Kota Para Wali

Bukhara juga dikenal sebagai kota suci, tempat terdapatnya tujuh makam sufi besar yang menjadikannya pusat spiritualitas bagi umat Islam. Keberadaan Makam Samanid tetap lestari, bahkan saat invasi Genghis Khan, karena area makam ini tersamarkan oleh pemakaman lain di sekitarnya. Pada tahun 1993, Makam Samanid diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, menegaskan nilainya sebagai warisan budaya dan spiritual bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam kesempatan ziarah tersebut, delegasi MUI Sumut turut melaksanakan doa bersama di area makam yang dipimpin oleh K.H. Akhyar Nasution. Doa ini dipanjatkan untuk mendoakan keberkahan, kekuatan iman, dan keteguhan umat Islam dalam menjaga warisan budaya dan spiritual Islam. Kehadiran delegasi MUI Sumut di Bukhara ini sekaligus menginspirasi umat Islam di Sumatera Utara akan pentingnya menghormati peninggalan sejarah dan menghidupkan nilai-nilai keislaman yang diwariskan oleh para pendahulu.

Delegasi MUI Sumatera Utara Tiba di Bukhara: Menggali Warisan Islam dan Menjalin Kerjasama dengan Ulama Bukhara

Bukhara, Uzbekistan, muisumut.or.id, 1 November 2024 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara tiba di Bukhara pada 1 November 2024 dini hari setelah menempuh perjalanan kereta api sejauh 600 km dari Tashkent. Sebelumnya, delegasi ini berangkat dari Kuala Lumpur pada 31 Oktober dalam rangka ziarah bersejarah ke Uzbekistan, negara yang kaya akan warisan dan tradisi Islam, dengan agenda yang berlangsung hingga 7 November 2024. Delegasi ini dipimpin oleh Ketua MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, dengan tujuan mempererat hubungan dengan komunitas Islam di Uzbekistan serta memperdalam studi tentang sejarah dan peradaban Islam.

Tiba di Tuskent selanjutnya naik kereta ke Bukhoro
Tiba di Tuskent selanjutnya naik kereta ke Bukhoro

Selain berziarah ke situs-situs Islam bersejarah, MUI Sumut diundang untuk menjadi narasumber dalam forum ulama Bukhara. Kesempatan ini memungkinkan delegasi untuk berbagi ilmu dan pengalaman mengenai isu-isu keislaman kontemporer serta penguatan nilai-nilai syariat.

Warisan Islam di Uzbekistan: Mengenang Kontribusi Imam Bukhari

Uzbekistan, khususnya kota Bukhara dan Samarkand, memiliki peran besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan keislaman. Salah satu tokoh penting yang lahir di Bukhara adalah Imam Muhammad Ibn Ismail al-Bukhari, penulis Sahih al-Bukhari, salah satu kitab hadis paling terpercaya dalam Islam. Makam Imam Bukhari di Samarkand menjadi salah satu destinasi utama kunjungan delegasi MUI Sumut sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi beliau dalam pengembangan ilmu hadis.

Kegiatan Utama Delegasi MUI Sumatera Utara

Selama di Uzbekistan, delegasi MUI Sumut yang dipimpin Dr. H. Maratua Simanjuntak akan mengadakan berbagai kegiatan, termasuk pertemuan dengan ulama setempat dan kunjungan ke institusi pendidikan Islam. Dalam forum ulama Bukhara, Prof. M. Jamil akan menyampaikan tulisannya dalam bahasa Inggris berjudul The Strategic Role of Islamic Scholars and Figures towards a Prosperous, Thriving, and Just Indonesia (Learning from Three Islamic Scholars and Figures in the Indonesian Archipelago). Tulisan ini membahas peran strategis ulama dan tokoh Islam dalam membangun masyarakat Indonesia yang sejahtera, berkembang, dan adil, dengan mengambil inspirasi dari tiga tokoh Islam di Nusantara.

Sementara itu, Dr. Ardiansyah akan menyampaikan makalahnya dalam bahasa Arab yang berjudul وسطية الإسلام في منظور الحديث النبوي؛ من المنهج إلى التطبيق,  Makalah ini membahas konsep wasatiyyah (moderat) Islam dalam perspektif hadis Nabi, dari metodologi hingga aplikasinya.

Menghormati Sejarah Islam dan Memperkuat Kerjasama Internasional

Perjalanan ini bukan sekadar ziarah, melainkan langkah penting untuk memperkuat hubungan antarulama dan umat Islam lintas negara. MUI Sumatera Utara berharap memperoleh wawasan dari pengalaman dakwah Islam di Uzbekistan, terutama dalam bidang pendidikan Islam yang telah berkembang selama berabad-abad.

Kunjungan ini juga diharapkan dapat mendorong MUI Sumatera Utara untuk meningkatkan peran dalam pembinaan umat di Indonesia, dengan memanfaatkan inspirasi dari tradisi pendidikan dan dakwah Islam di Uzbekistan. Bukhara dan Samarkand dikenal sebagai pusat intelektual Islam yang menghasilkan ulama besar dan karya-karya monumental yang menjadi dasar pemikiran Islam hingga kini.

Harapan dan Manfaat dari Kunjungan

Melalui kunjungan ini, MUI Sumatera Utara berharap tidak hanya menghormati warisan ulama terdahulu seperti Imam Bukhari, tetapi juga memperkokoh jaringan keilmuan dan persahabatan antarbangsa. Kegiatan ini diharapkan meningkatkan pemahaman sejarah Islam serta memperkuat sinergi dalam mengembangkan dakwah Islam yang lebih progresif dan inklusif di era modern.

Ketua MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menegaskan pentingnya memperluas wawasan dan membangun kerjasama internasional antarulama, agar nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin terus tersebar dan menjadi pedoman bagi umat Islam di seluruh dunia.

Delegasi MUI Sumut Bertemu dengan Syekh Habibullah Soleh, Master Kaligrafi Islam, dalam Perjalanan Menuju Uzbekistan

Uzbekistan, muisumut.or..id. 31 Oktober 2024 – Dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Tashkent, Uzbekistan, delegasi Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) bertemu dengan Syekh Habibullah Soleh, seorang tokoh ternama di dunia kaligrafi Islam. Syekh Habibullah, yang juga dikenal sebagai “khatat” atau master kaligrafi, telah menulis tujuh mushaf Al-Quran secara manual. Karyanya tak hanya dikenal di Timur Tengah, tetapi juga telah beberapa kali membawanya ke Jakarta dan Kuala Lumpur atas undangan khusus.

Pertemuan secara tidak terduga di dalam pesawat, menjadi momen berharga bagi rombongan MUI Sumut yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak. Dalam kesempatan istimewa tersebut, Syekh Habibullah mengungkapkan kegembiraannya bertemu dengan delegasi MUI Sumut. “Merupakan suatu kehormatan dapat bertemu dengan para ulama dari Sumatera Utara di perjalanan ini,” ujarnya dengan penuh kehangatan.

Sebagai tanda penghargaan, Syekh Habibullah yang merupakan alumni dari Yordania ini memberikan hadiah istimewa berupa beberapa tulisan kaligrafi Islam kepada delegasi MUI Sumut. Momen istimewa tersebut berlangsung pada ketinggian 30.000 kaki di atas udara, menambah kesan mendalam pada pertemuan ini.

Dr. Maratua Simanjuntak menyampaikan apresiasinya atas pertemuan yang tak terduga ini dan mengungkapkan kekagumannya terhadap karya-karya Syekh Habibullah. “Pertemuan ini memberikan semangat baru bagi kami untuk terus mengembangkan seni Islam dan budaya keagamaan di Sumatera Utara. Kaligrafi yang beliau berikan adalah simbol persahabatan dan penghormatan dalam upaya kita bersama membangun umat,” ujar Dr. Maratua.

Pertemuan berkesan ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi lebih lanjut antara MUI Sumut dan para tokoh Islam di berbagai negara, memperkuat jalinan dakwah dan pertukaran budaya Islam di tingkat internasional.

Prof. Dr. M. Jamil Beri Pesan kepada Generasi Muda di Malaysia dalam Kunjungan ke Kuala Lumpur

Kuala Lumpur, musiumut.or.id., 30 Oktober 2024 – Dalam kunjungan singkatnya ke Kuala Lumpur, Prof. Dr. M. Jamil, Guru Besar di UIN Sumatera Utara sekaligus Ketua Umum MUI Kota Binjai, memberikan pesan penting kepada generasi muda di Malaysia. Kunjungan ini merupakan bagian dari rombongan ilmiah menuju Uzbekistan, di mana Prof. Jamil menyampaikan beberapa nasihat yang mendalam bagi pemuda di negeri Jiran.

Dalam pesannya, Prof. Jamil mengajak para pemuda untuk tidak menyia-nyiakan masa muda mereka dan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk terus belajar dan berkembang. “Jika kita bisa memutar waktu, saya tidak akan menyia-nyiakan masa muda saya. Masa muda adalah waktu yang sangat berharga untuk belajar dan memperkuat diri demi menjadi yang terbaik di masa mendatang,” ujarnya. Dengan komitmen yang kuat, ia meyakini bahwa pemuda bisa memberikan kontribusi besar untuk umat dan bangsa.

Prof. Jamil juga menekankan pentingnya adab di tengah perkembangan teknologi dan sosial media yang pesat. Menurutnya, adab adalah pondasi yang bahkan harus diutamakan di atas ilmu. “Adab sangat penting, bahkan adab itu di atas ilmu. Di era sosial media seperti sekarang, jangan sampai kita kehilangan nilai-nilai tersebut,” pesan Prof. Jamil.

Dalam menutup nasihatnya, Prof. Jamil menyampaikan kata-kata mutiara, “Jangan mati tapi kita masih hidup, hiduplah meskipun kita mati.” Maksud dari pesan ini adalah agar generasi muda dapat meninggalkan warisan positif yang bermanfaat bagi orang banyak, bahkan setelah mereka tiada. “Hidup adalah tentang meninggalkan sesuatu yang berarti bagi sesama,” tambahnya, mengutip pepatah Melayu yang mengajarkan arti hidup yang sebenarnya “lemukut ditepi gantang” artinya keluar tidak menjadi maslalah masukpun tidak menambah

Belajar Menjadi Tuan Rumah yang Baik untuk Mewujudkan Iklim Wisata Halal yang Nyaman dan Profesional: Studi dari Malaysia

0

Kuala Lumpur, muisumut.or.id 30 Oktober 2024 – Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menyempatkan mengunjungi ikon kota Kuala Lumpur, sebelum bertolak ke Uzbekistan untuk mempelajari pendekatan negara jiran ini dalam menyambut wisatawan, khususnya di sektor wisata halal. Kunjungan ini mengajarkan pentingnya menjadi tuan rumah yang baik guna menciptakan iklim wisata halal yang nyaman dan profesional bagi semua pengunjung, baik yang Muslim maupun non-Muslim. Salah satu ikon yang menarik perhatian rombongan adalah Masjid Putrajaya, simbol keramahtamahan Malaysia dalam wisata halal.

Masjid Putrajaya telah menjadi destinasi wajib bagi para wisatawan yang datang ke Kuala Lumpur. Menariknya, masjid ini tidak hanya menarik bagi Muslim, tetapi juga banyak dikunjungi oleh wisatawan non-Muslim yang tertarik dengan keindahan arsitekturnya dan ingin mengenal lebih dekat budaya serta ajaran Islam. Untuk wisatawan non-Muslim, pengelola masjid menyediakan area khusus yang dapat dikunjungi tanpa mengganggu ibadah dan ritual keagamaan. Di area ini, pengunjung yang tidak menutup aurat juga disediakan pakaian khusus, sehingga tetap memenuhi etika ketika memasuki kawasan masjid. Selain itu, pengenalan singkat mengenai Islam dan tempat-tempat suci seperti Kabah dan Masjid Nabawi juga disajikan di area tersebut, menambah wawasan wisatawan sekaligus mempererat hubungan antarbudaya.

Kenyamanan pengunjung juga menjadi perhatian utama. Rombongan MUI Sumut mengakui kenyamanan yang dirasakan, bahkan dari hal-hal sederhana seperti area penyimpanan alas kaki yang bersih dan terorganisir dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan yang nyaman dan tertata dapat membuat wisatawan merasa dihargai serta meningkatkan minat untuk berkunjung kembali.

Jika kita menengok ke Kota Medan, sebenarnya terdapat beberapa masjid indah dan sarat sejarah yang memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata halal unggulan, seperti Masjid Raya Al Mashun, Masjid Osmani, dan Masjid Lama Gang Bengkok. Keunikan arsitektur dan nilai historisnya merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun, agar masjid-masjid ini mampu menarik lebih banyak pengunjung, perlu adanya dukungan dari pemerintah. Dukungan ini bisa berupa kebijakan khusus untuk mendorong wisatawan mengunjungi beberapa destinasi wisata halal penting, seperti Istana Maimun dan bangunan bersejarah lainnya, sebagai bagian dari paket wisata.

Peran pemerintah dalam mengembangkan wisata halal sangatlah penting. Dengan kebijakan yang mendorong, bahkan “mewajibkan” wisatawan mengunjungi destinasi-destinasi wisata halal, seperti masjid bersejarah dan istana budaya, pemerintah dapat memastikan bahwa ikon-ikon ini mendapat perhatian dan kunjungan yang signifikan. Hal ini tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga memperkenalkan budaya dan nilai-nilai Islam kepada wisatawan dari berbagai latar belakang, dalam suasana yang ramah dan profesional.

Belajar dari kesuksesan Malaysia dalam membangun iklim wisata halal yang nyaman, Kota Medan memiliki peluang besar untuk mengikuti langkah tersebut, bahkan lebih karena Medan dan sekitarnya (misalnya Danau Toba) memiliki pesona wisata yang luar biasa “kepingan surga”. Dengan perencanaan yang matang, fasilitas yang mendukung, dan dukungan pemerintah, wisata halal di Medan dapat tumbuh pesat. Hal ini akan membantu membangun citra kota yang ramah, berbudaya, dan menjadi pusat wisata halal yang nyaman bagi semua wisatawan.

MUI Sumut Kunjungi Uzbekistan, Pererat Hubungan Keilmuan dengan Ulama Internasional

Medan, muisumut., 30 Oktober 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara resmi memberangkatkan rombongan program Muhibah ke Uzbekistan yang berlangsung dari 30 Oktober hingga 7 November 2024. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, ini akan mengunjungi sejumlah destinasi bersejarah di Uzbekistan untuk memperdalam wawasan spiritual dan menapak tilas jejak sejarah Islam.

Rombongan MUI Sumatera Utara terdiri dari tokoh-tokoh penting di jajaran kepengurusan, termasuk Sekretaris Umum, Prof. Dr. Asmuni, M.Ag, dan Bendahara Umum, Drs. Sotar Nasution. Beberapa Ketua Bidang juga turut serta, seperti Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri, KH. Akhyar Nasution; Ketua Bidang Sosial Bencana, Dra. Laila Rohani, M.Hum; Ketua Bidang Penelitian, Prof. Dr. Fachruddin Azmi; Ketua Bidang Dakwah, Prof. Dr. Mohd Hatta; Ketua Bidang Hukum, Dr. Hamid Ritonga, MA; dan Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum. Selain itu, sejumlah Sekretaris Bidang turut mendampingi untuk memastikan kelancaran agenda perjalanan ini.

Peserta bertolak dari Bandara Kuala Namu Medan menuju Kuala Lumpur untuk transit dan melanjutkan perjalanan ke Tashkent, Uzbekistan. Di Uzbekistan, mereka dijadwalkan mengunjungi kota-kota bersejarah seperti Bukhara dan Samarkand yang terkenal dengan jejak-jejak keilmuan Islam, serta bertemu dengan ulama setempat. Destinasi utama yang akan dikunjungi meliputi Makam Imam Bukhori, Masjid Bolo-Houz, Kompleks Imam Naqsabandi, dan Mausoleum Gur Emir. Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antar-ulama dan memperkaya wawasan sejarah Islam.

Pada hari terakhir di Tashkent, rombongan akan bertemu dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Uzbekistan dan mengunjungi Akademi Islam Internasional Uzbekistan. Perjalanan akan ditutup dengan kegiatan di Resor Gunung Amirsoy sebelum rombongan kembali ke Medan pada 7 November 2024.

Dengan kehadiran tokoh-tokoh MUI Sumatera Utara, program Muhibah ke Uzbekistan ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi para peserta untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, memperkaya wawasan spiritual, serta membangun jaringan internasional dalam bidang keagamaan.