Saturday, March 7, 2026
spot_img
Home Blog Page 60

Pertemuan MUI Sumut dengan Pj Gubernur A Fatani Bahas Monev MUI Pusat & Kolaborasi Strategis

muisumut.or.id, Medan, 3 September 2024, Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) mengadakan pertemuan penting dengan Pj Gubernur Sumatera Utara, A Fatani, yang didampingi oleh beberapa pejabat seperti Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat, Kepala Dinas Pendidikan, dan Kepala Bappeda. Pertemuan ini berkaitan dengan datangnya Tim Monev dari MUI Pusat pada Rabu 4 September 2024. Pertemuan yang bertempat di kantor Gubernur lantai 10 juga  membahas kolaborasi strategis antara MUI Sumut dan Pemerintah Provinsi dalam berbagai program, serta menyampaikan pesan dari Gubernur. Hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Ketua Umum, Dr. H. Arso, Sekretaris Umum, Prof. Asmuni, MA, Bendahara Umum, H. Sotar Nasution, dan beberapa Dewan pimpinan lainnya

Dalam sambutannya, Pj Gubernur mengucapkan terima kasih kepada MUI Sumut atas peran pentingnya dalam mengayomi umat dan memberikan kontribusi strategis bagi pembangunan daerah. “MUI merupakan mitra penting dalam menjaga keharmonisan dan kesejahteraan masyarakat. Kami siap mendukung kegiatan-kegiatan yang berkolaborasi dengan berbagai dinas di Pemprov,” ungkap A Fatani.

Pj Gubernur juga menekankan pentingnya Sumatera Utara sebagai barometer nasional dengan keragaman etnis yang mencerminkan kohesi sosial. “Sumut merupakan wilayah multi-etnis, dengan delapan suku asli serta pendatang, dan menjadi kota terbesar kedua di Indonesia. Kita harus menjaga keamanan dan kesejahteraan daerah ini,” tambahnya.

Dalam pertemuan tersebut, disampaikan pula bahwa MUI Sumut pernah meraih peringkat pertama secara nasional dan pada mendapat peringkat kedua tahun 2022, salah satunya berkat hubungan baik dan kemitraan yang terjalin dengan pemerintah.

Wakil Ketua Umum MUI Sumut, H Arso, menyampaikan bahwa program pendidikan kader ulama yang sedang berjalan merupakan hasil kerjasama erat dengan Pemprov. “Kami baru saja menggelar acara silaturrahim ulama, di mana salah satu visinya adalah mendukung program pemerintah,” ujar H Arso.

Sekretaris Umum MUI Sumut juga menambahkan, bahwa MUI Sumut kini tengah mempersiapkan untuk mendapatkan sertifikasi ISO. “Kami sudah memulai pelatihan menuju ISO, yang menuntut digitalisasi, transparansi, dan profesionalisme. Kami akan terus berkonsultasi dengan Biro Kesra untuk mendukung proses ini,” jelasnya.

Di akhir pertemuan, Pj Gubernur menyampaikan harapan agar MUI turut mendukung kesuksesan PON yang akan segera berlangsung. “Ini momen yang jarang terjadi, dan kami berharap dukungan dari MUI, masjid-masjid serta berbagai tempat lainnya,” ucapnya.

Pj Gubernur juga berpesan agar MUI membantu mendorong partisipasi masyarakat dalam Pilkada yang akan datang. “Kami ingin memastikan bahwa semua datang ke TPS dan berperan aktif dalam demokrasi,” pungkasnya.

Dengan kolaborasi yang kuat antara MUI dan Pemerintah Provinsi, diharapkan MUI Sumatera Utara kembali mendapat ranking pertama sehingga Sumatera Utara terus menjadi wilayah yang aman, makmur, dan harmonis bagi semua etnis dan agama.

Dr. H. Maratua Simanjuntak: Persiapan Menjadi Ulama Pewaris Nabi

muisumut.or.id, Medan, 2 September 2024 – Pada momen Kuliah Umum dan Orientasi Mahasiswa Program Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) MUI Sumatera Utara Angkatan VIII, Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menyampaikan ceramah berjudul “Tugas dan Tanggung Jawab Ulama”. Acara ini bertempat di Aula MUI Sumut pada 28 Shafar 1446 H atau bertepatan dengan 2 September 2024.

Dalam kuliah umum tersebut, Dr. Maratua Simanjuntak membuka dengan kutipan Al-Qur’an Surah Al-Fatir ayat 28, yang menegaskan bahwa hanya para ulama yang memiliki rasa takut yang mendalam kepada Allah, sebagaimana terjemahannya: “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” Beliau menegaskan pentingnya peran ulama sebagai penjaga agama dan pemandu umat dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Ulama dan Perannya

Dalam paparannya, Dr. Maratua menjelaskan bahwa ulama adalah mereka yang memiliki pemahaman mendalam tentang akidah, syariah, muamalah, dan akhlak. Ulama tidak hanya memimpin dalam urusan agama, tetapi juga membimbing umat dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Mengutip pernyataan Imam Hasan Al-Bashri, “Andai bukan karena ulama, manusia akan seperti binatang,” beliau menegaskan bahwa ulama adalah cahaya yang menerangi umat di tengah kegelapan dunia.

Dr. Maratua menyebutkan lima fungsi utama ulama, mengutip pandangan Syekh Abu’Abdillah Muhammad bin Haji Isa al-Jazairiy:

  1. Mursyid ke Jalan Allah: Ulama adalah pewaris para nabi yang membawa ilmu dan syariat Allah kepada umat.
  2. Pilar Kehidupan Dunia: Ulama juga menjadi panduan dalam urusan duniawi seperti muamalah, pernikahan, dan interaksi sosial, memastikan bahwa umat tidak hanya sukses dalam ibadah tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Penjaga Aqidah Islam: Ulama bertindak sebagai benteng dalam menjaga kemurnian aqidah dan menolak segala bentuk penyimpangan yang dapat merusak Islam.
  4. Penjaga dari Penyakit Sosial: Kehadiran ulama di tengah masyarakat mampu mengurangi penyebaran penyakit sosial seperti narkoba, miras, dan perilaku menyimpang lainnya.
  5. Pemersatu Umat: Ulama berperan dalam menjaga persatuan umat dengan mengajak untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali-Imran ayat 103.

Tanggung Jawab Mahasiswa PTKU

Di akhir kuliah umum, Dr. Maratua menekankan bahwa mahasiswa PTKU harus siap mengemban tanggung jawab besar sebagai kader ulama di masa depan. Mereka diharapkan tidak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga memiliki akhlakul karimah, meneladani sifat-sifat Rasulullah, dan menjadi pelayan umat (khodimul ummah) dengan niat yang ikhlas hanya untuk Allah.

Beliau berharap mahasiswa PTKU MUI Sumut mampu mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menjadi penerus yang menjaga dan membimbing umat menuju kebaikan, serta membangun masyarakat yang lebih baik. “Semoga Allah memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua,” tutup Dr. Maratua Simanjuntak dalam kuliah umumnya.

Acara ini menjadi momen penting bagi mahasiswa baru PTKU dalam memahami peran strategis yang akan mereka emban di masa depan sebagai ulama pewaris nabi.

 

4o

Perkuliahan Perdana Mahasiswa PTKU MUI Sumut Angkatan VIII Resmi Dimulai

muisumut.or.id, Medan, -Perkuliahan Mahasiswa Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara Angkatan VIII secara resmi dibuka oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, di Aula MUI Sumut. Acara yang berlangsung pada Senin 2 September 2024 ini dihadiri oleh Wakil Ketua Umum MUI Sumut sekaligus Pengarah PTKU, Dr. H. Arso, MH, Direktur PTKU, Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA, Sekretaris PTKU, Dr. Irwansyah, M.H.I., serta para dosen dan pengurus MUI Sumut lainnya.

Dalam sambutannya, Dr. H. Maratua Simanjuntak menekankan rasa syukur atas dimulainya perkuliahan bagi angkatan ini. “Pertama, kita harus bersyukur bahwa seleksi tahun ini benar-benar berdasarkan nilai yang ketat, memastikan kualitas mahasiswa yang diterima. Kedua, kami bersyukur karena para mahasiswa yang terpilih mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui APBD selama tiga tahun untuk biaya akomodasi dan konsumsi. Ini adalah amanah dari rakyat yang harus kita syukuri dalam ucapan dan perbuatan,” ujar Maratua.

Beliau juga menyampaikan bahwa PTKU MUI Sumut adalah satu-satunya program di Indonesia yang memiliki sistem perkuliahan penuh selama tiga tahun, bekerja sama dengan perguruan tinggi hingga tingkat S1. “Mahasiswa PTKU harus bertanggung jawab atas apa yang diberikan Allah dan MUI. Mereka juga harus berterima kasih kepada orang tua yang telah mendukung sejak kecil hingga mereka mencapai tahap ini,” tambahnya.

Dalam orientasi kampus, para mahasiswa dikenalkan dengan berbagai ketentuan yang harus mereka patuhi, termasuk larangan menikah, berpacaran, merokok, serta kegiatan lain yang dapat mengganggu proses akademik. “Ikutilah semua peraturan dengan tekad yang kuat dan ikhlas hanya karena Allah. Kalian akan menjadi kader ulama yang berperan penting di masa depan,” tutup Maratua.

Acara ini menandai langkah awal mahasiswa PTKU Angkatan VIII dalam menjalani pendidikan yang intensif selama tiga tahun ke depan.

Rumusan dan Rekomendasi Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Sumatera Utara Tahun 2024

muisumut.or.id, Medan – Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Sumatera Utara yang diselenggarakan pada Jumat-Sabtu, 30-31 Agustus 2024, di Hotel Grand Inna Medan, menghasilkan rumusan setelah mendengarkan paparan narasumber, yaitu:

  1. Buya Dr. H. Anwar Abbas, MM., MM (Wakil Ketua Umum MUI) mengenai Sinergitas Ukhuwah Islamiyah dan Kebangsaan dalam Membangun Peradaban Profetik;
  2. Dr. H. Maratua Simanjuntak (Ketua Umum MUI Sumut) mengenai Urgensi Silaturahim untuk Merajut Kebersamaan dan Kekuatan Bangsa;
  3. Dr. H. Nispul Khoiri, M.Ag (Tokoh Akademisi Sumatera Utara) mengenai Ukhuwah Islamiyah dan Kebangsaan dalam Perspektif Tokoh Politik Sumut;
  4. Dr. H. Ali Imran Sinaga (Tokoh Cendekiawan Muslim) mengenai Ukhuwah Islamiyah dan Kebangsaan dalam Perspektif Cendekiawan Muslim;
  5. Prof. Dr. dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes (Tokoh Perempuan Sumut) mengenai Peranan Dakwah Wanita dalam Membangun Sinergitas Ukhuwah Islamiyah dan Kebangsaan.

Setelah mencermati paparan narasumber, pertemuan ini menghasilkan Rumusan dan Rekomendasi sebagai berikut:

A. Rumusan:

  1. Ukhuwah Islamiyah harus diperkuat dengan prinsip ta’aruf, tafahum, ta’awun, tasamuh, takaful, serta membangun kemaslahatan dan ukhuwah wathaniyah untuk mengentaskan kemiskinan.
  2. Ukhuwah Wathaniyah telah terbukti melahirkan NKRI, dan harus dilanjutkan dengan memperkuat sistem kepemimpinan nasional yang berpihak kepada kepentingan rakyat, kebenaran, dan kebajikan.
  3. Sinergitas ukhuwah Islamiyah dan kebangsaan harus ditingkatkan melalui 12 potensi strategis, khususnya dalam memperkuat ekonomi syariah melalui dakwah ekonomi dan silaturahmi produktif.
  4. MUI dan cendekiawan harus menjadi pilar utama dalam merajut silaturahim antar ormas Islam menuju Indonesia Maju 2045, memperkuat ukhuwah sebagai kekuatan bangsa.
  5. Perlu upaya konkret dalam memperkuat nilai-nilai moral dan etika, menolak produk hukum yang merendahkan derajat kemanusiaan seperti PP No. 28 Tahun 2024, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, serta basyariyah.
  6. Umat Islam harus bersatu mengatasi dominasi oligarki yang mempengaruhi politik dan ekonomi, dengan memperkuat ukhuwah di semua lini kehidupan.
  7. Gerakan dakwah perlu dilakukan secara masif untuk mempertahankan dan memperluas ajaran Islam, melibatkan semua elemen umat dengan berbagai metode dakwah yang sinergis dan berkesinambungan.
  8. Politik Islam harus beretika dan beradab untuk menjaga keutuhan bangsa, mengisi visi misi Indonesia Maju 2045.
  9. Partisipasi umat Islam dalam politik penting untuk mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

B. Rekomendasi:

  1. Membentuk Forum Silaturahim Umat Islam Sumatera Utara yang terdiri dari lintas ormas Islam, untuk memperkuat ukhuwah.
  2. Umat Islam harus meneguhkan ukhuwah dengan menganggap perbedaan sebagai rahmat, tidak sebagai perpecahan, serta meningkatkan ukhuwah ekonomi dan politik sesuai rekomendasi Kongres Ekonomi Umat 2017 dan Ijtimak Ulama 2009.
  3. Dakwah Islamiyah perlu lebih diperhatikan, terutama di daerah terpencil yang rawan pemurtadan.
  4. Umat Islam harus mengubah paradigma konsumtif menjadi produktif melalui pendidikan kewirausahaan kepada generasi muda.
  5. Kaum wanita dan organisasi perempuan diharapkan lebih aktif dalam berbagai gerakan keagamaan dan sosial, serta memperkuat peran dalam mengukuhkan ukhuwah.
  6. Pemerintah diharapkan merevisi PP No. 28 Tahun 2024, terutama pasal-pasal kontroversial yang melibatkan MUI dan ormas keagamaan.

Rumusan dan Rekomendasi ini diterbitkan sebagai hasil Pertemuan Silaturahim Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Sumatera Utara Tahun 2024, demi memperkuat persatuan dan ukhuwah umat.

Medan, 31 Agustus 2024
Tim Perumus:

  1. Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA
  2. Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, MA
  3. Prof. Dr. H. Fachruddin Azmi, MA
  4. Dr. H. Akmaluddin Syahputra, M.Hum
  5. Dr. Irwansyah, M.H.I

Mengetahui:
Ketua Umum MUI Provinsi Sumatera Utara
Dr. H. Maratua Simanjuntak

Silaturahmi Ulama Sumut: Putrama Alkhari Soroti Pentingnya Ekonomi sebagai Kunci Kesejahteraan Umat

muisumut.or.id, Medan – Sekretaris Bidang, Putrama Alkhari, dalam acara Pertemuan Silaturahmi Ulama, Tokoh, dan Cendekiawan Muslim Sumatera Utara yang berlangsung di Hotel Dharma Deli pada Jumat dan Sabtu, 30-31 Agustus 2024, menekankan pentingnya fokus umat Islam dalam memperkuat sektor ekonomi. Menurutnya, persoalan ekonomi adalah masalah terbesar yang dihadapi umat Islam saat ini, dan semua ormas sepakat bahwa masalah ini tidak memicu perbedaan pandangan (khilafiah), sehingga bisa menjadi bidang yang harus diperbaiki bersama.

Putrama menyoroti ceramah Buya Anwar Abbas bahwa ekonomi juga merupakan faktor utama dalam menentukan kepemimpinan bangsa. Buya memberikan contoh pada era kepemimpinan Presiden Soeharto, di mana para pengusaha dikendalikan untuk menjaga kekuasaan. “Pada awalnya, Soeharto mendapat dukungan penuh dari tokoh-tokoh Islam. Namun, seiring waktu, melalui partai-partai Islam seperti Masyumi dan NU, dukungan tersebut mulai menjauh, sementara kelompok nasionalis justru mendekat. Akibatnya, partai-partai nasionalis terus mendominasi perolehan suara dalam pemilu, dan partai Islam tidak pernah menang,”

Buya Anwar Abbas  juga menyinggung bagaimana, pada masa akhir kepemimpinan Soeharto, tokoh-tokoh Islam kembali mendekat melalui organisasi seperti ICMI, yang terkenal dengan ‘ijo royo-royo’. Namun, setelah reformasi, strategi penguatan umat Islam dinilai lemah. “Perubahan UUD tidak menguntungkan umat Islam, malah lebih fokus pada demokrasi yang cenderung liberal, melahirkan oligarki di bidang politik dan ekonomi,” ujar Putrama.

Putrama Alkhari mengusulkan pembentukan struktur ekonomi yang ideal berbentuk ketupat, bukan piramida. “Saat ini, ekonomi dikuasai segelintir orang yang bukan dari kalangan umat Islam. Sebagai langkah strategis, pertama, kita harus memperbesar jumlah pengusaha Muslim. Kedua, umat harus bersatu dalam menentukan pemimpin melalui silaturahmi yang kuat, sehingga lahir pemimpin yang menggunakan hak prerogatifnya untuk membuat kebijakan afirmatif yang menguntungkan umat Islam,” tambahnya.

Dalam pandangan global, Putrama menyebut bahwa berbagai negara dan tokoh dunia memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu dari empat besar negara maju dunia dengan kesuksesan ekonomi yang besar. “Masih ada harapan bagi umat Islam untuk mengambil langkah strategis ke depan,” katanya.

Ia juga menyoroti perlunya kesatuan pandangan ulama, tokoh, dan cendekiawan Muslim Sumut dalam melihat perbankan syariah sebagai sistem terbaik. “Umat lain dan negara-negara non-Muslim melihat kelebihan perbankan syariah ini sebagai sistem yang unggul. Karena itu, diperlukan silaturahmi yang produktif untuk menyatukan pandangan ini demi kepentingan umat,” pungkasnya.

Acara silaturahmi ini dihadiri oleh berbagai ulama, tokoh, dan cendekiawan Muslim dari seluruh Sumatera Utara yang bersama-sama membahas peran strategis mereka dalam membangun kesejahteraan umat melalui penguatan ekonomi dan kepemimpinan.

4o

Kuliah Subuh Silaturahim Ulama MUI Sumut “Tujuh Kekuatan Besar Harus Jadi Milik Umat”

muisumut.or.id, Medan, 26 Shafar 1446 H – Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Prof. Dr. H. Abdullah Jamil, M.Si., menyampaikan kuliah subuh usai salat Subuh berjemaah dalam rangkaian kegiatan silaturahim ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim Sumatera Utara di Masjid Grand Inna, Medan, pada Sabtu (26 Shafar 1446 H/31 Agustus 2024 M).

Mengawali tausiyahnya, Guru Besar Ilmu Komunikasi Islam UIN Sumatera Utara ini mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 110 yang mengingatkan bahwa umat Islam ditakdirkan sebagai umat terbaik di muka bumi, yakni dengan menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Namun, menurut Prof. Abdullah, meskipun umat Islam mayoritas di dunia, kenyataannya kita belum menjadi yang terbaik dan tidak memimpin kemajuan dunia. “Justru sebaliknya, di hampir semua sektor umat Islam gagal menjadi yang terbaik,” ujarnya.

Beliau menyoroti bahwa di sektor ekonomi, umat Islam hanya sedikit yang masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. “Pada sektor lain, peran strategis umat juga semakin kurang signifikan,” lanjutnya.

Hadir dalam acara ini Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, Wakil Ketua Umum Dr. H. Arso, S.H., M.H., serta para peserta silaturahmi ulama.

Tujuh Kekuatan Besar Umat

Dalam tausiyahnya, Prof. Abdullah mengutip pandangan Sayyid Sabiq, seorang cendekiawan muslim, tentang tujuh kekuatan besar yang harus dimiliki umat Islam. Pertama adalah kekuatan akidah, yang menjadi pondasi utama. Kekuatan akidah ini penting sebagai dasar dari semua penguatan lainnya.

Kedua, kekuatan ibadah yang menjadi kebutuhan rohani dan nutrisi spiritual bagi umat, memperkuat iman dan memperkokoh kedudukan umat di mata Allah.

Ketiga, kekuatan akhlak. “Akhlak yang baik harus dikampanyekan oleh umat sehingga kemajuan yang diraih akan membawa kemaslahatan bagi seluruh manusia,” jelas Prof. Abdullah.

Keempat, kekuatan ilmu. Umat Islam harus terus belajar dan mencari ilmu. Bahkan, ayat pertama yang diturunkan Allah dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk membaca.

Kelima adalah persatuan umat, salah satu kunci utama kemajuan. “MUI hadir sebagai tenda besar yang menghimpun 58 organisasi kemasyarakatan Islam untuk menyatukan potensi umat demi kemajuan bangsa,” ungkapnya.

Keenam, kekuatan ukhuwah sebagai perekat persatuan dan solidaritas umat yang menjadi penguat persatuan bangsa.

Terakhir, ketujuh adalah kekuatan ekonomi. “Hanya dengan ekonomi yang kuat, umat Islam akan diperhitungkan dalam pergaulan dunia,” tegas Prof. Abdullah, mengakhiri tausiyahnya dengan ajakan agar umat mulai memperkuat posisi ekonominya dalam segala aspek kehidupan.

“Pesan Buya Anwar Abbas: Persatuan Umat Islam Kunci Kebangkitan Bangsa”

muisumut.or.id, Medan,  Pada acara Silaturrahim Ulama tokoh, utusan pondok pesantren, dan cendikiawan Muslim di Grand Inna, Jalan Balaikota, Medan, pada Jumat-Sabtu (25-26 Shafar 1446 H/30-31 Agustus 2024). Buya Dr. Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, menyampaikan mengawali dengan pesan penting yang pernah di dengarnya tahun 2008 di Iran, tentang kebangkitan umat Islam  akan datang dari Indonesia bukan Timur Tengah atau Iran.

Dalam tausiyahnya, Buya Anwar Abbas mengingatkan bahwa potensi besar umat Islam di Indonesia harus dimanfaatkan. “Umat Islam yang akan memimpin kebangkitan ini adalah umat Islam Indonesia,” ujarnya dengan tegas. Beliau juga menggarisbawahi pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai dua ormas besar di Indonesia. “Muhammadiyah banyak di kota, NU banyak di desa. Bayangkan jika kita bersatu,” ungkapnya penuh harapan.

Lebih lanjut, Buya Anwar Abbas menyoroti keberadaan 58 ormas Islam yang bernaung di bawah MUI, namun hingga saat ini umat Islam belum menjadi penentu dalam kebijakan negara. “Sejak kita merdeka, kita masih dipimpin kelompok nasionalis. Kenapa nasib kita seperti ini, padahal umat Islam berjumlah 95 persen saat kemerdekaan, sekarang tinggal 86 persen,” jelasnya, mengutip data penurunan populasi umat Islam yang cukup signifikan di beberapa daerah.

Ia mengingatkan bahwa di masa Orde Baru, umat Islam berperan besar dalam memberantas komunisme (PKI), namun sayangnya kemudian menjauh dari kekuasaan, sehingga kaum nasionalis kembali mendominasi.

Titik Lemah Ekonomi Umat Islam

Buya Anwar Abbas juga menyoroti kelemahan umat Islam di bidang ekonomi. “Kita sulit bangkit jika ekonomi umat tidak dibenahi,” tegasnya. Beliau membandingkan situasi sekarang dengan tahun 1973, di mana pasar-pasar masih banyak dikuasai oleh orang Padang yang memiliki semangat bisnis Islami. Namun kini, meskipun banyak pegawai berjilbab, yang memiliki toko adalah orang non-Muslim.

“Orang Padang sudah berubah. Dulu ditanya ‘apa kerja?’ Sekarang ‘dimana kerja?'” katanya, menggambarkan pergeseran mentalitas dari pengusaha menjadi pekerja.

Lebih lanjut, Buya Anwar Abbas menjelaskan bahwa kelemahan umat Islam di bidang ekonomi disebabkan oleh kurangnya mentalitas pengusaha. “Jika kita ingin menjadi penentu di negeri ini, kita harus menguasai bisnis. Namun, ini hanya bisa dicapai jika kita bersatu dan menguatkan ukhuwah,” sarannya.

Membangun Solidaritas dan Persatuan

Dalam tausiyahnya, Buya Anwar Abbas juga menekankan pentingnya persatuan antarormas Islam dan memperkuat peran MUI sebagai lembaga yang menyatukan umat. “Kita perlu tokoh, namun saat ini sulit mencari tokoh individual. Saatnya kita mengandalkan tokoh institusi seperti MUI,” ujarnya. Beliau juga menambahkan, persatuan umat Islam tidak hanya sebatas retorika, tetapi harus diwujudkan dengan silaturahim yang tulus.

Menutup tausiyahnya, Buya Anwar Abbas mengajak umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan, termasuk ekonomi. “Nasib kita tidak akan berubah jika kita tidak menguasai bisnis dan memupuk persatuan,” pungkasnya.

MUI Sumut Laksanakan Silaturahim Ulama, Tokoh dan Cendikiawan Muslim

muisumut.or.id, Jumat, 25 Shafar 1446H – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar Silaturahim Ulama, tokoh, utusan pondok pesantren, dan cendikiawan Muslim di Grand Inna, Jalan Balaikota, Medan, pada Jumat-Sabtu (25-26 Shafar 1446 H/30-31 Agustus 2024).

Acara ini diikuti oleh utusan MUI Kabupaten/Kota se-Sumut, organisasi kemasyarakatan Islam, serta perguruan tinggi Islam. Kegiatan dimulai dengan pembacaan Alquran oleh Muhammad Daud Sitorus dan dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Hadir dalam kesempatan tersebut Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Sumut Drs. H. Muin Isma Nasution, Ketua Baznas Prof. HM Hatta, Bendahara Umum H. Sotar Muda Nasution, serta beberapa pengurus lainnya.

Ketua Panitia, Drs. H. Palid Muda Harahap, menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 150 peserta, selain panitia. Mengusung tema “Sinergisitas Ukhuwah Islamiyah dan Kebangsaan Membangun Peradaban Profetik”, acara ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kerjasama lintas ormas dan ulama.

Palid Muda juga mengungkapkan sejumlah agenda penting yang akan dilaksanakan, di antaranya ceramah dan dialog oleh Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Dr. H. Anwar Abbas, MM, MAg, yang akan menyampaikan materi tentang pentingnya sinergitas ukhuwah Islamiyah dan kebangsaan dalam membangun peradaban.

Selain itu, materi juga akan disampaikan oleh tokoh perempuan Sumatera Utara, Dr. Nur Rahmah Amini MA, serta cendikiawan Muslim dan akademisi, Dr. H. Nisful Khoiri, MAg.

Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, dalam sambutannya saat membuka acara, menekankan bahwa pelaksanaan silaturahim ini dilakukan lebih awal mengingat adanya agenda besar yang akan datang, seperti PON XI dan Pilkada Gubernur serta beberapa bupati/walikota di Sumatera Utara.

H. Maratua menyatakan bahwa kehadiran MUI dan ormas Islam dalam kegiatan ini sangat penting karena berbagai agenda tersebut akan sangat menentukan kemajuan daerah di masa depan. Ia juga menyoroti adanya perbedaan pendapat di kalangan tokoh agama yang kerap muncul di media sosial, yang bisa berdampak negatif bagi persatuan umat.

“Sebagai ulama, pewaris para nabi, kita memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan memberikan pencerahan kepada umat secara aktif dan kolaboratif,” ujarnya. Ketua MUI juga menekankan pentingnya peran aktif ulama dalam memperkokoh persatuan umat serta mendorong umat untuk menghindari segala bentuk perpecahan.

Acara pembukaan berlangsung dengan penuh khidmat dan diakhiri dengan sesi foto bersama Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, dengan jajaran Dewan Pimpinan, para ulama, tokoh ormas Islam, serta peserta lainnya.

 

4o

Komisi HLNKI MUI Sumut Gelar Kunjungan Silaturrahim ke Konsulat Jenderal Malaysia di Medan

muisumut.or.id, Medan, Kamis, 29 Agustus 2024, Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara (MUI-SU) melakukan kunjungan silaturrahim ke Konsulat Jenderal Malaysia yang berlokasi di Jalan Diponegoro 43 Medan.

Kunjungan ini bertujuan untuk menyerahkan Surat Permohonan Narasumber kepada Encik Shahril Nizam bin Abdul Malek, Konsul Jenderal Malaysia, dalam rangka persiapan Seminar Internasional yang akan digelar Komisi HLNKI MUI SU pada Ahad, 1 September 2024 mendatang.

Delegasi MUI SU yang dipimpin oleh K.H. Akhyar Nasution, Lc., MA., Ketua Bidang HLNKI MUI-SU, didampingi oleh Ketua Komisi Dr. H. Abdi Syahrial Harahap, Lc., MA., Sekretaris Komisi Dr. H. Muhammad Irsan Nasution, SE.Ak., CA, M.Ak, Cert. IPSAS, dan Wakil Sekretaris Komisi H. Nasrullah Abdul Rahim, Lc., MH., disambut langsung oleh Konsul Jenderal Malaysia Encik Shahril Nizam bin Abdul Malek serta Deputi Superintendent Polis (DSP) Ahmad Shahir Bin Abdullah.

Dalam kesempatan tersebut, Konjen Shahril Nizam menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh MUI SU untuk menjadi narasumber dalam Seminar Internasional tersebut. Tema seminar yang akan membahas konflik dan genosida di Gaza, Palestina, menurutnya, juga menjadi perhatian serius bagi Kerajaan Malaysia.

Encik Shahril pun menerima dan menyetujui surat permohonan tersebut serta memastikan kehadirannya sebagai narasumber. Selain itu, beliau mengungkapkan akan membawa beberapa mahasiswa Malaysia yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) untuk berpartisipasi dalam seminar tersebut. Harapannya, kolaborasi antara MUI SU dan Konsulat Jenderal Malaysia dapat semakin mempererat hubungan silaturrahmi untuk ke depan.

Pertemuan yang berlangsung selama satu jam ini berjalan penuh keakraban dan diakhiri dengan sesi penulisan buku tamu serta foto bersama.

Kontributor: KH Akhyar Nasution dan H. Nasrullah Abdul Rahim

Sosialisasi DSN MUI Sumut: Rekomendasi untuk Memajukan Ekonomi Syariah

muisumut.or.id, Selasa, 27 Agustus 2024, Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI Perwakilan Sumatera Utara menyelenggarakan acara sosialisasi bertema “Memasyarakatkan Ekonomi Syariah dan Mensyariahkan Ekonomi Masyarakat.” Acara yang dilaksanakan selama sehari penuh ddi Hotel Grand Mercure,  menghadirkan ulama dan tokoh ekonomi syariah dari Jakarta dan Sumatera Utara.

Acara ini menghasilkan 4 rumusan dan 7 rekomendasi setelah mendapat pencerahan dan diskusi dengan  tokoh-tokoh penting, dari Bank Indonesia, Ketua Umum MUI Sumut Dr. H. Maratua Simanjuntak, Ketua Bidang Perbankan BPH DSN MUI Kanny Hidaya, serta narasumber dari Bank Syariah Indonesia, Bank Muamalat, dan Bank Sumut Syariah, serta pertanyaan dan masukan dari peserta disimpulkan beberapa poin penting rumusan dan rekomendasi untuk pengembangan ekonomi syariah di Sumatera Utara.

Rumusan:

  1. Perbankan syariah perlu kembali menyegarkan nilai-nilai dasar yang menjadi prinsip syariah, yaitu akad yang sesuai syariat serta keberkahan transaksi yang bebas dari riba, spekulasi (maysir), dan ketidakjelasan (gharar).
  2. Masyarakat masih belum sepenuhnya memahami konsep syariah dalam perbankan. Minimnya literasi tentang produk dan akad-akad syariah mengakibatkan kebingungan dalam membedakan bank syariah dengan bank konvensional.
  3. Pemindahan pegawai dari bank konvensional ke bank syariah tanpa pemahaman yang memadai dapat menurunkan kualitas penerapan prinsip syariah. Oleh karena itu, peningkatan SDM yang memahami akad-akad syariah sangat diperlukan.
  4. MUI merekomendasikan agar MUI kabupaten/kota memaksimalkan penyimpanan dana di bank syariah di daerah masing-masing.

Rekomendasi:

  1. Reformulasi orientasi bisnis perbankan syariah agar tidak hanya berfokus pada profit, tetapi juga keberkahan dan kemaslahatan umat. Nilai-nilai dasar syariah harus menjadi perhatian utama dalam operasional perbankan.
  2. Evaluasi dan penyesuaian strategi operasional perbankan syariah diperlukan untuk selaras dengan tujuan syariah, dengan mengutamakan keadilan, transparansi, dan kepatuhan syariah dalam layanan kepada nasabah.
  3. Penguatan kontrol syariah internal diperlukan untuk memastikan setiap produk dan kebijakan bank sesuai dengan prinsip syariah, mengacu pada fatwa DSN MUI.
  4. Peningkatan kualitas SDM di perbankan syariah harus menjadi prioritas untuk menjaga keabsahan transaksi syariah, terutama dalam menghadapi tantangan akibat pemindahan pegawai dari bank konvensional.
  5. Meningkatkan pengawasan terhadap kinerja pegawai perbankan syariah untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah.
  6. Pendidikan bagi nasabah sangat penting untuk meningkatkan literasi syariah dan mempromosikan keberkahan dalam setiap transaksi.
  7. DSN MUI perlu mempertimbangkan standarisasi kelulusan Dewan Pengawas Syariah (DPS) agar ketersediaan pengawas syariah di bank-bank syariah tetap terjaga dan memenuhi kualifikasi yang diperlukan.

Rumusan dan rekomendasi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan ekonomi syariah dan memperkuat integritas syariah dalam perbankan serta layanan keuangan di Sumatera Utara.

TIM PERUMUS

  1. H. Ardiansyah, Lc., MA
  2. H. Akmaluddin Syahputra, M.Hum
  3. H. Muhammad Amar Adly, Lc., MA
  4. Dr. Irwansyah, M.H.I