Tuesday, March 3, 2026
spot_img
Home Blog Page 165

PENGARUH PUASA TERHADAP KESEHATAN

0

Oleh: Prof Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua Umum MUI Suamtera Utara)

يا آيهاالذين آمنوآ كتب عليكم الصيام كما كتب علي الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagimu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang yang bertaqwa

Sabda Rasul:

صوموا تصحوا

Puasalah kamu agar kamu menjadi sehat. Puasa Ramadhan banyak sekali mengandung hikmah  bagi orang yang mengamalkannya, selain mendapat rahmat, berkah dan maghfirah dari Allah SWT, masih banyak hikmah lainnya yang diperoleh baik oleh pribadi maupun masyarakat atau umat secara keseluruhan. Di antara hikmah puasa adalah kesehatan jasmani, kesehatan akal, dan kesehatan masyarakat

Pengaruh puasa terhadap kesehatan badan jasmani

Para cendikiawan dari kalangan ahli kedokteran, mangatakan bahwa hikmah puasa yang paling utama adalah memberikan istirahat kepada anggota badan secara umum dan anggota perut secara khusus. Dengan istirahat itu akan membersihkan anggota badan kita dari  berbagai sisa makanan, obat, racun, dan lainnya, dari darah, urat, perut dan sebagainya, sehingga badan kita menjadi bersih dan segar, dan jika ada penyakit juga menjadi berkurang sakitnya ataupun menjadi sembuh.

Tubuh manusia tidak obahnya seperti alat mesin yang membutuhkan waktu istirahat untuk menservis alat-alatnya atau mendinginkannya serta membersihkannya dari berbagai gangguan atau hambatan/kerusakan. Istirahat ini semacam servis atau turun mesin/overhoul setelah itu mesin menjadi lancar dan mempunyai daya tahan luar biasa kembali seperti semula. Kita maklum bahwa manusia telah terbiasa menikmati berbagai kelezatan berupa makanan atau minuman tanpa memikirkan akibat-akibat yang dibawa oleh makanan dan minuman itu, seperti penyakit-penyakit, gula, darah tinggi, jantung, asam urat, encok, pening kepala, pitam, prostat, dan sebagainya.

Tidak diragukan bahwa di bulan puasa apabila orang yang berpuasa itu mengikuti petunjuk tentang kesehatan mencegah diri dari berlebih-lebihan memakan berbagai makanan dan minuman ketika berbuka dan bersahur, maka dengan kuat dugaan bahwa ketika ia menyelesaikan puasanya ia menjadi lebih sehat dari sebelumnya dan menjadi bugar dan ceria. Setelah puasa, otak menjadi lebih cerdas dan lebih kuat, dan badan menjadi ringan segar, mempunyai daya tahan yang ampuh menghadapi penyakit yang akan menyerang. Dokter ahli penyakit gula, darah, kulit, jantung, urat, dan lainnya yang disebabkan oleh keasaman darah, menasehatkan untuk puasa minimal sehari setiap bulan bahkan ada yang mewajibkan demi menjaga kesehatan – puasa Senin Kamis adalah sangat bermanfaat bagi kesehatan. Puasa diwajibkan pada setiap tahun yang berbeda musim, ada musim panas, dingin, semi, gugur, untuk memberikan latihan kesehatan kepada fisik/jasmani manusia agar mampu/ tahan menghadapi lapar dan haus serta dapat menahan nafsu syahwat dalam situasi bagaimanapun dari cuaca yang berbeda itu. Sungguh benar sekali sabda Rasul SAW;

صومو تصحوا

“Puasalah kamu agar kamu menjadi sehat”

Dan sabda Rasul SAW;

البطنة رأس كل داء والحمية رأس كل دواء

“Perut tempat gudang segala penyakit dan pemeliharaan (perut dengan berpuasa) adalah melebihi semua pengobatan”

Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Akal Jiwa

Dimaklumi bahwa kesehatan mental/akal erat kaitannya dengan kesehatan badan, seperi kata hikmah ;

العقل السليم في الجسم السليم

“Akal yang sehat ada pada badan yang sehat”

Di antara hikmah puasa adalah melatih diri bersabar mampu mengendalikan diri terutama hawa nafsu, orang bersabar dapat menghadapi berbagai tantangan dan dapat pula mencapai cita-cita.  Setiap perjuangan harus bersabar, menuntut ilmu agar berhasil harus bersabar, meniliti berbagai permasalahan harus sabar, beribadah harus sabar, pemurah harus sabar, bekerja harus sabar, memimpin harus sabar dan sebagainya. Oleh karena itu sabar adalah kunci keberhasilan. Puasa sangat mampu mendidik orang menjadi sabar dan dapat mengendalikan diri. Saidina Ali RA, berkata;

الصبر من الايمان بمنزلة الرأس من الجسد

‘Sabar bagian dari Iman, menempati kepala dari badan’

Kaitan puasa dengan sabar dan iman sangat erat sekali. Di dalam hadis Rasul  SAW yang diriwayatkan Tarmizi, Baihaqy dari Abu Naim dari Al Chatib dengan sanad yang baik; Rasul bersabda;

الصوم نصف الصبر والصبر نصف الايمان

“Puasa adalah setengah dari sabar, dan sabar adalah setengah dari iman”

Selain melatih sabar, puasa juga membuat ketenangan jiwa, menekan emosi dan menahan marah, akal tidak goyah menahan diri tidak makan dan minum sampai sore hari, walaupun ia biasanya makan tiga kali sehari bahkan kadang-kadang ia puasa tanpa sahur, ia tidak gelisah-ketahanan seperti ini membuat seseorang dengan tenang tidak stress menghadapi persoalan besar dan berat ditengah-tengah masyarakat. Dengan demikian hidupnya terasa bahagia dengan puasa. Firman Allah di surat Fushilat ayat 35

ومايلقا ها ألاالذين صبرواومايلقهاإلاذوحظ عظيم

“Sifat sifat yang baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”

Dengan puasa juga menjadikan dirinya senantiasa merasa di bawah pengawasan Allah    “مراقبة الله” Karena dia beribadah sepanjang hari, dengan demikian melahirkan keikhlasan dalam segala amal perbuatannya dan tetap menjaga amanah Allah, walaupun tidak ada orang yang melihat atau mengetahui seluruh perintah Allah dijaganya dan dikerjakannya, dan seluruh larangan Allah dijauhinya dan ditinggalkannya. Seperti korupsi, sogok, menipu, dusta dan sebagainya dihindarinya, karena dia malu dilihat Allah SWT, dia sedang puasa tapi berbuat maksiat juga.

Sabda Rasul SAW yang dikeluarkan al Khairaithy dengan sanad yang hasan;

أن الصوم امانة فاليحفظ احدكم أمانته

“Sesungguhnya puasa itu amanah, maka hendaklah seseorang menjaga amanahnya”

Puasa melatih jiwa berjihad melawan 4 (empat) musuh  yang paling besar dan berat yaitu, hawa nafsu, dunia, iblis, dan diri sendiri. Maka Nabi menyatakan melawan hawa nafsu adalah jihadul akbar. Memenangkan diri melawan musuh yang empat ini adalah keberhasilan yang luar biasa dan hasil yang gemilang membawa seseorang menjadi orang yang baik ditengah-tengah  masyarakatnya, ia tidak terpengaruh dengan godaan syaitan, dan tidak terpengaruh dengan godaan dunia dan godaan dirinya dan sebagainya.

Dengan demikian jadilah ia orang yang mampu menjadi teladan dalam kebaikan ditengah umat sebagai seorang muslim dan mukmin yang dapat menjaga/ mengendalikan diri, keluarga dan lingkungan dengan baik.

Rasul bersabda: yang dikeluarkan; Bukhari Tirmizi dan Nasa’i

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمؤمن من أمنه الناس علي دمائهم واموالهم والمهاجر من حجر ما نهي الله عنه

“Orang muslim adalah orang yang dapat menyelamatkan muslim lainnya dari gangguan lidah dan tangannya, dan orang mukmin adalah orang yang mengamankan darah dan harta mereka, dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari yang dilarang Allah padanya”

Dihadis lain Nabi bersabda:

ليس الشديد الذي يصرع الرجال, إنها الشديد من يملك نفسه عند الغضب

(اخرجه البخاري ومسلم)

“Tidaklah sulit melawan orang kuat, tetapi paling sulit adalah mengendalikan diri ketika marah”

Dengan demikian kemampuan puasa mengendalikan diri, menenangkan emosi, menahan marah, mengendalikan hawa nafsu sangatlah besar. Dengan demikian hikmah puasa pada kesehatan jiwa/ mental adalah besar sekali, beruntunglah orang yang berpuasa.

Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Masyarakat

Setiap masyarakat mempunyai anggota yang terdiri dari berbagai pribadi, seperti istana yang mempunyai komponen bangunan yang bermacam-macam. Untuk keselamatan dan keutuhan bangunan istana memerlukan kepada kekuatan dan kebaikan komponennya. Kesehatan semua sangat tergantung kepada keselamatan bagian-bagiannya. Sebagaimana dimaklumi pengaruh puasa demikian besarnya kepada fisik jasmani dan mental rohani, maka hikmah puasa terhadap kesehatan masyarakat juga sangat besar. Puasa diwajibkan Allah bagi seluruh manusia muslim baik yang kaya maupun yang miskin pada waktu bersamaan. Ketika puasa manusia merasakan secara bersama lapar dan haus, tidak ada perbedaan antara yang punya harta milyaran dengan yang punya harta picisan. Semua  merasa lapar dan haus di siang hari. Perasaan sependeritaan ini membawa kepada rasa persatuan dan persaudaraan yang kuat, membawa kepada kasih sayang antara sesama, sehingga terhindar dari perpecahan, mereka senantiasa merasa berdekatan tidak berjauhan, merasa hidup dalam kebersamaan, saling memperhatikan, dan saling bertolongan saling mencintai, tidak saling membenci dan menjauhi. Maka dengan puasa terwujudlah kehidupan yang harmonis dalam masyarakat, dan terjalinlah ukhuwah yang kuat, lebih-lebih lagi setelah puasa dilanjutkan dengan membayar zakat fitrah, yang kaya dan yang mampu mengeluarkan zakatnya dan memberikannya kepada yang miskin yang tidak mampu. Dengan demikian orang kaya tidak memandang orang miskin dengan pandangan rendah dan hina, dan orang miskin tidak memandang orang kaya dengan pandangan hasad dan dengki. Semua saling memandang dengan kemulyaan dan keharmonisan memandang dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Pendapat Ahli Kesehatan Tentang Puasa

Dr. Mahmud Zhawahiri, Guru Besar dan Ahli Penyakit Kulit Universitas Cairo Mesir

إن علاقة التعذية بالإمراض الجلدية متينة:

فالإمتناع عن الغذاء والشراب مدة ما يقلل من الماء في الجسم والدام, وهذا يدعو إلي قلة في الجلد. وحينئذ تزداد مقاومة الجلد للأمراض الجلدية المؤاذية, وقلة الماء من الجلد أيضا  من تقل أيضا من حدق الامراض الجلدية الإلتهابية والحادة المنتشرة بمساحات كبير في الجسم ولذا أنشئت فى العالم مصحات عديدة يقوم العلاج فيها علي الصوم

Artinya: Hubungan makanan denagn penyakit kulit sangat erat sekali. Maka menahan tidak makan dan minum suatu waktu mengurangi air dalam tubuh dan darah. Ini membawa kepada kurangnya air pada kulit untuk melawan berbagai penyakit kulit yang menyiksa. Sedikitnya air di dalam kulit juga meringankan denyut penyakit kulit di bagian badan. Karena itu di bangun berbagai klinik kesehatan di berbagai belahan dunia untuk perawatan kesehatan dengan puasa sebagai terapi utamanya.

DR. Max Padon. Ahli Kesehatan Amerika., mengatakan;

أن كل إنسان يحتاج الي الصيام….

Setiap orang perlu puasa walaupun tidak sakit untuk menjaga kesehatan.

Kebanyakan penyakit berpengaruh dengan puasa seperti penyakit dalam, penyakit darah tinggi, penyakit asam urat, rematik, dan lainnya. Maka puasa sanagt menolong mengatasi penyakit ini.

Demikian, semoga puasa kita sebagai ibadah yang ikhlas kepada Allah SWT, juga menjadi penangkal terhadap penyakit fisik jasmani dan mental rohani kita, demikian pula menjadi menyehatkan terhadap masyarakat, dan terwujud keharmonisan dan ketentraman dalam masyarakat.

Medan, Ramadhan 1440 H

Tausiyah Mahasiswa Kader Ulama di Ramadan Berbagi (Kedai Wakaf)

0

muisumut.or.id, Medan Sudah menjadi program mahasiswa Kader Ulama MUI Sumatera Utara untuk mengisi program Ramadan Berbagi 1440 H di MUI, Parade tausiyah setiap menjelang berbuka puasa menjadi salah satu program andalan untuk mencetak pengkaderan Ulama. Tusiyah yang berdurasi sekitar 10 hingga 15 menit memiliki beberapa tujuan; pertama; untuk memupuk keberanian dan kepercayaan diri berbicara di hadapan publik, kedua; memberikan kesempatan kepada generasi Ulama PTKU untuk bisa berdakwah melalui media sosial, yaitu dengan setiap Tausiyah akan diupload di website muisumut.com dan ke Yutube.

Pada kesempatan kali ini yang menjadi pentausiyah adalah Khairul Ansori yang akrab dipanggil Ansori, seorang mahasiswa Pendidikian Tinggi Kader Ulama Sumatera Utara. Lahir disebuah desa yang asri bernama Desa Kolam, 09 Oktober 1999.  Beliau adalah anak keenam dari delapan bersaudara, buah cinta dari pasangan Bapak Khairil Anwar dan Ibu Fatimah. Ansori terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang tuan kadi, sedangkan Ibu adalah ibu rumah tangga yang tugasnya mengurus rumah dan mendidik anak-anak. Sejak kecil kedua orangtua selalu menasehatinya  agar rajin beribadah, bersikap jujur dan berbuat baik terhadap sesama.

Di usia 6 tahun, ia mulai bersekolah di SDN 101773, Desa Kolam, kemudian setelah lulus melanjutkan pedidikan di Madrasah Tsanawiyah Al-jam’iyatul Wasliyah Tembung ditahun 2011. Selepas lulus MTs ditahun 2014 melanjutkan pendidikan ke salah satu Madrasah favorit di Kota Medan, yaitu Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan dengan memilih jurusan Ilmu Agama.

Ketika menginjak tahun ketiga dibangku MAN, Anshori yang kala itu sudah memasuki usia remaja mengalami kebingungan dalam menentukan perguruan tinggi dan jurusan yang akan dipilih. Ketika itu, ada seorang ustadz yang mengajarkan mata pelajaran Qiraatul Kutub Ustadz Irhas Pulus, beliau adalah orang ‘alim yang tawadu’ dan banyak memberikan memotivasi. Sampai suatu hari ustadz Irhas memberi saran untuk melanjutkan pendidikan ke PTKU MUI Sumut. Karena pendaftaran dibuka tahun 2018 sedangkan ia  lulus pada tahun 2017, maka ia memanfaatkan waktu setahun untuk belajar membaca kitab. Mengisi waktu luang dengan mengajar MDA dan menghadiri “taman-taman surga“. Ketika bulan Syawal 2018, tekad semakin bulat untuk menjadi mahasiswa PTKU MUI Sumut, terlebih setelah mencari informasi tentang PTKU MUI Sumut dengan mendatangi gedung MUI SU di jalan MUI. Alhamdulillah setelah melewati sesi pendaftaran, ujian tertulis dan non tertulis, serta kekhawatiran menunggu hasil tes, akhirnya ia  lulus dengan urutan nama nomor dua.

Selama bulan Ramadhan ini, MUI Sumut banyak mengadakan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang lebih memperluas cara pandang mahasiswa kader ulama, bagaimana bentuk pemberian sedekah sederhana yang dilakukan di PTKU MUI, pengiriman ulama-ulama ke daerah minoritas dengan membawa 40 dus Al-Quran yang akan dibagikan membuka pikiran bahwa berdakwah bukan hanya dimesjid, lebih dari itu seorang yang memiliki ilmu harus mendatangi mereka yang awam, menyampaikan ilmunya dengan cara yang ma’ruf. Fastaqul Khairat, ya! Selogan yang sering digaungkan dan memiliki makna dalam, banyak orang yang bingung bagaimana cara merealisasikannya, namun disini mahasiswa belajar bahwa berbuat baik bisa dimulai dengan hal kecil, seperti mengajarkan tahsin kepada anak-anak disekitar gedung PTKU MUI dan mengajarkan mereka cara menggambar dan membuat kaligrafi. Melihat tarikan simetris dari bibir mereka membuat kita sadar bahwa kebaikan tidak diukur dengan seberapa mahal pemberian, tetapi seberapa ikhlas ia dilakukan.

Berikut petikan ceramah Anshari pada saat menjelang berbuka puasa Hari ke 5 di Kedai Wakaf:

“Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT. Al-Imam Asy-Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al-Kaff didalam kitabnya At-Taqrirad As-sadidah fii Masailil Mufidah didalam pembahasan shaum halaman 433 beliau menuliskan pengertian puasa secara lughatan ialah الإمساك yaitu menahan, kemudian secara syar’an atau secara istilah pengertian puasa adalah

الأمساك عن جميع المفطرات من طلوع الفجر إلى غروب الشمس بنية مخصوصة

Puasa secara syariat adalah menahan segala sesuatu dari yang membatalkan puasa dari mulai terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari dengan niat yang khusus. Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT. puasa adalah salah satu kewajiban umat Nabi Muhammad SAW. sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah:183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Wahai orang-orang yang beriman, berpuasalah kamu sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa kepada orang-orang terdahulu sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang  yang bertaqwa.”

Diawal ayat tersebut Allah memakai kata يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا Allah memanggil orang-orang yang beriman, mengapa Allah memanggil orang-orang yang beriman? Allah tidak memanggil manusia dengan kalimat الناس, Allah juga tidak memanggil dengan kata Islam yaitu المسليم tetapi Allah memanggil dengan kata آمنو, mengapa Allah menggunakan kata tersebut., karena tidak sembarang manusia yang sanggup melaksanakan ibadah puasa ini, karena tidak sembarang orang Islam yang sanggup melaksanakan ibadah puasa ini. Bagaimana tidak, coba kita lihat disekeliling kita KTP nya tertulis tercantum agama Islam, ia mengaku beragama Islam namun disiang hari bulan Ramadhan ia tidak berpuasa, ia nampakkan dirinya bahwa ia tidak berpuasa, ini menunjukkan tidak sembarang orang Islam yang sanggup melaksanakan ibadah puasa ini, hanya orang-orang yang berimanlah yang sanggup melaksanakan ibadah puasa.

Hadirin yang dirahmatil oleh Allah SWT. berbicara tentang ibadah, seluruh ibadah dalam syariat Islam tentu ada yang namanya rukun, rukun didalam puasa tidaklah banyak. Diddalam kitab At-Taqrirad As-Sadidah dituliskan rukun puasa hanya ada dua, yang petama ialah niat, Rasulullah SAW. bersabda:

 إِنَّمَا الاأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Segala sesuatu itu harus diawali dengan niat.”  (H. R. Bukhari Muslim)

Kemudian berbicara tentang niat puasa, niat puasa ini berbeda dengan niat ibadah yang lainnya, biasanya niat dalam beribadah selalu beriringan dengan awal mulai ibadah tersebut, semisal shalat. Awal perbuatan shalat ialah takbiratul ihram, maka niat shalat berbarengan dengan pergerakan takbiratul ihram. Begitu juga dengan wudhu, awal perbuatan wudhu adalah  membasuh wajah, ketika kita hendak berniat maka barengkanlah niat ketika kita membasuh wajah, namun niat berpuasa ini tidak wajib berbarengan dengan awal kita berpuasa. Awal waktu puasa adalah terbitnya fajar shadiq, namun sangat sulit kita baregkan niat dengan terbitnya fajar shadiq, maka dari itu, Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَه

“Tidak dikatakan orang itu berpuasa bila ia tidak memalamkan niat.”

Maka wajib berniat pada malam hari atau sebelum terbitnya fajar shadiq. Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT, rukun yang kedua adalah meninggalkan apa-apa yang membatalkan puasa, dua hal itulah yang menjadi rukun puasa. Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT, segala sesuatu akan menjadi sesuatu yang mulia bilamana ia bersinggungan dengan Al-Quran. Nabi Muhammad menjadi orang yang paing mulia didunia maupun diakhirat karena pada diri beliau diembankan oleh Allah risalah Al-Quran, malaikat Jibril menjadi penghulunya para malaikat karna kepada beliaulah Allah kirimkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad. Dua kota yaitu Kota Mekkah dan Madinah menjadi dua kota yang mulia karena Allah turunkan Al-Qura didua kota tersebut, bulan ramadhan ini juga menjadi bulan yang mulia, menjadi penghulu dari dua belas bulan hijriyah lainnya, karna Allah turunkan Al-Quran pada bulan Ramadhan ini. Maka oleh karena itu, jangan sampai kita nodai kesucia, kemulian bulan Ramadhan ini, Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang memuliakan, menegakkan bulan Ramadhan dengan penuh iman, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.”

Maka marilah sama-sama kita menghidupkan amalan-amalan dibulan suci Ramadhan ini, Rasulullah SAW. bersabda:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة و غلقت أبواب النار

“Apabila bulan Ramadhan telah datang, maka pintu-pintu syurga Allah bukakan, pintu-pintu neraka Allah tutup, dan para setan Allah belenggu.”

Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqalani  menjelaskan maksud dari فتحت أبواب الجنة dibukakan pintu-pintu syurga, artinya Allah mudah untuk menerima amal-amal kebaikan pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, jangan sampai  kita lewatkan watu kita di bulan Ramadhan ini tanpa amal kebaikan.

Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

MENCINTAI ALLAH, RASULULLAH, DAN JIHAD DI JALAN ALLAH[1]

0

muisumut.or,id, Medan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله اكبر 9* الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لاإله الا الله والله اكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذى جعل ايام الاعياد ضيافة لعباده الصالحين. وجعل فى قلوب المسلمين بهجة وسرورا. اشهد ان لاإله لا الله الذى جعل الجنة صيافة كبيرا. واشهد ان سيدنا ومولانا محمدا عبده ورسوله الداعى الى تلك الضيافة جميع العالمين. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه وكل عبد الى طاعة الله مجاحدين. أما بعد فيآعبادالله اتقوا الله قد أفلح من تزكى وذكراسم ربه فصلى

Hari ini kita dan kaum muslim sedunia kembali merayakan Idul Fitri 1440 dengan perasaan syukur kehadirat Allah Swt. Kita merayakan suatu kemenangan dari perjuangan besar selama sebulan penuh dibulan yang agung penuh berkah.  Kita sambut dan kita rayakan Idul Fitri ini dengan takbir, tahmid, dan taqdis sebagai pengakuan kita terhadap kebesaran dan kekuasan Allah Swt. Tuhan yang Maha Tunggal dan tiada sekutu bagi-Nya, kita sambut dan kita rayakan hari yang mulia ini dengan ruku’ dan sujud/shalat Idul Fitri, sebagai pernyataan syukur kita terhadap rahmat dan nikmatNya, dengan penuh kekhusukan dan keihklasan

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd

Marilah dari lubuk hati kita yang paling dalam senantiasa bersyukur, pada pagi ini kita semua masih dikaruniai umur panjang, dapat menyaksikan hari Raya Idul Fitri, yang merupakan momentum dimana umat Islam telah kembali pada kesucian dari kotoran-kotoran dosa yang telah diampuni oleh Allah Swt, sekan-akan mereka baru dilahirkan ibunya. Tanpa terasa sebulan sudah kita melaksanakan ibadah Ramadhan, disiang hari kita berpuasa, dan dimalam hari melaksanakan qiyamul lail serta tadarus alQur’an, dan di akhir Ramadan kita diwajibkan untuk suatu perbuatan yang punya makna sosial yang mendasar, yaitu mengeluarkan zakat fitrah terhitung pada awal malam  Syawal hingga selesai shalat Id ini, sebagai pembersih bagi kita yang berpuasa dan sabagai makanan bagi orang-orang miskin.

Rasulullah Saw bersabda:

عن إبن عباس رضى الله عنه قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكات الفطر طهرة للصائم وطعمة للمساكين فمن ادا ها قبل الصلاة فهى زكاة مقبولة ومن اداها بعد الصلاة فهى صدقة من الصدقات.

Artinya: Dari Ibnu Abbas, ia berkata: telah diwajibkan oleh Rasulullah Saw. Zakat fitrah sebagai pembersih bagi yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang membayar zakat sebelum shalat Id, maka ia termasuk zakat yang  afdhal, dan barang siapa yang mengeluarkannya setelah shalat Id maka zakat itu sebagai zakat biasa yang tidak afdal. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kita baru saja selesai melaksanakan ibadah puasa yang mengandung efek dan hikmah paripurna, yang menempa jiwa kita menjadi teguh dan kuat membentuk watak, disiplin dan siaga, laksana seorang prajurit yang bertempur dimedan juang. Kita telah kembali dari front sebagai pemenang atau pahlawan. Karena kesyukuran dan kegembiraan itulah kita mengucapkan kata-kata:

تقبل الله منا ومنكم من العائدين والفائزين

Di dalam rangkaian kata-kata itu terkandung do’a dan pengharapan, mudah-mudahan amal ibadah kita diterima Allah dan kita termasuk dalam barisan orang-orang yang kembali dari medan juang sebagai kesatria atau lulus dari latihan dengan nilai yang terbaik.

Idul Fitri mempunyai relevansi yang tinggi dengan ibadah puasa. Tidak akan ada Idul Fitri apabila tidak ada puasa, ibadah puasa di antaranya mengandung nilai dimensi kekhalifahan bagi manusia.

Manusia sesuai fitrahnya sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini mempunyai tugas suci yaitu memakmurkan bumi dengan segala isinya, menegakkan kebenaran, keadilan dan melaksanakan kebajikan. Allah berfirman dalam surah al Hud ayat 61

هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها فاستغفروه ثم توبوا اليه إن ربى قريب مجيب.

Artinya: …. Dia telah menciptakan manusia dari muka bumi/tanah, dan menugaskan kamu menjadi pemakmur bumi, mohon ampunlah kepada Allah sesungguhnya Tuhanmu amat dekat rahmatNya lagi Maha memperkenankan doa hambaNya.

Sebagai kahlifah Allah, yaitu pemegang amanat Allah, manusia berkewajiban menumbuh kembangkan potensi bumi, baik yang berupa potensi  materi, nabati, maupun hewani.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya manusia mengadakan penelitian, penemuan dan pengolahan atas segala potensi materi nabati dan hewani untuk selanjutnya manusia masih berkewajiban menyelenggarakan distribusi dan amal kebajikan supaya terwujud pemerataan dan kesejahteraan kehidupan bangsa.

Dengan mewujudkan dan meningkatkan pemerataaan kesejahteraan kehidupan itu, diperlukan batin manusia untuk mencegah dan menahan kecendrungan yang serba melampaui batas. Disnilah hikmah shaum atau puasa yang dilaksanakan oleh orang-orang yang beriman untuk mampu mengendalikan diri dan meredam kecendrungan kepada perbuatan yang melampai batas sehingga menghambat, mengganggu bahkan mengancam pemerataan, kesejahteraan kehidupan bangsa. Dengan puasa mudah-mudahan penyelewangan-penyelewengan dapat kita hindari dan kita berantas. Hal ini mutlak untuk dilaksanakan karena penyelewengan atau yang kita kenal dengan KKN tidak hanya milik pejabat, tapi sudah menjadi penyakit kanker yang amat berbahaya dalam masyarakat.

Justru dengan ibadah puasa itu orang-orang yang beriman lebih memiliki kepedulian sosial dan rasa kebersamaan dan tumbuh berkembangnya rasa senasib sepenanggungan, seaib semalu, sedingin setawar dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat.

Pihak yang kuat bisa merasakan denyut jantung dan detik nadi pihak yang lemah, sehingga pihak yang lemah merasa mendapat kepedulian dari pihak yang kuat. Hidup tidak terasa sendiri, hidup terasa bahagia dengan saling tolong-menolong, seperti firman Allah

وتعاونو على البر والتقوى ولاتعونوا على الاثم والعدوان

Artinya: Bertolong-tolonglah kamu untuk kebaikan dan ketaqwaan dan jangan kamu bertolong-tolongan untuk dosa dan permusuhan.

Demikian hakikat kesejahteraan ummat merupakan jalinan pihak yang lemah, dengan pihak yang kuat. Orang-orang yang beriman sebagai pihak yang kuat, tidak merasa dirugikan oleh pihak yang lemah, karena dirinya dengan segala yang dimilikinya menjadi milik Allah.

Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 111:

ان الله اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة.

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang orang yang beriman diri dan harta mereka sesungguhnya bagi mereka adalah Surga”

Harta yang mereka infaqkan menjadi lebih berkah, berkembang dan bermanfaat tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk masyarakatnya. Dia merasa Allah telah meridhoinya dan seluruh jiwa raganya telah diserahkannya kepada Allah, termasuk kekayaan dan harta bendanya juga telah menjadi kendali Allah, apa yang diminta Allah untuk dikeluarkan dia dengan senang hati mengeluarkan dan mendorong orang yang mampu untuk mengeluarkan zakat, infaq, sedekah, wakaf baik yang wakaf benda tidak bergerak maupun wakaf produktif melalui uang perlu digerakkan dimasyarakat, terutama oleh pemerintah karena masyarakat akan mentauladani pimpinannya atau pemerintah.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walilla Ilhamd

Apabila kita membuka lembaran lembaran Al Qur’an terdapat 86 kali kata maal (harta) tercantum dalam berbagai bentuk. Penggunaan sekian banyak kata itu menunjukkan bahwa harta adalah suatu yang penting. Pada umumnya kata maal dinisbahkan kepada kelompok, seperti Amwalahum (harta mereka), Amwalukum (harta kamu), Amwalana (harta kami). Hal ini menunjukkan bahwa harta harus ditunjukkan untuk kepentingan kelompok dan diarahkan bagi kemaslahatan umum atau dengan kata lain harus mempunyai fungsi sosial.

Fungsi sosial tersebut semakin terasa pentingnya apabila disadari bahwa sesama mukmin adalah bersaudara. Persaudaraan ini menuntut solidaritas. Yang intinya adalah menyerahkan tanpa menanti imbalan dan memberi tanpa menunggu permintaan, karena demikian itulah hubungan persaudaraaan yang hakiki

Rasulullah Saw bersabda:

لا يؤمن احدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Arinya: Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai bagi dirinya. (HR Ahmad, Bukhari dan Tirmizi)

Allhu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillailhamd

وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah di anugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) dunia” (Al Qashas ayat 77)

Untuk mencapai semua keadaan itu, harus dengan kerja keras dan bekerja dengan cerdas sebagaimana sabda Rasul :

إعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا. واعمل لأخرتك كأنك تموت غدا.

Artinya: Bekerjalah untuk kepentingan (kesejahteraan) duniamu, seolah-oleh engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu, seolah-olah engkau akan mati esok pagi”

Begitu pentingnya nilai dan makna bekerja bagi kehidupan muslim, sampai-sampai Nabi Muhammad SAW berdoa agar dilindungi dari sifat malas: Allahuma Inni A’uzubika minal kasal, Ya Allah aku berlindung kepadamu dari sifat malas. Malas akan mengakibatkan kebodohan, kebodohan akan menciptakan kemiskinan, dan kemiskinan akan mengakibatkan kelemahan. Sedangkan umat yang dicintai Allah adalah umat yang kuat. Sabda nabi Muhammad Saw:

المؤمن القوى خير واحب الى الله من المؤمن الضعيف

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah, ketimbang mukmin yang lemah.

Allau Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillailhamd

Untuk menjadi sorang mukmin yang kuat maka dihari yang fitrah ini marilah kita kembali menanamkan kepada diri kita dan generasi penerus kita untuk lebih mencintai Allah, mencintai Rasulullah, dan mencintai jihad di jalan Allah. Mari kita jadikan setiap hembusan nafas kita adalah jihad. Mari kita jadikan setiap langkah kita adalah jihad. Sebagaimana firman Allah dalam surat at taubah:24

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. (QS. At-Taubah: 24).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil yang kuat tentang wajibnya mencintai Allah dan rasul-Nya, serta mendahulukan keduanya di atas kecintaan terhadap suatu apapun, serta dalil adanya ancaman bagi siapa yang lebih mendahulukan perkara lain seperti yang tersebut dalam ayat, dari pada cintanya kepada Allah dan rasul-Nya serta jihad fi sabilillah.

Allah Ta’ala dalam ayat ini menempatkan jihad pada urutan ketiga, karena jihad merupakan sebuah amalan yang sangat urgen dalam Islam. Agama ini bisa terjaga dan kehormatan kaum muslimin bisa terpelihara adalah karena adanya jihad. Oleh karena itu mendahulukan cinta terhadap jihad setelah Allah dan rasul-Nya menjadi tuntutan bagi setiap muslim.

Para salaf adalah generasi yang paling banyak mencontohkan prinsip tersebut, bagaimana mereka lebih mendahulukan cinta mereka kepada Allah, rasul dan jihad ketimbang yang lainnya. Salah satunya adalah kisah sedekah Abu Bakar sebelum perang Tabuk,  beliau  infakkan seluruh harta benda serta tak meninggalkan apapun untuk keluarganya kecuali Allah dan rasul-Nya. Seorang Handhalah juga pernah melakukan pengorbanan yang tak kalah haru, ia rela melepaskan pelukan istrinya di malam pertama dan lebih memilih mengangkat senjata untuk berperang. Semua ini tidak akan terjadi kecuali karena teramat besar cintanya kepada Allah, Rasulullah, dan Jihad di jalan Allah.

Krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan sekarang ini, penduduk miskin semakin hari semakin bertambah, angka pengangguran semakin  meningkat. Simiskin yang hidupnya menggantungkan diri dari kasih sayang orang lain, siyatim piatu yang sedu sedan di gubuk-gubuk kumuh memikirkan derita yang berkepanjangan. Mungkin dihari yang bahagia ini ada diantara mereka yang termenung berurai air mata melihat anak seusianya bergembira melonjak-lonjak dengan pakaian baru, sepatu baru pemberian ibunya, namun si yatim dan si miskin menangis dengan pakaian kumal sambil tafakkur dan berfikir “kalaulah ayah bundaku masih hidup sekarang barang kali tidak demikian nasib ini”. Sambil mencoba menghibur diri dan berharap barangkali ada orang yang berpunya dan menolong aku menjadi anak asuhnya, yang akan menyekolahkanku dan melanjutkan pendidikan, melindungi dari kelaparan dan memberikan aku pakaian yang menyenangkan.

Allah berfirman dalam surrah Al Ma’un ayat 1-3

أرأيت الذى يكذب بالدين , فذالك الذى يدع اليتيم, ولا يحض على طعام المسكين.

Artinya: “tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Dalam mengatasi kemiskinan tidak bisa hanya setengah-setengah saja, Kita tidak hanya butuh kerja keras tapi juga memerlukan bekerja dengan cerdas, Umat Islam harus berani menggagas ide ide cemerlang untuk kesejahteraan umat, dan untuk dapat menghasilkan ide ide tersebut kita harus meningkatkan sumber daya manusia kita. peningkatan sumber daya manusia menjadi suatu yang sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan. Karena kualitas manusia yang rendah menciptakan  kebodohan, dan kebodohan mengakibatkan kemiskinan.  

Allahu Akbar Allahu Akbar walillhilhamd

Salah satu gagasan cerdas adalah adalah jihad ekonomi, bukankah Rasulullah saw selalu membangun pasar setelah membangun masjid. Bukankah Rasul kita seorang pedagang tangguh, bukankah beliau berpesan dari 10 pintu rizki 9 dari padanya adalah berdagang.

Oleh sebab itu berbelanja di warung sebelah janganlah hanya menjadi wacana semata, berbelanja di tempat tempat muslim janganlah hanya menjadi ucapan tanpa tindakan, Islam memiliki konsep harta yang sangat jelas, ada infak, sedekah, zakat, hibah, dan wakaf. Umat Islam harus pandai menempatkan konsep konsep ini. Untuk orang yang sangat membutuhkan saat itu juga kita harus memakai konsep sedekah, untuk kewajiban terhadap harta kita kita memakai konsep zakat, dan untuk pembrdayaan umat umat Islam harus memakai konsep wakaf.

Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah mewakafkan ketujuh kebun kurma di Madinah; diantaranya ialah kebun A’raf Shafiyah, Dalal, Barqah dan kebun lainnya.menurut pendapat sebagian ulama mengatakan bahwa yang pertama kali melaksanakan syariat Wakaf ialah Umar bin Khatab. Pendapat ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar ra. Ia berkata:Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: “Bahwa sahabat Umar ra, memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian Umar ra, menghadap Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk, umar berkata: “Hai Rasulullah SAW, saya mendapat sebidang tanah di Khaibar, saya belum mendapat harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah SAW bersabda: “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan.

Abu Thalhah mewakafkan “Bahaira” kebun kesayangannya Abu Bakar yang mewakafkan sebidang tanahnya di Makkah yang diperuntukkan kepada anak keturunannya yang datang ke Makkah. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya yang subur. Mu’ad bin Jabal mewakafkan rumahnya, yang populer dengan sebutan “Dar Al-Anshar”. Kemudian pelaksanaan wakaf disusul oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam dan Aisyah istri Rasulullah SAW.

Nabi juga mewakafkan perkebunan Mukhairik, yang telah menjadi milik beliau setelah terbunuhnya Mukhairik ketika perang Uhud. Beliau menyisihkan sebagian keuntungan dari perkebunan itu untuk member nafkah keluarganya selama satu tahun, sedangkan sisanya untuk membeli kuda perang, senjata dan untuk kepentingan kaum Muslimin.

Sahabat Usman bin Affan juga mewakafkan sumur yang airnya digunakan untuk member minum kaum Muslimin. Sebelumnya, pemilik sumur ini mempersulit dalam masalah harga, maka Rasulullah menganjurkan dan menjadikan pembelian sumur sunah bagi para sahabat. Beliau bersabda, “Barang siapa yang membeli sumur Raumah, Allah mengampuni dosa-dosanya” (HR. An-Nasa’i). dalam hadis ini beliau menjanjikan bahwa yang membelinya akan mendapatkan pahala yang sangat besar kelak di surge. Karena itu, Utsman membeli sumur itu dan diwakafkan bagi kepentingan kaum Muslimin.

Allahhu Akbar Allahu Akbar, walilhilhamd

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah

Kalau kita membaca sejarah bahwa wakaf pada masa sahabat lebih banyak diperuntukkan untuk hal yang produktif. Khatib tidak menyatakan  bahwa wakaf untuk masjid dan kuburan tidak baik. Tentu semua wakaf akan menjadi pahala jariah bagi pewakifnya. Namun saat ini perekonomian umat sedang membutuhkan orang orang yang mau mewakafkan hartanya untuk pemberdayaan ekonomi. Maka jalan satu satunya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat adalah dengan konsep wakaf produktif.

Dalam hal ini Majelis Ulama Indoneia Provinsi Sumut telah melakukan langkah kecil dengan mencontoh paradigma yang diterapakan oleh Rasulullah dan para sahabat. Dengan mendirikan usaha yang berbasis wakaf produktif melalui uang. Mimpi ke depan adalah setiap keuntungan dari wakaf produktif akan dikumpulkan dan dibelikan aset. Jika kita memliki 100 gerai bisinis yang berstatus wakaf maka kita akan bisa membeli SPBU yang bertsatus wakaf, yang pada akhirnya kita akan memiliki rumah sakit yang melayani umat Islam dengan gratis tanpa harus membayar apapun.

Oleh sebab itu, kepada umat Islam di manapun berada, marilah menyisihkan sebahagian rizki yang Allah berikan kepada kita untuk menjadi penggerak wakaf produktif melalui uang dengan mendirikan gerai gerai bisnis yang berbasis wakaf produktif. Hal ini tentu mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan, Hal ini hanya bisa kita capai dengan kebersamaan dan pertolongan Allah swt., bukankah Allah telah berfirman dalam surat Muhammad

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧) وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (٨) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (٩)

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian. Adapun orang-orang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 7-9)

بارك الله لى ولكم فى القرآن الحكيم ونفعنى واياكم بالآيات والذكر الحكيم, وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم. واوصيكم ونفس على طاعة الله ورسوله فى كل وقت لعلكم ترحمون. فاستغفرالله العظيم لى ولكم ولولدى ولوالديكم وللمسلمين وللمسلمات وللمؤمنين وللمؤمنات فاستغفروه انه هو الغفور الرحيم.

Khutbah II

الله اكبر 7   ولله الحمد

الحمد لله بين الحلال, والحرام فى كتابه الكريم , وارشد الخلق الى العمل الصالح والخير العظيم, وانهم علي عباده المخلصين بالتوفيق, وهداهم الى الصراط المستقيم, فاتبعوالدين وتمسكوا بسنة النبي الاميين. وأشهدان لاإله إلا الله, واشهد ان محمد رسول اللهز اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحبه الذين أقاموا شعائر الدين, إتقوا الله لعلكم ترحمون.

الله اكبر 3   ولله الحمد

معاشر المسلمين حفظكم الله

Dalam khutbah ke II ini marilah kita meningkatkan kualitas akhlaq masyarakat, di samping meningkatkan kualitas iman, ilmu dan amal dengan jalan menumbuh kembangkan silaturrahim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan kewajiban dalam syari’at Islam bermakna pula meningkatkan moral bangsa.

Mewujudkan silaturrahim dalam kehidupan bermayarakat marhamah dan bangsa marhamah, masyarakat dan bangsa yang diikat oleh tali menali rahmat, tali menali kasih sayang yang berpangkal dari isi lubuk jiwa yang paling dalam, yaitu berkarya pembangunan yang dijiwai oleh pengabdian dan rela berkorban karena Allah sematAkhirnya Ramadan telah meninggalkan kita semua, sebagai bukti kita bahwa kita adalah insan binaan Ramadhan adalah menjadi insan yang berkualitas paripurna. Laut boleh berombak dan bergelombang pasang, namun insan Ramadhan tak pernah tenggelam oleh kemajuan zaman. Angin boleh berhembus kencang, tapi insan Ramadhan tak akan pernah  bimbang dan ragu dalam menegakkan kebenaran, Bahkan sekalipun krisis tak kunjung surut, insan binaan Ramadhan tak pernah akan saggup melihat dan rela membiarkan saudara-saudara kita menahan perut yang kian susut.

إن الله وملئكبته يصلون على النبى يايهاالذين أمنو صلوا عليه وسلموا تسليما, اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله سيدنا محمد كماصليت على ابراهيم فى العلمين إنك حميد مجيد, اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنا الاحياء منهم والاموات

Ya Allah, pada pagi yang bahagia ini, kami bersembah di hadiratMu memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kami, dosa kedua ibu bapak kami dan seluruh kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului kami. Kami menyadari bahwa selama ini tiada hari yang kami lewati tanpa luput dari kesalahan, baik dikarnakan  kekhilafan maupun kelemahan kami. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati kami memohon ampun dan maghfirah kepadaMu.

Ya Allah Tuhan yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun yang sangat cinta kepada hamba yang minta ampun, ampunilah dosa dan noda kami, keteledoran kedua orang tua kami, kekhilafan para pemimpin kami seluruh kaum muslimin dan muslimat. Terimalah ibadah kami. Tingkatkanlah iman dan taqwa kami agar kami dapat meningkatkan partisipasi kami dalam meningkatkan pemerataan kesejahteraan bangsa kami.

Ya Allah Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang, pada saat ini bangsa kami masih dihadapkan pada berbagai masalah rumit dan sangat mempengaruhi kehidupan kami. Tiada harapan yang paling agung dari kami, semoga atas rahmat dan kemuliaanMu, kiranya kami dapat melepaskan diri dari belitan masalah yang menyusahkan kami ini. Oleh karena itu ya Allah, berilah kami kekuatan sehingga mampu menghadapinya dengan ketabahan dan tanpa kehilangan keseimbangan. Beri pula kepada pemimpin kami, agar mereka senantiasa memiliki pemikiran yang  jernih dan strategis, sehingga mampu mengatasi masalah demi masalah tanpa menimbulkan dampak negatif bagi agama, bangsa, dan Negara kami.

Akhirnya ya Allah, berikanlah kami kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan berilah kami akhir hidup yang baik, husnul khatimah, sebagai gerbang menuju kehidupan akhirat yang baik, sehingga kami dapat memasuki syorga yang Engkau janjikan.

للهم اجعل بلدتنا هذا بلدا آمنا مطمئنا

ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار والحمد لله رب العالمين

الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر, ولله الحمد

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


[1] Disampaikan dalam khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1440 H di Masjid Safiatul Amaliyah

[2] Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sumatera Utara

PTKU MUI SUMUT MENGABDI di Daerah Muslim Minoritas

0

muisumut.or.id, Medan

Tgl 7 sd 12 Mei 2019

Ketika mendengar kata Muslim Minoritas, maka yang terbesit dalam benak kita adalah sedikitnya jumlah orang Islam di daerah tersebut. Umumnya jika jumlah muslimnya sedikit, maka kekuatan keislamannya lemah. Berbeda halnya dengan penduduk muslim yang hidup di perkotaan, jumlah Masjidnya banyak dan para pengajarnya pun bertebaran, sehingga sarana untuk memperoleh ilmu mudah didapat. Begitulah yang terjadi di Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, sebuah daerah muslim minoritas yang serba kekurangan terhadap fasilitas untuk menjalankan Agama Islam dengan sempurna.

Melihat latar belakang ini, maka Direktur PTKU-MUI SUMUT mengutus mahasiswa PTKU yang berjumlah dua belas orang untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat yang berada disana. Pengabdian itu dilakukan dienam Masjid yang ada di Kecamatan Pangaribuan selama enam hari mulai dari tanggal 7 sampai 12 Mei 2019. Kegiatan ini didanai oleh PTKU-MUI SUMUT, berupa biaya makan dan transportasi, sehingga mahasiswa hanya fokus memaksimalkan kegitannya di Masjid tempat pengabdiannya.

Mahasiswa diberangkatkan pada hari Selasa, 7 Mei 2019 pukul 11.00 menuju Kecamatan Pangaribuan dengan sebuah bus bersama dua orang pendamping yaitu ustadz Fuadi dan ustadz Dahri. Keberangkatan itu dilakukan setelah acara pelepasan oleh ketua MUI SU kepada mahasiswa PTKU yang dihadiri oleh beberapa petinggi MUI SU.

Sesampainya di Kecamatan Pangaribuan tepatnya di K.U.A. Desa Batunadua pukul 23.00, mahasiswa PTKU diberikan arahan oleh Bapak Hamzah selaku pengurus K.U.A untuk menginap di Kantor tersebut dan menasehati hal yang harus dilakukan dalam pengabdian serta pengenalan tentang kampung yang akan dikunjungi.

Acara penyerahan mahasiswa dari Bapak Hamzah kepada pengurus BKM

Mulai pada hari Rabu pagi, semua mahasiswa dijemput dan diantarkan oleh pengurus masjid masing-masing desa yang merupakan penanggung jawab tepat tinggal mahasiswa, dengan terlebih dahulu dilakukan acara penyerahan oleh Bapak Hamzah, mulai dari masjid yang jaraknya dekat seperti masjid Taqwa ditugaskan kepada Arjan saputra dan Agusman Fatemaluo, hingga tempat terakhir yang berjarak sekitar 22 kilometer diantar pukul 14.00 ke Mesjid Baiturrahman Silantom Jae, yaitu Saddan Yasir dan Fandi Fakhruddin

Keadaan jalan yang dilalui begitu sangat mengerikan, mulai dari tanjakan yang tinggi disertai jurang-jurang disamping jalan sampai melalui jalan yang tidak beraspal jika hujan turun maka jalanan akan becek dan licin sehingga dapat menyebabkan kecelakaan.

Pada malam pertama, acara yang dilakukan mahasiswa di Masjid tempat pengabdiannya adalah sesi perkenalan kepada warga desa tepatnya setelah shalat tarawih karena pada waktu shalat yang lain banyak warga yang sibuk bekerja. Mahasiswa memberitahukan tujuan dan kegiatannya, seperti ceramah setelah tarawih, mengajar anak-anak mengaji, tanya jawab dengan bapak-bapak dan ibu-ibu, dan kegiatan tambahan lainnya yang dianggap perlu.

Selain melaksanakan kegiatan diatas mahasiswa juga membersihkan toilet Mesjid untuk mengingatkan jamaah masjid akan pentingnya menjaga kebersihan, bertindak sebagai khatib Jumat serta mengunjungi warga sekitar untuk mencontohkan betapa pentingnya saling mengunjungi untuk mempererat tali silaturrahim.

Salah satu penyuluh agama yaitu ustadz Yunus Gultom yang dikunjungi Saddan Yasir dan Fandi Fakhruddin mengatakan bahwa pengabdian masyarakat semacam ini sangat dibutuhkan, karena muslim disini sangat jarang mendapatkan pengajian agama langsung maupun melalui media sosial dikarenakan jaringan internet yang tidak bagus. Selain itu kami juga mengharapkan kepada PTKU MUI SUMUT untuk mendatangkan kembali dai’-da’inya ketempat ini, selain mengajari Agama Islam diharapkan juga adanya pelatihan bilal mayit, pelatihan khatib dan imam, serta mengadakan sunnat massal gratis. Ditambah lagi keadaan ekonomi yang sulit membuat sebagian Muslim kadang memutuskan untuk murtad, oleh karena itu diharapkan kepada pihak-pihak yang dapat menanggulanginya agar membantu menyediakan sarana dan fasilitas serta pelatihan-pelatihan produksi seperti cara pengolahan singkong menjadi keripik, pengolahan kopi dan sebagainya.

Mahasiswa PTKU yang melakukan pengabdian melakukan acara pamitan pada malam terakhir, yakni pada Minggu, 12 Mei 2019 dengan menyampaikan pesan untuk tetap istiqomah dalam iman dan ibadah kepada Allah ta’ala dan meminta agar jamaah mendoakan agar mahasiswa selamat sampai tujuan untuk berangkat keesokan harinya serta berharap dapat berjumpa pada lain waktu.

URGENSI SILATURRAHÎM DALAM MEMPERKUAT UMAT

0

Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA. (Syahrin_hrp@yahoo.com)

Disampaikan pada Muzakarah Ramadhan Majelis Ulama Indonesia Prov. Saumatera Utara Tgl. 9 Mei 2019 di Medan-Sumatera Utara

Rahîm (al-rahîm) dalam bahasa Arab digunakan untuk mengartikan jenis kelembutan yang merangsang dorongan dalam diri seseorang untuk mengasihi dan menyayangi orang lain.[1] Rahim merupakan salah satu  asmâ’/sifat Allah yang digandengkan dengan  al-rahmân,  al-Rahmân dan al-Rahîm.[2]Al-Rahîm, demikian juga al-rahmân, merupakan sifat  Allah yang paling menonjol. Dia selalu mengedepankan sifat ini dari sifat lain dalam memilih, menetapkan, dan memperioritaskan semua perkara. Bahkan seperti disebut Khomaeni, sifat al-rahmân dan al-rahîm, Pengasih dan Penyang, menunjukkan sifat kesempurnaan Allah. Sedangkan sifat-sifat lain tunduk pada sifat-sifat itu.[1]

Ketika menjelaskan hubungan sifat al-Rahmân dan al-Rahîm, Abû al-Qâsim al-Husain bin Muhammad  meyetir hadîs Rasulullah yang menceritakan bahwa ketika Allah menciptakan ‘al-rahmân’, Allah berkata kepadanya: “Aku ‘al-Rahmân’ dan engkau adalah ‘al-rahîm’. Aku ambil namamu dari nama-Ku. Siapa yang menghubungkanmu akan Ku-hubungkan dan siapa yang memutuskanmu akan Aku putuskan.[2]

Ketika menjelaskan pengetahuannya tentang yang ghaib dan yang nyata, Allah mengiringi informasi itu dengan sifat kasih sayang. Firman Allah:

هُوَ اللهُ الَّذِى لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الَّرحْمَنُ الرَّحِيْمُ

Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q. S. 59/al-Hasyr: 22).

Selain itu, kenyataan bahwa surah- surah al-Qur’ân yang dimulai dengan kalimat kasih sayang itu (bismillâhirrahmânirrahîm), merupakan isyarat bahwa apa pun yang dijelaskan, didiskusikan, dikerjkan, dan diperintahkan serta dilarang oleh kitab suci ini senantiasa didasarkan pada kasih sayang universal.

Dari pengertian itu dapat diketahui bahwa al-rahîm adalah rasa sayang Allah dalam bentuk menciptakan, memelihara, dan membuat yang terbaik serta yang sempurna pada alam semesta serta yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan diakhirat. Dengan demikian lawan dari al-rahîm adalah kebencian dengan segala bentuknya.

Kemudian sifat al-rahîm itu ditransmisikan kepada manusia. Artinya, manusia yang penyayang. Sebagaimana digambarkan dalam hadîs qudsi berikut:

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ اِرْحَمُوا مَنْ فِى الْاَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Orang yang berkasih sayang akan disayangi Yang Maha Penyayang, karena itu sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang Di langit akan menyayangimu. [HR. Bukhari].

Rahîm dapat dilihat dari dua dimensi. Dimensi pertama adalah kedudukan si pemilik rahîm. Allah Swt., berada dalam posisi pencipta (rabb) dan yang disembah (ilâh).

Induk Kitab suci (Ummu al-Qur’ân) mengedepankan dua julukan Tuhan yang terkait dengan sifat rahîm itu. Pertama, Rabb al-‘âlamîn (raja segala sesuatu). Kedua,  mâliki yawmiddîn (Pemimpin Hari Keagamaan). Sifat-sifat tersebut adalah sifat pemimpin. Sangat sulit membayangkannya diterapkan dari posisi yang lebih rendah, bahkan yang sejajar. Dengan demikian transmisi atau menghubungkan rahîm itu dapat digambarkan sebagai berikut:

Transmisi/Silaturrahîm

Dimensi kedua adalah penerapannya. al-Rahîm itu diterapkan Allah dalam berbagai bentuk: (1) Kasih sayang-Nya yang bersifat menyeluruh (universal) dan adil, menyantuni seluruh makhluk-Nya. Meskipun  manusia diutamakan tetapi Allah tidak berlaku curang. Santunan-Nya selalu terealisasi bagi seluruh makhluk-Nya.

(2). Sebagai konsekuensi dari sifat rahmân dan rahîm itu maka Allah tidak semena-mena menerapkan hukuman dan azab kepada hamba-Nya yang melakukan kesalahan, melainkan disiapkan media pintu ma’af bagi mereka yang memanfaatkan taubat.

(3). Sifat rahmân dan rahîm itu direalisasikan dengan menjamin kemutlakan berlakunya setiap keputusan, dan pasti sampai kepada objeknya. Tidak ada yang dapat melakukan usaha-usaha inkonstitusional untuk menutupi sagala macam kesalahan, kecurangan,  dan penyimpangan yang dilakukannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sifat rahîm itu adalah kekuatan dan keunggulan, yang menjadikan orang yang memilikinya menjadi umat dan komunitas yang memiliki kekuatan dalam mempengaruhi jalannya peradaban umat manusia.

Kekuatan itu akan mengalami peningkatan berpuluh kali lipat bila orang yang beriman mengubungkan sifat rahîm yang ada pada diri mereka. Itulah yang secara teknis diistilahkan dengan silaturrahîm, yang dalam tulisan ini dipandang sebagai kekuatan umat.

 Mengenai hal ini sangat menarik komentar Hudgson. Menurutnya: Umat Islam sejatinya memiliki visi memimpin perkembangan dunia. Hal tersebut menurutnya karena adanya penegasan al-Qur’ân bahwa umat Islam adalah manusia terbaik yang dilahirkan ke tengah-tengah manusia dengan tugas memerintah yang baik dan mencegah yang buruk, dan beriman kepada Allah.[1]

Kasih Sayang Dunia

Kasih saying sangat diperlukan dalam memimpin dunia serta mengarahkannya kepada peradaban yang lebih baik. Sedemikian pentingnya kasih sayang itu hingga Devisi Kesehatan Badan Dunia, PBB, mensyaratkan kasih sayang yang besar bagi seorang penduduk bumi yang memiliki jiwa yang sehat.

Sebagai pemangku sifat rahîm tersebut, manusia dibekali Allah dengan potensi daya saing yang memungkinkannya untuk mempengaruhi perkembangan peradaban manusia. Diantaranya. Pertama, Allah memberi predikat kepada mereka sebagai khaira ummah, sebagaimana firmann-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dihadirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [QS. 3/Ali ‘Imrân: 110].

Kedua, Manusia sebagai komunitas strategis yang inklusif, karena mereka harus menjadi saksi bagi umat manusia seluruhnya [QS. 2/al-Baqarah: 143] dan akan bertanggung jawab bagi kemakmuran bumi dan perkembangan peradaban [QS. 11/Hud: 61].

Berdasarkan posisi strategis itu maka potensi ketiga adalah visi kesatuan umat, yaitu pandangan yang bersifat universal dan mondial tentang  kesatuan umat manusia [QS. 2/al-Baqarah: 213].

Ketiga potensi ini melengkapi prasyarat bagi orang yang beriman untuk mengembangkan dan menghubungkan kasih saying (silaturrahîm) bagi seluruh alam dari ufuk keistimewaannya sebagai manusia terbaik (khaira ummah).

Dalam mewujudkan kasih sayang dunia itu orang yang beriman menggunakan tiga strategi. Pertama, memperkuat daerah pertahanan. Silaturrahîm umat harus dapat memperkuat wilayah pertahanan mereka. Sejalan dengan itu tidak akan ada pertemanan atau garis perjuangan yang memperlemah umat, apa pun bentuknya.

Kedua, strategi penegasan visi keumatan. Dalam hal ini garis perjuangan adalah mempertegas kasih sayang sesama umat (ruhamâ’ baynahun) [QS. 48/al-Fath: 29], dan menarik garis lurus pertemanan dengan komunitas lain harus dalam rangka penguatan kesadaran akan pentingnya peran Tuhan dalam kehidupan (asyiddâ’ alâ al-kuffâr).

Dengan begitu maka tidak akan ada garis perjuangan dengan makhluk mana pun yang memiliki visi tak bertuhan (atheis) apalagi anti Tuhan (antitheis).

Sampai disini klier bahwa kasih sayang atau hubungan kasih saying (silaturrahîm) kaum beriman adalah memperkuat ketuhanan. Silaturrahîm tersebut dapat dirumuskan dalam diagram sederhana berikut:

Silaturrahîm Produktif

Setiap persaudaran dan kasih sayang (silaturrahîm) dalam Islam harus dapat memeperindah dunia melalui keindahan jiwa mereka. Sebab tujuan tertinggi kehidupan manusia adalah memperindah jiwa sebagai persembahan paling berharga seorang hamba pada Tuhannya.[1] Pada saat yang sama persaudaraan dan kasih sayang (silaturrahîm) dalam Islam harus produktif. Sebab tidak ada ajaran Islam yang nirvalue, kosong nilai, melainkan mempunyai nilai yang yang tidak hanya bersifat duniawi melainkan menembus batas dunia, ke alam baka.

Dengan demikian, syari’at Islam mengisyaratkan bahwa kepada setiap orang akan dihadapkan suatu pertanyaan: “siapa saja sahabatmu (teman bersekutu atau berkoalisimu)?, (man ikhwanuka). Kegagalan dalam menjawab pertanyaan ini sekaligus menjadi legalitas bagi munkar dan nakir untuk menyiksanya.

Paling tidak ada tiga produk dari pertemanan dan silaturrahîm yang direkomendasikan oleh Islam. Pertama, silaturrahîm harus memperkuat dan mendorong percepatan pemberdayaan umat.

Kasih sayang harus memberdayakan. Sebab kasih, sebagai mana diajarkan Allah dan ditauladankan Rasulullah adalah untuk memperkuat umat, bukan sebaliknya, memperlemah perjuangan umat. Hal itu karena Rasulullah dalam hadis autentik mengatakan bahwa umat yang kuat jauh lebih baik. [HR. Bukhari].

KeduaSilatutrrahîm harus dapat meningkatkan martabat dan keselamatan umat. Untuk itu tidak diperkenankan pertemanan jika akhirnya memperkuat kesyirikan, memperkuat posisi orang yang mensyirikkan Allah Swt. Bahkan kewarisan pun menjadi terhalang karena kesyirikan.

Ketiga, silaturrahîm harus lebih memberikan keleluasaan kepada umat untuk menerapkan ajaran al-Qur’ân dalam kehidupan. Sebab kasih sayang Allah pada manusia ditandai dengan diturunkannya al-Qur’ân. اَلرَّحْمَنُ عَلَّمَ الْقُرْاَن .[QS. al-Rahmân: 1-2].

Dengan demikian pertemanan dan kasih sayang yang pada gilirannya mempersulit umat untuk menerapkan kehidupan yang qur’âni adalah suatu pertemanan, persekutuan, atau kualisi  yang meneyesatkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram berikut:

Penutup

Dari kajian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kasih sayang adalaha sifat Allah yang dilimparkan kepada Rasulullah, dan kemudian dilimpahkan kepada amanusia dalam bentuk ajaran silaturrahîm.

Kasih sayang yang diajarkan Islam bersifat universal dan mondial. Oleh karenanya kasih sayang umat adalah untuk seluruh alam karena kehadiran umat adalah untuk mendatangkan manfaat dan kebaikan serta kemajuan bagi alam semesta.

Pada akhirnya kasih sayang dan silaturrahîm Islam menekankan suatu nilai bahwa hubungan pertemanan dan kasih sayang harus bertujuan menegakkan nilai-nilai kehidupan yang berketuhanan (rabbâni), karena semua pertemanan dan kasih sayang harus dipertenggungjawabkan di hadapan pengadilan yang tanpa kecurangan. Wa Allâhu A’lamu bi al-Shawâb.

[1] Abul Kalam Azad, The Tarjumân Ak-Qur’ân, Vol. 1, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1996), hlm. 47.

[2] Meski berasal dari akar kata yang sama, al-rahmân dan al-rahîm, namun kedua istilah ini mengandung arti dua aspek yang berbeda. Al-rahmân berarti zat yang memiliki rahmat. Sedang al-rahîm berarti zat yang tidak saja memiliki rahmat melainkan juga memberikan perwujudan  kekal atasnya dan merupakan sumber kebaikan alam semesta setiap saat. Lihat, Ibid.

[3] Khomaeni,  Islam and Rovolution: Writing, Spech, and Lecture Ayatullah Ruhullah Khomaeni, (Mizan Press, Berkely, 1981).

[4] Ibid

[5] G.S. Hudgson, The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization, Vol. III, (Chocago: The University of Chicago Press, 1974), hlm. 71.

[6] Sayyed Hossein Nasr, The Heart of Islam, (2002).

PERUSAK PAHALA PUASA

0

Alhamdulillah kita telah memasuki Bulan suci Ramadhan 1440 , bulan penuh rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesempatan sangat berharga untuk meraih ampunan besar dari Allah Ta’ala dengan menjalankan ibadah puasa sebaik mungkin secara zahir dan bathin yakni dengan menjaga zahir kita dari melakukan perkara yang membatalkan puasa dan menjaga bathin kita dari perkara yang merusak pahala puasa sehingga puasa kita menjadi sempurna zahir dan bathin.

Perkara yang membatalkan puasa dalam kitab di kalangan empat mazhab yaitu murtad, haid, nifas, bersetubuh, makan minum dan lainnya. Dalam tulisan ini akan membahas hal hal yang merusak pahala puasa. Hal ini dikarenakan puasa bukan sekedar menahan dari lapar dan dahaga atau dari pembatal yang lain, seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَ الشُّرْبِ

“Bukanlah puasa itu sekedar menahan dari makan dan minum”. [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim]

وَرُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ والعطش

“Bisa jadi seorang yang berpuasa, bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga”. [Shahih, HR Ibnu Hibban:8/257]

Ibnu Qudamah membagi puasa menjadi tiga:

  • Puasa orang awam, yaitu sekedar menahan perut dan kemaluan dari keinginannya.
  • Puasa orang khusus, yaitu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.
  • Puasa orang yang lebih khusus, yaitu puasanya kalbu dari keinginan-keinginan yang hina, pemikiran-pemikiran yang menjauhkan dari Allah dan menahan kalbu dari selain Allah secara total. [Mukhtashar Minhajul Qashidin:58]

Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini :

خمس يفطرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة

“ Lima perkara yang membatalkan orang yang berpuasa ; dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “.(H.R. Al-azdi dan Addailami dari Anas r.a.).

Imam ash-Shan’ani mengomentari hadis di atas : “ Hadits tersebut dalil atas keharaman berdusta dan berbuat dusta dan keharaman berbuat bodoh atas orang yang berpuasa, keduanya adalah haram bagi orang yang tidak berpuasa juga, akan tetapi keharamannya bagi orang yang berpuasa lebih ditekankan seperti keharaman berzina bagi seorang syaikh (tua) dan sifat sombong bagi orang yang faqir “(Subul as-Salam, ash-Shan’ani : 2/320)

 الحديثُ دليلٌ على تحريم الكذب والعملِ به، وتحريمِ السفَهِ على الصائم، وهما محرَّمان على غير الصائم ـ أيضًا ـ، إلَّا أنَّ التحريم في حقِّه آكَدُ كتأكُّد تحريم الزنا مِنَ الشيخ والخُيَلَاءِ مِنَ الفقير


Para ulama lainnya pun seperti imam Ibn Ash-Shabbagh mengomentari hadis lima perkara tersebut sebagai berikut :

وأما الخبر: فالمراد به: أنه يسقط ثوابه، حتى يصير في معنى المفطر، كقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «من قال لأخيه والإمام يخطب: أنصت.. فلا جمعة له» . ولم يرد: أن صلاته تبطل، وإنما أراد: أن ثوابه يسقط، حتى يصير في معنى من لم يصل

“ Adapun hadis tersebut, maka yang dimaksud adalah menggugurkan pahala puasa, sehingga menjadi makna perkara yang membatalkan puasa, sebagaimana contoh hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya sedangkan imam berkhutbah, “ Diamlah “, maka tidak ada jum’at baginya “, hadits ini tidak bermaksud sholatnya batal, akan tetapi yang dimaksud adalah bahwasanya pahala jum’atnya gugur sehingga menjadi makna orang yang tidak sholat “(At-Taisir Bi syarh al-Jami’ ash-Shagir, al-Manawi   : 2/201)

Dari Hadis di atas dapat dipahami bahwa yang paling pertama sekali anggota tubuh kita yang berpeluang mengurangi pahala puasa atau bahkan membatalkan pahalanya adalah lisan, baik melalui perkataan dusta, perkataan keji, mengadu domba, dan sumpah palsu. Baru kemudian adalah mata lewat penglihatannya.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menerangkan: Seorang yang berpuasa adalah orang yang anggota badanya berpuasa dari perbuatan-perbuatan dosa, lisannya berpuasa dari kata dusta, kata keji, dan ucapan palsu, perutnya berpuasa dari makanan dan minuman, kemaluannya berpuasa dari bersetubuh. Bila dia berbicara, tidak berbicara dengan sesuatu yang mencacat puasanya, bila berbuat, tidak berbuat dengan suatu perbuatan yang merusak puasanya, sehingga seluruh ucapannya keluar dalam keadaan baik dan manfaat.
Demikian pula amalannya, amalannya bagai bau harum yang dicium oleh seorang yang berteman dengan pembawa minyak wangi misk, semacam itu pula orang yang berteman dengan orang yang berpuasa, ia mendapatkan manfaat dengan bermajlis (duduk) bersamanya, aman dari kepalsuan, kedustaan, kejahatan dan kezhalimannya. Inilah puasa yang disyariatkan, bukan sekedar menahan dari makan dan minum, terdapat dalam hadis yang shahih:

من لم يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ و الجهل فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

 “ Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak peduli ia meninggalkan makan dan minumnya “.(HR. Bukhari)

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الصِّيَامَ لَيْسَ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغُوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ

“Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya puasa itu bukan menahan dari makan dan minum saja, hanyalah puasa yang sebenarnya adalah menahan dari laghwu (ucapan sia-sia) dan rafats (ucapan kotor), maka bila seseorang mencacimu atau berbuat tindakan kebodohan kepadamu katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, lihat kitab Shahih Targhib]

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يقول قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال الله وإذا كان يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فلا يَرْفُثْ ولا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أو قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إني امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah berfirman : …maka bila pada hari puasanya seseorang di antara kalian janganlah ia melakukan rafats dan janganlah ia yashkhab (berteriak, ribut), bila seseorang mencacimu atau mengganggumu maka katakanlah: ‘Saya ini orang yang sedang berpuasa…’.” [Shahih, HR Al-Bukhari]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لا تَسَابَّ وَأَنْتَ صَائِمٌ وَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ

“Dari Abu Hurairah dari Nabi ia bersabda: “Janganlah kamu saling mancaci (bertengkar mulut) sementara kamu sedang berpuasa maka bila seseorang mencacimu katakan saja: ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa’, dan kalau kamu sedang berdiri maka duduklah.” [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah: 3/241, Nasa’i dalam Sunan Kubra: 2/241 Ibnul Ja’d: 1/411, tanpa kalimat terakhir. Imam Ahmad dalam Musnad:2/505 dan Ath-Thayalisi dalam Musnad:1/312. Lihat Shahih Targhib]

ليس الصّيامن الطّعا م و الشّراب انمّماالصّيام من اللّغْووالرّفث

“Bukan yang bernama puasa itu sekedar menahan makan minum, tetapi puasa yang sungguh itu menahan diri dari laghu (lelahan, perkataan tidak ada gunanya) dan kata-kata yang keji.” (H.R. menurut syarah Muslim)

Juga hadis :

الصائم في عبادة من حين يصبح إلى أن يُمسي ما لم يغتب، فإذا اغتاب خرق صومه

Orang yang berpuasa di dalam beribadah sejak pagi hingga sore hari semenjak ia tidak berghibah, jika ia berghibah maka ia telah merusak (pahala) puasanya “. (Hadits ini diisyaratkan dhaif oleh imam as-Suyuthi)

Dan dalam musnad Imam Ahmad :

Ada dua wanita yang sedang puasa dimasa Rasulullah SAW tiba tiba pada sore hari keduanya merasa payah karena sangat lapar dan haus hampir pingsan keduanya, maka keduanya mengutus orang pergi kepada Nabi SAW untuk minta izin akan berbuka (membataikan puasanya), maka Nabi s.a.w. mengirim pada keduanya gelas dan menyuruh keduanya muntah didalamnya apa yang telah dimakan itu. Tiba-tiba yang satu muntah darah dan daging mentah, dan yang kedua juga begitu sehingga penuh gelas itu, dan orang-orang merasa heran (ajaib), lalu Nabi SAW bersabda :

“Keduanya puasa dari apa yang dihalalkan Allah, dan makan apa yang diharamkan oleh Allah, sebab yang satu pergi pada yang lain untuk duduk bersama ghibah (membicarakan kejelekan orang), maka itulah bukti apa yang mereka makan dari daging orang-orang.”

 Dari hadis-hadis di atas maka dapat kita simpulkan bahwa pembatal pahala puasa atau yang akan menguranginya adalah sebagai berikut:

  • Qauluz-zur yakni ucapan dusta
  • Mengamalkan qouluz-zur yakni perbuatan yang merupakan tindak lanjut atau konsekuensi dari ucapan dusta
  • Jahl yakni amalan kebodohan
  • Rafats yakni seperti dijelaskan Al-Mundziri: Terkadang kata ini disebutkan dengan makna bersetubuh, dan terkadang dengan makna, ‘kata-kata yang keji dan kotor’ dan terkadang bermakna ‘pembicaraan seorang lelaki dan perempuan seputar hubungan sex’, dan banyak dari ulama mengatakan: ‘yang dimaksud dengan kata rafats dalam hadits ini adalah ‘kata kotor keji dan jelek’. [Shahih Targhib:1/481]
  • Laghwu yakni ucapan yang tidak punya nilai atau manfaat [lihat An-Nihayah:4/257 dan Al-Mishbahul Munir:555] mencakup juga amalan yang tidak ada manfaatnya [lihat semakna dengannya kitab Faidhul Qodir:6228]
  • Bertengkar mulut atau Shakhab yakni bersuara keras dan ribut dikarenakan pertikaian [An-Nihayah:3/14, Lisanul Arab:1/521] Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: Yakni jangan berteriak dan jangan bertikai [catatan kaki Mukhtashar Shahih al-Bukhari:443]
  • Memandang dengan syahwat

Dan diantara yang akan mensucikan puasa seseorang dari Laghwu dan rafats di atas adalah ia menunaikan zakat fitrah, sebagaimana tersebut dalam hadis:

  • عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً للِصَّياَمِ مِنَ اللّْغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata: “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci bagi puasa dari laghwu dan rafats dan sebagai pemberian makan untuk orang-orang miskin, maka barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (iedul Fitri) maka itu zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu adalah sebagai sedekah dari sedekah-sedekah yang ada” [HR Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak dan beliau mengatakan: Shahih sesuai syarat Al-Bukhari namun Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya]

Wallahu a’lam…                                                                    

BERDAKWAH KE TAPANULI UTARA, BENTUK PENGABDIAN MAHASISWA PTKU-MUI SUMUT

0

muisumut.or.id, Medan Dalam mengisi ibadah di bulan puasa Ramadhan 1440 H, banyak amalan berfaedah yang bisa dilakukan, diantaranya adalah kegiatan dakwah. Dakwah merupakan perintah Allah ta’ala yang bertujuan untuk menyampaikan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Dakwah adalah pekerjaan mulia yang dikerjakan oleh para Nabi, Sahabat, dan ‘Alim Ulama. Pekerjaan mulia ini telah dipuji kebaikannya oleh Allah ta’ala sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an surah ali-Imran ayat 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. 

Maka dalam hal ini, Pendidikan Tinggi Kader Ulama Majelis Ulama Indonesia (PTKU MUI-SU) mengutus mahasiswa PTKU-MUI SUMUT sebagai kader yang disiapkan untuk menyampaikan dan mengemban tugas dakwah tersebut akan melaksanakannya ke daerah minoritas penduduk muslim sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan oleh mahasiswa PTKU-MUI SUMUT semester enam yang berjumlah 12 orang dengan pembagian enam kelompok selama enam hari, yakni tanggal 07 sampai 13 Mei 2019. Masing-masing kelompok akan memasuki satu buah masjid yang bertempat di Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara. Berikut tabel datanya:

NO. KELOMPOKNAMA MAHASISWATEMPAT
001Anton Ritonga dan SahrulMasjid Raya Batunadua
002M. Abdurrahman Fauzi Marpaung dan Rizki RabbaniMasjid Sibudil Jaya
003Arjan Saputra Harahap dan Agusman FatemaluoMasjid Taqwa Onan Sabtu
004Abdul Rahman Siahaan dan AgustianMasjid Al Mukminin Pakpahan
005Saputra Siagian dan Irvan MangunsongMasjid Pancur Natolu
006Saddan Yasir dan Fandi FakhruddinMasjid Baiturrahman Silantom Jae

            Semua kelompok diberangkatkan pada hari Selasa, 7 Mei 2019 pukul 10.00 WIB. Pelepasan keberangkatan sekaligus penyerahan dana yang diperlukan dalam kegiatan dakwah pengabdian masyarakat secara simbolis dilaksanakan di Aula Kantor MUI-SUMUT oleh Ketua MUI-SUMUT Prof. DR. H. Abdullah Syah, MA. Dalam acara pelepasan tersebut beliau mengatakan bahwa penilaian keulamaan yang sebenarnya adalah berasal dari masyarakat bukan hanya sekedar penilaian dalam kertas. Jikalau disuruh imam, ceramah, membawakan do’a, dan aktifitas keulamaan lainnya maka jangan pernah menolak, karena itulah keahlian ulama yaitu mampu menjadi pengamal agama. 

Selain Ketua MUI-SUMUT, turut hadir juga ustadz DR. Ardiansyah, Lc, MA selaku Direktur PTKU MUI-SU, Prof. DR. Amroeni Drajat selaku ketua Bidang Kemahasiswaan PTKU MUI-SUMUT , MA, Dr. Akmaluddin Syahputra, M.HUm selaku Sekretaris PTKU, Dr. Amar Adly MA, Irwansyah, M.HI, dan Ustadz M. Iqbal Habibi Siregar, M.Pdi yang merupakan dosen seorang dosen PTKU MUI-SU, Prof.DR. Fakhruddin Azmi selaku ketua Bidang Kependidikan MUI-SUMUT. “Kami berharap Mahasiswa yang akan melakukan pengabdian masyarakat ini dapat melaksanakannya dengan baik, dengan menjaga akhlak, mengajarkan ibadah yang benar, dan dapat menjadi pemicu berkembangnya minat masyarakat untuk mempelajari Islam”, tutur ustadz DR. Ardiansyah, Lc, MA ketika diwawancarai seusai acara pelepasan tentang bagaimana harapannya kepada mahasiswa yang akan melakukan pengabdian masyarakat.

Ramadan Berbagi di Kedai Wakaf PTKU MUI Sumut

0

muisumut.or.id, Medan Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas RA, ia berkata: 

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ, وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِى رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ …

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan saat Jibrilumenemui beliau, …HR. al-Bukhari.

Berbagi di bulan Ramadhan lebih utama dibandingkan di luar Ramadhan, karena Nabi SAWmenyebutnya dengan bulan muwasah/saling tolong menolong. Nabi SAWsangat dermawan di bulan Ramadhan, tepatnya ketika malaikat Jibril menemuinya. Rasulullah SAW lebih dermawan terhadap hartanya daripada angin yang berhembus.

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa memberi buka puasa pada orang yang berpuasa maka baginya semisal pahala mereka tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka.”(HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Darimi. Hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani)

Hadis inilah yang menjadi ruh dalam kegiatan Ramadan berbagi di Kedai Wakaf milik Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Sumut. Kegiatan Ramadan berbagi ini insha Allah akan dilaksanakan setiap hari di bulan Ramadan. Setelah Ashar dilaksanakan kegiatan berbagi ilmu tahsin al Quran di Masjid ar Rahmah, pada saat bersamaan juga dilaksanakan berbagi ilmu seni lukis Islam di kantin Kedai Wakaf. Menjelang berbuka puasa dilaksanakan tausiyah oleh mahasiswa kader ulama. Parede tausiyah yang dilaksanakan oleh mahasiswa kader ulama ini akan diperlombaan dengan cara diupload di yutube, sehingga siapapun, dimanapun dan kapanpun bisa mengakses video tersebut baik melalui www.muisumut.com maupun langsung ke yutube.

Kegiatan. Berbagi Seni Luki Islam

telah berbagi demi terlaksanananya kegiatan tersebut. Dana yang terkumpul pada 1 Ramadan sejumlah Rp. 2.900.000,- melalui transfer bank Muamalat atas nama Pengelola Badan Laboratorium Interpreneurship No Rek. 4820007446. Kami mengharapkan kepada kita semua umat Islam dapat berbagi bersama dibulan penuh berkah ini. Di samping program berbagi takjil PTKU melalui kedai wakaf juga akan berbagi paket sembako dan air mineral ke masjid masjid.

Berbagi di bulan Ramadan ini memiliki keutamaan menyebabkan amalan tersebut berlipat-lipat. Oleh sebab itu pahala amalan menjadi berlipat-lipat disebabkan kemuliaan suatu waktu sebagaimana juga berlipat-lipat karena kemuliaan suatu tempat. Seperti shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Shalat di masjidil haram senilai dengan 100.000 shalat di masjid lainnya dan shalat di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah senilai dengan 1000 kali shalat di masjid yang lainnya. Mudah mudahan kita semua mampu memanfaatkan moment bulan Ramadan ini untuk berbagi. Jazakumullah khairul jaza. 

MUI SUMUT GELAR SAFARI RAMADAN 1440 H/2019 M

0

Irvan Mangunsong
Mahasiswa Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) MUI-SU

muisumut.or,id, Medan Islam adalah agama yang dibawa oleh para nabi, khususnya Nabi Muhammad saw. Disebarkan dengan dakwah, bukan dengan pedang. Buya Hamka dalam bukunya, Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, mengatakan bahwa Islam disebarkan oleh Rasûlullâh saw. bukan dengan pedang, tetapi dengan dakwah. Syaikh Shafiyy ar-Rahman al-Mubârakfûrî, dalam kitabnya, ar-Rahîq al-Makhtûm, halaman 74 membagi periode dan tahapan dakwah Rasûlullâh secara umum menjadi dua, yaitu (1) periode Makkah selama 13 tahun dan (2) periode Madinah selama 10 tahun.

Dengan dakwah Islam masuk ke Indonesia melalui perantaraan para saudagar dan pedagang dari Arab, hingga penduduk Indonesia mayoritasnya adalah umat Islam. Dakwah itu penting, untuk memberi pencerahan agar Islam itu selalu bersinar terang di hati setiap penganutnya (Muslim). Sebagai nasihat agar umat selalu beriman dan beramal saleh sesuai apa yang dibawa oleh Nabi; yang sekarang disampaikan oleh para dai dan ulama. Karena, ulama adalah pewaris para nabi (al-`ulamâ’ warastah al-anbiyâ’). Ditambah lagi, banyak sekali ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. yang menyuruh supaya umat Islam berdakwah.

Dengan banyak pertimbangan-pertimbangan dan alasan-alasan supaya dakwah Islam tetap hidup dan berkembang, para ulama khususnya di Sumatera Utara mendirikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara pada 11 Januari 1975 atau 28 Zulhijjah 1394 H. Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai pewaris tugas-tugas para nabi, yaitu menyebarkan ajaran Islam serta memperjuangkan terwujudnya suatu kehidupan sehari-hari secara arif dan bijaksana yang berdasarkan Islam. MUI juga berperan sebagai tempat meminta dan memberi fatwa, pembimbing dan pelayan umat, gerakan ishlah wa at-tajdîd, dan penegak amar makruf dan nahi munkar.

Banyak cara yang dilakukan MUI untuk menyebarkan dakwah supaya umat Islam menjalani hidup berdasarkan syariat Islam, salah satunya adalah melakukan “Safari Ramadan” khusus pada bulan Ramadan dengan mengutus para ulama dan dai Sumatera Utara.

Dr. H. Maratua Simanjuntak, MA selaku Ketua TIM Safari Ramadan MUI Sumut tahun 1440 H/2019 M mengatakan: Safari Ramadan MUI Sumatera Utara adalah merupakan kehadiran ulama di desa sebagai silaturahim dan ukhuwah. Dakwah Safari Ramadan dilaksanakan setiap bulan Ramadan dengan mengunjungi 5 Masjid di setiap Kecamatan. Tahun ini ada 106 Masjid di 25 Kecamatan di Sumatera Utara yang akan dikunjungi, termasuk 5 Kecamatan di Pulau Nias. Ulama yang menjadi penceramah adalah pengurus MUI Sumut. Tahun ini materi dakwah difokuskan pada persatuan, pengembangan ekonomi Islam, serta menjaga keharmonisan bangsa dalam mengawal NKRI.

Pada tahun ini, MUI Sumut mengutus para penceramah dari kalangan ulama dan dai Sumatera Utara sebanyak 31 orang termasuk Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA, Wakil Ketua Umum MUI Sumut Dr. H. Arso, SH. M.Ag dan Dr. H. Maratua Simanjuntak, MA, Sekretaris Umum MUI-SU dan Direktur PTKU MUI-SU, Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA, dan para Ketua Komisi, salah satunya adalah Ketua Komisi Fatwa, Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA.

Safari Ramadan tahun ini dimulai pada tanggal 08 Mei sampai 01 Juni 2019. Adapun daerah yang dikunjungi ialah: Inalum Batubara Kuala Tanjung, Inalum Tobasa Paritohan, Kabupaten Langkat Kec. Brandan Barat, Binjai, Simalungun Kec. Pematang Bandar, Sibolga, Tapanuli Tengah, Deli Serdang Kec. Lubuk Pakam, Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, Gunung Sitoli, Labuhan Batu Utara Kec. Na IX-X, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Batubara Kec. Air Putih, Asahan Kec. Air Joman, Pakpak Barat, Dairi, Tanjung Balai Kec. Teluk Nibung, Serdang Bedagai Kec. Pantai Cermin, Tapanuli Utara, Toba Samosir, dan Karo Kec. Kabanjahe.

Apabila tujuannya dekat, para penceramah hanya diutus oleh MUI Sumut satu hari seperti di Serdang Bedagai dengan seorang supir. Apabila jauh seperti Sibolga dua hari dan Nias tiga hari dengan transportasi udara, pesawat. Seperti tahun tahun sebelumnya setiap masjid yang dikunjungi akan diberikan bingkisan berupa Alquran, kain sarung dan mukenah sebagai tanda ikatan ukhuwah dari MUI Sumatera Utara.

Kita berdoa semoga Safari Ramadan 1440 H/2019 M yang diadakan MUI Sumut berjalan dengan baik dan diridai Allah, dan perintah Nabi, “sampaikanlah pesan dariku walau satu ayat” dapat terlaksana sesuai ajaran beliau, âmîn yâ Allâh.

Shalat Tarawih

oleh Ketua Umum MUI Sumatera Utara/ Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA

Shalat di malam bulan Ramadhan ini dinamakan shalat tarawih, karena sahabat Nabi melaksanakan dengan istirahat setelah setiap empat rakaat selama seperti empat rakaat itu, istirahat itu dilakukan karena panjangnya bacaan mereka dalam shalat tarawih itu. Shalat tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 kali salam. Dilaksanakan setelah shalat Isya (setiap 2 rakaat 1 kali salam). Shalat tarawih disunnatkan berjamaah, baik di Masjid ataupun di rumah, dan dibolehkan dilaksanakan sendiri- sendiri.

Menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat Tarawih berjamaah: Shalat Tarawih disyari’atkan berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:”Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid, dan shalatlah beberapa orang bersama beliau. Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya. Ketika Nabi mengerjakan shalat (di malam kedua), banyaklah orang yang shalat di belakang beliau. Di pagi hari berikutnya, orang- orang kembali memperbincangkannya. Di malam yang ketiga, jumlah jamaah yang di dalam masjid bertambah banyak, lalu Rasulullah SAW keluar dan melaksanakan shalatnya. Pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaah, sehingga Rasulullah SAW hanya keluar untuk melaksanakan shalat Subuh. Tatkala selesai shalat Subuh, beliau menghadap kepada jamaah kaum muslimin, kemudian membaca syahadat dan bersabda, ‘Sesungguhnya kedudukan kalian tidaklah samar bagiku, aku merasa khawatir ibadah ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya.” Rasulullah SAW wafat dan kondisinya tetap seperti ini. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam sau riwayat lain, rasul datang ke Masjid sembahyang bersama jamaah lainnya 2 malam, selanjutnya orang sembahyang masing-masing sendirian, ada yang di Masjid dan ada yang dirumah. Setelah itu Rasul wafat dan manusia melaksanakan shalat itu seperti itu yaitu sendirian di Masjid atau dirumah. Di masa khalifah Abu Bakar di permulaan Khalifah Umar juga berlaku seperti ini. Kemudian Umar memprakarsai shalat tarawih berjamaah di Masjid, dengan menjadikan Ubai bin Ka’ab sebagai imam jamaah laki-laki dan Sulaiman bin Abi Hasmah imam jamaah wanita, Para sahabat memuji perbuatan Umar ini dan mendukungnya. Saidina Usman berkata di masa khalifahnya mengenai tarawih. “Allah telah mencahayai kuburan Saidina Umar, sebagai mencahayai Masjid kita ini”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmizi dan lainnya: Rasul berkata “maka ikutlah sunnahku dan sunnah khulafaurasidin yang mendapat petujuk sesudahku dan peganglah kuat- kuat” Dalam hadis lain rasul berkata pula “ikutlah dua orang sesudahkku yaitu Abu Bakar Sidik dan Umar Ibn Khatab” (Riwayat Ahmad, Tirmizi, dan Ibnu Majah)

Abu Nuim meriwayatkan pula, bahwa Nabi SAW berkata “akan terjadi sesudahku perkara (sesuatu yang baru), maka yang paling kusukai adalah engkau mengikuti apa yang dialkukan Umar” yaitu melakukan tarawih secara berjamaah di Masjid. Dikatakan juga dengan istilah lain, sebaik-baik bid’ah yang dilakukan Umada adalah soal tarawih berjamaah di masjid. Perbuatan Umar inilah yang sampai sekarang diikuti umat Islam di seluruh dunia,

Dengan demikian melakukan shalat tarawih di masjid secara berjamaah adalah paling baik atau afdhal. Dari beberapa hadis dan penjelasan di atas, dapat pula dipahami, bahwa tidak semua bid’ah itu tidak baik atau dhalalah, tetapi ada yang baik atau hasanah seperti Umar mengadakan shalat tarawih berjamaah dengan satu imam, sedang sebelumnya, tidak demikian dan dikatakan pula sebaik-baik bid’ah adalah apa yang dilakukan Umar dalam tarawih ini.

Pensyariatan Pelaksanaan Shalat Malam secara Berjama’ah

Melaksanakan shalat malam secara berjama’ah disyariatkan di bulan Ramadhan. Bahkan hal ini lebih baik daripada shalat sendirian karena Nabi sendiri melakukannya dan karena menjelaskan keutamaannya dalam sabdanya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Dzar yang berkata:

“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, namun beliau tidak mengimami kami berjama’ah pada shalat malam di bulan manapun sampai hanya tersisa tujuh hari, maka beliau mengimami kami dalam Shalat Malam sampai lewat sepertiga malam. Ketika malam keenam (yang tersisa) beliau tidak mengimami kami shalat. Ketika malam (terakhir) kelima tiba, beliau mengimami kami shalat sampai lewat tengah malam. Maka aku berkata, “Ya Rasulullah! Bolehkan kami menghabiskan malam ini dengan shalat?” Beliau bersabda: “Sungguh apabila seseorang shalat dengan imam sampai dia selesai, maka terhitung baginya dia telah shalat sepanjang malam.”

Kemudian pada malam keempat, beliau tidak melakukan shalat malam (secara berjama’ah). Pada malam ketiga (yakni malam ke 27), beliau mengumpulkan keluarganya, isteri-isterinya dan orang- orang dan memimpin kami shalat malam sampai kami takut kami ketinggalan falah.” Aku berkata: “Apakah falah itu?” Abu Dzar berkata, “Sahur.” Kemudian beliau tidak mengimami kami pada sisa malam lainnya.”1

Alasan mengapa Nabi tidak melanjutkan shalat malam secara berjama’ah untuk malam-malam lainnya hanya karena khawatir bahwa Shalat Malam akan diwajibkan atas mereka pada bulan Ramadhan, dan akhirnya mereka tidak dapat melakukannya. Hal ini dinyatakan di dalam hadits Aisyah radhillahu anha yang ditemukan dalam kedua kitab shahih dan kitab-kitab lainnya.

Anjuran bagi Wanita melaksanakan Shalat Malam secara Berjama’ah

Dianjurkan bagi wanita untuk mengikuti Shalat Malam berjama’ah, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Abu Dzar terdahulu. Bahkan diperbolehkan untuk menempatkan seorang imam yang khusus bagi mereka untuk mengimami mereka selain dari imam yang memimpin shalat kaum laki-laki. Hal ini karena telah diriwayatkan secara shahih bahwa ketika Umar mengumpulkan orang-orang untuk Shalat Malam, beliau menempatkan Ubay bin Ka’ab untuk memimpin kaum laki-laki dan Sulaiman bin Abi Hatma untuk memimpin kaum wanita. Arfajah At-Taqafi meriwayatkan:

“Ali bin Abi Thalib memerintahkan orang-orang untuk mendirikan Shalat Malam di bulan Ramadhan. Dan beliau menempatkan seorang imam bagi kaum laki-laki dan seorang lagi untuk para wanita. Aku biasa menjadi imam bagi para wanita.”3

Hukum Shalat Tarawih

Jumhur ulama mengatakan, hukum shalat tarawih adalah sunnat muakkad, tidak wajib. Walaupun hukumnya sunnat muakkad, tetapi karena demikian besar pahalanya, maka diamalkan dengan sungguh-sungguh oleh umat Islam, dan hampir-hampir tidak ada orang yang meninggalkannya, kecuali ada halangan, Sunnat muakkad adalah sunat yang sangat dianjurkan mendekati kepada hukum wajib

Keutamaan Melaksanakan Shalat Malam di Bulan Ramadhan

Diantara hikmah shalat tarawih adalah untuk penghapusan dosa yang telah lalu dab dosa yang kemudian. Lafaz dosa termasuk dosa besar dan dosa kecil. Dosa yang diampunkan adalah dosa kecil,

1 Hadits shahih yang diriwayatkan oleh semua penyusun kitab Sunan dan yang lainnya. Hadits ini telah ditakhrij dalam Shalatut Tarawih (hal 16-17), Shahih Abu Dawud (1245) dan Irwa ul-Ghalil (445).

2 Lihat lafazh dan takhrijnya dalam buku Shalatut Tatawih (hal 12-14).

3 Hadits ini dan hadits sebelumnya diriwayatkan oleh Al-Baihaqy (2/494). Yang pertama juga diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al-Musannaf (4/258/8722). Ibnu Nashr juga meriwayatkan kedua hadits tersebut di dalam Qiyam Ramadhan (hal. (hal 93)

sebab dosa besar berhajat/berkehendak kepada taubat dan penyelesaian serta berjanji tidak mengulangi lagi perbuatan itu, Namun demikian, jika Allah menghendaki untuk diampuni dosa hambanya dapat saja semua dosa hamba yang besar maupun yang kecil diampunkan-Nya, Tidak ada keberatan bagi Allah untuk mengampuni dosa hamba-Nya.

Telah diriwayatkan di dalam dua hadits, yang pertama dari Abu Hurairah, bahwa dia berkata: “Rasulullah mendorong (mereka) untuk mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa benar- benar memerintahkannya. Kemudian beliau berkata: “Barangsiapa yang mendirikan Qiyam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu Rasulullah meninggal dan perkara tersebut tetap dalam keadaan demikian.4 Kemudian keadaan ini berlanjut di masa Khalifah Abu Bakar dan kemudian Khalifah Umar bin Khaththab.5

Hadits kedua adalah dari ‘Amr bin Murrah al-Juhane, dia berkata: “Seorang laki-laki dari Quda’ah mendatangi Rasulullah dan berkata kepadanya: ‘Ya Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan engkau adalah Rasul Allah, dan jika aku shalat lima waktu dan berpuasa dan shalat malam di bulan Ramadhan, dan membayarkan zakat?”

Nabi bersabda: “Barangsiapa yang melakukan yang demikian, akan berada diantara para shiddiqin dan Syuhada.”6

Waktu Shalat Malam

Waktu Shalat Malam adalah sejak selesai Isya’ sampai dengan waktu Fajar. Ini berdasarkan sabda Nabi: “Sesungghunya Allah telah menambah shalat bagimu, yaitu shalat Witr. Maka kerjakanlah Shalat Witr antara shalat Isya sampai dengan shalat Fajar.”7

Shalat di bagian terakhir malam adalah lebih baik bagi seseorang yang mampu melakukannya berdasarkan sabda Nabi: “Barangsiapa yang takut tidak dapat bangun untuk Shalat Malam di bagian terakhir malam, maka hendaklah dia shalat di bagian awalnya. Dan barangsiapa yang menginginkan shalat di bagian terakhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan shalat Witr di bagian terakhir malam, karena sesungguhnya shalat di bagian terakhir malam disaksikan (oleh para malaikat) dan itu lebih baik.”

Jika seseorang dihadapkan pada pilihan untuk shalat di bagian pertama malam secara berjama’ah dan shalat di bagian terakhir malam sendirian, maka shalat secara berjama’ah lebih baik. Hal ini karena akan dicatat baginya seakan-akan dia shalat sepanjang malam, sebagaimana yang disebutkan dalam poin ke 4 dalam hadits yang dinaikkan menjadi perkataan Nabi. Para sahabat melanjutkan praktek shalat malam di masa Umar. Abdur Rahman bin Abdin al-Qari meriwayatkan: “Saya keluar bersama Umar bin Khaththab suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, ketika kami mendatangi sekumpulan orang yang berkelompok-kelompok dan terpisah-pisah. Seseorang shalat sendirian sedangkan seseorang lainnya shalat bersama beberapa orang di belakangnya. Maka beliau (Umar) berkata: “Demi Allah, saya kira jika saya mengumpulkan orang-orang dibawah satu orang imam, hal itu akan lebih baik.’ Kemudian dia menetapkan hal tersebut dan mengumpulkan orang-orang dibawah Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan orang-

4 Maksudnya tidak melaksanakan Tarawih secara berjama’ah

5 Diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain dan juga terdapat ditemukan dalam Al-Bukhari dengan riwayat marfu’ perkataan dari Nabi SAW. Telah dikeluarkan di dalam Irwa a-Ghalil (4/14/906) dan dalam Shahih Abu Dawud (1241).

6 Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Kitab Shahih mereka, demikian juga yang lain, dengan sanad yang shahih.

7 Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dari Abu Basrah. Saya telah mentakhrijnya di dalam Ash- Shahihah (108) dan Al-Irwa (2/158).
8 Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya. Saya telah mentakhrijnya dalam Ash-Shahihah (2610).

orang shalat dibawahi satu orang qari. Maka Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Namun waktu ketika mereka tidur adalah lebih baik daripada waktu mereka shalat sekarangini.” artinya bagian akhir malam. Dan orang-orang melaksanakan shalat malam di bagian pertama malam.”9

Zaid bin Wahab berkata: “Abdullah memimpin kami shalat selama bulan Ramadhan, dan kemudian berhenti di tengah malam.”10

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyamul ramadhan). Rasulullah saw., karena khawatir akan dianggap menjadi shalat wajib, melaksanakan shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat tidak sepanjang Ramadhan. Ada yang meriwayatkan hanya tiga hari. Saat itu Rasulullah saw. melakukannya secara berjamaah sebanyak 11 rakaat dengan bacaan surat-surat yang panjang. Tapi, di saat kekhawatiran akan diwajibakannya shalat tarawih sudah tidak ada lagi, Umar bi Khattab menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (HR. Abdur Razzaq dan baihaqi).

Ibnu hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i berkata, “Beberapa riwayat yang sampai kepada kita tentang jumlah rakaat shalat tarawih menyiratkan ragam shalat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Kadang ia mampu melaksanakan shalat 11 rakaat, kadang 21, dan terkadang 23 rakaat, tergantung semangat dan antusiasmenya masing-masing. Dahulu mereka shalat 11 rakaat dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan dengan tongkat penyangga, sedangkan mereka shalat 21 atau 23 rakaat, mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek dengan tetap memperhatikan masalah thuma’ninah sehingga tidak membuat mereka sulit.”

Setelah shalat tarawih 20 rakaat, maka diiringi pula dengan shalat witir berjamah. Shalat witir paling sedikit 1 rakaat dan paling banyak 11 rakaat, serta 3 rakaat adalah bilangan terendah yang sempurna, menurut Imam Syafi’i dan Ahmad. Menurut Imam Abu Hanifah witir hanya 3 rakaat tidak lebih dan tidak kurang. Imam Malik mengatakan witir itu hanya 1 rakaat, yang sebelumnya adalah tambahan (syuf’ah) dan tidak ada batas sebelumnya (oendahuluanny), paling sedikitnya 2 rakaat pendahuluannya, Jika dilaksanakan 3 rakaat witir, maka dipisah dua rakaat pendahulannya dengan salam, itu yang lebih baik menurut 3 imam (Syafi’, Maliki, dan Ahmad), sedangkan Imam Abu Hanifah 3 rakaat dengan satu salam (tidak terpisah)

Pelaksanaan Shalat Tarawih

Dalam melaksanakan shalat tarawih, hendaklah dilakukan dengan khusyu’, tertib, tidak terlalu cepat gerak pelaksanaanya, demikian juga bacaanya, sehingga jamaah dapat dengan tenang mengikutu imamnya. Janganlah terpengaruh kepada sebagian orang yang melaksanakan shalat tarawih terlalu cepat, ingin cepat selesai, sehingga tidak tentu bacaan dan thama’ninahnya. Jika ini terjadi maka termasuklah orang yang hanya mendapat capek saja dalam shalatnya, spertii kata Nabi SAW: “Berapa banyak orang yang shalat tidak ada baginya yang diperoleh dari shalatnya kecuali letih saja

Ada pula ancaman Nabi bagi orang yang shalat yang tidak teliti pelaksanaannya sehingga Ruku’ dan sujudnya tidak sempurna. Sabda Rasul SAW: “Sejahat-jahat manusia adalah orang yang mencuri dalam shalat. Sahabat bertanya, wahai Rasulullah bagaimana seorang mencuri dalam shalat? Rasul menjawab, orang yang tidak sempurna ruku’ dan sujudnya, atau ia berkata: orang yang shalat tidak lurus punggungnya ketika ruku’ dan sudud” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Khuzaimah dalam shahinya dan al Hakim dalam shahinnya)

9 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan lainnya. Saya telah mentakhrijnya dalam Shalatut Tarawih (hal. 48)

10 Diriwayatkan oleh Abdur Razaq (7741) dengan sanad yang shahih. Imam Ahmad mengisyaratkan atsar ini dan yang sebelumnya ketika beliau ditanya, “Apakah shalat malam, yakni Tarawih ditunda sampai bagian terakhir malam?” Beliau menjawab, “Tidak, Sunnah yang dilaksanakan oleh kaum Muslimin adalah yang lebih aku cintai.” Abu Dawud mencantumkannya dalam Masaa’il-nya (hal. 62).

Suatu ketika Rasul melihat seorang shalat yang tidak sempurna ruku’ dan sujudnya. Nabi berkata: “kalau mati orang ini, maka ia mati bukan beragama Muhammad”. Peristiwa ini ialah orang shalat dilihat Nabi ruku’nya tidak sempurna dan sujudnya seperti “patuk ayam” (ayam yang mematuk makanan) tidak sempurna dan tidak tenang atau tidak ada thama’ninah.

Demikianlah semoga dalam melakasanakan ibadah Ramadhan terutama shalat tarawih, hendaklah dilakukan dengan baik dan sempurna, penuh kekhusu’an dan ketawaduan. Baik dilaksanakan dengan cepat atau dengan lambat, cepat berarti terpenuhi syarat rukunnya dengan sempurna dan khusyu, lambatnyapun jangan sampai membuat kelalaian dan keteledoran dalam shalat, Hati-hatilah dalam mengerjakan shalat, agar tidak merugi,