Sunday, May 3, 2026
spot_img
Home Blog Page 167

MUI Sumut Sepakat Pertahankan Pancasila

0

muisumut.or.id, Medan Pelaksanaan seminar Menelisik Rancangan Undang-Undang Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP) secara daring di Kantor MUI Sumut Jl. Sutomo Medan, Sabtu (20/6) berlangsung lancar.

Pembicara, Ketua umum MUI Sumut Prof. Dr. Abdullah Syah MA, melihat dari sudut kajian Islam.

Kemudian DR Faisal Akbar Akedemisi USU dari kajian hukum serta Shohibul Anshor Siregar MA Dosen FISIP UMSU dari tinjauan historis, politik dan sosial.Sedangkan Dr Abdul Hakim Siagian moderator.

Pemaparan pembicara pada umumnya menyoal saat ini terdapat berbagai pihak yang menilai keberadaan Pancasila itu sebagai sesuatu yang harus dikaji ulang keberadaannya, di dalam sistem kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Mengingat banyak perilaku baik aparatur penyelenggara negara/pemerintahan maupun masyarakat umum dapat dikatakan dalam berbagai aktivitas sudah dinilai jauh dari sistem nilai yang terdapat di dalam Pancasila.

Meskipun demikian, masih banyak juga kalangan yang menginginkan Pancasila ini tetap harus dipertahankan, tetapi harus ada penguatan kepada segenap elemen aparatur penyelenggara negara/pemerintahan dan masyarakat, agar berperilaku sesuai dengan sistem nilai yang dikembangkan dalam Pancasila, yang juga harus disesuaikan dengan perkembangan kehidupan masyarakat selaras dengan dimensi fleksibilitas, yang dimiliki sebuah ideologi bila ingin bertahan ditengah kehidupan bangsa sesuatu negara.

Hal ini, dari catatan sejarah, bahwa Pancasila itu kesepakatan para ulama dan tokoh bangsa yang menjadikan sebagai dasar negara, yang dijabarkan dalam konstitusi UUD 45, yang dimulai tanggal 22 Juni 1945 yang disebut Piagam Jakarta.

Berlanjut kemudian tanggal 18 Agustus 1945, kemudian oleh Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Dalam Pasal 29 UUD 1945 tegas disebut, negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa.

Beberapa kali telah dilanggar, dikhianati, sebutlah PKI, contohnya G30SPKI, para ulama memimpin umat untuk membela dan menyelamatkanya serta menjaga Pancasila itu.

Jadi naskah akademis dan RUU HIP ini ditolak, wajib ditarik dari prolegnas bukan sekedar ditunda.

Serta wajib diusut siapa saja yang terlibat hingga lahirnya naskah akademis dan RUU HIP itu untuk dipertanggung jawabkan.

Maklumat

Sebelumnya MUI Sumut telah mengeluarkan Maklumat antaranya, bahwa: Tidak dicantumkannya TAP MPRS Nomor 25/MPRS/1966 Tahun 1966 tentang PEMBUBARAN Partai Komunis Indonesia, pernyataan sebagai organisasi terlarang diseluruh wilayah negara Republik Indonesia bagi partai komunis Indonesia dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunis/marxisme-leninisme, adalah sebuah bentuk pengabaian terhadap fakta sejarah yang sadis, biadab dan memilukan yang pernah dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia, sehingga sama artinya dengan persetujuan terhadap pengkhianatan bangsa tersebut.

Bahwa RUU HIP telah mendistorsi substansi dan makna nilai Pancasila, sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD Tahun 1945.

Kami memaknai dan memahami bahwa pembukaan UUD Tahun 1945 dan batang tubuhnya telah memadai sebagai tafsir dan penjabaran paling otoritatif dari Pancasila, adanya tafsir baru dalam bentuk RUU HIP justru telah mendegradasi eksistensi pancasila.

Memeras Pancasila menjadi Trisila lalu menjadi Ekasila yakni “Gotong Royong”, adalah nyata merupakan upaya pengaburan dan penyimpangan makna dari Pancasila itu sendiri, dan secara terselubung ingin melumpuhkan keberadaan Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa yang telah dikukuhkan dengan Pasal 29 Ayat (1) UUD Tahun 1945, serta menyingkirkan peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan demikian hal ini adalah bentuk pengingkaran terhadap keberadaan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD Tahun 1945 sebagai Dasar Negara, sehingga bermakna pula sebagai pembubaran NKRI yang berdasarkan pada Kelima Sila tersebut.

Meminta kepada Fraksi di DPR RI untuk tetap mengingat sejarah yang memilukan dan terkutuk yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia terutama peristiwa sadis dan tak berperikemanusiaan yang mereka lakukan pada Tahun 1948 dan Tahun 1965 khususnya.

Namun pasca reformasi para aktivis dan simpatisannya telah melakukan berbagai upaya untuk menghapus citra buruknya dimasa lalu dengan memutarabalikan fakta sejarah dan ingin kembali masuk dalam panggung kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kebedaraan RUU HIP patut dibaca sebagai bagian dari agenda itu, sehingga Wajib RUUP HIP ini ditolak dengan tegas tanpa kompromi apapun.(m22)

https://waspada.id/headlines/mui-sumut-sepakat-pertahankan-pancasila/

Baik Buruknya Suatu Negeri Tergantung Kepada Ulama & Umara

0

muisumut.or.id, Medan Khutbah Jumat 19 Juni 2020 Dr.H. Tohir Ritonga, LC, MA

MUI Sumut Akan Lantik Pengurus LADUI

0

muisumut.or.id, Medan MUI Sumut akan lantik pengurus LADUI (Lembaga Advokasi Umat Islam) dan gelar webseminar (webinar) RUU HIP.

MUI Sumut akan lantik pengurus LADUI pascawafatnya Direktur H Hamdani Harahap yang digantikan oleh Dr Abdul Hakim Siagian.

Beliau akan dilantik sebagai Direktur Lembaga Advokasi Umat Islam Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (LADUI MUISU), Sabtu(20/6).

Hal ini disampaikan Sekretaris MUI Sumut, Dr Ardiansyah, MA, Kamis (18/6).

Dia mendampingi Ketua Umum, Prof Dr H Abdullah Syah, MA, Wakil Ketua Umum Dr H Arso SH, MAg, Dr H Ramlan Yusuf Rangkuti MA dan Dr H Akmaluddin Syahputra, M Hum kepada media di kantor MUI Sumut Jl Sutomo Ujung, Medan.

Dalam keteranganya, Ketua Umum MUI Sumut, Prof Dr Abdullah Syah menilai, Dr Abdul Hakim Siagian sosok yang tepat mengemban amanah sebagai Direktur Ladui MUI Sumut.

Lembaga itu menjadi wadah pembelaan bagi umat Islam yang memiliki masalah dengan hukum.

Selain pelantikan dan pengukuhan, kegiatan pada Sabtu (20/6) diharapkan menjadi sarana silaturahmi yang memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Jangan sampai adanya paham-paham kekirian bisa memecah belah umat.Maka,Ladui sebagai benteng utama di MUI bisa mencegah unsur pemecah belah ukhuwah ummat.

“Jika ada unsur-unsur itu kita harus saling mengingatkan. Jika ada masalah menyangkut persoalan hukum,Ladui yang akan maju ke depan,” katanya.

Dia sembari berharap Ormas Islam di Sumut juga bisa bersatu, guna mencegah perpecahan umat di masa datang.

Amanah

Sedangkan Abdul Hakim Siagian yang menggantikan Alm Hamdani Harahap menyebutkan penunjukkan dirinya adalah amanah yang akan dijalankan sebaik-baiknya.

Kepada umat Islam, kata Abdul Hakim Siagian, agar datang ke Ladui MUI Sumut, jika menghadapi masalah hukum.

“Ladui MUI Sumut siap memberikan bantuan hukum kepada ummat, karena Ladui hadir secara Ligitasi dan Non Ligitasi.

“Sehingga Ladui sebagai ‘tentara’ terdepan dalam membela kepentingan umat,” katanya.

Setelah pelantikan dan pengukuhan pengurus Ladui MUI Sumut, sekaligus Perwakilan Kabupaten/Kota secara virtual, pascawafatnya Direktur Ladui MUISU, H Hamdani Harahap M Hum beberapa waktu lalu.

Ini sekaligus dirangkai dengan webinar terkait Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).

Adapun pembicaranya Ketua Umum MUISU, Prof Dr Abdullah Syah MA, Shohibul Anshor dan Faisal Akbar.

Sedangkan Abdul Hakim Siagian akan menjadi moderator.

Kata Abdul Hakim Siagian, hasil dari kegiatan webseminmar (webinar) akan disampaikan kepada MUI Pusat yang sudah mengambil sikap penolakan.

Maka, sangat diharapkan atas dorongan dari berbagai element kepada pemerintah agar RUU HIP itu dihapuskan saja.

Karena secara pragmatis kita tidak tahu siapa yang membutuhkan RUU HIP ini.

Webinar juga melalui live streaming channel YoutubeFacebook, dan Instagram Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara pada Sabtu 20 Juni 2020, pada pukul 10.00 s/d 12.00 WIB.

Masyarakat Sumatera Utara khususnya dan seluruh umat Islam bisa menyaksikannya serta berdiskusi melalui WA 081265757391.

Kegiatan ini akan memberikan masukan kepada DPR dan pemerintah untuk menghentikan RUU HIP (m22)

https://waspada.id/medan/mui-sumut-akan-lantik-pengurus-ladui/

MUI se-Indonesia Keluarkan Sikap Tolak RUU HIP, LADUI MUI SUMUT Seminarkan pada Sabtu 20 Juni 2020

0

muisumut.or.id, Medan Dewan Pimpinan MUI Pusat dan Dewan Pimpinan MUI Provinsi se-Indonesia menyampaikan maklumat atas Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang masuk menjadi pembahasan di DPR. MUI meminta kepada Fraksi-Fraksi di DPR RI untuk tetap mengingat sejarah yang memilukan dan terkutuk yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia terutama peristiwa sadis dan tak berperikemanusiaan yang mereka lakukan pada Tahun 1948 dan Tahun 1965 khususnya.

Untuk itulah Majelis Ulama Indonesia melalaui Lembaga Advokasi Umat Islam Indonesia (LADUI) akan menyeminarkan melalui live streaming channel Youtube, Facebook, dan Instagram Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara pada Sabtu 20 Juni 2020, pada pukul 10.00 sd 12.00 WIB. Masyarakat Sumatera Utara khususnya dan seluruh umat Islam bisa menyaksikannya serta berdiskusi melalui WA 081265757391

Maklumat tersebut sebagai berikut

  1. Tidak dicantumkannya TAP MPRS Nomor 25/MPRS/1966 Tahun 1966 tentang PEMBUBARAN partai komunis indonesia, pernyataan sebagai organisasi terlarang diseluruh wilayah negara Republik Indonesia bagi partai komunis Indonesia dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunis/marxisme-leninisme,adalah sebuah bentuk pengabaian terhadap fakta sejarah yang sadis, biadab dan memilukan yang pernah dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia, sehingga sama artinya dengan persetujuan terhadap pengkhianatan bangsa tersebut.
  2. Bahwa RUU HIP telah mendistorsi substansi dan makna nilai-nilai Pancasila, sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD Tahun 1945. Kami memaknai dan memahami bahwa pembukaan UUD Tahun 1945 dan batang tubuhnya telah memadai sebagai tafsir dan penjabaran paling otoritatif dari Pancasila, adanya tafsir baru dalam bentuk RUU HIP justru telah mendegradasi eksistensi Pancasila;
  3. Memeras Pancasila menjadi Trisila lalu menjadi Ekasila yakni “Gotong Royong”, adalah nyata-nyata merupakan upaya pengaburan dan penyimpangan makna dari Pancasila itu sendiri, dan secara terselubung ingin melumpuhkan keberadaan Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa yang telah dikukuhkan dengan Pasal 29 Ayat (1) UUD Tahun 1945, serta menyingkirkan peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian hal ini adalah bentuk pengingkaran terhadap keberadaan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD Tahun 1945 sebagai Dasar Negara, sehingga bermakna pula sebagai pembubaran NKRI yang berdasarkan pada 5 Sila tersebut;
  4. Meminta kepada Fraksi-Fraksi di DPR RI untuk tetap mengingat sejarah yang memilukan dan terkutuk yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia terutama peristiwa sadis dan tak berperikemanusiaan yang mereka lakukan pada Tahun 1948 dan Tahun 1965 khususnya. Namun pasca reformasi para aktivis dan simpatisannya telah melakukan berbagai upaya untuk menghapus citra buruknya dimasa lalu dengan memutarabalikan fakta sejarah dan ingin kembali masuk dalam panggung kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebedaraan RUU HIP patut dibaca sebagai bagian dari agenda itu, sehingga Wajib RUUP HIP ini ditolak dengan tegas tanpa kompromi apapun;
  5. Kami pantas mencurigai bahwa konseptor RUU HIP ini adalah oknum-oknum yg ingin membangkitkan kembali paham dan Partai Komunis Indonesia, dan oleh karena itu patut diusut oleh yang berwajib; Meminta dan menghimbau kepada Ummat Islam Indonesia agar tetap waspada dan selalu siap siaga terhadap penyebaran faham komunis dengan pelbagai cara dan metode licik yang mereka lakukan saat ini;
  6. Mendukung sepenuhnya keberadaan TNI sebagai penjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus pengawal Pancasila. Karena itu, jika ternyata ada indikasi penyebaran faham komunis dengan pelbagai cara dan kedok, mari segera laporkan kepada pos atau markas TNI terdekat;
  7. Bila maklumat ini diabaikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, maka kami Pimpinan MUI Pusat dan segenap Pimpinan MUI Provinsi se-Indonesia menghimbau Umat Islam Indonesia agar bangkit bersatu dengan segenap upaya konstitusional untuk menjadi garda terdepan dalam menolak faham komunisme dan berbagai upaya licik yang dilakukannya, demi terjaga dan terkawalnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

PENYELENGGARAAN SHALAT JUM’AT DAN JAMAAH UNTUK MENCEGAH PENULARAN WABAH COVID-19

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 31 Tahun 2020

Ketentuan Hukum

A. Perenggangan Saf Saat Berjamaah

  1. Meluruskan dan merapatkan saf (barisan) pada shalat berjamaah merupakan keutamaan dan kesempurnaan berjamaah.
  2. Shalat berjamaah dengan saf yang tidak lurus dan tidak rapat hukumnya tetap sah tetapi kehilangan keutamaan dan kesempurnaan jamaah.
  3. Untuk mencegah penularan wabah COVID-19, penerapan physical distancing saat shalat jamaah dengan cara merenggangkan saf hukumnya boleh, shalatnya sah dan tidak kehilangan keutamaan berjamaah karena kondisi tersebut sebagai hajat syar’iyyah.

B. Pelaksanaan Shalat Jum’at

  1. Pada dasarnya shalat Jum’at hanya boleh diselenggarakan satu kali di satu masjid pada satu kawasan.
  2. Untuk mencegah penularan wabah COVID-19 maka penyelenggaraan shalat Jumat boleh menerapkan physical distancing dengan cara perenggangan saf.J
  3. ika jamaah shalat Jum’at tidak dapat tertampung karena adanya penerapan physical distancing, maka boleh denyelenggarakan shalat Jum’at berbilang (ta’addud al-jumu’ah), dengan menyelenggarakan shalat Jum’at di tempat lainnya seperti mushalla, aula, gedung pertemuan, gedung olahraga, dan stadion.
  4. Dalam hal masjid dan tempat lain masih tidak menampung jamaah shalat Jum’at dan/atau tidak ada tempat lain untuk pelaksanaan shalat Jum’at, maka Sidang Komisi Fatwa MUI berbeda pendapat terhadap jamaah yang belum dapat
    melaksanakan shalat Jum’at sebagai berikut:
    a. Pendapat pertama, jamaah boleh menyelenggarakan shalat Jum’at di masjid atau tempat lain yang telah melaksanakan shalat Jum’at dengan model shift, dan pelaksanaan shalat Jum’at dengan model shift hukumnya sah.
    b. Pendapat kedua, jamaah melaksanakan shalat zuhur, baik secara sendiri maupun berjamaah, dan pelaksanaan shalat Jum’at dengan model shift hukumnya tidak sah

Terhadap perbedaan pendapat di atas (point a dan b), dalam pelaksanaannya jamaah dapat memilih salah satu di antara dua pendapat dengan mempertimbangkan keadaan dan kemaslahatan di wilayah masing-masing.

C. Penggunaan Masker Saat Shalat

  1. Menggunakan masker yang menutup hidung saat shalat hukumnya boleh dan shalatnya sah karena hidung tidak termasuk anggota badan yang harus menempel pada tempat sujud saat shalat.
  2. Menutup mulut saat shalat hukumnya makruh, kecuali ada hajat syar’iyyah. Karena itu, shalat dengan memakai masker karena ada hajat untuk mencegah penularan wabah COVID-19 hukumnya sah dan tidak makruh.

Douwload Fatwa

“HOAX” SURAT RAPID TEST MODUS OPERANDI PKI

0

muisumut.or.id, Medan – Sehubungan dengan beredarnya pesan berantai via aplikasi perpesanan Whatsapp mengatasnamakan Sekretariat MUI Pusat tertanggal Jakarta, 03 April 2020 terkait Pemberitahuan Kewaspadaan terhadap Rapid Test Covid-19 bagi para Ulama, Kyai, dan Ustadz seluruh Indonesia.

Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI melakukan tabayyun bahwa itu adalah Pesan Hoax atau Fake News. Surat tersebut tidak sesuai dengan Pedoman Penyelenggaraan Organisasi Majelis Ulama Indonesia (PO MUI) edisi Revisi 2018 sebagai berikut :

1- Kepala Surat, tidak sesuai dengan Pasal 4 PO MUI yang telah ditentukan, perlu diketahui Kepala Surat Resmi MUI adalah sebagai berikut

2 – Struktur surat juga tidak sesuai dengan standar PO MUI pada Pasal 4 yang terdiri dari :

  1. Kepala Surat,
  2. Nomor, Lampiran, dan Hal Surat
  3. Alamat dan Tujuan Surat
  4. Isi Surat
  5. Format margin surat
  6. Pembukaan dan Penutup Surat
  7. Nama dan Tanda Tangan

3- Setiap surat harus menyebut dengan jelas siapa pengirimnya, Penanggung jawab surat adalah Ketua Umum atau Ketua sebelah kiri dan Sekretaris Jenderal atau Sekretaris di sebelah kanan.

Demikian klarifikasi dari Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia atas pertanyaan dari masyarakat.

KHUTBAH IDUL FITRI 1441 DI TENGAH WABAH COVID-19

0

JAMINAN ALLAH TERHADAP ORANG YANG BERTAQWA

muisumut.or.id, Medan Oleh: Dr. H. Arifinsyah, M.Ag. Sekrerataris MUI Prov. Sumatera Utara dan Dosen UINSU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah!

Gema takbir dan tahmid terus bersahutan sejak malam hingga pagi ini sebagai pekik kemenangan dan ekspresi kesyukuran orang-orang beriman dan bertaqwa di tengah wabah virus corona /covid-19 setelah berjihad dan beramal satu bulan penuh di bulan Ramadhan, melawan hawa nafsu, amarah, dendam, bakhil, tamak, iri dan dengki. Rasa syukur pula nampak menghiasi hari kemenangan ini atas nikmat yang besar yakni pakaian taqwa yang menjadi hadiah terbaik di bulan Ramadhan. Keimanan kita kini telah menemukan ketaqwaannya melalui jalan-jalan terjal dan berliku selama Ramadhan dan hanya mereka yang bersabarlah yang dapat mencapai kemenangan gemilang.

Pada kesempatan ini, mari kita doakan keluarga kita, guru kita, sahabat kita, tenaga medis kita yang telah wafat, baik terkait dengan covid-19 maupun dengan sebab lain, semoga Allah ampuni, rahmati, diluaskan kubur mereka dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Bagi kita, bagaimanapun situasi dan kondisi Ramadhan walau di tengah musibah wabah covid-19, selalu dapat kita ambil hikmah atau pelajaran, karena semuanya atas izin Allah SWT :

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Attakhobun:/64:11).

Di hari yang fitri ini tidak ada perbedaan diantara kita,  tidaklah lebih mulia Presiden atau residen, tidak ada perbedaan Menteri dengan tukang patri, tidak ada perbedaan Gubernur dengan tukang cukur, tidak ada perbedaan Bupati dengan tukang jual roti, tidak ada perbedaan pak Camat dengan tukang jual sayur tomat, tidak ada perbedaan Kepala desa dengan tukang beca, dan tidak ada perbedaan Keplor dengan tukang jual kompor. Yang membedakan kita ada tingkat ketaqwaan kepada Allah Swt.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat/49: 13)

Allahu akbar 3x walillahilhamd

Hadirin yang berbahagia………………..

Pada kesempatan ini akan kita bahas janji Allah kepada orang yang berimn dan jaminan-Nya terhadap orang-orang yang bertaqwa, sebagai berikut :

Pertama, Allah mengabulkan doa-doa orang yang beriman dan harapan orang yang bertaqwa, sebagaimana firmanNya :

dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS.al-Mukmin/40:60).

Kedua, Allah akan menambah nikmat terhadap orang-orang yang bersyukur, baik nikmat jesmani maupun rohani, firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Referensi: https://tafsirweb.com/37125-quran-surat-ibrahim.html

dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.Ibrahim/14:7).

Ketiga, apabila kita menolong agama Allah dan mensyiarkan agama-Nya, maka Allah akan menolong hamba-nya, firman-Nya:

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(QS.Muhammad/47  :7).

Keempat,  Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi, karena keimanan dan ketaqwaan penududuknya. Firman Allah Swt:  

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.  (QS. Al A’raf/7: 96)

Saat ini Indonesia dilanda berbagai bencana; Bencana ekonomi dengan anjloknya rupiah; bencana moral berupa merebaknya korupsi, narkoba, dan pergaulan bebas; bencana hukum berupa hilangnya wibawa hukum negeri ini dan para penegaknya, bencana sosial dengan tingginya angka kemiskinan, bencana alam, dan azab wabah virus corona/covid-19 dengan ribuan korban meninggal. Kiranya membuat kita sadar bahwa negeri ini sedang ditegur! Mumpung belum diazab dengan petaka yang membinasakan, mari memperbaiki diri dan menata negeri dengan keimanan dan ketaqwaan.

Kelima, orang beriman dan bertaqwa diberikan Allah kemenangan, berupa surga dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Firman-Nya :

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS.Assajadah/32:19).

Keenam, Allah memberikan jalan keluar dari berbagai kesulitan hamba-Nya dan memberikan rezki yang tak terduga. Firman-Nya :

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS.At-Thalaq/65: 2-3).

Ketujuh, Allah akan memberikan perlindungan kepada orang yang beriman dan bertaqwa, firman-Nya :

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). (QS.al-Baqarah/2:257).

ALLAHU AKBAR 3X WALILLAHILHALMD

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah!

Mari kita pertahankan sifat-sifat taqwa kita yang telah dididik selama Ramadhan, kita sudah beribadah puasa, solat, sedekah, menahan amarah, memaafkan dan mohon ampun atas segala kesalahan dan dosa agar kita tetap mendapat perlindungan Allah Swt dan ditempatkan-Nya kita di surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Di akhir khutbah ini, khatib mengingatkan kepada kita semua untuk saling bermaafan dan melapangkan dada atas segala kesalahan dan kekhilafan saudara kita, agar kesucian diri kita tetap terjaga, sehingga menjadi manusia yang senantiasa dekat pada Allah dalam membangun kesolehan sosial meraih kemenangan dunia-akhirat.

Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nur:22)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 Khutbah Kedua :

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيرًا.

اَمَّا بَعْدُ:

فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd,

Hadirin yang dirahmati Allah,

Akhirnya marilah kita berdoa kepada Allah SWT :

بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ،والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين

اللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات

اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا, مُوَافِقًا بِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ

اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ

Yaa Allah Yang Maha Pengasih, terima kasih  atas segala hikmah yang Kau ilhamkan kepada kami hingga di hari Idul Fitri ini,Terima kasih atas segala ilmu yang Kau pahamkan kepada kami, Terima kasih atas segala rezeki yang  Kau lapangkan untuk kami hingga kami dapat berbagi dengan yang lain, Terima kasih atas iman dan kesabaran yang telah Kau hunjamkan di dada kami, terima kasih yaa Allah…

Ya Rob ya Allah….Tuntunlah kami untuk meniti jalan syukur kami  pada-Mu. Limpahkan kebaikan dalam segala urusan kami,  curahkan rahmat-Mu dalam urusan akhirat kami, dan lindungilah kami dan keluarga kami beserta orang-orang yang kami cintai karena-Mu dari wabah virus corona yang membinasakan.

Ya Allah Yang Maha Penolong…., tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari wabah virus corona dan dari perilaku kaum yang dzalim dan kafir.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

Ya Allah Yang Maha Pelindung…, hindarkanlah dari kami kekurangan pangan, cobaan hidup, penyakit-penyakit, wabah, perbuatan-perbuatan keji dan munkar, ancaman-ancaman yang beraneka ragam, paceklik-paceklik dan segala ujian, yang lahir maupun batin dari negeri kami ini pada khususnya dan dari seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya, karena sesungguhnya engkau atas segala sesuatu adalah kuasa.

Ya Allah Yang Maha Menghidupkan…, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka. Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

KIAT MERAIH LAILATUL QADR, Oleh : Hj.Tjek Tanti, Lc, MA

0

Disampaikan pada Ahad, 17 Ramadhan 1441 H, secara live streaming Yutube, Facebook, dan Instagram

PENDAHULUAN

Lailatul Qadar adalah satu malam yang sangat  instimewa bagi umat Islam. Malam ini menjadi istimewa karena ia di sebut di dalam Al Quran sebagai malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Artinya, siapa yg beramal di malam Lailatul Qadar ini, lebih baik bagimya dari beramal 1000 bulan atau 83 tahun lebih. Maka dari itu, setiap Muslim yang taat pastilah mendambakan untuk mendapatkan malam istimewa ini.

Malam Lailatul Qadar juga dikenal sebagai malam diturunkannya kitab suci Al-Qur’an ke muka bumi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Qadar;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ .

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al Qur’an] pada malam Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadr itu. Malam Lailatul Qadr1 itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan.  Malam itu [penuh] kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Rasulullah saw bersabda tentang keutamaan Lailatul Qadar sebagai berikut:

ان هذا الشهر قد حضركم وفيه ليلة خير من الف شهر من حرمها فقد حرم الخير كله

 ولايحرم خيرها الا محروم

            “Sesungguhnya bulan ini telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa terhalang untuk mendapatkan kebaikannya, berarti ia terhalang untuk mendapatkan seluruh kebaikan. Dan tidak terhalang mendapatkan kebaikannya, kecuali orang yang betul-betul bernasib buruk.”(HR. Ibnu Majah)

MAKNA LAILATUL QADR

Al-Qadr dari satu sisi memiliki arti kedudukan yang tinggi dan kehormatan yang besar. Berdasarkan makna ini, Lailatul Qadr berarti malam yang memiliki kemulian, kehormatan dan keagungan. Di malam ini, Allah menganugerahkan kemuliaan dan kehormatan yang selayaknya diterima oleh hamba-hambaNya yang salih di dunia maupun di akhirat.

Dari sisi yang lain, al-Qadr berarti penetapan hukum-hukum dan pembagian jatah rezeki kepada seluruh umat manusia. Berdasarkan makna yang kedua ini, Lailatul Qadr berarti malam di mana Allah menentukan takdir hamba-hambaNya, berbagi kondisi dan masa depan mereka. Ketentuan takdir ini diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia, untuk diberlakukan kepada mereka selama setahun.

Dari kedua makna ini, Lailatul Qadr merupakan malam terbaik sepanjang tahun. Karena seluruh bagiannya telah dipenuhi dengan berkah dan kebaikan. Jika kita mendapatkan kebaikan dan keberkahannya, berarti kita telah meraih karunia yang besar dan mendapatkan kemuliaan yang agung. Sebaliknya, jika terhalang mendapatkan kebaikan dan keberkahannya, berarti kita akan terhalang mendapatkan kebaikan dan keberkahan di malam-malam lainnya.

KEMULIAAN DAN KEAGUNGAN LAILATUL QADR

Malam ini memiliki keutamaan dan keagungan yang sangat banyak, diantaranya adalah :

  • Malam ini lebih baik daripada seribu bulan, yakni amal salih yang dikerjakan pada malam ini lebih baik daripada amal kebaikan yang dikerjakan selama seribu bulan, yang tidak ada Lailatul Qadr di dalamnya.
  • Pada malam ini, para malaikat di bawah pimpinan Malaikat Jibril turun ke bumi. Dengan banyaknya malaikat yang berada di bumi, akan memberikan kebaikan dan menyingkirkan setan-setan, sehingga kita merasa mudah untuk berbuat kebajikan.
  • Pada malam ini, kaum Muslim dipenuhi dengan kesejahteraan hingga terbit fajar. Setan tidak bisa mengusik dan mengganggu mereka.
  • Malam ini penuh dengan berkah, sehingga barangsiapa yang terhalang mendapatkan berkahnya, maka ia terhalang mendapatkan anugerah yang sangat besar.
  • Pada malam ini, Allah memberikan ampunan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Abu Abdurrahman berkata: “Pada malam kemuliaan, didatangkan buku catatan besar selama setahun. Lalu Allah mengampuni orang-orang yang dikehendakiNya.”
  • Malam kemuliaan ini akan selalu ada hingga hari kiamat. Abu Dzar ra berkata:

يا رسولَ اللهِ ، أخبِرْني عن ليلةِ القدرِ أفي رمضانَ أم في غيرِ رمضانَ ؟ قال صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ : بلْ في رمضانَ . قلتُ : يا رسولَ اللهِ ، أهيَ مع الأنبياءِ ما كانوا فإذا قُبِضَ الأنبياءُ رُفِعَتْ ، أم هيَ إلى يومِ القيامةِ ؟ قال صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ : بل هيَ إلى يومِ القيامةِ قلت يا رسول الله أخبرنى فى أي رمضان هي ؟ قال في العشر الأواخر لا تسألنى عن شئ بعدها

“Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku mengenai Lailatul Qadr. Apakah ia di bulan Ramadhan ataukah di luar bulan Ramadhan?”

Rasulullah saw menjawab,“Justru ia berada di bulan Ramadhan”

Aku bertanya, “Beritahukanlah kepadaku wahai Rasulullah, apakah malam itu terjadi pada masa para nabi selama mereka masih hidup? Apabila mereka meninggal dunia, apakah malam itu akan diangkat, ataukah tetap ada hingga hari Kiamat?”

Rasulullah saw menjawab, “Tidak, justru ia akan tetap ada hingga hari Kiamat”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, di hari apakah dari bulan Ramadhan malam itu tiba?”

Beliau pun menjawab,“Pada sepuluh hari terakhir. Setelah ini, janganlah kamu bertanya kepadaku lagi mengenai hal ini sedikit pun.”(HR. al-Hakim)

  • Tidak ada tanda-tanda permulaan yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan bahwa malam tertentu adalah malam Lailatul Qadr. Justru tanda-tanda itu muncul di pagi harinya setelah berlalu Lailatul Qadr. Seperti matahari bersinar terang, tetapi tidak terasa menyengat di esok harinya. Oleh karena itu, pedoman kita dalam mencari Lailatul Qadr adalah penjelasan dari Rasulullah saw. Karena itu, mau tidak mau kita harus bersungguh-sungguh meningkatkan amal ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil, terutama pada tujuh malam terakhir.

HIKMAH DIRAHASIAKANNYA LAILATUL QADR

Ubadah bin ash-Shamit ra menuturkan:

Rasulullah keluar untuk memberitahukan kepada kami tentang Lailatul Qadr, lalu ada dua orang dari kalangan Muslimin yang berdebat. Beliau pun bersabda, “Aku keluar untuk memberitahukan kepadamu tentang Lailatul Qadr, lalu Fulan dan Fulan berdebat, sehingga ingatan tentang malam itu terangkat dari memoriku. Semoga hal ini justru lebih baik bagimu. Oleh karena itu, carilah Lailatul Qadr di malam kesembilan, ketujuh dan kelima.”(HR. Bukhari)

Rasulullah saw menjadi lupa pada malam keberapa tepatnya Lailatul Qadr, tapi beliau masih mengingat bahwa Lailatul Qadr jatuh pada sepuluh hari yang terakhir di malam-malam ganjil, sebagaimana sabda beliau,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

            Carilah Lailatul Qadr pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Beberapa Hikmah Mengapa Lailatul Qadr ini Datangnya Dirahasiakan

  • Allah merahasiakannya agar tidak hanya Lailatul Qadr yang diagungkan, tetapi semua malam yang diperkirakan sebagai kemungkinan Lailatul Qadr juga diagungkan, dengan mengerjakan berbagai bentuk ibadah secara bersungguh-sungguh di semua malam yang diharapkan sebagai Lailatul Qadr. Sebagaimana Allah menyembunyikan asma Allah Yang Paling Agung agar umat manusia mengagungkan semua asmaNya.
  • Ketika seorang hamba bersungguh-sungguh beribadah karena berharap mendapatkan Lailatul Qadr, meskipun ia belum yakin apakah malam ini adalah Lailatul Qadr, maka Allah akan membanggakan hamba itu di hadapan malaikat seraya berfirman, yang artinya, “kalian telah mengatakan bahwa manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi dan akan menumpahkan darah, padahal hambaKu ini telah diketahuinya dengan yakin. Bagaimana seandainya Aku memberitahukan secara jelas Lailatul Qadr kepadanya? Pada saat itulah akan terlihat jelas bahwa Aku Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui.”
  • Allah menyembunyikannya agar kaum Muslimin bersungguh-sungguh untuk mencari dan menentukannya, sehingga mereka mendapatkan pahala orang-orang yang berjihad. Berbeda halnya kalau Lailatul Qadr telah diberitahukan, berarti mereka tidak akan mendapatkan pahala jihad di samping pahala ibadah yang dikerjakannya.

Kendati demikian, sebagian besar ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadr itu jatuh pada malam ke-27, berdasarkan sabda Rasulullah saw,…

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

            “Barangsiapa yang mencarinya, maka hendaklah mencarinya di malam kedua puluh tujuh.” (HR. Ahmad)

     Oleh karena itu, kita harus meningkatkan amal ibadah kita selama sepuluh hari terakhir, terlebih lagi pada malam-malam ganjil, terutama pada tujuh malam yang tersisa, terlebih lagi malam kedua puluh tujuh.

Langkah-langkah Meraih Lailatul qadr

            Tidak ada seorangpun yang lebih tahu tentang bagaimana meraih atau mendapatkan Lailatul Qadr selain Rasulullah saw. Oleh sebab itu siapa saja yang ingin meraih Lailtul Qadr hendaklah mengikuti apa yang beliau saw lakukan.

  • Mengoptimalkan amal ibadah dan meminimalkan amal duniawi selama sepuluh hari terakhir. Aisyah ra menuturkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

“Rasulullah saw sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Aisyah ra juga menuturkan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi saw memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istri), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)

  • Melakukan iktikaf selama sepuluh hari terakhir, sehingga dengan demikian kita bisa meningkatkan amal ibadah tanpa mendapatkan banyak gangguan, Aisyah ra menuturkan,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ،

 ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Bahwa Nabi saw selalu beriktikaf selama sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, hingga beliau meninggal dunia. Setelah itu, para isteri beliau beriktikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Memperbanyak shalat malam, Rasulullah saw bersabda,…

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang mengerjakan ibadah (shalat) pada malam Qadar dengan iman dan berharap hanya kepada Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (HR al-Bukhari dan Muslim).

  • Memperbanyak istighfar dan mohon ampunan. Imam ar-Rafi’i berkata, “Disunahkan untuk memperbanyak doa di semua waktu, lebih banyak lagi di bulan Ramadhan, lebih banyak lagi di sepuluh malam terakhir, lebih banyak lagi di malam-malam ganjilnya. Di antara doa yang disunahkan untuk selalu kita baca adalah doa yang terdapat dalam hadits yang  diriwayatkan Aisyah ra. Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw :

            يَارَسُوْلَ اللهِ اَرَاَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلًةَ الْقَدْرِ مَااَقُولُ فِيْهَا. قَالَ قُوْلِى

         اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى‎

     “Wahai Rasulullah, apa pendapat Engkau, seandainya aku menemukan malam Lailatul Qadar, maka do’a apakah yang semestinya aku ucapkan? Rasullullah SAW, menjawabnya; berdo’alah dengan mengucapkan “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, menyukai  ampunan, maka ampunilah aku.” (HR.Ahmad).

  • Tidak berbuka terlalu kenyang dan tidak memenuhi perut dengan makanan di malam hari, agar tidak mengantuk, sehingga bisa menghidupkan malam-malam Ramadhan. Rasulullah saw senantiasa mengencangkan sarungnya, yang berarti beliau tidak banyak makan malam hari, sehingga bisa menghidupkan malam untuk mendapatkan Lailatul Qadr.
  • Membersihkan diri dari dorongan syahwat, agar lebih konsentrasi dalam melaksanakan ibadah. Diantara makna mengencangkan ikatan sarung adalah tidak menggauli isteri dan tidak makan terlalu kenyang.

Keluasan Ampunan Allah swt

Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan :

  عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ :قَالَ اللهُ تَبَارَك وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ لْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً. Dari Anas bin Malik ra ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda; Allah Azza wa Jalla berfirman : Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli.Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR.Tirmidzi)   Hadis ini menyebutkan tiga syarat mendapatkan ampunan : Berdoa Disertai Harapan يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ Berdoa disertai harapan, karena doa diperintahkan dan dijanjikan untuk dikabulkan. Allah Azza wa Jalla berfirman : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Dan Tuhanmu berfirman, berdoalah kamu kepadaku niscaya Kuperkenankan permintaan kamu itu (QS. al-Mu’min:60). Rasulullah saw bersabda: اُدْعُوا اللّٰـهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰـهَ تَعَالَـى لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ “Berdoalah kamu kepada Allah sedangkan kamu yakin bakal diijabah. Ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengijabah doa dari hati orang yang lalai lagi main-main”. Senantiasa Istighfar يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ 3. Tauhid Merupakan Faktor Terbesar Penyebab Ampunan يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً
Barangsiapa tidak mempunyai tauhid, ia tidak mendapatkan ampunan Allah Azza wa Jalla berfiman : إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An-Nisa:48)
Lafazh-lafazh Istighfar Yang Biasa Diamalkan Rasulullah Saw أَسْتَغْفِر ُاللهَ…أَسْتَغْفِرُ اللهَ  العَظِيم  َالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي  فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم.اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا, وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.سيد الاستغفار اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ (أَمَاتُك)، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ “Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau”.     Dari Abdullah bin Abbas ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda:     مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هُمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا،   وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ                                                                                                 “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan membebaskannya dari segala kegundahan, melepaskannya dari segala kesempitan dan memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)    
           Demikianlah paparan singkat tentang Kiat Meraih Lailatul Qadr; makna Lailatul Qadr; kemuliaan dan keagungannya; hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadr; langkah-langkah untuk mendapatkannya; serta penjelasan Rasulullah saw tentang keluasan ampunan Allah swt. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengoptimalkan amal ibadah di malam kemuliaan ini, sehingga dapat meraih ridho dan limpahan pahala yang telah dijanjikan oleh Allah swt. Amin…

Pandangan Ke-Agamaan Komisi Fatwa MUI Provinsi Sumatera Utara terhadap Persoalan-persoalan Ibadah Kontemporer Pada Masa Wabah Covid-19

0

muisumut.or.id, Medan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut mengeluarkan sembilan fatwa terkait dengan ibadah untuk umat muslim.

Fatwa yang dikeluarkan untuk memberikan kepastian tata cara beribadah di masa COVID-19. Keputusan ini dikeluarkan pada 15 April 2020 setelah melalui tiga persidangan.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Sumut, Akmaluddin Syahputra mengatakan, sembilan fatwa tersebut dikelompokkan menjadi empat, pertama tata cara salat, Badan Kesejahteraan Masjid (BKM), puasa dan zakat.

Untuk tata cara salat ke masjid, katanya, ada dua syarat yang ditentukan oleh fatwa MUI, yaitu harus menggunakan masker dan yang boleh ke masjid hanya laki-laki saja. Sementara untuk perempuan dan anak-anak diharapkan salat di rumah.

“Kita tetap ke masjid untuk beribadah karena saat ini kondisi Sumut belum begitu darurat, tetapi ada syaratnya. Pertama, hanya laki-laki yang diperbolehkan salat jamaah di masjid, entah itu tarawih, salat Jum’at, salat lima waktu. Kedua, jika ke masjid harus menggunakan masker, karena kita tidak tahu siapa yang terpapar COVID-19. Jadi memakai masker hukumnya mubah,” katanya dalam keterangan resmi di akun Youtube Humas Sumut, Jumat (17/4/2020).

Untuk jarak shaf salat, katanya, fatwa MUI Sumut memutuskan tidak ada perubahan, sesuai dengan tata cara salat jamaah yang benar.

Selain itu, setiap salat MUI juga menganjurkan untuk membaca doa Qunut Nazillah baik saat salat jamaah dan salat sendiri.

“Untuk shaf tidak ada perubahan, tetapi jangan terlalu rapat. Dan yang perlu diingat, baca doa Qunut Nazillah setiap salat baik salat jamaah atau sendiri,” ujarnya.

MUI Sumut juga tidak mengharamkan penggunaan hand sanitizer dengan syarat alkohol yang digunakan untuk pembersih tangan tersebut berasal dari alkohol kimiawi, bukan khamar.

“Alkoholnya harus berasal dari kimiawi, bukan khamar,” cetusnya.

MUI Sumut juga mengeluarkan fatwa terkait kepengurusan BKM. Di mana BKM dianjurkan membersihkan masjidnya sesuai dengan protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah.

Sedangkan untuk penggunaan dana, BKM juga diperbolehkan menggunakannya untuk pembelian sabun, disinfektan, hand sanitizer dan peralatan untuk pembersihan masjid sesuai protokol serta membayar uang transportasi imam atau ustadz.

“BKM boleh menggunakan dananya untuk keperluan pembelian barang-barang pembersih sesuai protokol kesehatan pemerintah seperti sabun, hand sanitizer dan lainnya. Juga diperbolehkan memberikan uang transport kepada imam atau ustadz,” jelasnya.

Terkait puasa, MUI Sumut juga memutuskan tidak ada perubahan. Hanya saja ada pengecualian untuk medis dan para medis yang bekerja menangani COVID-19.

“Bagi medis dan paramedis tetap wajib berniat puasa, tetapi bila dalam prosesnya seperti di siang hari mendapat kesulitan, dia boleh berbuka, tetapi dia harus tetap menggantinya setelah Ramadan,” cetusnya.

Terakhir adalah masalah zakat. Fatwa MUI Sumut mengatakan zakat harus disegerakan pembayarannya. Zakat fitrah misalnya harus dibayar di awal Ramadan atau zakat harta yang nisabnya sudah sampai.